Of Omega, Alpha, and White Wristband

Sebuah fanfiksi

dari sigmame

Kepingan Tambahan: Sebuah Jembatan Menuju Akhir

Summary

Baekhyun tahu betul siapa Alphanya dan ia seharusnya menghampiri sang Alpha dan segera mating dengannya untuk menghilangkan sakit yang ia derita saat heat-month. Namun ketika tanda itu ada di pergelangan tangan kirinya, Omega bermata hitam gelap itu justru menutupinya.

Pairing

ChanBaek

Warning

Ini adalah Kepingan Tambahan, hanya pertengahan saja. Tambahan Fluff yang ringan sebelum akhir. Selamat Membaca. SMUT. Sex. YAOI. MPREG. PWP – chapter ini tanpa plot, hanya berisikan sex ChanBaek.

oOo

Enjoy

oOOo

Malam telah datang.

Baekhyun pun telah menjemput titik puncak untuk kesekian kalinya setelah petang; wajahnya yang memerah ketika menyambut wajah sang Alpha ketika ia terbangun di kasur tebal nan hangat membangkitkan birahi keduanya. Tubuh telanjang Chanyeol masih tidak berubah walau luka-luka di tubuhnya perlahan mengering; agaknya Alpha tampan itu menyempatkan diri singgah di danau untuk mengobati diri. Mata lelah lelaki cantik itu segera menjadi segar dan penuh malu melihat otot-otot yang terbentuk di tubuh lelakinya, Alphanya, kekasihnya, belahan jiwanya – nafasnya memburu melihat lekukan indah tersebut – dada bidang dan lengan kekarnya. Penyatuan mereka tadi sore tidak memberikan cukup waktu bagi seorang Byun Baekhyun yang dilanda heat untuk menikmati keindahan tubuh pasangan hidupnya; ia hanya mampu mendesah, menatap mata cokelat indah dari Chanyeol, lalu menutup mata erat saat kejantanan perkasa itu menerobos masuk dan memberikan kenikmatan tiada tara pada dirinya.

Matahari telah menghilang.

Layaknya segala keperawanan yang Omega tersebut punya meninggalkannya tanpa ada yang kurang; Park Chanyeol merampas segala yang pertama baginya – ciuman, sentuhan, dan penyatuan. Ia, yang dahulu lugu, sekarang telah merasakan bagaimana indahnya dan mendebarkannya ketika kemaluan pejantan itu menyentuh prostatnya. Atau bagaimana batang keras dan tegang itu berada di kedua tangannya, bahkan di dalam mulutnya – bibir yang hanya pernah mengulum permen beri kesukaannya itu tampaknya akan sangat terbiasa dengan penis sang Alpha bergerak maju-mundur di dalam rongga hangatnya. Baekhyun akan mengguman nikmat; lidahnya akan bersentuhan dengan cairan pre-cum yang ditelannya bagai madu. Ia akan memejamkan mata ketika pinggul itu bergerak keluar-masuk seolah mulutnya adalah lubang senggama yang pantas diperlakukan seperti itu. Omega tersebut terbatuk; ujung kepala seperti jamur tersebut menubruk kerongkongannya namun ia akan melanjutkan aksinya karena desahan dan kepuasan sang Alpha adalah tujuan utamanya. Dan ketika kedutan dan cairan yang hangat itu makin terasa, ia akan melebarkan mulut dan menerima tumpahan sperma membasahi mulut sampai ke wajahnya.

Miliki aku.

Jadikan aku barangmu.

Aku akan rela atas itu.

Karena hidupku terjadi karenamu; karena aku hidup untuk mendampingimu, karena aku hanya akan melayanimu sepanjang usiaku.

Omega itu berbahagia; surga dunianya telah datang dan memanjakan dirinya hingga ia tidak akan bisa berhenti untuk memuja – memuja segala pencipta yang memberikan kenikmatan ini kepadanya lalu memuja kekasih hatinya yang senantiasa memperlakukannya dengan seksama.

Jemari itu akan menyiapkan lubang sempitnya dengan hati-hati bagaikan ia adalah seorang permaisuri; Park Chanyeol akan menatapnya penuh kelembutan saat satu demi satu jemari masuk, lalu ia akan mengecup bibirnya di saat tiga jari-jari besar itu mendorong dan melebarkan dinding rektumnya. Baekhyun akan terlena; entah untuk keberapa kalinya. Hatinya membara dan ketika Chanyeol menggerakkan tangannya tidak berirama, Omega tersebut mengeluarkan cairan cintanya tanpa diminta.

Tubuh keduanya basah.

Namun hati mereka jauh lebih basah karena hujanan kata cinta yang selalu keluar dari bibir masing-masingnya. 'Kekasihku', 'Omegaku', 'Cintaku', 'Baekhyunku' mampu membuat orgasme dari Omega tercinta datang lebih cepat dari biasanya, sedangkan Alpha tersebut akan membabi-buta menyerang lubang Baekhyun ketika lelaki cantik itu mendesahkan namanya dengan suara lengkingan tinggi yang mampu membuat ribuan pemain film dewasa di luar sana malu dan merasa kalah olehnya.

"Emh—Yeollie... aku lelah sekali."

"Aku tau, Kasih... kita akan berhenti jika kau mau."

Baekhyun mengangguk, dipeluknya tubuh Chanyeol lalu dibenamkannya wajahnya di leher Alpha yang mengeluarkan aroma menggoda itu. "Tidak apa-apa, ya? Nanti pagi kita lanjutkan, ne? Aku ingin tidur lagi." Ujar si manis itu sedikit merayu; takut jika Alphanya masih tidak puas sedangkan dirinya sudah kewalahan dengan stamina rendah yang tidak mampu menyaingi kekasihnya itu.

Kekehan halus menjadi balasan dari permintaan lugu Baekhyun; Alpha itu balik merangkul tubuh mungil kekasihnya yang sudah penuh peluh dan juga cairan lengket mereka berdua – dibisikkan kata-kata di telinga Omeganya. "Tidak apa-apa, Baekhyun. Tidur saja di pelukanku, nanti setelah kau terlelap akan ku bersihkan tubuhmu."

Sebuah senyum muncul di wajah putih si Omega; ia berdebar dan batinnya kembali berbahagia – begitu disayang, begitu dimanja – Omega dalam dirinya kembali dibuat jatuh cinta. "Aku tidur dulu ya, Papa Yeol..." candanya membuat ia dapat merasakan debaran jantung dari Chanyeol semakin kentara. Alpha itu lalu meraih wajahnya hingga mereka berdua saling menatap mata. "Aku mencintaimu, Chanyeollie."

"Aku juga mencintaimu, Omegaku."

Baekhyun lalu terkikik. "Jantung Yeollie berdebar keras sekali."

"Hmm, karena seorang Omega cantik memanggilku dengan sebutan Papa. Aku jadi tidak sabar untuk benar-benar menjadi seorang ayah."

"Yeol, rahimku bahkan sudah tidak bisa menampung spermamu. Besoknya aku pasti hamil. Lihat, bahkan cairannya keluar sendiri..." terangnya sedikit menggoyangkan pinggulnya hingga cairan sperma Chanyeol merembes keluar dari lubang merah mudanya. "Besok Yeollie pasti jadi Papa." Ucapnya kembali sembari tersenyum lebar.

Oh, Baekhyun. Kebaikan apa yang kulakukan hingga Tuhan menghadiahiku Omega semanis dirimu.

