Queridísima by Hayi Yuki

Naruto by MK

Inspired by Dr. Romantic by SBS and Hospital Playlist by tvN

Warning : may contain typo(s), grammar error(s), wrong medical term(s), etc

Happy reading ^^


Lobi sesak di siang hari bukanlah pemandangan baru di Rumah Sakit Konoha. Merupakan rumah sakit utama di kota itu, wajar jika terdapat lautan manusia sejauh mata memandang. Mulai dari pasien yang menunggu giliran mereka untuk dipanggil masuk ke dalam ruang praktik, penjenguk yang mampir sejenak di kafetaria sebelum menuju kamar pasien, atau staf rumah sakit yang berlalu-lalang mengurus pekerjaan masing-masing.

Dan diantara banyaknya manusia yang memenuhi lobi, ada satu pria yang agak mencolok perhatian. Sekilas tak ada yang aneh dengan diri lelaki itu. Rambut abu lurus sebahu, hoodie hitam dan celana hitam, serta sneakers yang jelas sudah dipakai berkali-kali.

Yang membuatnya menjadi bahan tatapan orang di sekitar adalah perilakunya. Pria itu menggigit kuku jari tangan kirinya dengan tatapan cemas, tangan kanan kuat menggenggam ponsel keluaran lama seolah itu adalah bendanya yang paling berharga. Matanya jelalatan kesana kemari, panik karena ia tidak paham mengapa semua orang memerhatikan dirinya dengan tatapan penasaran sekaligus aneh.

"Dia dimana, sih?" si lelaki terus menggumamkan hal yang sama, mencari seseorang. Gawat, ia tak suka berada di kerumunan seperti ini. Kepalanya pening dan napasnya mulai tak beraturan. Pria itu mengatupkan mata erat-erat, hingga—

"Ada yang bisa aku bantu?"

―suara ramah menyambangi indra pendengaran, membuat pria berambut kelabu ini membuka kelopak mata dan beradu pandang dengan iris biru safir, yang memandangnya ceria—tak seperti kumpulan orang di sekitarnya.

Naruto menuntun pria itu keluar dari kerumunan pengunjung rumah sakit dan mendudukkannya di kursi lobi yang agak kosong.

"Terima kasih," ujar si pria pelan, nyaris tak terdengar.

Safir tajam Naruto tak sengaja melihat foto yang terselip di bagian belakang handphone si pria, dan ia kenal salah satu dari dua orang yang tercetak di foto.

"Saudaranya Sai, ya?"

Begitu nama itu meluncur dari mulut Naruto, sontak lelaki itu mengangkat wajah dan memandang Naruto layaknya anak kecil baru diberi permen.

"Iya, itu adikku. Kau tahu dimana dia sekarang? Aku ingin bertemu dengannya," pria itu mendadak tak terlihat seperti orang yang mengidap anxiety disorder.

Ia tidak tahu detailnya, namun Naruto ingat ia pernah memergoki Sai tengah menggambar di sela-sela waktu luangnya. Si Namikaze sempat bertanya siapa orang yang menjadi objek torehan penanya, yang kemudian mengarah pada pembicaraan mengenai Shin—kakak Sai yang kini duduk di hadapan Naruto.

Ucapan Konohamaru pagi ini terngiang di kepala pirangnya. Kalau tidak salah, hari ini Sai punya shift tambahan di jam makan siang karena rekan kerjanya ada yang mengambil cuti dadakan. Ia tidak mungkin membawa Shin ke tempat Sai jika pria pucat itu masih bekerja.

Hmm, bagaimana ya?

Tidak mungkin juga dia meninggalkan kakak Sai seorang diri di lobi yang ramai ini.

Shin menelengkan kepala kala dokter pirang di depannya ini tak kunjung memberi jawaban. Pria ini kenal dengan adiknya, kan?

Secercah ide mendadak muncul di otak Naruto. "Kudengar Sai tidak bisa ditemui untuk sekarang karena masih bekerja, jadi bagaimana kalau kau ikut aku dulu ke ruang praktikku? Setelah itu, aku akan mengantarmu menemui Sai," Naruto menyunggingkan senyum lebarnya yang sanggup membuat pasien paling rewel sekalipun ikut tersenyum dengannya.

Ajakan Naruto tak serta merta diiyakan oleh Shin. Iris hitamnya mengamati Naruto sejenak. Rasanya ia pernah mendengar Sai bercerita tentang salah satu dokter di rumah sakit yang berambut pirang jabrik dan bersikap sangat kekanakan. Dilihat dari kisah Sai, sih, sepertinya Shin dapat memercayai dokter penolongnya ini.

"Baiklah, aku akan ikut denganmu," ia mengekori Naruto yang berjalan ke ruang praktik dengan siulan seolah tengah jalan-jalan di pasar malam.

.

Konohamaru berjengit saat memasuki ruang praktik dokter pediatri dan melihat Namikaze-sensei tidak sendiri. Ada pria asing yang duduk dengan canggung di ujung ruangan, diam mengamati Konohamaru yang baru menjejakkan kaki ke dalam ruangan.

