Annyeonghaseyooo chingudeeuulll! ^^ Aku kembali nih, omong" apa masih ada yg nungguin cerita ini? hehe. Makasi buat yg minta cerita ini dilanjut yahh ;) Langsung aja yukk cuss...

Enjoy!

Sorry for typo ^^


.

.

Liburan yang awalnya hanya bertiga diantara sahabat, telah berakhir menjadi berenam diantara pria dan wanita tersebut. Setelah menghabiskan waktu selama seminggu bersama, banyak cerita yang sudah mereka kuak dan diukir. Tidak hanya sebatas itu, kisah mereka pun masih berlanjut di Korea. Jika menyangka hubungan mereka semua akan lancar, sepertinya akan sulit. Hubungan mereka akan semakin kuat jika mampu melewati badai bukan? Tertarik untuk melihat perjuangan mereka?

.

.

The 2nd Meeting

Chapter 10

.

.

Penerbangan sore mereka dari Hawaii ke Korea berakhir. Siang hari mereka baru sampai, keenamnya kini sudah turun dari pesawat dan sedang menunggu jemputan mereka.

"Lu, gwaenchanha?" tanya Baekhyun yang mendapati temannya itu sedikit lemas hingga harus dibantu oleh Sehun.

Luhan hanya mengangguk, ia menoleh pada Sehun yang terlihat begitu biasa. Padahal ialah yang membuat Luhan hingga seperti ini.

"Perlu aku gendong?" tanya Sehun santai.

Luhan membulatkan matanya, "tidak! Ughh… ini semua karenamu!" desisnya pada Sehun.

"Ingin dilanjutkan?" bisik Sehun balik. Bisa-bisanya pria itu kembali menggoda Luhan dengan wajah datarnya.

"Lakukan jika ingin kupukul!"

"Pukul saja, tidak masalah bagiku." Luhan menangkap seringaian kecil tersungging di bibir si pria. Luhan sudah tidak bisa lagi melawan, energinya hampir terkuras karena ulah Sehun.

..

[Dua jam sebelum pendaratan…]

Siang hari beberapa penumpang masih tertidur sembari menunggu penerbangan berakhir. Begitu juga dengan Kyungsoo yang duduk bersama Sehun dan Luhan, wanita itu masih berkelana di mimpinya. Sedangkan itu, Sehun juga masih bersandar di bahu Luhan dan menutup matanya. Sebenarnya Luhan sudah bangun, tapi ia khawatir membangunkan Sehun yang sepertinya masih lelah, jadi ia membiarkan pria itu tertidur di pundaknya.

Tak berselang lama, Luhan merasakan kepala Sehun semakin mendesak ke lehernya. Napas pria itu menggelitikinya, membuat Luhan sedikit tak nyaman. 'Apa dia sudah bangun?' gumam Luhan, ia melirik Sehun yang masih menutup matanya. Tiba-tiba, sebuah sengatan lembut membuat Luhan terlonjak. Rupanya bibir Sehun mulai menghisap kulit lehernya. 'Apa? Sehun sudah bangun? Apa yang di lakukan?!' gerutu Luhan. Wanita itu meremas kedua telapak tangannya saat bibir Sehun semakin giat menghisapnya.

"Se-Sehun…" bisik Luhan sambil mengguncang bahu pria itu.

Mata Sehun terbuka, sangat segar, dan tidak terlihat tanda-tanda ia baru saja bangun. Tangan pria itu meraih tangan Luhan dan menggenggamnya. "Diam sebentar…" pinta Sehun.

"A-apa?"

"Diam jika tidak ingin menarik perhatian…"

Setelah itu, Luhan merasakan tangan Sehun yang lainnya mengusap pahanya. Semakin lama, tangan Sehun semakin merambat ke atas, mendekati bagian privat-nya. Luhan memelototi Sehun, tapi pria itu hanya menyeringai kecil. Sehun mendekatkan bibirnya ke telinga Luhan, "tidakkah kau bosan? Biarkan aku menghiburmu…" bisik Sehun lalu menjilat daun telinga Luhan.

"Micheoso?!" pekik Luhan tertahan. "Uhmmhh…" Luhan menahan desahannya saat tangan Sehun mengusap area privat-nya dan menekan-nekannya.

"Ssstt… tenang Lu." Masih dalam posisi seperti Sehun tertidur menghadap Luhan. Tangan Sehun menggenggam tangan Luhan dan tangan lainnya sibuk menggoda bagian selatan wanita itu.