Chanyeol melampiaskan segela rasa syukurnya dengan mencium bibir itu kembali; mengecap rasa manis itu lagi, dan membisikkan kata 'aku mencintaimu' di antara ciuman mereka berkali-kali. Hatinya menyatu bahagia dengan Omeganya itu ketika mereka berdua merasakan detak-detak jantung lemah terdengar halus dari dalam perut sang Omega.

Keduanya terdiam; saling menatap tidak percaya.

Lalu detakan yang terdengar seperti suara jantung bergedup itu terdengar kembali; begitu ringkih, sangat pelan, namun stabil – beberapa terdengar lebih cepat dan beberapa lagi terdengar lebih lambat. Chanyeol berdebar; ditatapnya Omeganya penuh tanya. Byun Baekhyun mengigit bibirnya lalu membawa tangan indahnya ke permukaan perut datarnya.

Perkembangan janin dari werewolf seperti mereka memang berbeda; hanya dalam hitungan jam setelah sperma-sperma berhasil membuahi sel telur dari Omega maka akan tumbuhlah janin dengan begitu cepat dalam rahimnya. Terlebih lagi, Baekhyun selalu mendapatkan hasil cek darah yang menyatakan dirinya begitu subur – jemarinya bergetar dan hatinya menghangat ketika ia merasakan sesuatu tumbuh di dalam tubuhnya. Terdengar denyutan yang terasa seperti jantung tambahan dalam rahimnya – janin-janin itu berkedut-kedut, menyampaikan pesan kepada orang tuanya bahwa ia benar-benar ada. Dan ketika Omega itu semakin dibuat percaya, ditatapnya haru Alphanya. "Yeollie... aku rasa aku hamil." Ucapnya senang.

Tidak ada kata yang keluar dari mulut Chanyeol.

"Papa Yeol, aku hamil~ Aku hamil anak Yeollie..." ujar Omega itu kembali. "Tapi tidak satu, Yeollie. Sepertinya dua ahh—aniyo, tiga? Aku hamil tiga anak Yeollie, hehe."

"Baek... Oh, Baekhyunku." Panggil Chanyeol merdu, diciumnya wajah Baekhyun. "Terimakasih, Baekhyun. Terimakasih, Sayangku."

Sekali lagi.

Apakah kebaikan yang kulakukan hingga aku diberikan seorang Omega sepertimu.

Aku menyakitimu terlalu sering.

Tetapi kau mengabdi padaku tanpa menghiraukan lukamu yang masih belum mengering.

Aku bukanlah Alpha sempurna yang mampu mencinta sepenuhnya.

Tetapi Mereka memberikanku jiwa tersuci dan paling sempurna.

Aku adalah seorang pendosa jika aku berani mendua.

Namun hatiku berjanji, aku bersumpah, aku lebih memilih mati jika membiarkanmu melihatku tergoda oleh lain hati.

"Aku mencintaimu, Byun Baekhyun." Jujurnya merasakan tangis bahagia mengalir di pipinya.

Bunuh aku ketika kau meragukan itu.

Sambungnya kembali dalam hati.

Dua werewolf itu lalu kembali memadu kasih; menyatukan tubuh untuk terakhir kali sebelum mentari kembali terik. Mereka saling mencumbu, saling mendamba, dengan gerakan pelan sang Alpha menyetubuhi Omeganya, dengan sentuhan samar jemarinya menyalurkan cinta di sekujur tubuh Baekhyunnya. Keduanya akan mendesah; lelaki yang lebih kecil itu lalu menyerah dengan tubuh lemah dan mata mengantuk menjemput bunga tidurnya – kembali ia dibuat ambruk tanpa suara ketika mereka selesai bercinta. Lalu setelahnya sang Alpha akan membawanya menuju kamar mandinya, membersihkan tubuh mungil itu penuh cinta sebelum memasangkan piama kebesaran miliknya dan merebahkan ia di kasur hangatnya.

oOo

"Ya Tuhan, Baek!"

"Baekhyun-ah!"

Suara bahagia Yoona dan Donghae menjadi sambutan pasangan remaja itu ketika mereka berdua keesokan paginya datang di kediaman rumah keluarga Byun – sore harinya Chanyeol telah mengabari Donghae dan Yoona bahwa Baekhyun akan menginap di rumahnya karena ia masih dalam heat; orang tua itu mengerti karena rumah Chanyeol sepi minggu ini. Lalu tadi pagi, ketika Baekhyun menyiapkan sarapan pagi mereka berdua menelpon Yoona dan mengatakan bahwa Baekhyun merasakan ia hamil; Omega dewasa itu sangat bahagia dan karena terlampau semangatnya ia lalu membuat janji cek janin di rumah sakit.

Sebelumnya Byun senior tersebut sibuk mengurusi urusan untuk ritual suci, lalu juga masalah Baekbeom yang mengatasi perkara Jonghyun dan teman-temannya. Kakak tertua tersebut dibuat sibuk oleh salah satu rekan tempat sekarang ia bekerja; ia memang menjadi relawan untuk persiapan demo ritual itu dan ia merasa sangat kecewa Jonghyun, selaku Alpha yang beberapa minggu yang lalu berjanji tidak akan melakukan apa-apa pada adiknya ketika malam heat Baekhyun waktu lalu itu justru membuat bencana dengan sengaja memberikan cairan perangsang percepatan heat di depan umum. Jongdae juga ikut terluka saat melindungi Baekhyun; Yifan bahkan merasakan tulang rusuknya patah – ia dan Jongin ikut bertarung ketika beberapa Alpha sialan itu mencoba mengikuti arah lari dari Chanyeol. Namun Yifan akan dengan mudahnya menyembuhkan luka di danau sedangkan Beta layaknya Jongdae, segera dirawat di rumah sakit untuk mengatasi cabikan lebar Jonghyun di bagian pahanya.

Untunglah, tidak ada dari mereka yang meregang nyawa.

Tidak seperti satu Alpha yang kehabisan darah oleh taring Chanyeol; dia adalah Alpha yang sempat menyentuh Baekhyun sebelum Chanyeol murka dan tanpa pikir panjang menancapkan taring untuk merobek arteri utama di lengan atasnya.

Keluarga Chanyeol yang tidak tengah di kota membuat perkara seluruhnya menjadi di pihak Byun; Baekbeom harus berurusan dengan hilangnya nyawa dari salah satu pekerja Rumah Sakit dengan bantuan Yunho – di adat mereka, seorang Alpha akan dilarang untuk menggoda dan meperebutkan Omega yang jelas-jelas sudah memiliki tanda. Terlebih lagi Alpha mereka telah melarang, sehingga Chanyeol tidak harus berurusan dengan tindak kriminal karena kasusnya tidak bisa dikategorikan tindak kejahatan di adat mereka; yang ia lakukan justru membuktikan bahwa Alpha dapat melindungi Omega. Jonghyun dan teman-temannya mendapat teguran dari pihak Rumah Sakit, Yunho pun memberi sanksi bagi mereka untuk tidak diperbolehkan beberapa bulan menginjak daerah mereka.

Namun sekarang ketika pasangan remaja itu datang ke rumah dan membawa berita yang sangat membahagiakan seperti itu, Donghae tidak tega untuk membicarakan masalah kemarin – Baekhyun tampak berseri-seri dengan tangan selalu bergelayut di lengan sang Alpha, membuat Ayah dari dua anak itu semakin percaya pada Chanyeol bahwa anak bungsunya dapat bahagia setelahnya. Yoona memuji-muji Chanyeol ketika Baekhyun merasa bahwa ia mengandung lebih dari satu pup, Omega dewasa itu riang – sungguh sulit menemukan Omega yang melahirkan lebih dari dua anak sekaligus sepuluh tahun belakangan ini.

