JK Rowling has everything, unless Alistair, Daniel Torres and the plot.

Chapter 9

ER tampak tidak bersahabat sore ini. Dua orang healer di ER terlihat sibuk berlalu lalang ditemani oleh para perawat. Terlihat ada empat ranjang yang terisi dan beberapa pasien lain yang masih menunggu giliran di ruang tunggu. Hermione menghela napas. Rencananya bersantai sebelum makan malam nanti terlihat mustahil.

"General's here," ucapnya pada salah satu healer di ER itu yang tengan menulis sesuatu pada chart pasien di nurse station.

"Hello, Healer Granger," sapa healer itu dan tanpa tedeng aling-aling lagi ia memberikan chart salah satu pasien yang berada di ranjang itu.

Hermione membacanya sambil berjalan ke arah pasien yang dituju. "Ia datang dengan keluhan sakit perut yang tak tertahankan serta demam sekitar 38,5 derajat celcius," jelas healer itu.

Hermione meletakkan chart pasien itu di nakas ranjang tersebut lalu memeriksa cairan infus sihir yang telah digantung di sisi pasien ini. "Hello, saya Healer Granger," sapa Hermione sambil memperkenalkan diri yang tak dipedulikan oleh pasien tersebut.

Pasien laki-laki di hadapannya tampak meringkuk dan kesakitan sambil terus memegang perutnya. Tanpa perlu berbasa-basi lagi Hermione mengenakan stetoskop sihirnya dan memulai pemeriksaan. "Tarik napas yang dalam," pinta Hermione saat memeriksa punggung pasien itu.

Kening Hermione berkerut saat mendengar tarikan napas pasien ini yang terkesan abnormal. Ia melanjutkan dengan memeriksa bagian perut pasien. "Dari skala satu sampai sepuluh, ada di angka berapa rasa sakit perutmu, sir?"

"Sepuluh," jawabnya parau.

"Berikan aku pain killer, Healer. Tolonglah, aku tak dapat lagi menahan sakitnya," tambahnya yang semakin meringkuk.

Hermione belum menjawabnya dan masih terus memeriksa pasien itu. Ia menekan-nekan bagian perut pria ini dan ia dapat melihat rasa sakit itu dari wajahnya. Tanpa berlama-lama lagi ia mengambil darah pasien ini lalu menerbangkannya secara sihir untuk pemeriksaan virus dan bakteri yang kemungkinan menginfeksi pasien ini.

"Bring me the ultrasonography for abdomen now," pinta Hermione.

Mesin ultrasonography sihir itu datang dalam hitungan detik ke hadapannya dan dengan sangat cekatan ia memindai perut pria yang tampak berkeringat sebesar-besar biji jagung di tengah musim dingin seperti sekarang. Kening Hermione semakin mengerut ketika melihat organ dalam pencernaanya mengalami pendarahan yang terlihat sudah sangat parah. Tetiba saja pasien mengerang kesakitan sambil menyemburkan darah dari mulutnya. "Huaaah," teriak Healer di ER itu sambil menarik Hermione bangkit dari tempat duduknya yang kini bersimbah darah.

Darah dari mulut pasien itu mengenai wajah dan matanya. Rasa terkejut Hermione terkalahkan oleh rasa takutnya akan kemungkinan penyakit menular yang terkandung di darah pasien yang mengenai matanya. Pindaian organ dalam itu menunjukkan pendarahan massive akibat gagal organ yang biasa terjadi pada pasien dengan infeksi virus tertentu. Beberapa perawat langsung datang dengan sigap untuk membantu membersihkan sang pasien namun Hermione menggeleng. "Stop," ucapnya setengah berteriak.

"Sir, apakah kau sempat melakukan perjalanan ke luar negeri dalam dua minggu terakhir?" tanya Hermione yang sudah membersihkan darah pasien itu dari tubuhnya dengan satu rapalan mantra.

Pasien itu mengangguk. "Aku baru pulang dari Kongo minggu lalu," jawabnya parau.

"Fuck," umpat Hermione pelan.

Belum sempat ia memberikan pertolongan pada pasien ini, suara ambulance sihir terdengar dengan lantang di ambang pintu ER ini. Dua orang paramedic sihir turun dengan dua brankar. Healer ER lainnya mendekati paramedic itu. "Dua orang pria, berusia 25 dan 31 tahun. Mengalami demam dan sakit perut akut disertai dengan sesak napas," jelas paramedic itu.

"Martin," ucap pasien pria yang baru saja datang saat melihat pasien yang menyemburkan darah dari mulutnya tadi.

Hermione langsung menghampiri pasien yang baru datang tersebut. "Kalian saling mengenal?" tanya Hermione.

"Kami satu team penelitian," jawabnya.

"Apakah kau juga pergi ke Kongo dengannya minggu lalu?"

Pria berusia 31 tahun itu mengangguk. "Dan kau juga mengalami demam serta sakit perut dan sesak napas dalam beberapa hari ke belakang?"

Lagi-lagi pria itu mengangguk. Hermione mengumpulkan semua healer dan perawat yang bertugas di ER sore ini di nurse station. "Ketiga pasien mengalami gejala yang sama yang itu demam di atas 38 derajat celcius, sakit perut yang luar biasa serta sesak napas. Mereka memiliki riwayat perjalanan ke Kongo dalam satu minggu ke belakang. Aku menduga ini Ebola."

Wajah terkejut dan ketakutan tampak jelas di antara mereka saat mendengar penjelasan Hermione. "Merlin,"ucap salah satu perawat.

