CHANGED CRAZY
HARRY POTTER BELONG J.K ROWLING
PAIR : DMHP
RATTING : T
AUTHOR : Aika07
Itu adalah Harry ketika dia berdiri di bawah pohon, menatap dari kejauhan Ron dan Hermione yang sedang duduk di bangku taman berduaan.
"Ck, mereka itu. Aku akan pergi ke Diagon Alley besok, stok perkamen menipis, dan beberapa buku harus di beli." Harry berbalik dan mulai melangkah pergi meninggalkan mereka berdua.
"Ujian~ ujian~ sesuatu yang buruk selain kematian~"
"Dalam sekajap~ rambut yang lebat~ menjadi runtuh tak beraturan~"
"Ujian oh ujian~ mengapa begitu menjengkelkan~"
Harry memeriksa kepalanya, siapa tau rambut nya sudah meninggalkan tempat nya. Dia mengehela nafas lega begitu merasakan rambutnya masih utuh dan berada di tempatnya.
Kembali bersenandung kecil ketika melewati danau, ada beberapa anak Hufflepuff yang usil mengganggu cumi-cumi raksasa.
"Cumi-cumi~ Aiyaaa~ membosankan~
Hari yang santai sulit kudapatkan~"
"Harry!!"
"What the fu—" Harry terlonjak kaget ketika mendengar suara seseorang dari belakangnya. "Oh, hai Ginny."
"Lama tidak mengobrol," Ginny tersenyum.
"Yaaaa, begitulah, belakangan ini aku agak sibuk mengurus bayi besar."
"Itu benar. Kau terlalu sibuk dengan Malfoy."
Mereka berjalan dan menerus kan pembicaraan, sebenarnya Harry tidak tau mau kemana mereka, dia hanya membiarkan kakinya menuntun. Lagi pula sudah lama dia dan Ginny tidak saling menegur.
"Ngomong-ngomong soal Malfoy, dimana dia?" Ginny menolehkan kepala kesana dan kemari mencari keberadaan Slytherin yang sudah hampir 3 minggu menempeli Harry.
Harry mengangkat bahunya acuh, "Mungkin sedang sibuk dengan pacar pacarnya. Siapa yang tahu?"
"Begitukah? Tapi kupikir kau dan Malfoy, eum... Melihat bagaimana interaksi kalian belakangan ini. Ku pikir kalian punya hubungan khusus."
Harry menatap datar jalan di depannya. Mereka mulai memasukin lorong Hogwarts dan berjalan santai, "Tidak ada yang seperti itu." ujar Harry dingin, nampak tidak meyukai arah pembicaraan yang dibawa Ginny.
"Tapi Harry, kau terlihat nyaman setiap kali Malfoy berada di sisimu atau memelukmu, yah aku sering melihat kalian berdua berpelukan tidak tahu tempat." Ginny memutar matanya, dia berbicara dengan nada meledek.
Harry memajukan bibirnya cemberut. "Jika dia sudah melilitkan tangannya di tubuhmu, kau tidak akan bisa melepasnya kecuali kau mau mematahkan seluruh tulangmu. Itu benar benar erat."
"Tapi kalau dilihat-lihat, berkat Malfoy, para gadis itu berhenti mengikutimu kemanapun kau pergi."
"Yeah, mereka sama mengerikannya dengan Malfoy. Tapi percayalah padaku satu Malfoy lebih berbahaya dari seribu gadis."
Ginny tertawa keras, dia bahkan memukul pundak Harry untuk melampiaskannya. "HAHAHA!! Dia, hahaha... Dia bisa memperkosamu, hahaha."
Harry mendengus sebal, "Ck, berhenti tertawa. Tidak ada yang lucu disini. Kecuali aku berdandan seperti badut, itu layak untuk kau tertawakan."
Ginny mengelap air mata di sudut matanya. Dia bahkan hampir terkencing-kencing karena Harry. Oke itu bohong.
"Itu keuntungan untuk mu. Bukannya kau juga suka Malfoy? Sebab itukan kau menolakku waktu itu."
Mereka masih terus berjalan berputar putar, beberapa anak Ravenclaw, Slytherin dan Hufflepuff menatap mereka dan para gadis mulai mengaum menujukan mata bak sergiala mengawasi mangsa.
Ah, gadis gadis yang tidak beruntung. Senandung Ginny. Harry dan dia masih berjalan dan membahas topik yang berputar putar, mengenai cuaca hari ini, Malfoy, kemudian Ron dan Mione yang berduaan, Malfoy lagi, ruang rekreasi Griffyndor yang akan di dekor ulang, perpustakaan, Malfoy lagi, kemudian ujian NEWT, membahas nilai buruk Harry di kelas ramuan, dan kembali ke betapa menyebalkannya Malfoy.
Dan mereka terus mengulangnya tanpa bosan. Ginny tidak nampak bahwa dia keberatan tentang Harry yang terus-terusan mengulang topik tentang Draco.
Namun saat mereka mencapai tangga asrama, Malfoy duduk di sana dengan wajah suntuk.
"Harry, Romeo sudah menunggu Juliet nya. Pergi dan temui dia. Mulai semua dengan kebahagiaan. Jangan suka memarahinya, kalau dia terluka, pupus sudah harapan mu hidup berdua dan membangun keluarga dengan Malfoy." Ginny memberi Harry tepukan di punggung, berniat menyemangati.
