ROYALTY

by Gyoulight

.

.

.

.

A CHANBAEK FANFICTION

GENRE: Romance, Drama (?)

RATING: T (?)

.

.

.

.


Tamparan dan umpatan Wendy terdengar begitu menyakitkan di telinga. Ini adalah kali pertama Baekhyun mendengar keseluruhan isi kamus umpatan gadis itu. Entah karena tersumpal apa, secara mendadak batinnya paham perasaan Chanyeol yang wajahnya ia tinju hari itu. Satu tamparan saja rasanya bisa sepanas ini apalagi sebuah tinju yang dibuat oleh tangannya, demikian perbandingan yang mengorbit dalam pikiran. Sia-sia saja memikirkan hal tidak penting.

"Maafkan aku─" mohon Baekhyun terdengar tidak berperasaan. Sialnya ia tidak bisa melakukan apapun selain memohon pengampunan. Baekhyun benar pemuda dungu, sudah ratusan kali ia mengutuki diri namun tetap saja tidak mengubah apapun.

"Sebegitu takutnya kau diajak menjadi gay olehnya?" Setelah menyaksikan kekosongan mobil Chanyeol di jalan lenggang itu, Wendy kini memahami situasi. Namun gadis itu berakhir menjambak rambut pendeknya yang basah. Frustasi menghadapi seorang teman yang tanpa berpikir ratusan kali akan menciumnya. "Oh, sial! Aku tidak percaya, seorang teman sekarang menciumku di bawah hujan. Dan aku menyesal karena itu kau! Seharusnya aku melakukannya dengan pria keren di luar sana!"

Wendy berakhir hancur berantakan, tidak bisa diam kakinya lalu-lalang di atas aspal. Gadis itu tanpa lelah berjalan mondar-mandir sambil menekan kepala. Sekali lagi sosok itu berjongkok di tepi jalan. Membuat pemandangan mereka menjadi tampak lebih gila karena terlalu lama berdiam di bawah hujan.

"Ayo pulang," ajak Baekhyun kemudian. Dirinya pun lelah dengan segala hal yang terjadi hari ini. Anggaplah ia gila, anggaplah ia bodoh. Baekhyun benar-benar sudah tidak perduli dengan kesan dirinya di mata orang lain. Game over.

Wendy mengusap wajahnya kacau. Bibirnya sudah membiru kedinginan. Susah payah gadis itu mendongak. "Aku ingin menangis, bagaimana mungkin kau melakukan ini padaku?"

Kali ini biar Baekhyun yang berubah frustasi. Ia pantas merasa bersalah soal ini. Apa pula yang ada di dalam pikirannya selama ini? Kenapa Chanyeol begitu mudah membuatnya menjadi segila ini?

"Anggap saja tidak pernah terjadi. Ini mudah." Dan siapapun setuju jika Baekhyun pantas dipanggil seorang bajingan sekarang. Tidak ada bedanya dengan Park Chanyeol yang bersikap egois untuk kepentingan dirinya sendiri.

"Mudah? Kau bilang ini mudah?!" Gadis itu beranjak marah. Ingin mengutuknya sekali lagi. "Sial, ini pertama kalinya aku kesal padamu."

Baekhyun mengambil lengan Wendy. Memohon dengan sangat untuk dimengerti. Ia tahu ia salah, dirinya juga terlalu gila mendapatkan ide seperti tadi. Tapi kali ini ia sudah menggigil kedinginan. Ia kelaparan, dan ia harus segera pulang untuk memasak mie instan. Sudah cukup bekas tamparan itu menjejak di pipinya. "Maafkan aku, please."

"Kau berhutang banyak padaku," Wendy merengek. Menjadi sangat cengeng dan juga menyebalkan di lain sisi─karena demi Tuhan, gadis itu menangis meraung di tengah jalan bersamanya. Catat, bersamanya. Bagaimana jika banyak orang yang berpikir salah soal dirinya?

"Iya, aku berhutang. Ayo kita pulang."

Sampai pada Wendy yang menangis di sepanjang perjalanan, dan Baekhyun harus mendengarkan keluhan gadis itu seperti meladeni orang mabuk.

e)(o

Chanyeol berakhir melempar tubuh besarnya ke atas ranjang. Belum membuka mantelnya yang lembab, atau mencegah rambutnya yang sedikit basah untuk menyentuh seprei. Ia lalu membuka tab yang menyisakan bunyi, membuka satu-persatu jejak emailnya. Namun tidak benar-benar tenggelam membacanya.

Untuk pertama kali Chanyeol tidak minat dengan beberapa diskusinya dengan Junmyeon. Buru-buru pulang ke penginapan tengah malam, padahal sudah dijamin dengan layanan kamar suite di deck kapal. Awalnya ia berjanji mengirim banyak dokumen pada sekertarisnya itu saat sampai. Namun sesuatu membuatnya merasa ganjil. Terlebih ketika ia melewati restoran yang ia sudah tebak akan menemukan Baekhyun disana.