"Tolong ikuti instruksiku. Hubungi departemen kesehatan di Kementerian mengenai hal ini. Tarik sampel darah dari laboratorium kita dan kirim ke laboratorium di departemen kesehatan. Isolasi ER dan pakai hazmat suit sekarang juga."

Dan lagi-lagi wajah penuh ketakutan terpancar dari para healer dan perawat. Namun tidak ada satupun kata protes terucap dari mereka. Hal pertama yang mereka dan Hermione lakukan adalah mengenakan hazmat suit lengkap dengan sarung tangan dan maskernya kemudian melakukan protokol isolasi ER setelah mendapat persetujuan dari manajemen St Mungo. Pasien lain seketika terkejut dan panik. Keadaan ER berubah menjadi kacau. Pasien-pasien lain meminta untuk dipulangkan dan menolak dengan tegas untuk diisolasi di ER ini.

"Pulangkan kami!" pekik salah satu wanita tua yang datang dengan keluhan sakit di pinggangnya.

"Benar! Kami tidak sakit parah, pulangkan kami. Aku datang hanya karena pusing, aku tak mau di isolasi," tambah salah satu pasien pria yang juga sudah setengah baya.

Healer-healer lain berusaha meredam kemarahan mereka sambil tetap mengedukasi bahwa hal ini diperlukan karena mereka berada di ruangan yang sama dengan tiga pasien yang dicurigai terpapar virus Ebola. Sementara Hermione tengah sibuk memberikan perawatan pada ketiga pasien itu.

"Healer Granger! Mr Martin Johnson terkena serangan jantung," teriak salah satu perawat.

Sontak Hermione berlari ke arahnhya untuk melakukan resusitasi jantung paru dan berakhir dengan mengintubasi pasien untuk menyelamatkan jalan napasnya. Baru saja wanita itu sedikit bernapas pasien termuda berusia 25 tahun yang juga dicurigai terpapar virus Ebola mengalami kejang. Kembali Hermione melakukan tindakan penyelamatan. Dalam waktu kurang dari satu jam ia sudah berkali-kali mencoba menyelamatkan nyawa dari ketiga pasien ini. Peluh keringat terasa membanjiri dirinya di dalam hazmat suit-nya.

"Healer Granger, Professor Sinistra ingin berbicara denganmu," ujar salah seorang perawat.

Wanita itu berjalan menuju sebuah pintu kaca yang sudah ditutup rapat dan dimantrai sesuai dengan protokol kesehatan sihir. Pintu kaca itu menjadi pembatas antara daerah ER yang diisolasi dengan daerah aman rumah sakit. Professor Sinistra juga memakai masker sebagai tindakan preventif saat mendekati area steril itu.

"Bagaimana keadaan ketiga pasien itu?" tanya Arthur Sinistra dengan pengeras suara sihir agar Hermione dapat mendengarnya.

"Dua stabil sementara pasien atas nama Martin Johnson kritis. Jika aku tak mengoperasinya dalam waktu satu jam, aku takut dia tak akan selamat."

Hermione menghela napas sesaat. "Apakah belum ada perkembangan terbaru dari Kementerian mengenai sampel darah yang kita kirimkan?"

Sinistra menggeleng. "Mereka masih memeriksanya."

Kembali Hermione menghela napasnya. "Aku dengar kau terpapar lewat darah pasien."

Wanita yang terlihat bak astronot dengan hazmat suit-nya itu mengangguk. "Pasien sempat muntah darah dan mengenai wajah serta mataku."

"Ebola dapat diobati jika diketahui sejak dingin. Kau akan aman, Hermione," balas Sinistra sementara Hermione hanya tersenyum menanggapinya.

"Para Auror sudah datang untuk melakukan protokol penjagaan terhadap ER serta media yang meliput dan para keluarga pasien yang berdatangan."

Kembali Hermione hanya mengangguk. "Aku sendiri yang akan mengabarimu untuk perkembangan sampel darah yang sudah kita kirim."

Tepat di saat Sinistra pergi Hermione terduduk lemas di lantai.

000

"Code Yellow."

"Code Yellow."

"Please evacuate ER."

"Code Yellow."

"Code Yellow."

"Please evacuate ER."

Pengumuman dari suara yang dikeraskan secara sihir itu terdengar ke seantero rumah sakit. Orang-orang berhamburan dari daerah yang akan disterilisasi itu, sementara Draco Malfoy berlari sekuat tenaga menembus mereka semua. Hanya ada satu hal di dalam pikirannya sekarang yaitu Hermione Granger. Bagaimana mungkin nasib membuatnya berada di ER tepat di saat pasien dengan dugaan Ebola itu datang? Dari sekian banyak healer di rumah sakit ini, mengapa harus Hermione yang berada dalam situasi seperti ini?

"Kau tak dapat mendekati area steril, Sir."

Langkah Draco terhenti seketika. Ada banyak sekali Auror yang berjaga di sekeliling ER Rumah Sakit St Mungo. Hal yang sangat mustahil jika tidak ada hal yang membahayakan terjadi disini. Draco menghela napasnya sesaat. "Sir? I am a healer," balasnya.

Auror itu tampak memerhatikan Draco dari atas sampai bawah tanpa berbicara sedikitpun. Lagi-lagi Draco menghela napas. Ia tak lagi memakai scrub suit biru tuanya dan tak ada lagi jubah putih seorang healer di tubuhnyalah yang membuat Auror ini tampak tak percaya padanya. Tanpa berbasa-basi lagi, ia mengeluarkan id card dari sakunya dan menunjukkan langsung ke hadapan Auror itu. "Kau sudah percaya," tambah Draco.