"Apa kalian sudah makan?"

Baekhyun mengangguk. "Sudah, eomma. Tadi aku dan Chanyeol makan sebelum berangkat," balas Omega jantan itu walau ia sibuk mengutak-atik isi lemari es. Mereka sedang berada di dapur sementara Chanyeol dan Donghae berbincang di ruang tamu – Yoona menyiapkan teh dan beberapa kue kering sebelum ia melirik anak bungsunya aneh. "Eomma, bukannya kemarin banyak mentimun?" Kesal si mungil menutup kulkas dengan agak keras. Kaki-kaki langsingnya lalu berjalan ke arah drawer besar dimana Yoona selalu menyimpan sayuran-sayuran yang bisa disimpan si suhu ruang.

"Umm, iya benar ada mentimun tapi sudah habis, Baek. Kemarin malam Ayahmu ingin makan kimchi mentimun, makanya eomma buatkan. Sisanya ia berikan pada tetangga sebelah."

"Aish! Aku ingin mentimun!"

"Loh, buat apa anak eomma minta mentimun? Bukannya kau tidak suka bau dan rasanya?"

Baekhyun lalu tersentak; ia mengerjapkan mata bingung lalu mengerutkan dahi. "Ah, iya! Aku kan tidak suka mentimun..." gumamnya. "Tapi... tapi aku tiba-tiba ingin makan mentimun, aduh eomma. Ini bagaimana?" Ucapnya sedikit panik. Ia menjadi takut, membayangkan mentimun saat ini tidak menjijikkan sama sekali justru ia ingin menikmati sayuran renyah itu dalam mulutnya – ia ingin merasakan kesegaran dari mentimun yang entah kenapa dia damba sekali sekarang.

Sebagai seorang Omega yang mengerti dan telah mengalaminya sendiri, Yoona lalu mendekat dan tersenyum menggoda pada anaknya itu. "Itu tandanya kau mengidam, Baekhyunnie~"

"Mengidam? Karena hamil begitu?" Tanya Baekhyun polos.

"Hmm."

"Berarti aku benar-benar hamil?"

Yoona mengangguk.

"Aku hamil, eomma!"

"Iya, eomma sudah tau..."

"Anaknya Yeollie!"

Yoona tertawa geli. "Ya ampun, Baekhyun... kau itu lucu sekali." Gemasnya mencubit pipi gembul anaknya itu gemas." Bagaimana bisa Alpha beratahan di sebelahmu, hmm? Chanyeol pasti sangat sabar dan tahan sekali bisa menahan tangannya untuk tidak menyentuhmu." Tambahnya sembari mengedipkan satu mata; anaknya itu segera memerah dan membuang muka.

"Apaan sih, eomma..." Protesnya mencoba menghindar dari pandangan mata dari sang Ibu; Baekhyun lalu menumpukan pandangan kembali dalam kulkas sebelum ia menatap Yoona dan memelas. "Aku ingin jus mentimuuuuuun~" rengeknya menghentak-hentakkan kaki. Sekarang ia justru ingin minuman segar yang terbuat dari sayuran itu.

"Baekkie, mentimunnya habis—"

"AKU TIDAK MAU TAUUU POKOKNYA MAU MENTIMUN!" Pekiknya agak keras, beberapa detik kemudian di sebelah tubuh mungil itu sudah berada Alpha yang tampak bingung dan sedikit khawatir mendengar teriakan dari Omeganya itu. "Yeollie!" Panggil Baekhyun segera memeluk tubuh jangkung tersebut. "Aku benci eomma! Eomma tidak mau memberikan ku mentimun! Padahal aku sedang mengidam~ Nanti kalau anak kita liurnya keluar kemana-mana bagaimana?" Adunya memasang wajah jengkel yang justru terlihat sangat menggemaskan. Yoona hanya bisa tertawa mendengar celoteh anaknya sementara Chanyeol tersenyum canggung pada calon mertuanya itu.

"Haduh ada apa ini ribut-ribut?" Alpha tertua di rumah itu segera masuk ke dapur dan menatap anak beserta istrinya bergantian; ia juga sedikit melirik Chanyeol dan saling bertukar pandang dan sedikit mengisyaratkan bahwa tidak apa-apa. Donghae hanya menerima senyuman kikuk dari Chanyeol yang sekarang sudah membalas balik pelukan Omeganya itu di pinggangnya. "Ada apa, Baekhyunnie? Tadi appa mendengar nama eomma disebut-sebut?"

"Aku mau mentimun." Jawab anak itu singkat.

"Tapi kau kan tidak suka mentimun?"

"Appa, Baek lagi ngidam! Jadi sekarang sukanya mentimun!" Lalu pecah tawa Donghae mendengar anak bungsunya yang super lucu ini. "Appa! Ih, aku selalu ditertawakan di rumah ini... Yeollie~ Kau tidak akan menertawakan aku juga kan?" Tudingnya terdengar manja, kepalanya mendongak dan bibirnya dikerucutkan paksa – namun parasnya justru sangat cute hingga membuat sang Alpha hanya bisa terpana.

"Ahh—tidak, Baek."

"Kalau begitu carikan mentimun!"

"Ah—arrasseo. Aku akan—"

"Yang cepat!"

"Iya tapi—"

"Sana-sana pergi!" Usir Baekhyun sementara tangannya masih memeluk erat Alphanya. Orang tuanya sudah tertawa lepas sambil meninggalkan dapur dengan wajah pasrah Chanyeol yang seperti meminta bantuan. Baekhyun ini benar-benar, bagaimana bisa Chanyeol pergi mendapatkan mentimun jika tubuh mungilnya merapat begini padanya? "Yeollie, kenapa belum pergi juga?"

Chanyeol lalu mendesah dan perlahan mendorong tubuh Baekhyunnya. "Sayang, kau memeluk tubuhku erat. Mana bisa aku pergi?" Alpha itu balik bertanya sembari menyentil puncak hidung Omeganya; Baekhyun tampak memerah malu menyadari itu dan segera mengulum senyum. "Nah sekarang aku bisa pergi, jadi Baekhyunku mau mentimun, eoh?"

"Eung!"

"Tidak ada yang lain?"

Baekhyun terlihat berpikir. "Ehm—mau mentimun segar yang banyak; soalnya mau membuat jus. Lalu aku juga ingin Yeollie mencari kelinci, terakhir kali Yeollie memberi kelinci sudah lama. Lalu... ehm, aku juga ingin sate ular kobra; kalau tidak dapat aku maunya ularnya saja. Yeollie bisa berburu kan untukku?" Chanyeol mengangguk walau permintaan aneh Omeganya agak lucu juga; dia akan ke pasar mencari mentimun lalu setelah itu ke tengah hutan untuk mencari kelinci hidup, dan shift berburu seekor ular untuk dijadikan sate. "Ah! Pulangnya aku ingin boneka Barbie; yang wajahnya Asia." Tambahnya semakin absurd.

Merasa ia adalah Alpha yang baik dan akan melakukan apapun untuk Omeganya, Chanyeol menyanggupi dan mengangguk pasti. "Baiklah, Tuan Putri. Tunggu di sini, oke?"

"Terima kasih, Yeollie~" balas Baekhyun tersenyum manis dan lalu mencium bibir Alphanya tiba-tiba menyebabkan si kepala merah agak terkesiap walau menikmati penyatuan singkat bibir mereka. "Sana pergi."

