"Hinata!" Toneri meneriaki nama Hinata setelah sebelumnya tersenyum lebar sambil melambaikan satu tangannya yang ia angkat tinggi.

Hinata bisa melihat senyuman itu dari tempatnya berdiri tapi lagi-lagi ia menoleh ke lelaki di sebelahnya. "Uhm ayo kita ke sana." Ajak Hinata menarik lengan Naruto.

"Bagaimana bisa kau ada di sini?" tanya Hinata membalas senyuman lebar Toneri.

"Aku menebak kemana kau pergi karena tak masuk kelas hari ini dan aku benar kau di sini." Time zone di dalam mall ini adalah pelarian Hinata dan Toneri ketika bolos. "Tapi aku terkejut kau bersama Naruto." Tambahnya seolah menyindir Naruto di sebelah Hinata.

"Ahh" Hinata bingung untuk menjawab. Sudah terlalu banyak dan sering ia katakan ia membenci Naruto, pasti mengejutkan melihatnya bersama-sama.

"Cih, apa perdulimu Hinata bersama siapa? Urus saja dirimu sendiri." Sela Naruto sebelum Hinata sempat menjawab.

"Tentu saja aku harus tahu, apalagi ketika dia bersama manusia sepertimu." Balas Toneri tak senang. Satu tangannya menarik Hinata menjauh dari Naruto dan ia merangkul Hinata, menegaskan bahwa Hinata adalah miliknya.

"Sangat lucu. Orang sepertiku? Berkaca pada dirimu sendiri, jangan menyentuh seorang perempuan seenaknya saja." Geram, Naruto menepis tangan Toneri yang melingkar leher Hinata.

"Kau cari masalah, hah?" kedua mata itu beradu ketika tangan Toneri meraih kerah baju Naruto. Ia tak suka melihat lelaki ini begitu santai di dekat Hinata.

"Hentikan hoi. Kita jadi tontonan orang-orang." Hinata mencoba melerai, rasanya tak nyaman melihat sikap Naruto maupun Toneri. Ia menarik lengan Naruto dan mendorong pundak Toneri tapi mata mereka tak mau berhenti beradu.

"Sudah aku ingatkan untuk menjauh dari Hinata."

"Siapa kau berani mengaturku?" alis Hinata berkerut. Salahnya selalu mengatakan ia membenci Naruto, mungkin karena itu respon Toneri seperti sekarang tapi Naruto juga tampaknya sangat ingin ribut dengan Toneri, dia sengaja membuatnya semakin marah.

"Aaahap!"

"Aaaa! Aaaa sakit, Hinata!" Naruto tersentak, dengan segera ia menjauh karena Hinata menggigit lengan Toneri.

"Aaaa! Lepaskan!"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Disclaimer : Demi apapun, Naruto bukan punya saya, punya Masashi Sensei, saya hanya pinjam saja.

WILD KIDDO

(Hati hati typo, tulisan mendadak hilang, OOC, AU dan lain-lain. Udh usahain sebagus mungkin)

WILD KIDDO by authors03

Please.. Dont like dont read.. Thanks.

.

.

Chapter 9

.

.

.

.

Naruto tak berani bersuara. Ia membisu bahkan ketika Hinata meliriknya tajam. Lihatlah bekas luka gigitan yang sampai membiru bahkan hampir berdarah itu. Hinata tak bercanda ketika dia menggigit Toneri. Karena itu Naruto memilih diam, tak ingin lengannya berakhir seperti lengan Toneri.

"Apa kau mau ribut lagi, hah?" telapak tangan Hinata menepuk-nepuk geram pucuk kepala Toneri, tak merasa bersalah sama sekali melihat wajah Toneri yang mencoba menahan rasa sakit. Dia duduk di kursi besi yang terpajang di dekat dinding sedangkan Hinata berdiri di depannya.

"Cepat minta maaf pada Naruto karena kau jahat." Pipi Hinata membulat, ya begitulah yang harus Toneri lakukan. Dia bersikap berlebihan padahal dia bisa melupakan semua yang telah Hinata katakan soal Naruto, hm.

"Mengapa aku harus minta maaf? Aku hanya" tatapan tajam tak ingin penolakan dari Hinata menghentikan bantahan Toneri. Dia terdiam untuk beberapa saat sebelum melirik tajam ke arah Naruto yang berdiri di depannya. "Maaf" ujarnya ogah-ogahan.

