Ace of Diamond /ダイヤのA (c) Terajima Yuuji

Beloved Senpai (c) Aiko Blue

Saya tidak mendapatkan keuntungan komersil macam apapun atas pembuatan fanfiksi ini


"Eijun-kun?"

Eijun berbalik cepat, genggaman mereka terlepas. Sementara Kazuya mengernyit dan mencoba untuk tidak menjadi melankolis atas rasa kosong tiba-tiba di telapak tangannya.

"Ah!"

Ekspresi yang Eijun berikan sangat berkebalikan dengan seorang gadis yang kini tersenyum lebar menatapnya.

"Aitakatta!" Seruan antusias nan ceria, lalu dalam satu detik gadis asing itu sudah melemparkan diri ke dalam pelukan Eijun. Kedua lengannya melingkar erat di leher, sementara wajahnya menempel pada rahang Eijun. Pemandangan yang sukses membuat Kazuya mematung.

"E-eh? Megumi-san?" Kali ini Eijun mulai salah tingkah, namun tampaknya sama sekali tak berusaha mendorong gadis itu atau melepaskan diri dari pelukannya.

"Aaah... Aku kangen banget sama kamu, Eijun-kun!" Serentetan ucapan merajuk nan menggemaskan, tapi disampaikan dengan begitu lugas dan ringan seolah ia sudah terlalu sering berbicara seperti ini.

Eijun terkekeh samar. Tak lagi tampak salah tingkah, dan perlahan tapi pasti justru mulai menggerakkan tangannya untuk memeluk balik gadis asing yang—hell, Kazuya bahkan tidak tahu dia siapa!

"Ohisashiburi, Megumi-san. Aku tidak menyangka bisa bertemu kamu di Tokyo."

"Huh? Kamu masih berani bilang begitu setelah satu abad tidak pernah menghubungi aku lagi?" Itu terdengar seperti merajuk, namun sama sekali tidak serius. Terbukti dengan tanggapan Eijun yang hanya tertawa geli dan—holy crap! Buat apa kau mengelus kepalanya, Bodoh?

"Gomen ne." Eijun berujar pelan, nyengir lebar, sementara Kazuya merasa otaknya membeku, ia masih berusaha keras untuk berpikir dan membaca situasi absurd di depannya kali ini. Ia luput menghitung, tapi rasanya seperti selamanya, ketika ia hanya berdiri di sana seperti orang paling tolol sedunia sementara Eijun sibuk berpelukan mesra dengan gadis lain. Mendengus kasar, Kazuya mencoba untuk berdeham keras guna mengambil alih perhatian.

"Ah." Eijun mengerjap ke arahnya, mimik wajahnya tak berdosa, entah karena ia terlalu polos atau masih terbawa eufouria kerinduan dengan si Megumi-san sampai ia tak menyadari tatapan dingin yang Kazuya berikan. "Megumi-san, chotto," Dengan hati-hati Eijun mulai melonggarkan pelukan, kedua tanggannya memegang lembut bahu gadis itu hingga mereka berdua kini berdiri berhadapan.

Kazuya melirik ke arah Megumi, seorang gadis muda berusia sekitar dua puluh dua tahun, tingginya sekitar 165 cm. Bergaya anggun sekaligus kasual dengan memadukan dress musim panas berwarna biru langit dan sepasang sneakers putih keluaran adidas. Rambutnya dicat coklat mocca tergerai sampai setengah punggung. Jepit rambut berbentuk anggrek mini tersemat di sisi kepalanya, sederhana namun manis. Riasan wajahnya nyaris tak terlihat, begitu tipis, tapi tak lantas menutupi kecantikannya. Dengan mata berbentuk setengah purnama dan iris mata coklat hangat, hidung mungil, alis runcing, bulu mata panjang, serta setitik tahi lalat di bawah mata kirinya. Ia tampak cantik alami, tak berlebihan, namun Kazuya asumsikan gadis itu mampu membuat banyak orang rela menghentikan langkah sejenak guna memandangi elok parasnya. Derai tawanya ringan dan hangat ketika ia menggerakkan tangannya untuk menangkup kedua pipi Eijun lalu mencubitnya gemas. Kazuya pasti tanpa sadar sudah mengeluarkan suara ganjil karena kedua orang itu sontak menoleh padanya dengan tatapan kaget.

