The Deep Love that More Pain
Main cast :
Park Baekhyun 33 tahun
Park Chanyeol 33 tahun
Oh Jongin 31 tahun
Do kyungsoo 24 tahun
Sinopsis :
Hidup Bersama dengan orang yang kau cintai lebih dari 15 tahun pasti sangat membahagiakan, tapi bagaimana jika saat kau menyerahkan seluruh hidupmu untuk orang yang kau cintai dan kau mengetahui bahwa kekasihmu itu mengkhianatimu? Itu yang Baekhyun rasakan dikala tubuhnya lemah karena penyakit yang di derita dan kekasihnya yang berubah. Dan saat Baekhyun sudah menyerah dengan cintanya itu sesuatu yang sebenarnya terjadi terungkap.
Sudah seminggu Baekhyun bersama tuan kang, nyatanya sejak chanyeol pamit bekerja Chanyeol tidak Kembali lagi. Baekhyun tidak peduli lagi, tubuh dan hatinya sudah sangat Lelah menerima penderitaan yang selalu chanyeol berikan. Selama seminggu ini juga dia tidak mendatangi jongin walaupun tuan kang sudah memintanya. Baekhyun sudah menyerah, menyerah pada hidupnya dan cintanya walaupun dia masih sangat mencintai Chanyeol, hanya saja logikanya menyuruhnya untuk berhenti, berhenti untuk menyakiti dirinya. Sekarang Baekhyun berada di ruang bacanya, bukan hanya menghentikan pengobatannya Baekhyun juga berhenti mengkonsumsi obatnya.
"Tuan" Baekhyun meghentikan kegiatan membacanya saat mendengar tuan kang memanggilnya, dia menatap tuan kang.
"ada apa tuan kang?" tuan kang hanya diam, dia ingin mengatakan sesuatu, sesuatu yang mungkin bisa mengubah keadaan chanyeol dan Baekhyun. Dia ingin sekali mengatakannya, bagaimana pun dia merasa hatinya sangat sakit melihat kedua Tuan yang memberinya kehidupan berakhir seperti ini. Ada sesuatu yang Baekhyun harus ketahui. Tapi dia sudah berjanji untuk tidak mengatakan apapun kepada Baekhyun.
Melihat keterdiaman tuan kang membuat Baekhyun tersenyum lemah "Aku tidak akan pergi kemanapun, jadi berhenti berusaha membujukku" memang selama seminggu ini tuan kang berulang kali membujuknya untuk melanjutkan perawatannya jadi Baekhyun pikir saat ini beliau juga akan melakukannya.
Tentu saja tuan kang hanya mendengar perkataan Baekhyun karena dia tidak bisa mengatakan apapun walaupun dia ingin. "bagaimana dengan keadaan Brian?" brian adalah anak tuan kang yang berpisah karena mantan istri tuan kang membawanya pergi meninggalkan tuan kang saat dia jatuh bangkrut. Ternyata anaknya mencari tuan kang sebagai ayahnya. Kira-kira 5 hari yang lalu secara tidak sengaja mereka bertemu saat tuan kang sedang berbelanja kebutuhan Baekhyun. Brian seorang dokter ortopedi, ortopedi ialah dokter bedah tulang dan sendi.
"dia baik, sekarang kami tinggal bersama"
"Syukurlah, setidaknya kau tidak merasa sendirian saat dirumah" setelah itu Baekhyun melanjutkan membaca bukunya dan mengabaikan keberadaan tuan kang yang menatapnya.
Setelah kejadian penarikan Baekhyun di depan matanya beberapa hari yang lalu, jongin tidak melihat tanda-tanda kehadirannya namja manis itu dirumah sakit. Dia sudah beberapa kali menelpon Baekhyun tapi tidak ada satupun yang mendapatkan respon darinya. Jongin sangat khawatir hal yang buruk terjadi pada Baekhyun. Dia menyesal seharusnya ia tidak membiarkan Baekhyun dibawa pergi dengan cara seperti itu. Sebenarnya mudah saja mengetahui keadaan Baekhyun, dia mengetahui dimana namja manis itu tinggal jadi dia bisa saja langsung mendatangi kediaman Baekhyun dan menanyakan keadaan dan alasannya tidak mendatangi rumah sakit. Tapi dia sadar, dia bukan siapa-siapa bagi Baekhyun dan dia khawatir jika dia mendatangi Baekhyun tiba-tiba itu akan membuat namja manis itu marah.
