Kebahagiaan, kata-kata yang begitu sederhana dan sepertinya mudah di rasakan semua orang, tetapi bagi Taehyung dan Jimin kata itu terasa asing di pendengaran dan perasaan mereka. Mungkin terakhir mereka rasakan saat di masa kecil, selebihnya hanya lambungan sesaat bagaikan fantasi karena nyatanya sedih, kesepian dan penderitaan yang menghantui dan menemani. Taehyung yang hidup di bawah bayang-bayang keluarga Kim demi kelangsungan hidup ibunya dan Jimin yang saat ini di kejar rasa bersalah dan depresi karena tidak bisa menjaga orang yang benar-benar di cintanya. Melihat kenyataan pahit yang mereka berdua hadapi rasanya amat konyol untuk berharap adanya kebahagiaan. Hanya rasa kesepiannya, pedih dan putus asa membayangi dari hari ke hari,namun tetap saja Taehyung dan Jimin masih memegang harapan untuk berbahagia, walaupun cuma sedikit karena hanya itu yang membuat mereka masih ingin bertahan hidup menjalani dari hari ke hari.

*

"Baik dok..aku mengerti, aku akan berusaha mencari cara untuk membantu permasalahan Jimin" jawab Taehyung kepada psikiater Han yang saat ini masih meangani Jimin. Sudah sekitar 1 minggu Jimin di rawat di tempat praktek psikiater Han dan kondisinya sudah sedikit lebih baik walaupun masih sering termenung sendiri dengan tatapan kosong. Taehyung memijat kepalanya setelah memutuskan sambungan telepon dengan psikiater Han, memang ia berkata akan berusaha membantu permasalahan Jimin yang tentunya menyangkut Min Yoongi dan bayi mereka tetapi ia sendiri tidak tahu harus mulai dari mana. Tidak mungkin Taehyung langsung menghampiri keluarga Min dan mengatakan semuanya tentang Jimin dan Yoongi berharap mereka akan merestui hubungan sahabatnya itu, yang ada ia bunuh diri jika melakukan hal itu. Terlebih dirinya juga harus menutup rapat tentang kondisi Jimin yang saat ini mengalami depresi dari semua pihak termasuk keluarga Park dan Kim sendiri karena itu Taehyung memutuskan untuk tetap berkerja dan menitipkan Jimin di tempat praktek psikiater Han sampai kondisinya stabil, untuk mengurangi kecurigaan jika mereka berdua sama-sama absen dalam waktu lama. Taehyung memutuskan untuk bersiap pergi bekerja sambil memikirkan kira-kira hal apa yang bisa ia lakukan mengenai sahabatnya itu, walaupun sedikit setidaknya Jimin harus menemukan harapannya kembali karena jika tidak Taehyung sangat takut Jimin kembali nekat mencoba bunuh diri seperti dulu.

"Tuhan..kumohon bukalah jalan untuk Jimin dan diriku menuju kebahagiaan, sekali saja" bisik Taehyung dalam hati, ia memang bukan orang yang beriman tetapi kali ini saja ia memohon dengan sangat untuk menghapus keputus asan yang menghantui dirinya dan sahabatnya sejak dulu.

*

"Noona! akhirnya kau kembali!" seru Jungkook riang begitu suster Lisa masuk ke ruangannya. Suster Lisa terlonjak kaget ketika Jungkook memeluknya cukup erat, tetapi mulai membalas pelukan Jungkook, kerinduan dan antusias Jungkook cukup membuat hatinya menghangat.

"Aku kembali.. bagaimana kabarmu Jungkook?kau jadi anak yang baik kan ketika aku pergi" goda suster Lisa sambil mencubit pipi gembul Jungkook gemas.

"Hehehe.. sepertinya iya, walaupun aku bertengkar dengan dokter Park sebelumnya" cengir Jungkook dengan sedikit ekspresi bersalah. Suster Lisa hanya menggelengkan kepalanya pelan "kau tidak boleh terlalu membebani dokter Park, Jungkook..kasihan dia sedang banyak masalah, sudah seminggu juga dokter Park cuti karenanya" nasehat suster Lisa lembut, ia tidak terlalu paham yang menjadi permasalahan antara Jungkook dengan dokter Park, karena menurut laporan yang ia dapat hanya kondisi Jungkook sempat menurun akibat stress dan membuat dokter Park kerepotan. wajah Jungkook berubah menjadi cemberut, ia masih kesal dan kecewa dengan kejadian kemarin, menurutnya dokter Park sangat pengecut dan kembali lari dari tanggung jawabnya.

