Sesampai di rumah, Sakura membawa banyak belanjaan di kedua tangannya. Dia sedikit berlari masuk ke dalam rumah karena tidak sanggup menahan beban. Kemudian kembali lagi ke teras untuk mengangkat galon pesanan yang sudah datang. Sebenarnya ayahnya sudah melarang Sakura angkat berat, takut rahim turun, katanya. Namun Sakura sangat senang mengangkat galon ke atas dispenser, sekalian membentuk otot perut.

"Rung, nanti tolong ambil pesanan aku sama Gaara, ya," kata Hinata yang sudah rapi ingin pergi kuliah.

"Hah?!" Sakura kaget dan nyaris menjatuhkan galon yang sudah mendekati lubang dispenser. "Apa? Apa?" tanya Sakura berusaha meyakinkan pendengarannya.

"Nanti Gaara ke rumah. Tolong ambilin, ya. Makaci. Mmuah!"

Tanpa persetujuan, Hinata berlalu pergi meninggalkan Sakura yang membeku. Dia masih memeluk galon dan lupa jika itu berat.

Gaara mau ke rumah?

Sakura buru-buru memasukkan ujung galon ke dalam dispenser. Dia berlari ke arah pintu dan menguncinya dari luar. Sakura duduk menunggu di depan teras rumah dan sudah mengenakan sandal jepit. Sewaktu-waktu Gaara sudah muncul, dia langsung berlari ke gerbang tanpa memberi kesempatan Gaara untuk bertamu ke dalam rumah. Menginjak halaman rumah saja tidak diperbolehkan. Kondisi rumah sangat sepi karena orangtuanya sedang di kantor. Sangat berbahaya jika membiarkan Gaara bertamu.

Suara knalpot motor ninja terdengar dari belokan jalan. Sakura mendengus sebal dengan tingkat pendengaran yang terlalu peka. Bahkan suara motor Gaara masih terngiang-ngiang di telinganya.

Sakura berjalan ke depan pagar rumahnya dan bertepatan Gaara menghentikan motornya.

"Nyambut aku, Ca?" tanya Gaara, dia membuka helm dan menatap Sakura dengan senang. Sakura selalu berlari ke depan pintu gerbang ketika mendengar suara motornya di ujung jalan. Namun kali ini berbeda, Sakura berlari bukan untuk menyambutnya.

"Kebetulan mau ke warung," jawab Sakura berbohong. "Mana punya Nata?" tanya Sakura tidak ingin berbasa-basi.

Gaara memberikan dua kantong plastik yang berisi barang Hinata dan makanan kesukaan Sakura.

"Buat kamu. Masih suka takoyaki, kan?" tanya Gaara dengan lembut.

"Ya, makasih," jawab Sakura menerima semua pemberian Gaara. Dia sebenarnya tidak mau memakan takoyaki panas itu, namun jika dia menolak maka akan ada perdebatan sengit dan memakan waktu yang lebih lama. Sakura ingin Gaara pergi secepatnya.

"Aku nggak tahu kamu punya saudara kembar. Kamu nggak pernah cerita."

"Ya, ya, udah lewat juga."

"Kabar kamu gimana?" tanya Gaara lagi.

"Baik," jawab Sakura singkat. "Udah, ya, mau beli minyak ke warung," kata Sakura yang segera menutup pintu pagar dan berjalan kaki menuju warung.

"Kuantar, Ca."

Sakura menghembuskan napas kesal karena Gaara tidak henti-hentinya berbicara. Sakura menolak lagi dengan alasan ingin jalan kaki. Dia diuntungkan dengan jarak warung yang terbilang dekat.

Gaara hanya menatap Sakura yang bersikap dingin terhadapnya. Dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk mendapatkan hati Sakura kembali. Cewek itu tidak mau melihatnya lagi meski hanya sebentar.

"Aku masih sayang kamu, Ca," gumam Gaara dengan nada pelan. Perasaannya selama bertahun-tahun memang belum pudar. Dia pikir cintanya menghilang ketika berjauhan dengan Sakura, ternyata dia salah. Ketika melihat wajah cewek itu, perasaannya kembali tumbuh lebih besar dari sebelumnya.