"Siapa?" tanya si pria Sarutobi heran, tangannya menunjuk tidak sopan pada Shin.

Naruto mengibaskan tangan. "Tenang saja, dia kakaknya Sai. Nanti begitu Sai selesai dengan pekerjaannya, kau bawa dia ke ruang istirahatnya, oke?"

Bibir Konohamaru mengerucut. Ada-ada saja dokternya yang satu ini.

.

.

.

Sai sedang membuka kotak bekalnya di ruang istirahat kala ketukan pintu menghentikan gerakan tangannya. Meski wajahnya terlihat datar, dalam hati pria berkulit pucat itu sedikit menggerutu. Siapa sih yang mengganggu makan siangnya—yang telat?

Pintu terbuka dan Sai terperangah melihat Namikaze-sensei masuk bersama… kakaknya?

"Shin-nii?" ia berucap heran.

Shin merangsek maju dan berdiri di samping Sai.

"Kenapa ada di sini?" Sai bertanya dengan nada bingung yang rasanya baru pertama kali Naruto dengar. Maklum, selama ini si radiolog selalu berbincang dengannya menggunakan nada mengejek―yang sebenarnya tak dimaksudkan untuk menghina―yang selalu berhasil membuat Naruto berhasrat untuk menjitak kepala Sai andai tak ditahan oleh Sasuke atau Sakura.

Melihat Shin yang kini menjelaskan alasan dia mendatangi rumah sakit―untuk mengabari Sai bahwa webtoon buatannya menerima sebuah penghargaan―dan Sai yang kembali menunda makan siangnya demi mendengar lontaran kata demi kata sang kakak―not that he complained, tho―mau tak mau membuat Naruto bergerak mundur perlahan dengan senyum tipis terukir di bibir.

Setelah dirinya kembali berada di koridor rumah sakit, Naruto menutup pintu ruang istirahat perlahan agar baik Sai maupun Shin tak terganggu olehnya.

"Indah sekali, punya keluarga," gumam Naruto tanpa sadar.

"Iya, indah sekali."

Begitu terpaku dengan adegan yang baru ia saksikan lantas membuat Naruto jadi tak peka dengan keadaan sekitar. Pria berkulit tan itu melompat saking kagetnya dengan suara tambahan yang menyahut gumamannya. Di sebelah pintu ruang istirahat, bersandar kepala rumah sakit kita tercinta pada dinding dengan santai, tidak peduli dengan damage yang ia hasilkan.

"Yo, Naruto," ia menyapa Naruto dengan tenang.

"Kakashi-sensei!" Naruto membalas dengan pekikan kesal.

Kakashi terkekeh geli. Naruto ini… benar-benar mirip dengan mendiang Kushina.

"Ayo ikut aku ke ruanganku sebentar, ada yang ingin aku sampaikan padamu."

Meski tak paham apa yang harus disampaikan―dan ia juga memikirkan kesalahan apa lagi yang belakangan ini dilakukan karena seingat Naruto ia sudah bersikap sebaik dan senormal mungkin akhir-akhir ini―Naruto mengekori Kakashi ke ruang direktur.

Kakashi mengisyaratkan Naruto untuk duduk berhadapan dengannya di sofa, yang dituruti Naruto dengan ogah-ogahan. Lelaki pirang itu melipat kedua tangan di depan dada sembari menatap Kakashi malas.

"Jadi, apa yang ingin Kakashi-sensei bicarakan?" ia bertanya tanpa gairah.

Si dokter spesialis mata bukannya menjawab malah memperbaiki letak maskernya dengan kamera depan ponselnya, membuat Naruto menyipitkan mata sebal. Apa lagi sih mau Kakashi-sensei?

"Oi, ayo cepat. Sebentar lagi jam―"

"―apa yang kau pikirkan saat menyaksikan Sai dan saudaranya tadi, Naruto?"

Ini jenis pertanyaan yang tak diduga.

"Apa kau memikirkan keluargamu? Minato-sensei dan Kushina-san?"

Yang ini lebih-lebih tak terduga. Naruto menegakkan tubuh yang semula bersandar malas di punggung sofa.

"Kakashi-sensei―"

"―jawab saja, Namikaze."

Kalau Kakashi sudah menggunakan marganya, Naruto tahu ia harus menjawab dengan serius.

Punggung kembali bersandar di sofa, iris biru berubah kelam, pandangan menerawang jauh ke belakang. "Iya, aku memikirkan Tou-chan dan Kaa-chan," ia menjawab jujur. Melihat Sai dan Shin bercengkrama di ruang istirahat tadi mampu membuat Naruto mendadak merindukan hal yang sudah lama sekali terenggut darinya; keluarga.

Kakashi menatap Naruto dari seberang. Ia tahu Naruto tengah mengenang orangtuanya―yang mungkin sudah mulai hilang dari ingatan, sebab mereka meninggalkan anak itu ketika ia masih kecil―and the way Naruto looked at the past reminds him so much about his late professor's facial expression.

"Aku bertemu Minato-sensei pertama kali sewaktu aku menjalani intern di sini," tahu-tahu ia ikut mengenang masa lalu.

