Siang hari ini terasa seperti Tuhan sengaja memberikan waktu kepada mereka untuk mengistirahatkan raganya, gemuruh halilintar serta pemandangan gelap dari langit siang yang biasanya selalu panas kali ini berbeda, hingga seseorang yang diatas spring bed itu menyembunyikan tubuhnya dari batas kaki hingga dadanya. Siang ini benar-benar dingin.
Setelah saling mengerti dan memaafkan, kedua orang yang masih setia menghangatkan badan satu sama lain ini enggan bangun dari hangat dan empuk kasur nyaman mereka. Keduanya sudah membuka mata namun tidak melakukan apapun, hanya memandang langit-langit kamar berwarna putih susu diatas hening.
Win membaringkan kepalanya diatas dada kekasih tampannya, kejadian kemarin malam dimana Bright mendatanginya diapartement Luke membuat dia sadar kalau mereka memang belum benar-benar membicarakan ini baik-baik. Dia tidak bisa egois untuk tetap memberi jarak dengan kekasihnya itu dan membiarkan Bright berlari untuk mengejarnya sedangkan, ia juga butuh sosok tampan itu disisinya.
Soal gadis kecil yang cantik bernama Prim, seharusnya Win benar berpikir kalau Bright hanya menganggap Prim seperti adik kandungnya tetapi lagi-lagi api cemburu didalam hatinya tidak setuju. Lalu, dengan senang hati Bright ungkap semua perasaan yang selama ini menghantuinya pada kekasih manis nya ini. Tidak pun sedikitnya Bright mengurangi ceritanya atau bahkan ia lebih-lebih kan, ia benar-benar berkata jujur hari itu.
Bright tetap menjaga tangannya merengkuh bahu Win disampingnya, kekasih ini masih sedikit demam dan banyak lemas karena penyakit maag milik Win kambuh ditambah cuaca dingin disiang hari ini menjadikan Bright khawatir dengan keadaan Win. Sebelah tangannya yang terabaikan ia gunakan untuk memijat tangan Win, terkadang mengusap keningnya yang sering ia keluhkan pening belakangan ini.
Dan jika kalian mau tahu, ditengah-tengah mereka sedang terbaring tubuh mungil Day yang sedang pulas tertidur. Jika Win memeluk Bright maka Day yang memeluk Win, sedikit jarak yang mereka berikan ditengah untuk si mungil nan tampan Day. Bahkan bocah itu masih mengemuti ibu jarinya seperti dot susu.
"Dulu kamu waktu kecil mirip banget Day ya, Bright?" tanya Win mendongakkan wajahnya memandang wajah tampan Bright yang juga menatapnya hangat.
Bright bergumam berpikir sebelum akhirnya ia menjawab.
"Hm.. Iya kata mamah gitu, cuma kalo Day kan kurus nah kalau aku bener-bener gembul haha" jawab Bright, Win ikut tertawa hingga matanya menyipit cantik.
"Aku juga dulu gendut tau! Waktu aku sd tuh kata mamah aku berat badan aku beneran diatas rata-rata haha.. Tapi syukur sekarang aku gak sebesar dulu, kalau masih kayak dulu sih aku obesitas sekarang" jelas Win lalu terkekeh di akhir kalimatnya.
Bright gemas melihat kekasihnya begitu, ia mencolek dagu Win lalu mencubit pipi nya main-main. "Tapi sekarang badan kamu bagus, yang.. Tinggi, ramping, berotot walau sedikit haha" Bright mengaduh karena setelah ia bilang begitu lengannya kena cubitan Win, padahal ia hanya berkata jujur.
Memang paling nikmat adalah disaat kau dapat merebahkan tubuhmu di atas kasur empuk dengan tayangan dari netflix genre favorit dan makanan serta minuman yang datang tanpa repot kau mengambilnya di dapur. Semua itu sedang Win rasakan sekarang, Bright bilang ia harus benar-benar beristirahat tidak boleh memasak, membersihkan rumah dan lain-lain.