Lengannya lalu melepas apapun yang berada dalam genggaman. Tidak bisa berkonsentrasi dengan cara berpikirnya yang diserang dingin, hujan dan petir. Terngiang bagaimana Baekhyun mencium gadis itu di tepi jalan. Hujan-hujanan pula. Tentu hal itu terasa ganjil baginya, bukan semata karena ia melibatkan emosinya disini. Ia hanya merasa jika Baekhyun mulai menantangnya untuk melakukan permainan inti.

Karena Chanyeol merasa bisa menaklukkan banyak orang dalam waktu kurang dari 24 jam. Jadi mengapa tidak berlaku untuk Baekhyun? Mengapa sesusah itu menaklukkan hati si pemuda?

Sekali lagi tabnya berbunyi, mendatangkan satu email yang lebih penting dari omelan Junmyeon soal pekerjaan. Sekertarisnya itu rupanya sudah bosan disibukkan menjadi penggantinya. Pria itu ingin ia kembali secepat mungkin. Tapi sesuatu yang dikerjakan Chanyeol baru saja rampung 80%. Ia tidak mungkin meninggalkan begitu saja hasil perjuangannya selama beberapa minggu ini. Kecuali ia ingin menyerah, menerima bagaimana saham mereka terjun bebas dan ayahnya menendangnya keluar sebelum mendapatkan posisi.

Sungguh Chanyeol tidak ingin mengambil resiko.

Pria dengan surai hitamnya itu kini berakhir memejamkan kedua matanya, tidak perduli dengan bom email lain yang mulai berdatangan. Yang ia butuhkan kali ini adalah pikiran tenang. Ide berjalan lancar, sekali dua pulau terlampaui. Ia tak kalah ingin cepat kembali membawa segala hal dalam genggaman. Termasuk membalik keadaan untuk berpihak padanya. Karena ayahnya tentu tidak pernah mengulur waktu untuk hal-hal serius semacam ini, jadi ia harus lebih dahulu mengambil garis mulai.

Pukul enam pagi, Chanyeol terbangun dengan leher pegal. Bahunya terasa berat karena terlalu banyak bekerja sebelumnya. Tidak ada hal lain yang ia lakukan selain masuk ke dalam kamar mandi. Menanggalkan seluruh pakaiannya kemudian menghidupkan shower. Beberapa kali ia menekan tengkuk, tapi itu tidak pernah menolong sampai ia selesai membersihkan diri.

Sambil melirik tabnya yang menyala, Chanyeol membuka lemari. Memilih salah satu yang ia suka lalu meletakkannya di atas ranjang. Menutup habis tabnya yang berteriak kehabisan daya. Alih-alih Chanyeol memutuskan untuk tidak mengambil pekerjaan apapun hari ini. Selain bersantai dengan hoodie dan mengambil lari kecil di sepanjang jalan. Tentu demi melegakan kepenatan, sebab semalam tidak sempat tertidur dalam nyenyak.

Turun dari penginapan ia berjalan dengan santai di depan. Ia pun tidak tahu jika penginapan mereka terlalu sepi saat pagi menjelang. Tidak pernah diperhatikan. Dan sudah empat hari ini ia tidak menemukan orang kepercayaan ayahnya menjejak di lantai 6. Entah kemana pria itu berkelana kini. Ia bahkan sampai menyuruh Junmyeon memeriksa dengan benar pria bernama Kris itu tanpa tujuan pasti.

Kini pelarian Chanyeol mengarah pada bayangan gate berarsitektur kuno di tengah kota. Ada banyak pejalan kaki yang melewatinya. Namun tidak banyak dari mereka yang memilih jogging dengan sepatu. Sesaat ia kembali teringat dengan sosok Baekhyun. Pemuda mungil itu pernah menunjukkannya tempat terbaik di dekat sini. Tapi Chanyeol tidak yakin jika tempat itu berada dekat dengan posisinya. Taman dengan danau kecil, Park Guel, mungkin lain kali ia bisa berkunjung.

Namun tidak bisa Chanyeol sangka ketika ia mengambil jalan kecil di dekat barisan pepohonan, ia dipertemukan kembali dengan Baekhyun bersama geretan sepedahnya. Pemuda itu berjalan menunduk menyapu aspal, tidak juga menatapnya seperti tidak ingin peduli. Di belakang kakinya rantai sepedah menjuntai putus. Barulah Chanyeol paham mengapa pemuda itu hanya menggeret sepedah di sepanjang perjalanan.

Chanyeol menunggu Baekhyun tersadar dari lamunan. Posisinya pun tidak mau pindah. Hanya berdiri patung sampai Baekhyun mendadak menghentikan sepedahnya, nyaris menabrak. Lantas pemuda itu berakhir terkejut karena menemukan dirinya sepagi ini.

"Kau mencari bengkel sepagi ini?" buka Chanyeol tenang. Tidak akan berpikir jika sosok itu akan berubah jengkel karena berlaku semaunya, seakan tidak punya masalah hidup dan juga masalah sosial.

