" Eomma~"
Wanita yang tengah sibuk dengan kegiatan dapurnya itu pun seketika mengalihkan atensinya pada sosok mungil yang memanggilnya dari pintu dapur. Senyumnya terbit saat melihat penampilan Woobin saat ini. Baju tidur superhero yang dipakainya kusut seperti jalinan rambutnya saat ini, belum lagi muka bantal dengan mata yang sedikit terpejam itu benar-benar membuat Baekhyun gemas dengan buah hatinya tersebut.
"Come here, darling."
Yang dipanggil pun berjalan malas kearah sang ibu sembari mengucek kelopak matanya. Baekhyun sedikit terkikik melihatnya, ia lantas menekuk kakinya, mensejajarkan tingginya dengan bocah 4 tahun tersebut. Membentangkan tangannya, bersiap menerima pelukan pertama dari sang buah hati. Tak ada pilihan lain bagi Woobin selain menjatuhkan tubuh mungilnya pada pelukan sang ibu, menghirup aroma yang selalu ia cari saat pertama kali membuka mata.
"Kenapa bangun, sayang?" tangan halusnya setia memberikan usapan lembut pada punggungnya sambil sesekali mengecup ceruk leher sang putra.
"Aku mencari eomma." Lirih dengan mata yang senantiasa terpejam di bahu sang ibu.
Baekhyun tersenyum mendengar ucapan sang putra. Ia lantas membawa sang putra dalam gendongannya, meninggalkan pekerjaan dapurnya sejenak, beranjak menuju sofa diruang tengah. Ia mendudukkan dirinya disana, memangku sang buah hati sembari terus mengusap punggungnya.
"Woobin masih mengantuk, hmm?"
Yang ditanya hanya menggeleng sembari memejamkan matanya. Menyandarkan kepalanya pada dada sang ibu berharap dapat melanjutkan tidurnya.
"Kembali ke kamar, hmm? Nanti eomma bangunkan jika sarapannya sudah siap."
"Woobin mau sama eomma." rengeknya sembari menegadahkan kepalanya kepada Baekhyun. Mengerucutkan bibirnya membuat baekhyun gemas karenanya.
"Eomma harus membuat sarapan, baby. Tidur dengan appa, ya?"
Bocah hampir lima tahun itu semakin mengerucutkan bibirnya. Ia pun kembali menundukkan kepalanya, megusakkan diri pada dada sang ibu.
"Eomma janji, akan memasakkan sossis saus untuk Woobin sebagai sarapan, hmm?"
Yang diajak berbicara mendoangakkan kepalanya, " without veggie?" dengan mata berbinar.
Baekhyun tersenyum, " veggie is a must, darling. That's good for you."
Woobin semakin mengerucutkan bibirnya, membuat Baekhyun semakin gemas melihatnya dan berakhir memberi kecupan di bibir mungil sang buah hati.
Baekhyun pun beranjak dari duduknya, membawa sang buah hati dalam gendongan menuju kamarnya dan Sehun.
Hari minggu yang cerah. Sinar matahari menelisik di celah kelopak matanya. Membuat lelaki yang kini masih terbaring di ranjang empuknya itu sedikit menggeliat, menghindari arah datang cahaya tersebut. Senyuman terbit pada belah tipisnya mengingat tentang penawaran yang ia terima beberapa hari yang lalu. Ia berencana membicarakan hal ini dengan istrinya pagi ini setelah sarapan.
Suara derit pintu yang dibuka perlahan membuat lelaki itu mengintip diantara celah matanya yang enggan terbuka. Lelaki itupun menyunggingkan senyum kala mengetahui bahwa sang istri lah yang memasuki kamarnya sembari membawa sang buah hati dalam dekapannya. Lelaki itupun memutuskan untuk melanjutkan tidur ayamnya.
Baekhyun berjalan mendekat kearah ranjang, membaringkan tubuh putranya yang sudah terlelap di sebelah sang suami. Meletakkan bantal disisi tubuh putranya, berharap si kecil tidak berguling dan berakhir jatuh dari ranjang. Baekhyun mengamati wajah sang putra, mengusap surainya lantas membubuhkan kecupan di dahinya.
" Sleep tight, baby." Senyumnya mengembang mengakhiri usapan pada kepala si kecil.
Ia pun beranjak hendak melanjutkan acara memasaknya yang sempat tertunda, hingga sebuah cekalan pada pergelangan tangan menghentikan pergerakannya.
" Oppa.."