Kakak beradik itu dengan senang hati memasakkan bubur untuk Win serta membuat minuman jahe demi membuat tubuh Win hangat, Day bocah kecil nan tampan ini menurut dengan apapun perintah Bright maka sekarang ia tengah membersihkan kamarnya sendiri, memungut mainan yang ia mainkan tadi lalu merapihkan kasur tidurnya dengan bersih dan rapih. Bright sampai tidak menyangka bahwa Day bisa dan mau melakukannya sendiri, itu hebat.
Bilasan air pel terakhir, setelah melayani Win dengan membuatkannya bubur dan minuman jahe lalu Bright juga memasak nasi goreng untuknya dan Day maka sekarang saat nya ia membersihkan meja dapur dan lantainya. Ia berpikir bagaimana bisa Win memasak tidak seberantakan ia dan Day lakukan sekarang. Tentu saja ia memasak dan membersihkan rumah berdua dengan Day sebelum mandi, bayangkan saja kalau ia sudah mandi terlebih dahulu lihatlah kaos oblong nya ini basah karena keringat.
"Hahh.. Pantes ya kamu gak buncit walaupun suka makan, tiap hari kerjaan kamu kayak gini di rumah? Nguras tenaga dan keringat lebih banyak daripada di gym haha" ujar Bright bertolak pinggang melihat Win yang terkekeh di atas kasur dengan laptop di pangkuannya, jangan lupakan juga minuman jahenya.
Win menggeleng tidak habis pikir bagaimana gym dan kegiatan rumah lebih berat pekerjaan rumah? Haha, tapi di lihat dari banyak nya keringat kekasih tampan dihadapannya ini, Bright benar-benar seperti seorang ayah tunggal yang mengurus rumah bersama anak satu-satu nya Day. Terlebih wajah mereka mirip.
"Yaudah ngadem dulu gih, ayah jangan langsung mandi nanti malah kurang fresh!" Win mendorong pantat Bright menyuruhnya istirahat di depan agar tidak terlalu berkeringat sebelum mandi tapi, Bright mencekal lengan nya sembari tertawa.
"Apa? Aku ayah? Hahaha.. Muka aku tua banget ya sayang? Perut aku buncit? Hah? Atau kamu lagi hamil??" tanya Bright menyerbu kekasihnya yang justru ikut tertawa.
Win lagi-lagi menggeleng cepat, "Gak! Apaan mana bisa aku hamil! haha, kamu tau gak? Kamu sama Day itu kayak anak sama ayah yang kerja sama buat bersihin rumah hehe lucu tauk!" Bright mencubit pipi Win gemas, kekasihnya bisa berpikir begitu ia kira kalau ia buncit atau sedikit menua.
Tetapi Bright juga senang melihat Win kembali tertawa bersamanya, ia juga tidak akan melupakan bagaimana ia bisa membuat Win menghindarinya kemarin, ia janji pada dirinya sendiri bahwa ia akan lebih memberi jarak dengan gadis cantik yang ia anggap seperti adiknya itu. Walau pun Bright ingin melihat Prim membaik tetapi, jika itu mengorbankan Win maka mungkin ia sedikit membatasi dirinya karena Win benar ia tidak pernah egois selama ini kekasihnya itu mengerti akan tetapi dirinya tidak sadar bahwa itu menyakiti kekasihnya.
"Mas Bright!.. Aku gerah banget mau mandi huhh, liat nih baju aku basah" Bocah tampan itu datang-datang dengan aduan dirinya yang terasa panas dengan cara yang sangat lucu, Day mungkin baru selesai merapihkan mainannya, membuang yang sudah tak terpakai kedalam kotak yang Bright berikan.
Bright tertawa melihat adik satu-satunya ini, ia pun mencium kening Win untuk setelahnya ia menggendong Day menuju ruang tv seperti perintah Win sebelumnya. "Day buka baju aja kayak mas biar gak panas" samar-samar Win mendengar percakapan kakak beradik itu dari dalam kamarnya. Lucu sekali, ia beruntung menjadi bagian dari keluarga ini.