"Sudah..jangan bad mood begitu, makanlah sarapanmu setelah itu kita ke taman untuk melihat bunga sakura oke?" hibur suster Lisa, yang membuat mood Jungkook kembali senang. Setidaknya Jungkook membutuhkan udara segar untuk mengurangi stressnya walaupun sedikit.

*

"Ah! Dokter Kim!" seru Jungkook bersemangat setelah bertemu di lobby rumah sakit, saat dirinya dan suster Lisa selesai berkeliling sekitar taman rumah sakit. Taehyung hanya tersenyum seadanya, dan dengan cepat berlari menuju tangga, ia baru saja mendapatkan telepon untuk melakukan operasi darurat, sedangkan sudah hampir 5 menit terlambat.

"Ck..dingin sekali! padahal aku sudah seminggu tidak bertemu dengannya" decak Jungkook kesal dengan respon dokter Kim setelah di sapa. Jungkook kira dokter Kim setidaknya menanyakan kabar dirinya, padahal perawat yang lain bilang dokter Kim sangat khawatir saat kondisi Jungkook sempat drop karena terlalu stress dan demam tinggi. Melihat perilaku dokter Kim tadi sepertinya ia jadi meragukan apakah lelaki itu benar-benar perduli padanya. Suster Lisa yang mendengar keluhan Jungkook dan ekspresinya yang kembali cemberut, mengelus punggung lelaki manis itu untuk menenangkan "mungkin saja dokter Kim terburu-buru karena ada pasien menanti, jangan berpikir negatif". Perkataan suster Lisa ada benarnya juga, hanya saja rasa kecewa masih menempel di benak Jungkook, ia merasa seakan hanya dirinya yang merindukan dan berharap bisa bertemu dokter Kim lagi. Jam sudah menunjukkan pukul 1 siang dan sudah waktunya Jungkook untuk istirahat siang jadi suster Lisa mengantar Jungkook ke kamar rawatnya.

"Jangan cemberut begitu...noona akan berusaha membujuk dokter Kim untuk melakukan pemeriksaan rutin padamu setelah makan malam, percayakan pada noona oke?" hibur suster Lisa sambil mengedipkan sebelah matanya. Jungkook kembali tersenyum senang setelah mendengarnya, ia berharap nanti bisa berbincang-bincang dengan dokter Kim walaupun hanya sebentar.

*

"Hmm..tekanan darahmu sudah lumayan normal" ucap dokter Kim pelan, setelahnya memeriksa kondisi Jungkook secara menyeluruh. Jungkook sedari tadi hanya terdiam memperhatikan dokter Kim yang sedang bekerja. Jungkook terus memperhatikan setiap gerakan dan wajah dokter Kim, mungkin orang lain tidak menyadari tetapi Jungkook mampu memperhatikan wajah dokter Kim yang cukup pucat dan kantung matanya yang terlihat agak hitam. Sepertinya dokter Kim sedang ada masalah karena sifat ceria dan menggodanya juga seakan hilang saat ini, ia hanya terus memeriksa Jungkook dan menulis laporan pemeriksaan tanpa bericara apapun atau menatap Jungkook dengan mata berseri. Rasa cemas dan penasaran kembali meliputi Jungkook, ia menebak mungkin ini ada hubungannya dengan dokter Park Jimin tetapi masih belum tahu secara pasti dan ia tidak kuat melihat dokter Kim yang seperti di landa stress.

"Dokter Kim..kenapa kau agak sedikit pucat hari ini?" tanya Jungkook berusaha memulai pembicaraan di antara mereka. Dokter Kim hanya merespon dengan tatapan datar dan kembali fokus menulis laporan pemeriksaan.

"Tidak perlu khwatir padaku Jungkook, cukup jaga kondisimu agar tetap stabil" tegas dokter Kim dengan nada dingin, hal itu sukses membuat jantung Jungkook bergetar sedih. Tanpa sadar Jungkook mengepalkan tangannya kencang berusaha menahan air mata dan isakannya yang ingin menyeruak. Jungkook menghela nafas pelan dan kembali memberanikan diri untuk menatap dan berbicara dengan dokter Kim.

"Maafkan aku..hanya saja dokter Kim tidak ceria seperti biasanya" ucap Jungkook amat pelan, seperti gungaman kepada dirinya. Taehyung menghentikan gerakan jarinya yang menulis dan menatap Jungkook dingin kali ini, seakan ia sedang melihat orang asing di bandingkan melihat seorang yang akhir-akhir ini dekat dan hangat kepadanya.

