Waktu menunjukkan pukul setengah delapan saat keduanya menyantap menu yang mereka pesan di Book Cafe itu. Keheningan menyeruak pada salah satu meja yang terletak di samping jendela. Dua sosok yang duduk saling berhadapan tak saling bersuara. Hanya alat makan mereka saja yang terdengar berdenting.

"Kau tak mau melihat-lihat buku di sini?" Ucap Cagalli saat ia hampir menghabiskan porsi spaghetti-nya. Kira menyelesaikan kunyahan-nya sebelum menjawab.

"Tak ada waktu,"

"Huh, padahal biasanya kau tak kenal waktu saat membaca buku," Tangan kiri Cagalli menopang dagu sementara tangan kanannya yang memegang garpu, sibuk memilin spaghetti.

"Tidak juga," Kira merespon singkat lalu beralih menyeruput cola-nya.

Keduanya kembali diam. Cagalli melirik pemuda yang masih sibuk nenghabiskan makannya. Gadis itu menghela nafas lalu melirik ke arah gelang batu aquamarine di pergelangan tangannya. Entah sudah ke berapa kalinya ia melihat benda itu. Semakin dilihat, hatinya mulai gelisah. Ada sesuatu yang ingin ia bicarakan dengan sahabatnya itu.

"Ne, Kira," Nada serius dalam panggilan itu mengundang si pemilik nama untuk menatap Cagalli. Kedua mata gadis itu tak menatap lawan bicaranya, tetapi ke arah piring bekas makannya.

"Apa?" Sahutan polos Kira menjadi isyarat agar Cagalli bicara.

"Mengenai rencana ayah untuk mengadopsimu…" Suara Cagalli sedikit melemah. Bola matanya bergerak menatap pemuda itu. "Bagaimana?"

Kira menghela nafas. Ia ikut bertopang dagu. Tatapan matanya teduh, namun sedih. Pemuda itu menggeleng pelan.

"Masih tidak mau?"

"Ya, aku tak bisa. Maaf ya…" Ujar Kira menyesal. Sebenarnya memang tak ada yang perlu ia sesali karena keputusan itu berdasarkan keinginan Kira sendiri. Mungkin, ia hanya merasa tak enak hati karena sudah menolak kebaikan seseorang. Apalagi sosok-sosok itu sudah cukup dekat dengannya.

"Aku tak bisa meninggalkan panti asuhan Archangel. Apalagi, ibu butuh seseorang untuk mendampinginya," Jelas Kira dengan raut sedih. Terbayang dalam benaknya sosok wanita dengan kondisi fisik yang semakin melemah. Sang ibu memang akhir-akhir ini sering sakit-sakitan. Karena itu, Caridad dilarang melakukan kegiatan yang banyak menguras energi. Namun, tak ada siapapun yang bisa diandalkan untuk mengurus tiga belas anak panti asuhan Archangel selain dirinya. Sehingga, Caridad sering memaksakan diri untuk bekerja. Kira yang menyadari hal itu, ingin sekali membantu ibu asuhnya. Yang bisa Kira lakukan saat ini memang hanya terus berada di sisinya. Namun suatu hari nanti ia ingin ikut andil dalam mengurus anak-anak panti asuhan itu. Terlebih lagi, ia ingin ibu dan saudara-saudaranya bisa merasakan kehidupan yang nyaman.

"Aku mengerti...tapi ayah sangat bersikeras untuk mengajakmu tinggal di tempatku," Cagalli terlihat bingung. Rencana adopsi Kira bisa terbilang baru, sekitar tiga bulan lalu. Sebelumnya ayah Cagalli tak pernah memikirkan niat tersebut. Malah, Ulen mendukung pemuda itu untuk tetap berada di sisi Caridad serta meneruskan pekerjaannya mengurus anak-anak panti asuhan.

"Biar aku yang bicara pada Ulen-san," Putus Kira. Cagalli hanya diam. Sudah berapa kali Kira mencoba bicara dengan sang ayah. Namun, tetap saja pria itu teguh pendirian. Cagalli pun sebagai anak tak bisa berbuat banyak. Ia hanya bisa menjelaskan pada sang ayah mengenai kondisi panti asuhan Archangel serta keinginan Kira untuk tetap berada di sisi ibu asuhnya. Namun, penjelasan itu tetap tak mempengaruhinya.