"Sehunn… kita bisa ketahuan–" Luhan membekap mulutnya sendiri. Kepalanya ia sandarkan pada dada Sehun, sementara tangan pria itu masih mempermainkan titik sensitifnya.

"Kau basah…" bisik Sehun. Rasanya Luhan ingin sekali mengumpat dan memaki Sehun, pria itu seenaknya melakukan hal ini. Mata Luhan membulat saat pria itu menaikkan satu kakinya ke paha si pria. Tangan Sehun semakin gencar dan kini mulai menyelinap dari atas dalaman Luhan, berutung sekali karena Luhan mengenakan rok.

"Sehun… hen-hentikan…" bisik Luhan, napasnya terdengar berat. Sehun hanya tersenyum lalu mulai mencari titik yang bisa dimasukinya.

"Enggh!" Luhan terlonjak saat merasakan sebuah jari memasuki lubangnya. 'Sial! Oh mesum ini benar-benar!'

"Tahan suaramu…" bisik Sehun, lalu jarinya dengan cepat bergerak keluar-masuk lubang licin tersebut. Luhan semakin mendesak dada Sehun, kepalanya berputar, dan tubuhnya terus terhentak. Bagian selatannya benar-benar berkedut hebat dan membuatnya harus berusaha menahan gairahnya yang sudah memuncak. "Sialan kauuhh… Seh– aku tidak– hentikan!" bisik Luhan.

"Kau yakin?" Sehun malah semakin mempercepat gerakkannya. Bibirnya mulai menggoda telinga Luhan.

Merasakan pelepasannya tiba, Luhan meremas tangan Sehun kuat dan menarik kaus yang pria itu kenakan. "Seh…" tubuh Luhan menegang, kepalanya terasa berat dan…

"Mmm!" Sehun berhasil membungkam bibir Luhan dengan miliknya sebelum wanita itu berteriak karena orgasmenya. Seketika Luhan merasakan tubuhnya melemas dan kepalaya terasa ringan. Jiwanya seperti melayang.

..

Tak lama dari mereka menginjakkan kaki di pintu kedatangan, tiba-tiba serbuan media datang menghalangi jalan. Dihalangi belasan kamera dan mic yang tiba-tiba tersodor membuat langkah mereka terhenti. Tidak sampai di situ, ternyata para media itu mengincar salah satu dari mereka, sasaran mereka adalah Oh Sehun.

"Oh Sehun-ssi, apa benar saat ini Anda tengah menjalin kasih dengan seseorang?"

"Oh Sehun-ssi, mohon konfirmasinya."

"Oh Sehun-ssi…"

Mendadak Luhan merasa isi kepalanya kosong, ia seperti melakukan perjalanan waktu. Suasananya sangat familiar dan membuatnya takut. Apa ini seperti yang waktu itu? Kejadian yang membuat hubungannya dengan Sehun merenggang. Luhan merasakan sekujur tubuhnya melemas, tangannya sudah tidak terasa lagi, meski Sehun masih menggenggamnya.

"Apa benar, wanita tersebut adalah putri dari rekan kerja Anda, Nona Bae?"

Buram… Luhan melihat semuanya dengan tidak jelas yang lama-kelamaan menghitam. Kini, dunianya terlihat gelap, bagai tenggelam ke dasar lautan yang sangat dalam. Suara para wartawan itu juga semakin terdengar samar.

"Luhan…"

"Luhan!"

Suara Sehun yang sedaritadi memanggilnya pun tidak terdengar jelas di telinga Luhan.

'Tidak mungkin, ini terjadi lagi…' gumam Luhan dalam hati.

Banyaknya media yang menyerbu, membuat Luhan perlahan tenggelam ditelan masa. Tiba-tiba saja Luhan sudah terpisah dari Sehun, wanita itu masih terdiam dengan keterkejutan luar biasa. Ia masih mencerna pertanyaan-pertanyaan yang para wartawan itu ajukan. Matanya memanas, dadanya sesak, dan tenggorokkannya mulai tercekat. Bayangan masa lalu kembali hadir di kepalanya, rasanya ia seperti terlempar ke masa-masa itu.

"Luhan." Luhan mengangkat kepalanya, Sehun sudah berada di hadapannya dan meraih tangannya. Suara para wartawan yang meneriakkan berbagai pertanyaan masih terdengar dari depan sana.