Naruto kembali dari lamunannya. Ia masih tak mengerti mengapa sang kepala rumah sakit mengajaknya berbicara tentang orangtuanya yang sudah lama pergi. Naruto tahu Kakashi juga mengenal baik orangtuanya―bahkan mungkin lebih mengenal mereka dibanding Naruto sendiri―namun ia tak paham kenapa Kakashi tiba-tiba menariknya masuk ke dalam ruang kepala hanya untuk mengenang Minato dan Kushina.

But still, he let Kakashi talked about his father. Because Kakashi migh've missed Minato more than Naruto himself.

"Saat itu Minato-sensei masih menjadi residen spesialis bedah. Dia benar-benar panutan diantara kami para intern, dan bahkan para profesor pun mengakui kemampuannya. Yah, Minato-sensei memang cerdas sekali," Kakashi mengisahkan sambil menatap Naruto, meski si Namikaze tak yakin seniornya itu benar-benar menatapnya atau tidak. Saat ini bisa dikatakan kalau Kakashi tengah tenggelam dalam memorinya.

Kisah berlanjut. Kakashi muda yang biasanya tak pernah tertarik untuk memberikan respek pada orang lain―bahkan pada ayahnya sendiri―pun bisa juga melanggar prinsip konyolnya itu demi mengagumi seorang Namikaze Minato. Tapi, tak ada orang di Rumah Sakit Konoha yang tak menyukai si blonde. Cerdas, berwibawa, tampan, dan masih banyak lagi kelebihan Minato. Kakashi sangat bersyukur ia dan dua temannya―Obito dan Rin―memiliki hubungan yang cukup erat dengan si residen favorit.

Dari Minato, Kakashi belajar banyak hal. Mulai dari hal berbau akademis hingga kehidupan sehari-hari, jika ia pikirkan lagi, pria pirang itu telah mengajarinya banyak sekali makna kehidupan.

Jangan lupa ucapkan terima kasih, Kakashi. Saat Kakashi diam saja meski seorang pengantar makanan telah bersusah payah mengantarkan pesanan Kakashi di tengah hujan deras.

Lihat Obito, bantu temanmu jika dia sedang kesulitan. Saat Obito mendadak lupa apa saja yang sudah ia pelajari di universitas begitu ditanyai secara tiba-tiba oleh salah seorang profesor.

Jangan kau anggap pasienmu itu tidak punya perasaan, Kakashi. Bertutur kata yang sopan dan ramah saat mereka menanyakan sesuatu yang tak mereka pahami. Saat Kakashi menanggapi pasien yang masih bingung kenapa ayahnya perlu melakukan colectomy dengan ogah-ogahan. Ini adalah salah satu dari sedikit momen dimana Minato menunjukkan ketegasan yang sanggup mengintimidasi siapapun yang berhadapan dengannya.

Kakashi dan Rin―and Obito of course, if only he survived the crash―senang sekali saat Minato-sensei mengirimkan ucapan selamat kala mereka akhirnya menyelesaikan masa internship. Bahkan staf rumah sakit saat itu, termasuk Tsunade yang belum menjabat sebagai kepala, mengakui kalau si dokter pirang dan dua anak muda itu adalah salah satu kombinasi favorit mereka.

Minato itu bagaikan orangtua kedua Rin dan Kakashi.

Dan Kakashi serta Rin selalu memastikan mereka takkan pernah melupakan jasa dokter spesialis bedah umum itu. Selalu ada di sisi dokter kesayangan keduanya.

They were there when he became a general surgeon specialist doctor.

They were there when he finally married his longtime girlfriend Uzumaki Kushina.

They were there when he got Naruto.

They were there when he left them.

For eternally.

Kakashi menengadahkan kepala seraya bersandar di punggung sofa. Ia bukan tipe pria yang mudah untuk menitikkan air mata meski dihantam kejamnya kehidupan, namun untuk saat ini rasanya tidak enteng untuk menahan diri agar tidak menangis.

At least, not when Minato-sensei's only son sat upon him with such worrines blatantly written on his face.

Naruto terdiam di kursinya, sejenak tak mampu berkata-kata bahkan untuk sekadar bertanya pada Kakashi.

Kenapa kau menangis?

Si Namikaze muda sudah mengenal Kakashi semenjak ia kecil, namun tak pernah mendengar Kakashi membicarakan orangtuanya―terutama sang ayah―disertai emosi seperti sekarang.

Lima menit berlalu hingga akhirnya Kakashi berhasil mengontrol dirinya dan tersenyum pada Naruto dari balik masker.

"Ah, maaf, maaf. Aku kelepasan," ia tertawa kikuk.

Hanya anggukan yang ia terima sebagai jawaban. Naruto masih balik menatap Kakashi, ragu untuk melakukan sesuatu karena ia tak pernah dihadapkan pada sisi Kakashi-sensei yang ini.

Beberapa detik kemudian Naruto menyesal sudah memberikan sedikit rasa ibanya pada sang direktur rumah sakit karena setelah itu Kakashi berujar, "Oh ya, dimana Sasuke?"