"Kau juga harus minta maaf, Naruto." Tatapan terkejut, Naruto beri untuk Hinata. Mengapa ia harus minta maaf?

"Kau mau ku gigit?" raut wajah Naruto berubah menjadi kesal. Ia ogah minta maaf tapi siapa yang mau digigit bocah gila itu? Dia menggigit Toneri saja sudah seperti anjing gila yang akan mengoyak daging. Ia tak mau hal itu terjadi padanya.

"Maaf"

"Nah kalau begitu kalian harus kembali berteman baik." Senyum manis hadir di bibir Hinata mengatakan betapa bangga dirinya telah menyatukan dua sahabat yang sudah lama tak berteman.

"Cih! Tak sudi."

"Siapa yang mau berteman dengan kau?"

"Tentu kalian harus. Bayangkan saja jika aku tiba-tiba diculik dan penculiknya ada dua. Bagaimana?" dengan polosnya Hinata bertanya.

"Aku bisa mengalahkan dua sekaligus." Jawab Naruto dan Toneri tak mau kalah membalas. "Aku tak akan biarkan Hinata diculik." Dan sekali lagi, mata mereka saling beradu tajam.

"Apa kau lihat-lihat? Berani sekali kau tiba-tiba muncul dan sok-sok dekat dengan Hinata?" mata Toneri jelas sekali memancarkan amarah begitu juga dengan Naruto, tak suka seperti apa sikap Toneri terhadap Hinata.

"Sok dekat? Biar kuberi tahu kau sebuah rahasia. Aku dan Hinata akan me"

"Aaaablablabla!" panik! Hinata membekap mulut Naruto dengan kedua telapak tangannya, tanpa sadar. Ia tak mau Toneri mengetahuinya karena yang jelas sekali ia merasa malu! Apa yang akan Toneri katakan jika dia tahu Hinata akan menikah dengan orang yang telah ia umpat mati-matian selama ini?

"Kalian kenapa?" tanya Toneri penasaran. Melihat respon Hinata, jelas sekali dia merahasiakan sesuatu.

"Uhm kami em kami ah!" Hinata menatap intens Toneri setelah ia menemukan alasan di dalam kepalanya. "Apa kau ingat kita berencana untuk jalan-jalan di hari ulang tahunku? Yah, bagaimana ya Naruto bilang ayahku ingin mengadakan pesta." Bohong Hinata yang jelas sekali sangat menyakinkan di mata Toneri. Ulang tahun Hinata tinggal satu minggu lagi, lebih dari setengah tahun lalu Hinata sudah mengatakan pada sang ayah untuk jangan melakukan pesta apapun karena ia telah berjanji akan menghabiskan waktu dengan Toneri tapi sialnya karena Naruto, ia akan terpaksa meminta sang ayah menyiapkan pesta untuk hari ulang tahunnya.

"... Begitu?" Toneri kecewa. Padahal ia sudah menyiapkan banyak rencana untuk menghabiskan waktu bersama Hinata.

Hinata tersenyum kecil. "Maaf nee, aku minta maaf." Ucapnya menyesal.

.

.

.

.

.

.

..

.

.

"Kau benar-benar bocah menakutkan." Akhirnya setelah ditinggal berdua dengan Hinata, Naruto bisa mengatakan apa yang ada di dalam otaknya. Matanya menatap ke depan fokus ke arah jalan yang mulai gelap karena jam telah menunjuk pukul 19.02 ia di dalam mobil dalam perjalanan mengantar Hinata pulang. "Selain liar dan mesum, kau sangat pandai berbohong." Melihat langsung, sungguh membuat Naruto merasa takut pada betapa alihnya Hinata berbohong, dia jelas-jelas berbohong, Naruto tahu itu tapi ketika melihatnya berbohong, rasanya seperti itu bukanlah sebuah kebohongan.

"Mau bagaimana lagi." Keluh Hinata yang juga menyesal berbohong. Ia hanya tak ingin Toneri tahu dan mulai mengejeknya. Selain itu, Toneri juga tampak tak suka pada Naruto, bukan hal yang bagus kalau dia tahu, setidaknya untuk sekarang.

"Aku harus telepon ayah." Hinata mengeluarkan ponsel di dalam tas kecil yang berada di atas pahanya.

"Kau bisa memberitahunya langsung setelah tiba di rumah." Tapi gadis itu sangat tak sabaran. Ponsel tadi sudah melekat di telinga kirinya.