"Kita pulang–"

Luhan menarik tangannya dan melangkah mundur perlahan. "Tu-tunggu… apa maksudnya ini? K-kau…"

"Luhan, aku bisa jelaskan–"

Luhan mengangkat tangannya, meminta Sehun untuk diam. Ia menggelengkan kepalanya, "…biarkan aku mencernanya…" setelah menarik napasnya yang berat, Luhan segera berlari dan pergi dari sana.

Mata Sehun terus mengikuti pergerakkan Luhan yang semakin menjauh darinya. Ia ingin mengejar, namun kakinya tidak bisa bergerak. Tak lama, ia melihat Baekhyun dan Kyungsoo yang berlari menyusul Luhan.

"Presdir, maaf sepertinya Anda harus segera kembali ke kantor." ucap asistennya setelah berhasil menenangkan media di depan sana.

Sehun menatap asistennya dengan tajam, "cepat katakan! Ada apa?!"

"Presdir Bae, dari Biggest Group Company meminta pertemuan mendadak dengan Anda. Saat ini beliau sedang dalam perjalanan."

"Mworago?" Sehun menghela napas kesalnya. Saat ini ia belum tahu keadaan Luhan dan ditambah hal yang tidak bisa ia tolak. Setelah menimbang beberapa kali, akhirnya Sehun mengikuti perkataan asistennya. Ia segera mengganti pakaiannya agar lebih formal sebelum pergi ke kantor.

.

.

Luhan masuk ke toilet dan segera membuka kran. Ia memandangi pantulannya di cermin, matanya terlihat berkaca-kaca, namun ia tidak bisa menumpahkannya. Perasaannya tak karuan saat ini. Mengambil air denagn kedua telapak tangannya, Luhan segera membasuh wajahnya. Rasa dingin air berhasil memadamkan panas di wajahnya, namun hanya beberapa detik saja.

Tiba-tiba Baekhyun dan Kyungsoo masuk dengan tergesa. "Luhan! Gwaenchanha?" keduanya menghampiri Luhan.

"Apa yang terjadi?" kini Kyungsoo yang bertanya.

Luhan membalikkan tubuhnya, melihat kedua sahabatnya ada di dekatnya, membuatnya sedikit tenang. Melihat betapa khawatirnya Baekhyun dan Kyungsoo, membuat Luhan tak kuasa menahan air matanya. "Baek…Kyung…"

"Gwaenchanha…" Baekhyun segera memeluk Luhan dan membiarkan sahabatnya itu menangis.

Sementara itu, di perjalanan menuju kantor, Sehun benar-benar sibuk menghubungi Luhan yang juga tak kunjung menjawab panggilannya. Sudah tak terhitung berapa kali ia menghubungi, sampai panggilan masuk menginterupsi kegiatannya.

"Sehun-ah! Akhirnya tersambung juga… kau di mana? Apa yang terjadi?"

Suara Chanyeol benar-benar sesuatu sampai membuat telinga Sehun sedikit berdenging. "Persis masalah yang dahulu, tapi kali ini sepertinya akan rumit. Hyung, kau bertemu Luhan?"

"Aku dan Jongin sedang mencari Baekhyun dan Kyungsoo yang tadi berlari menyusul Luhan."

"Bisa hubungi aku jika kau bertemu dengannya? Telfonku tidak diangkat. Sekarang aku harus menemui seseorang di kantor."

"Sekarang juga? Kau gila?! Masalahmu–"

"Aku tahu, Hyung… tapi, ini mendesak. Tolong aku."

"Baiklah, tapi setelah itu cepat selesaikan masalahmu."

"Hm, gomawo Hyung." Sambungan terputus, Sehun menyandarkan kepalanya. Kepalanya langsung berdenyut hebat saat ia berusaha untuk rileks. Ia menghembuskan napas panjang, 'kenapa hal ini harus terulang?' Bayang-bayang merenggangnya hubungan Luhan dan dirinya dahulu memaksa masuk ke kepalanya hingga menciptakan rasa sesak di dadanya.

"Presdir, kita sudah sam–"

"–aku tidak buta. Aku tahu kita sudah sampai. Siapkan pakaianku!" suara ketus membuat asisten Sehun itu bungkam. Wajah dingin Sehun terlihat sangat tidak bersahabat, pria yang baru terkena dampratan itu hanya bisa menjawab singkat dan langsung menghubungi seseorang.