What a wonderful moment to mention that Teme, batin Naruto. Matanya menyipit kesal ke arah Kakashi yang pura-pura tak sadar.

Yah, maaf saja Naruto, Kakashi hanya ingin menaikkan sedikit mood di ruangan sebelum ia menjatuhkan bom yang sesungguhnya.

.

.

.

Sudah disebutkan beberapa kali bahwa dokter paling tampan di Rumah Sakit Konoha―atau bahkan di seluruh rumah sakit di Jepang―adalah Uchiha Sasuke. Itu mutlak dan merupakan hukum alam. Sasuke sudah biasa menerima pujian atas tampangnya, sebagaimana seorang Uchiha pada umumnya.

Dan sudah disebutkan beberapa kali pula sisi negatif jika wajahmu ada diatas rata-rata. Fans yang suka kelewatan, salah satunya. Baru saja Sasuke menghembuskan napas lega sehabis memulangkan ayah Karin―sempat terjadi percekcokan antara Moegi dan Karin yang memaksa ingin diantar hingga ke mobil oleh si dokter kardiovaskular―ia kembali dauber-uber oleh beberapa staf rumah sakit yang juga penggemar setia si dokter Uchiha.

Tidak banyak memang, sebab kebanyakan staf medis disana masih memiliki akal sehat yang jalan setiap saat―kecuali Naruto, tapi ia bukan bagian dari fans Sasuke, walau sering juga mempersulit hidup Sasuke―namun tetap saja hal ini membuat Sasuke cemberut dan menghindari kerumunan apapun.

Apalagi, ia dengar hari ini beberapa fansnya sudah menyiapkan hadiah spesial untuknya. Sasuke juga tak paham mengapa ia mendapat hadiah saat ulang tahunnya sudah lama terlewat.

Karena itulah, alih-alih menghabiskan jam makan siang di kafetaria yang penuh sesak atau duduk manis di ruangan pribadinya, Sasuke memilih untuk memakan sandwich pemberian Ayame di rooftop rumah sakit. Naruto sedang kedatangan tamu spesial yang Sasuke juga tak tahu itu siapa sedangkan Sakura sibuk dengan pasien dari ER.

Sedang seru-serunya menonton siaran ulang pertandingan bola di ponsel sembari menikmati makan siang, indra pendengaran Sasuke yang tajam menangkap tanda-tanda keberadaan manusia lain di rooftop.

Sasuke menoleh ke belakang, tepatnya di balik dinding yang sedang ia sandari, dan mendapati seseorang tengah berdiri memunggunginya.

Hyuuga Hinata menumpukan kedua lengan pada dinding pembatas dengan tangan kanan menempelkan ponsel di telinga.

"Aku kan sudah bilang, aku tidak mau mampir ke rumah dulu. Sudah cukup dulu Tou-sama mengomeliku habis-habisan karena memilih melanjutkan kuliah spesialis," Hinata berujar untuk yang kesekian kalinya.

Di seberang sana, sang adik membalas, "Iya iya. Tapi Tou-sama sepertinya sedang agak mellow belakangan ini, jadi kurasa dia tidak akan memarahimu, Nee-san."

Hinata menghela napas lelah. Sejujurnya, ia ingin sekali berdamai dengan sang ayah. Namun, Hinata takut.

Ia rasa dirinya memang pengecut. Sudah melawan perintah ayahnya, namun tak mau bertemu untuk sekadar bertukar kabar. Hinata bahkan sudah tak menelepon ayahnya sejak ia memutuskan untuk mengambil pendidikan spesialis ortopedi.

"Sudah dulu ya, Hanabi. Sampaikan salamku untuk Neji-niisan. Aku pergi dulu," Hinata menutup sambungan telepon dan berjalan menuju lift.

Setelah membicarakan sang ayah dengan Hanabi, entah mengapa Hinata merasa sangat lelah. Apalagi hari ini ia kedatangan pasien rewel yang menolak untuk melakukan operasi CTS meski sakit di tangan kirinya sudah tak begitu mempan diberi cortisone.

Yang membuat hari ini menjadi tambah berat adalah sekumpulan perawat dan staf rumah sakit yang memandangnya sinis sejak Hinata menginjakkan kaki pagi ini di pintu rumah sakit. Tak hanya itu, sewaktu ia hendak membeli air mineral dari vending machine, bahunya didorong paksa oleh salah satu staf sehingga Hinata terpaksa menyingkir meski itu tidak adil.

"Oh, itu kelompok staf yang menjadi penggemar Uchiha-sensei. Hari ini kan hari jadi fanclub mereka didirikan, makanya para wanita itu jadi sedikit lebih sensi pada Hyuuga-sensei," jelas Hayate sewaktu Hinata kembali ke ruangannya dan bertanya pada perawatnya itu.

Cih, jadi tidak hanya Karin yang terkena pesona maut Uchiha Sasuke. Selanjutnya Hinata bertanya kenapa organisasi konyol itu tidak dibubarkan saja, yang dijawab dengan nada suram oleh Hayate.