"Hari Minggu nanti ayahmu tidak praktik kan? Aku akan ke rumahmu untuk menjelaskannya lagi,"

"Kurasa percuma Kira. Ia tetap ingin mengadopsimu. Ia bahkan sudah sepakat dengan bibi Caridad," Cagalli pesimis.

"Ya, tapi aku tetap menolak," Kira masih yakin pada keputusannya. "Aku ingin membahagiakan ibu dan para penghuni panti asuhan. Hal itulah yang membuatku tak bisa meninggalkan mereka begitu saja,"

Cagalli melirik pemuda itu singkat. Ia beralih mengaduk-aduk minuman soda-nya menggunakan sedotan.

"Kalau aku terus menjelaskannya, ayahmu pasti mengerti, Caga," Kira tersenyum yakin. Cagalli hanya menarik bibir agar berusaha tersenyum lalu manggut-manggut. Respon Cagalli langsung menimbulkan tanda tanya pemuda itu.

"Kenapa?"

"Aku hanya merasa bimbang…" Ungkap Cagalli. "Antara keputusan ayah dan keputusanmu…"

"Maksudmu?" Dahi Kira mengernyit. Tangannya terlipat di atas meja. Perhatiannya tertuju penuh pada sosok galau di hadapannya.

"Ya…" Cagalli berusaha mencari ungkapan yang tepat untuk menjelaskan perasaannya. "Mengenai keputusan ayah,"

"Kau setuju?" Simpul Kira. Cagalli tak langsung menjawab. Ia masih bingung menentukan di mana ia harus berpihak.

Apakah pada ayahnya? Pasti keluarganya hanya ingin membahagiakan Kira. Cagalli juga ingin melihat sahabatnya bahagia, bukan?

Atau pada Kira? Sebagai sosok yang cukup dekat, Cagalli seharusnya mendukung Kira. Ia tentu tak bisa memaksa kalau Kira sendiri juga keberatan. Lagipula...kalau mereka benar-benar menjadi saudara….

"Tidak. Aku akan membantumu, Kira," Putus Cagalli. Ia menatap mata sahabatnya lekat-lekat. "Walau niat orang tuaku baik, tetap saja mereka tak bisa memaksamu," Cagalli menyimpulkan. Kini, Kira yang terlihat bingung dengan keputusan mendadak itu.

"Tapi, tadi kau terlihat bingung…" Ungkap Kira. Cagalli menggeleng sambil tersenyum.

"Tidak. Aku tetap akan membantumu, Kira. Aku akan membujuk ayah agar tidak mengadopsimu. Kau ingin tetap tinggal di Archangel kan?"

Kira tertegun, namun beberapa saat kemudian ia mengangguk sambil tersenyum. Cagalli membalas senyuman itu, menutupi perasaan lain yang kini berkecamuk dalam hatinya, sebuah rasa bersalah muncul dari kebohongan. Ia membantu Kira bukan murni karena ingin melihat pemuda itu bahagia tinggal bersama ibu asuhnya. Ada tujuan lain yang kini Cagalli sadari. Ia hanya tak ingin Kira menjadi saudaranya, karena kalau hal itu terjadi, Cagalli harus merelakan perasaan spesial pada sosok itu harus pupus begitu saja.

Batu Aquamarine yang melambangkan rasa percaya dan hubungan erat. Apakah ia masih pantas memakainya?


"Aku pulang…."

Seruan Cagalli terdengar dari pintu masuk menarik perhatian seorang wanita bercelemek. Dengan tergopoh ia menuju ke sana dan menemukan anak gadisnya tengah duduk memunggunginya untuk membuka sepatu kets. Wanita itu tersenyum walau Cagalli tak bisa melihatnya. Dengan semangat, ia menyambut kepulangan anak semata wayangnya itu.

"Selamat datang…" Ucapannya tak terlalu digubris. Gadis berambut pirang sebahu berdiri lalu meletakkan sepatu sekolahnya. Ia menghadapi sang ibu dengan wajah kusut.

"Kenapa, Cagalli?" Wanita itu tertegun. Tak biasanya anak gadisnya memasang muka sesuram itu.

