—7—

"Why is it so easy to fall in love with you?"


"Kau sehat?"

"Apa maksud pertanyaanmu, Ogiwara-kun?"

"Hmm." Gumaman Ogiwara terdengar dibuat-buat. Dramatis, dia berlagak jadi detektif dengan menggosokan ibu jari pada dagu yang klimis. Tetsuya enggan menanggapi. Ia meneruskan acaranya menyedot vanilla shake dari Maji Burger sambil membolak-balik buku tebal.

"Kau tahu maksudku." Menuduh. Jari telunjuk Ogiwara kini bahkan teracung menunjuk wajah Tetsuya. Mimik wajah sengaja dibuat-buat meniru antagonis dalam film. "Ini tidak seperti dirimu. Mendadak setuju berubah haluan untuk ganti judul. Aku tahu benar kau ini kepala batu bukan main, Kuroko."

Tetsuya terhenti sejenak dari akting pura-puranya membolak-balik halaman jurnal. Ia menatap Ogiwara dengan pandangan malas.

"Aha! Benar kan? Ada sesuatu yang terjadi?"

"Tidak ada."

"Kau mau tahu satu hal? Gajah sekarang bisa terbang. Oke. Tentu itu bohong. Sama seperti ucapanmu barusan."

Ogiwara mencondongkan tubuhnya ke depan. Tangan menggenggam sisi meja. Ngotot. "Jadi ada apa? Kau bisa memberitahu aku. Aku sahabatmu lho."

Sengaja, pemuda berambut coklat itu menekankan kata 'sahabat'. Padahal Tetsuya tidak bercerita bukan karena tidak percaya. Ia murni tidak mengerti bagaimana harus memulai.

"Hentikan, Ogiwara-kun. Semua pengunjung kini memerhatikan kita."

Atau pada Ogiwara saja. Tesuya sejak awal tidak pernah menjadi keberadaan yang menarik perhatian dan karenanya pula ia menjadi tidak terbiasa. Menarik diri selalu lebih mudah daripada berbaur.

Ogiwara kembali duduk tenang. Salah tingkah setelah sadar ada sekumpulan anak SMA yang memerhatikannya sambil berbisik-bisik. Beberapa gadis bahkan terkikik kecil.

"Ayolah, Kuroko." Ogiwara tidak menyerah. Tapi setidaknya kali ini ia memelankan suara. "Kau pasti kepikiran sesuatu kan? Lihat cermin, kantung matamu sampai parah begitu."

"Ini biasa." Tetsuya mengacuhkan keseriusan Ogiwara (sejak awal memang tidak yakin sahabatnya itu bisa serius). "Mahasiswa yang tidak pernah begadang mustahil bisa lulus cepat."

"Ya. Dan yang ganti-ganti judul di saat genting juga terancam telat lulus." Ogiwara semakin serius menginterogasi. "Ayolah. Apa ini ada hubungannya dengan Shuuzo-nii? Kau kacau semenjak pulang dari menggantikanku ke Kyoto."

Tetsuya menutup buku berkover tebal dengan kasar. Suaranya cukup mengaggetkan.

"Ku-Kuroko?"

"Kau benar. Kantung mataku parah. Aku mengantuk dan aku sebaiknya pulang." Tetsuya lekas mengemasi alat tulis dan buku-bukunya. Tidak peduli untuk menata isi tas sehingga benda-benda di dalamnya kini acak-acakkan tak teratur.

"Aku baru ingat aku sibuk." Ia beranjak segera dari kursinya. "Sampai jumpa lain waktu, Ogiwara-kun."

Langkah kaki pemuda berambut biru muda secepat hembusan angin. Dia berlalu tanpa pamit panjang lebar atau basa-basi.

Ogiwara hanya bisa tercengang. Tak sempat menghentikannya.

.

.

Per kasur menopang tubuh yang terhempas di atas permukaanya dengan sangat baik.

Tetsuya merasa neon terang menyengat bagi matanya yang lelah. Lengan terangkat, menutupi iris sewarna langit. Lebih baik.

Belakangan ini dia tak pernah bisa tidur nyenyak.

Setiap kali menutup mata, Tetsuya merasa takut. Setiap kali dia membiarkan kantuk menyapu kesadaran, dia akan dibawa ke sebuah dimensi asing.

Tetsuya kini menyebutnya dimensi mimpi, yang sangat nyata. Terlalu nyata.

