Terjadi perpecahan kelompok di dalam gua. Sasuke menjadi terasingkan, tetapi ia sepertinya tak peduli toh bukan itu yang menjadi alasan ikut bergabung kembali ke Konoha. Ada hal yang mengusik hati, membuat rasa penasaran sehingga bungsu Uchiha menjadi tertarik dan ingin mengetahuinya. Apa yang membuatnya berubah? Mengapa dia percaya padaku? Tidak mungkin karena Naruto karena aku merasakan hal yang lain. Hm ... nalar. Apa yang membuatnya memiliki penalaran yang dewasa?

Berpikir, menguak satu per satu, Sasuke mulai sedikit bisa membuka rasa penasaran. Mata jelaganya mengamati gadis yang sedang memperhatikan Naruto melucu di antara para Nakama.

Merasa ada yang memperhatikan, refleks Hinata menoleh. Begitu juga Naruto tak sengaja mengikuti arah pandang gadis Hyuuga ke seorang pria yang terkenal tampan rupawan. "Woooi! Sasuke, kemarilah!"

Entah apa yang membuat kaki bergerak, Sasuke berjalan menuju teman-temannya, tanpa kedip menatap sulung Hyuuga. Naruto tertawa lebar lalu memberi ruang pada sahabatnya sedangkan kebanyakan ninja muda saling pandang dan memberengut.

"Duduklah di sini, Sasuke. Sakura-chan, bergeserlah." Mulanya ia duduk di samping Sakura, tetapi Naruto berdiri dan memberikan tempatnya untuk Sasuke. "Teman-teman, kita lupa menyambut kedatangan Sasuke berkumpul kembali dengan kita. Sekarang, marilah kita memberikan ucapan atau semacam sambutan selamat datang padanya."

Berbagai tatapan ditujukan pada ninja keturunan akhir Uchiha lalu mereka memalingkan muka. Suara hati diwakili dengan aura wajah yang kebanyakan menarik bibir menandakan rasa tidak suka.

Sialan Naruto, seolah menjebak kami. Dan kenapa bocah ini mau berkumpul kemari? "Aku pergi saja! Masih ada urusan yang harus kuselesaikan!"

"Aku ikut denganmu, Sai!"

"Eh, kalian mau ke mana?" Dahi Naruto berkerut melihat tingkah kedua temannya, Sai dan Kiba kemudian diikuti yang lainnya. "Hoooiii! Kalian mau ke mana?!" Semua Nakama beranjak, menyisakan lima orang termasuk Sasuke. "Sakura-chan, kau tahu kenapa mereka bersikap seperti itu?"

"Aku tidak tahu, Naruto. Mungkin saja mereka memiliki acara sendiri."

Hinata tampak tak setuju dengan jawaban yang diberikan oleh Sakura. Namun, ia tak ingin berbicara yang mengakibatkan gusar saat duduk. Sasuke lagi-lagi melirik ke gadis Hyuuga. Senyum sangat tipis terpatri di bibirnya. Meskipun banyak berubah, dia seperti salah tingkah di depan Naruto. Dia menyukai Naruto sejak dulu hingga sekarang. Bungsu Uchiha mendongak menatap sahabatnya. Si bodoh ini tidak tahu perasaannya atau pura-pura tidak tahu?

"Huh! Tak usah dipikirkan. Mungkin benar yang dikatakan oleh Sakura-chan, mereka memiliki acara sendiri." Raut wajah kecewa masih terpancar, tetapi tak lama kemudian, Naruto membuat hangat suasana. "Sasuke, adakah gadis yang kau sukai?"

Ucapan spontanitas yang sebenarnya memang disengaja untuk memancing reaksi sahabat membuat ketiga gadis yang ada di sekitar Sasuke menunduk malu-malu, terlebih Sakura karena ia sangat mengharap akan cinta sang pujaan hati.

"Kau ini bicara apa, Naruto?"

"Hahaha ... seorang Sasuke punya rasa malu juga? Jawab saja, Teme. Siapa gadis itu?"

