Summary:
Pada pertempuran akhir PDS 4, Naruto dan Sasuke gugur akibat terkena jutsu Tomogoroshi no Haikotsu milik Kaguya. Masa depan dunia shinobi kini berada di tangan Kakashi, Sakura dan Obito selaku penyintas manusia hidup satu-satunya dari Mugen Tsukuyomi.
Sebelumnya:
"Setidaknya aku mendapat informasi berguna. Kemampuan Jikkugan Ninjutsu dari Mangekyo Sharingan? Menarik, sangat menarik." Minato terdengar bermonolog.
Kitsune terpaksa menahan nafasnya saat melihat sebuah seringaian tampak di bibir sang Namikaze yang tatapannya kini tepat mengarah pada dahan pohon tempatnya bersandar sebelum turut lenyap dalam kilatan kuning khas Hiraishin.
"..."
"Shit!" umpat sang anbu beberapa saat kemudian menyadari kalau keberadaannya telah diketahui.
"Sekarang apa?" gumam Kitsune yang memikirkan opsi-opsi yang tersedia.
"Pilihan pertama tentu segera kembali ke Konoha dan memberi tahu semua ini pada Tsunade-sama. Alternatifnya aku bisa menggunakan 'jutsu itu' untuk sekedar memeriksa kalau mereka tidak melarikan diri 'kesana.'
Sembari memfokuskan dirinya, Kitsune mempertimbangkan kedua pilihan tersebut.
"Yeah.. kuharap Hokage-sama dapat menungguku memutar jalur sejenak," putus sang anbu sepihak sebelum tubuhnya perlahan mulai lenyap dalam sebuah pusaran khas 'jutsu itu.'
.-~[•••••]~-.
"Rewind"
Story by ShapeShifter365
Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Rating: T
(13+)
Genre: Adventure
Warning: Possible Multi Pairing (F/M & M/M)
[Not Harem]
Don't Like, Don't Read
Enjoy,
"Bla." : ucapan.
"Bla." : pikiran/onomatopoeia.
"Bla, bla." : ucapan & penekanan kata/onomatopoeia.
"Bla." : jutsu/Bijuu
Chapter 10
[Dimensi Kamui]
"B-Bijuu," gumam lemas sang rambut perak sebelum kehilangan kesadaran.
"Obito! Mereka.."
Deg!
Dan disaat itulah Obito merasa kesadarannya ditarik paksa dari dalam tubuhnya, membuat seruan panik Sakura menjadi hal terakhir yang dapat ia dengar sebelum menutup mata.
"Sialan!" umpat sang Haruno setelah melihat gelembung-gelembung chakra korosif merah familiar mulai menyelimuti kedua sosok pria di hadapannya.
Meski sang Haruno sadar sebenarnya tidak ada jaminan orang Konoha akan membantu mereka setelah kejadian beberapa waktu lalu, tak ada pilihan lain lagi sebab Sakura tak mau mengambil resiko pergi ke desa shinobi lain dengan kondisi sosial-politik yang belum ia ketahui di dimensi ini.
"Uhh.. sialan." Gerutunya lagi sembari memikirkan opsi solusi terbaik bagi kondisi kedua pria Jinchuuriki di hadapannya itu.
•••
Setelah beberapa detik yang serasa seperti berjam-jam itu terlewati, Sakura akhirnya membuat keputusan.
Ia memutuskan untuk terpaksa membangunkan Kakashi yang memiliki kapasitas chakra yang lebih besar dari Obito akibat status Jinchuuriki-nya sehingga -semoga saja- dapat membawa mereka bertiga ke Konoha.
"Maafkan aku, Sensei." batin sang gadis pink dengan tekad bulat sembari mengaktifkan segel Byakugou di dahinya.
Bersamaan dengan pola garis hitam yang telah menyelimuti seluruh tubuhnya, Sakura dikejutkan dengan kehadiran chakra asing di dimensi tersebut.
Dengan refleks seorang veteran perang, sang Haruno segera mengambil dua kunai dari kantong ninjanya dan melempar tepat ke titik kemunculan sumber charka yang ia rasakan tadi.
"Trank!"
Sayangnya soosk tersebut berhasil membelokkan serangan Sakura dengan mudah.
"Siapa kau?!" serunya pada sosok asing tersebut.
Tampak seolah keluar dari balik bayangan, Sakura kini dapat melihat sebuah postur gagah yang memakai topeng porselen -apa itu motif rubah?- dan flack jacket kelabu khas anbu Konoha.
"Kau.. Bagaimana kau bisa masuk ke tempat ini?" tanya sang pria bertopeng tampak bersikap defensif.