"Kau tetap tak bisa memasuki area ini streril ini, Healer. Hanya yang berkepentingan saja yang dapat memasuki area ini," balas Auror yang terlihat masih sangat muda di hadapannya ini.

"Goddamnit, Mr Auror. I need to be there right now," jawab Draco yang mulai emosi.

Ia mencoba untuk menerobos penjagaan itu namun dengan sigap Auror itu mengeluarkan tongkat sihirnya dan begitupula dengan Draco. Mereka saling menodongkan tongkat sihir sementara Auror-Auror lain sudah sigap mengeluarkan tongkatnya juga dan siap meringkus Draco jika ia nekat merapalkan mantra. "Put your wand down, Healer Malfoy," ujar salah satu Auror.

"Not until you give me a permission," balas Draco.

"Aku mungkin seorang healer sekarang, tapi aku masih ingat bagaimana cara merapalkan mantra untuk mencabik tubuh kalian," tambah Draco.

Terdengar suara derap langkah kaki yang perlahan berubah lebih cepat dari arah ER. "Bloody hell! Apa yang kau lakukan Malfoy?"

Ronald Weasley dengan cepat memberi isyarat pada auror-auror itu untuk menurunkan tongkatnya. Perlahan para auror itu mengikuti perintah dari atasannya itu. "Turunkan tongkatmu, Malfoy," pinta Ron pada pria berambut pirang itu.

Draco mundur selakangkah lalu perlahan ikut menurunkan tongkatnya.

"Biarkan aku masuk ke ER, Weasley," ujar Draco yang disambut dengan gelengan dari Ron.

"What the fuck, Weasley! It's Hermione in there!"

"I know, Malfoy. Please calm down," balas Ron.

Draco mencoba tenang namun tak sedikitpun hal itu dapat dilakukannya. Hal yang ia dapat pikirkan hanyalah Hermione yang terjebak di ER dan ketidakberdayaannya saat ini. "I need to go there, Weasley. Hermione needs me."

"But it's a protocol, Malfoy. It's a restricted area after we get the confirmation from Ministry," balas Ron.

"Fuck off, Weasley! She is the mother of my son! I need to be there. I need to be with her."

"Stop shouting at me or I'll handcuff you," balas Draco.

Ron ikut mengela napas dalam bersama Draco. "Kau tak dapat masuk ke dalam ER, Malfoy. Dan seperti yang kau katakan tadi, Hermione adalah ibu dari anakmu."

Draco menatap Ron seketika saat ia mengangkat topic itu. "Kalian tidak boleh berada di ER bersama sekarang. Bagaimana jika benar pasien-pasien itu terjangkit Ebola? Lalu jika kalian berdua ikut terpapar, bagaimana nasib Alistair, putera kalian. Pikirkan itu Malfoy dan redam emosimu."

Pria itu terdiam seketika sementara Ron terlihat tengah berbicara pada seseorang dari ponsel sihirnya. Draco masih mematung ketika Ron kembali ke hadapannya. "Professor Sinistra mengatakan bahwa kau bisa melihatnya dari dekat tapi tidak masuk ke ER bersamanya."

"Okay."

Para Auror yang berjaga mempersilahkan Draco untuk memasuki tembok sihir yang dirapalkan untuk mengisolasi area sekitar ER. Draco sudah mengenakan masker dan surgical gowns saat ia berada di ambang pintu ER yang sudah disihir untuk mengisolasi orang-orang yang berada di dalamnya. Dari tempatnya ia melihat Hermione yang tengah meresusitasi salah satu pasien yang diduga terinfeksi Ebola itu. Ia tampak kelelahan setelahnya. Hermione tampak mundur sesaat dengan napas yang terengah-engah dari balik hazmat suit yang dikenakannya. Wanita itu tampak berjalan gontai menuju nurse station untuk menulis sesuatu disana. Tepat sesaat ia menyelesaikan tulisannya itu tatapannya jatuh pada Draco yang berdiri di ambang pintu ER yang telah dilapisi sihir itu.

Hermione tersenyum saat melihat keberadaan Draco disana. Wanita itu berjalan ke arah pintu itu masih dengan hazmat suit lengkap dengan masker dan sarung tangannya. "Apa yang kau lakukan? Ini daerah terlarang," ujar Hermione dengan pengeras suara sihir agar Draco dapat mendengar suaranya.

"Tentu saja untuk mengecek dirimu, silly."

"Pergilah. Kementerian belum mengeluarkan hasil pemeriksaan dari sample yang telah kami kirim. Kau bisa ikut terpapar jika mereka positive terinfeksi Ebola," balas Hermione.

Dahi Draco mengerut lalu ia tersenyum. "Ebola is not an airborne virus, Hermione. You are the almighty healer and you should know it."

Hermione tersenyum lemah dari balik masker dan hazmat suit-nya. "Tentu aku tahu. Virus ini akan menyebar dari kontaminasi darah dan air liur. Dan aku terkontaminasi salah satu pasien itu."

Seperti ada runtuhan gunung es yang jatuh ke kepala Draco, pria itu mematung di tempatnya. Hermione berada di satu tempat dengan pasien yang diduga Ebola sudah membuatnya hampir gila dan pernyataan Hermione beberapa saat tadi membuatnya seakan benar-benar membuatnya hilang akal. Tetapi, ia berusaha dengan keras untuk tak menunjukkannya. Draco kembali tersenyum dari balik senyumnya. "Ebola dapat disembuhkan jika diketahui sejak awal, Hermione."

"The mortality rate is 50 percent, Draco."

"I am not gonna let you die, Hermione. You are stronger than you know. I need you, Alistair needs you."