"Eh, iya, ada kau." Eijun tersenyum simpul. Dan Kazuya bersumpah baru kali ini ia benci senyuman Eijun. "Kazuya, kenalkan ini Megumi-san."

Kazuya mendengus, berusaha tidak menampilkan raut wajah sinis setika gadis itu menghadap padanya dengan senyum lebar seraya membungkuk kecil "Hai, aku Honda Megumi, senpai kesayangannya Eijun saat SMA." Kelakarnya ceria seraya mengulurkan tangan untuk berjabatan, sedang Eijun tampaknya hanya tersenyum maklum dengan kalimat sapaan Megumi.

Kazuya memaksakan seulas senyum, menjabat tangan gadis itu dengan tegas. "Miyuki Kazuya, calon suaminya Eijun."

Eijun sontak terbatuk keras, sedang Megumi bergeming di tempat, dan Kazuya menyeringai tipis sambil merapatkan diri ke arah Eijun guna merangkulnya erat.

Megumi akhirnya berkedip. "Kau... apanya?" Hidungnya berkerut selagi ia memandangi Kazuya dengan bingung. Eijun mendelik sinis, mengikut rusuknya dan berusaha melepaskan diri dari rangkulan.

"Megumi-san dia ini—"

"Tunangannya." Potong Kazuya tegas. Tersenyum sekilas, tampak angkuh dan culas. "Kami akan menikah dalam waktu dekat. Jadi, menjauh darinya."

Megumi berkedip-kedip, memandang bergantian ke arah Eijun dan Kazuya seolah berusaha memecahkan misteri. Eijun menarik napas membuangnya dengan gusar sebelum menggerakkan tangannya untuk memelintir lengan Kazuya agar rangkulannya terlepas.

"Bakazuya-teme!" Eijun menggeram tertahan, kemudian beralih pada Megumi dan tersenyum salah tingkah. "Maaf, Megumi-san. Kita sudah lama tidak bertemu tapi situasinya malah begini. Bagaimana kalau kita mengobrol sambil makan es krim? Kamu masih suka rasa matcha, kan?"

Megumi masih terlihat bingung, namun kemudian menganggukkan kepala. "Ah, iya. Tentu." Ia menjawab keki kemudian menggeleng dan berdeham singkat lalu senyuman penuh percaya dirinya sudah lahir kembali. "Lagi pula aku juga kangen disuapi es krim olehmu."

"Oke, kita cari café es krim dekat sini."

Megumi mengangguk diplomatis, tersenyum riang, mengamit sebelah lengan Eijun kemudian menggenggam tangannya. Jemari lentiknya kini bersilangan jari-jari Eijun dengan hangat. Telapak tangannya kini berada tepat pada tempat telapak tangan Kazuya semula berada.

"Ku pikir kamu tinggal di Kyoto."

"Hum, tadinya sih. Aku pindah kuliah saat semester empat dan memutuskan untuk menetap di Osaka. Sekarang aku sedang liburan ke Tokyo. Kamu sendiri? Whoa! Rasanya masih tidak percaya kamu sungguh berangkat ke Tokyo! Sugoii na.."

Demi langit dan bumi, dan seluruh partikel atom di dalamnya. Kazuya mulai merasa kehadirannya di sini hanyalah sepenggal budak asing yang tak berharga.

Menggeleng cepat-cepat, Kazuya menelusup di antara kedua orang itu, lalu menyimpan dagunya di sebelah bahu Eijun seraya melempar senyum sopan. "Halo? Permisi?"

Eijun mendesah berat, mendorong keningnya dengan dua jari. "Ngapain lagi?"

Andai saja Eijun peka untuk menangkap sinyal senyum sadis Kazuya saat ini. "Kupikir kita punya janji hari ini, Sawamura Eijun-kun?"

"Filmnya baru akan dimulai 60 menit lagi, Kazuya. Kita masih punya waktu. Aku cuma mau makan es krim dan mengobrol sebentar dengan Megumi-san."

"Bagaimana dengan aku?"

"Sesukamulah."

Seseorang, siapa saja, tolong... Kazuya benar-benar tidak mengerti akan situasi apa sebenarnya ini.

"Nah," Megumi kali ini angkat suara, tersenyum manis pada Kazuya dan masih bergandengan dengan Eijun. "Apa Miyuki-kun mau ikut kami?"