"Hallo" suara dari seberang sana tertangkap oleh indera pendengar Naruto.

"Ayah!" panggil Hinata. "Ayah, aku ingin pesta ulang tahun." Langsung saja to the point.

"Kebetulan sekali, Ayah dan orang tua Naruto sudah memutuskan untuk mengumumkan pertunangan kalian di hari ulang tahunmu."

"Hah...?" apakah Hinata salah dengar? Ia membeku atas apa yang ia dengar. "Kami sudah merencanakan pesta yang bagus untuk kalian."

"Tidak! Tidak ayah! Bukan itu maksudku." Langsung saja jantung Hinata berdebar kencang. Ia berbohong pada Toneri soal pesta agar dia tak tahu dirinya dan Naruto dijodohkan tapi mengapa malah ingin diumumkan?

"Cepatlah pulang, akan kita bahas di rumah." Panggilan itu diakhiri sepihak, membuat Naruto menahan tawa.

"Ide yang sangat super sekali." Ejek Naruto melihat wajah syok Hinata.

"Aaaa Bagaimana ini?!" panik. "Toneri akan menganggapku pembohong." Ia sungguh tak mau hal itu terjadi.

"Kau takut di anggap pembohong tapi kau telah membohonginya dari awal." Entahlah bagaimana cara kerja otak Hinata, Naruto ingin tahu.

"Aku tak pernah setuju soal menikah denganmu."

"Tapi kau juga tak menolak." Hinata terdiam. Itu benar ia tak menolak, abaikan apa alasannya.

"Aaaa mati aku mati aku. Toneri akan membenciku!" Hinata menekan kedua samping kepalanya. Toneri akan membencinya. Dia tak pernah suka Hinata merahasiakan sesuatu darinya begitu sebaliknya, dia juga tak pernah merahasiakan apapun dari Hinata. Jadi, sekarang apa yang harus Hinata lakukan?!

"Bagaimana kalau aku pura-pura diculik biar pestanya batal?" Naruto menggeleng karena tak tahu harus menjawab apa ide gila Hinata.

"Kau benar-benar gila. Biarkan saja dia tahu."

"Tak bisa! Dia akan membenciku!" bukan hanya berbohong sekali tapi dua kali sekaligus! Pertama, soal akan menikah dengan Naruto dan kedua soal janji mereka harus batal karena ayahnya ingin pesta!

"Kalau begitu pura-pura ketabrak aja bagaimana?" geram Naruto tak suka akan bagaimana dia sangat mengkhawatirkan Toneri membencinya.

"Aaaaaaaa itu keterlaluan!"

.

.

.

.

.

.

Waktu berlalu sangat cepat, tak terasa satu minggu telah berlalu. Hari ini adalah hari yang Toneri tunggu tanpa ia tahu bahwa Hinata mengharapkan tanggal hari ini tak muncul di kelender

Toneri segera memasuki ruangan acara. Ia bergegas karena sedikit terlambat datang ke pesta yang telah ia tunggu-tunggu dalam seminggu ini.

Ia memakai setelan kemeja yang pernah Hinata puji, Rambutnya tersisir rapi ke belakang.

Awalnya ia tersenyum memasuki mansion Hyuuga yang tak bisa diragukan lagi mewahnya. Acara berlangsung di aula luas yang ada di dalam salah satu ruangan.

Tangannya yang di belakang punggung, tak sabar lagi ingin memberikan kotak kado ukuran sedang kepada gadis cantik yang memakai dress pink di balik kue ulang tahun yang sangat tinggi hingga menutup badannya.

Gadis itu sepertinya tak menyadari kehadirannya di belakang keramaian, dan karena itu dirinya tersenyum melihat manisnya wajah khawatir gadis itu yang entah karena apa.

Tapi kemudian senyuman Toneri perlahan memudar. MC yang membawa acara pada malam hari ini menyebut salah satu nama yang terdengar tak asing di telinganya dan kemudian pria paruh baya yang ia kenal bernama Hiashi Hyuuga naik ke atas pentas berdiri di antara mereka berdua. Dengan senyuman penuh kebahagiaan dia mengatakan.

"Ini adalah malam yang sangat membahagiakan untuk putriku tapi aku ingin menambahkan lagi sebuah kebahagiaan dengan mengumumkan bahwa putriku, Hyuuga Hinata dan Uzumaki Naruto akan segera bertunangan." Semua tamu undangan bersorak dan bertepuk tangan tapi Toneri membeku di posisinya.