Hermione meletakkan tangannya di pintu kaca itu. "I survived from dead twice. Once while we were at the war and twice from hypothermia. I am not sure I can survived from Ebola," kekehnya.

"It's not even confirm, Hermione. Don't say something stupid."

Hermione masih meletakan tangannya di pintu kaca itu. "Give me your hand, morron," pinta Hermione yang langsung dituruti oleh Draco.

"Jika aku terpapar dan tak selamat, tolong bantu aku membesarkan Alistair dengan sepenuh hatimu, Draco."

Tanpa Hermione sadari air mata terjatuh di pipinya.

"Code blue!"

"Healer Granger, pasien kembali terkena serangan jantung," panggil salah satu perawat.

"Maafkan aku karena membatalkan acara makan malam kita untuk kedua kalinya."

Kalimat itu adalah kalimat penutup antara ia dan Draco sebelum Hermione kembali berusaha untuk menyelamatkan nyawa pasiennnya.

000

Tak banyak yang bisa dilakukan oleh Draco selain memaksa Professor Sinistra untuk memaksa Kementerian mengeluarkan hasil dari sample darah para pasien dengan dugaan Ebola itu. Sudah lebih dari 4 jam setelah sampel itu dikirimkan ke Departemen Kesehatan Kementerian Sihir Inggris, namun tak kunjung ada perilisan hasil. Sementara para healer dan perawat di dalam ER itu termasuk Hermione sudah mulai kehabisan tenaga untuk menyelamatkan ketiga nyawa pasien itu. Dalam waktu lebih dari 4 jam, ketiga pasien dengan dugaan Ebola sudah berulang kali mengalami serangan dan henti jantung. Jika tak segera dioperasi untuk menyelamatkan kerusakan organ dalam mereka, besar kemungkinan mereka akan meninggal. Begitupula dengan tenaga medis yang menolong mereka.

Waktu sudah menujukkan pukul 10 malam ketika Draco melihat Arthur Sinistra dan Ronald Weasley berjalan ke arahnya dengan tergesa-gesa. Ada beberapa auror yang mengekori mereka. Draco bangkit dari duduknya dengan perasaan was-was luar biasa. Ekspresi wajah mereka sangat tak tertebak. Tidak ada wajah gusar disana, namun tak ada senyuman pula. Draco hanya menatap mereka yang berjalan semakin mendekat ke arahnya sambil terus berharap dan menyiapkan dirinya untuk hal terburuk.

"Hasilnya sudah keluar," ujar Professor Sinistra sesaat setelah bertemu Draco.

Draco tak berani sedikitpun membuka mulutnya. Ia hanya menunggu sampai Sinistra menyelesaikan kalimatnya. "It's negative. It isn't Ebola."

Rasa lega luar biasa langsung menjalar di tubuh Draco. Ia tak dapat berkata-kata sama sekali. Hal yang ia rasakan selajutnya hanyalah pelukan dari Sinistra. Ronald Weasley hanya tersenyum menatapnya sementara auror lain mulai membuka isolasi sihir dari ER ini. Beberapa healer surgeon, resident bedah serta perawat dengan sigap masuk ke ER tersebut untuk mengambil alih ketiga pasien itu. Wajah bahagia itu tampak dari semua healer dan perawat yang sedari tadi terjebak di ER itu. Begitupula dengan Hermione yang berjalan gontai ke arah Draco dengan perlahan membuka masker dan kacamata pelindung yang ia kenakan.

"It's not Ebola, Draco," ujar Hermione pelan lalu memeluk Draco.

Draco Malfoy membalas pelukan itu dengan sepenuh hati, seakan mereka baru saja memenangkan sebuah perang. Rasa lega dan bahagia yang luar biasa benar-benar dapat dirasakan oleh Draco saat ini. Perasaan bahagia yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.

"I am not going to die," Hermione mulai sesenggukan di pelukan pria yang masih mengenakan masker dan surgical gown itu.

"No, Hermione. You are not going to die," balas Draco masih memeluk hangat Hermione.

000

Departemen Kesehatan dari Kementerian Sihir Inggris sudah mengeluarkan uji sampel dari pasien yang diduga Ebola. Hasil uji sampel menunjukkan bahwa mereka terpapar spora dari jamur langka yang tumbuh dan berkembang di Kongo. Spora jamur itu sangat beracun dan akan sangat mematikan jika terhirup manusia. Dua dari ketiga pasien itu masih dalam masa kritis di ruang ICU setelah operasi untuk kegagalan organ dalam yang mereka alami. Sementara Mr Martin Johnson, pasien yang pertama kali ditangani oleh Hermionet tak sanggup bertahan lebih lama. Ia meninggal di meja operasi.

Seluruh healer dan perawat serta pasien yang berada di ER tadi menjalani uji sampel darah untuk mencegah terjadinya penularan sebelum dipulangkan. Waktu sudah menunjukkan lewat dari tengah malam saat Hermione Granger keluar dari ruangannya.

"Ready to go home?"

Langkah Hermione terhenti saat melihat sosok yang menunggunya di lorong ruangan para attending yang sudah diredupkan pencahayaannya itu. "Kau masih di sini? Apa yang kau lakukan?"

"Menunggumu tentu saja."

"Tetapi, Bibendum sudah tutup dan penampilanku sangat jauh dari kata layak untuk sebuah makan malam."

"Siapa yang akan mengajakmu makan malam, stupid. Aku menunggu untuk mengantarmu pulang," balas Draco.

Hermione tersenyum lemah. "Aku membawa mobil sihirku hari ini."

"Tinggalkan saja di parkiran. Tidak akan ada yang bakal mengambilnya," jawab Draco lalu berjalan pelan meninggalkan Hermione di lorong itu.