Yang terlihat di sana selalu sama. Antara fragmen memori acak, dirinya di dalam diri seorang wanita asing yang mengalami segalanya dalam sudut pandang orang pertama, atau bayangan seorang pemuda yang tengah sekarat.

Yang terakhir yang paling mengganggunya.

Sudah beberapa malam terakhir mimpi Tetsuya konstan. Repetitif namun kian detil.

Pemuda berambut merah kesakitan dengan punggung memerah seperti terbakar. Peluh berceceran dan darah menodai seprai putih cemerlang. Sakit yang mendera begitu nyata di wajahnya yang pucat.

Tetsuya tak suka melihat itu. Terlebih mendengarnya menggeram karena penderitaan. Tapi dia hanya bisa melihat. Tidak lebih.

Dia ada di sana. Begitu dekat.

Tapi keberadaanya sebatas roh. Karena ia menyebrang mimpi maka ia mampu melihat.

"Aku… ingin melihatmu…"

Tetsuya sekarang tidak lagi merasa aneh karena meracau sendirian. Tidak lagi kaget dengan apapun. Dia sadar dia kehilangan arti dirinya sendiri belakangan ini. Namun pengalaman itu disertai pula pengenalan baru tentang sisi dirinya yang selama ini tak pernah ia gali.

Perlahan ia tahu. Perlahan ia mengerti.

Ia ingin sekali berlari, kembali secepat mungkin ke Kyoto menemui pemuda yang bahkan tak ia kenal namanya itu. Ingin sekali memeluknya. Meredakan sakitnya. Menciumi setiap jengkal lukanya.

'Seijuurou-sama tidak menghendaki dia ada di sini.'

Mungkin yang menghentikannya untuk tidak nekat pergi menghampiri adalah satu kalimat itu.

Sakit. Sakit sekali.

Pria itu—Seijuurou—tidak menginginkannya.

Curang. Padahal hanya dengan sekali pertemuan pada malam bersejarah itu, Tetsuya tak bisa lagi melupakannya dan sangat mampu merindukannya.

Berguling ke samping, pemandangan yang didapat Tetsuya ketika ia berkedip adalah permukaan dinding yang kosong. Tapi ada bayangan wajah Seijuurou yang menghantuinya. Tidak. Bayangan wajah itu tidak hanya ada dinding melainkan ke arah manapun matanya memandang ketika ia tengah melamun.

Ia merasa ia sudah gila.

Tanpa sadar, air matanya menitik menodai bantal.

.

.

Aku ingin bebas untuk bisa mencintaimu.

Apa permintaanku terlalu sulit?

.

.

Langit bertabur bintang adalah yang ia lihat kemanapun ia memandang. Cakrawala tanpa batas yang amat luas.

Tetsuya merasa seperti melayang. Perlahan ia turun dari langit menuju permukaan tak kasat mata. Kakinya menapak mantap. Kimono panjangnya tersibak ketika ia bergerak.

Sungguh, sekalipun pijakannya begitu mantap, penglihatan bahwa di bawah kakinya adalah langit tanpa ujung membuatnya merasa seperti terbang. Namun ia tidak takut. Suasana ini justru menenangkannya.

Di tengah keheningan, telinga Tetsuya menangkap suara lirih. Kalimat tidak koheren. Seperti jeritan yang ditahan mati-matian.

Pria itu lagi. Seijuurou.

"Arrrgghhh!"

Tetsuya tak sampai hati mendengarnya. Dia seolah ikut membagi derita itu. Sayangnya tidak. Seingin apapun ia berbagi, ia tak bisa merasakan apa yang Seijuurou alami.

"Ukhh…"

Atau mungkin bisa. Tidak secara fisik. Namun secara mental ia turut merasakan sakit itu. Ditambah lagi rasa frustrasinya karena tidak bisa berbuat apa-apa.

Ia mungkin bodoh. Ia tidak peduli lagi.

Tetsuya memeluk Seijuurou dalam mimpinya. Merengkuhnya. Mencoba menenangkannya.

Aku ada di sini.

"...kh!"

Aku ada di sini. Tenanglah.

Tapi memang apa yang bisa dilakukan tubuh rohnya? Bahkan Seijuurou saja tidak menyadari dia ada di sana.

Aku sungguh-sungguh ingin berada di sisimu… Sei.

.

.

Permukaan air bergelombang. Terpecah oleh kepalan tangan Seijuurou yang terus menerus memukul air. Ia menggeram. Meraung keras dalam lolongan yang terdengar menyedihkan.