"Hah! Akhirnyaaa tonton ulang the imitation game kelar.. walaupun rewatch tapi bener-bener gak ngebosenin film nya, tapi kasian sih sama Alan Turing pahlawan yang jasanya gak terlalu dikenal cuma karena dia gay? Padahal perannya dalam perang dunia kedua dalam memecahkan kode enigma itu berhasil menyelamatkan banyak nyawa.. He is just can't help for fall in love with his lovely friend! Tuh kan gue nangis lagi alahh cengeng banget!"
Note: gua rekomndasiin banget filmnya gays! Bagus banget based on true story loh!
Win mengambil beberapa tissue untuk mengelap air mata nya yang lagi dan lagi membanjiri pipinya hanya karena menonton ulang film berjudul "The Imitation Game", setelah menutup kembali laptop nya ia menyadari bahwa Bright dan Day tidak kunjung ke kamar mandi atau mereka menggunakan kamar mandi diluar? Mungkin lebih baik Win melihatnya sendiri.
Jujur saja lantai saat ini benar-benar dingin seperti ingin membekukkan kaki telanjang nya beruntung Bright membelikan nya sandal rumah berbulu dengan karakter kelinci putih, Win dibuat gemas dengan hanya melihat sandal berbulu dikedua kakinya ini, omong-omong Win masih mengenakan piyama karena memang ia tidak malas mandi dan hanya ingin merebahkan badan nya.
Saat sampai didepan ruang tv, Win menemukan Bright sedang memangku Day disofa dan keduanya sama-sama tertidur disana. Win tertawa kecil sebenarnya seberapa melelahkannya mengerjakan pekerjaan rumah ini untuk mereka? Ia berinisiatif mengeluarkan ponsel nya lalu mengabadikan kakak beradik yang tertidur disofa dengan bertelanjang dada karena lelah.
Win menghargai usaha kedua orang tercintanya itu karena telah membersihkan rumah hari ini, mereka terlihat bersih dan rapih tidak seperti saat pertama kali ia kembali kerumah ini setelah pertengkaran yang terjadi kemarin. Ia tidak lagi ingin mengingat itu kembali.
*Beep*
NEVY IS CALLING
Itu ponsel Bright yang bergetar karena ada sebuah panggilan masuk diatas meja, apakah boleh Win mengangkatnya? Tapi apakah itu tidak terlihat lancang? Baiklah Win akan mengangkatnya dan mengatakan bahwa Nevy bisa menelpon kembali setelah Bright sudah terbangun.
Halo, Bright?
Kak Nevy? Bright nya lagi tidur, kakak telpon lagi aja nanti kalau Bright udah bangun atau nanti aku bilang ke Bright buat telpon balik kak Nevy.
Win? Hm.. gak perlu gak papa, Win aku minta maaf ya karena aku sering telpon Bright dan ngerepotin dia buat kerumah sakit jadi kalian berdua yang berantem tapi aku beneran gak tau mau gimana lagi.
Kak Nevy, gak papa kok. Udah baikan juga aku sama Bright hehe, lagian aku juga egois kak Prim kan butuh Bright tapi aku malah_
Apaan?! Enggak! Kamu gak egois, kamu baik banget! Aku minta maaf, terlebih Prim. Setelah ini aku bakal cari cara supaya Prim gak terlalu bergantung sama Bright.
Makasih kak, kak Nevy baik banget aku jadi mau nangis!
Hehe cengeng kamu! Oh iya minggu depan aku kerumah ya mau sebar undangan.
Loh? Kak Nevy mau nikah? Sama siapa kak?.
Jangan kaget ya..? Haha, sama Luke!
Wah! Ihh selamat ya kak, beneran gak nyangka kakak temenan dari kecil terus jodoh! Seru ya udah tau sifat masing-masing.
Ahahah aku yang nikah kamu yang seneng sih Win? Kamu juga jangan lama-lama pacarannya sama Bright, suruh Bright buru-buru nikahin kamu biar gak diambil oranglain haha.
Ah, kak Nevy bisa aja hehe.
Yaudah gitu aja ya Win, Kamu lagi sakit kan? Luke bilang kamu sakit terakhir kali diapartement nya jadi aku kirim macaron dari souri yang lagi viral itu special buat kamu, maaf ya aku gak bisa kasih langsung soalnya sibuk dikantor.