Hanya beberapa menit dari rumah sakit, mobil sihir Draco sudah berada tepat di depan kediaman Hermione. "Terima kasih. Maafkan aku yang kembali membatalkan makan malam denganmu," ujar Hermione sambil melepas sabuk pengaman yang ia kenakan.

"Berhenti meminta maaf. Kita masih punya banyak waktu makan malam bersama. Bibendum tidak akan bangkrut dalam waktu dekat setahuku."

Wanita itu terkekeh lalu turun dari mobil sihir sedan hitam itu. Mereka berdiri di ambang pintu kediaman Hermione dalam keheningan. Angin malam bertiup begitu menggigit, namun seakan tak dihiraukan oleh mereka. Draco menatap wanita berambut cokelat ikal yang dibiarkannya terurai begitu saja malam ini. Kecanggungan yang maha dahsyat begitu dirasakan oleh keduanya. Untuk memecah kecanggungan dan juga keheningan yang menyelimuti kedunya, Hermione berjinjit untuk memeluk Draco sebelum memutuskan untuk masuk ke rumahnya.

Draco yang sedikit terkejut lalu membalas pelukan itu. Sontak harum dari rambut serta tubuh Hermione menyeruak ke penciumannya. Walaupun tadi siang ia baru saja memeluk wanita ini di ruang tangga, tapi kali ini begitu berbeda. Perpaduan antara fressia serta peony menjadi harum dari Hermione yang tak sedikitpun berubah walau satu decade sudah mereka lewati secara terpisah. Perlahan Hermione melepaskan pelukan itu lalu mereka kembali saling menatap. "Good night, Draco."

Baru saja Hermione akan melangkah masuk, namun langkahnya terhenti oleh Draco yang memegang tangannya. "Terakhir kali aku melakukannya tanpa persetujuan darimu, kau menamparku dan menghindariku berhari-hari lamanya. Oleh karena itu aku akan bertanya padamu, bolehkah aku menciummu?"

Mata Hermione yang semulanya sayu karena mengantuk kini tampak sangat awas karena pernyataan dan pertanyaan Draco Malfoy tadi. Lalu semburat merah tampak menyeruak di pipi pucat Hermione. Wanita itu mengangguk. Draco tersenyum lalu menunduk dan melumat lembut bibir hangat Hermione Granger.

000

Hermione termenung menatap pantulan dirinya di cermin. Sisa busa dari kegiatannya menyikat gig tadi masih tersisa di sisi-sisi bibirnya. Wanita yang sudah mengenakan scrub biru tua-nya itu tak habis pikir dengan apa yang ia lakukan tadi malam terhadap Draco. Ia seharusnya menampilkan Hermione yang kuat dan elegan serta jauh dari Hermione dari zaman mereka masih menjadi intern dahulu. Alih-alih menampilkan hal itu, wanita yang mengikat asal rambutnya pagi ini itu malah menawarkan Draco Malfoy untuk bermalam di kediamannya. Kejadian itu masih teringat jelas di pikiran Hermione. Setelah lelaki itu meminta izin untuk menciumnya dan Hermione memberikan lampu hijau, mereka berciuman dengan sangat hangat dan penuh gairah. Perlahan pula mereka masuk ke dalam rumah Hermione dengan bibir dan tangan yang masih bertaut. Dengan masih terengah, Draco melepaskan ciuman itu sambil membelai lembut pipi Hermione. Senyum terpancar dari wajahnya. Begitupula dengan Hermione. Wanita itu berpikir, hal ini adalah sebuah sinyal dari Draco. Tanpa ragu Hermione Granger bertanya apakah Draco mau menginap di rumahnya malam ini. Dan tanpa ragu pula Draco menggeleng dengan senyuman yang masih terpulas di wajahnya. Ia beralasan Hermione terlalu lelah malam tadi lalu kembali membungkuk untuk mencium Hermione dan memintanya untuk menemani Draco ke pemakaman Micah hari ini. Hanya itu dan ia pergi dari hadapan Hermione begitu saja tadi malam.

"Damn it! Tak seharusnya aku menawarkan dirinya untuk bermalam."

"Ia pasti berpikir aku murahan dan benar-benar tak dapat hidup tanpanya."

"Aku seharusnya memasang termbok setinggi-tingginya."

"Arrgh!"

Hermione meracau. Ia masih di hadapan cermin wastafel di ruang bersantai para attending yang sepi sekali pagi ini.

"Bloody hell, Healer Granger," ucap Daniel yang terkejut dengan kehadiran Hermione sepagi ini di rumah sakit.

Hermione melirik sesaat ke arah residentnya itu lalu dengan gerak yang sangat cepat membersihkan wajahnya dan merapihkan rambut cokelatnya yang berantakan dengan sedikit jentikan tongkat sihir. Daniel Torres berjalan ke arahnya dengan tatapan yang tak percaya. "Apa yang kau lakukan sepagi ini, Healer Granger?"

Hermione mengernyitkan dahinya saat mendengar Torres tadi. "Tentu saja mengoperasi, silly."

"Operasi?" Daniel berbalik tanya.

Pria berdarah Latin itu sontak memeriksa jadwal Hermione yang biasa ia urus. Kali ini Daniel yang mengernyitkan dahinya. "Kau libur hari ini, Granger."

"Tidak mungkin. Aku ada jadwal mengoperasi di hari Rabu, Torres."

"Jadwalmu masih Rabu di minggu depan. Kau seharusnya libur hari ini," jawab Daniel.

"What the fuck."