Saat ini jongin hanya mondar-mandir di ruangannya, dia sedang berpikir apakah ia harus mendatangi kediaman Baekhyun atau tidak. Dia ingin mengetahui keadaan Baekhyun. Perasaannya mengatakan namja manis itu tidak dalam keadaan yang baik-baik saja. Langkah jongin terhenti saat melihat sebuah syal berwarna putih tergeletak di ranjang pasiennya. Ia tersenyum karena itu merupakan syal Baekhyun yang tidak sengaja tertinggal karena kejadian penarikan itu. Jadi ia mendekat dan mengambil syal itu lalu mencari kunci mobilnya, jongin bahkan lupa jika dia masih menggunakan jas dokternya saat memasuki mobil. Kurasa dia sudah gila karena yang ada dipikirannya sekarang ialah Baekhyun. Jongin melajukan mobilnya dengan kecepatan yang tidak bisa di bilang normal. Beruntung saat ini tidak ada petugas lalu lintas yang sedang bertugas jika ada kurasa dia akan mendapatkan surat peringatan.
Sesampainya di lokasi kediaman Baekhyun jongin masih mengatur jantungnya yang entah kenapa berdegup sangat kencang. Saat dirasa dia sudah merasa lebih baik, ia turun dari mobilnya dan mulai memasuki tempat Baekhyun tinggal. "Baik,, sekarang kau hanya perlu menekan bell dan kau akan tahu keadaan Baekhyun." Jongin berbicara pada dirinya sendiri sebelum menekan bell. Ia menunggu beberapa menit sebelum ada suara dari dalam
Suara bell mengambil perhatian tuan kang, dia heran tidak biasanya ada tamu datang penthouse ini jadi dia melihat Baekhyun sebentar yang sudah jatuh tertidur dengan sebuah buku di pangkuannya dan berjalan mendekati pintu. Lewat intercom dia melihat siapa yang bertamu, tanpa pikir Panjang dia membukakan pintu itu.
"Selamat sore" jongin tersenyum melihat tuan kang yang membukakan pintunya.
" ada keperluan apa?"
"heum… aku ingin mengembalikan syal Baekhyun-si yang tertinggal dirumah sakit, apa dia ada?
"Ah iya… tapi saat ini Tuan Baekhyun sedang tertidur di ruang bacanya, kau bisa menitipkannya kepadaku" jongin ragu ingin menyerahkan syal itu karena tujuan sebenarnya ialah melihat keadaan Baekhyun. Melihat jongin yang terlihat gelisah tuan kang tahu maksud sebenarnya kedatangannya kemari.
"Kau bisa melihat keadaan Tuan Baekhyun jika kau khawatir" tanpa sadar jongin menganggukkan kepalanya dengan cepat mendengar perkataan tuan kang. dia merutuki kelakuannya dan berjalan mengikuti tuan kang yang mengantarkannya dimana Baekhyun berada.
Saat memasuki ruang baca Baekhyun jantungnya berdegup kencang, aroma ruangan ini benar-benar dipenuhi oleh Baekhyun, jongin mengedarkan pandangannya dan melihat Baekhyun yang tertidur di kursinya dengan buku di pangkuannya. Tanpa sadar dia berjalan mendekat ke Baekhyun. Tuan kang melihat itu memilih keluar dari ruangan itu.
"setelah membuat orang lain khawatir, kau tidur dengan tenang seperti ini. Jahat sekali kau" jongin menatap lama Baekhyun yang tertidur. Tubuhnya semakin kurus apakah dia makan dengan teratur. jongin mengelus kepala Baekhyun dan tersenyum tampan. "Apa kau baik-baik saja" sadar dengan tidak sopan perbuatannya jongin menarik tangannya dan memilih duduk didepan Baekhyun. dia hanya melihat Baekhyun tidur, kegiatan itu berlangsung hampir selama satu jam sebelum akhirnya Baekhyun perlahan membuka matanya.
Baekhyun membuka matanya kaget saat melihat jongin berada di depannya.