Sehun masuk ke ruang pertemuan yang sudah diatur oleh sekretarisnya. Ia masuk diikuti dengan sekretarisnya. Di dalam ruangan, seorang pria paruh baya dan dua orang lainnya sudah menunggu. Pria paruh baya yang seumuran ayahnya itu adalah Tuan Bae, bantuan perusahaan mereka berperan penting dalam perkembangan perusahaan Sehun. Di samping Tuan Bae, seorang wanita muda berdiri dengan senyumannya. Sehun bisa menebak usia wanita itu mungkin sama dengannya. Di belakangnya berdiri seorang pria yang sudah Sehun kenal sebagai sekretaris Tuan Bae.

"Maaf karena membuat Anda menunggu, Presdir Bae. Saya baru saja sampai." Ucap Sehun sesopan mungkin.

Presdir Bae mengangguk, "gwaenchanha. Aku malah yang harus meminta maaf karena tidak membuat janji dulu denganmu."

"A-ah, tidak masalah Presdir Bae…"

"Aku dengar kau pergi berlibur, tumben sekali… aku sampai terkejut karena seperti bukan dirimu. Apa terjadi sesuatu?"

Sehun tersenyum, mencoba senatural mungkin. "Terima kasih karena mengkhawatirkan saya. Tidak ada yang khusus, kebetulan ada sedikit pekerjaan di sana."

Tuan Bae tertawa, "sudah kuduga, sudah kuduga… aku suka semangatmu dalam bekerja. Aku memang tidak salah memilihmu…"

Meski tidak mengerti apa maksudnya, Sehun tetap menanggapinya. "Anda terlalu berlebihan, Presdir."

Tuan Bae terlihat mencoba mengatur ekspresinya, ia berdehem sebelum mengatakan sesuatu. "Jadi Sehun-ssi… kedatanganku kali ini karena ingin meminta bantuanmu…"

Sehun tersenyum, "tentu saja, Presdir. Saya akan membantu semaksimal mungkin."

"Jadi, ini mengenai Putriku…" Tuan Bae terlihat menoleh pada gadis yang sedaritadi hanya diam memerhatikan percakapan 2 pria tersebut.

.

.

"Katakan padaku! DI MANA SI SIALAN ITU?!" Kyungsoo mengeratkan cengkramannya pada kerah Jongin. Wanita itu menatap murka pada pria yang benar tidak tahu apa-apa.

"Kyungi-ya…" Baekhyun menggamit lengan Kyungsoo agar sahabatnya itu tenang, tapi sepertinya percuma saja, amarahnya yang sudah selangit itu sulit dihilangkan.

Jongin menatap datar pada Kyungsoo. Meski lehernya terasa sakit, ia tidak sedikitpun bergerak. Ia malah terpaku dengan tatapan mematikan di hadapannya, entah kenapa ia melihat ketakutan dan kebencian di mata wanita itu.

"Kyungsoo-ssi… kita sedang di tempat umum…" Chanyeol mengingatkan dengan hati-hati.

Kyungsoo menghempaskan Jongin begitu saja. Ia beralih pada Chanyeol. "Ke mana dia yang seharusnya menjelaskan kejadian ini? Bukannya malah melarikan diri! Apa dia memang sepengecut itu?!" desis Kyungsoo.

"Chan, sebenarnya ada apa? Ke mana Sehun-ssi?" kini Baekhyun ikut bertanya.

Chanyeol terlihat ragu menyampaikannya, ia takut membuat masalah semakin runyam. "Untuk sekarang, bisa kita pulang terlebih dahulu? Kita baru saja sampai, tubuh dan pikiran kita masih lelah." Chanyeol beralih pada Luhan, "Luhan-ssi… mungkin saat ini kau akan mendengar semua ucapan kami hanya untuk membela Sehun, tapi aku yakin kau sudah berpikir berulang kali untuk menerima Sehun kembali, kan? Percayalah pada Sehun, aku yakin ia berusaha untuk berubah. Bisa kau bicarakan baik-baik dengannya?"

Luhan mengalihkan pandangannya dari Chanyeol, "mungkin memang lebih baik untuk kita pulang sekarang." Sambil mendorong kopernya, Luhan melangkah dengan lunglai meninggalkan mereka. Tak lama, Kyungsoo pun menyusul Luhan.

"Maafkan aku… sepertinya aku salah bicara?" murung Chanyeol.

Baekhyun menggeleng, ia tersenyum tipis menenangkan kekasihnya. "Memang harus Sehun-ssi yang menjelaskannya. Kita tidak bisa berbuat apa-apa selain tetap di sisi mereka."

Baekhyun mengambil kopernya, "aku pulang."

"Aku antar, sebentar lagi supirku–"

Baekhyun menggeleng, "aku harus mengawasi dua wanita itu kan?" kekehnya.