Ugh. Sebutan barusan tidak sengaja mengingatkan Sakura dengan Obito di masa 'kejayaannya.'
Lupakan.
"Itu yang harusnya kutanyakan, Kitsune." balas sang Haruno dengan penekanan di kata terakhirnya.
"…"
"Itachi?" ucap ragu Sakura pada sosok di hadapannya yang kini tampak menegangkan tubuhnya.
"Tidak, bagaimana- lupakan. Yang lebih penting adalah bagaimana kau bersama dengan kedua orang yang diselimuti chakra Bijuu- APA MEREKA JINCHUURIKI?!" tanya balik sang Kitsune dengan kecurigaan terdengar jelas dari intonasinya.
"Huh? AH! Kau bisa kemari, berarti kau bisa membawa kami ke Konoha!" putus sepihak sang Haruno sembari menarik -menyeret- sang anbu mendekati tempat Kakashi dan Obito berada.
"Anbu macam apa yang berteriak seperti itu?" heran Sakura membatin kemudian.
"A-apa?" gumam Kitsune tercengang dengan perbuatan gadis pink di hadapannya.
"Shush! Mereka sedang sekarat dan tampaknya aku butuh bantuan Tsunade-sama dan tenaga medis lainnya," terang singkat Sakura sembari mulai berusaha mengalirkan chakra medisnya untuk memperlambat chakra korosif kemerahan tersebut.
"Hokage-sama? Siapa kau?" tanya Kitsune masih curiga.
"Tsk!"
Berdecak pelan, Sakura menolehkan kepalanya sebelum berucap,
"Akan kuberi tahu jika kau memberi tahu identitasmu."
"Kau tahu kalau aku adalah seorang anbu, bukan? Kami dilatih untuk mampu mengalahkan belasan Jounin sekaligus," balas sang Kitsune dengan percaya diri sembari mulai meraih katana di punggungnya.
Sayangnya bukan balasan seperti ini yang ia harapkan. Tidak. Ia tentu tidak menduga kalau gadis pink tersebut kini malah memberikan seringaian lebar padanya.
"Mau bertaruh? Jika aku mampu mengalahkanmu dengan satu pulan, kau akan membawa kami ke Konoha."
Mempertimbangkan tawaran sang gadis pink, Kitsune akhirnya memutuskan untuk turut dalam 'permainan' tersebut.
"Deal."
Sebelum sang anbu sempat berkedip, sosok pink tersebut telah berada tepat di hadapannya dengan sebelah tangan terangkat ke depan wajahnya.
"Cepatnya!"
Dan kalian pasti sudah tahu apa yang selanjutnya terjadi.
"Tak!"
"Whoosh!"
Dengan satu sentilan di dahinya, sang Kitsune sukses terlempar jauh ke belakang hingga tubuhnya menabrak salah satu kubus besar di dimensi tersebut.
"Bruakh!"
Retakan bak jaring laba-laba yang lumayan dalam kini tampak di sekeliling tubuh Kitsune.
"Ouch~" gumam sakura seolah mengolok sang anbu yang kini tampak kesulitan memposisikan dirinya.
"..."
"Jadi?" lanjutnya tak lama kemudian.
•••
-dan begitulah bagaimana mereka berakhir di salah satu bilik isolasi di rumah sakit Konoha.
Untungnya chakra korosif tersebut telah secara ajaib lenyap dari permukaan kulit Kakashi dan Obito sebelum Kitsune membawa mereka ke Konoha.
"Kau masih berhutang penjelasan padaku," gerutu sang anbu yang tengah bersedekap sembari merutuki retakan besar pada permukaan topengnya.
Heck! Topeng anbu Konoha padahal telah dirancang sedemikian rupa untuk tahan terhadap serangan kelima elemen ninjutsu kelas A, dan gadis yang tampak sedang terduduk tak jauh dari lokasinya tersebut dapat dengang mudah membuat retakan dengan satu sentilan 'kecil.'
"Seperti kesepakatan kita sebelumnya, akan kuberi tahu jika kau memberi tahu identitasmu," balas Sakura.
Menghela nafas sejenak, Kitsune kemudian berucap.
"Ikuti aku."
dan mereka berdua tampak terhisap menuju tempat familiar sebelumnya.
•••
[Dimensi Kamui]
"Well?" tanya Sakura sembari bersedekap tangan pada sosok anbu di hadapannya.
"Huh~ Tsunade-sama pasti akan mengomeliku nanti," gumam sang Kitsune yang mulai menggerakan tangannya menuju topeng anbu-nya.
"Bagaimana?" ucapnya setelah topeng porselen tersebut kini terlepas dan berada di tangan kanannya.
