Pemuda berambut putih itu menekan tubuh Ichiro didepannya. Tangannya yang sudah tak lagi meng-kabedon, beralih mengerayangi tubuh Ichiro.
Ichiro benar-benar melemas. Tenaganya hilang. Yang mampu dilakukannya hanya memukul lemah bahu pemuda yang menyerangnya.
"Lepas...mmh.."
Bimbang antara nikmat dan ketakutan, Ichiro hanya mampu pasrah. Apapun yang terjadi kedepannya, dia... Tidak ingin peduli lagi.
Pemuda itu membuka kancing teratas seragam Ichiro dan menjilati dagu juga leher Ichiro yang basah. Ah, Ichiro hanya mampu mendesah jika begini.
Air mata mengalir semakin deras saat pemuda itu mengusap usap kulit pinggangnya. "Nnnh... Ja-jangan..."
Pemuda itu tak mendengarkan, ia malah menghisap kulit leher Ichiro, meninggalkan tanda disana dan membuatnya merinding.
Disaat pandangan Ichiro nyaris menggelap karena panas tubuh dan ketakutannya, sebuah suara muncul.
Suara yang dikenalnya.
"Hei! Apa yang mau kau lakukan padanya?!"
Suara ayahnya.
Pemuda itu berhenti, menoleh dan menghilang.
Ah, bukan menghilang dari pandangan mereka semua. Namun menghilang dari pandangan Ichiro karena pemuda itu terkena pukulan ayahnya.
"A...yah..."
"Ichiro! Astaga anakku! Bertahan—"
Aah, telinga Ichiro berdengung, kepalanya benar benar sakit dan setelahnya, semua menjadi gelap.
.
.
Pertama kali yang dilihat Ichiro saat ia membuka mata adalah wajah panik ibunya.
"I...bu.."
"Ichiro anakku! Akhirnya kau sadar! Hiks... Harusnya aku cepat menyadarinya... Anata, jangan biarkan Ichiro pergi kesekolah lagi..." Ibu Ichiro menangis segukkan, ia memeluk Ichiro lembut dengan gemetar, membuat Ichiro yang masih sedikit pusing berusaha mengingat apa yang terjadi.
"Ichiro anakku, mulai sekarang kau home schooling saja ya? Ayah tidak ingin kejadian ini terulang lagi." tuan Yamada mengusap bahu istrinya, mencoba menenangkan ketakutan yang melanda. "Sayang, aku akan mencari siapa pria itu dan memberinya pelajaran."
"...niichan..." Jiro yang baru disadari Ichiro ada di sebelah lain kasurnya menatap dengan linangan air mata. Tangannya meremat erat selimut merah yang dipakai kakaknya.
Ichiro mengangguk pelan, ia ingat apa yang telah dilaluinya.
"Anakku, mulai sekarang ayah akan melarangmu keluar rumah sendirian. Tolong jangan benci keputusan ayah ini, ini semua demi keselamatanmu."
Nyonya Yamada mengecup dahi Ichiro, "istirahatlah lagi, anakku, jika kau merasa tubuhmu kembali panas atau pusing, minumlah obat yang ada diatas meja itu."
Ichiro menoleh, menatap Jiro yang setia membisu. "Jiro..." panggilnya, membuat kedua orang tuanya dan sangat empunya nama menoleh.
"Ah, Jiro, sayang, jangan dekat dekat kakakmu dulu ya? Niichan sedang sakit, Jiro tidak boleh dekat-dekat. Ya sayang?" nyonya Yamada gelagapan mengangkat Jiro dalam gendongannya. Bisa gawat jika Ichiro mendadak kembali heat.
"...niichan sakit apa? Hiks... Niichan..." tangis Jiro pecah, membuat kedua orang tuanya panik menenangkannya.
Ichiro hanya mampu tersenyum sedih, "niichan panas, Jiro. Nanti jika niichan sudah sembuh, ayo main game bersama. Ah, jangan bilang Saburo tentang ini, bisakah?" sebenarnya permintaan itu bukan untuk Jiro, melainkan permintaan untuk kedua orang tuanya agar tidak membicarakan hal ini lagi.
"Hiks... Janji?"
"Iya, janji."
"Jiro sayang, ayo kita keluar, biarkan niichan beristirahat."
(Flashback off.)
.
.
Hypnosis mic © King Record.