Tubuhnya panas. Kulitnya terasa perih luar biasa. Seolah dalam darahnya ada sesuatu yang beracun, menjangkitinya dengan rasa sakit yang teramat sangat. Tak jarang ia merasa seperti ada duri kecil yang mengalir bersama darah ke seluruh tubuh dengan semua rasa sakit itu.

Himuro kewalahan. Segala cara, segala metoda, semua sudah ia coba untuk meringankan beban Seijuurou. Ramuan herbal, mantra, ritual penyucian.

Tak ada yang berhasil. Ia gagal sepenuhnya. Seolah mencoba mengganti arah terbit terbenam matahari, segalanya sia-sia.

Chihiro tak bisa berkata apa-apa. Shiki berambut perak itu hanya bisa menatap sedatar biasa. Reo mengutuki dirinya sendiri yang ia sebut tidak berguna untuk Seijuurou-sama.

Nijimura sendiri amat resah.

Mereka semua tak perlu kata-kata penjelasan. Tak perlu juga berdiskusi mencari akar permasalahan.

Semua tahu satu hal.

Seijuurou menjadi seperti ini karena naga dalam dirinya marah dikekang. Tepatnya, mengamuk.

Ia menginginkan isterinya. Ia ingin pasangan jiwanya kembali. Dan Seijurou adalah wadah pemberontak yang tak mau menurut dan patut dihukum.

"Belum terlambat mengubah pemikiran anda," Nijimura berkata. Mencoba tetap sopan, ia menambahkan, "aku masih bisa memanggilnya kemari."

"Tidak, Shuuzo!" Seijuurou menggeleng kuat-kuat. Giginya bergemeletuk, menahan tremor. "Jika kau lakukan itu, semua akan sia-sia. Tidak ada gunanya aku menghindar selama ini."

Seijuurou memang keturunan Akashi yang paling aneh. Satu-satunya wadah sang naga yang memberontak untuk tidak mencari sang mempelai. Dia lebih rela menanggung rasa sakit sendiri.

"Tapi…"

"Jangan membantahku!" Seijuurou membentak lagi. Tanpa sadar melimpahkan kemarahannya dalam satu larangan itu. Sadar sikapnya keterlaluan, nada suaranya kemudian mengecil. "Kau tidak mengerti, Shuuzou. Dan kuharap kau tidak perlu mengerti."

Seijuurou tahu benar seperti apa rasa sakit saat ditinggalkan. Dua puluh lima tahun ia hidup bersama ayahnya dan ia selalu melihat luka di sana. Masaomi yang perkasa, Masaomi yang tak pernah mengeluhkan apapun juga. Sejak kehilangan istrinya, ia terluka. Hancur.

Dan Masaomi mungkin menjadi gila. Ia memandang Seijuurou bukan sebagai seorang putra. Seijuurou hanya seorang penerus. Tubuh baru bagi sang naga.

Kapan ia pernah dipuji ketika melakukan sesuatu dengan benar? Tidak pernah. Seolah wajar baginya untuk mampu melakukan itu karena ia adalah keturunan manusia setengah dewa.

Kapan terakhir ayah memeluk dan menciumnya? Mungkin ketika ia masih bayi dan belum menunjukan bahwa dia tak bisa dibentuk seenaknya—sekalipun oleh ayahnya.

Seijuurou yang beranjak dewasa tanpa kasih seorang ibu hanya mengerti bahwa cinta adalah subtansi yang sangat aneh. Sebuah bentuk lain keegoisan tanpa batas. Sebuah obsesi yang melampaui akal sehat.

Ayahnya tampak bahagia ketika menyadari waktu akan menyentuh keabadiannya segera setelah ia memiliki putra. Menariknya dari dunia yang hidup dan mempersatukannya dengan kekasihnya di alam baka.

Kutukan yang ditimpakan ribuan tahun silam itu sungguh terlalu keji.

"Bagaimana mungkin aku tidak mengerti?!" Nijimura lepas kontrol pada akhirnya. Reo dan Himuro menatapnya tanpa bicara sepatah katapun. Chihiro membuang muka. Himuro tampak kaget karena ini pertama kalinya ia melihat Nijimura berani bersikap begitu kurang ajar.