Sakura berjalan cepat memasuki warung tetangga. Dia membeli dua bungkus mie instan, bukan minyak goreng. Seingatnya di dapur masih menyimpan satu liter minyak. Lagipula uang di dompetnya tidak cukup dan gambar kemasan mie tersebut membuatnya lapar seketika. Alasannya ke warung semerta-merta hanya untuk menghindari Gaara. Berharap Gaara sudah pergi ketika dia selesai berbelanja.

"Makasih, Bi," kata Sakura pamit pergi setelah membayar. Dia kembali ke rumah dan berharap Gaara sudah pergi.

"Ngapain lagi tuh orang, Kami-Sama," gumam Sakura sambil mengelus dadanya sendiri. Karena terlanjur menampakkan diri di depan Gaara, Sakura tidak mungkin putar balik. Hal yang tidak mungkin terjadi, dia terlalu gengsi untuk melakukan hal itu. Dia harus tetap tenang seolah-olah tidak menghindari Gaara. Meskipun dalam hatinya sedang keras melantunkan ayat suci bahkan melafalkan jurus-jurus ninja. Berharap tetangga tidak melihat keanehan yang terjadi antara Gaara dan Sakura. Ketahuilah, kekuatan nyinyir tetangga nyaris menyamai akun Lambe Turah di sosial media.

Sakura berjalan pelan tanpa mempedulikan Gaara yang menatapnya. Dia melewati Gaara dengan sukses dan membuka kembali pintu pagar dengan cepat. Tidak boleh memberi kesempatan Gaara untuk menyelinap masuk.

"Aku tahu kamu menghindar dariku," kata Gaara.

'Emang. Iya kali aku nempel ke kamu? Aneh nih cowok.' Jawaban Sakura yang tidak terlontar secara langsung. Dia tidak memiliki keberanian untuk mengejar Gaara dan mendapatkan hatinya kembali. Ini adalah dunia nyata bukan dunia bollywood. Meskipun Gaara dan Hinata tidak berakhir di pelaminan dan kandas di tengah jalan, Sakura tidak bercita-cita untuk balikan dengan Gaara. Dia lebih takut dengan nyinyiran tetangga daripada kehilangan orang tercinta. Bayangkan saja tiba-tiba dia menikah dengan Gaara, apa kata keluarga dan orang-orang sekitar?

Sakura pura-pura tuli dan kembali menutup pintu pagar.

"Aku nggak suka kamu dingin begini," kata Gaara dengan nada memelas.

Sakura tercengang mendengar ucapan Gaara yang posisinya sekarang adalah tunangan saudaranya sendiri. Si Gaara belum move on atau gimana, sih? Tanya Sakura dalam hati.

Namun, Sakura berusaha tegar dan tidak termakan omongan manis Gaara. Dia tidak boleh mengkhianati Hinata. Dia tidak boleh membuka hati lagi.

"Berisik tau!" sahut Sakura dengan nada jengkel. Mulutnya mencibir ke arah Gaara, lalu berlenggang masuk ke dalam rumah tanpa mempedulikan ekspresi Gaara.

Sakura hanya mendengar suara motor Gaara yang menjauh dari rumahnya. Cowok itu mempercepat laju kendaraannya dan Sakura tahu bahwa Gaara sedang marah. Namun, Sakura tidak merasa bersalah dengan kejutekannya barusan. Memang itu yang harus dilakukannya demi menghindari fitnah.

Dilihatnya bungkusan makanan dari Gaara. Makanan yang selalu diberikan Gaara ketika pulang sekolah dulu. Sakura menangis lagi mengingat kenangan indahnya. Dia harus melawan perasaannya sendiri. Rasa cinta ini harus dihilangkan secepatnya. Gaara bukan satu-satunya cowok di dunia ini. Masih ada yang lebih ganteng, Sasori misalnya.

"Apa sih?" Sakura tersadar dan memukul pelan kepalanya. Dia baru saja bersedih karena Gaara, tiba-tiba malah teringat cowok menyebalkan yang selalu ikut campur masalahnya.

"Masih banyak cowok ganteng, kayak Bang Yoshizawa Ryo misalnya. Hohoho," Sakura berteriak sendirian di dalam rumah untuk menepis pikirannya. Beruntung rumah sedang sepi, tak ada seorangpun yang melihat tingkah anehnya barusan.

BERSAMBUNG

Fufufufufu...

Mau tiap chapnya kependekan nggak, sih?