Aku tidak mengambil keuntungan apapun selain mendapat asupan.
WARNING! ADA R18+ RIOUSABU NANTI.
Chapter kali ini aku tulis tanpa edit, jika ada typo mohon dimaklumi. Aku akan usahakan tetap panjang seperti biasa.
Happy reading.
.
.
Yah, itu kisah lama. Jika saat itu Ichiro hanya dapat menangis dalam diam, kini tidak lagi. Ia akan membunuh pemuda yang nyaris memperkosanya.
Sudah lama Ichiro menunggu saat ini.
Bertemu dengan pria berambut putih dengan mata merah itu... Benar benar membuat darah Ichiro mendidih.
Pria itu menatap Ichiro meremehkan, "APA?!"
Uwah. Ngegas.
"KAU YANG WAKTU ITU KAN?!" Ichiro balas ngegas. Padahal jarak mereka tidak sampai 3 meter.
"Niichan, jangan bilang dia itu..." Jiro tak dapat melanjutkan kalimatnya saat melihat raut wajah Ichiro yang mengeras. Sekali lihat saja Jiro sudah mengerti. Pria berambut putih dan bermanik merah inilah yang dulu menyerang niichannya saat mereka masih kecil. "Ck, sialan!" ia mengumpat saat melihat seorang polisi yang kemarin bertemu dengannya ada disebelah Yakuza itu. Bodoh sekali, kenapa dia baru menyadari bahwa pria itu salah satu anggota MTC?
Saburo memperhatikan kedua kakaknya yang membuat gelagat aneh. Ia masih setia memegang lengan Ichiro, nyaris memeluknya. "Ichinii? Jiro?"
"Oi gaki! Beraninya kalian membuat misi kami gagal." pemuda berambut putih itu kembali ngegas. Ia melangkah maju dan nyaris mencengkram kerah Ichiro jika saja Jiro tidak segera kembali mengaktifkan hypnosis micnya.
"Dasar brengsek! Aku Middle Brother Yamada Jiro.
Buster bros! Itulah rumah kami.
Kau Yakuza brengsek,
Yakuza tapi pengecut.
Dasar lemah dasar payah!"
Pemuda itu langsung mundur beberapa langkah dan nyaris jatuh jika saja temannya yang memakai baju tentara tidak menahannya.
"JANGAN GANGGU NIICHAN LAGI BRENGSEK!" Jiro berteriak, mengabaikan kedua teman lawannya yang lain.
"HAH?! KAPAN ORE SAMA MENGGANGGU KAKAKMU BANGSAT?!" pria itu balas berteriak. Ia kembali berdiri tegak setelah memijat kepalanya yang berdengung.
"Kau melupakannya ya? Tapi sayang sekali, aku tak pernah melupakannya." Ichiro melepas pelukan Saburo dan menyalakan hypnosis micnya. "Aku akan membunuhmu. Aku akan membunuhmu sialan!"
"H-hei tidak bisakah-" pria berbaju polisi dan berkacamata itu tampak ingin menjelaskan sesuatu sebelum perkataannya kembali dipotong oleh teman albinonya.
"HAAAH?! NGAJAK GELUD KAU GAKI?! AYO SINI KITA RAP BATTLE!" Pria itu langsung mengeluarkan hypnosis micnya dan menyalakannya.
"AYO! SIAPA TAKUT! KAU AKAN MATI SIALAN!" Ichiro langsung siaga dalam posisi bertarung, membuat Saburo yang awalnya tidak ingin terlibat mau tak mau ikut menyalakan hypnosis micnya saat kedua rekan pria albino tampak menyalakan ikut mic mereka.
"Na, Jiro, siapa pria itu? Apa Ichinii mengenalnya?" Saburo mundur agak belakang dan menarik lengan jaket Jiro.
"Dia adalah orang yang dulu pernah menyerang niichan. Aku tidak akan memaafkannya." Jiro membalas dengan penuh dendam, membuat Saburo terkejut.
"Apa?!"
"Oii, Samatoki. Kau pernah menyerang bocah itu? Yare-yare, dasar tidak bertanggung jawab. Ku tebak kau melarikan diri bukan?" pria berseragam polisi menatap pria berambut putih-yang ternyata bernama Samatoki-dengan menghina.