"Aku mengenal anda sejak aku kecil. Aku sudah tahu rasa sakit macam apa yang selalu menghantui anda!" Emosi, Nijimura memukul dadanya sendiri. "Kini sang naga tak bisa lagi dikekang setelah bertemu langsung dengan sang mempelai. Seijuurou-sama…"

Nijimura berlutut di sisi pembaringan Seijuurou. Memohon. "Biarkan sang Naga menemui kekasihnya. Dengan demikian maka—"

"Apa kau tahu…" Seijuurou memotong kalimat Nijimura. "Apa yang akan terjadi jika aku… bersatu dengannya?"

Jawab yang mengalir dari mulut Nijimura terbata-bata. "Aku… tahu."

"Dan kau pikir aku mau?"

Seijuurou jarang marah. Nijimura bahkan tak pernah melihatnya menaikan nada suara sedikitpun sebelum kasus ini terjadi.

Tapi kali ini semua sungguh berbeda.

Hanya karena menyinggung bahwa Seijuurou seharusnya tidak menghindar, Nijimura harus terima dirinya dipandang dengan amat hina. Seolah ia mahkluk paling bodoh di muka bumi.

"Maafkan saya." Nijimura menarik diri. "Saya salah bicara."

Seijuurou mengibaskan tangannya. "Kau tidak berguna di sini, Shuuzo. Keluarlah. Aku akan memanggilmu jika memang aku butuh sesuatu."

"Baik."

Nijimura menghela napas panjang di balik pintu geser. Membatin.

Sebagai seorang pribadi yang terpisah dari jabatannya sebagai kepala kuil, Nijimura tahu, tidak mudah mengambil keputusan untuk mencintai disaat dia tahu cinta itu akan melukai. Di sisi lain, sebagai pengemban tugas, dia rasanya ingin sekali mendorong Seijuurou agar sadar untuk tidak melarikan diri dari takdirnya.

Apakah tidak cukup, dua abad menanggung sakit sendiri? Bukankah sejak awal Dewi Matahari menciptakan kutukan itu untuk dibagi?

Kenapa harus kerasa kepala?

.

.

Tetsuya terbangun dengan jantung berdebar. Air mata meleleh tanpa bisa ia tahan. Di luar, hitam masih setia mewarnai langit. Angin berhembus cepat, membuat dedaunan di pohon saling bergesek ribut.

Seijuurou dalam mimpinya terluka. Hancur dicabik sang naga.

Tetsuya tak bisa menolongnya. Ketika ia ingin berlari, menghampiri ia yang dikasihi jiwanya, ia tak mampu bergeming. Dari tempatnya berpijak, tali-temali asing mengikatnya kuat. Pita merah membelit dan perlahan berubah menjadi akar dan ranting-ranting tajam menggores luka.

Ia terperangkap. Terpasung sempurna di batang pohon sakura besar yang bunganya berguguran; mencipta hujan kelopak merah muda. Hanya bisa terdiam menyaksikan bagaimana dari dalam tubuh Seijuurou, sesosok pria berusaha keluar memisahkan diri. Dari punggung yang terluka, bayangan pria yang nyaris transparan itu keluar. Tegap berdiri, meninggalkan Seijuurou yang masih mengerang sakit lalu menghampiri Tetsuya.

Mereka sama. Sekaligus berbeda. Mereka adalah dua sisi dari keping uang logam. Bertolak belakang namun saling melengkapi.

Pemuda berambut merah panjang yang keluar dari tubuh Seijuurou itu mengusap pipinya. Lembut. Seolah Tetsuya adalah kaca ringkih yang mudah retak apabila salah disentuh.

Jari jemari pucat dengan kuku-kuku putih runcing mengyisir rambutnya.

Lagi-lagi. Tetsuya merasa tubuhnya bukan miliknya sendiri. tidak ketika rambut dalam genggaman sang naga begitu panjang dan halus. Rambut seorang wanita.

Ujung rambutnya dikecup lama. Mata terpejam erat. Ekspresi pria itu seperti ia tengah menahan rindu yang teramat dalam dan mendamba untuk dibebaskan.

Bibir pria itu mengeja.

Tetsuya menangis semakin keras ketika ia mengingat suara itu.

"Aku merindukanmu. Hati dan jiwaku sakit ketika jauh darimu."

Kenapa? Kenapa Tetsuya tidak berdaya seperti ini?

"Kembalilah padaku… Seperti aku pun ingin kembali padamu."

Betapa Tetsuya ingin kembali padanya. Ia juga memerlukan kebebasan dari rindu yang aneh ini.

Pintu kamar diketuk. Tetsuya buru-buru menghapus air mata yang membasahi pipi.

"Tetsu-chan?" Suara ibunya terdengar khawatir.