"Bukan urusanmu." Dan sesuai perkiraan, Baekhyun kembali mendorong setang sepedahnya. Mengambil jalan yang lebih lebar untuk ia lalui, dari pada menunggu Chanyeol menyingkir dari jalan. Tidak akan pernah mungkin baginya.

Chanyeol tetap tebal muka. Kakinya melenggang ikut. Mengambil sisi kiri sepedah itu, lalu mengiringi langkah si pemuda yang seakan terburu-buru. "Sikapmu berubah buruk akhir-akhir ini."

Mendengar itu Baekhyun terdiam. Semakin tidak perduli, sebab tidak ada pembicaraan yang bisa dibagi lagi dengan Chanyeol. Merasa sudah cukup atas banyak hal buruk yang menimpanya. Dan pemuda itu tidak ingin meneruskan komunikasi mereka yang sudah susah payah terjalin.

"Tapi aku senang, karena itu artinya kita sudah saling mengenal satu sama lain─" Senyum Chanyeol terlukis. Baekhyun sudah pasti muak melihat hal itu, meski sadar semalam pun ia tak kalah bajingan. "aku si bajingan dan kau korban si bajingan."

"Kenapa kau selalu muncul di sekitarku?" tanya si pemuda menghentikan langkahnya. Masih menggenggam setang sepedah erat-erat, masih ditiup angin helaian rambutnya yang cokat. Chanyeol yang menyaksikan sekali lagi merasa tertarik. Merasa selalu terhipnotis pada setiap bagian kecil yang tidak diperlihatkan Baekhyun sebelumnya.

"Apa yang sebenarnya kau cari dariku?" Hidung mungil itu memerah. Chanyeol tahu benar jika pemuda itu terserang flu. Garis matanya bahkan sudah terlihat muram. Kantung mata hitamnya menghias pada bagian bawah mata.

Chanyeol dengan mudahnya segera tahu berapa jam pemuda itu berdiri di bawah hujan semalam. Alih-alih hal ini terasa semakin ganjil baginya. Sekali lagi bukan sesuatu yang membuatnya emosi karena lelah menyaksikan pemuda ini begitu kosong di hadapannya. "Akupun lelah bertanya, dari belasan juta orang di Barcelona, kenapa harus kau orangnya?"

Mendengar penuturan jujur itu, Baekhyun membeku. Menyernyit keningnya mengukur maksud dari semua kalimatnya. Dan lucu saja bagi Chanyeol. Sesuai rencana, Chanyeol merebut sepedah itu dari empunya. Membawanya kabur, melangkah dengan banyak geretan.

"Aku tahu sebuah tempat," ujar Chanyeol tidak perduli. Sekalipun Baekhyun menahan sepedahnya, ia tulus ingin membantu untuk yang satu ini. "Jika aku minta maaf soal malam itu, apa kau─"

"Kumohon, jangan menggangguku," potong Baekhyun melarang. Menarik kembali sepedahnya untuk digeret pergi.

"Aku minta maaf," ucap Chanyeol cepat. Seakan tidak punya waktu bertutur, mengejar kembali langkah Baekhyun yang mengalun begitu cepat.

Yang kemudian sosok itu berdecih. Mata bulan sabitnya begitu cepat mengoyak. Chanyeol pun sukses tenggelam, tidak mampu ditolong siapapun saat sosok itu menatapnya.

"Aku sudah bilang bahwa aku menyukaimu. Dan aku tidak pernah perduli pada pandangan orang lain mengenai pernyataanku. Selama ini mereka selalu patuh, sekali aku bilang 'ya', maka mereka akan tahu bahwa aku akan tetap mengatakan 'ya'," jelas Chanyeol menghentikannya.

"Lalu apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus menciummu juga, memelukmu seperti pasangan menjijikkan di ujung sana?" Gurat emosi Baekhyun memuncak. Chanyeol bahkan mengaku sudah siap untuk tiap ledakannya. Karena ia tahu kapan harus bermain, kapan ia harus berbuat baik. Akan sangat mudah baginya menghadapi Baekhyun yang penuh keluguan.

Senyum kecil Chanyeol mengembang. Pria itu rupanya masih mencari sorot gemetar Baekhyun yang hilang. "Dengar Baekhyun, kau hanya tidak pernah berada di posisi salah satunya. Kau berani berbicara demikian karena kau tidak pernah tahu rasanya. Kau hanya berbohong untuk sesuatu yang kau anggap biasa."

"Aku berkencan dengan Wendy─"

Tidak ada kata selain kalimat sederhananya. Namun melihat bagaimana pemuda itu tertunduk Chanyeol kembali menjadi seorang pencari tahu. Sedikit tidak ia menggarisbawahi bagaimana seharusnya sosok itu berekspresi. Terlebih kala mengatakan kalimat penting, sepenting pengumuman sebuah hubungan. Tapi yang ia temukan hanya Baekhyun yang tidak terlihat bangga akan itu.