Terkekeh, Chanyeol tertawa dan pamit keluar untuk mencari permintaan Omeganya seorang diri. Baekhyun menunggu dengan sabar; ia duduk manis di kamarnya sembari menatap pantulan tubuhnya di kaca besar yang tersedia di kamar dengan nuansa putih bersih itu. Tubuhnya masih terlihat sama; hanya saja sekarang terdapat tanda di lehernya, bekas gigitan dari Chanyeol – yang sekarang sudah mengering dan terlihat samar namun cukup untuk menjadi pertanda bagi Alpha-Alpha di luar sana bahwa ia sudah memiliki mate.

Baekhyun terkikik; ia begitu senang.

Dirabanya lehernya berkali-kali seolah semua ini adalah mimpi; baru rasanya kemarin Chanyeol menolaknya namun sekarang di dalam tubuhnya terdapat calon bayi-bayi dan mereka mempunyai bapak Alpha tampan bertubuh tinggi itu.

Mata beningnya itu lalu melirik perutnya; perlahan kedua tangannya menyibak lapisan baju tipis yang ia kenakan hingga perutnya terlihat – matanya menatap nanar bagian tubunya yang satu itu. Ujung-ujung jemarinya bersentuhan dengan kulit perutnya seolah ingin merasakan kembali denyutan dari suara janinnya; namun tidak ada. Seorang Omega hanya akan dapat merasakan detakan itu pada menit-menit pertama sel telurnya berhasil ditembus oleh sperma Alpha; ia sedikit kecewa namun ia sangat tidak sabar untuk menimang anak-anaknya.

Dalam waktu tiga bulan ia akan melihat anak-anaknya; Omega pada umumnya akan melahirkan setelah tiga bulan, namun Baekhyun pernah membaca dari buku pelajaran reproduksi bahwa jangka hamil mereka tergantung dengan berapa anak yang mereka kandung. Kembar dua, biasanya akan melahirkan setelah tiga setengah sampai empat bulan dan lebih dari itu akan bertambah sesuai dengan ukurannya. Omega itu merenung, jika ia sempat merasakan lebih dari dua jenis detakan di paginya maka ia akan lebih lama dari kehamilan Omega-Omega biasanya – ia mengerutkan dahi kesal. Ia ingin sekali cepat mendapatkan pup-pup, ia ingin menjadi Omega yang sempurna untuk Alpha; dalam adat mereka, bagi hibrid seperti mereka, adalah pup merupakan kado terindah yang dapat Omega berikan pada seorang Alpha dan maka dari itu mereka-mereka yang subur adalah Omega terberuntung yang pernah ada.

Di masa-masa kehamilan, Baekhyun nantinya akan lebih sering shift ke wujud wolf-nya; ukuran rahimnya akan jauh lebih dapat menyesuaikan ketika ia mengandung lebih dari dua anak sekaligus dibandingkan wujud manusianya yang mungil. Untuk Omega jantan ia sebenarnya cukup pendek; hanya mencapai tinggi 170 cm dan tubuhnya juga sangat tipis – ia lalu berbalik badan dan sedikit menungging untuk melihat ukuran pantatnya yang sedikit tidak berisi itu. Ia mendesah; kenapa aku kurus sekali sih? Kenapa justru pipiku yang berisi? Ia mengomel dalam hati mengingat beberapa mantan kekasih Chanyeol memiliki tubuh yang berisi dengan dada dan pantat yang menonjol; hormon kehamilan dan Omeganya bertabrakan dengan sinkron sehingga sekarang ia justru ingin makan sebanyak mungkin dan mungkin melakukan sedikit olahraga agar bagian bawahnya jadi lebih berisi. Ia ingin menjadi Baekhyun yang seksi; ditatapnya kaca dan dicobanya berlagak agak liar, lidahnya dikeluarkan dan dikedipkan satu matanya.

Lalu ia memekik malu dan segera menutup wajahnya.

Ia lalu menggelinjang sendiri di sana sebelum duduk di kasur dan merentangkan badan sementara kaki menggantung beberapa senti di atas lantai; ia tidak bisa berakting seksi – ia tidak pernah bisa, ia tidak gemar membaca buku-buku dewasa apalagi menonton film seperti itu. Bagaimana bisa dia melakukannya pada Chanyeol jika ia sendiri tidak tahu?

Ia lalu mendengus kecewa sebelum ia memutuskan untuk kembali mengingat tentang status kehamilannya saja; meski ia belum sepenuhnya diyakinkan oleh hasil medis namun Omega itu bersumpah ia merasakan rahimnya terisi.

Oh Tuhan.

Ia sungguh tidak sabar.

Anak dari sepupunya sekarang sudah mendapat insting wolf mereka di usia 3 tahun beberapa bulan – ketika lahir, anak-anak dari werewolf keluar dalam wujud manusia dari rahim Omega. Mereka akan tumbuh dari berusia sehari hingga tiga tahun lamanya dalam wujud manusia saja, pada tahun ketiga maka mereka akan mendapatkan isnting wolf mereka – pada saat itulah mereka dapat disebut pup karena balita tersebut akan dapat berubah menjadi wujud serigala. Hanya saja, pada usia 12 tahunlah mereka benar-benar dalam wujud sempurna karena pada saat itulah mereka mendapat status dari wolf mereka.

Lalu lamunannya terhenti ketika aroma tubuh Chanyeol tercium pekat; ia segera berlari ke arah jendela dan mendapati Alpha tampan itu berdiri dengan gagahnya di halaman rumah – di moncong wolf itu terdapat beberapa ekor ular yang tidak bernyawa, satu kantong plastik penuh berisikan mentimun, satu kotak besar yang memiliki tanda logo sebuah toko mainan anak-anak. Sementara kelinci putih berada di atas pundaknya – Alpha itu lalu perlahan menunduk sehingga kepalanya dapat sejajar dengan tanah untuk membiarkan kelinci itu turun.

Ia hendak melompati jendela kamar karena sangat ingin memeluk Chanyeol namun ia tidak ingin menimbulkan hantaman keras di bagian perutnya, oleh karena itu ia turun hati-hati melalui tangga rumah dan segera berlari ke luar. Segera tubuh manusia Omega itu menghambur pada wolf Chanyeol yang sungguh jauh lebih besar dari ukurannya; dibelainya, dan diremasnya lembut lengan hingga bagian bahu dari tangan kiri Alphanya dan dikecupnya lembut wajah serigala dengan bulu bagian kepala hitam kelam itu.

Serigala besar itu lalu duduk di tanah, dijatuhkannya barang bawaannya dan matanya mengarah pada kelinci putih yang diidamkan oleh Omeganya tersebut – Baekhyun segera mengambil herbivora lucu itu dan menggendongnya dalam dekapannya. Ia kembali menatap Chanyeol dengan senyuman lebar sembari menciumi bulu-bulu putih dari binatang kesukaannya itu; Alpha yang memiliki bola mata hitam dalam wujud asli mereka itu menatap Baekhyun lekat.

Makanlah...

Baekhyun tertegun untuk sesaat; baru pertama kali inilah ia melakukan telepati dengan Chanyeol – ia yakin telepati dengan orang tuanya telah terputus dan akan berganti dengan suara Chanyeol dan juga anak-anak mereka kelak. Berbeda dengan Alpha yang dapat saling bertukar pikiran sesama lainnya meski mereka telah mempunyai mate sekalipun. Suara batin Chanyeol memanggilnya begitu lembut dan berat di saat yang bersamaan; terdapat wibawa yang menyejukkan dari nada bicara itu – sedikit bebeda dengan suara manusianya.