"KAPAN AKU PERNAH MENYERANGMU BOCA-tunggu dulu. Jangan bilang kau bocah yang waktu itu...?" Samatoki menatap tidak percaya, pantas saja bocah didepannya itu sangat membencinya. "Aku—"
"Ah, otak bodohmu itu mengingatnya rupanya." Ichiro mengejek, langsung memotong pembelaan diri dari Samatoki, "jangan menunda lagi. Kita mulai saja Rap battlenya!"
Pria berambut orange dengan baju tentara maju dan menunjukkan hypnosis micnya, "Sebenarnya shoukan marah pada Samatoki. Tapi kalian juga telah membuat target kabur, jadi mari kita selesaikan ini."
"O-oi, chotto Riou-"
"HAAAH?! OI RIOU, KENAPA KAU MARAH PADAKU?!"
"Hee? Kau menantang kami, pak tua? Jangan menangis jika kalah." Jiro mengejek, sedangkan Ichiro diam tak menjawab. Ia berfokus pada lawan bernama Samatoki yang entah kenapa terasa familiar?
Yang dipanggil Riou mengangguk, "Kalau begitu mari kita mulai."
Saburo bergerak maju, berhadap hadapan dengan Riou. Membuat kedua kakaknya terkejut.
"Kalian... MTC dari Yokohama." Saburo berujar. Manik hijau-birunya menatap sky blue dengan tajam yang dibalas dengan datar. Sedangkan kedua kakaknya dibalik punggungnya sudah memasang kuda kuda menyerang jika pria mantan tentara itu menyentuh Saburo. "Kenapa kalian ke Ikebukuro?"
"Tak kusangka, kau tahu nama kami sebelum kami memberi tahukannya." polisi yang diketahui tukang korupsi itu turut maju, berhadapan dengan Jiro. "Halo, kita bertemu lagi, manis."
"Che, ternyata selain tukang korup, kau juga polisi bejat ya." Dan polisi itu hanya tersenyum menanggapinya.
Jiro mengambil nafas, maju dan menantang polisi korup itu.
"Kami adalah Buster Bros!
Orang-orang seperti MTC adalah sampah yang nyata, ya? Ha ha.
Mulai sekarang, kalian mungkin akan, ya mungkin akan.
Mendapatkan tusuk di jantung karena sajak ini.
Ya! Aku tidak peduli tentang apa yang lebih dulu.
Bermain keren akan menempatkan kamu di kuburan!
Aku akan membunuhmu, panggangan kamu, kami api!
Membakar kamu sampai kamu tidak lain hanyalah abu!"
Polisi itu tersenyum mengejek, membalas rap Jiro dengan tatapan merendahkan.
"Berhentilah mencoba untuk membantu! Kalianlah yang berceloteh.
Gorengan kecil yang mengganggu keluar dari jalan saja!
Sejak awal kami ada dari posisi yang berbeda.
Kami adalah pembunuh berdarah dingin Yokohama.
Cih!
Kakakmu tidak di sini, kamu tidak akan pergi dari sini dengan keadaan baik-baik saja.
Berselingkuh dalam panas membara tidak bisa ditertawakan.
Rap semacam itu tidak akan mengalahkanku.
Pulanglah ke rumah anak-anak, saatnya untuk tidur. Hahahaha!"
Ah, benar benar tawa yang menjengkelkan, membuat Saburo mengabaikan rasa sakit dikepalanya dan memilih maju menggantikan Jiro.
"Kata-kata itu adalah pisau yang tajam.
Kami tidak akan ragu-ragu.
Lihat, lihat? Kau tidak berhenti berdarah.
Kutebak kau akan mati!
Kalian mulai panik,
Kakimu gemetaran!
Aku akan menjangkau dan menembus juga.
Yokohama akan terdiam!"
Sunyi setelahnya, kedua kakak Saburo dibelakangnya mulai mencium aroma coklat yang cukup kuat.
"O-oi Saburo kau-"
Sebelum Jiro menyelesaikan ucapannya dan Ichiro dapat menarik Saburo mundur, Riou sudah menunduk untuk mensejajarkan tatapan mereka, nyaris terlihat mencium Saburo.
"Jika kau pisau tajam maka aku adalah pistol.
Hancurkan otakmu dengan kata peluru.
Bang!
Jalankan sekarang karena aku mulai menembak!
Sampai jumpa!"