"Ibu?"—ia bertanya dengan suara serak yang diusahakan setenang mungkin. "Ada apa?"

Alih-alih menjawab, ibu Tetsuya membuka pintu. Sang ayah pun ada di belakangnya. Keduanya menatap putra mereka. Cemas.

"Kau baik-baik saja?"

"Aku…"—jeda—"… hanya bermimpi buruk."

Ibu Tetsuya menghampiri anaknya dan segera menghambur memeluknya. Tetsuya tertegun. Kapan terakhir dia didekap sebegini erat?

"Ibumu khawatir." Ayahnya berkata seraya menutup pintu. Di sisi Tetsuya, pria tua dengan warna mata identik itu duduk, menggenggam tangannya.

"Kenapa…"

"Kalian ini benar-benar ibu dan anak bukan? Ibumu bermimpi kau pergi jauh. Jauh sekaliii. Dan kau di sini menangis."

Tetsuya baru menyadari tubuh ibunya gemetar.

"Maaf…"

Untuk apa dia meminta maaf? Entahlah. Dia hanya ingin mengucapkannya saja.

"Tak apa, Tetsuya." Ayahnya menjawab. "Ingatlah kalau kau punya masalah, kami ada untukmu."

"Aku tahu…"

Mungkin—hanya baru 'mungkin'—ibunya tahu bahwa Tetsuya akan segera pergi.

Tidak. Tetsuya ingin pergi. Dia harus pergi.

Ke tempat Seijuurou.

Persetan Nijimura mungkin akan mengusirnya. Dia tidak mau tahu bahkan jika Seijuurou sekalipun tidak menghendakinya ada di sana.

Ia ingin berada di sisi Seijuurou. Melegakan rindu yang menyesakkan ini.

.

.

"Chihiro…"

Panggilan itu membuat sang Shiki mendekat.

"Ya?"

Tangan Seijuurou yang sebelumnya meremas seprai putih kini beralih mencengkram ujung kimono Chihiro.

"Dia… akan datang." Napas tersengal. Seijuurou berusaha agar titahnya tersampaikan dengan jelas. "Lakukan apapun."

Chihiro mendengarkan penuh perhatian.

"Ingat, Chihiro… Ukh… Uhuk!" Seijuurou menutup mulutnya saat ia terbatuk. Darah menciprati seprai. Chihiro berinisiatif menarik bantal itu untuk mengganti kain pelapisnya. Pada saat yang sama Seijuurou mencengkram pergelangan tangannya keras. "Apapun!"—ancaman kental dalam nada bicaranya— "Agar dia tidak menemuiku."

Anggukan singkat.

"Saya mengerti…"

.

.

Pagi hari. Pukul tiga. Matahari masih enggan menyapa langit Tokyo tapi Kuroko Tetsuya sudah bersiap-siap untuk keputusan besar dalam hidupnya.

Dalam ruangan yang sunyi, Tetsuya bergerak tanpa menimbulkan suara. Untuk kali terakhir, ia mengisi tempat makan Nigou—anjing mungil penurut peliharaan keluarganya—dan mengusap anjing yang tertidur lelap di keranjangnya di sudut ruang keluarga. Putra kebanggaan keluarga Kuroko itu menatap penjuru isi rumah baik-baik seolah ingin mematrikan semua dalam memori.

Ia akan meninggalkan tempat ini. Rumah yang menjadi saksi bisu bagaimana ia bertumbuh dewasa.

Perlahan, ketika melewati koridor, ia memutar kenop pintu kamar tidur kedua orangtuanya. Mengintip sedikit untuk melihat ayah dan ibunya tertidur lelap tanpa tahu bahwa saat mereka membuka mata mereka nanti, putra mereka sudah akan pergi.

Pahit memang. Tapi Tetsuya sudah memutuskan.

"Aku sayang kalian…" bisiknya sebelum kembali merapatkan daun pintu.

Sebuah surat beramplop putih diletakan di atas meja makan keluarga Kuroko. Ditulisnya dia depan surat dengan baik-baik 'Untuk Ayah dan Ibu'. Di depan altar untuk mendoakan sang nenek, Tetsuya menyempatkan diri memasang dupa baru dan berdoa.

Aku tahu keputusanku bukan keputusan yang baik. Ini pun tidak mudah untukku. Tapi kuharap kalian masih sudi memaafkan aku.

Karena Tetsuya sudah tidak kuat lagi. Bermalam-malam bermimpi, menyaksikan Seijuurou menderita seorang diri.