Kazuya mendelik "Apa ikan hidup di air?"

Megumi menelan ludah. Gadis itu jelas lebih sensitif dan mengerti betapa tajam kata-kata Kazuya barusan. Dengan satu lagi cengiran lugu ia menatap Kazuya kemudian menyelipkan helaian rambutnya ke belakang telinga. "Jangan menatapku begitu, Miyuki-kun. Aku bukan pencuri atau apa."

"Kau bukan pencuri. Kau hanya baru saja merampas pacarku."

"Ka-Kazuya!"

"Eh? Jadi yang soal calon suami tadi itu serius?"

"Kau pikir aku bercanda?"

"Baka!" Satu jitakan kuat tepat di ubun-ubunnya. Kazuya meringis sakit sementara Eijun menatapnya gusar.

"Eijun-kun..."

"Kenapa kau yang marah? Aku yang baru saja jadi korban di sini!"

"Aku heran kemana perginya semua pikiran dan otak jeniusmu, Miyuki Kazuya?! Bisa-bisanya kau bertingkah bodoh seperti ini!"

"Anno..."

"Bodoh?!" Kazuya memekik tak terima. "Oh, mungkin karena aku terlalu lama bersamamu jadi otakmu yang bodoh menular padaku."

"Teme—"

"STOP!" Suara Megumi melengking tinggi dan berhasil membuat keduanya terdiam. Gadis itu membuang napas dengan tegas, kemudian balik menatap lurus-lurus ke mata Kazuya. "Kau cemburu padaku, Miyuki-kun?"

"Cih, mana mungkin."

"Mukamu tidak usah menjengkelkan begitu, Bangsat!"

"Wah, tapi ini bawaan lahir seperti halnya kebodohanmu."

"Miyuki Kazuya! Berhenti menyebutku bodoh—"

"DIAM!" Megumi menjerit lagi. "Tidak bisakah kalian berhenti berdebat sebentar saja?!" Gadis itu tampak jengah, bahkan genggamannya pada Eijun kini sudah terlepas. Ia menghela napas panjang. "Oke, sekarang aku yakin Miyuki-kun memang cemburu padaku. Jangan mendebat!"

Kazuya diam, menelan ludah.

"Dengar, Miyuki-kun, kau tidak perlu khawatir aku merebut Eijun darimu." Katanya tegas, kemudian berbalik menatap Eijun lekat-lekat. "Kamu juga, kenapa tidak bilang kalau dia memang pacarmu? Kamu tahu aku paling tidak suka terlibat situasi peperti ini kan?"

Eijun menatapnya memelas. "Megumi-san.."

Megumi mengabaikan, kembali lagi pada Kazuya, ia menunduk sopan sebelum berkata. "Maaf, ku pikir tadi kau bercanda soal hubungan kalian berdua. Karena seingatku, dulu Eijun itu lurus dan menyukai perempuan."

Tidak tahu harus berkata apa, Kazuya memilih untuk tetap diam selagi Megumi mendesah berat dan memijat pangkal hidungnya. "Ku mohon jangan berprasangka buruk tentangku, Miyuki-kun. Orang yang berharga bagi Eijun berarti orang yang aku hormati. Aku mohon maaf jika pertemuan kita justru menjadi kacau dan tak nyaman seperti ini, tapi kau boleh pegang kata-kataku, aku tidak berniat merampas kebahagiaan kalian berdua sama sekali."

"Megumi-san.."

"Untuk detailnya, ku serahkan padamu, Eijun-kun. Kamu jelaskan sendiri pada Miyuki-kun tentang hubungan kita ini bagaimana." Ia berkata final, kemudian membuang napas panjang dan kembali lagi memasang senyuman hangat. "Aku kangen banget Eijun-kun." Ia berujar dengan begitu manis, sebelum tangannya bergerak membelai sebelah pipi Eijun penuh sayang. Batin Kazuya sontak berseru ribut, Itu yang disebut tidak berniat merampas kebahagiaan kalian berdua sama sekali?

"Tapi waktunya tidak tepat." Megumi mendesah berat sebelum kemudian kembali memeluk Eijun hangat. "Hubungi aku sesekali, oke?" Katanya, yang hanya dibalas anggukan. Megumi kemudian mundur sedikit, lalu tersenyum dan berkata. "Take care, My Sunshine!"