Daniel Torres mengeluarkan tongkat sihirnya lalu mengayunkan tepat di depan wajah Hermione. "Kau tak demam. Jadi, hal ini bukan bagian dari halusinasi. Kau kelelahan, Healer Granger," ujar Daniel.

"Pulang dan tidurlah," tambah Daniel.

Sementara itu Hermione masih mematung di tempatnya. Melihat hal ini Daniel kembali mendekati mentornya itu. Ia mengibaskan tangannya dan wanita itu tetap bergeming. "Granger! Healer Granger! Kau membeku? Apakah aku butuh mencari Mandrake untuk mengembalikanmu?"

Hermione menghela napas panjangnya lalu menatap kesal ke arah Daniel. "I am fine," balas Hermione lalu mengambil jubah putih healer-nya yang tergeletak di atas sofa ruangan ini lalu keluar begitu saja.

Alih-alih kembali ke rumahnya, ia berjalan menuju on call room yang lagi-lagi terlihat begitu lengang pagi ini. Sebelum ke on call room ia mampir sebentar ke ruangannya untuk mengambil wine yang ia beli di salah satu liquor store di Diagon Alley minggu lalu. Ia menyesap dua gelas minuman beralkohol itu lalu terlelap di salah satu tempat tidur di ruangan itu.

000

Matahari tampak malu untuk memperlihatkan wujudnya. Setidaknya hal itulah yang dirasakan Hermione ketika mengintip jendela yang terletak persis di sisi tempat tidurnya. Masih dengan mata yang sangat berat untuk dibukanya itu, Hermione melihat jam yang melingkari pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul dua siang dan sontak suara gerakan peristaltik dari organ pencernaannya terdengar. Setelah tidur lebih dari lima jam, Hermione benar-benar kelaparan saat ini. Namun tetiba saja ia dapat mencium harum kentang goreng serta hamburger yang menyeruak di penciumannya. Perlahan ia membuka selimut yang menutupinya seperti mummi itu untuk melihat darimana sumber keharuman itu berasal.

"Good morning, Healer Granger," sapa Draco yang tengah duduk di sofa tepat di seberang tempat tidurnya dengan hamburger di tangannya.

Sontak Hermione bangkit dari tidurnya. "Apa yang kau lakukan?" tanya wanita itu.

"Menunggumu bangun sejak pukul dua belas tadi, tapi kau tidur nyenyak sekali seperti babi di peternakan. Oleh karena itu, aku membawa makan siang kita kesini."

Hermione masih terdiam di tempatnya. "Kau menungguku bangun sejak pukul dua belas tadi?" tanya Hermione yang dijwab dengan sebuah anggukan dari Draco.

"Torres mengabariku bahwa kau dengan bodohnya datang ke rumah sakit padahal hari ini adalah jadwal liburmu."

"Torres pengkhianat."

Draco hanya tersenyum tipis lalu berjalan ke arah Hermione yang masih bermuka bantal itu. Pria itu menyodorkan sebuah kantung cokelat yang sangat harum itu. "Makanlah lalu mandi. Kau berjanji akan menemaniku ke upacara pemakaman Micah, bukan? Pukul 4 sore aku akan menunggumu di lobi."

Setelah menyelesaikan kalimatnya, Draco Malfoy keluar dari on call room itu.

Tepat pukul 4 sore, Draco sudah berada di lobi rumah sakit untuk menunggu Hermione. Wanita itu mengenakan setelan hitam lengkap dengan jubahnya. Ia menggerai rambut ikal cokelatnya sore ini. Sementara itu Draco juga megenakan setelah serba hitam. Dari jas dan dasi yang ia kenakan hingga jubah suteranya. "Kita terlihat sangat kelam," Hermione berkomentar saat melihat tampilan Draco.

"Kita akan menghadiri pemakaman, silly."

Dengan mengendarai mobil sihir Draco mereka menembus jalanan London yang ikut kelam sore hari ini. Tidak ada obrolan apapun yang terjadi di sepanjang mereka berkendara. Tetiba saja mereka sudah sampai di sebuah gereja kecil di Golders Green, sebuah daerah suburban di London. Suara kidung sudah terdengar dari dalam gereja sihir itu. Saat mereka masuk, sebuah peti mati dengan foto Micah di sampingnya seakan menyambut kehadiran Draco dan Hermione. Mereka mengambil tempat di salah satu kursi panjang di gereja ini. Draco dan Hermione hanya terdiam di sepanjang upacara pemakaman ini sampai saat kedua orang tua Micah menyadari kedatangan Draco sore ini. Mereka tersenyum lalu mempersilahakan Draco dan Hermione untuk meletakkan bunga di atas peti itu dan melihat Micah terakhir kali sebelum upacara tutup peti dilakukan. Draco menggenggam tangan Hermione sambil berjalan menuju peti itu. Ia meletakkan bunga lily putih di atas peti itu sambil menatap Micah yang telah terbujur kaku di dalamnya. "You must be happy now. You are not sick anymore," ucap Draco sambil tersenyum kepada Micah.

Hermione semakin menggenggam erat tangan Draco. Mereka bertukar tatapan sesaat lalu tersenyum.

"Terima kasih untuk semua bantuan dan jasamu pada Micah dan keluarga kami selama ini, Healer Malfoy," ujar ibu Micah pada Draco dengan nada yang bergetar.

"Suatu kehormatan bagiku untuk berjuang bersama Micah selama ini," jawab Draco.

Tangis ibunda Micah akhirnya pecah dan ia memeluk Draco Malfoy yang berdiri menjulang di hadapannya. Pria itu tampak terkejut sesaat. Dengan gerakan yang kaku, perlahan ia membalas pelukan wanita sambil menepuk-nepuk lembut punggungnya. Ibunda Micah melepaskan pelukan itu. "Maafkan aku terbawa emosi."

