Disclaimer :
Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*
.
TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.
.
Warning :
OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!
.
Catatan :
Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung apapun dan hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.
Mengandung unsur dewasa.
Lemon/lime bukan hal utama dalam fic ini, so jangan harap ada lemon/lime yang berlebihan,
Tidak di anjurkan untuk pembaca di bawah umur.
Jadilah pembaca yang bijak.
.
.
= Enjoy for read =
.
But
.
! Don't like Don't Read !
.
.
.
.
~ Give me your blood ~
[ Chapter 8 : Maaf ]
.
.
.
Dreeet….~ dreeettt…..~
Mencari arah getaran ponselku. Mengangkatnya.
"Sasuke! Kau ada di mana? Apa kau tidak datang ke sekolah?" Itu suara Naruto.
"Jam berapa sekarang?" Tanyaku.
"Tinggal lima menit lagi bel berbunyi!"
Uhk.
Kepalaku sangat sakit.
"Aku akan terlambat." Ucapku.
"Apa? Kau ada di mana? Hey!"
Tuk!
Aku sampai mematikan ponselku. Suara Naruto cukup menambah sakit kepalaku.
Tersadar akan sesuatu. Aku sedang berada di atas ranjangku, pakaian yang lengkap. Melirik ke bawah, Sakura tertidur pulas di kasur lantainya, dia selalu saja tidur dengan cara berantakan. Selimutnya tidak lagi menutupi tubuhnya.
Tapi,
Aku jadi mengingat kejadian semalam. Sial! Aku benar-benar laki-laki brengsek yang memaksa seorang gadis untuk memenuhi hasratnya. Aku sungguh tidak tahu efek sake akan menjadi hal buruk seperti itu.
Aku harus minta maaf pada Sakura, tapi aku harus ke sekolah sebelum mereka yang datang ke rumahku dan berpikir aku sedang dalam masalah.
Berjalan keluar, ruang tamu yang berantakan semalam juga sudah di rapikan.
Apa semalam Sakura yang mengangkatku ke tempat tidur? Rasanya sungguh memalukan, aku berada di posisi yang salah. Seharusnya aku yang mengangkatnya, bukan dia yang mengangkatku.
Menemukan sesuatu di meja dan secarik kertas.
Ini obat peredah mabuk. Minumlah sebelum ke sekolah.
Lagi-lagi aku merasa bersalah akan tindakanku semalam. Kau masih pelajar Sasuke! Kenapa kau berani melakukannya! Aku jadi tidak ada muka untuk menatap Sakura lagi.
Aku sungguh lelaki yang busuk!
.
.
[by:sasukefans_ama]
.
.
Aku terlambat ke sekolah. Naruto dan lainnya ingin mencari tahu, aku berusaha berbohong jika aku hanya telat bangun.
"Kau bau sake Sasuke." Ucap Neji. Penciuman Neji lebih tajam.
"Sake? Apa kau habis minum? Kenapa bibirmu juga terluka?" Ucap Naruto. Kiba pun menatapku dengan tatapan terkejut.
Sejujurnya kepalaku masih sedikit sakit. Luka di bibir ini karena aku memaksa untuk mencium Sakura mengenai gigi taringnya.
"Aku salah minum dan luka ini hanya gigitan serangga." Bohongku.
"Gila! Kau masih di bawah umur Sasuke!" Teriak Naruto.
"Jangan teriak seperti itu. Aku tahu. Aku hanya salah minum." Bohongku. Aku sampai harus menutup telingaku.
"Lain kali kau harus hati-hati, Sasuke. Jangan sampai ada yang memanfaatkanmu." Ucap Neji.
Aku lah yang memanfaatkan situasi buruk itu. Aku tidak bisa tenang jika tidak meminta maaf pada Sakura.
Selama di sekolah, aku hanya ingin tidur saja. Kadang ingatan semalam membuatku malu. Apa aku bisa menatap Sakura nantinya?
Setelah sekolah berakhir.
Masih siang hari, Sakura pasti masih tertidur, namun saat masuk, aku melihatnya duduk di ruang tamu. Apa yang di lakukannya?
"A-aku pulang." Ucapku. Gugup. Lebih tepatnya. Aku sangat malu.
"Kau sudah pulang?" Sakura beranjak dari tempat duduknya. Menarikku masuk dan segera duduk. "Aku membuatkanmu sup, katanya bagus untuk peredah mabuk. Aku yakin obat yang aku beri tidak begitu ampuh." Ucapnya.
Sakura terlihat sibuk mengambil semangkok sup untukku.
"Aku baru saja membuatnya." Ucapnya dan menaruh di hadapanku.
Aku bisa mencium bau yang enak dari sup yang di buatnya, sup itu masih panas. Apa dia repot-repot bangun hanya untuk membuatkanku sup ini?
Aku belum mengatakan apapun, tapi Sakura seperti sudah mengendalikan situasinya.
"Aku minta maaf." Ucapku dan menundukkan wajahku. Aku sungguh merasa bersalah.