Kak Nevy aku beneran nangis! Kakak baik bangetttt.. Makasih banyak-banyak! Cinta kakak banyak-banyak pokoknya!
Ahaaha.. iya Metawin sama-sama! Aku mau lanjut dulu, kamu abisin deh nanti souri nya.. dah Win.
Iya kak, semangat!.
End of call.
Ia benar-benar menangis bukan main-main, ia terharu kalau Nevy baik sekali padanya bahkan sampai mengirimkannya macaron dari Souri yang terkenal enak dan viral di sosial media itu. Win masih tersenyum-senyum setelah mematikan telpon dari Nevy tadi dan ia tidak menyadari bahwa Bright sudah terbangun dan mendengar percakapannya bersama Nevy.
'Ting tong'
Itu mesti kurir pengantar makanan yang kak Nevy bilang tadi gumam Win didalam hati. Ia segera menuju gerbang terdepan rumah besar Bright, mengambil kotak makanan cantik dari seorang kurir laki-laki yang ramah. Disepanjang perjalanannya dari gerbang menuju kedalam rumah tidak berhenti ia tersenyum melihat kotak dikedua tangannya.
Bright benar-benar kagum atas sifat polos Win, walaupun mereka bertengkar karena adik dari Nevy tetapi bahkan ia masih bisa berbicara baik ditelpon, Win tidak menaruh rasa benci sama sekali.
"Seneng banget yang baru dapet makanan dari Nevy?" Win sedikit terkejut melihat Bright yang berdiri didepan nya seperti hantu padahal tadi Bright tertidur disofa. Lalu ia sengaja tersenyum lebar memamerkan kotak cantik berwarna hijau tosca bertuliskan Souri Bkk yang diikat dengan pita abu-abu didepan Bright.
"Hihii iya dong! Kak Nevy baik banget dan katanyaaa minggu depan dia mau bagiin undangan pernikahan dia sama Luke!" Bright masih mengangguk-angguk ditempatnya tanpa wajah terkejut, Win kira ekspresi nya akan sama seperti ia tadi lakukan. "Kamu udah tau ya?!" Bright mengedikkan bahunya acuh lalu mendekatkan dirinya dengan Win yang sedikit cemberut.
Pinggang ramping Win dipeluknya dari belakang, mengguncangkan tubuh kedua kekakan dan kiri. "Aku tau udah lama kok, aku kan temen kecil mereka dan walaupun dulu Luke pernah sama kamu tapi gak menutup kemungkinan kalau Luke punya perasaan tersendiri ke Nevy, aku peka sayangg!"
"Aku bilang gini bukan bermaksud Luke gak bener-bener tulus sama kamu waktu dulu ya.. Cuma mungkin Luke sama Nevy gak mau persahabatan kita berempat agak kurang enak kalau mereka pacaran? Nanti kalau berantem semuanya kena dampak"
Win mengelus tangan Bright yang berada diperutnya lembut, ia mengerti sangat mengerti. Toh itu semua sudah berakhir tentang hubungannya dengan Luke atau apapun itu, dan ia juga merasa bahagia karena orang-orang yang ia sayangi bahagia seperti Nevy dan Luke.
Namun, tidak dipungkiri pertanyaan ini mengganjal pikiran dan perasaannya, tapi ia sedikit ragu akan bertanya atau tidak.
"Hm.. Kalau Luke sama kak Nevy ada kemungkinan sama-sama saling mencintai, itu gak menutup kemungkinan juga kan kalau kamu sama Prim_"
Bright berdesis agar Win tidak melanjutkan kalimat yang dapat menyakiti dirinya, Bright mau Win percaya kalau perasaannya pada Prim tidak lebih dan tidak kurang seperti kakak yang akan selalu melindungi Prim, Bright mau Prim bahagia tetapi bukan dengan dirinya. Dengan Win seperti sekarang ,ia bahagia!.
