"Kita bisa menggunakan Miyuki Kazuya sebagai penangkap kita."

"Eh?!"

Miyuki yang ditunjuk menjadi bingung. Menatap Eijun untuk penjelasan namun sepertinya hal itu membuat Miyuki kalah telak. Dia terlalu lemah untuk ditatap seperti itu. Mau tak mau, ia pun menuruti permintaan -paksaan- Eijun.

"Baiklah." Miyuki bangkit sembari menepuk-nepuk belakang celananya. "Tapi aku hanya akan membantumu sebagai catcher."

Eijun senang, bahkan dirinya tak segan untuk melompat-lompat walau ada banyak senior disekitarnya. Ia menatap Kataoka dengan senyum lima jari sementara pihak lain hanya bisa mengangguk mengiyakan.

"Baiklah. Tapi seperti yang dikatakan Miyuki tadi, dia hanya akan bermain sebagai catcher kalian saja. Jadi menang atau kalah itu adalah urusan kalian. Mengerti?!"

"Mengerti Pak!!!" Teriak para tahun pertama. Meski mereka baru disini dan mungkin masih berada jauh dibawah senior, namun mereka tentu akan menunjukkan semangat para anak muda. Semangat akan keyakinan bahwa mereka pasti dapat bermain melebihi harapan orang-orang.

"Baiklah, sekarang kita bisa melanjutkan permainannya." Kataoka berjalan menuju ke belakang home plate, bersiap sebagai wasit untuk segera memulai kembali permainan sementara para pemain mulai kembali ke ruang istirahat untuk mempersiapkan diri.

Eijun melirik kearah Miyuki yang sedang memasang beberapa alat pelindung. Itu sangatlah berat dan Eijun tahu akan hal itu. Menjadi catcher merupakan salah satu posisi yang paling tidak dia sukai. Selain melelahkan otak, mereka juga harus memakai alat pelindung yang sangat berat ditambah dengan cuaca yang panas. Membayangkan tentang hal itu saja membuat Eijun gerah sendiri.

"Apa yang kau lakukan?" Miyuki bingung sebab tiba-tiba saja kohai-nya datang dan berjongkok memasang alat pelindung di kakinya.

"Aku sedang membantumu memasang ini, Miyuki Kazuya. Jika kita tidak cepat, para senior akan segera mati kebosanan menunggu."

Miyuki memutar matanya namun tetap mengucapkan terima kasih. Ia bangkit sembari menampakkan seringai culasnya itu. "Jadi bagaimana dengan lemparanmu?"

Eijun berpikir, apakah dia akan memberitahukan semua jenis lemparannya atau tidak. Pasalnya dia mempunyai lebih dari selusin pitch yang kontrolnya juga dapat terbilang bagus. Miyuki tak tahu akan hal ini, dia hanya mengetahui bahwa Eijun hanya memiliki satu lemparan saja, itupun fastball.

"Oi! Jangan melamun bakamura."

"Siapa yang kau panggil bodoh hah?!"

Miyuki terkikik. "Orang bodoh mana mau mengakui dirinya bodoh."

Eijun geram. Ingin rasanya dia memukul wajah Miyuki, namun ditahan sebab dia masih cinta terhadap si catcher dan jatuh hati terhadap ketampanannya.

"Kau belum menjawab pertanyaanku."

Berpaling kearah Miyuki yang ternyata masih menunggu jawaban darinya. "Saat ini aku sedang mengerjakan cutter dan two seam. Mungkin belum sempurna, tapi aku sudah berlatih selama 6 bulan, jadi tak mustahil untuk menggunakannya sekarang."

Miyuki mengangkat alisnya, jujur terkesan dengan info ini. "Oya oya~ Jadi sekarang kau mulai berpikir untuk menangani pitch bergerakmu itu?"

"Yah begitulah." Eijun meninggalkan ruang istirahat diikuti oleh Kazuya dan pemain lainnya menuju lapangan.

Akhirnya pertandingan pun dimulai kembali. Tentu saja Miyuki akan mendapatkan banyak tatapan pengkhianat dari para senior, namun dia akan berpura-pura tidak ada apa-apa.

Eijun berdiri diatas mound dengan mata emas membara. Mengangkat telunjuknya yang membawa banyak perhatian. "BOLA AKAN TERBANG, JADI PARA FIELDER MOHON BANTUANNYA!!!"

Teriakan itu untungnya ditanggapi dengan semangat oleh rekan setimnya yang membuat Eijun kegirangan. Menghadap kearah Miyuki yang juga menyeringai.

"Play ball!"

Miyuki meletakkan mitt nya agak berdekatan dengan batter, menempatkan tangan kanan disela-sela pahanya dan mulai mengeluarkan telunjuknya. Fastball.

Lemparkan pitch terbaikmu.'

Eijun mengangguk. Entah mengapa dia seperti mengetahui apa yang dipikirkan Miyuki, walau tahu bahwa mungkin itu hanyalah sebuah angan-angan belaka.

Mengangkat kaki kanannya tinggi-tinggi dengan lengan kirinya ditarikkan kebelakang, membentuk dinding menggunakan tangan kanannya, lalu membanting kakinya sementara tangan kirinya melemparkan bola tepat kearah mitt Miyuki. Miyuki sedikit tersentak ketika mendapati bola terbang menuju kearahnya secara tiba-tiba, tapi berhasil menangkapnya berkat kemampuan tangkas yang sudah dilatihnya.

"Strike!"