"Jongin bagaimana kau bisa disini? Tanya Baekhyun setelah membenarkan posisi tubuhnya menjadi duduk.
"Kenapa kau tidak datang?" bukannya menjawab, jongin malah memberikan pertanyaan pada Baekhyun. mendengar hal itu Baekhyun menunduk dia merasa bersalah pada jongin karena dia sudah berjanji untuk melakukan kemotrapi hingga akhir, tapi dia malah tidak menepati janjinya itu.
"Jawab aku baek…"
"Aku tidak ingin melakukannya lagi" jongin terdiam mendegarnya, bukan ini yang ingin dia dengar dari Baekhyun setelah tidak melihatnya.
"Aku Lelah,,, kemotrapi ini sangat menyakitkan jongin"
"kau sudah berjanji baek… dan juga sebelumnya kau melakukan kemotrapi ini dengan semangat, kenapa… kenapa tiba-tiba kau ingin berhenti" suara jongin melemah. Dia takut sekarang.
"Maafkan aku, tapi aku tidak ingin melakukannya lagi" jongin menghela nafas sebelum akhirnya dia mendekati Baekhyun dan berlutut didepannya.
"Tatap mataku baek… dan katakan alasannya"
"Kumohon pada mu jongin jangan memaksaku… aku benar-benar sudah tidak ingin melakukannya lagi." Baekhyun mengalihkan tatapannya dari jongin yang berlutut didepannya, dia tidak berbohong saat ia mengatakan bahwa ia Lelah, walaupun itu bukan alasan pastinya.
"tapi Baekhyun, penyakitmu harus ditangani. Kau tahu itu kan?"
"Aku tahu, dan aku tidak masalah dengan itu" jantung jongin serasa diremas, hatinya tiba-tiba sesak mendengar jawaban yang didengarnya. Baekhyun menyerah dengan hidupnya, mata jongin memanas dan tanpa sadar air mata menetes. Dia terlihat bodoh Sekarang bagaimana mungkin dia menangis karena seorang pasien, tapi pasien itu Baekhyun yang entah sejak kapan mengambil semua perhatiannya.
"Kumohon baek… kumohon padamu pikirkan hal ini lagi" melihat jongin menangis didepannya membuat matanya ikut memanas, jongin sangat menginginkan kehidupannya tapi orang yang dia berikan hatinya tidak tahu keberadaannya sekarang. "kenapa kau menangis" Baekhyun mengulurkan tangannya menyeka air mata jongin yang menetes. "ini pilihanku jongin, dan aku tidak menyesal akan itu"
"apa ini karena namja yang menarikmu" tiba-tiba jongin merasa marah, ini pasti ada hubungannya dengan namja itu. Dia seharusnya tidak membiarkan Baekhyun di bawa pergi olehnya saat itu.
"kumohon jongin… aku harap kau menghargai pilihanku" jongin menyerah, apa yang bisa dia lakukan?, siapa dia, dia hanya orang yang baru saja hadir di kehidupan Baekhyun, tidak mungkin dia menjadi point penting dalam hidup Baekhyun.
"Aku mengembalikan syal mu" jongin berdiri dan mengambil syal dan mengalungkannya di leher Baekhyun. "Telpon lah aku jika kau memerlukan sesuatu." Jongin mengelus rambut Baekhyun pelan dan mencium kening itu. Baekhyun kaget dengan perlakuan jongin, tapi dia tidak menolak apa yang dilakukan jongin padanya. "aku pergi." Setelah itu dia pamit untuk pergi.
"Tunggu" Baekhyun menahan ujung jas dokter jongin. Jongin melihat mata baekhyun yang seperti ingin mengatakan sesuatu, mata baekhyun masih jernih walaupun terdapat lingkaran hitam dibawah matanya itu tidak mengurangi bagaimana menggemaskan mata bulan sabit itu.
"Maukah kau makan malam bersamaku?" jongin cukup tertegun, dan sebagai jawaban dia hanya menganggukkan kepalanya.