"Tidak," Cagalli menggumam. "Hanya kelelahan," sebelum Cagalli berlalu ke kamar, sang ibu keburu menahannya.

"Ayah ingin bicara denganmu," Cagalli menghadapi wajah ibunya dengan pandangan penuh tanya. Sosok itu hanya menyunggingkan senyum untuk mencairkan raut serius sang anak. Cagalli pun mengekori langkah ibunya menuju ke ruang makan. Di sana ada sosok pria berwajah dingin tengah menyantap makan malamnya. Sang ibu mendatangi pria itu lalu duduk di sampingnya. Wanita itu melambaikan tangan untuk mengajak Cagalli duduk dengan mereka.

Ayah dan anak itu berada dalam posisi saling berhadapan. Raut wajah serius mereka menggambarkan karakter keduanya yang sama-sama keras. Bahkan tak ada senyum sapaan tercetak di bibir ayah maupun putrinya saat sepasang mata mereka saling bertemu. Tentu saja, keberadaan satu sosok dengan karakter lebih santai akan bisa mencairkan suasana tegang di ruang makan. Via Hibiki, wanita yang duduk di samping suaminya, berusaha menetralisir suasana dengan basa-basinya.

"Bagaimana jalan-jalanmu dengan Kira?" Tangan Via terlipat di atas meja. Wajahnya agak condong ke arah Cagalli. Putrinya nampak masih enggan bicara.

"Katanya beli kado ya?"

"Ya," Suara Cagalli lemah. Sang ayah hanya melirik singkat lalu lanjut makan.

"Mau ikut makan, Cagalli? Ibu buatkan lagi,"

"Tidak usah. Sudah kenyang," Cagalli masih menjawab kaku. Ia pun menatap mereka berdua bergantian. Rasanya ia sudah tak betah berlama-lama di sini. Apa yang sebenarnya sang ayah ingin bicarakan dengannya?

"Ayah ingin bicara apa?" Tanya Cagalli serius sambil menatap sosok yang masih menyantap makan malamnya. Pria itu tak segera menjawab. Ia menghabiskan suapan terakhir lalu minum.

"Mengenai rencana ayah untuk mengadopsi Kira," Jawab pria itu. Via membereskan piring kotor lalu membawanya ke dapur, membiarkan ayah dan anak itu bicara empat mata.

"Kau sudah membujuknya?"

Cagalli juga tak segera menjawab. Ia menunduk sambil menyentuh gelang pemberian Kira. Dari air mukanya, terlihat jelas kalau Cagalli juga menentang rencana itu.

"Sudah," Gadis itu menjawab. "Tapi, ia tetap menolak,"

"Kau bisa membujuknya lagi?"

"Ayah, dia sudah dewasa. Biarkan dia menentukan pilihannya sendiri!" Sergah Cagalli. Sosok di hadapannya bersedekap dengan raut tenang dan dinginnya.

"Dia baru enam belas tahun, belum cukup dewasa untuk memutuskan sesuatu," Pendapat ayahnya membuat Cagalli kesal, walau ia hanya bisa menatapnya tajam.

"Kau harus membujuknya lagi sampai Kira setuju untuk menjadi anggota keluarga Hibiki,"

"Tidak! Aku tak bisa memaksakan kehendaknya. Ia sudah bahagia tinggal dengan bibi Caridad. Bukankah Kira juga ingin mewujudkan mimpinya membuatkan rumah lebih layak bagi anak panti asuhan Archangel?" Gadis itu mati-matian membela teman masa kecilnya, bahkan sampai berselisih dengan orang tuanya sendiri.

"Kalau ayah merasa sudah dewasa, seharusnya menghargai keputusan Kira! Walau niatmu terlihat baik, kau tetap saja akhirnya merebut kebahagiaan Kira!"

"Caga...kami bukannya ingin merebut kebahagiaan Kira," Via langsung bergabung saat suasana antara ayah dan anak itu mulai memanas. Sang ibu harus segera menjadi penengah agar tidak terjadi kesalah pahaman antara dua sosok berwatak keras itu.

"Dengar, Caga…" Via menatap Cagalli penuh kelembutan, seketika menetralkan kekesalan anaknya. Cagalli pun menghela nafas lalu bersandar.