Ia tahu ia harus ada di sana. Hanya ia yang bisa menyembuhkan semua derita Seijuurou.

Udara pagi dingin menusuk. Lampu jalanan bukan sumber penerangan yang cukup bisa diandalkan dalam kelamnya fajar. Namun Tetsuya sudah bisa melihat warna langit mencerah. Merah merekah perlahan menyapu langit. Seperti bunga yang siap berkembang. Waktunya tinggal sebentar lagi.

Dia menyempatkan diri mampir ke apartemen Ogiwara. Tujuannya sederhana, meletakkan surat yang sama seperti yang ia tuliskan untuk kedua orangtuanya.

Tetsuya tidak yakin Ogiwara rajin mengecek kotak surat, maka ditinggalkannya juga sebuah pesan suara untuk sahabat kecilnya itu. 'Cek kotak suratmu'—demikian isi pesan yang ditinggalkannya dengan nada datar. Bukan tidak mungkin Ogiwara akan mengira Tetsuya sedang bercanda saja.

Dia bukan pemuda yang pandai berkata-kata memang. Tapi dia tahu benar bagaimana bersopan-santun menyampaikan maksudnya.

.

.

Aku hanya ingin kalian tahu, pergi seperti ini bukan keputusan yang mudah bagiku. Sebaliknya, ini sangat sulit. Tapi hanya aku yang bisa.

Aku tidak mungkin menjelaskan apa yang ingin kulakukan. Kalian tidak akan percaya.

Aku hanya ingin minta satu hal; relakan aku. Aku punya alasanku sendiri. Dan aku akan merasa berdosa seumur hidup apabila tidak mengambil kesempatan ini. Maafkan karena aku begitu kurang ajar, baik sebagai seorang anak maupun seorang sahabat.

Aku menyayangi kalian. Selalu.

.

.

Takdir memainkan kartunya dengan cara yang unik.

Tetsuya tidak punya cukup uang untuk tiket kereta Kyoto—Tokyo super cepat. Pilihannya adalah datang lebih pagi, mengambil kereta lokal jadwal pertama dan berharap tidak ada halangan agar bisa menemui Seijuurou secepat ia bisa.

Sembilan jam terasa seperti sembilan abad. Sungguh kontras dengan perjalananya dulu dengan tiket dari Ogiwara yang hanya makan waktu sekitar dua jam. Banyak cara sudah Tetsuya coba untuk mengalihkan perhatian, agar dia lupa waktu. Sulit. Pikiran dan hatinya sedang tidak mau berjalan beriringan.

Ketika memberhentikan taksi, seorang bapak menyapanya dari balik kaca jendela.

"Hei, 'nak." Ia melambaikan tangan, tersenyum lebar. "Kau ingat aku?"

"Oh…"

Supir tua itu sama dengan supir yang dulu mengantarnya ke kuil Nijimura. Syukurlah, Tetsuya tidak perlu buang-buang waktu menjelaskan destinasinya lagi.

Baru saja Tetsuya menghempaskan bokongnya ke atas empuknya bantalan kursi, pak supir melempar tanya, "Kau datang untuk festival, kutebak?"

Tetsuya mengangguk mengiyakan. Kini ia malas terlibat dalam pembicaraan tak penting. Di kepalanya, hanya terlintas bayang-bayang mimpinya mengenai Seijuurou.

"Masih ada waktu lima hari sampai perayaan besar berlangsung. Seperti tahun-tahun lalu, kami mengadakan parade keliling desa."

"Begitukah?"

"Nijimura-sama akan memimpin upacara pembukaan dan penutupan. Dia penerus yang baik. Sekalipun tahun ini cuaca sepertinya memburuk; sudah dua kali badai terjadi seminggu ini, dia tetap tekun dalam segala persiapannya. Kuharap tidak ada halangan."

Tetsuya mulai yakin bahwa—walau terlihat seperti 'itu'—Nijimura adalah sosok yang dianggap penting di desa ini. Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa ia adalah penjaga sang naga secara literal, tapi ia tetap kepala kuil yang dihormati.

Harus diakui, pertama kali melihat juga Tetsuya merasa pria itu begitu penuh wibawa.

"Aku yakin situasi akan membaik." Kepercayaan diri timbul begitu saja saat Tetsuya berkata demikian. Ia membuang pandangannya ke luar jendela, menatap awan berarak yang—lagi-lagi—tampak seperti perwujudan naga dalam pandangannya. "Pasti."

.