"Mereka itu barbar sekali, Hyuuga-sensei. Kakashi-sensei pernah mencoba menegur mereka dan malamnya ia terpaksa meninggalkan mobil di parkiran karena ban depannya dilubangi entah oleh siapa. Uchiha-sensei sendiri juga pernah memarahi mereka namun staf-staf itu malah senang karena di-notice oleh idolanya."

Hinata tidak mengerti kenapa ada orang yang menyukai seseorang hingga bersikap ekstrim seperti kumpulan fans Uchiha-sensei.

"Akhirnya, Kakashi-sensei memberi petuah. Biarkan saja mereka menggemari Uchiha-sensei. Toh, performa mereka juga bagus dan mereka tidak akan mengganggu siapapun selama mereka tidak diganggu. Kadang mereka bersikap sinis pada Haruno-sensei, namun Uchiha-sensei tampaknya sudah membuat ultimatum kalau siapapun yang mengganggu Haruno-sensei pada akhirnya akan ia usahakan untuk dipindahkan ke kota lain," Hayate menutup penjelasannya mengenai fanclub terkutuk Uchiha Sasuke.

Begitu hanyut dalam pikirannya sendiri, Hinata sampai tak sadar kalau ia sudah nyaris sampai di depan pintu lift. Dan ketika itulah sepasang iris pucat menangkap bayangan tak asing dibalik tembok yang menyelimuti area elevator.

Bentuk rambut itu…

Itu dia orang yang akhir-akhir ini membuat hidupnya sengsara!

Hinata berbelok dari destinasi aslinya dan berderap menuju si pemilik bayangan.

"Uchiha Sasuke!" serunya.

Sasuke yang masih sibuk dengan handphone terkejut ketika namanya diucapkan dengan nada penuh amarah, juga karena sepasang kaki jenjang berhenti di depan matanya. Posisinya yang tengah berjongkok membuat pria Uchiha itu mendongak dan mendapati raut gusar Hyuuga-sensei.

Dahi Sasuke berkerut tidak suka. "Kau memanggilku apa?" tanyanya, sedikit tak menyangka ada seseorang yang bernyali untuk meneriakkan namanya dengan tanpa respek seperti itu selain Fugaku, Naruto, dan Sakura.

Peduli amat kalau ini seorang Hyuuga Hinata yang manis, baik hati, dan tidak sombong.

Secepat kilat lelaki itu bangkit, membuat Hinata mendadak merasa keki karena dengan perbedaan tinggi mereka, Sasuke nampak sedikit lebih menakutkan daripada biasanya. Seketika ia merasa seperti Hyuuga Hinata di masa sekolah, yang selalu menghindari Sasuke dalam setiap kesempatan.

"Kenapa kau tiba-tiba berteriak seperti itu?" Sasuke kembali bertanya dengan nada bicara yang biasanya ia gunakan saat ada seseorang yang berbuat konyol di ruang operasi. Biasanya Moegi selaku residen yang baik akan mengisyaratkan siapapun itu untuk cepat angkat kaki dari ruangan kalau tak ingin kena semprot lebih lanjut. Sayangnya, di rooftop ini tidak ada Moegi untuk menolong Hinata.

Sepersekian detik si Hyuuga berniat untuk kabur saja dari sana, namun ia cepat mengenyahkan pikiran itu.

"Ehm," Hinata mengatur suaranya.

Iris hitam Sasuke memandang lekat Hinata, menunggu wanita itu mengeluarkan kata-kata. Sedikit banyak ia sudah bisa mengira hal apa saja yang akan ia dengar.

"Pertama, aku ingin mengatakan kalau kau itu sangat menyebalkan. Kau selalu saja muncul di saat yang tidak tepat," ingat saat Naruto menolong Hinata yang terjatuh di pinggir jalan semasa SMA? Bisa saja perkenalan itu membawa keduanya ke hubungan yang lebih dari sekarang seandainya si Uchiha tidak memanggil Naruto.

"Kedua, penggemar-penggemar bodohmu itu suka sekali membuat hidupku merana! Kau tahu, aku terpaksa menghindari tempat umum di rumah sakit ini demi tidak berpapasan dengan Karin-san. Lalu, siang ini aku rasa bahuku memar ringan akibat ulah fangirls konyolmu itu," biasanya Hinata tidak akan membiarkan dirinya sendiri mengucapkan kalimat-kalimat kasar seperti itu. Namun, mood yang buruk akibat banyak hal membuatnya hilang kendali.

Dan, "Yang ketiga! Kau tahu kenapa para perempuan itu menjadikanku sasaran target mereka? Karena kau, Uchiha! Kenapa juga kau membuat pengakuan kalau aku adalah pacarmu? Apa kau gila?"

Hinata mengatur napas yang terengah-engah.

There, she finally threw her words to him.

Sasuke menutup mata dengan tangan kiri memijat dahi, tiba-tiba tertular rasa lelah akan kehidupan yang menguar dari diri Hinata.

"Hyuuga, dengar," ia berucap setelah memikirkan matang-matang tutur katanya. Sepertinya ia harus mengatakan yang sebenarnya.

Hinata pasang telinga.

"Aku rasa ada kesalahpahaman diantara kita," sambung Sasuke.