Saburo yang tidak terima karena merasa dianggap bocah, berjinjit sedikit dan membenturkan keningnya dengan kening Riou. Namun Riou tetap melanjutkan rapnya.
"Aku tahu kau akan merintih dan menangis hi hi.
Lampu disko ini adalah sesuatu yang dengan cepat aku siapkan sekarang.
Aku akan memakanmu sampai sampai menggunakan keterampilan ini.
Mad Trigger Crew adalah rumah nyata.
Pertempuran ini adalah kemenangan di pihak kami!"
"Saburo!" hypnosis mic Ichiro langsung dilempar begitu saja demi menarik Saburo yang nyaris jatuh untuk menjauh dari pria didepannya. "Jiro menjauh dari kami!"
Terlambat, Saburo sudah didalam pelukan pria berbaju tentara. Membuat Ichiro makin panik. Sedangkan Jiro yang notabenya adalah beta, sedikit terusik oleh bau coklat yang dikeluarkan Saburo.
"...khh.. Kau..." Saburo tiba tiba merasa lemas. Kepalanya pusing dan... Badannya panas. Tengkuknya berdesir aneh. Namun kenapa pelukan dan harum tubuh pria ini begitu menenangkan?
Riou secara tidak sadar mempererat pelukannya, mengurung Saburo didalam tubuh besarnya. "Kau... Bau coklat."
"Saburo! Lepaskan dia! Astaga!" Ichiro frustasi, namun tidak dapat melepas pelukan Riou begitu saja karena Saburo juga meremas baju depan pria itu.
"Ichinii!" Jiro memanggil, membuatnya menoleh dan mendapati dua alpha lainnya tengah menatap kosong dengan hidung dijepit jemari Jiro. "Sebaiknya kita singkirkan mereka dulu! Kita tak dapat melindungi Saburo dari 3 alpha sekaligus!"
Menoleh untuk menatap Saburo yang kini mendongak menatap Riou yang mengurungnya, Ichiro langsung membantu Jiro untuk menjauhkan 2 alpha lainnya yang untungnya masih belum menghirup feromon Saburo terlalu banyak.
"HEI! APA YANG KAU LAKUKAN PADA ORE SAMA KUSOGAKI?!" Samatoki langsung ngegas saat Ichiro menyeretnya cukup kasar-menarik kerah belakang kemejanya dan membuatnya tercekik-misalnya.
"DIAM BODOH! AKU TIDAK MAU ADIKKU DISERANG OLEH ALPHA SEPERTIMU!" Ichiro keukuh menarik Samatoki tanpa perasaan. Membiarkannya bergesekan dengan jalanan.
"HAAH?! JADI ADIKMU HEAT?! DASAR BODOH! KALAU BEGITU KENAPA KAU AJAK KELUAR?!" Samatoki ngegas sambil meronta ronta yang tidak berpengaruh apapun pada Ichiro.
"BACOT! KALO TAU BAKAL GINI JUGA GAK AKAN GUE BAWA KELUAR!"
"GELUD KUY! LO KOK BEGO SIH!? MASA KAGA ADA TANDA TANDANYA?!"
"BUANG WAKTU AMAT GUA GELUD SAMA LO!" kesal, Ichiro langsung mengangkat Samatoki dengan satu tangan dan melemparnya hingga membentur tanah. "DAN OTAK TUH DIPAKE BEGO! KALO TANDA TANDANYA ADA JUGA GUE PASTI SADAR! INI KAGA ADA TANDA TANDANYA TAU!"
BRUAAAK!
"ADAWWWW! LO ORANG APA GORILA SIH ANJ*NG!"
O-ow... Sepertinya punggung tuan Samatoki encok.
"BODO AMAT NJING! YANG PENTING LO DISINI DULU! JANGAN DEKET DEKET ADEK GUE!" Ichiro balas berteriak, sempat sempatnya memberi jari tengah pada Samatoki yang hanya dapat terbaring dengan punggung ngilu.
Sedangkan Jiro lebih sadis dari Ichiro.
Ia mengapit hidung polisi korup dan menarik hidungnya dengan beringas. Menimbulkan protesan dari sang empunya hidung.
"Aw aw aw! Holong helan hehikit, aw adaw.. Haya hak hiha hafas!"