Chanyeol mendekat, merampas sepedah pemuda itu pergi. "Aku tidak peduli. Sekalipun kau menciumnya di depan mataku seperti semalam." Pengakuan itu lalu membuat lawan bicaranya terdiam. Menatapnya mencari maksud, sulit membuktikan bahwa kalimatnya tidak sedang mengada-ngada.

Untuk kesekian kalinya, Baekhyun kembali bertanya. "Apa yang sebenarnya kau cari?"

Chanyeol terdiam sebentar. Mengamati sepasang bening Baekhyun yang meledak di hadapannya, lengkap dengan getaran tangan yang halus. Terlalu kentara menghindari tatapannya. "Semuanya," jawabnya kemudian membuat sosok itu berkedip. "aku ingin mengambil banyak hal darimu."

Entah darimana semua kalimat miliknya kini, mengapa ia menjadi sepuitis ini hanya karena Baekhyun? Pemuda naif yang dimanfaatkannya ini saja sampai tidak bisa menyadari betapa memuakkannya kalimat itu.

e)(o

Baekhyun mematung dalam genggaman jemarinya. Terduduk ia sambil menunggu dinding bengkel kecil di salah satu sudut Gracia. Sepedahnya telah masuk ke dalam bangunan bengkel. Menunggu operasi bedah sepedahnya yang rusak dengan sabar hati. Terlebih bersama sosok Chanyeol yang masih duduk di sampingnya. Semakin canggung saja dengan jarak yang dibuat.

Pria tinggi bertelinga lebar itu sempat memberinya sekaleng minuman. Tidak mengatakan apapun saat kaleng itu pindah ke dalam genggaman. Suara-suara pagi tidak tercegah mengiring terbang di atas kepala. Mengisi keterdiaman mereka yang seakan saling memunggungi. Tidak juga berminat membuka pembicaraan, padahal sudah duduk bersisian.

Baekhyun akhirnya meletakkan kaleng minum itu ke sisi kosong kursi. Merogoh saku sebentar untuk ia temukan getaran ponselnya. Bertepatan dengan itu, Chanyeol ikut membuka suara. Takut terlalu bosan karena hanya berdiam diri seperti orang aneh.

"Dari pacarmu?" tanyanya tepat. Tidak salah sebenarnya. Baekhyun akui jika pria itu pintar menebak sesuatu, karena Wendy baru saja memberi pesan. Baekhyun tahu, ia harus segera kembali dengan masalah sarapan pagi walaupun tidak lapar.

"Kapan kau akan pulang?" Pertanyaan itu kini keluar dari mulut Baekhyun. Sudah bosan terbendung sendiri akibat Chanyeol yang tidak kunjung pulang meninggalkannya. Sebab jarang terjadi pria itu melewatkan sarapan hingga sesiang ini.

"Entahlah," Chanyeol dengan santai menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Menikmati minumannya dengan biasa saja, tanpa merasa keberatan menunggu. "begitu kau mau berbicara denganku aku jadi betah."

Baekhyun kepalang bosan. Mau berapa kali Chanyeol menjawab, ia tetap akan bertanya hal yang sama. Seolah hal ini tidak mudah baginya untuk percaya. Karena tidak ada yang bisa dipercaya dari orang asing, bukankah begitu? "Kau pasti bercanda."

Chanyeol menoleh. Dari jauh, jernih maniknya yang hitam berhasil memenjarakannya. Seolah kedua bongkah itu lautan tenang yang berarus deras di bawahnya. Menipu daya.

"Soal?"

Mendadak Baekhyun menghindar. Ia beralih pada kedua genggaman tangannya. Menikmati bagaimana sangkaannya lumer, menghiasi jenuh otaknya yang lelah berpikir. Lelah bertanya dimana ujung dari semua terkaannya. Karena Chanyeol sendiri benar-benar sulit dibaca. Entah karena dia pria beristri atau pria normal pada umumnya. Terlalu membingungkan bagi Baekhyun yang menilai.

"Tentu saja kau bercanda. Apa kemarin hari ulang tahunmu? Atau besok kau akan pulang?"

Tapi manik itu kembali mengisinya. Membawanya semakin tenggelam memasuki arus. Meyakinkannya lebih dari keras, tidak seperti bayangannya sendiri. "Aku akan menjawab jika kau menjawab pertanyaanku─" Bicara Chanyeol tegas yang bahkan membuat Baekhyun meluntur. Sosok itu lebih dari mendominasi. Berhasil menekannya menjadi sosok yang harus mendengar.

"yang semalam apa termasuk bercanda?"

Baekhyun sukses teringat dengan bayangan semalam. Sedikit menggigit bibir bawahnya sebentar, ia menjawab, "Aku serius."

Tanpa disangka senyum Chanyeol kembali menghias. Seindah pujian Baekhyun soal profil Chanyeol di kali pertama mereka jumpa. "Kalau begitu aku lebih serius," jawabnya meminum sisa minuman.