Chanyeol mengusak kepala kekasihnya lembut, "hati-hati."

"Tentu." Baekhyun menatap Jongin yang masih terdiam sejak tadi, "…Jongin-ssi, maaf atas sikap Kyungsoo tadi. Aku duluan."

Seketika Jongin tersadar dari lamunannya, ia tidak begitu mendengar ucapan Baekhyun. "a-ah… hati-hati."

Baekhyun tersenyum, "ne… kalian juga."

.

.

Dua hari kemudian, baik Luhan, Baekhyun, maupun Kyungsoo sudah mulai beraktivitas seperti biasa. Luhan dan Baekhyun sudah mulai sibuk di butik. Bagi pengusaha yang masih berkembang seperti mereka, menutup butik selama seminggu adalah kerugian yang harus dibayar dengan kerja lebih giat. Kyungsoo juga sudah mulai ke sekolah meskipun masih ada seminggu lagi untuk para siswa kembali belajar.

Waktu sudah menunjukkan tengah hari, namun designer itu masih saja sibuk menggambar rancangan pakaiannya. Entah sudah berapa kertas yang ia gunakan untuk membuat 3 rancangan pakaian yang ia buat dalam waktu setengah hari. Itulah bukti bahwa ia tidak sama sekali menghentikan pekerjaannya sejak pagi.

Suara ketukan pintu sekalipun tidak membuyarkan konsentrasinya. Dahinya terus berkerut memastikan motif-motif yang ia ukir rapi.

"Oh my God… Sajangnim… apa kau gila karena membuat semua rancangan ini hanya dalam waktu setengah hari?" Baekhyun si pelaku pengetukan pintu kini sudah berdiri di samping meja kerja Luhan.

"Bukannya seharusnya kau membayarku lebih banyak karena aku bekerja lebih keras?" sahut Luhan tanpa mengalihkan pandangan dari kerjaannya.

"Sepertinya kebanyakan mendisain membuat otakmu bermasalah ya, Sajangnim?"

"Ya! Berhenti memanggilku sajangnim! Kau… ugh…"

Baekhyun tertawa melihat kerutan di dahi Luhan semakin banyak akibat gerutuannya. "Araseo araseo…" Keduanya memanglah pemilik dari butik dan label dagang Lu&B, namun Luhan tidak suka dipanggil dengan sebutan 'Sajangnim'.

"Lu, kkajja makan siang. Aku sudah lapar."

"Mian, aku belum lapar. Kau makan saja duluan." Tolak Luhan.

Baekhyun menghela napasnya, "sudah siang Lu. Bisa kau berhenti menyiksa tubuhmu? Kau juga tidak sarapan tadi, kan?"

Luhan menghentikan kegiatannya lalu menatap Baekhyun, "aku benar-benar tidak lapar Baek. Lagipula aku malas keluar, sudah nyaman di sini."

Baekhyun berdecak, "kalau begitu pesanlah makanan. Jangan tidak makan."

"Araseo, aku akan pesan makan nanti. Jangan khawatir. Pergilah, kau makan siang dengan Chanyeol-ssi?"

"Entahlah, sepertinya ia masih sibuk." Jawab Baekhyun.

"Mian, kau benar-benar makan sendiri." Ucap Luhan merasa bersalah.

"Kalau begitu ayo ikut aku–"

"–aku akan meneraktirmu makan malam sebagai gantinya. Byee Baekkiii~" potong Luhan cepat.

"Kau benar-benar…" kesal Baekhyun pasrah.

Beberapa menit kemudian, akhirnya Luhan bergerak dari posisi patungnya. Ia menghela napas lega saat melihat hasil karyanya. Ia berdiri dan mulai merenggangkan tubuhnya yang terasa kaku. "Ahhh... sepertinya aku butuh kopi. Aku akan makan siang seklaian di sana…" gumam Luhan pada dirinya.

..

..

Kling!

"Selamat datang!"

Luhan membalas senyuman pelayan yang membukakan pintu untuknya. Setelah itu ia segera ke konter untuk memesan.

"Selamat siang! Silakan pesanannya."

"Americano dan chicken burger 1…"

Setelah mendapat makan siangnya, Luhan segera bergegas mencari tempat yang kosong. Meski jam makan siang sudah hampir berakhir, tempat ini masih cukup ramai. Luhan melangkahkan kakinya ke tempat di pojok dekat dinding, sepertinya di sana masih kosong. Saat ia hendak meletakkan nampannya, pergerakannya tiba-tiba terhenti. Matanya beradu pandang dengan pria yang paling tidak mau ia temui saat ini. Bukan tidak mau, hanya… ia belum siap mendengar penjelasan pria itu.