"Tentu, Yeollie..." balasnya tak kalah lembut sembari meraih kantong plastik berisikan mentimun; ia meraih satu dan segera menggigit sayuran itu tepat di tengah – air alami dari mentimun membasahi sudut bibir hingga pipinya. Dikunyahnya sebelum ia mendesah puas karena hasratnya akhirnya tersampaikan. "Enak!" Ucapnya lalu menyandarkan tubuh di badan kekasih hatinya. "Terimakasih, Chanyeol. Aku benar-benar senang."

Alpha itu hanya mengangguk.

Baekhyun asik dalam dunianya sendiri menghabiskan satu mentimun besar sebelum ia meraih boneka yang dibelikan oleh Alpha tersebut. "Dimana bisa dapat ini?" Kagetnya merasa sedikit mustahil sebenarnya, walau Barbie yang didapat oleh Chanyeol bukanlah versi Asia namun Omega itu takjub dibuat oleh kelengkapan barang yang diminta. "Ah, mianhae, Chanyeollie... pasti susah sekali mendapatkan ini. Tapi aku tidak tau kenapa, aku ingin sekali mendapatkan boneka Barbie..." akunya tiba-tiba merasa bersalah.

Tidak ada balasan dari Chanyeol; wolf itu menatapnya lembut dengan senyum simpul berada di wajahnya.

"Kau tau, Yeol..." sambungnya kembali ingin membuka semua percakapan baru. "Katanya jika mengidam boneka maka anaknya nanti akan perempuan... tetapi jika mengidam daging maka anaknya akan laki-laki." Bisiknya pelan, ia mendekatkan wajah pada Alphanya. "Yeollie ingin apa? Laki-laki atau perempuan?" Tanya sedikit memiringkan kepala; gerakan yang mampu membuatnya terlihat jauh lebih menggemaskan lagi.

Kau ingin apa?

"Aku?" Omega itu sedikit berpikir. "Hmm... aku ingin perempuan, tapi biasanya perempuan tidak akan bisa jadi Alpha. Aku ingin anak kita seorang Alpha yang kuat sepertimu, Yeol. Aku ingin anak kita nanti adalah Alpha yang sehat dan kuat dan bisa... bisa memiliki knot yang dapat membuahi Omeganya nanti dengan cepat... seperti Yeollie," cicitnya agak malu dengan kalimat terakhirnya.

Senyuman di wajah keras dari wolf Chanyeol tersebut semakin kentara, ia lalu melirik beberapa ekor ular yang diinginkan Omeganya itu – Baekhyun segera mengikuti arah pandangnya dan mengangguk senang. Perlahan remaja dengan bola mata hitam tersebut lalu berubah menjadi abu-abu terang, bulu-bulu putih segera muncul di tubuhnya seiring dengan robeknya baju yang ia kenakan – wolf dengan ukuran lebih kecil lalu berada di sandaran serigala yang lebih besar. Matanya mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan pandangan sebelum ia berdiri dan meraih ular mati yang ada di sana; taringnya segera mencabik kulit yang terasa begitu lembut itu di gigi wolf-nya.

Batin Omega itu melonjak senang ketika ia merasakan daging segar dengan darah yang masih terasa di sana; ia melonjak girang dan suara khas wolf saat melenguh senang keluar dari kerongkongannya. Ia lalu melahap santapannya dengan tempo cepat.

Pelan-pelan, Baek. Aku bawa banyak untukmu.

Baekhyun lalu menunduk malu; ia menatap Chanyeol ragu namun segera melanjutkan makannya kembali saat Chanyeol justru tersenyum padanya – Omega itu takut jika saja ia membuat Chanyeol kecewa tetapi senyum di wajah itu membuat ia kembali percaya dan menghabiskan dagingnya. Lebih pelan, tidak terburu-buru hingga seluruh buruan itu habis tidak sersisa. Ia segera kembali shift dan berlari kecil menuju kantung mentimunnya dan melahap satu buah lagi sebagai pencuci mulut; darah merah di sekitar mulutnya perlahan terhapuskan oleh air dari sayuran segar tersebut.

"Enak sekali! Yeollie memang hebat!"

Suara tawa terdengar; Chanyeol menelepatikan tawanya yang renyah menyapa gendang telinga nurani dari Omega manis tersebut.

"Kenyang~" Omega itu menepuk-nepuk perutnya sembari tersenyum puas; matanya yang berbentuk bulan sabit sempurna kala tersenyum itu selalu menjadi alasan dari setiap rasa ketenangan yang muncul di dada sang Alpha. Chanyeol masih belum berubah dan nyaman dengan wujudnya; ia dapat menjadi bantal empuk untuk kekasih hatinya tersebut – suhu hangatnya akan membuat Baekhyun yang bertelanjang dada itu tidak kedinginan meski matahari sudah semakin tinggi menyinari daerah mereka. "Yeollie itu hebat sekali; sempurna sekali. Bisa membuatku hamil lalu memenuhi seluruh kehendak anehku; aku beruntung sekali mendapatkan Yeollie."

Aku lebih beruntung mendapatkanmu, Baekhyunnie.

"Yeollie tampan."

Kau cantik.

"Yeollie punya badan bagus sekali."

Badanmu juga sangat indah, Baek.

"Yeollie selalu memperlakukanku dengan lembut..."

Karena kau adalah duniaku, Baek. Kau satu-satunya ranting yang tertinggal di pohon hidupku; jika aku membiarkan rapuhmu jatuh maka aku akan mati tenggelam dalam kesedihan karena kehilangmu.

Baekhyun terdiam. "Aku sangat mencintai Yeollie."

Aku jauh lebih mencintaimu, Sayangku.

Keduanya lalu terdiam; larut dalam pikiran masing-masing. Sebelum akhirnya Baekhyun sedikit bergerak tidak nyaman di sandarannya.

"Yoellie..."

Hmm?

"Umm—Yeollie jangan marah ya..."

Ada apa, Baekhyun?

"Aku ingin meminta satu hal lagi..."

Meminta apa?

"Jika aku dalam heat maka Yeollie akan menemaniku dan membantuku meredakannya, bukan?" Didapatinya Alphanya itu mengangguk pasti. "Tetapi jika... ehm—jika... aku tidak dalam heat dan ingin knot Yeollie, kau tetap akan menyanggupinya, bukan?" Tanyanya ragu dengan wajah yang panas dan telinga memerah lucu.

Alpha itu tidak menjawab, Omega itu lalu meragu.

"A—aku tidak ingin memaksa Yeollie tapi jika aku ingin sekali disentuh Yeollie tetapi tidak saat heat aku ingin Yeollie dapat membantuku. Aku—aku rasa aku tidak dalam heat saat ini tapi—eung—aku ingin—tapi kau jangan marah! Aku—aku ingin sekali disentuh saat ini dan—ouch!" Ucapan Omega itu terputus saat tubuh besar itu perlahan mengecil dan tubuh mungilnya berada di antara tanah basah dan juga tubuh kekar Alphanya. "Chanyeol..."

"Katakan sekali lagi apa maumu saat ini, Omega."

Baekhyun merasakan butuhnya bergetar saat panggilan posesif itu keluar dengan merdunya. "Aku ingin—" ia menghembuskan nafas panjang sebelum memberanikan diri dan mencoba untuk melakukan apa yang tadi ia praktekan di depar cermin. "Engh—aku ingin disentuh Yeollie lagi. Sekarang." Ujarnya mendesah dan diakhiri dengan jilatan basah di bibir bawahnya.

"Fuck—" Chanyeol mengumpat tertahan sebelum ia membawa tubuh mungil itu dalam gendongannya.

"Chanyeol, kita mau kemana?"

"Ke kamarmu, Baek. Atau kau ingin aku menyetubuhimu di halaman ini juga?"

"A—aniyo... aku ingin di kamar saja."