"Kalau perlu aku jujur dibawah kitab, aku bakal lakuin itu buat kamu.. Kalau bisa juga aku mau angkat Prim jadi anak aku daripada aku harus bersaksi didepan pendeta tentang kebohongan kalau aku cinta sama dia"
Hembusan nafas hangat Bright menerpa leher nya, jujur ia sangat lega lagi-lagi seperti sebelumnya tetapi setelah inj ia akan benar-benar percaya pada Bright dan tidak akan berpikir terlalu jauh tentang semua yang membuat pikirannya lelah.
"Aa?" Pelan-pelan Win membuka kotak macaron itu lalu menyodorkan satu dari enam buah disana yang berwarna kuning pada Bright. Dengan senang hati Bright menerima suapan itu dari jemari lentik milik Win.
"Manis, kayak kamu"
"Masa? Sini aku coba!" Win menarik tengkuk Bright, ikut menyesap rasa manis macaron melalui mulut Bright yang masih tersisa sedikit macaron. Saat kelinci nakal itu mau memundurkan wajahnya Bright menahan tengkuk dan pinggang Win tetap ditempatnya.
Melesakkan lidahnya kedalam rongga mulut Win, menghisap bibir atas dan bawahnya bergantian sembari memiringkan wajahnya kekakan dan ke kiri agar memperdalam ciuman keduanya. Entah saliva milik siapa yang mengulur seperti jembatan penghubung diantara bibir keduanya.
"Mhh.. Mm.." Win meremas bahu telanjang Bright dan juga memukul dada itu agar memberinya nafas. Bright lantas memberi jarak wajah keduanya, Win tampak kehabisan nafasnya karena ciuman dalam dari Bright, wajah Win pun ikut memerah saat ini.
Bright ternyata tidak benar-benar melepaskan dirinya dari Win, nyatanya leher dan tulang selangka milik Win menjadi sasaran bibir sexy nya itu. Yang dapat Win lakukan hanya memejamkan mata sembari menikmati sentuhan Bright padanya di depan pintu rumah mereka, yang benar saja.
"Lanjut dikamar?" Nada rendah yang menurut Win laki sekali Bright lontarkan, ia mau mengiyakan tetapi ini bukan waktu yang tepat karena tubuhnya juga masih lemas, Bright juga belum mandi dan Day juga.
Win menggeleng mendorong dada Bright agar si tampan yang sedang bernafsu ini agar menahan dirinya sampai malam nanti, mungkin atau besok? Win tidak yakin. Tapi lihat wajah frustasi Bright kini? Ia seperti seorang yang bodoh sekarang.
"Kamu mandi dulu, Day juga bangunin sekalian kamu ajak mandi.. Nanti malem, oke? Tahan yaa.. Aku masih lemes juga Bright, abis mandi kalian makan aku masakin udang"
Win yang terdengar sedang bernegosiasi sedangkan, Bright terlihat frustasi. Si tampan ini hanya mendengarkan dengan wajah datar nya dan kedua alis nya yang ia kerutkan, ia berpikir memang Win benar bisa menahannya sendiri? Karena dirinya tidak bisa, mungkin bisa kalau ia melakukannya sendiri dikamar mandi tetapi itu tentu berbeda.
"Ya? Oke aku masak dulu!"
Bright tidak menahannya lagi, ia membiarkan Win pergi tetapi jika saja Win dalam keadaan sehat ia tidak ragu-ragu membopong Win dan mengunci nya dikamar untuk seharian, ah sial karena bayangannya kini miliknya menjadi semakin keras dan nyeri didalam sana.
"Sayangg..! Pegang janji kamu" teriak Bright dari dalam kamar mandi.
"Iyaa.." kekeh Win didapur, ia kasihan sebenarnya tapi memang ia sedang malas melakukan itu sekarang.
"Day, abis ini kamu tidur ya?" itu Bright yang menyuruh Day segera tidur setelah makan malam. Tetapi, Day justru menggelengkan kepalanya tidak setuju karena ada tayangan film transformers ditelevisi malam ini dan besok adalah hari libur jadi dia tidak perlu takut kalau telat bangun tidur.
"Ada transformers mas! Day tidurnya dikamar mas sama kakak Win aja deh biar gak takut kalau film nya selesai tengah malem, boleh ya..??" Win mencubit pipi chubby Day gemas sembari mengangguk memperbolehkan, Win pikir besok kan hari libur jadi boleh-boleh saja.