"Se-Sehun…"

Sehun yang ternyata tengah makan siang di sana juga terlihat cukup terkejut mendapati Luhan muncul di hadapannya. "Ha-hai, Luhan…" sapa Sehun dengan canggung.

..

..

[Setengah jam sebelum kedatangan Luhan ke kafe…]

Sehun meletakkan berkas yang ia baca ke meja dengan kasar. Ia menghela napasnya untuk yang kesekian kalinya. Berulang kali ia mencoba untuk berkonsentrasi pada pekerjaannya, berharap bisa melupakan tekanan yang ia terima dari perbincangan kemarin. Namun, semuanya sia-sia, otaknya bagai berhenti berfungsi untuk mengolah berbagai berkasnya. Merasa gerah, akhirnya Sehun menyerah, ia mengambil kunci mobilnya dan jasnya lalu keluar ruangan.

"Ah, Presdir maaf… Nona Bae akan datang sebentar lagi, apa langsung ditunjukkan ke ruangannya?" tanya sekretaris Sehun yang tiba-tiba mencegat di depan pintu.

Sehun mengecek jam tangannya, "tolong urus dia untukku. Mungkin aku akan kembali lebih lama, tolong kenalkan kantor ini padanya."

"Ta-tapi Presdir…"

"Apa lagi?" tanya Sehun, ia sudah tidak memiliki mood baik untuk meladeni sekretarisnya itu.

"Presdir Bae mengatakan bahwa setidaknya Anda yang harus menemani Putrinya."

Sehun menggeretakkan giginya tanpa sadar, 'astaga…' geramnya. "Aku ada keperluan keluarga dan sepertinya akan terlambat. Kalau begitu kau temani beliau hingga aku kembali."

Sekretaris itu membungkuk, "baik, Presdir."

Mengendarai mobilnya dengan cepat, Sehun tanpa sadar menghentikan mobilnya di salah satu kafe yang terletak cukup jauh dari kantornya. Ia turun dari mobil dan segera masuk ke kafe tersebut. Sapaan hangat pelayan kali ini harus ia abaikan karena sedang dalam mood yang buruk.

Setelah memesan, ia membawa makanannya ke meja kosong di pojokan. Sembari menyeruput minuman dinginnya, matanya terus menatap konter tempat beberapa pembeli masih mengantre. Pikirannya melayang kekejadian saat ia pertama kali bertemu dengan Luhan. Benar, ini adalah kafe yang mempertemukan keduanya.

..

[Flashback On]

Siang ini, Sehun baru saja selesai bertemu dengan kliennya. Waktu sudah menunjukkan waktunya makan siang, maka dari itu ia menyetujui usulan asistennya untuk makan siang di sebuah kafe yang tak jauh dari tempatnya bertemu dengan klien. Kafe ini adalah yang terbaik di daerah tersebut, begitulah yang dikatakan asistennya. Namun, Sehun tidak terlalu peduli, ia hanya cukup mengisi perutnya dan kembali bekerja.

Saat keduanya sudah selesai makan dan asistennya sedang pergi ke toilet, tanpa sengaja Sehun melihat seorang wanita yang tengah sibuk mencari sesuatu di tasnya. Wanita yang berada di depan meja kasir itu terlihat panik. Dari raut wajahnya, Sehun menebak bahwa wanita itu tidak membawa dompetnya. Setelah mengatakan sesuatu pada pegawai kafe, wanita itu membungkuk lalu menghubungi seseorang, namun sepertinya yang dihubungi tidak menjawab. Sekarang wanita itu masih terus menelfon sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kafe.

Ini bukanlah hal yang menarik untuk dilihat, tapi entah karena penasaran atau karena sedang menganggur, Sehun terus memerhatikan wanita tersebut. Hingga kedua mata mereka bertemu, hanya beberapa detik, namun mampu membuat Sehun semakin terperangkap. Wanita itu dengan panik mencoba menghubungi seseorang berkali-kali.

"Kekasihnya? Temannya?" gumam Sehun. Tidak peduli siapa yang dihubungi wanita itu, tiba-tiba saja Sehun bergerak dari tempatnya dan menghampiri wanita yang kesulitan tersebut. Oh tidak bisa dibilang benar-benar menghampiri, ia berhenti di belakang wanita itu, ikut mengantre.