"Bagus." Balas Alpha itu singkat, ia sedikit tergesa-gesa berjalan dan mengambil ancang-ancang untuk melompat ke dalam kamar permaisuri cantiknya. Dipegangnya erat-erat tubuh Omega itu dan ditumpukannya kekuatannya di paha bagian kanannya, dalam sekali hentakan cepat Alpha itu melompat tinggi menaiki pohon yang berada beberapa meter dari depan jendela kamar Baekhyun sebelum ia melompat kembali masuk ke ruangan itu. Segera dicumbunya bibir Omeganya itu ketika mereka berdua berada di lantai kamar Baekhyun; lidahnya dengan cepat menjilatin bibir ranum kekasihnya dan segera masuk ke dalam gua hangat yang ia puja.

"Chan—ahh~" desahan Baekhyun tidak bisa dielakkan lagi saat jemari Alpha tersebut memainkan dua tonjolan di dadanya; ia merintih pelan ketika putingnya dimainkan secara bersamaan dan digigitnya bibir bawahnya untuk meredam suara ketika bibir Chanyeol mulai menciumi daerah lehernya – memainkan mark-nya yang terasa begitu sensitif akan cumbuan. "YEOL! AH!" Baekhyun memekik dengan mata terbuka; satu tangan Chanyeol berhasil masuk ke dalam celananya dan segera memainkan penisnya yang sudah mulai menegang; ia sedikit melenguh saat dirasakannya lubang belakangnya membasah.

"Shit—kau sudah sangat basah, baby." Wajahnya didekatkannya dengan lubang senggama Baekhyun yang masih tertutupi oleh kain celananya itu; kain tipis tersebut mencetak bagian belakang Omega tersebut dengan sempurna; aroma beri dan vanilla yang manis segera masuk ke indera penciuman sang Alpha. Dijulurkannya lidahnya untuk mengecap rasa itu untuk keberapa kalinya; merasakan manis alami yang keluar dari dinding rektum sang Omega yang merembes keluar dari pori-pori celananya.

Dijilatnya, dikulumnya, lalu diciumnya dalam layaknya ia memperlakukan bibir Omega tersebut; lubang itu berkedut-kedut karenanya dan Baekhyun sudah terengah-engah akibatnya. "Shit, cairannya semakin banyak, Baekhyun."

"Emhh—aku juga tidak mengerti—ahhh—Yeol, please..."

Alpha itu tidak perlu diperintahkan lagi, ia segera melepaskan celana Baekhyun hingga Omega itu telanjang sempurna di hadapannya – dilebarkannya kaki-kaki itu dan segera didorongnya dua jemarinya ke dalam lubang senggama Baekhyun.

"AH! Chanyeol! Chanyeol!"

"Apa, Omega? Katakan padaku, apa yang kau rasakan."

Baekhyun menggeliat tidak tenang; cairan lubrikasi itu lalu dengan derasnya keluar dari lubang rektumnya semakin membasahi dua jari yang sekarang keluar-masuk dengan sedikit kasar di sana. "Engh—nikmat, Alpha. Ahh—nikmat sekali~" lenguhnya sedikit menaikkan pinggul karena dua jari itu menyentuh prostatnya tiba-tiba.

"Basah sekali, Sayang..." bisik Chanyeol mesra di permukaan bibir tipis kekasihnya itu; dikecupnya ringan dua belah itu bergantian, dikulumnya pelan, sebelum mereka kembali saling berciuman dengan tempo yang lebih perlahan. Jari Alpha itu masih bergerak tidak sabaran di lubang Baekhyun, satu tangannya lagi sibuk naik-turun di batang tegang Omeganya namun kecupan lembutnya menjadi kontras yang terasa indah melapisi selimut hasrat dari pasangan cantiknya. Kecipak bunyi becek terdengar sangat vulgar dari lubang Baekhyun; keduanya semakin terpacu hasrat yang menggebu, Chanyeol lalu mengeluarkan jarinya dan melepaskan ciumannya. Ditatapnya Omeganya dalam dan dengan sebuah seringaian ia lalu membawa jemarinya yang basah akan cairan lubrikasi alami itu ke dalam mulutnya; dilihatnya Omega di bawahnya melebarkan mata dan badannya menegang – pemandangan ini tentu adalah hal yang baru baginya.

Alpha tersebut lalu mengulum dua jarinya tanpa melepaskan pandangan dari mata sang Omega.

Baekhyun menelan ludah, digigitnya bibir bawahnya gemas karena matanya terlena melihat wajah menggoda dari Chanyeol yang menatapnya demikian – selama ini mereka bercinta dalam kelembutan, Chanyeol memperlakukannya seperti seorang Putri. Wajah Alpha itu akan selalu memuja saat menyetubuhinya, dan sekarang Omega itu memerah malu dalam penuh rasa dambaan baru melihat wajah nakal di hadapannya. "Chanyeollie..." panggilnya.

"Hmm?" Jawab lelaki itu semakin menggoda dengan mempercepat maju-mundur jari-jarinya.

Tidak menjawab, Baekhyun lalu lebih berani; diturunkan tangannya meraih celana Chanyeol – dirabanya penis Alpha yang mulai terbangun itu. Diliriknya gumpalan itu sekilas sebelum dibawanya kembali pandangannya ke atas, menanti respon Alphanya.

"Lakukan sesukamu, Sayang..." bisik Chanyeol menantang, dikedipkannya satu matanya membuat jantung Omega itu semakin bertalu-talu dengan birahi menggebu-gebu. Diturunkannya wajahnya dan disapukannya bibir tebalnya di daun telinga Baekhyun lembut. "Aku milikmu, Baekhyun—ahh..." desahan berat lalu memutuskan perkataan dari Alpha tampan itu. Penisnya telah berada dalam genggaman Baekhyun, Omega mungil itu memberikan beberapa pijatan di batangnya sebelum dibawanya penisnya sendiri untuk beradu dengan penis sang Alpha. "Fuck—Baek—baby..." lenguhnya menikmati sentuhan permukaan penis Baekhyun dan juga jari-jari lentik itu di kejantanan mereka.

"Yeol—ahh—" desahan Baekhyun seolah membalas erangan yang keluar dari kekasih tampannya itu. Tangannya bergerak cepat di dua penis dengan ukuran yang berbeda itu; matanya dipaksa menutup oleh kenikmatan. Chanyeolnya sekarang mulai menciumi wajahnya sekali lagi, satu tangannya membantu Baekhyun dalam memuaskan hasrat mereka sementara satu tangan lainnya menumpukan beratnya di lantai agar ia tidak ambruk di tubuh Omeganya. "Yeollieh—masuk—ah!"

Chanyeol tidak mengerti apa yang diinginkan oleh Omeganya itu, namun ketika dilihatnya Baekhyun membuka lebar mulutnya dan menghentikan gerakan tangannya di penis mereka, Alpha itu segera bangun dan memposisikan juniornya di depan mulut terbuka Baekhyun. Lidah itu kembali menyapa kepala penisnya; dini hari tadi Baekhyun melakukan blow job pertama untuknya dan kali ini Chanyeol kembali dibuat mendesah akibat lembut dan hangatnya rongga mulut Omeganya mengapit rapat penis besarnya.