Kotak kado yang telah ia bungkus sangat indah dengan warna kesukaan Hinata jatuh begitu saja dari tangannya.

Kepalanya blank dan ia lupa bahwa ia menahan nafas. Matanya tak bisa lepas dari Hinata, masih tak percaya pada apa yang ia dengar hingga ketika mata bulan itu bertemu dengan matanya. Ia tahu bahwa apa yang baru saja ia dengar bukanlah candaan atau kesalahpahaman.

.

.

.

.

.

.

.

Naruto POV

Aku menatap apa yang Hinata tatap sedari tadi. Itu lelaki yang sangat ia harapkan tak datang malam ini. Hinata tampak sangat khawatir ketika lelaki itu memutuskan kontak mata mereka dan pergi begitu saja.

Hinata jelas sekali ingin mengejar tapi dia tak berani, mungkin karena keramaian.

Aku tak tahu apa yang akan dia jelaskan kepada Toneri tapi aku tak tega melihat wajah yang dipenuhi rasa bersalahnya.

Aku tersenyum kepada tamu undangan, sedikit membungkuk hormat dan kemudian aku melakukan hal yang sama kepada Hiashi setelah membisikkan beberapa kata.

Dia mengangguk pada bisikanku.

"Kenapa?" Hinata menjeda acara mencari punggung Toneri yang telah menghilang ketika aku mengambil tangannya dan membawanya turun dari atas panggung, menjauh dari ruangan.

"Aku tak suka wajah sedihmu." Aku lebih tak suka dia khawatir pada lelaki itu tapi aku rasa tak memberi Hinata waktu untuk menjelaskan juga bukan ide yang bagus.

Aku melihat punggung Toneri, dia berjalan keluar dari taman di samping mansion dengan cepat. Hinata melepaskan tangannya dari genggamanku untuk mengejar Toneri, aku membiarkannya.

"Toneri, maafkan aku." Aku bisa melihatnya dengan jelas dan mendengarnya dengan jelas dari sini. Dia merentangkan kedua tangan untuk menghalang jalan Toneri.

Naruto POV end

.

.

.

.

.

"Apa yang ingin kau jelaskan?" Toneri tak akan heran jika gadis ini tak paham apa maksud dari pancaran matanya. Yang dia tahu hanyalah dia merasa bersalah telah melakukan hal yang ia benci.

"Aku minta maaf aku merahasiakan hal ini darimu. Aku tak bermaksud begitu, hanya saja ini terlalu terburu-buru, aku tak punya waktu untuk mengatakannya." Semua yang Hinata katakan, hanya terdengar seperti alasan di telinga Toneri.

"Jadi, karena itu pesta ini, untuk mengatakannya langsung padaku dan langsung pada semua orang?"

"Tidak!" Hinata membantah tapi ia juga tak tahu harus berasalan seperti apa karena seperti apa ia membela diri, ia tetap saja telah berbohong.

"Aku tak bermaksud merahasiakannya darimu, aku hanya takut kau menertawakanku dan karena kau tampaknya tak menyukai Naruto." Ucapnya jujur tapi mengapa Toneri malah tersenyum lucu?

"Aku tak akan menertawakanmu, Hinata." Ucapnya entah dengan maksud apa. Hinata memilih diam untuk menunggu Toneri melanjutkan ucapannya. "Aku tak mungkin tertawa jika aku tahu kau dijodohkan dengannya."

"Tetap saja, Karena kau tampaknya tak suka pada Naruto, aku"

"Aku mencintaimu, Hinata."

"... Hah...? "

.

.

.

.

Sudah Naruto duga, Hinata pasti tak menduga Toneri jatuh hati padanya. Wajah syoknya sudah mengatakan semuanya.

"Kita berjanji bahwa tak ada rahasia di antara kita."

.

.

.

.

"Selama ini, hanya itu rahasiaku yang kusembunyikan darimu." Dia tersenyum, menutupi rasa kecewa. Bibirnya pun terasa berat tak ingat berbicara lebih banyak lagi. Ia masih dalam kondisi sangat terkejut atas apa yang ia dengar.

"Kau bisa anggap kita impas." Toneri menepuk pelan pundak Hinata dan pergi melewatinya.

.

.

.

.

To be continue