"Enggak boleh! Day tidur dikamar, transformers nya di skip dulu buat malem ini lagian itu kan cuma ulangan kamu bisa nonton ulang di laptop mas" Win tau apa yang membuat Bright memaksa Day agar bocah tampan itu lebih baik tidur di kamarnya karena Bright pasti menagih janji nya malam ini.
Win menggenggam tangan Bright diatas meja makan, mengisyaratkan lada Bright jangan terlalu keras dengan Day karena bocah itu sudah hampir menangis karena Bright sedikit membentaknya tadi. Yang bisa Bright lakukan hanya menghela nafas beratnya lalu mengiyakan, padahal seharusnya tidak malam ini.
Dan disinilah mereka bertiga terlihat seperti menikmati film yang ditayangkan televisi, kini mereka berada diruang tv berbaring diatas sofa yang panjang dengan posisi Bright berada dibelakang dengan Win yang didepannya sedangkan Day memilih duduk dibawah karpet berbulu hangat dengan beberapa maina figur robotnya.
Day tidak tau saja kalau kedua orang dibelakangnya itu sedang menahan suara mereka agar tidak sampai terdengar ditelinga polos Day, bagaimana tidak? Saat ini Bright sedang memainkan penis Win dibawah sana agar Win terangsang, satu tangannya lagi Bright gunakan untuk meraba puting menegang milik Win.
Win menahan desahannya saat Bright dengan cepat membuat lelehan spermanya keluar hanya dengan satu tangannya, sedang ia yang juga mengocok dan memijat penis Bright dibelakang menjadi hilang fokus karena nikmat yang Bright berikan dipenis dan dada nya.
"Mphh.. B_bright.."
"Sstt.. Nanti Day denger, sayang"
Dada Win naik turun karena orgasmenya kali ini, namun tidak sampai situ ternyata Bright ikut melecehkan lubang miliknya dengan jemarinya. Lalu saat jemari itu masuk untuk yang kedua ia tidak sadar mencengkeram penis Bright dibelakangnya karena rasa yang sedikit sakit dilubangnya.
"Win, hey.. jangan kuat-kuat sayang, hm"
"Maaf, ah.. Sakit soalnya"
Dan perlu diketahui kalau mereka tidak sebodoh itu melakukan nya diam-diam tanpa sesuatu yang menutupi bagian tubuh mereka, iya mereka membawa selimut berwarna cokelat untuk menutupi kegiatannya dari Day.
Jika Bright fokus pada lubang milik Win yang sedang ia mainkan dengan jemarinya maka Win masih memijat penis besar Bright yang tak kunjung orgasme, tapi disaat suara Bright mulai memberat itu tandanya ia segera akan orgasme namun justru Bright melepaskan tangan Win dari penisnya.
"Aku mulai ya?"
"Bright.. Disini? Dibelakang Day? Nanti kalau kita gerak terlalu kasar terus kalau aku de_ mphh"
Kepala penis milik Bright ternyata sudah masuk perlahan kedalam lubangnya, hampir setengah penis besar itu masuk kedalam Win memegang lutut Bright agar si tampan itu dapat perlahan saat memasukan penis besar itu kedalam lubang nya.
Dan disanalah mereka bergerak sebisa mungkin asalkan Day tidak sampai mencurigainya dan disaat Day menoleh kearah mereka karena bertanya tentang film nya itu, otomatis mereka menjeda kegiatannya. Bahkan disaat Bright berada diujung orgasme nya ia rela menahannya karena Day lalu ia akan kembali meremas pantat Win dan menarik serta mendorong pinggang itu.
Bercinta diruang tamu terlebih disofa yang tidak seluas kasur dan jangan lupakan bahwa mereka melakukannya dibelakang Day yang sedang menonton film. Mungkin terdengar kurang bagus tetapi, tekanan yang tercipta malam itu justru membuat Bright dua kali lipat bergairah dan bahkan mereka meneruskannya dikamar setelah Day setuju untuk tidur di kamarnya sendiri.
-SELESAI-