Disinilah baekhyun sekarang, duduk dimeja makan dengan jongin yang sedang memasak makan malam. Sebenarnya baekhyun ingin memasak hanya saja jongin dengan tegas melarangnya sedangkan tuan kang sudah pulang atas perintah baekhyun. baekhyun masih sangat lemah dia bahkan kesulitan untuk menarik sebuah kursi jadi dia hanya melihat jongin yang memasak menggunakan dapurnya.
Sebenarnya jongin tidak pernah memasak sebelumnya, dia memiliki pembantu yang akan menyiapkan segalanya lalu kenapa dia harus repot-repot belajar masak, jadi sekarang dia hanya mengandalkan smartphone canggihnya untuk memasak. Baekhyun hanya tersenyum simpul melihat bagaimana jongin kesulitan membedakan mana garam dan micin. Khawatir jika makan malam yang dibuat jongin, dia memilih berdiri dan berjalan dengan perlahan mendekatinya.
"kau harus memasukkan kubis terlebih dahulu"
"Kenapa kau kemari, Kembali lah kemeja makan dan biarkan aku yang menyelesaikan ini"
"Bagaimana mungkin aku hanya duduk melihat, kau bahkan tidak tahu mana garam dan mana micin, dan juga akulah yang mengajakmu makan malam, jadi mari kita buat bersama" baekhyun tersenyum cukup lebar sehingga kedua matanya membentuk bulan sabit sempurna, jongin yang melihat itu tanpa sengaja menjatuhkan pisau ditangannya.
"Hey hati-hatilah" baekhyun memungut pisau itu dan mulai mengambil wortel dan memotongnya menjadi dadu. Baekhyun menatap jongin yang masih terlihat mematung. "Kau sebaiknya mencuci berasnya"
"Ah iya" jongin Kembali sadar setelah mendengar perintah baekhyun, dia langsung mengambil beras dan mencucinya.
Mereka memasak kurang lebih selama 30 menit dan sekarang baekhyun dan jongin duduk di meja makan dengan makanan yang telah dibuat.
"bagaimana rasanya" tanya beakhyun saat melihat jongin memasukkan sesuap Dakgalbi kedalam mulutnya.
"aku sudah lama tidak memasak, tapi kurasa ini masih bisa dimakan bukan?"
Jongin hanya tersenyum dan menyuap lagi "Ini Dakgalbi terenak yang pernah aku makan" mereka makan dengan tenang hanya suara sendok saja yang terdengar. Setelah makan jongin menawarkan diri untuk mencuci piringnya, baekhyun tidak menghalanginya dan hanya duduk saja melihat jongin menyelesaikan pekerjaannya.
"Terimakasih Makan Malamnya" baekhyun hanya tersenyum dan mengangguk dia mengikuti mengikuti jongin yang berjalan kearah pintu keluar.
"Auww" baekhyun mendongak karena ia tanpa sadar menabrak punggung jongin karena berhenti tiba-tiba. "Kenapa?"
"Apa kau tidak berubah pikiran, aku bahkan bisa merawa-"
"Jongin aku mohon… setelah ini jangan datang lagi" jongin tertegun mendengarnya, ia pikir mungkin saja baekhyun mulai menerimanya setelah makan malam ini tapi ternyata ini hanya perpisahan.
"Jaga dirimu baik-baik, jika… jika saja terjadi sesuatu padamu kau bisa menghubungi aku"
"hmmm"
"Bolehkan aku memelukmu, untuk terakhir kalinya" baekhyun diam sejenak sebelum akhirnya mengangguk. Jongin langsung merengkuh tubuh ringkih baekhyun, haaa tubuhnya benar-benar sangat kecil, bahkan jongin takut jika dia memeluknya dengan erat dia dapat mematahkan tulang rusuk baekhyun. jongin cukup lama memeluk baekhyun menghirup aroma tubuh baekhyun yang memabukkan.
"Apa yang kalian lakukan" tiba-tiba tubuh baekhyun meremang mendengar suara berat yang penuh penekanan itu, dia secara refleks mendorong jongin menjauh. Disana ada Chanyeol dengan nafas berat dan mata memerah marah dia menantap baekhyun dengan amarah yang ditahan. Tubuh baekhyun bergetar mendapatkan tatapan seperti itu dari Chanyeol, melihat itu jongin berdiri di depan baekhyun dan menatap Chanyeol sengit.
to be continued…