"Aku hanya melakukan tugasku seperti biasa, jangan beranggapan yang tidak-tidak kepada dokter yang bertugas merawatmu Jungkook" perkataan dokter Kim yang sukses menusuk Jungkook lebih dalam dari apapun yang pernah ia alami, bahkan makian yang pernah di tunjukkan kepada Jungkook tidak pernah terasa sesakit ini. Jungkook menundukkan kepalanya dalam, air matanya mulai menyeruak dari kelopaknya tanpa bisa ia bendung lagi. Seumur hidup Jungkook hanya pernah 3 kali merasakan sakit yang amat mengores jiwanya, pertama saat orang tuanya bercerai dan ibunya meninggalkan dirinya karena cacat, kedua saat ayahnya memilih bunuh diri karena tidak sanggup menanggung tekanan batin dan ketiga hari ini dimana harapan tingginya untuk menggapai Kim Taehyung di hempas ke dalam lautan tanpa dasar. Jungkook menarik tangannya yang baru akan di pakaikan alat tekanan darah oleh Taehyung, ia amat kesal dan sakit hati sekarang, ia ingin dokter Kim pergi dari hadapannya saat ini. Dokter Kim tersentak kaget saat Jungkook menarik tangannya kasar dan membuang muka saat dokter Kim menatapnya heran.

"Jeon Jungkook! apa yang kau lakukan?" tegur dokter Kim keras, tanpa sadar ia juga tersulut emosi melihat kelakuan Jungkook.

"PERGI DARIKU SEKARANG!!" teriak Jungkook mendorong dokter Kim untuk menjauh darinya. Dokter Kim hampir saja jatuh terjungkal karena dorongan tiba-tiba Jungkook, untung saja ia berhasil menjaga keseimbangannya. Dokter Kim sudah siap berteriak marah membalas Jungkook tetapi wajah Jungkook yang memerah dengan air mata yang bercucuran membuat jantungnya terasa berhenti. Taehyung baru sadar ia telah menyakiti Jungkook dengan perkataan dan tindakan dinginnya dan sekarang ruangan itu di penuhi oleh isakan pilu Jungkook. Jantung Taehyung terasa di remas pelan-pelan seiring dengan tangisan Jungkook yang makin menjadi-jadi, ia secara refleks memeluk lelaki manis itu, berharap bisa meredakan tangisannya.

"Ma-maafkan aku Jungkook" bisik dokter Kim berulang ulang, tidak perduli dengan berontakan Jungkook yang berusaha lepas dari pelukannya karena perasaan Taehyung seolah berkata kalau saja ia melepaskan Jungkook, lelaki manis itu bisa hancur. Taehyung memang di landa stress amat berat sedari pagi, seolah hari ini tidak ada yang berjalan dengan lancar karena itu tanpa sadar ia melampiaskannya kepada Jungkook. Tangisan Jungkook mulai mereda, namun tidak dengan rasa sakit hatinya.

"Ku-mohon..hiks..tin..galkan aku sendiri..hiks" Isak Jungkook masih berusaha mengusir dokter Kim. Taehyung melonggarkan pelukannya tetapi ia menolak untuk pergi dari sisi Jungkook, ia sendiri sudah mengeluarkan bulir air mata karena merasa amat bersalah kepada Jungkook. Tangan Jungkook terus di pegang erat oleh dokter Kim dan isakan mereka berdua memenuhi ruangan. Pikiran Jungkook terasa kosong saat ini, ia tidak tahu lagi apa yang harus di lakukan, penolakan dari dokter Kim terus terngiang-ngiang di benaknya, seolah perasaan saat dirinya di pisahkan oleh kakaknya oleh ibunya kembali meremas dirinya hingga hancur.

"Jungkook.. ku-mohon maafkan aku" bisik Taehyung berulang-ulang sambil mengusap tangan dan kepala lelaki manis itu. Taehyung amat takut sekarang, ia takut jika kejadian Jimin terulang pada Jungkook, terutama lelaki manis itu sangat rapuh. Semua ini karena dirinya, kekacauan yang terjadi pada Taehyung karena dirinya sendiri yang kurang perduli dengan orang-orang di sekitarnya, mungkin benar apa yang di katakan ayah kandungnya dulu kalau ia akan selalu gagal menjaga orang yang di kasihinya.

tbc