Meski alisnya menekuk kesal, Hinata memutuskan untuk diam dan mendengarkan terlebih dahulu pembelaan Uchiha satu ini. Yang jelas, jika Uchiha-sensei tak memberinya jawaban yang memuaskan, ia bakal mengadu ke Hatake-sensei.

Sasuke menatap lekat wajah Hinata yang hanya terpaut kurang dari setengah meter. Ia tak pernah benar-benar memperhatikan wajah si nona Hyuuga, namun kali ini ia punya kesempatan itu.

And he did look at her thoroughly this time, for he didn't know if someday he would have another chance.

Karena, "Hinata, aku―"

"―GYAHAHAHA, aku duluan!"

Suara pelan Sasuke lebur ditelan suara yang jauh lebih menggelegar.

Gawat, siapa itu? Rasanya Sasuke mengenal suaranya, namun ia tak berani keluar dari balik dinding yang melindunginya dan Hinata dari pandangan orang yang baru saja keluar dari pintu tangga darurat.

Hinata panik. Bisa heboh kalau ada yang memergoki dirinya dan Uchiha-sensei menghabiskan waktu istirahat bersama di atap rumah sakit. Yang ada, bisa-bisa ia dijambak oleh salah satu fans fanatik Sasuke.

Perempuan itu cepat melirik Sasuke, membuka mulut untuk bertanya apa yang sebaiknya mereka lakukan, namun Sasuke lebih cepat.

Si dokter kardiovaskular rupanya menyadari tak jauh dari posisi mereka terdapat gudang kecil berisi peralatan darurat jika ada pasien dengan helikopter, yang pintunya bisa ia buka tanpa terlihat oleh orang yang baru datang tadi.

Tanpa meminta izin, Sasuke menarik tangan Hinata dan masuk ke dalam gudang penuh sesak itu.

Begitu pintu ditutup, Hinata lekas melepaskan diri. Ia memandang marah Sasuke.

"Apa yang kau pikirkan?!" ia berujar kesal.

Sasuke baru mau menimpali dengan kalimat sarkasme khasnya yang sanggup membuat orang menangis sesegukan, namun orang di luar sana rupanya mendengar suara Hinata.

"Hem? Apa itu tadi?" ah, sekarang Sasuke mengenali si pemilik suara. Salah satu duo ginekologi, si residen Lee.

Sial, dimana ada Lee pasti ada―

"Ada apa, Lee?"

―Maito Gai si dokter nyentrik itu.

"Kurasa di sekitar gudang ada seseorang," jawab Lee, membuat baik Hinata atau Sasuke merasa keringat dingin mengalir di sepanjang garis tulang belakangnya.

Sasuke melotot pada Hinata. "Diam dulu!" bisiknya memerintah.

Dan, lagi tanpa persetujuan si Hyuuga, Sasuke membalikkan badan Hinata dan menarik wanita itu hingga punggung Hinata bersandar pada dada Sasuke―yang bersandar pada dinding di samping pintu gudang. Tangan kanannya melingkar erat di perut Hinata, memaksa agar si ahli tulang diam pada tempatnya sementara tangan kirinya ia gunakan untuk membekap mulut Hinata, berjaga-jaga jika si Hyuuga merasa ia perlu untuk kembali meluncurkan roket kemarahan.

"Jangan bersuara dan bergerak dulu," bisik Sasuke di telinga Hinata. Napasnya menggelitik Hinata, hingga wanita itu menggeliat tak nyaman. Sasuke mengeratkan lingkaran tangan kanannya hingga Hinata tak bisa berkutik.

Damn, she could feel his body line from this position. And, God save her, but this man surely had a great body.

Sol sepatu Gai yang tebal seperti alisnya itu mengetuk semen tiap ia mengambil langkah. Sasuke gelisah ketika langkah kaki Gai semakin mendekati gudang, dan akibatnya ia benar-benar memeluk Hinata sekarang. Hinata ikut gelisah, ia berdoa agar Gai-sensei tak memergoki mereka di gudang ini, karena siapapun tidak akan percaya semisal Hinata bilang ia dan Sasuke tidak punya hubungan apa-apa jika mereka melihat seerat apa Sasuke mendekap Hinata.

"Siapa di sana?!" suara bariton Gai memecah keheningan. Di belakangnya, Lee mengikuti dengan perasaan waswas. Ia takut sekali pada makhluk halus, dan meskipun matahari bersinar terik diatas kepalanya, namun pria berambut mangkok itu yakin para hantu tidak akan segan menampakkan diri jika merasa terganggu meski di tengah siang bolong.

Napas hangat Sasuke menggelitik leher Hinata, membuat si Hyuuga merinding tanpa sebab. Hinata mengangkat wajah, memerhatikan ekspresi Sasuke yang seolah tanpa kekhawatiran. Jika Hinata tak merasakan debaran jantung pria itu yang bertalu-talu di punggungnya, mungkin ia kira Sasuke tidak sepanik dirinya.