Bungsu Uchiha melirik sekilas ke Hinata. Gadis itu seakan abai, tetapi mata jeli Sasuke melihat segurat merah di pipinya. Pertanyaan sepele yang diajukan Naruto sesungguhnya menjebak. Jika aku menanyakan gadis yang disukainya, semua sudah tahu jawabannya adalah Sakura. Jika aku bertanya gadis yang menyukainya, semua juga tahu Hyuuga ini sangat menyukai Naruto.

"Teme! Kau sedang melamunkan gadis itu? Hehee ... mengaku saja, apakah dia ada di sini?"

Hm ... dia memancing perasaanku pada Sakura. "Aku memang sedang memikirkan seorang gadis, tapi untuk hal yang lain."

Empat pasang mata membelalak menatap Uchiha terakhir. Semu merah menghias kedua pipi Sakura karena terobsesi perkiraannya sendiri. Menggigit bibir, menunduk, ia berusaha menahan geli mengusik hati. Tentu saja dia memikirkan aku, hihihi ...

"Apakah dia teman seangkatan dengan kita?"

"Ya."

"Nakama?"

"Hn."

"Satu tim?"

"Kau banyak bertanya, Naruto. Aku mau pergi!" Sasuke berdiri lalu melangkah pergi begitu saja meninggalkan keempat temannya yang sedang menatap melongo.

"Eeee ... tunggu dulu, Sasuke! Kau mau ke mana?"

Langkah Sasuke terhenti lalu menoleh kecil. "Bukan urusanmu, Dobe! Hm ... periksa hatimu, Naruto!" Sekedipan mata, ia melesat bagai busur panah menuju mulut gua.

"Apa maksud perkataannya tadi? Periksa hati? Memangnya hatiku kenapa?"


Shinobe Konoha mulai beraktivitas membangun wilayah sementara demi mempertahankan hidup. Klan Akamichi dipercaya untuk bertani. Klan Aburame berternak walaupun hanya serangga, tetapi ada yang bisa dikonsumsi. Klan Yamanaka bertani setalah menemukan beberapa butir gandum di kantong celana salah satu ninja, mereka mencoba untuk mengembangbiakkannya. Klan Hyuuga berkebun, melanjutkan tanaman buah yang sudah ada. Mereka bergotong royong bersama-sama.

Hinata mengajari para Kunoichi untuk memintal dan merajut dengan memanfaatkan serat kulit kayu maupun batang pisang. Di bagian ini, klan Hyuuga memang ahlinya dan menghasilkan kain, sweter, juga mantel yang sangat berguna bagi mereka.

Seperti diketahui Kurenai yang hamil, kini memasuki trimester akhir. Perutnya tampak besar membuncit. Hanabi selalu menemani dengan gembira karena ia pikir akan menemukan mainan baru--seorang bayi yang lucu.

Ninja-ninja muda berlatih dan terus mengasah diri. Kadang satu tim maupun bersama-sama di tempat terluas dalam gua. Sasuke sudah diminta kembali oleh Kakashi untuk bergabung dalam tim tujuh bersama Naruto dan Sakura.

Orochimaru membentuk tim khusus dalam tugas melipat gandakan pasukan dibantu oleh anak buahnya, Karin, Suegetsu, dan Juugo. Kabuto pun turut bergabung untuk membantu walau justru disering diminta oleh Hokage sebagai tenaga medis, memberikan terapi psikologi dan melakukan operasi bedah. Katzuyu--binatang pembantu Tsunade--maupun binatang Kuchiyose lain pun tidak bisa dipanggil di Pulau Taka. Demikianlah mereka bertahan hidup dengan menjadi keluarga besar.

Namun, hari-hari yang dijalani Shinobi yang terkurung di gua mulai terasa membosankan bagi mereka. Keadaan fisik memang terlihat mulai pulih, tetapi rutinitas yang dijalani membuat mereka stres. Latihan, bekerja sedikit, makan, tidur begitu terus yang dilakukan setiap hari sehingga membuat para ninja jenuh lalu bersungut-sungut.