Dan jujur, Chanyeol terlalu menawan bagi Baekhyun. Ia memuji sebagai kenalan yang baik. Tidak bisa lebih karena ia tidak mungkin melewati batasannya sendiri. Dan kalaupun memungkinkan, ia tidak mungkin melakukannya. Sebab Chanyeol terlalu gila untuk ia perturutkan emosinya.

"Tidak bisakah kita seperti kemarin saja? Aku bisa melupakan hal yang terjadi sebelumnya."

Chanyeol berkedip. Menjelajahi binernya, mencari keyakinan diri yang bersembunyi. Entah mendapatkannya atau belum, sampai pria itu bertutur, "Aku dengan senang hati akan pergi jika kau ingin. Tapi kau harus tahu satu hal, kita tidak akan bisa bertemu kembali."

"Chanyeol─"

Sungguh Baekhyun tidak suka suasana seperti ini. Terlalu berat baginya. Hal ini pun terlalu aneh jika semua orang mau berpikir. Mana ada seorang pria tiba-tiba jatuh hati pada pemuda sepertinya. Ia tidak menarik, dan tidak perlu dijelaskan soal ia yang tidak bersahabat pada hal yang 'menyimpang'. Ia tidak bisa menghadapi hal-hal seperti ini.

"Aku hanya ingin memberitahumu," sambungnya.

Tapi Chanyeol seseorang yang keras kepala. Sangat terlihat dari bagaimana pria itu bekerja dan bagaimana tiap kali ia menyuarakan pendapat. Posisi Chanyeol selalu dianggap benar, terbiasa dengan itu sampai tuli untuk mendengar pendapat yang lain. Wajar mungkin, karena ia terbiasa memimpin.

"Jika kita tidak bisa kembali seperti kemarin, jangan menggangguku," mohon Baekhyun akhirnya. Namun entah bagaimana seperti ada yang mengganjal. Seperti perkataan Chanyeol akan sepenuhnya benar. Seolah berhasil menelannya dalam tulisan masa depan, dimana ia akan mengalami hal itu kelak. Seperti pertanyaan-pertanyaan mengganggu, ia mungkin saja sudah dicuri hatinya oleh pria itu.

"anggap saja kita tidak pernah saling mengenal."

Tatapan Chanyeol semakin dalam. Terlihat lebih serius setelah mendengarnya membuat peraturan. "Aku mengatakan ini jika kau menarik kembali kata-katamu. Aku akan berada di kapalku minggu depan. Naiklah jika kau berubah pikiran."

Baekhyun ingin menjawab. Ia ingin menjawab jika ia tidak akan berubah pikiran. Tapi entah mengapa rasanya begitu meyakinkan. Ia begitu mudah hanyut dalam kepingan itu.

"Senang mengenalmu, Baekhyun," ujarnya sebelum beranjak pergi.

e)(o

Sepulang dari kantor, Chanyeol langsung membuka pintu lemari. Mencari letak koper besarnya, kemudian memindahkan banyak pakaian ke dalam benda itu. Tangannya yang pegal kini membeku kala ia tarik pakaian santainya dari rak teratas. Terpikirkan saja jika malam ini bukan waktu yang tepat untuk berbenah.

Chanyeol sekali lagi mengawang pada pemikiran-pemikiran abstrak. Ia terus bertanya tentang mengapa ia berada disini─selama ini? Lalu apa yang ia lakukan sejak menginjak di Barcelona? Terlebih bertanya mengapa ia menjadi sekacau ini dalam melakukan sesuatu? Awalnya ia berpikir akan baik-baik saja, hanya perlu menyelesaikan beban pekerjaan lalu berlayar ke New York dengan damai. Tidak ada yang rumit dari keduanya.

Perihal adiknya, ia jadi mengakui jika ia tidak pernah memikirkan hendak melakukan apa. Chanyeol mungkin buntu, ragu sendiri jika ia memutuskan untuk mengikuti intuisinya. Menyingkirkan Baekhyun atau membuatnya hilang dari dunia hanya karena sebuah harta, bukankah terlalu gila? Sejak kapan kemenangan ini penting baginya? Dia adalah Chanyeol, bukan Sehun maupun Jongin.

Lalu bukankah Chanyeol adalah seorang bajingan? Mengapa pula ia bisa luluh hanya karena Baekhyun percaya padanya?

Menemukan potongan kertas yang terjatuh di lantai, ia jadi teringat pada hadiah yang seharusnya ia berikan pada Baekhyun. Selembar tiket kapal, mereka tentu bukan benda yang sulit didapatkan bagi Chanyeol. Baekhyun pernah menginginkannya hari itu, mengingat Chanyeol benar belum memberi hadiah apapun.

Maka Chanyeol menutup kembali lemarinya. Langkahnya yang panjang lalu kembali diayun. Sebuah ponsel ia tempelkan di telinga. Meminta asisten kantornya melakukan sesuatu yang sedikit mudah. Chanyeol ingin membuat reservasi khusus.

Keluar dengan mobilnya, pria itu menelusuri jalanan kota. Melewati banyak bangunan megah di sisi kiri, sampai pada ia yang menemukan restoran kecil. Malam pun terasa semakin dingin ketika ia mematikan mesin. Sebelum menarik gagang pintu mobil ia lalu menemukan bayangan Baekhyun yang baru saja keluar dari pintu restoran.

