"Aku ingin bicara denganmu, Hinata." Sang Hime memutar badannya menghadap Hinata yang semula berada di belakangnya.
Alis Hinata terangkat sebelah menatap betapa serius dan takutnya raut wajah sang Hime. "Apa? Kenapa?" tanyanya penasaran tapi gadis di depannya malah menoleh ke arah Naruto yang masih berdiri di depan pintu.
"Bisakah aku ingin bicara berdua dengan Hinata, Naru?" pintanya.
"Okey" Naruto tak yakin ingin meninggalkan mereka berdua tapi ia setuju dan pergi keluar begitu saja.
"Naru? Wah kalian akrab sekali." Ucap Hinata entah dengan nada apa setelah pintu kamarnya tertutup. Dia memanggil Naruto tak hanya menggunakan nama depan tapi bahkan nama panggilan.
"Tolong jangan salah paham." Mata sang Hime menoleh ke Hinata yang mulai berjalan mondar-mandir dan menatapnya curiga. "Ibumu bilang kamu selalu memanggil Naruto begitu." Lanjutnya menjelaskan tapi Hinata masih saja menatapnya penuh curiga, terselip sedikit tak suka dari pancaran matanya.
"Hmhmhmhmhmhm"
"Kau tak mau kembali tapi kau di sini sekarang tak lama setelah Naruto datang. Hmm" Hinata mengatakan kecurigaan yang ada di dalam kepalanya. "Mungkinkah kau di sini untuk Naruto?" tak mungkin dia datang karena kecelakaan. Dia kembali pasti karena dia menginginkannya, Hinata yakin.
"Apa kau menyukainya?" langkah Hinata terhenti, matanya menatap menuntut jawaban gadis yang menatapnya datar.
"Tidak."
"Kau bohong." Hinata tak percaya. Dia pasti berbohong. Jelas sekali dia mengikuti Naruto sampai ke sini. Apa alasannya selain dia menyukai Naruto? "Aku tak mau bicara denganmu." Niat Hinata ingin keluar dari dalam kamar tapi sang Hime menarik tangannya memaksanya untuk jangan keluar dari dalam kamar.
"Tolong dengarkan dulu aku. Bukan itu alasanku kemari." Tak perduli sekuat apa ia mencoba menyakinkan Hinata tapi Hinata memberontak ingin lepas darinya.
"Tak mau! Kau pembohong. Kau pembohong, aku tak mau bicara denganmu."
"Waaaaaaa Naruto! Tolong! Naru tolong!"
"Aku hanya ingin bicara soal Toneri!" aksi berontak Hinata terhenti. Ia menatap sang Hime yang kemudian melepaskan tangannya.
"Toneri?" sang Hime mengganguk kecil sebagai jawaban.
.
.
.
Disclaimer : Demi apapun, Naruto bukan punya saya, punya Masashi Sensei, saya hanya pinjam saja.
Portal : Diffrent
(Hati hati typo, tulisan mendadak hilang, OOC, AU dan lain-lain. Udh usahain sebagus mungkin)
Portal : Diffrent by authors03
Please.. Dont like dont read.. Thanks.
.
.
Chapter 10
.
"Ada apa dengan Toneri?" tanya Hinata penasaran pada apa yang akan dikatakan oleh gadis di depannya ini. Dia tampak sangat ragu sekali.
"Sejujurnya aku tak tahu apa alasannya. Tanpa berpikir panjang aku datang ke sini ketika aku tahu kalian akan menikah." Kepalanya tertunduk, dia memainkan jarinya di atas perut. "Tapi sekarang setelah aku di sini, aku sangat kebingungan apa yang harus aku lakukan. Aku tak tahu mengapa aku kembali ke sini." Jelasnya bingung pada perasaannya sendiri. Ia tak tahu mengapa, hanya saja ia melakukannya.
"Apa kau mau bertemu dengannya?" hal itu terbaca jelas dimatanya tapi dia membantahnya.
"Tidak!" jawabnya cepat. "Aku tak datang untuk bertemu dengannya, aku tak bisa. Aku akan merasa sangat malu dan tak tahu diri jika aku muncul di depannya." Begitulah yang ia rasakan. Ia merasa sangat kebingungan apa yang harus ia lakukan setelah muncul di tempat ini lagi.
"Woah!" bibir Hinata membulat. Apakah dia cemburu? Dia datang setelah tahu Toneri akan menikah. Dia datang tanpa tahu apa yang mau dia lakukan. Apakah dia menyukai Toneri?