Megumi mengecup sebelah pipi Eijun singkat sebelum memohon pamit dan pergi begitu saja. Meninggalkan Eijun dan Kazuya yang berdiri canggung di tengah terik musim panas Tokyo.

.


.

"Dia senpai-ku." Kata Eijun begitu mereka masuk ke dalam mobil. Nonton filmnya dibatalkan, dan mereka memilih untuk berbicara serius di dalam mobil tanpa arah dan tujuan yang pasti.

"Kau ikut klub drama atau bagaimana?"

"Huh?" Eijun mengernyit. "Aku anak bisbol! Kau tahu itu."

Kazuya mendengus. "Lalu kenapa kalian bertingkah semesra Romeo dan Juliet?"

Eijun mengambil napas perlahan, membuangnya hati-hati. Ia harus menjelaskan dengan baik dan benar kali ini. "Aku bertemu Megumi-san tiga bulan setelah Keiko meninggal."

Entah kenapa, Kazuya masih bisa merasakan udara di sekitarnya bertambah berat tiap kali nama Keiko disebut.

"Aku bertemu dengannya pada awal musim gugur. Saat itu hujan lebat dan angin bertiup kencang. Aku melihatnya duduk sendirian di sebuah bangku kayu depan minimarket. Wajahnya begitu datar dan kosong, melihatnya.. Seolah melihat bayanganku sendiri."

Kazuya menoleh sekilas hanya untuk memastikan seperti apa ekspresi yang Eijun buat saat ini, ia mendesah lega ketika pemuda itu tampak baik-baik saja.

"Saat aku mendekat padanya dan bertanya, dia hanya menjawab kalau ia lupa membawa payung. Dan kemudian tertawa seraya mengatakan hanya orang bodoh yang lupa membawa payung padahal ramalan cuaca jelas-jelas berkata bahwa hari ini akan hujan lebat. Ku jawab, aku juga tidak bawa payung. Jadi sekarang orang bodoh itu punya teman yang bodoh juga. Lantas kami tertawa bersama."

Kazuya mencoba untuk tidak tersenyum sinis. "Betapa romantisnya..."

Eijun mendelik tak suka, tapi tetap melanjutkan ceritanya. "Ternyata Megumi-san baru saja patah hati. Ia putus dengan pacarnya yang merupakan seorang Mahasiawa tingkat 2 setelah 4 tahun berpacaran. Penyebabnya putus adalah karena pacarnya menghamili perempuan lain dan harus menikahinya."

Kazuya mengerem mendadak, lalu melotot padanya. Eijun tampak sudah terlalu hapal dengan kebiasaan yang satu ini. Maka ia hanya balas tersenyum masam dan lanjut bicara. "Kau tahu istilah bahwa dua orang akan saling memahami jika menjilati luka satu sama lain? Kira-kira seperti itulah titik awal hubunganku dengan Megumi-san."

Kazuya kembali melajukan mobilnya, kemudian memberanikan diri untuk bertanya. "Kau... pacaran dengannya?"

"Bukankah aku pernah cerita kalau sama sekali tidak memacari satupun gadis yang pernah aku kencani saat sekolah?" Tanya Eijun retorik, ia membuang pandangan ke arah jendela untuk menutupi rona di kedua pipinya. "Kau pacar pertamaku, Miyuki Kazuya."

Kazuya berdeham keki, entah kenapa kali ini ia tidak bisa menggoda Eijun seperti biasanya. "Lalu apa hubungan kalian?"

"Kami akrab. Kami sering jalan bersama sampai Megumi-san lulus. Setelah dia lulus, kami putus komunikasi."

"Kalau tidak pacaran, kenapa kalian mesra sekali?"

"Itu... Kebiasaan?"

"Kebiasaan?"

Ada jeda yang diambil oleh Eijun untuk sejenak mengalihkan perhatiannya menatap kaca jendela, lalu ia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya lewat mulut. "Awalnya, kami memang berniat untuk menjalin hubungan. Tapi tak ingin memulainya dengan terburu-buru. Jadi kami mulai berteman dekat dan belajar saling menyanyangi."

"Saling menyanyangi." Kazuya mengulang, nada suaranya dingin.

Eijun meringis. "Itu sedikit rumit. Tapi kami memang mulai memahami satu sama lain pada akhirnya. Sebenarnya aku sempat berniat nembak saat hari kelusannya, tapi setelah ku pikir-pikir, aku tidak pernah benar-benar jatuh cinta padanya. Dan Megumi-san juga begitu."