Wanita itu menyadarinya, ia berpikir Sehun akan memesan makanan, maka dari itu ia mempersilakannya untuk duluan.

"Silakan duluan…." Ucap wanita tersebut sambil tersenyum ramah. Mengabaikannya, Sehun tetap berdiri di tempatnya. Ia menatap wanita itu lekat-lekat.

"Si…lakan duluan, Tuan. Saya akan memesan setelah Anda."

"Ani…" suara Sehun terdengar datar, ia diam sejenak sebelum akhirnya melanjutkan dengan kata-kata yang bahkan ia sendiri tidak sadar sudah mengucapkannya. "…kau duluan yang mengantre, bukankah seharusnya kau memesan sekarang? Apa bisa dipercepat?"

Wanita itu terlihat mengerutkan dahinya, detik kemudian ia tersenyum dengan dipaksakan. "Saya bisa memesan nanti, Tuan. Silakan Anda duluan, jangan hiraukan saya."

Sehun menyadari dirinya mulai aneh, ia seharusnya bersikap normal dengan mengiyakannya, tapi ia malah mengatakan sesuatu yang lebih aneh dari sebelumnya. "Tidak bisa, kau harus memesan duluan." Wanita itu tidak merespon, tatapannya terlihat seperti ketakutan. "Apa yang kau ingin pesan?"

"Hah?"

"Wanita ya… apa satu set bulgogi cukup untukmu?"

"Hah?" wanita itu semakin tidak mengerti. "Apa yang Anda lakukan?"

"Memesan…"

"Memesan? Untukku? Bukan untuk Anda?"

Sehun mengangguk dengan wajah datarnya, "hm, karena kau harus memesan duluan. Lalu, bulgogi, cukup?" Wanita itu semakin terlihat takut, tentu saja siapa yang tidak takut jika tiba-tiba ditawari makan tanpa persetujan begini, kan?

"Maaf, apa Anda sudah memutuskan pesanannya? Sudah banyak yang mengantre." Tegur si petugas kasir.

"Kau dengar?" tanya Sehun. "Jawab pertanyaanku,"

"N-ne…" jawab wanita itu, entah sadar atau tidak.

"Bagus, lalu minumnya…" Sehun ingin bertanya kembali pada wanita itu, tapi ia khawatir akan semakin lama. Akhirnya ia memutuskannya sendiri, "…ice vanilla."

Tak lama, satu set bulgogi dan ice vanilla sampai di tangan Sehun. Bersamaan dengan itu, asistennya datang dan menghampirinya. "A-Anda ingin makan lagi?" tanya asistennya terkejut.

"Kau duluan, siapkan mobil." Perintah Sehun tanpa menjawab pertanyaan asistennya.

"Ba-baik," jawab asistennya yang langsung melesat pergi.

"Milikmu… mau sampai kapan harus aku yang membawakannya?" tegur Sehun.

"Ne? Tapi saya tidak pernah memesan–"

"–kau memesan…" Sehun melangkah ke meja kosong yang tak jauh dan meletakkan nampannya di sana. Kemudian ia kembali ke wanita yang masih terdiam itu dan membawanya ke meja. "Kau harus memakannya," ucap Sehun lalu hendak melangkah pergi.

"Tu-tunggu! A-anda ini kenapa?" tanya wanita itu.

"Apa maksudnya dengan itu?" Sehun bertanya balik tanpa ekspresi apapun.

Wanita itu terlihat frustasi, rasa bingung dan takut menjadi satu. "Baiklah akan saya terima, lau setidaknya biarkan saya membayarnya. Bisa tunggu sebentar? Saya akan mengambil uang di kantor, tak jauh dari sini."

Sehun mengecek jam tangannya, "ah, maaf… saya sudah harus pergi." Langkah kakinya lagi-lagi tertahan, ia menoleh pada wanita tersebut. "Ada lagi?"

"Baiklah! Kalau begitu, besok kita bertemu lagi di sini. Di jam makan siang, biar saya menggantinya."

"Tidak perlu–"

"Ini perlu! Astaga, apa Anda meremehkan saya?"

Sehun sedikit terkejut, meremehkan? Ia tidak punya maksud seperti itu, bahkan ia pun tidak percaya dengan apa yang ia sudah lakukan. "Ti…dak…"

"Kalau begitu, Anda harus datang besok!" ucap wanita itu.

"Ne."

"Baguslah kalau begitu."