"Aku penasaran, katakan padaku." Hinata menarik sang Hime untuk duduk di atas kasur sedangkan ia mengambil posisi baring menyamping untuk melihat sang Hime yang tampak ragu. "Kau menyukainya? Wah kau pasti menyukainya. Aku yakin sekali." Ucap Hinata yakin. Lihatlah raut wajahnya, dia jelas sekali suka pada Toneri.
"Tidak!" sang Hime berdiri karena kaget pada ucapan Hinata.
"Kenapa? Kenapa tidak? Apa alasannya?"
"A-alasan?" Hinata mengubah posisinya menjadi duduk dengan melipat kedua kakinya di balik gaun panjang.
"Ya, mengapa tidak? Pasti ada alasan, kau tak suka padanya." Lihatlah, dia tak bisa menjawab. Tak perduli selama dan sekeras apa dia berpikir. Dia tak punya alasan.
"Aku hanya tak suka padanya." Dia menjawab penuh dengan keraguan.
"Dia sangat baik dan dia sangat mencintaimu. Dia raja dan dia kaya, dia sangat penyayang dan lembut. Dia berikan kau segalanya. Apanya yang tidak?" tak ada alasan untuk tak menyukainya apalagi gadis itu selalu melihat Toneri setiap harinya.
"Karena itu." Hinata terbungkam ketika ia melihat air mata lolos dari salah satu mata gadis di depannya. Dia menggunakan kedua telapak tangannya untuk menutupi wajahnya yang memerah. "Aku hanya tak bisa menyukainya tapi sekarang aku di sini tanpa tahu apa mauku dan aku merasa sangat malu sekali." Entah mengapa juga ia merasa sedikit lega karena tahu pernikahan Hinata gagal dikarenakan Hinata yang tiba-tiba pingsan tapi ia juga merasa menyesal telah tak sengaja membuat Hinata terluka.
"Jangan menangis." Spontan Hinata berlari ke arah sang Hime karena terkejut. Ia mencoba menenangkannya dengan memeluknya. "Apa kau tahu? Aku melihat Toneri sudah bersusah payah sekali melepaskan semua hal untukmu." Hinata menyandarkan dagunya ke pundak sang Hime. "Aku pernah dengar cerita bahwa Toneri harusnya menikahi seorang putri dari salah satu kerajaan tapi dia menolaknya tanpa perduli apa resikonya dan semuanya hanya karena dia sangat ingin bersamamu, hanya denganmu." Toneri sendiri yang mengatakannya pada Hinata, dia mengatakan bahwa menikahi seorang perempuan yang bahkan bukan dari keluarga kerajaan bukan hal yang bagus untuknya tapi dia bahkan tak mau tahu.
"Aku tahu..." suara sang Hime melemah. "Aku punya banyak alasan mengapa aku tak bisa menyukainya." Ia merasa tak pantas.
"Tapi setelah semua yang dia lakukan untukmu, tidakkah kau juga punya banyak alasan untuk menerimanya?"
"..."
.
.
.
Tok
Tok
Tok
"Hinata"
.
.
.
Deg!
Hinata menjauh dengan segera ketika ia mendengar suara gedoran dari pintu kamarnya tapi yang membuatnya terkejut adalah suara yang ia dengar.
"Itu Toneri!" bisik Hinata panik. Ia takut pada apa respon Toneri ketika melihat gadis yang dia cinta di sini.
"Bagaimana?" tentu saja sang Hime jauh lebih panik lagi. Ia sungguh tak mau melihat lelaki itu. Ia takut.
"Sembunyi."
"Hei!" sembunyi, harusnya dirinya yang bersembunyi tapi mengapa malah Hinata yang menyembunyikan dirinya di bawah kasur?
Meninggalkan ia yang langsung mematung karena suara pintu mulai terbuka.
.
.
.
"Hinata, Naruto bilang kamu ingin bicara denganku?"
"Tidak! Jangan mendekat!" alis Toneri terangkat sebelah menatap aneh dan penuh tanda tanya Hinata yang tiba-tiba berjongkok memunggunginya dan juga menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Ada apa denganmu?" Toneri mencoba mengintip tapi ia tak bisa melihat wajah Hinata yang ditutup oleh surai panjangnya.
"Tolong, aku tak mau melihatmu."
"Itu yang ingin kamu katakan?" Toneri bersumpah Naruto datang padanya dengan mengatakan ada hal penting yang ingin Hinata katakan di kamarnya. Karena penasaran, disinilah dirinya tapi apa yang terjadi pada Hinata?