Diez Buenos baru saja tutup, lampu-lampunya dimatikan hingga menyisakan lampu di bagian depan. Kali ini Baekhyun kembali tidak membawa sepedahnya. Pemuda itu menyisir jalanan remang penuh lamunan. Melewati mobilnya begitu saja.

Namun yang lebih mencurigakan adalah sosok hitam yang berdiam di cela gedung, kembali mengikutinya. Mengambil jarak tiga meter di belakang Baekhyun, tanpa takut ketahuan. Hal itu membuat Chanyeol teringat pada sosok pria bertopi yang terakhir kali didapatinya mengawasi Baekhyun.

Chanyeol lalu memutuskan untuk turun dari mobil. Dengan hati-hati ia mengikuti kemana langkah wujud misterius itu. Jalanan yang ia lewati mungkin terasa begitu sunyi saat malam, hanya terdengar sisa musik dari jendela-jendela bar. Hal itu memudahkan Chanyeol untuk mengendap. Namun ketika sampai di persimpangan, pria serba hitam itu tiba-tiba berlari meninggalkannya. Mengambil arah yang berbeda dengan Baekhyun yang kini sudah sampai di jalan besar. Pikir Chanyeol memang sedang tidak beres. Pria itu tentu menghindarinya karena takut ketahuan.

Lantas Chanyeol mengejar sosok itu masuk ke dalam jalanan kecil. Melompati tiap hambatan sampai menabrak bak sampah besar, lalu memasuki gang-gang sempit penuh gelap. Chanyeol bahkan mengakui jika pria itu mahir melarikan diri. Lelah dan pegal tiada bosan menghantam pelariannya. Namun tidak menyerah Chanyeol mencoba untuk mendahului si penguntit.

Sampai pada lengannya yang menarik kuat jaket pria itu, pelarian mereka melambat. Chanyeol menggunakan kesempatan itu untuk meraih si pria misterius. Membuat tubuh itu terjatuh ke tanah lembab. Lengkap dengan pukulan-pukulan kejam. Chanyeol berhasil melumpuhkan pria itu setelah bertarung cukup lama. Beberapa perlawanan tentu tidak bisa dihindari. Chanyeol mendapatkan dua pukulan mentah di bagian pipi. Dan ia cukup marah karena tidak suka jika esok hari harus meeting dengan penampilan babak belur.

Sebuah ponsel kemudian ia rampas dari saku si pelaku. Sebuah pijakan kuat pun ia hantamkan pada punggung tak berdaya itu. Menemukan satu nomor bernama 'Park' di ponsel 3G itu lantas membuatnya bertanya-tanya. Bukankah jelas jika ini adalah sesuatu yang berbahaya?

Chanyeol mendial sederet nomor itu tanpa berpikir. Namun panggilan itu tidak kunjung mendapatkan suara. Sampai pada ia yang ditendang, terhantam kuat ke tanah, barulah Chanyeol sadar bahwa ia lengah.

"Siapa yang mengirimmu?" tanya Chanyeol segera bangkit. Kembali mengejar pria itu pergi. Namun perih di bagian perutnya begitu menyiksa. Ia berakhir tidak berdaya di bawah tiang listrik. Dan sialnya, pria itu cepat sekali menghilang.

"Bagaimana?"

Ponsel itu lalu mendapatkan jawaban. Chanyeol buru-buru mengangkat ponsel tua itu dari atas tanah. Mendengar kembali tiap kata seseorang di seberang sana. Sebuah keterkejutan kemudian menghampiri, raut Chanyeol kini berubah mengeras. Ada suara yang begitu ia kenal disana.

e)(o

Empat hari sudah Baekhyun menghitung ketidakhadiran Chanyeol di restoran. Hatinya sedikit tenang melewati pagi. Lebih leluasa rasanya ia mengitari semua tempat yang dilihatnya. Wendy mungkin menanyakan hal yang sama seperti Jongdae hari ini. Mereka mengatakan 'ada apa' sampai pria itu tidak terlihat. Namun anehnya pertanyaan itu sedikit mengganggunya. Melenyapkan ketenangannya soal Chanyeol yang tidak akan terlihat kembali, seperti perkataannya tempo hari.

Keanehan demi keanehan lalu mengganggunya ketika ia tidak menemukan pintu penginapan Chanyeol terbuka saat ia mencoba mengunjungi Kris kemarin sore. Tidak ada pertemuan yang kebetulan kemudian. Sosok Chanyeol benar-benar seperti lenyap begitu saja. Bagai buih lautan pria itu hilang, tapi Baekhyun terus merasa ingin bertanya.