Kazuya mendeguskan tawa hambar. "Bagaimana kau bisa yakin? Andai kau lihat seromantis apa interaksi kalian tadi, ku pikir orang buta saja aku mengira kalian saling mencintai."

Seulas senyum terukir di bibir Eijun tanpa tendeng aling-aling, sungguh reaksi yang membuat Kazuya menyipitkan mata defensif dan bingung. "Itu mudah, Kazuya." katanya. "Kami sama sekali tidak pernah merasa cemburu apabila salah satu dari kami dekat dengan orang lain."

Hanya dua detik berselang, dan Kazuya tersadar bahwa kalimat tersebut bukan hanya sebuah jawaban namun juga sarat akan makna yang berkaitan erat dengan sikap Kazuya sebelumnya ketika bertemu Megumi. Kali ini, Kazuya nyaris bisa merasakan wajahnya dan memanas mulai merona. Memilih untuk fokus pada jalan di depannya Kazuya memutar orak untuk mengajukan pertanyaan lain.

"Cara kalian bicara, aku tidak pernah mendengarmu bicara semanis itu, Eijun."

"Dia senpaiku, Kazuya."

"Aku juga senpaimu."

"Kau kan bukan perempuan."

"..."

"..."

"Lupakan."

"Oke. Ada lagi?"

"Skinship. Kalian bersentuhan dengan sangat natural."

"Kalau soal itu... sebenarnya itu terjadi begitu saja. Awalnya memang hanya bergandengan, tapi tanpa sadar kami mulai lebih banyak dan lebih sering melakukan kontak fisik lebih dekat. Kebiasaan itu terbawa sampai sekarang, jadi tadi saat kami bertemu lagi, tanpa sadar justru seperti itu." Jeda, Eijun mengigit bibirnya gelisah sebelum berkata lirih, "Aku minta maaf, Kazuya."

Kazuya membuang napas letih, mengangguk kecil. Sejenak ia berpikir, sebelum kemudian dengan iseng mencetuskan.

"Ciuman pertamamu di dalam bioskop, dia orangnya?"

"Iya."

"Apa?" Pekik Kazuya, karena ia sejatinya tak mengharapkan jawaban itu.

"Megumi-san memiliki ciuman pertama dan keduaku."

Rem kembali diinjak keras. "Hah?!"

"Yang kedua di sekolah."

"Apa katamu?"

"Di perpustakaan, dan kami ketahuan, lalu kena detensi."

Kazuya kehilangan kata-kata karena—demi Tuhan! Bukan itu yang ingin ia dengar!

"Jawab jujur, kau pernah bercinta dengannya?"

Eijun menanatpnya dengan keras, tampak mulai jengah. Ia menggeleng tegas. "Kau gila? Tentu saja tidak!" Tandasnya.

"Jujur, Eijun."

"Aku sudah jujur!"

"Katakan yang sebenarnya."

"Tidak pernah!"

"Sawamura Eijun, katakan."

"Oke, oke, hampir!"

"What the—HAMPIR?!"

"Aku baru mulai meraba paha bagian dalamnya, tapi ibunya sudah keburu pulang dan kami panik lalu cepat-cepat berpakaian. Astaga, itu sangat memalukan! Aku tidak mau bahas lagi!"

Kazuya melongo, setengah nyawanya terasa baru dicabut. Ia selama ini menduga Eijun adalah anak yang polos dan lugu, tapi ternyata?

"Ceritakan sampai tuntas."

Eijun menggeleng kuat. "Sudahlah. Tidak penting juga."

"Aku ingin tahu." Kata Kazuya, mencoba untuk tidak terdengar marah. Mereka berdebat dalam adu pelotot, kali ini Kazuya menang dan Eijun menghela napas kasar.

"Itu di luar rencana! Aku hanya pulang bersama dengannya setelah sekolah. Kemudian karena hujan, dia memintaku masuk dan menunggu sebentar sampai hujan reda. Ibunya saat itu sedang tidak di rumah, dia anak tunggal, jadi otomatis hanya ada kami berdua. Aku tidak menggodanya, dan dia juga tidak menggodaku, kami bahkan tidak pernah kepikiran soal seks. Tapi selama menunggu hujan kami menonton film dari laptopnya, dan di film itu ada adegan... pokoknya begitu."