Yang dipanggil mengerucutkan bibir sembari kedua matanya masih terpejam erat, "Oh Baekhyun, kau tidak adil."
Baekhyun mengerutkan keningnya, "Kau melantur, oppa?"
Baekhyun menggelengkan kepalanya, melepaskan genggaman tangan Oh Sehun. Meletakkan kembali tangan itu di dada pemiliknya lantas menepuk pelan punggung tangan tersebut. Berharap sang suami kembali pada alam mimpinya dan dia dapat melanjutkan sesi memasaknya.
Setelah dirasa sang suami kembali tertidur, Baekhyun pun beranjak dari ranjangnya. Namun, lagi-lagi cekalan tangan itu menghentikan pergerakannya.
Baekhyun mendecih, "Tuan Oh, kau sebenarnya tidak tidur kan?"
Yang diajak bicara tersenyum, lantas membuka kelopak matanya. "Kemarilah." Menepuk sisi ranjang sampingnya.
"Oppa, aku harus memasak." Baekhyun protes, hendak melepaskan diri dari cekalan tangan sang suami.
"Sebentar saja, hmm? Aku janji tidak akan lama."
Tak ada pilihan lain, Baekhyun pun beranjak menuju sisi ranjangnya yang lain setelah cekalan tangan sang suami terlepas. Sehun mengulum senyum melihat kekesalan Baekhyun padanya.
"Duduklah." Perintah Sehun setelah Baekhyun mencapai sisi ranjangnya.
" Oppa~, aku harus memasak." Rengeknya.
"Sebentar saja. Aku janji."
Baekyhyun pun mendengus, kesal. Mendudukkan dirinya ketika ia telah tiba di sisi ranjang lainnya.
"Sekarang, beri aku morning kiss."
Baekhyun menganga tak percaya dengan permintaan sang suami.
"Cepat, kau bilang harus memasak."
Bakhyun pun mendengus lantas merendahkan tubuhnya memberikan kecupan di pipi sang suami.
"Apa itu? Sejak kapan ciuman kita berpindah di pipi? Lakukan dengan benar Baekhyun atau aku akan membuatmu mendesah disini, saat ini juga."
Baekhyun mendelik. "Oppa, ada Woobin disini."
"Aku tak peduli, kau yang tak mau mengabulkan pintaku."
"Ish, kau menyebalkan."
Baekhyun pun kembali merundukkan tubuhnya untuk mencium bibir sang suami. Tak ada lumatan, kedua bibir itu hanya menempel satu sama lain. Hingga Baekhyun hendak melepaskan ciuman tersebut, tengkuknya seketika ditahan oleh sang suami. Dirasakannya bibir Oh Sehun mulai melumat bibirnya intens. Kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri, memagut nikmat bibir sang istri. Digigitnya bibir bawah Baekhyun, hingga wanita beranak satu itu pun terpaksa membuka bibirnya. Kesempatan itu dipergunakan baik oleh Oh Sehun untuk melesakkan lidah kedalam mulut sang istri. Mengabsen deretan rapi gigi sang istri, merasakan manisnya bibir sang pujaan. Hingga lenguhan terdengar samar dari mulut Baekhyun. Sehun pun mau tak mau harus melepaskan ciumannya. Tersenyum menatap sang istri yang masih terengah sambil memejamkan matanya. Menghapus sisa saliva di bibir sang istri lantas kembali memberi kecupan ringan pada ranumnya. Sehun pun melepaskan pegangannya pada tengkuk sang istri.
Baekhyun membuka matanya, menatap tajam sang suami. Wajah keduanya masih begitu dekat.
" That'a a morning kiss, Oh Baekhyun." Senyum miring Sehun tampilkan pada sang istri.
"Ish, oppa. Bagaimana jika Woobin bangun dan melihat kita?" Baekhyun kembali menegakkan punggungnya.
"Ya, tinggal bilang saja kita sedang berproses membuat adik untuknya." Senyumnya menjengkelkan.
"Oh Sehun, mulutmu--"
"Husst.. kau berisik, honey. Woobin bisa bangun mendengarmu."
Baekhyum mendelikkan matanya, tak terima omongan terpotong. Belum lagi jari telujuk Sehun yang masih bertengger di depan mulutnya, membuatnya kesal bukan main.
"Sudah sana, katanya mau memasak."
Baekhyun mendengus, lantas beranjak dari duduknya. Hendak melangkah, namun pantatnya terlebih dahulu dipukul oleh sang suami. Baekhyun pun seketika berbalik, sambil mendelikkan matanya.