Ia lalu kembali mendapati pria asing mengunjungi restoran. Baekhyun ingin bergegas menyambut. Tapi langkahnya membeku, melihat tampilan pria itu membuatnya teringat banyak hal soal Chanyeol. Baekhyun pun menggenggam erat notenya, berbalik seolah tidak menemukan pelanggan. Membiarkan rekannya yang lain melayani daripada terus dibayangi Chanyeol yang hilang. Ia pun telah bertekad tidak ingin berurusan dengan pria asing mulai sekarang.

Hari terus berputar, berotasi, menukiknya tajam kala malam mulai tenggelam. Baekhyun memilih pulang terlambat, mengabaikan ajakan pesta semua rekan restoran yang penuh harap menginginkan ia datang. Kepalanya habis ditekan pening, entah karena ia terlalu kelelahan atau yang lainnya. Wendy sampai menitipkan obat sebelum pergi, menepati janjinya untuk tidak memberitahu Kris soal ini.

Untuk sesaat, matanya beralih pada buku bacaannya yang menganggur di atas nakas. Ia teringat bahwa ia belum juga menyelesaikan diary mendiang ibu Chanyeol yang seharusnya ia kerjakan. Padahal ia sudah mendapatkan bayaran untuk itu, lantas mengapa ia berubah menjadi tidak bertanggung jawab soal ini? Terlebih ia pernah menemukan sesuatu di dalam sana, sebuah baris kode yang entah akan cocok untuk apa.

Baekhyun mengambil minum. Mendengar dengan jelas bagaimana ponselnya berdering dengan kejam. Ruang apartemennya serasa terbelah, belum lagi dengan segala pusing yang menerjang kepala. Baekhyun mengusap wajahnya tenang, mengambil ponsel tanpa melihat dengan jelas nama si penelfon.

"Brian, aku harus ke suatu tempat hari ini, aku tidak bisa menjemputmu." Suara itu menggema begitu cepat di telinganya. Terdengar buru-buru, seperti tengah dikejar sesuatu.

"Tidak masalah, lain kali saja." Dan kali ini Baekhyun harus maklum soal itu. Ia tahu benar kalau pria yang menelponnya adalah sosok super sibuk. Tidak pernah punya waktu bermain-main lagi seperti dahulu. Lagipula ia sedang dalam kondisi tidak memungkinkan, akan lebih melegakan jika Kris membatalkan janji mereka lebih dahulu.

Suara Kris lalu melembut. Sepertinya pria itu sudah mendapatkan mobilnya untuk ia bawa lari. "Aku akan membelikanmu boneka beruang nanti." Pria itu tertawa renyah. Sempat-sempatnya menggoda dengan lelucon garing.

"Aku lebih suka ayam dari pada boneka," hardik Baekhyun tak suka. Serius, ia bukan Wendy yang tergila-gila dengan boneka. Ia sudah dewasa untuk mendapatkan hadiah mahal sejenis jam atau benda yang pria lain inginkan. Bukankah mudah? Kris punya banyak uang dan tidak perlu berpikir jenisnya karena ia seorang pria. Seharusnya pria itu tahu apa yang ia inginkan.

"Baiklah, aku tutup," ucapnya terkekeh.

Tepat saat itu, bel pintu berbunyi ribut. Baekhyun pun menebak jika Kris bercanda soal dirinya yang tidak bisa datang. Ia seharusnya tahu jika Kris selalu berhasil membodohinya. Pergi kemana lagi pria itu jika tidak ke apartemennya, lalu membawa sekotak ayam goreng?

Dengan gurat kesal, Baekhyun menarik gagang pintunya. Ingin segra komplain soal keributan memuakkan dengan bunyi sekelas bel pintu. Hal yang menyebalkan bagi Baekhyun, sebab ia bersumpah dapat mendengar bel itu walaupun sekali ditekan.

"Kris─"

Senyum Baekhyun perlahan luntur. Lorong remang apartemennya begitu jelas menjelaskan kehadiran pria tinggi lain di depan pintu. Sayangnya bukan Kris. Hanya pria tinggi bertelinga lebar dengan kemeja kusut sepulang kerja. Namun kali ini penampilan pria itu terlihat kacau. Ada beberapa noda kotor yang mengotori penampilan pria itu.

Dia, Park Chanyeol.

Dada Baekhyun bergemuruh, tatapan pria itu menangkapnya begitu cepat. Ada sebersit rasa yang menemukan dirinya ketika ia tatap sepasang hitam di depannya itu. Entah perasaan seperti apa. Rasanya seperti perutnya teraduk begitu cepat. Ingin segera meledak jantungnya dicengkram.

Chanyeol segera menariknya ke dalam pelukan tergesa. Habis menenggelamkannya di depan pintu. Menyembunyikannya cepat seakan tidak ingin dilepas. Dada Baekhyun kini kian sesak rasanya. Ia pun mendapati hangat yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Terlebih saat wajah itu tenggelam di lehernya. Ada rona panas yang seketika menjalar di pipi.

Baekhyun tidak menolak. Tidak pula bergerak ketika pelukan itu semakin mengerat. Dingin kulit Chanyeol lantas menembus kulitnya. Memberinya sensasi aneh sekaligus nyaman, begitu pula dengan deru nafas yang terdengar di telinga.