Jiro menoleh mendengar protesan polisi itu, "kan bisa nafas lewat mulut. Makanya jangan ngoceh mulu!" jawabnya dengan polos.
'Ampuni hamba ya gusti...' polisi itu membatin. Hidung mancungnya bisa bisa melar seperti Pinokio jika terus ditarik begini.
Saat sedang asik berkomat kamit dalam hati, Ia mendadak tertarik kedepan dan sedetik kemudian wajah tampannya langsung bergesekan dengan tanah.
Ah, Jiro pelakunya.
Lihatlah polisi korup mesum yang kini tertunduk nungging dengan wajah menempel pada tanah.
"Jiro-kun jahat."
DUAK!
Jiro langsung menendang bokong semok itu kencang layaknya bola. "Menjijikkan." gumamnya. Dilihatnya Ichiro yang memeluk Saburo dan meminumkannya supresan sedangkan pria yang tadi memeluk Saburo sudah menyingkir, terlihat berusaha mengendalikan diri dan menutup hidungnya.
.
.
Ichiro langsung menghampiri Riou yang kini membopong Saburo dalam pelukannya. Pria itu nyaris mencium bibir Saburo jika saja Ichiro tidak datang dan langsung menjepit hidungnya.
"Saburo! Ah, tolong berikan padaku!" pintanya. Membuat Riou mau tak mau hanya dapat menuruti kakak dari bocah manis digendongannya.
Ia memberikan Saburo pada Ichiro dan mundur agak jauh sambil mencoba mengendalikan diri. (Perlu diketahui bahwa pengendalian diri Riou akan bau feromon omega sangat bagus.)
"Ichinii... Panas... Ngh.." Saburo menggeliat, hijau-birunya menatap Riou yang berdiri agak jauh darinya, tanganna berusaha mengapainya dengan lemah, "Ri-riou-san..."
"Saburo, astaga, cepat minum ini!" Ichiro merogoh kantung celananya, mengeluarkan beberapa butir supresan dan meminumkannya pada Saburo.
"Ichinii... Riou-san..."
"Sssh, tenang ya, kau akan baik baik saja, tenang ya..."
Ichiro panik bukan main saat obatnya tidak berhasil dan malah membuat feromon Saburo makin pekat.
"Ichinii... Ichinii... Panas..."
"Ssh, Saburo, niichan disini... Kau-" perkataan Ichiro terpotong oleh Riou yang mendadak sudah berada didepan mereka.
"Tolong, berikan dia padaku," Riou mengusap pipi Saburo, "hanya aku yang bisa menghentikan heatnya."
Ichiro mengeratkan pelukannya, "apa maksudmu?"
"Kau tau dengan jelas apa maksud shoukan. Dia terlalu banyak menghirup feromon shoukan."
Ichiro memandang wajah serius pria didepannya, "Saburo.. Ngh-!?"
Tiba tiba mata kanannya kembali sakit hingga membuatnya refleks terpejam. Membuat warna yang dilihat manik merah perlahan pudar menjadi hitam putih dengan benang merah yang mulai tampak, membelit longgar tubuh Saburo dan pria didepannya.
"Saburo..."
"Riou-san... Riou-san... Panas..."
Ah, Ichiro mengerti. Pria didepannya inilah takdir Saburo. Saburo telah menemukan soulmatenya.
"Saburo... Aku percayakan dia padamu." Ichiro meneguk ludah setelahnya. Netra hijau terbuka, mengembalikan warna pada pandangannya dan menghilangkan benang benang merah yang membelit.
Ichiro menyerahkan Saburo kedalam pelukan Riou yang langsung memeluk Saburo dengan lembut.
"Riou-san... Tolong aku... sakit..." Saburo meracau, sudah kelihangan kendali dirinya sendiri. Bahkan dia mengalungkan lengannya pada alpha yang memeluknya. Pasrah sepenuhnya. Namun bau feromonnya perlahan berkurang.
"Hei, sebaiknya jangan disini." Ichiro langsung menahan bibir Saburo dengan tangannya saat Saburo nyaris mencium Riou dengan agresif.
Tidak tidak. Ichiro tidak mau adik manisnya melakukan itu disini. Membayangkannya saja sudah membuat Ichiro ngeri. "Kita ke hotel sekarang!" ucapnya, memanggil Jiro dan kedua rekan Riou yang sedari tadi hanya dapat melihat dari kejauhan.