Setelah itu, Sehun bergegas keluar. Ia menoleh pada wanita itu sebelum masuk ke mobilnya. Dari jendela ia bisa melihatnya memakan makanan yang ia pesan. 'Padahal kau memakannya juga…' kemudian ia masuk ke mobil dan melaju ke tempat pertemuan selanjutnya.

[Flashback off]

..

Lalu, bagaimana dengan kejadian besoknya? Tentu saja Sehun tidak datang. Wanita itu, Luhan, sudah menunggunya di kafe, namun pria yang membayar makanannya–yang bahkan ia tidak tahu namanya– tidak kunjung datang.

Bagi Sehun saat itu: 'untuk apa aku datang untuk janji aneh itu? Lagipula, itu sudah berlalu… biarkan saja.'

Namun, sepertinya takdir tidak mengizinkan keduanya untuk berpisah. Tanpa janji dan keinginan untuk bertemu, dua bulan dari pertemuan pertama mereka, keduanya kembali dipertemukan tanpa sengaja. Di kafe yang sama dan tempat duduk yang sama.

Seperti saat ini… takdir lagi-lagi membuat mereka bertemu, tanpa janji dan keinginan…

"Se-Sehun…"

"Ha-hai, Luhan…" hanya sapaan canggung yang keluar dari mulut Sehun.

Keduanya terdiam dan hanya menatap satu sama lain. Cukup lama hingga mereka sadar dan saling memalingkan pandangan.

"Kau baik-baik saja?" tanya Luhan memberanikan diri.

"Ten…tu… kau baru ingin makan?"

"Hm…" angguk Luhan.

"Kalau begitu, nikmati makananmu. Aku permisi…" ucap Sehun lalu pergi begitu saja dari hadapan Luhan.

Kejadian yang benar-benar membuat Luhan terkejut, hingga ia tidak sanggup untuk berbalik. Sehun… pria itu meninggalkannya begitu saja. Bukankah mereka masih harus membahas apa yang terjadi kemarin? Lalu, apa artinya ini? Apa lagi-lagi Sehun mengabaikannya?

"Se–" suaranya tertahan, air matanya sudah mulai menggenang saat mendapati pria itu tak lagi terlihat. Dengan dada yang sesak, Luhan meninggalkan kafe begitu saja. Tubuhnya sedingin es dan terasa lemas. Kali ini ia hanya bisa berharap untuk sampai di kantornya dengan cepat. Ia butuh Baekhyun, ia butuh sahabatnya itu untuk menerjemahkan maksud Sehun barusan.

BRAK!

"Omo! Luhan! Kau mengejutkanku!" Luhan melihat Baekhyun tengah bersama Chanyeol di kantornya saat ini.

"Mian…" lirih Luhan lalu mengurungkan niatnya untuk menemui Baekhyun.

"Lu!" teriak Baekhyun.

"Wae? Ada apa dengan Luhan-ssi? Dia baik-baik saja?" tanya Chanyeol.

Baekhyun menggeleng, "mi-mian, Chanyeol-ah… aku harus mengejar Luhan."

"Hm, gwaenchanha. Pergilah…" angguk Chanyeol yang ikut khawatir.

.

.

to be continued-

.

.


AKHIRNYA BISA MASUK KE DUNIA HUNHAN LAGIIII!

Pertama tama... maapin bru bisa update. Ternyata... setelah aku yg sakit waktu itu, gantian laptopnya yang sakit, hiks :( setelah itu... tugas numpuk bagaikan gunung yang entah kelar sampe kapan xD Meskipun tugas masih on going, cerita yang on going ini juga bakal aku lanjutin ;) TUGAS LANJUT, DUNIA HUNHAN LANJUT! Hihihi. Udah ah bikin alesannya:p

Jadi, gimana-gimana sama comeback kali ini? Tulis di review jangan lupa untuk mengungkapkan perasaan kalian setelah sekian lama kkkk.

..

Basalan review

#nanima999: cenayang nih pasti kamuya kkkk. Kira" gimana hayo kisah couple kesayangan kita ini TT

#xxizy: iyadong lanjutt pasti karena masih ada kamu... dan yang lain :* hihi

#chan22: siappp! ^^

#Lee kyurah: haihaiii, lanjutnihh! ^^

..

Semoga aku bisa terus update di hari Kamis ya! ^^ Buat kalian yg masih punya tugas juga, SEMANGAT! Jangan mau kalah sama covid ya! Sehat selalu!

Gamsahamnida

*loveforHUNHAN yeayy!