Kazuya ingat dia membuang semua koleksi DVD porno yang Eijun sembunyikan di bawah tempat tidurnya begitu mereka resmi berpacaran. Tapi Eijun dan Megumi bahkan menyaksikan adegan semacam itu bersama sejak SMA?

"Megumi-san mulai penasaran apa rasanya memang senikmat itu saat payudaranya disentuh laki-laki, dia mulai bertanya padaku. Tapi aku tidak tahu harus menjawab apa karena aku tidak punya pengalaman. Jadi..."

"Jadi kalian memutuskan untuk mempraktikkannya secara langsung? Benar-benar kepolosan dan kebodohan remaja SMA, ya ampun, Eijun!"

Eijun berdeham kikuk. "Pokoknya kami belum terlalu jauh karena ibunya keburu pulang. Kami langsung saling minta maaf esoknya, dan memutuskan untuk tidak membahasnya lagi karena itu perbuatan yang salah."

Kazuya berhasil menghela napas. Kembali menjalankan mobilnya, lalu memutar haluan pada rambu selanjutnya.

"Lho? Kazuya? Kok putar balik? Kita mau kemana?"

"Kembali ke rencana awal. Nonton."

"Hah? Tapi filmnya akan mulai 10 menit lagi! Kita tidak akan sempat!"

"Aku tidak peduli. Aku cuma mau merasakan seperti apa berciuman denganmu di dalam bioskop."

"K-kau gila! Buat apa begitu?!"

"Setelah itu kita ke perpustakaan kota. Aku juga ingin tahu bagaimana rasanya menciummu diantara buku-buku."

"Jangan bodoh, Kazuya!"

"Aku akan mengandeng tanganmu sepanjang jalan, memelukmu, mencium pipimu, memintamu menyuapiku es krim rasa mactha, dan make-out sambil melihat film dewasa."

"MIYUKI KAZUYA! SEBENARNYA ADA APA DENGAN KEPALAMU?!"

"AKU JUGA TIDAK TAHU!" Kazuya terengah, geram tanpa bisa ditahan. "Aku dapat banyak surat dan peryataan cinta saat sekolah dan kuliah, tapi aku tidak pernah pacaran sebelumnya dan aku tidak berpengalaman sepertimu."

"Kau membuatku sinting!"

"Kau membuatku cemburu!"

Eijun mengacak rambutnya depresi sebelum bergerak cepat merebut setir dari Kazuya, menepikan mobil ke pinggir jalan dan menginjak rem lalu mematikan mesin. Kunci mobil dicabut dan masuk dalam kantungnya.

"Apa yang kau lakukan?! Kita bisa makin terlam—" Kicauan Kazuya pupus begitu Eijun menariknya mendekat lalu memeluknya erat-erat. Ia bisa merasakan deru napas Kazuya yang memburu dan debar jantungnya yang cepat karena kemarahan. Tapi Eijun sama sekali tak ingin mengambil jarak, ia memeluk makin erat dan menempelkan wajahnya pada rahang Kazuya.

"Kita tidak perlu melakukannya, Kazuya. Aku tidak mau kita mengulang apa yang pernah kulakukan dengan Megumi-san." Eijun bernapas perlahan, memejamkan mata dan menenggelamkan wajahnya di leher Kazuya. "Aku mau kita melakukannya dengan cara kita sendiri."

Kazuya diam, tapi kemudian menghela napas dan menyeringai kecil, balas memeluk Eijun. "Cara kita? Maksudmu bertengkar dan berdebat setiap waktu. Tapi selanjutnya berciuman dengan lapar sampai dibentak Kuramochi?"

Eijun terkekeh geli. "Yeah, itu terdengar seperti kita."

Kazuya melonggarkan pelukan, mengambil kesempatan untuk mencium bibir Eijun dengan serakah.

"Ai-shit-eru, Sawamura Eijun."

"Miyuki Kazuya, ai-shit-eru."


a/n: ini after story sih, jadi latar waktu ini setelah epilog :) sampai sini, saya nyatakan kalau Harmonia saya tutup yaa. Terima kasih bagi yang sudah meluangkan waktu untuk membaca Something Between Us dan Harmonia. Saya juga berencana untuk hiatus sementara karena satu-dua alasan. Sampai ketemu lagi di lain waktu