Lagi-lagi Draco tersenyum walau hanya setipis benang. "Aku mengerti. Jika hal ini terjadi padaku, mungkin aku akan sangat histeris."

"Kau sudah memiliki anak?" tanya ayah Micah yang berusaha menenangkan istrinya.

"Aku memiliki seorang putera."

"Dia pasti bangga memiliki ayah hebat sepertimu," balas ayahanda Micah kembali.

Draco menggeleng. "Aku yang bangga memiliki putera sepertinya," ucap Draco yang kembali menggenggam erat tangan Hermione.

000

"Aku kira kau akan langsung mengantarku pulang," ujar Hermione setelah memotong steak dan menyuapkannya ke dalam mulut.

Draco masih mengunyah ravioli yang tadi dipesannya. Hanya suara denting alat makan yang menghiasi suasana mereka saat ini.

"Aku sangat lapar dan kita sudah berulang kali gagal untuk makan malam di tempat ini," jawab Draco pada akhirnya setelah menyelesaikan hidangan utama yang ia pesan.

Wanita yang sudah menanggalkan jubahnya tadi itu hanya tersenyum lalu menyeka ujung mulutnya dengan serbet putih sebelum menyesap wine yang menjadi pilihan Draco mala mini. Melihat botol hijau yang terletak di atas meja mereka membuat Hermione tersenyum. Domaine Romanée-Conti adalah wine yang dipilih Draco Malfoy malam ini, wine yang sama ketika mereka merayakan momen diterimanya mereka menjadi intern di St Mungo Hospital lebih dari sebelas tahun yang lalu.

Setelah menyesap Domaine Romanée-Conti tadi, Hermione meletakkan gelas wine-nya di meja. "Apakah ada sesuatu yang harus kita rayakan?"

Alis Draco bertaut mendengar pertanyaan dari wanita di hadapannya itu. Draco ikut menyeka ujung bibirnya dengan serbet yang disediakan Bibendum pada setiap tamunya. Pria itu juga ikut menyesap wine yang telah dituangkan ke gelas mereka oleh pelayan sebelumnya. Ia tampak mengecap sambil memejamkan matanya sesaat. Senyum tipis tampak terpancar di wajahnya. "Kau belum menjawab pertanyaanku, Draco. Apakah ada sesuatu yang harus kita rayakan malam ini?"

"Kenapa kau berpikir kita tengah merayakan sesuatu?" Draco berbalik tanya.

Kali ini Hermione yang mengedikkan bahunya. "Entahlah. Kita makan malam di Bibendum dan kau memesan Domaine Romanée-Conti. Wine ini terlalu mahal untuk sekadar makan malam biasa," jawab Hermione.

"Jika kau berpikir seperti itu, tentu ada banyak sekali yang harus kita rayakan," jawab Draco yang kembali menyesap wine dengan harga lebih dari 500 dollar per botolnya itu.

"Pertama, kita harus merayakan operasi pertama kita setelah kau kembali ke London yang sudah terjadi berbulan-bulan lalu. Kedua, karena aku seorang ayah sekarang. Ketiga, kau kembali hidup dari hypothermia. Dan keempat, kau kembali selamat dari dugaan Ebola."

Hermione menaikan gelasnya saat mendengar jawaban dari Draco tadi. "Mari bersulang untuk semua hal itu," ucap wanita itu.

Suara denting dari rantukan gelas mereka terdengar begitu indah. Senyum terpancar dari wajah keduanya. Alunan musik klasik yang terdengar sayup di restoran ini serta pencahayaan yang temaram membuat mereka semakin terhanyut akan suasana.

"You look stunning tonight, Hermione."

"I always look stuning, Draco Malfoy."

Draco tertawa. "Benar. Bahkan siang ini saat di on call room kau terlihat sangat menawan."

"Berhenti mengolokku, Draco," balas Hermione.

Wanita itu kembali menyesap wine di gelas yang sedari tadi ia pegang. "Karena kau terlihat sangat menawan di setiap harinya, aku tak mau lagi kehilangan dirimu."

Hermione menghentikan sesapannya. Ia menatap Draco kali ini menunggu pria di hadapannya ini menyelesaikan kalimatnya. "Mari kita coba untuk menjalani kehidupan bersama."

Hermione meletakkan gelas itu di atas meja. Ada senyuman lemah dan sekilas terlihat kesal di wajahnya. "You don't have to do this Draco. We don't have to be together just because I am the mother of your child and we had kissed last night. We can do a co-parenting, like everyone do."

"Do you think I ask you to be a part of my life just because you are a mother of my child and we had kissed last night? Don't be silly, Hermione Granger. I kissed you since the first month you came back to London," jawab Draco.

"I never have an exclusive relationship in my life before. And having a child doesn't change my point of view about relationship, but you are. You change my persepective."

"I was fool enough to let you go. I was fool enough to ignore my felling years ago and I don't want it anymore," tambah Draco.

"So you ask me to be a part of your life?" tanya Hermione.

"Yes, you and Alistair."

Hermione tersenyum lalu tertawa kecil saat mendengar penjelasan Draco. "Kenapa kau tertawa?" tanya Draco.

"Kau berubah drastic, Draco."

"Apa yang kau harapkan dariku? Mengajakmu menyelinap ke on call room atau ber-Apparate dari satu kota ke kota lain saat kita jenuh dengan semua materi kuliah atau mengatur Portkey ke negara-negara yang ingin kita kunjungi seteleh selesai ujian tanpa ada ikatan apapun? Aku sudah cukup dewasa untuk tak lagi melakukan hal itu Hermione," jawab Draco.