Aroma Chanyeol seakan merajainya, mengajaknya pergi ke suatu tempat dimana waktu enggan berputar. Segalanya terasa klise. Tidak ada kata, tidak ada bisikan aneh selain hening yang mengendap. Mereka lantas terdiam begitu lama sampai Chanyeol memutuskan untuk melepasnya.

Tidak ada yang aneh dari tatapan itu bagi Baekhyun. Sorot Chanyeol masih sejernih kemarin sore. Kecuali dengan gambar lebam yang menjejak di pipi itu. Entah apa yang terjadi sebelumnya, apakah Chanyeol bertengkar atau beradu pukul dengan seseorang sampai seberantakan ini. Namun sekali lagi terasa aneh, dan Baekhyun terus bertanya mengapa pria itu memeluknya kacau malam-malam begini.

Chanyeol yang selalu bisa membaca matanya terus memilih diam. Tidak pula mengatakan apapun selain bernafas lega dan berbalik pergi. Meninggalkannya seorang diri dalam kebingungan yang akan meledak.

Baekhyun tentu merasa ditipu, merasa dibodohi untuk yang kesekian kalinya. Lagi pula untuk apa Chanyeol melakukan semua ini? Bagaimana mungkin pria itu beralasan menyukainya lalu bisa berbuat begini padanya? Apa yang salah?

Lalu apa yang sebenarnya Baekhyun harapkan? Begitu pikirannya terus berputar, semakin memusingkan.

Sebuah rasa yang aneh, mungkin Baekhyun menamainya seperti itu. Ia terus merasa kehilangan. Merasa ada yang kurang di antara hari-harinya. Bahkan ketika Chanyeol kembali menghilang, ia terus tidak menemukan sesuatu yang dipahaminya. Mengapa ia terus merasa sosok itu harus berada disini? Bukankah ia senang jika Chanyeol pergi? Bukankah ia senang jika sosok sialan itu tidak mengganggu dirinya? Lalu mengapa ia merasa ada sesuatu yang hilang?

Mengabaikan penampilannya yang masih dibalut seragam restoran, Baekhyun menuruni puluhan anak tangga. Mengejar bagaimana lift yang Chanyeol gunakan turun dengan cepat. Kejaran Baekhyun terasa melepas ribuan detik. Begitu panjang, tanpa disangka terlalu lama menuang. Segera, ia harus segera bertanya. Ia harus mendapatkan jawaban atas pikiran-pikiran tak tentu. Ia harus menemui Chanyeol untuk semua jawabannya.

Jalanan sepi di depan apartemen semakin menggelap. Hanya ada satu penerangan yang berkedip di ujung. Hiruk pikuk dunia malam belum juga dimulai. Tidak ada satupun pejalan kaki yang lewat. Chanyeol hilang, tidak terlihat dimanapun. Sosok itu seakan menghilang seperti bayangan. Bukankah bodoh jika ia tengah berhalusinasi?

Langkah Baekhyun lalu turun ke jalan besar, matanya awas menatap arah jalan yang biasa ia lalui untuk mendapatkan penginapan Chanyeol. Tapi sosok itu sama sekali tidak berada disana. Hanya ada suara gonggongan anjing dan satu mobil tua yang lewat. Kemudian dingin membawa Baekhyun bergeming. Ia terus bertanya, apa yang tadi hanya mimpinya saja?

Pandangannya kini ikut mengabur, kepalanya berputar. Untuk beberapa detik kemudian telinganya berdengung parah. Seberkas cahaya merembet jarak jauh pandangnya. Ia sekilas menemukan punggung Chanyeol di ujung jalan. Langkah lalu cepat-cepat Baekhyun ayun. Namun yang mengejutkan, Chanyeol balik menatapnya panik, tak kalah berlari ke arahnya. Tidak ada lain yang dirasakannya kini selain tubuhnya yang dirasa terbang, terpental oleh gravitasi. Rasa sakit tahu-tahu menikam saat tubuhnya terlempar ke atas aspal. Raungan debu terbang menembus malam, suara roda berdecit, dan gonggongan anjing semakin keras terdengar.

Baekhyun tidak merasakan apapun sampai tubuhnya terasa remuk. Terbaring begitu saja dengan ketidakberdayaan. Namun Chanyeol mendapatkannya, menatapnya dengan tiap manik yang gemetar takut. Lantas Baekhyun mengambil lengan itu. Menariknya dalam sesak yang tidak tertahankan. Ia tidak memahami mengapa Chanyeol terus mendekapnya. Mengatakan sesuatu di dekat wajahnya tapi ia tidak kunjung mendengar.

"Baek─"

Samar. Suara itu datang lalu kembali menghilang. Gelap berdatangan. Ia tidak sempat melihat bagaimana pria itu pecah menangisinya.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

Aku kehilangan waktu untuk mengerjakan ff ini. Kangen banget bisa duduk-duduk nyelesein banyak chap. kayak dulu. Apa ini harus kulanjutkan?

Give me review~