"Makanlah supmu terlebih dahulu." Ucapnya, memberi sendok padaku.
"Semalam aku-"
"-Makan dulu." Potongnya.
"Kita harus bicara, Sakura."
"Aku tahu, semalam kau hanya tidak sadarkan diri. Aku akan memaafkanmu. Lagi pula aku tidak melawan. Aku takut menyakitimu." Ucapnya. "Maaf." Kali ini Sakura yang meminta maaf. "Ucapanku, mungkin sedikit keterlaluan, tapi aku sudah mengatakan apapun dengan jelas, jadi tolong ingat itu Sasuke. Aku minta maaf." Lanjutnya.
Sakura terlihat menguap dan meninggalkanku sendirian. Dia mungkin akan kembali tidur.
Sedikit sesak di dada ini. Apa benar dia memintaku untuk tidak memiliki perasaan terhadapnya?
Mencoba sup buatannya. Ini sangat lezat. Aku akan memakannya, aku tidak ingin dia khawatir. Aku yang membuat masalah lebih dulu.
.
.
[by:sasukefans_ama]
.
.
Setelah kejadian itu. Aku merasa hubungan kami sedikit merenggang. Sakura jadi banyak diam dan sudah berapa lama dia tidak meminum darahku? Kenapa dia tidak melakukannya? Apa dia tidak haus?
"Sakura." Panggilku. Sebelum dia berangkat kerja.
"Uhm. Ada apa?"
"Apa aku membuat kesalahan?"
"Kesalahan? Tidak. Kau tidak pernah membuat kesalahan Sasuke. Jangan pikirkan yang aneh-aneh."
"Kau terlihat berbeda."
"Apa aku yang membuat kesalahan?"
Apa Sakura ingin aku berkata jujur padanya?
"Kau terasa menjauh. Padahal kita tinggal seatap."
"Maaf jika aku melakukan hal yang membuatmu tidak nyaman." Ucapnya.
Akhir-akhir ini Sakura juga tidak menampakkan wajah cerianya padaku. Aku pasti sudah membuatnya tertekan. Aku yang membuatnya seperti ini.
Menyentuh punggung leherku. Aku bingung ingin berkata jujur padanya. Aku tidak pernah melakukan ini pada gadis manapun.
"Apa perasaanku ini mengganggumu?" Tanyaku.
"Kau bebas melakukan apapun, Sasuke. Aku tidak bisa melarangmu."
"Lalu kenapa kau begitu berubah? Kau seperti menghindariku. Kenapa kau tidak pernah mengisap darahku lagi? Apa karena efek sakenya belum hilang? Atau karena sikapku padamu."
"Tidak. Bukan seperti itu. Efek sakenya sudah menghilang dan sikapmu baik-baik saja. Tenanglah. Aku hanya lagi tidak membutuhkan darah. Aku sudah katakan padamu sebelumnya, aku akan baik-baik saja bahkan dalam beberapa bulan tidak mengisap darah." Ucapnya.
Lagi-lagi perasaan tidak tenang ini menyelimutiku. Aku merasa jika Sakura kadang tidak pernah jujur padaku.
"Kalau begitu, minumlah sedikit sebelum kau pergi?" Ucapku dan menyodorkan lenganku.
Sakura terlihat ragu. Sudah aku duga. Ada sedikit masalah padanya.
"Jika kau tidak melakukannya-" Melukai lenganku. "-Aku akan melakukannya untukmu." Ucapku.
Plaak!
"Itu sangat sakit!" Kesalku.
Aku tidak percaya ini, dia menjitakku dengan keras. Aku pikir kepalaku akan bocor karena jitakannya. Apa dia menahan kekuatannya? Walaupun begitu, ini tetap sakit.
"Apa otakmu sedang bermasalah! Jangan melukai dirimu! Aku akan meminta jika aku sedang menginginkannya!" Kesalnya. Sakura jauh lebih marah dariku.
"Aku hanya tidak enak jika tidak melihatmu belum mengisap darahku."
"Aku bukan vampire yang rakus."
"Tapi kau tidak akan membiarkan darahku seperti ini 'kan?" Ucapku. Darahku mulai merembes.
"Bodoh." Ucapnya.
Sakura mendekat ke arah lenganku dan menjilat aliran darah itu, mengisapnya pada bagian yang aku lukai. Aku merasa dia terlihat berbeda ketika melakukannya hal itu.
"Tolong jangan lakukan ini lagi. Aku tidak senang melihatnya." Ucapnya. Sakura sampai repot membersihkan bekas darah itu.
"Hn. Aku tidak akan melakukannya." Ucapku.
Memeluknya erat.
"Beri aku waktu sejenak." Ucapku.
Sakura tidak memberontak. Gadis ini membalas pelukanku. Tubuh yang terasa dingin ini memiliki hati yang hangat. Aku kesulitan berpaling darinya.
.
.
TBC
.
.
update...~
.
.
SEE YOU NEXT CHAP!
.
yang mo kepo-kepo sama author sasuke fans, jalan-jalan di IG author yuks...~ hehehe.
Ig : ama_saku