"Ayahmu terpaksa melakukannya demi kebaikan Kira sendiri," Via gantian menjelaskan.

"Kebaikan apa?! Kalian hanya ingin melakukannya demi keegoisan kalian sendiri," Nada suara Cagalli lebih pelan, namun ketus.

"Ini keinginan Caridad sendiri," Suara berat milik Ulen langsung menimpali. Ada kesedihan yang dalam di balik kata-kata itu. Cagalli langsung tercenung saat suasana berubah hening. Sang ibu yang terlihat ceria pun kini ikut memasang wajah sedih.

"Archangel akan ditutup,"

"Apa!?" Cagalli terperanjat. Ia belum sekalipun mendengar kabar ini, bahkan dari Kira sebagai penghuni panti asuhan. Kenapa malah kedua orang tua mereka yang tahu!? Apakah kabar itu bohong?

"Bohong!"

"Kapan kami membohongimu, Caga?" Via menatap sedih. Cagalli tercekat.

"Kira tak pernah bilang…"

"Caridad memang sengaja merahasiakannya dari penghuni panti asuhan lain, termasuk Kira," Via menghela nafas. "Masalah ini hanya kami bertiga yang tahu,"

"Memang ada masalah apa? Kenapa harus ditutup?" Cagalli mulai bisa percaya. Namun, ia tak bisa setenang itu menanggapi rencana penutupan Archangel. Pikirannya bekerja mencari berbagai alasan. Apakah karena masalah keuangan? Ditilik dari Archangel yang memang bukan panti asuhan besar dan memilik banyak donatur.

"Panti asuhan itu serta tanah di sekitarnya akan digusur untuk lokasi wisata,"

Dalam sekejap, kabut kesedihan meliputi hati Cagalli. Gadis itu tertunduk dalam, menahan tangisan yang akan tumpah. Cagalli kembali memandang gelang pemberian Kira. Bayangan pemuda itu beserta bibi Caridad dan anak-anak panti asuhan Archangel pun menghantui benaknya. Cagalli tak ingin ucapan sang ayah terjadi. Kalau Archangel ditutup, bagaimana nasib anak-anak di sana? Bagaimana nasib bibi Caridad?

"Pihak pengembang sudah berkali-kali memberi ultimatum untuk segera meninggalkan lokasi. Tapi, Caridad terus meminta perpanjangan waktu. Namun, ia tak bisa terus-terusan memohon," Helaan nafas Ulen menjadi jeda singkat. "Terakhir, pihak pengembang mengancam akan membongkar paksa bangunan panti dan mengusir penghuninya,"

"Apa tak ada cara untuk mempertahankannya, ayah...ibu?" Cagalli memelas sambil memandang mereka bergantian. Keduanya menunduk lalu menggeleng pelan.

"Bangunan panti asuhan berada di tanah milik pemerintah. Kalau pemerintah memutuskan untuk menggusurnya, kita tak bisa berbuat banyak,"

"T-tapi...bagaimana dengan anak-anak…."

"Mereka akan dipindahkan ke panti asuhan lain," Jawab Ulen. "Yang jadi masalah adalah Kira. Caridad sangat menyayangi anak itu sehingga ia ingin Kira tinggal di tempat lebih layak,"

"T-tapi...ia tetap ingin tinggal bersama bibi…"

"Cagalli…" Mata elang ayahnya memandang anak gadisnya sangat lembut. Cagalli langsung tercekat.

"Caridad juga sedang sakit…. Ia terkena gagal ginjal. Kondisinya semakin melemah,"

"Apa!?" Cagalli seperti tersambar petir dua kali. Belum selesai dengan kabar penutupan Archangel, ia harus mendengar kabar lain yang lebih mengejutkan. Bibi yang amat ia sayangi mengidap sebuah penyakit berat. Walau ia bodoh dalam pelajaran, Cagalli sedikit tahu kalau gagal ginjal bukanlah penyakit yang dengan mudah bisa disembuhkan. Perlu proses penyembuhan yang panjang, seperti cuci darah. Kalau tidak segera ditangani, bibi Caridad bisa….

"Kalian bohong 'kan?!" Cagalli berbisik lirih. Ia berusaha menepis kabar-kabar mengerikan itu. Ayah dan ibunya menatap iba.