"Oh, Ginny, bisakah kau, Ron, Mione dan kalian semua menyimpan omong kosong itu! Aku dan dia tidak akan bisa bersama, selain perbedaan kasta dan sejenisnya, aku terlampau terlalu istimewa untuk di miliki siapapun."
Ginny rasa Harry mulai tertular virus narsis Malfoy, "Harry, bahagia itu mudah, hanya kau yang mempersulitnya. Aku tinggal ya."
Harry terdiam menatap kepergian Ginny, namun suara langkah kaki membuatnya sadar seseorang berada di sini.
"Sudah selesai berkencannya, Potter? Meninggalkan aku sendirian di kamar mandi, dan mengunciku bersama Myrtle." Suara dingin itu membuat Harry agak merinding.
"Siapa yang mengunci mu bersama Myrtle? Aku tidak." Bantah Harry dengan wajah yang kini dialiri keringat dingin.
"Berbohong lagi," Malfoy memutar matanya. "Kenapa kau tega sekali mengunciku, hanya untuk berduaan dengan Weasley perempuan itu!?"
"tolong jangan seret Ginny, dalam amarah konyolmu itu!"
"Persetan! Aku benar-benar kesal. Kau tau aku mencintaimu, tapi, tapi tega sekali kau, kau bahkan melakukan ini padaku! Pikirkan perasaanku!" Draco memegangi dadanya dan bersikap melodramatis.
Harry menatap nya datar. "Dengan Malfoy, aku tidak menguncimu—"
"Teganya,"
"Sungguh tega kau Potter."
"Benar benar tega kau!"
"Sakit hatiku,"
Draco mulai mengeluarkan tangisan palsu yang akan membuat telinga Harry berdengung untuk beberapa waktu kedepan.
Mendengus, Harry meraih kepala Malfoy dan memeluknya. "Hentikan. Aku tidak menguncimu, Myrtle yang melakukannya, bukankah kalian sudah lama tidak mengobrol?"
Harry tidak tahu kenapa dia harus repot-repot menjelaskannya. Tapi toh agar Draco berhenti merengek seperti bayi kurang gizi.
Draco mengambil kesempatan untuk melingkarkan tangannya ke pinggang Harry, dan mendusalkan wajahnya pada bahu Harry yang sibuk mengelus punggungnya. Dan ya, Ginny benar, mereka selalu berpelukan dan menebar cinta tidak tahu tempat. Dimanapun dan kapanpun.
"Dan bagaimana dengan Weasley perempuan itu!? Kau berkencan dengannya?!" Suara Draco terendam jubah Harry.
"Aku bertemu dengannya di danau, kami sudah lama tidak mengobrol jadi kami berkeliling sambil bertukar beberapa cerita." jawab Harry santai.
"emm..." Harry merasakan Draco mengangguk, "Jangan tinggalkan aku lagi." Rengek Draco. Harry mendecak dan mengiyakannya. Iyalah iyakan saja dari pada pusing, ingin rasanya Harry bunuh diri sebenarnya. Tapi toh itu tidak elit juga.
"Aku akan pergi ke Diagon Alley besok, ada beberpa hal yang perlu di beli." Ujar Harry,
"Aku ikut!"
"Hmm..." Sudah kuduga.
Draco mengangkat pandangannya. Dan menjulurkan lidah pada beberapa gadis yang lewat dan menatap mereka. Dia melayangkan seringai kemenangan pada beberpa gadis yang menatapnya kesal. Harry milik nya, hehe. Kalian tidak bisa menyenggolnya barang sedikit pun.
"ngomong-ngomong, bagaimana dengan tenggorokanmu? Masih sakit?" Tanya Draco, karena terlalu banyak berteriak akhir akhir ini membuat Harry harus meminum ramuan dari madam Pomfrey untuk membuat tenggorokannya terasa lebih baik.
"Lumayan, tapi masih sedikit sakit."
"Sangat tidak baguskan?"
"Itu benar."
"Harry,"
"mmm..."
"Aku mencintaimu."
"Aku tau,"
"Harry apa kau tidak mencintaiku?"
"..."
To Be Contiued
Catatan :
jadi gini, aku mau ngadu dulu kekalianTT
Aku bingung nih, dari pada aku ambil keputusan sepihak yakan? mending aku omongin dulu kekalian. Ngomong-ngomong, kalian masih mau fluff nya di tambah ga nih?
soalnya cerita ini simpel, kalau mau langsung aku rampungin 2 bab lagi tamat. Tapi kalau kalian masih mau fluff nya nanti aku bakal mengulur alurnya, maksimal tamat chapter 20 kalau mau di ulur ulur. Tapi kalau ada yang mau aku cepet namatin skuy lah bab 10 tamat.
.
Tapi aku mikirin kalian, jadi aku bingung. Soalnya kan kalau di toko toko motonya Kepuasan pelanggan itu yang di utamakan. sama aja kayak aku, Kepuasan pembaca adalah hal yang di utamakan.
Jadi minta pendapat yah:)
Btw, buat yang udah reaview.
AAAH Terimakasih~ Terimakasih (Tebar bunga) TERIMAKASIH! Aku sayang kalian. Aku suka bacain Review kalian tau, lucu lucu, bikin ngakak, kan aku jadi semangat:'3