"Maafkan aku."
.
.
.
Masih dengan menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan, Hinata mengintip apa yang terjadi dari bawah kasur. Tapi apa yang bisa ia lihat hanyalah kaki dua manusia di depannya dan juga mendengar suara mereka. Omong-omong bukankah sang Hime yang harusnya bersembunyi? Tapi abaikanlah, Hinata terlalu panik tadi, yang penting Toneri hanya melihat satu Hinata.
"Aku hanya sedang jelek. Maafkan aku."
"Hah?" hampir saja Hinata tertawa mendengar apa yang sang Hime katakan. Dia memberi alasan yang paling bodoh dari yang bodoh tapi bukankah begitulah Hinata? Hinata selalu menjawab sesuka hatinya.
"Bisakah kita bicara nanti?" cukup lama Toneri terdiam, sepertinya sedang berpikir tapi kemudian dia menjawab.
.
.
"Baiklah, aku akan menunggumu di belakang istana?" sang Hime mengangguk sebagai jawaban tanpa sedikitpun merubah posisinya.
"Datanglah kapanpun kau mau..." dan kemudian Toneri pergi keluar.
Ceklik
Pintu tertutup dan Toneri terdiam di sana. Ia berpikir keras mengingat soal apa yang baru saja terjadi.
.
.
.
"Huah! Kaget aku." Hinata merangkak keluar dari bawah kasur ketika ia yakin Toneri telah pergi. Sang Hime juga langsung beranjak dari posisinya.
"Hinata, aku rasa aku tak mau bertemu dengannya." Begitulah kalimat dengan nada panik yang membuat Hinata bertanya-tanya.
"Kenapa? Bicaralah padanya. Dia akan mengerti." Jawab Hinata tak paham pada apa yang ada dipikiran sang Hime. Hinata tak paham apa yang sangat membuatnya panik seolah Toneri akan menelannya hidup-hidup.
"Maaf, aku tak bisa." ia sudah terlanjur mengatakan akan menemui Toneri tapi seperti apa ia memikirkannya, ia benar-benar yakin tak bisa menatap lelaki itu. Ia tak punya nyali itu.
"Tapi maukah kamu membantuku? Jangan membuatnya menunggu terlalu lama. Temui dia dan tolong bicaralah apa saja padanya." Hinata bahkan tak mau memikirkan permintaan sang Hime, ia menolaknya dengan cepat.
"Sori dori stoberi, saya tak mau!" Hinata tak tahu harus bicara apa pada Toneri setelah sang Hime bertingkah aneh seperti tadi dan juga ia ingin Toneri bertemu dengan Hime dengan harapan Toneri akan sangat bahagia melihatnya.
"Hinata, aku benar-benar minta to"
"Tidak, pokoknya aku tak mau." Maaf saja tapi Hinata bukan orang yang mudah dibujuk.
"Pergilah, jangan buat dia menunggu terlalu lama. Aku akan mengajak Naruto pergi agar kalian bisa bicara dengan nyaman." Begitu lebih baik daripada Hinata membantu dan kemudian gadis ini mungkin akan menyesal kesempatan untuk berbicara dengan Toneri menghilang.
"Hinata"
"Tidak tidak. Pokoknya tak mau." Hinata masih pada pendiriannya tak perduli usaha Hime menahan tangannya ataupun menghalang pintu kamar, tak perduli sama sekali bahkan pada raut wajah memohonnya sekalipun.
"Temui dia sekarang sebelum dia marah dan aku yang kena imbasnya." Hinata memaksa membuka pintu kamar dan lari pergi begitu saja dengan meneriaki kalimat.
"Kau manusia paling bodoh yang pernah aku kenal!" sang Hime mematung. Bodoh? Ia belajar bersama Toneri, jika ia bodoh ia tak akan bisa tetap di istana ini. Apa maksud Hinata mengatainya bodoh?
Menyia-yiakan Toneri yang begitu mencintainya, yang melakukan apapun untuknya, lari darinya, bahkan mencoba untuk tak kembali tapi kemudian di sini dia tanpa tahu apa maunya, tanpa mau mengakui apa yang ada di pikirannya, bahwa dia sudah sangat jatuh hati pada Toneri, dia tak mau melihat Toneri bersama orang lain. Dia benar-benar bodoh.
"Aku saja tak sebodoh itu. Kau bodoh benar-benar bodoh!"
.
.
.
.
To be continue