"…"
Rambut hitam pendek jabrik sedikit ikal, kulit putih lumayan pucat, mata-
"Apa kau memakali eyeliner?" gumam terkejut sang Haruno setelah melihat garis mata sosok pemuda di hadapannya.
"A-apa?! Tidak! Enak saja," seru balik sang anbu yang jelas tampak tersinggung.
"Hmm, kau yakin? Garis itu bahkan lebih cantik dari tipikal buatan gadis-gadis pra-pubertas yang sering kulihat," goda Sakura kemudian.
"… -apa kau barusan menyebutku cantik?"
"Oh~ kau ingin aku menyebutmu cantik?" tanya balik sang Haruno tak ingin menghentikan godaannya.
Kitsune kini tampak merona.
What the-
"…"
Ekspresi sang Haruno segera kembali ke mode seriusnya.
"Hmm, rambut hitam pendek jabrik sedikit ikal, kulit putih, mata hitam kelam. Jelas-jelas penampilannya meneriakkan kata 'Uchiha.' Tapi.. Uchiha macam apa yang dapat merona seperti itu?!"
"Uchiha..?" gumam ragu Sakura yang menyuarakan pikirannya barusan.
Sang anbu tampak menghela nafasnya sejenak sebelum berkata.
"Yeah! Uchiha Shisui siap melayani anda~ ehh, aku hanya loyal terhadap Konoha. Maksudku- uhh.. senang bertemu denganmu, kurasa?" ucap terbata sang pemuda tersebut sembari menggaruk belakang kepalanya yang Sakura yakin sama sekali tidak gatal itu.
"Apa kau semacam penumpang gelap klan Uchiha atau bagaimana?" ucapnya terheran dengan perilaku sang 'Uchiha.'
"Sebentar, Uchiha SHISUI?!" seru inner-voice sang Haruno kemudian, teringat dengan percakapan mereka dengan dopelganger Minato beberapa waktu lalu.
"Uhh.. Tidak, tapi sebenarnya kakakku adalah semacam Uchiha campuran," terangnya yang sukses menjawab keterkejutan inner-Sakura.
"Ah.." gumam Sakura seperti kehabisan kata-kata.
"Kau tampak terkejut(?)" timpal -tanya- Shisui pada gadis pink di hadapannya.
"Aku- uh, apa kau -entah bagaimana- mengetahui seorang Uchiha Obito?"
Kini kedua mata Shisui tampak melebar.
"Kau mengenal nii-san?" tanya sang Uchiha periang tersebut pada Sakura yang kini mulai melembutkan tatapannya.
"Kau akan terkejut mendengar ucapanku," balas sang Haruno sembari tersenyum mencurigakan pada Shisui.
•••
"Kau bercanda?"
Pertanyaan yang seolah seperti pernyataan tersebut keluar dengan mudahnya dari mulut seorang Uchiha Shisui.
Ya. Sakura dan Shisui segera kembali ke Rumah Sakit Konoha usai pembicaraan mereka di dimensi Kamui barusan.
Sakura hanya memberi anggukan singkat untuk menimpali keterkejutan sang Uchiha.
"Dia adalah Obito nii-san? Uchiha macam apa yang memiliki rambut putih?!" serunya masih tampak curiga.
"Ugh. Bisakah kau memelankan suaramu?" gerutu sang Haruno akibat Shisui yang sedari tadi terus berteriak tepat di samping telinganya.
"-dan ya. Dia adalah Obito. Kau bisa menanyakannya sendiri setelah ia sadar," lanjutnya.
"…"
Seketika itu keheningan mulai merambat di ruangan tersebut.
"Shisui?"
"…"
"A-apa aku layak berbicara dengannya?" gumam lirih sang Uchiha yang bahkan hampir tak terdengar oleh Sakura.
"Apa maksudmu?"
"Terakhir kali aku bertemu dengan nii-san, kami sedang dalam -aku membuat- sebuah pertengkaran," terang Shisui sembari menundukkan kepalanya.
"…" Sakura hanya mendengarkan dalam diam.
"Saat itu.. nii-san memaksaku menyanyikan lagu kesukaannya sebelum ia berangkat dalam misi Jembatan Kanabi. 'Sebagai jimat keberuntungan,' katanya. Bodohnya aku yang langsung menolaknya lalu menyebut nii-san penakut dan terlalu membesar-besarkan misi kelas A tersebut."
"-dan kau tahu apa yang ia katakan kemudian? 'Aku akan merindukanmu, otoutou.' Heck, dia bahkan tak pernah memanggilku dengan sebutan itu sebelumnya! Itu menjadi kata-kata terakhir nii-san sebelum- sebelum.."
Shisui kini tampak mencengkeram erat besi pembatas ranjang tempat tubuh Obito berbaring, tak mampu melanjutkan ucapannya.