Langkah kaki Gai dan Lee yang semakin mendekati pintu gudang membuat dua orang di dalamnya nyaris tak menarik napas saking tegangnya. Sasuke mengutarakan sumpah serapah di dalam hati, sekaligus berdoa agar duo hijau tak sampai membuka pintu reyot gudang.

Rupanya Tuhan tak ingin mengabulkan permintaan Sasuke begitu saja. Maklum, pria itu kelewat sering menimbulkan keresahan di kalangan residen dan staf rumah sakit. Gai sampai di depan pintu gudang, dan mengamati pintu besi yang sudah jelek kualitasnya itu.

"Hmm…" dia menginspeksi si pintu. "Apa tadi bunyi pintu yang tertiup angin, ya? Bunyinya sih tidak sesuai, namun aku tidak merasakan hawa keberadaan manusia lain di atap selain kita, Lee," ujarnya, diam-diam senang karena berhasil menirukan mimik presenter favoritnya yang membawakan acara bertema mistis.

Lee mengangguk mengiyakan meski ia tak tahu apa yang dibicarakan dokter favoritnya. Yang jelas, ia dan Gai harus melanjutkan lomba lari mereka mumpung masih waktu istirahat.

"Ayo Gai-sensei! Aku yakin aku akan kembali menang meski rutenya kali ini mulai dari rooftop sampai lantai dasar!" Lee berseru semangat, kakinya sudah gatal ingin kembali sprint sepanjang tangga darurat.

Diajak seperti itu, Gai sontak menegakkan badan dan menatap Lee dengan semangat membara. "Baiklah, ayo kita kerahkan semangat masa muda kita!" teriaknya, yang dibalas Lee dengan seruan tak kalah kencang.

Di dalam gudang, Sasuke tak kuasa untuk mendengus meremehkan. Masa muda apanya, kalau ia punya anak, anak itu pasti sudah lulus sekolah menengah, batin Sasuke yang memang tak pernah suka dengan duo ginekologis andalan rumah sakit mereka.

Beberapa detik kemudian, terdengar Gai dan Lee sudah mulai berpacu untuk mencapai lantai dasar, menyisakan Sasuke dan Hinata sendiri di gudang.

Hinata menengadahkan wajah bersamaan dengan Sasuke yang menundukkan pandangan.

And then they stared at each other.

Iris sekelam langit malam beradu pandang dengan pucatnya iris menyerupai lavender.

Hidung Hinata nyaris menyentuh hidung mancung si Uchiha.

Bertahun-tahun mengenal Uchiha Sasuke, baru kali ini ia paham mengapa pria itu sanggup meluluhkan hati banyak wanita sepanjang hidupnya.

"Hinata?" and the way he spoke her name

Baiklah, lama-lama Hinata bisa jantungan jika ia keukeuh menetap pada posisi yang sama. Repot sekali kalau harus memanggil dokter jantung untuk mengobatinya―tunggu, Uchiha-sensei adalah ahlinya penyakit jantung. Hinata tak butuh pertolongan lain selama ada Sasuke di sini.

Ah, sudahlah! Otaknya mendadak kacau.

"Maaf, aku pergi dulu!" dengan kekuatan yang entah darimana ia dapatkan, Hinata memberontak dan melepaskan diri dari pelukan erat Sasuke, lalu berlari keluar setelah terlebih dahulu menerjang pintu gudang hingga Sasuke yakin tenaga wanita itu rasanya sanggup mematahkan engsel si pintu malang. Sepasang bola mata hitam terpaku pada punggung Hinata hingga yang dipandangi menghilang dari pandangan.

Hinata terus berlari tanpa sekalipun menoleh ke belakang, ia merasa wajahnya serasa terbakar saking malunya dia.

Ia sampai lupa kalau ada lift di sana dan lebih memilih untuk turun dengan tangga darurat, dan nyaris saja menabrak Suigetsu yang tengah diam-diam menonton film porno di tangga darurat.

"Awas!" Hinata berseru nyaring, membuat Suigetsu melompat terkejut.

Dasar Uchiha Sasuke! Setelah membuat hari-harinya menyusahkan, kini pikiran Hinata pun diporak-porandakan oleh si Uchiha tengik!

.

.

.

Hukum alam mengatakan bahwa Namikaze Naruto bukanlah orang yang peka dengan apa yang sedang terjadi. Seringkali ia menyusahkan teman-temannya―apalagi Sasuke dan Sakura―saking bodohnya ia dalam hal menginterpretasikan sesuatu yang tak kasat mata.

Namun, Naruto yakin betul kali ini, Kakashi punya maksud dan tujuan lain yang belum diberitahukan. Tidak mungkin kepala rumah sakit itu menarik Naruto hanya untuk bernostalgia belaka.

Kalau untuk menonton film dewasa yang naskahnya digarap oleh Jiraiya sih, beda lagi.

"Kakashi-sensei sebenarnya mau apa, sih?" tanya Naruto penasaran.

Kakashi mendesah, ia tak tahu bagaimana cara menyampaikan surat pemberian Chiyo ke Naruto.

"Beberapa hari yang lalu, ada seorang pensiunan suster datang kepadaku. Ia memberiku surat," mulai Kakashi.