" Oppa…" ucapnya marah namun lirih. Membuat Sehun terkikik gemas melihat raut sang istri yang kesal dengan tingkahnya.
"Ish, kau benar-benar menyebalkan." Baekhyun beranjak darisana sambil sedikit menghentakkan kakinya, menyimpan kekesalan yang membuat Oh Sehun semakin terpingkal melihatnya.
"Baekhyun-ah"
Yang dipanggil mengalihkan perhatian dari santapan pagi di hadapannya. "Ya?"
Sehun ragu sejenak, namun memilih melanjutkan. "Aku mendapat tawaran untuk bekerja di luar negeri."
Baekhyun mengerutkan alisnya, "Siapa yang menawarkan?"
Sehun meneguk ludah gugup, "Bayarannya 10% sahamku di CYWorld, mereka akan memberikannya asal aku mau membantu mereka membangun hotel dan resort di Norway."
Baekhyun meletakkan sendoknya mulai memberikan perhatian lebih pada sang suami, "Oppa, siap yang menawarkan pekerjaannya, hmm?"
Sehun menggaruk pelipisnya, "Paling lama 4 tahun Baekhyun. Iya 4 tahun."
Baekhyun menghela nafas, menoleh pada Woobin yang telah menyelesaikan sarapannya.
" Are you done, honey?"
Balita tersebut mengangguk lucu diantara kulumannya pada bibir gelas.
Baekhyun beranjak, membersihkan mulut anaknya lantas membuka celemek yang bertengger manis di dada Woobin. Mengangkat tubuh sang anak, lantas memberikan ciuman di pipinya.
" Good boy. Sekarang Woobin main dulu ya. Nanti Eomma susul sambil membawa cookies kesukaan Woobin."
" You're the best, eomma." Woobin mengecup pipi Baekhyun lama, melepasnya. Lantas meminta turun dari gendongan Baekhyun.
Baekhyun tersenyum melihat kelakuan putranya. Ia pun menurunkan Woobin dari gendongannya, membiarkan tubuh kecil itu berlari ke ruang bermainnya. Setelahnya, ia pun kembali mendudukkan diri di depan sang suami. Memberikan atensi penuh padanya.
" Oppa ada yang kau sembunyikan? Kenapa sulit sekali bagimu memberitahu siapa yang menawarkan proyek itu?"
Sehun mengusap wajahnya gusar, lantas menghela nafas lelah. "Luhan, Luhan yang menawarkan proyek itu padaku."
Nafsu makan Baekhyun seketika hilang, ia tahu seperti apa wanita bernama Luhan itu. Wanita yang pernah digadang-gadang oleh mertuanya untuk menjadi istri Sehun, walaupun pada kenyataannya saat ini Baekhyun-lah yang menyandang gelar nyonya Oh tersebut. Wanita itu dahulu menaruh hati pada Sehun, menggunakan segala cara untuk bisa mendapatkan pria yang dulu sudah menjadi kekasih Baekhyun. Hingga acara pernikahan mereka tiba, wanita tersebut hilang bak ditelan bumi. Beberapa mengatakan bahwa gadis Xi tersebut pulang ke kampung halamannya untuk membantu orang tuanya membangun usaha milik keluarganya. Baekhyun turut menghela nafas, mengurut keningnya memikirkan sang suami akan berada jauh darinya dan ditemani wanita macam Luhan.
"Baekhyun-ah, aku janji akan menyelesaikan pekerjaan ini dengan cepat."
Baekhyun mendengus, "Secepat apapun kau menyelesaikannya, jika disampingmu ada wanita ular itu, aku tak yakin pekerjaanmu akan cepat selesai."
"Baekhyun-ah, Luhan tidak seperti itu."
Baekhyun mendongak, tatapannya meremehkan. " Oppa, apa kau lupa bagaimana wanita itu mencoba menghancurkan hubungan kita dulu? Dia akan tetap seperti itu jika itu menyangkut dirimu, Oppa."
"Sekarang Luhan tak seperti itu Baekhyun."
"Yakin sekali, kau bertemu dengannya?"
"Kemarin kami bertemu di club, dan dia menawarkan pekerjaan itu padaku."
"Waah, kalian berdua? Club? Kenapa aku baru tau?"
"Aku berani bersumpah kita tidak melakukan apa-apa Baekhyun."