"Entahlah," kekeh Hermione.

"Terakhir kali aku bersikap tidak dewasa, kau pergi melintasi benua, Granger."

Kekehan Hermione hilang saat mendengar kalimat terakhir Draco. Wanita itu meletakkan satu tangannya di meja dengan tangan yang lain membelai lembut pipi Draco. Ia menatap lekat pria di hadapannya itu. "I am home now. Once I am back, I can never leave again."

"Let's give us try Draco."

000

Summer.

Harum kopi sudah menyeruak ke seantero sudut kediaman ini. Suara burung sudah terdengar sangat merdu. Matahari juga sudah menelusup masuk ke dalam setiap cela kamar. Hermione mengambil ikat rambut dari nakas ranjang dan mengikat tinggi rambutnya lalu turun dari kamarnya setelah mengenakan jubah tidur satinnya. Ia sedikit menguap ketika menuruni tangga lalu segera tersenyum saat melihat sosok yang tengah berdiri di kitchen island kediamannya.

Draco Malfoy sudah mengenakan kemeja biru tua dengan celana bahan bewarna khaki. Satu tangan tengah menyeduh kopi dan tangan yang lain tengah memegang Daily Prophet. "Good morning, Healer Malfoy," sapa Hermione yang mengecup lembut bibir pria itu sebelum mengambil tempat duduk di bar stool tepat di seberang kekasihnya itu.

"Morning, sleepyhead," balas Draco.

Pria itu meletakkan koran dari tangannya dan menuangkan kopi yang telah ia seduh ke cangkir di hadapannya. Ia menyodorkan cangkir itu pada Hermione. "Thank you," balas Hermione.

"Kau ada jadwal operasi pagi ini?" tanya Hermione yang seketika sadar penuh setelah menyesap kopi itu.

Draco menggeleng. "Aku ada jadwal mengajar dan praktek di siang hari."

"Ah ya, hari ini adalah Jumat. Ada banyak pasien untuk praktek hari ini?" Hermione kembali bertanya.

"20," jawab Draco cepat.

"Bloody hell. Kau harus meminta untuk menambah jadwal praktekmu pada Sinistra agar tak perlu ada penambahan pasien," balas Hermione.

Draco menyodorkan sebuah mangkuk kayu berisikan smothies campuran buah naga dan pisang beku dengan granola di atasnya pada Hermione untuk menu sarapan kekasihnya pagi ini. "Sinistra sudah menawariku, tapi aku menolak. Menambah hari hanya akan menambah jumlah pasienku."

"You are the best cardiothoracic in London, Draco."

Draco hanya menyeringai.

"Terlalu manis?" tanya Draco setelah Hermione menyuapkan sarapannya ke mulut tadi.

"Kau menambahkan madu ke dalamnya?"

"Sedikit. Terlalu manis?"

Hermione menggeleng. "Nope. Its really good. Thank you."

Draco mengayunkan tongkatnya dan secara sihir depur itu membersihkan dirinya. Secara sihir pula beberapa surat datang ke kitchen island itu. "Pukul berapa kau akan ke St Mungo?" tanya Draco yang ikut menyesap kopi paginya.

"Aku hanya ada satu jadwal operasi di sore ini, tapi aku akan ke St Mungo setelah makan siang, Torres meminta bimbinganku siang ini."

"Dia jadi memilih bedah umum untuk spesialisasinya?" tanya Draco yang disambut dengan anggukan oleh Hermione.

"He loves me so much," kekeh Hermione sambil membuka surat-surat sihir itu.

Ada beberapa tagihan bulanan dan satu surat dari Hogwarts. Senyumnya terpulas sangat lebar saat melihat nilai-nilai Alistair yang dikirimkan kepadanya. "Outstanding, isn't it?" tanya Draco dari seberang kitchen island.

Hermione mengangguk. "He's our son, outstanding is his middle name," balas Hermione.

Tetiba saja Hermione terdiam. Ia melihat tanggalan dan menyadari arti keberadaan dari surat berisi nilai dari putrannya ini. "Besok Sabtu."

"Tentu besok Sabtu karena hari ini adalah Jumat, Granger."

"Alistair akan pulang esok hari."

"Lalu?" tanya Draco.

Hermione melotot tak percaya pada Draco. "Lalu kau bilang? Dia besok pulang goddamnit, Draco."

"Alistair pulang dan kita akan menjemputnya," balas Draco datar.

"Alistair belum tahu tentang kita. Dia akan terkejut jika mengetahui orang tuanya kini berpacaran. Dan kita belum membahas bagaimana memberitahunya. Dan kini kita hanya memiliki waktu kurang dari 24 jam untuk membahas ini sebelum kepulangannya," jelas Hermione lalu menyesap tuntas kopinya.

Draco menatap pongo kepada Hermione. "Bloody hell."

000

to be continued

A/N: I won't apologize anymore. Too much say it that word will make it lost the real meaning hehe. It's Friday and I have a free time, since its a holiday in Dubai, so I update this chapter after 40 days. Yeay! This chapter contains so many typos and conversation in English, I am sorry for that. I didn't find the good words in Indonesian to describe what I had in my head.

And if you are curious what is the playlist for this story (The Gift) Please go to Spotify, I made 'The Gift' playlist on that platform. That's it. Too much babbling will make you sick. Stay safe and stay healthy. Please kindly do the physical distancing, use your mask, wash your hand frequently and always bring the handsanitizer to everywhere you go. See you in the next chapter.