Omega itu mengulum dengan penuh hati, dibiarkannya Chanyeol memperlakukannya sedikit kasar – ditutupnya matanya ketika kepala penis Alphanya itu menyakiti pangkal kerongkongannya; air mata tampak keluar dari sudut matanya yang tidak terbuka itu tetapi kepalanya semakin mendekat dan merapatkan diri dengan arah gerakan pinggul Chanyeol. Hanya suara desahan lelaki di hadapannya inilah yang sanggup membuatnya tidak terbatuk dan memuntahkan cairan pre-cum yang tertampung dalam mulutnya; dan Baekhyun tidak dapat menolak dan berdusta bahwa ia tidak menyukai sensasi ketika kelamin Chanyeol berada dalam mulutnya. "Hmm~" desahnya merasakan mani yang keluar membanjiri kerongkongannya dan segera ia telan sepenuhnya.

"Sialan—Baek—ahh! Keluarkan! Fuck—" Chanyeol tidak dapat menahan saat spermanya keluar; ia tidak ingin sampai secepat ini namun hisapan Baekhyun tidak berhenti-henti dan memancing lahar hangatnya untuk keluar dari sarangnya. Alpha itu menghentakkan penisnya keras sebelum ia menengadah dan menikmati titik puncaknya. "Ahh, Baekhyun..." gumam lelaki tampan itu sebelum ia kembali rebah di lantai dan Baekhyun segera naik ke atas tubuhnya untuk berbaring di atas tubuh besar tersebut.

"Yeollie masih kuat?" Tanyanya pelan dengan tangan memainkan puting di dada bidang Alphanya; wajahnya basah oleh keringat bercampur air mata dan hawa panas membuat pipi itu memerah. Yang ditanya menggeleng dan segera Baekhyun mengerucutkan bibirnya. "Tidak kuat? Benarkah?" Ia bertanya kecewa, nada bicaranya dibuat bertanya walau kentara sekali ia tidak suka dengan respon belahan jiwanya itu. "Yeollie..."

"Hmm..."

"Chanyeol..."

"Ada apa, Baekhyun? Aku lelah; kau harus mengerti Alphamu, Baek." Ujar Chanyeol membuat Baekhyun menegang dan segera mengangguk patuh.

"Eung." Omega itu lalu turun dari tubuh Chanyeol dan perlahan sekali ia sedikit menjauh, matanya melirik kamar mandi kamarnya sebelum dirasakannya tangan besar Chanyeol meraih lengan mungilnya erat. "Ada apa, Yeollie? Kau ingin sesuatu? Aku ingin ke kamar mandi mengambil air dan handuk basah buat Yeollie."

"Oh, Baekhyun. Apa yang harus kulakukan padamu..." lirih Chanyeol lemah sebelum ditariknya lengan itu ke arahnya sehingga tubuh mungil sang Omega kembali berada di atas tubuhnya, dikecupnya wajah manis itu sepenuh hati sebelum ia menumpahkan segala cintanya dalam bentuk ciuman mesra di bibir kekasih hati. "Aku hanya bercanda, Sayangku. Tentu saja aku tidak akan pernah lelah memenuhi apa keinginanmu. Kenapa kau terlalu penurut, Baek."

Baekhyun menggeleng. "Aku ingin mengabdi pada Chanyeollie, aku ingin menjadi Omega yang baik dan mengerti..." cicitnya lemah.

Chanyeol terdiam; tidak seharusnya ia menyalahkan segala sifat submisif dari Omeganya – hatinya melunak dan sedikit tergores mendengar penuturan singkat yang sangat jujur dari mate-nya tersebut. Ia merasa bersalah. Candanya termakan sebagai kebenaran di hati murni Baekhyun; Omega lemah yang sekarang mengandung anak-anaknya itu benar-benar memiliki tujuan yang murni. Tubuhnya, hatinya, jiwanya mencintai Chanyeol sepenuh hati – Alpha itu kembali ditampar kenyataan dan perasaan bahwa dirinya bukanlah Alpha yang baik dan pantas mendapatkan semua ini. "Aku mencintaimu." Hanya kalimat cintalah yang mampu ia berikan sebagai penawar untuk Baekhyun, dan jika itu yang hanya sanggup ia lakukan maka ia tidak akan bosan sejuta tahun lagi berkata demikian. "Aku benar-benar mencintaimu, Baekhyun."

Omega itu tersenyum senang; mendengar kata cinta dan merasakan sentuhan sayang membuat ia merasakan sebagai Omega yang sempurna – dimiliki dan dicintai. "Berarti bisa dilanjutkan lagi, kan?"

Chanyeol tersenyum jahil. "Tidak sabaran, eoh?" Tanyanya diakhiri dengan remasan di paha dalam Baekhyun.

"Enghh—iya, masih ereksi, Yeol~" rengeknya menggerakkan pinggul hingga junior tegangnya menepuk perut Alphanya. Chanyeol membalas dengan semakin menaikkan tangannya yang sekarang membelai lembut dua bongkahan pantatnya. "Hmm—Yeollie... aku tidak tahan, langsung masukkan ya..." pintanya menggeliat. "Aku menungging ya, Yeol?" Alpha itu tidak membalas namun ia segera bangkit dan membantu Omeganya untuk menungging dengan tangan perpegangan erat di sisi tempat tidur; kepalanya berada di kasur empuk yang segera diberi alas bantal oleh Alpha tersebut agar Omega mungilnya nyaman ketika penyatuan mereka nanti.

Sperma yang telah keluar sebelumnya tentu membuat penis Chanyeol sedikit melemas; ia lalu segera memberi kocokan di batangnya itu sendiri agar kembali tegang sebelum memposisikannya di lubang senggama Baekhyun. Matanya tidak bisa beralih dari air lubrikasi yang selalu keluar dari rektum itu seperti mata air kecil di dinding tebing hutan; Alpha itu kembali merasakan birahinya terpanggil dan dalam sekejap dirasakannya penisnya kembali berkedut nyeri.

"Hmm—" Baekhyun mendorong pinggulnya ke belakang, berlawanan arah dengan Chanyeol yang mencoba mendesak lubang sempit Baekhyun dengan miliknya; Omega itu menengadah nikmat merasakan senti demi senti kejantanan Chanyeol kembali masuk ke dalam dirinya. "Ahh—Chanyeol—Chan—ohh!" Ia kembali melenguh dalam rintihan nama Chanyeol, matanya merapat dan bibirnya terbuka. Badannya memanas dan lubangnya termanjakan oleh gesekkan menyenangkan yang menghantarkannya pada ribuan rasa yang diterjemahkannya sebagai surga dunia.

Keduanya kembali bercinta.

Walau kali ini mereka tergesa-gesa seolah-olah waktu bukanlah temannya; Chanyeol menghentakkan badannya terlalu cepat dan Baekhyun akan mengerang terlalu keras. Bantal putih itu basah oleh liur dan juga keringat si Omega sementara pinggang langsingnya sudah memerah karena cengkraman kuat dari telapak tangan sang Alpha; Baekhyun meraih sepreinya dan mengepalkan tangannya di sana hingga kain tebal itu terlepas dari ujung kasurnya, buku-buku tangannya memucat setiap kali ujung penis Chanyeol mengenai prostatnya dan menumbuknya dengan kasar – terus-menerus, tanpa jeda, dan membabi-buta menghantarkan sengat listrik ke seluruh syaraf perasanya.

"Ahh—Yeollie—Chanyeol!"

Alpha itu lalu menurunkan badan, dikecupnya punggung halus dari Omeganya dan tangannya semakin menggerayangi pinggul sintal tersebut. Chanyeol merasakan darahnya mengalir begitu cepat, panas membakar panca inderanya dan hatinya bergemuruh suka mendengar rintihan dan pekikan dari Byun Baekhyun menyapa gendang telinganya. Naluri binatangnya menggelora dan digigitinya leher bagian belakang pemuda cantik yang merupakan pasangan mate-nya itu, taringnya menggoda-goda kulit lembut itu dan lidahnya sesekali menjilat sebelum gigi tajamnya menggores permukaan halus bak kertas tersebut.