Lapangan menjadi hening. Semua mata tertuju pada mound dengan tatapan antara kagum dan tidak percaya.

"Apa itu tadi?"

"Lemparannya tidak terlalu cepat namun senior itu bahkan tidak sempat mengayunkan pemukulnya!"

"Bocah itu menarik sekali!"

"Hei bisa jadi itu hanya sebuah kebetulan karena pemukul itu belum siap."

Maezono Kenta, pemain string kedua di tahun kedua, menatap pitcher dengan mata melotot tak percaya. 'Bola itu datang tiba-tiba entah darimana, bahkan jika aku mengayunkan pemukulku aku pasti tidak akan sempat.' Ia mengetuk bat ke tanah lalu memperbaiki cengkeramannya, tak lupa menggali cleat-nya untuk menemukan pijakan yang lebih baik. Zono juga memposisikan diri bersiap untuk memukul bola apapun yang akan datang, namun matanya tak pernah meninggalkan pitcher kidal Sawamura Eijun.

Disisi lain, Eijun sedang melempar-lemparkan tas rosin keatas dan kebawah. Ketika dirasa cukup, dia pun berbalik menatap home plate yang berjarak sekitar 18 meter itu. Dilihatnya Miyuki menempatkan sarung tangannya ketempat yang sama juga dengan panggilan yang sama. Itu adalah hal yang terlalu berani karena yang mereka lawan saat ini adalah anggota string kedua yang mempunyai pengalaman lebih dibanding dengan si pitcher.

Meski dengan topeng yang menutupi wajahnya namun Eijun dapat dengan jelas melihat Miyuki tersenyum santai, dan itu membuat ujung bibir Eijun berkedut. 'Kazuya memang sangat tak kenal takut. Bahkan diantara kobaran api yang dahsyat, ombak yang tinggi, lembah yang curam. Dan kali ini kau juga melakukan hal yang sama. Tapi kau tahu jika sifat pemberanimu itu adalah hal yang membuatku jatuh cinta padamu.'

Menyesuaikan posisinya dan melemparkannya dengan menambahkan sedikit kecepatan. Bola itu dengan tepat menuju ke mitt Miyuki menghasilkan suara yang sangat khas.

"Strike two!"

Saat ini hitungannya menjadi 0-2, dan situasi Zono saat ini benar-benar terpojok. Jikalau tidak dapat melakukan kontak dengan bola saat ini, dapat diketahui bahwa dia tidak akan terpilih untuk string pertama. Zono muak membayangkan dirinya harus menunggu satu tahun lagi hanya untuk bermain dipertandingan asli.

Eijun menyeringai ketika aura permusuhan keluar dari seniornya itu. Senang mengetahui bahwa seniornya ini menganggap lemparan Eijun adalah sesuatu yang tak bisa diremehkan. Jika sudah seperti ini maka Eijun juga tak bisa menahan diri lagi bukan?

Kali ini Miyuki menempatkan sarung tangannya ketempat yang berbeda, yaitu tepat ditengah. Oh itu merupakan tempat favorit Azuma, pikir Eijun mengingat bagaimana pertama kali dirinya bertemu kembali dengan Kazuya dan menjadi battery untuk mengalahkan salah satu senpai gemuk yang sangat sombong.

Mungkin ada jejak-jejak keraguan untuk melemparkan lemparan itu. Jika yang berada pada mound saat ini merupakan pitcher lain, mereka pasti akan menolak panggilan tersebut. Namun ini Eijun, seorang pitcher kidal yang akan mempercayai apapun yang dikatakan seorang catcher tahun kedua, Miyuki Kazuya.

Mengangkat kaki kanannya tinggi-tinggi lalu membantingnya bersamaan dengan lepasnya bola dari tangan kirinya. Bola secara tiba-tiba datang dan langsung menuju kearah sarung tangan Miyuki, membuat Eijun menyeringai dengan kegembiraan yang terlihat dimatanya.

"Strike three! Batter Out!"

Teriakan wasit menimbulkan sorak-sorai dari kerumunan. Para penonton terkagum-kagum, khususnya untuk string pertama yang menonton.

"Zono terlambat mengayun, apakah lemparan itu terlihat lebih cepat jika dilihat dari kotak pemukul?" Ucap Isashiki.

Ryousuke membuka sedikit kelopak matanya yang menjadikannya semakin menakutkan. "Hmm~ Anak itu sangat menarik, bagaimana menurutmu Tetsu?"

Pria tinggi yang disebut 'Tetsu' itupun menjawabnya dengan suara khas seorang kapten. "Meski terlihat seperti fastball biasa dengan kecepatan rata-rata, namun bola bergerak itu menjadikannya sulit untuk dipukul. Kurasa itu yang menjadikan lemparannya menjadi sulit untuk dipukul."

Ryousuke mengangguk, sedikit kagum dengan pengamatan sang kapten. Ia melirik kearah mound tempat pitcher kidal berada. "Aku ingin memukul lemparannya itu~"

Kuramochi yang berada tak jauh dari mereka merasa sangat senang mendengar para senpai-nya mengakui kemampuan Eijun. Ia berusaha untuk tidak menyeringai senang atau akan dianggap aneh nantinya. Kuramochi bersumpah seusai pertandingan ini, dia akan mencekik leher Eijun.

Bersambung


Maaf apabila ada yang typo dan kata-kata yang kurang dimengerti. Tetap dukung terus ya! ;-)

Sampai jumpa di episode selanjutnya!!!