"Kapan kami pernah membohongimu?" Pertanyaan yang sama terdengar dari ibunya. "Kami pun masih belum bisa menerima kabar-kabar ini, Caga…"

"Maka dari itu, kami tak ingin mengatakannya pada Kira. Ia pasti amat terpukul," Ulen menatap jarinya yang terlipat di atas meja. "Yang bisa kami lakukan hanyalah memenuhi permintaan Caridad: menjadikan Kira sebagai bagian dari keluarga Hibiki, mengasuhnya sampai ia dewasa serta memberikannya kebahagiaan,"

"Tapi, Kira masih ingin tinggal dengan bibi…" Cagalli bergumam lirih. Kepalanya terasa berat mendengar kabar-kabar itu sehingga ia tak bisa berpikir jernih. Ucapan Cagalli tadi pun terlontar tanpa ia sadari.

"Untuk itu, bantu kami, Caga…" Via berdiri di tempat. Digenggamnya tangan Cagalli yang terkulai di atas meja. Mata ibunya berusaha menatap sorot mata kelam anaknya.

"Bantu kami membujuk Kira…." Bisik ibunya "Suatu saat ia pasti akan tahu...tapi, ketika ia sudah memiliki keluarga baru, ia tak akan merasa sendirian menanggung kesedihannya,"

"Kau juga rahasiakan ini dulu dari Kira dan Caridad. Semuanya!" Ulen kembali memasang sikap tegas. "Jangan sampai mereka tahu. Dan bersikap wajar juga pada Caridad,"

Mendengar permintaan kedua orang tuanya tak membuat hati Cagalli lebih tenang. Ia menggeleng cepat, menepis genggaman ibunya lalu meninggalkan kedua orang tuanya.

"Caga!" Via hendak menyusul putrinya, tetapi Ulen menahan wanita itu. Sorot mata dingin suaminya memberikan isyarat agar membiarkan anak semata wayang mereka sendirian. Mungkin saja Cagalli ingin menenangkan diri dari kegundahan hatinya.

Cagalli mengurung diri di kamar. Ia berbaring menelungkup di atas ranjang. Isakan tangis gadis itu teredam oleh bantal. Memang lebih baik begitu. Cagalli tak ingin orang-orang mendengar tangisnya. Ia terkenal sebagai sosok yang ceria dan kuat. Bahkan, teman-temannya termasuk Kira sendiri jarang sekali melihat Cagalli menangis. Gadis itu memang memiliki prinsip untuk pantang menunjukkan air mata. Ia bukan seorang yang lembek.

Tapi, kejadian kali ini rasanya berbeda. Cagalli merasa sangat terpukul mendengar kabar yang menimpa sosok terdekatnya. Archangel akan ditutup. Bibi Caridad menderita penyakit berat. Lalu, ia juga harus menyembunyikan semua masalah itu dari sahabatnya. Belum lagi, Cagalli harus membujuk Kira agar mau menjadi anggota keluarga Hibiki. Kepala Cagalli rasanya akan meledak dijejali berbagai masalah itu.

Ia tak punya pilihan lain lagi. Cagalli harus mendukung rencana ayahnya. Ia tak bisa bersikap egois dengan membiarkan Kira berada di Archangel. Pemuda itu harus mendapat kebahagiaan. Salah satunya dengan cara menjadi anggota keluarga Hibiki. Ibunya benar, kalau Kira sudah memiliki keluarga baru, akan ada sosok-sosok yang bisa menguatkannya bahkan saat pemuda itu tengaj berada dalam kesedihan.

Cagalli membalikkan badannya. Dengan posisi terlentang, gadis itu memandang langit-langit kamar. Cagalli mengangkat tangan kanannya. Ia melepas gelang pemberian Kira lalu menerawangnya.

"Kira… aku berjanji akan terus membahagiakanmu… karena kita berdua adalah sahabat…"


A/N: Author senyum2 saat menulis part ini. Rasanya kok tega bener ya sama tokoh2 fanfic ini~~ ahahahaa…Makasih buat para readers yang tetap setia pada cerita gaje ini. Semoga masih dapat pencerahan untuk menulis part demi partnya xD *digetok