Baekhyun menggeliat ketika perih terasa di leher hingga punggung atasnya; namun ia menggelinjang suka ketika lidah hangat Chanyeol menjilati luka-luka kecil itu penuh minat – ia semakin terbuai penyatuan mereka yang panas karena dirasakannya penis Alpha itu semakin menjadi-jadi menghantam keras titik puncak kenikmatan di dalam tubuhnya. "Ehmm~" Omega itu melenguh, tubuh sensitifnya yang lugu menjadi tidak tau malu. "Ahh—Yeol! Ah! Ah!" Desahannya menjadi sedikit liar dan tidak tentu arah karena kedutan batang yang entah kenapa dirasakannya membesar lagi itu membangkitkan jalang dalam dirinya.

Pinggul mungil itu lalu bergerak memutar dan dengan acak ikut seirama menggerakkan badan menjemput kenikmatan yang berlebihan. Suara hempasan pantatnya dan pangkal paha Chanyeol terdengar begitu vulgar, namun ia menyukainya – oh, Byun Baekhyun begitu menyukainya.

"Ah! Chanyeol! Sayang! Alpha! Please, lebih keras!" Pintanya dengan suara serak.

Chanyeol menggeram mendengar permintaan Omeganya; sebelumnya Baekhyun tidak pernah meminta seperti ini ketika mereka bercinta dan oh Tuhan... betapa Chanyeol menyukai suaranya. "Baekhyun..."

"Yeol! Lebih cepat, ahh! Alpha, please... lebih dalam dan keras! Yeollie, please... Sayang... ahh..." racau Baekhyun terdengar berbeda jauh dari Omega lembut nan lugu selemah ini Chanyeol tahu – birahi membutakannya tetapi inilah yang akan Alpha itu puja; bagaimana Omega yang ia cinta mengerang liar dan meminta-minta sentuhan lebih dalam dari penisnya. "Yeol—enghh—ah! Ah! Ah!" Baekhyun lalu hanya dapat mendesah setiap hentakan keras yang ia dapatkan; mulutnya terbuka lebar menghantarkan pekikan yang acap kali terjadi ketika prostatnya terpuasi.

Kain seprei yang digenggam erat oleh kepalan tangan Omega itu lalu terpisah dari kasurnya ketika Chanyeol tanpa aba-aba menarik tubuh Baekhyun berdiri; disetubuhinya lelaki manis itu dari belakang sementara kepala Baekhyun bersandar di bahunya. Tangan mungil Omega itu lalu melepaskan kain putih tersebut untuk perpegang pada pinggang Chanyeol; kakinya menggantung di atas lantai, seluruh berat tubuhnya pertumpu pada kedua kaki Alphanya yang masih terus menusukkan batangnya keluar-masuk tanpa henti dari lubang senggama sang Omega. Baekhyun berusaha mengaitkan kakinya ke belakang agar dapat mengalung di paha kokoh Chanyeol, tubuhnya bergetar hebat karena dengan posisi ini keperkasaan Alpha itu terasa semakin keras dan kasar menusuk lubangnya.

Ia tidak mampu bersuara lagi; bibirnya hanya mampu terbuka dan mengeluarkan desahan bisu – bola mata hitamnya yang indah itu hilang dibalik kelopak matanya. "Kau suka?" Tanya suara berat di belakangnya. Ia lalu mengangguk cepat. "Katakan padaku, Omega. Kau menyukainya?"

"Ah—i—iya, Alpha. A—aku menyukainya. Jangan berhenti." Jawabnya terbata. Hantaman kenikmatan seolah merusak pola pikirnya menyebabkan ia tidak tahu bagaimana menemukan kata-kata. Lalu ia terisak; tangis keluar tanpa dapat ia cegah – sentuhan mematikan di kelenjar nikmatnya membuat ia hilang arah. "Yeollie! Ah! Chanyeol!" Pekiknya keras beriringan dengan mengerutnya dinding rektumnya hebat; orgasme diraihnya telak dan ujung penisnya sendiri lalu menyemburkan sperma putih yang menodai perut sampai dadanya. Ia melemah dan terkulai; tangan Chanyeol menangkap dan menahan tubuhnya – Alpha itu begitu pengertian untuk menghentikan pergerakkan dan membiarkan sang Omega merasakan orgasmenya hilang.

"Enak sekali, Yeollie~" ungkapnya lemah. "Nikmat sekali..." imbuhnya menghirup aroma tubuh sang Alpha.

Chanyeol lalu membalikkan tubuh Baekhyun agar menghadapnya; didekapnya tubuh mungil itu hangat dan dibawanya wajah itu bersandar di bahunya. Kembali, diarahkannya kejantanannya pada lubang basah yang sudah berhenti berkontraksi itu – Baekhyun mengerang lembut yang teredam di kulit lehernya. Alpha itu kembali menikmati basahnya gua sempit itu, cairan pre-cumnya mulai keluar dan dirasakannya knot-nya mulai membesar dan terbentuk sempurna. "Ahh—aku akan—" ucapannya terputus, dirasakannya kakinya melemas karena hasrat yang menggebu dan spermanya yang mulai keluar dari ujung penisnya.

"Yeollie..." sebut Baekhyun menemani Chanyeol yang mulai menjemput ejakulasinya; Omega itu melenguh dan jantungnya berdebar merasakan kont besar sang Alpha memenuhi lubang anusnya. Ujung penis itu terdorong semakin dalam menghantarkan jutaan sperma menyapa mulut rahim yang sudah terisi janin itu.

Keduanya membeku.

Chanyeol lalu merebahkan tubuh mereka di lantai usai persenggamaan mereka meski knot-nya masih melekat di dalam Baekhyun. "Chan—hmm—" gumam wolf yang lebih kecil itu merasakan organ itu perlahan mengecil jua.

"Nikmat sekali, Baek... Terimakasih."

"Yeollie..."

"Hmm?"

"Eomma dan Appa masih di bawah..."

"Aku tahu..."

"Aku malu."

Chanyeol terkekeh. "Tidak apa-apa, baby. Mereka sudah dewasa, mereka pasti mengerti." Baekhyun mengangguk, keduanya lalu saling memeluk badan pasangannya sebelum terdengar suara ketukan di pintu kamar bungsu keluarga Byun tersebut. Omega itu terkesiap dan langsung terduduk menatap nanar pintu kamarnya yang sebenarnya tidak terkunci itu.

"Baekhyunnie?" Suara Yoona terdengar memanggil. "Kalau kalian sudah selesai, ke bawah ya? Eomma sudah menyiapkan cemilan sore, Appa juga ada di bawah. Baekbeom dan Nari juga. Kita akan menunggu kalian di ruang tengah. Ada sisa makan siang juga karena kalian pasti lapar. Jangan lupa siap-siap untuk ritual, kita berangkat setelah senja." Lanjut Ibu dua anak itu sebelum terdengar suara langkah kaki yang perlahan menjauh dari kamarnya.

Baekhyun lalu menutup muka. "Pasti Baekbeom hyung mendengar dan akan menggodaku!" Lalu tubuhnya dibawa dalam pelukan sang Alpha.

"Biarkan mereka mendengar, Baekhyun. Biarkan mereka mendengar dan tahu kau adalah milikku."

Chapter Tambahan ini dipost untuk memberikan fluff tambahan di kepingan tujuh. Kepingan delapan(akhir) akan di post dalam waktu dekat. Semoga kalian menikmati kepingan ini.