Si pirang membeo, "Surat? Surat apa?"

"Kau tahu, ia pernah menjadi suster di sini, meski aku tak ingat padanya."

"Apa? Kok bisa?" Naruto menemukan fakta ini sangatlah aneh. Ia tahu Kakashi muda sangat ignorant pada lingkungan sekitar, namun ternyata perkiraannya tidak lebih parah dari kenyataan yang terjadi. "Pasti surat cinta," tebaknya asal.

Ngaco, batin Kakashi. Di saat-saat seperti ini ia merasa kalau Naruto sama sekali tidak mencerminkan wibawa seorang Minato-sensei. Bisa-bisanya berucap demikian di saat Kakashi sedang berpikir keras tentang dengan cara apa ia harus memberikan si surat.

Pria berambut abu itu lalu menepuk amplop berisi surat yang sejak tadi terdiam manis di sebelah cangkir teh Kakashi.

Naruto menelengkan kepala, ia tidak sadar ada sepucuk surat di sana. "Surat apa itu?" ia kembali bertanya.

Kakashi menarik napas sebelum bersuara, "Itu, Naruto, adalah surat yang ditulis ibumu untuk diberikan padamu jika ia sudah tiada."

Naruto diam, air mukanya berubah drastis.

"Surat dari Kaa-chan?" lirihnya. Lelaki itu mengulurkan lengan dan mengambil amplop berisikan surat yang dimaksud, lalu membuka isinya dengan gerakan kelewat halus seakan kertas yang ia pegang itu dapat terberai jika digenggam terlalu kencang.

Kakashi mengamati Naruto yang saat ini sudah terpaku membaca tulisan tangan rapi nan tajam Uzumaki Kushina.

Ia kenal Naruto sejak si blonde hanyalah bocah ingusan yang seringkali marah mengapa ayah ibunya sering meninggalkannya sendiri di rumah. Bocah yang seringkali membuat Minato-sensei kocar-kacir kebingungan karena ulah si bocah di sekolah. Bocah yang suka bersembunyi saat Kushina-san datang dengan semangkuk sayur bayam untuk makan siang.

Namun, Kakashi tahu bocah itu akan tumbuh menjadi orang yang hebat ketika si bocah tidak menitikkan air mata sedikitpun saat peti mati sang ayah dan ibu perlahan hilang ditelan bumi. Kakashi tahu bocah itu akan berkembang menjadi orang yang kuat ketika ia merasa matanya yang sedikit sembab diusap lembut dengan sapu tangan si bocah―peninggalan ayahnya.

Naruto, dalam keadaan paling menyayat hati sekalipun, tidak akan membiarkan dirinya menangis di depan orang yang ia kasihi. Bocah itu tumbuh menjadi seseorang yang tidak ingin merepotkan orang lain.

And that strong boy had finally fallen today.

Kakashi beranjak pelan, ingin memberikan Naruto waktu untuk menenangkan diri, namun suara kekehan si ahli pediatrik seolah menggelitik telinganya.

"Kenapa?" tanya Kakashi. Suaranya yang pelan―ditambah masker tebalnya―nyaris membuat pria yang tengah menumpahkan air mata di sofa itu tidak menangkap ucapannya.

Naruto kembali tertawa kecil sebelum menunjukkan isi suratnya. "Kaa-chan benar-benar bisa meramal masa depan, rupanya," jari telunjuknya tertuju pada satu kalimat.

Kalau soal wanita, Kaa-chan juga tidak begitu paham. Tapi, di dunia ini hanya ada perempuan dan laki-laki. Kau pasti akan tertarik suatu saat, tapi jangan pilih wanita yang aneh-aneh, oke? Pilih yang seperti Kaa-chan saja.

Ah, Kakashi paham sekarang.

"Sakura, ya," ini bukan pertanyaan, namun pernyataan.

Naruto menyeka matanya yang berair. "If only she could meet her even for a short time, so my mother would know that her son put his heart on the right woman."


Keterangan :

Anxiety disorder : gangguan kecemasan

Intern : dokter yang baru saja lulus

Residen : dokter yang menempuh pendidikan spesialis

Internship : pemahiran dan pemandirian dokter baru lulus pendidikan untuk penyelarasan hasil pendidikan dengan kondisi di lapangan

A/N : Hayi kembali lagi dengan chapter 9 hehe. Udah mulai masuk kuliah, udah mulai susah juga membagi waktu antara belajar sama nulis fic ini (ditambah, aku suka males wkwk).

Dari review kalian, ada yang berharap NaruSaku dibanyakin dan ada juga yang mau SasuHina dibanyakin. Jujur aja, Hayi memasukkan romance sebagai salah satu genre utama, tapi Hayi juga mau mencoba untuk menonjolkan friendship dan slice of life di fic ini (bener-bener terinspirasi sama Hosplay wkwk seru banget sih itu drama soalnya).

Buat kalian yang udah mulai kuliah, sekolah, dan kerja, semangat! Semoga pandemi cepat usai dan kita semua bisa beraktivitas seperti biasa. Jangan lupa untuk review, fav, atau follow ya ^^