.
.
Mereka ada didalam kamar lainnya saat tiba tiba Jiro bertanya.
"Kenapa Ichinii menyetujuinya?"
Ichiro terdiam sejenak, lalu menghela nafas panjang. "Karena... Aku punya firasat bahwa dialah orangnya."
Jiro mendekat, lalu menyender pada bahu Ichiro, "kau yakin, Ichinii?" tatapannya sendu.
Ichiro menepuk pelan puncak kepala adik pertamanya, "Aku melihat mereka terhubung. Saburo telah menemukannya. Kita tak bisa memisahkan mereka begitu saja."
"Kenapa secepat ini? Saburo masih 14 tahun..."
"Aku tidak tahu, Jiro, aku tidak tahu..."
Setelahnya, hening mengisi.
.
.
Riou membaringkan Saburo keatas kasur dengan lembut. Bibir mereka sudah saling bertautan saat keduanya memasuki kamar hotel yang dipesan Samatoki.
"...nn... Riou... Mmn~" Saburo mendesah disela-sela ciuman panas mereka. Tangannya dengan cekatan membuka kancing seragam Riou dan melepasnya, menyisakan Riou yang kini hanya memakai kaus singlet hitam.
Riou sendiri menarik kaus Saburo dan mengusap perutnya, memberikan getaran tersendiri bagi Saburo.
Keduanya jatuh dalam nafsu. Saling menghisap dan memberi tanda. Mendesah dan meneriakkan nama partner.
Saburo tidak menolak saat Riou membuka gakuran, sweater dan kausnya. Ia tidak dapat menolak saat Riou menciumi seluruh inchi tubuh bagian atasnya. Meninggalkan jejak basah dan tanda kepemilikan. Memancing desahan.
Tengkuknya berdesir tak karuan. Saburo tidak peduli apa yang akan terjadi padanya untuk nanti. Ia hanya ingin pria ini ada didalamnya. Didalam kepalanya hanya ada nama Riou Riou Riou dan Riou.
Sedotan terdengar bersamaan dengan jerit nikmat Saburo saat Riou menyusu pada salah satu tonjolan pink pada dadanya. Menghisap kuat hingga dada membusung seolah menginginkan lebih.
"Aaahh... Riou-"
Saburo tersentak saat Riou menyentuh kejantanannya yang telah terbebas dari kurungan-sejak kapan celananya terlepas? Saburo tidak menyadarinya karena terlena akan feromon Riou yang memabukkan indranya. Melumpuhkan sarafnya.
Punggung melengkung dijamah, tangan besar berbalut sarung tangan setengah jari menelusuri tulang dan punggung putih halus.
"Ak-nyhaaa~!" cairan putih lengket keluar tanpa peringatan, mengotori tangan Riou dan perut Saburo. "Haaa-haaa-Riou..."
Wajah Saburo yang memerah makin memerah saat Riou menjilat sperma ditangannya dengan seringai seksi. "Ini baru permulaan, sayang,"
Oh tidak, insting alpha miliknya lepas kendali.
Riou menunduk, turun membuka kaki Saburo dan mengecup paha dalamnya, sesekali mengigitnya hingga membentuk bekas giginya.
Tidak cukup, ia menggesekkan jarinya yang terkena sperma disekitar hole Saburo dan memasukkannya. Mengundang jerit nikmat yang memanggil namanya. Membuat kendalinya atas diri sendiri menghilang.
Ia tidak yakin dapat bermain lembut. Feromon berbau coklat yang kembali menguar telah membuatnya candu.
Bunyi becek, kecupan dan hisapan menjadi backsound desahan Saburo yang tak terkendali. Riou memberi tanda kepemilikan nyaris di semua tempat. Paha yang tadinya putih bersih, kini penuh dengan bekas gigitan juga bercak merah keunguan. Begitupun dengan bahu dan dada yang sudah terlebih dahulu kehilangan keperawanannya.
"AH! RIOU!" Saburo memekik saat jari kedua masuk dan menyentuh sebuah titik didalam sana. Tangannya meremas seprai hingga kusut. Tanpa sadar membuka kaki lebih lebar untuk menyamankan diri. "Riou Riou Riou Riou Riou Riou..."
Carauannya membuat Riou kehilangan kesabaran dan langsung membuka celananya, mengeluarkan kejantanan yang telah menyesaki celana sedari tadi.