"Huh! Apakah ini yang dinamakan 'Bagai katak di dalam tempurung?'. Sampai kapan kita seperti ini? Apakah selamanya akan hidup di gua ini? Hiks-hiks-hiks ... aku rindu melihat alam bebas. Langit biru, lapangan yang luas, bunga-bunga yang indah. Aku rindu Konoha."

"Kau tidak sendiri, Ino. Aku juga bosan hidup seperti ini. Aaah ... kalau seperti ini, lama-lama kita bisa menjadi gila. Sialan bocah itu, membawa kita ke tempat ini tanpa bertanggung jawab."

"Aku merasa tubuhku menjadi kurus dan lemah. Aku tidak memiliki kekuatan lagi. Jika musuh menyerang, aku pasti kalah dan bisa-bisa akan mati."

"Hiks-hiks-hiks, Choji. Kau tak boleh berkata seperti itu. Apa pun yang terjadi, aku dan Shikamaru akan melindungimu."

"Aku tak mau latihan lagi. Lebih baik aku tidur, hibernasi selamanya. Entah besok masih di sini atau bahkan mati di sini. Aaaaargh ..."

Tim sepuluh yang tak memiliki guru lagi, tetapi masih terlihat kekompakan dan selalu bersama, kini berlatih sendiri dan mengalami depresi karena keadaan. Perasaan mereka mewakili seluruh ninja Konoha yang berada di gua, putus asa dan kehilangan harapan tentang masa depan.

Di sisi lain, sang Hokage tampak merenung, berdiri di bibir gua menghadap ke taman. Ia berpikir keras untuk mencari jalan keluar cara menghadapi masalah pelik para ninja. Shizune, si kaki kanan setia selalu menemani dan mendampinginya. "Panggilkan Kakashi, Shizune!"

"Siap, Godaime."

Tak jauh dari mereka, Kakashi sedang memimpin tim tujuh yang asli untuk berlatih strategi. Sasuke tampak begitu serius mendengarkan gurunya sedangkan Sakura tidak bisa berkonsentrasi, sebentar-sebentar melirik ke pemuda tampan di sampingnya. Naruto sendiri terlihat gusar, pikirannya masih diliputi pernyataan sahabat tentang memeriksa hati yang hingga hari itu belum juga menemukan jawaban.

"Sasuke, apa rencanamu selanjutnya?"

"Aku akan keluar dan mencari Taka lalu berbicara dengannya."

"Baiklah, lakukanlah segera."

Setelah mengangguk, Sasuke menghilang dari pandangan. Kedua temannya terkejut dan kebingungan.

"Guru, ke mana Sasuke?"

"Apa yang sedang kau pikirkan, Naruto sehingga kau tak menyadari kepergiannya?"

"Aku akan menyusulnya."

Kalau biasanya Kakashi membiarkan saja tingkah muridnya, kali ini ia mencekal lengan Naruto dan mencegahnya pergi menyusul Sasuke. "Aku ingin menguji kesetiaannya pada Konoha dan membuktikan ke mereka bahwa tuduhan selama ini pada Sasuke adalah tidak benar."

Mengangguk-angguk, menelan saliva, Naruto mundur beberapa langkah lalu menyelisik wajah gurunya. "Rupanya Guru pun tak percaya padanya?"

"Kau salah tangkap dengan perkataanku, Naruto. Ketahuilah, aku lebih mengerti Sasuke dibandingkan dirimu."

Sepasang mata yang sedang mengamati mereka dari awal, tersenyum di balik kegelapan. Tak lama kemudian, Shizune datang dan menyampaikan pesan dari Hokage.

"Kakashi, kau dipanggil Godaime."

Mengangguk, tanpa membuang waktu pria yang selalu masker segera menghadap sang pimpinan di mulut gua bagian belakang. Dengusan kesal terdengar dari mulut Naruto karena tidak diizinkan menyusul Naruto.