Mengetahui apa yang dimaksud Shisui, Sakura segera meletakkan sebelah tangannya di bahu sang Uchiha dan secara refleks mengalirkan chakra kehijauannya untuk membantu menenangkan gejolak chakra yang dipengaruhi emosi sosok di sisinya tersebut.
"Kau tahu? Kau bisa membalas waktu itu dengan menyanyikannya sekarang,"
"!"
"Obito?!" Seru Sakura terkejut bercampur senang saat melihat kalau sang rekan telah siuman dan secara otomatis kedua irisnya juga mengarah ke Kakashi.
"Sensei?"
"Sakura?" balas sang Hatake masih berusaha memfokuskan diri.
"Apa yang terjadi?"
"Well.." gumam Sakura menggantung sembari bergiliran mulai memeriksa kondisi dua pria tersebut dengan ninjutsu medisnya.
•••
"Ahh.. senang bertemu denganmu, Shisui-san," sapa Kakashi sembari memperlihatkan 'senyum mata' khasnya yang hanya dibalas anggukan canggung dari sang Uchiha.
"Aku masih sulit memahaminya, maksudku- perjalanan lintas dimensi? Bagaimana bisa?"
"Tak ada yang mustahil jika kau membicarakannya dengan seorang Senju Tobirama dan Namikaze Minato-sensei," terang Obito membanggakan kejeniusan -mantan- senseinya tersebut.
"Minato-san?"
"Yeah, di dimensi kami beliau yang menjadi Hokage keempat," timpal Sakura yang langsung dibalas decakan kagum dari Shisui.
"…"
"Hei otouto.. aku masih bisa menagih nyanyianmu, bukan?" ucap Obito kemudian sembari menyeringai senang.
"Aku penasaran 'lagu favoritku' yang mana yang kau maksud," lanjutnya yang sukses membuat rona kemerahan kembali timbul di wajah sang otouto.
"Uhh.. K-karena kau -kalian- berasal dari dimensi lain, berarti kesepakatannya tidak valid!" seru sang Uchiha sembari bersedekap tangan; berusaha mengelak.
"Oh, ayolah Shisui-san. Sebuah nyanyian singkat tak akan menyakiti siapa pun," timpal Kakashi berusaha memanas-manasi situasi tersebut.
"T-tapi.."
Saat Shisui akan melanjutkan argumennya, pintu masuk ruangan inap tersebut tiba-tiba saja terbuka lebar.
"Bruakh!"
Menampilkan seorang Godaime Hokage; Senju Tsunade beserta satu peleton anbu yang kini telah dalam posisi masing-masing untuk mengelilingi keempat sosok di ruangan itu.
"H-Hokage-sama?!" ucap terkejut Shisui sembari berusaha mencari kembali topeng anbu-nya yang kini entah ada di mana.
"Kitsune.." gumam sang Hokage dengan penekanan di tiap suku katanya.
Sial.
"M-maafkan aku, Hokage-sama!" seru sang Uchiha tampak membungkuk dalam-dalam sembari berharap dalam hati agar dirinya masih diberi kesempatan untuk melihat hari esok.
"…"
"Huhh.. Lupakan," ucap sang Senju kemudian dengan intonasi yang -sedikit- lebih rileks.
Telunjuk Tsunade kini tepat menunjuk ke arah Sakura, lebih tepat lagi ke dahi dengan segel Byakugo keunguan miliknya.
"Sakura!"
"Y-ya?"
"Jelaskan."
TBC
Author's Note
Halo minna~
Bagaimana kabar kalian? Semoga baik-baik saja.
Bagaimana pendapat kalian dengan chapter ini? Tulis komentar kalian di bawah yaa, hehe..
A Bit of Q&A Time~
(Q) Sona-chan DxD: apakah minato akan jadi dark?
(Q) Okw: minato yang ini ,kelihatan orang yang licik.
(A) Well, mungkin.. bisa jadi? Ingat saja pepatah 'ada udang di balik batu':p
yang pasti terus ikuti fic ini agar tahu apakah sang Namikaze merupakan karakter antagonisnya atau bukan :)
~.~
Shout-out juga untuk Guest, okw, Furuya Uchiha dan reviewer-reviewer lain yang telah menyempatkan menulis komentar sehingga membuat author tetap semangat dalam menulis chapter-chapter selanjutnya.
Kritik dan saran dari kalian pasti akan selalu author pertimbangkan agar fanfic ini dapat menjadi lebih baik.
Oke, cukup sekian. Sampai jumpa pada chapter selanjutnya.
As always, arigato gozaimashita~
Author,
30 Oktober 2020