Riou memposisikan miliknya tepat didepan hole yang kini telah becek oleh sperma dan liur miliknya. Menggesekkannya lembut, lalu mendorong masuk.
"Ngh-!"
"AKH! SAKIT! RIOU!" Saburo memekik perih. Tangannya mencengkram apapun yang bisa di jangkaunya sedangkan air mata kembali menetes.
Mengabaikan jeritan Saburo, Riou tetap fokus membenamkan miliknya sepenuhnya.
Dorong. Dorong. Dorong.
Dia bahkan mengangkat kedua kaki Saburo keatas pundaknya hanya untuk mempermudah akses masuknya.
"AH! Sakit... NHHYA~"
Seksi sekali. Sudah Riou bilang dia tak yakin dapat bermain lembut.
Saat semuanya berhasil masuk, Riou berdiam diri sejenak seraya menjilat airmata yang menetes. "Shh... Tahan sebentar," ucapnya lalu mencium Saburo.
Perlahan Saburo merileks dan membalas ciuman Riou walau bagian bawahnya masih sakit.
"Hah-mmm.. Ri..ou..."
"Hhm?"
"Kau boleh bergerak... Ah! Ah! Riou! Aah! Hhn..." belum sedetik Saburo mengizinkan, Riou langsung menghentak keluar masuk dan membuat Saburo kuwalahan.
Isi perutnya rasanya terkocok. Mual. Pusing. Sakit. Namun dia entah bagaimana menyukainya.
Riou mengangkat Saburo, memutarnya hingga kepalanya terbenam pada bantal sedangkan pantatnya naik, membentuk doggy style.
Meremas bantal, Saburo merinding saat punggungnya dicium. Tangannya yang terkepal meremas bantal digenggam hangat sedangkan bagian bawahnya setia diobrak abrik oleh kejantanan besar.
Hingga sampai pada gerakan pria diatasnya yang mulai tak beraturan dan bagian bawahnya yang menyempit, Saburo tahu sebentar lagi dia akan kembali mencapai klimaks. Jadi dia sengaja menggoyangkan pinggulnya berlawanan arah.
"Ah! Riou~" desahan kembali muncul saat Riou mencium lembut tengkuknya setelah mengigit bahunya.
"Hhnn..."
Ah, Saburo tidak tahan lagi. Sebentar lagi dia akan klimaks untuk kedua kalinya. "Aku-"
"Ssh..." Riou mengigit kecil tengkuk itu, membuat Saburo tidak dapat menahannya lagi dan menyemburkan cairan miliknya disusul Riou tak lama kemudian.
"Haa... Haa..."
Saburo masih sibuk mengatur nafas saat Riou tanpa aba-aba mengigit tengkuknya kuat. Menyebabkan robeknya sebuah selaput disana dan darah mengalir keluar.
"Aaah!" menjerit, Riou malah mengabaikannya dan menjilati darah yang keluar hingga berhenti juga mengeluarkan kejantanannya. Lalu merebahkan diri disamoing Saburo. Membiarkan cairan miliknya menetes keluar dan mengotori paha Saburo.
Saburo langsung ambruk dengan nafas terengah, sedangkan Riou dengan lembut merengkuh Saburo kedalam pelukan.
"Kau sepenuhnya milik shoukan." Riou membisik, mengecup pipi Saburo yang telah tertidur kelelahan. Insting Alphanya masih mendominasi, belum sepenuhnya kembali tidur.
Sky blue memperhatikan wajah bocah dihadapannya, manis dan polos. Dengan tambahan tiga tahi lalat. Dua dibawah mata kiri dan satunya disebelah kiri bibir. Membuatnya tampak imut dan cantik.
"Oyasumi... Dan maaf karena lepas kendali," setelahnya, Riou ikut tertidur dengan memeluk erat Saburo.
.
.
Halo, aku kembali. Maaf lama gak update, aku mulai disibukkan oleh ulangan. Mungkin akan update lagi pertengahan bulan depan karena mei awal sudah UAS hingga mei pertengahan.
Terimakasih sudah membaca.
P.s.
Ini lebih panjang dari chapter sebelumnya (maaf aku kebablasan bikin rate M-nya. Hehe)
Salam, si racun.
Ps: telah di edit pada 9 januari 2021
© suna_tani di twitter