Baekhyun mendengus, lantas mengaduk-aduk nasi sisa di piringnya.
"Baekhyun-ah." Baekhyun mendongakkan kepalanya. "Tidak ada cara lain." Tatapan Sehun memohon kepada sang istri.
Matanya Baekhyun meliar, mencoba mencari cara lain yang bisa menghentikan sang suami untuk pergi ke Norway dengan Luhan.
" See? Tidak ada kan. Maka ijinkan aku ya? Aku janji tidak akan macam-macam dengan Luhan disana."
Baekhun menyunggingkan senyum, "Macam-macam pun aku tak akan tahu kan?"
Sehun menghela nafasnya, "Apa yang harus kulakukan untuk membuatmu percaya?"
Yang ditanya tak memberikan jawaban, sibuk dengan segala naskah terburuk dalam otaknya.
"Aku akan mempertaruhkan pernikahan kita jika kau tak yakin dengan semua omonganku."
" Oppa, pernikahan kita tidak semurah itu" Baekhyun langsung menajamkan atensinya pada lelaki di depannya. Merasa tak terima dengan ucapan sang suami.
"Aku tau dan sangat paham. Dan kau juga tau kan jika aku benar-benar mencintaimu, maka dari itu aku mempertaruhkannya karena pernikahan kitalah yang paling berharga dalam hidupku. Aku tidak akan main-main jika sudah mempertaruhkannya Byun Baekhyun. Aku pun sebenarnya tak ingin melakukan ini. tapi keadaan yang membuatku harus melakukannya. Mengertilah, hmm?"
Yang diajak bicara lahi-lagi terdiam, kecewa nampak jelas di raut wajahnya.
"Ok, jika kau masih ragu. Kita buat perjanjian. Jika kau sampai menemukan aku berselingkuh dengan Luhan, saat aku pulang kau boleh menyodorkan surat perceraian padaku."
Baekhyun mendengus. Beranjak, lantas membersihkan piring sisa sarapan mereka.
"Baekhyun-ah~"
"Terserahlah, tak kuizinkan pun kau akan tetap berangkat kan?"
Sehun lantas beranjak, menghampiri Baekhyun. Memeluknya dari belakang, sembari memberi kecupan halus di tengkuk sang istri. "Percayalah padaku, aku tak akan mungkin menghianatimu. Aku terlalu mencintaimu Oh Baekhyun."
"Pergilah oppa, temani Woobin bermain."
"Hmm, Byun Baekhyun percayalah aku sangat mencintaimu." Sebuah kecupan lantas mendarat di pipi Baekhyun. Hangat dan lama.
Sehun lantas beranjak menuju ruang bermain sang putra. Tak Lupa ia membawa setoples cookies kesukaan yang putra. Baekhyun mendesah berat menatapnya. Entahlah hatinya tak nyaman dengan kepergian suaminya kali ini.
Biasanya Baekhyun akan bersikap biasa jika Sehun dinas ke luar negeri meskipun untuk waktu yang lama. Tapi kali ini, entahlah Baekhyun tak yakin dengan penawaran Luhan.
Aku bisa percaya padamu kan, oppa?
"Halo, bibi Oh"
"Luhan-ah, bibi menunggu kabarmu, nak. Bagaimana?"
"Putra bibi semalam menelponku dan dia mengiyakan untuk mengerjakan proyek di Norway."
"Bagus, Luhan. Sekarang kau tinggal menjalankan rencana kita selanjutnya."
"Tentu saja bibi, apapun akan aku lakukan untuk mendapatkan Oh Sehun."
"Bagus, Luhan. Lakukan sebaik mungkin agar kita bisa menjadi keluarga."
"Baik, bibi. Terima kasih. Jika begitu aku tutup dulu."
"Hmm, jangan lupa hubungi bibi tentang perkembangan rencana kita, oke?"
"Iya, bibi. Aku tutup dulu. Selamat malam bibi."
"hmm, Selamat malam, Luhan."
Sambungannya terputus, Luhan meletakkan gawainya pada meja kerja di hadapannya lantas menautkan jemari di depan wajahnya. Senyuman licik terukir di wajahnya. Senyuman yang mengandung sejuta rencana jahat di dalamnya. Senyuman yang akan mengantarkan lara bagi beberapa orang di waktu yang akan datang.
Sebentar lagi, Sehun. Sebentar lagi kau akan menjadi milikku. Milik Xi Luhan.
To Be Continue…
Ada yang masih nungguin cerita ini ga?