"Kau kenapa, Naruto?"

"Sakura-chan, bagaimana Sasuke menurutmu secara pribadi. Apakah kau sama seperti mereka yang tak mempercayainya?"

"Aku tak mempermasalahkan hal itu. Bagiku, Sasuke ada di sini bersama dengan kita walaupun untuk sementara ini tak melakukan apa yang dipikirkan teman-teman, itu sudah cukup bagiku."

Itu artinya kau pun tak mempercayainya, Sakura. Kalau semua tak mempercayainya dan aku yakin dia mengetahuinya lalu mengapa dia diam saja? Apakah aku juga harus tak mempercayainya? Tidak-tidak. Aku percaya, Sasuke sudah kembali ke jalan yang benar. Aku yang paling mengerti hatinya dibanding siapa pun. "Oh ... hohoho ... Sakura-chan, aku butuh menenangkan diri. Aku ingin keluar sebentar."

"Kau mau ke mana, Naruto!"

Gluduk-gluduk-gluduk!

Belum sempat Naruto melangkahkan kaki, batu-batu yang hampir menghalangi pintu gua bagian luar sepenuhnya menggelinding dan cahaya terang menyilaukan mata menyinari sebagian ninja. Refleks mereka melindungi mata dengan lengan dan melihat ke bibir gua. Siluet seorang laki-laki berjalan tertatih, memegangi lengan kiri sedangkan tangan kanan masih menggenggam pedang meneteskan cairan. Semakin ke dalam, jelas terlihat, ia adalah Sasuke Uchiha dalam keadaan penuh luka, bibir berdarah.

Para Shinobi menahan napas serta terperanjat. Mulut mereka menganga lebar menatap Uchiha terakhir yang berdiri di atas batu besar.

"Sasuke! Apa yang terjadi denganmu?"

"Jangan mendekat, Naruto! Mungkin itu jebakan!" Teriakan Sai mengagetkan Naruto sehingga ia urung menghampiri sahabatnya.

"Persetan dengan jebakan! Hap!" Lagi-lagi sulung Hyuuga bertindak mengejutkan di luar perkiraan para ninja Konoha. Ia lompat dan berdiri di samping Sasuke lalu memberikan pembelaan. "Jika kalian semua tak percaya padanya, biarlah aku satu-satunya yang percaya padanya!"

"Hyuuga ..."

"Ini tidak adil untukmu, Sasuke! Kau sudah menyelamatkan kami dan mereka memperlakukanmu sangat buruk bahkan menuduhmu berkhianat!" Setelah melirik sekilas pada pemuda Uchiha, Hinata spontan lari keluar gua sebelum Sasuke memperingatkannya.

"Hyuuga, jangan keluar!" Rasa sakit tak lagi dihiraukan. Sasuke segera mengejar Hinata. Ninja-ninja lain pun berhamburan lari menyusul mereka.

Berdiri pada batu besar di luar gua, gadis Hyuuga berteriak nyaring menantang penghuni Pulau Taka. "Keluarlah kalian! Serang saja aku! Sasuke tidak bersalah, mengapa kalian bodoh memperlakukannya tidak adil?!" Perasaan yang tertekan membuat Hinata belum menyadari keadaan sekitar. Namun, ketika Sasuke memeluknya dari belakang, kesadarannya pulih dan bisa menguasai diri. Ia mendelik melihat puluhan burung terkapar, penuh luka bahkan banyak yang tak bernyawa. Langit gelap berwarna hitam dan jingga serta kilatan-kilatan api dari angkasa seakan membumi hanguskan Pulau Taka, padahal hari masih siang. Apa yang terjadi?

"Hyuuga, kembalilah ke gua!"

"Apa yang terjadi, Sasuke?"

Kedua pasang mata saling menatap, menyelisik satu sama lain. Dentuman keras dari balik tebing menyentakkan mereka dan secepat kilat Sasuke menggendong Hinata masuk ke gua.

Tbc ...

Zhie/ 23/ 09/ 20