Halo, kita kembali lagi meskipun cukup lama sekali bagi kalian yang masih tetap menunggu update dari Fic ini karena author sendiri sedikit ada sebuah kendala yang sibuk di dunia nyata dan bukan dunia halu, ohhh ngomong-ngomong soal fic ini nampaknya di animenya sendiri sudah mendekati yang namanya tamat well, tak mengejutkan tapi cukup jujur ajah ternyata ampas sekali jalan ceritanya karena banyak skip dan kemunculan chara yang tiba-tiba OP tanpa ada alasan yang jelas apalagi ngalahin chara yang sudah dibangun dengan devlopment yang bagus tapi, seperti biasa kembali ke author atau emang mangaka itu sendiri sudah malas buat ceritanya dan sama seperti saya hehehehe 😑😑😑
P.s : sepertinya saya berencana membuat sebuah fic baru tapi, dengan teman crossxover cuman yah masih tahap rencana saja jadi jangan terlalu banyak berharap jika ujung-ujungnya bakal sakit.
.
...
.
- Stasiun Pertokoan
Hari yang cerah dan panas yang berada di sebuah stasiun di daerah Hokohawa, yang mana stasiun ini tempat berkumpul banyak orang-orang yang lalu lalang keluar dan masuk kereta bahkan ada yang sedang menunggu juga karena biasanya pagi atau sore hari bakal banyak ramai orang.
Tentunya saja banyak orang-orang ramai juga dimanfaatkan beberapa sebagian orang untuk membuka bisnis berjualan seperti barang, benda apapun, dan termaksud makanan juga yang letaknya berdekatan langsung dengan stasiun dan memiliki keuntungan yang bagus terutama dibidang kuliner
Dan sebuah Toko yang merasakan keuntungan besar karena berjualan di dalam stasiun adalah Toko Mozuya yang menjual Kaarage karena sangat diminati banyak orang terutama para pegawai kantor yang pulang dan berangkat kerja apalagi rasanya yang nikmat membuat siapapun ketagihan dan ingin membelinya lagi.
Dan selain Kaarage mereka yang sangat enak, tentu saja lokasi Toko Mozuya cukup strategis sekali yaitu di mana orang-orang yang keluar masuk dari dalam Kereta jadi tak heran jika tempat itu selalu saja ramai orang-orang yang sekedar menyimpang ingin membeli Kaarage.
Saat ini keadaan tengah siang hari yang mana beberapa orang termaksud murid-murid sekolah tengah beristirahat dan tentu saja stasiun Pertokoan itu tengah cukup ramai sekali karena alasan adanya Mozuya cukup membuat beberapa toko disebelahnya kecipratan keuntungan juga.
Nakamozu seorang Manager Mozuya tengah melakukan hal biasa yaitu mengecek keadaan tokonya dengan senyum ramah menyapa pelanggan yang masuk dan agak sedikit aneh karena beberapa hari ini jumlah pengunjung yang datang sedikit mengalami penurunan daripada hari-hari sebelumnya.
"Ini cukup aneh, tapi kenapa hari ini sedikit berbeda?" Nakamozu melihat sekitaran stasiun masih banyak orang-orang yang lalu lalang namun kenapa yang berkunjung ke Toko sedikit berkurang dari biasanya.
Tapi, dia teringat tiga hari yang lalu ada beberapa murid yang lewat dan membuat sebuah Kaarage yang digulung dengan tanda bernama Sumire namun dia membiarkan ini karena mungkin cuma orang yang membeli Kaarage di Toko lain dan takkan mempengaruhi Mozuya.
"Nakamozu-sama, saat ini Kaarage Mozuya mengalami penurunan 30 persen dari tiga hari yang lalu"
"Hahh!?"
Dia cukup terkejut dengan jumlah penurunan hasil yang tak biasanya dialami olehnya namun kali ini benar-benar diluar nalar karena sebab akibat dari omset penurunan ini, bahkan Toko lain yang menjual Kaarage tak ada selain Mozuya lalu bagaimana bisa seperti itu.
Dia melihat beberapa orang-orang yang lalu lalang begitu banyak namun yang mengejutkan mereka tak membeli Kaarage Mozuya malahan membeli Kaarage Sumire yang entah dari mana berasal.
Dan itu cukup membuat Nakamozu sangat kesal sekali bahkan orang-orang hanya melewati Mozuya saja tanpa membeli Kaarage dan memegang Kaarage yang berasal dari Toko Sumire, bahkan kebanyakan orang-orang malah menanyakan Kaarage Sumire daripada Mozuya.
"Anu... bukankah saatnya sekarang untuk melaporkan kepada orang itu?" salah satu anak buahnya berbisik.
"Yang benar saja! mana mungkin aku mengandalkan orang itu!" Nakamozu menolak dan bersikeras sekali untuk tak meminta bantuan.
Yang dimaksud dengan orang itu adalah seorang Konsultan ternama dan juga sekaligus orang yang menaruh saham di Mozuya, bahkan berkat resep dan saran dia Toko Mozuya menjadi sangat laris sekali bahkan diluar perhitungannya.
Namun biaya yang cukup mahal membuat Nakamozu ingin mengakhiri kontrak dengan orang itu dan disatu sisi dia salah karena tak mengindahkan saran dari orang itu dan malah bertindak sendiri, dan mengira bahwa Mozuya akan terus maju dengan penghasilan luar biasa.
"Iya, itu benar"
Nakamozu tau ini ulah siapa, berkat bocah itu Mozuya sedikit menurun padahal menurutnya bocah itu cuma membual namun sepertinya dia tak punya pilihan lain untuk mengecek ke sana secara langsung.
.
.
.
.
.
- Distrik Pertokoan
"Bagaimana bisa?..."
Nakamozu sudah sampai namun ketika tiba dia tak mempercayai apa yang dilihat bahwa Distrik Pertokoan yang seharusnya kosong melompong atau mati beberapa hari yang lalu kini mendadak sangat ramai seperti Pasar kecil.
Dia cukup bingung bagaimana caranya tempat ini kembali ramai padahal berkat Kaarage Mozuya, tempat ini seperti Pemakaman apalagi jika tak memiliki sebuah nilai persaingan maka tinggal menunggu beberapa hari lagi hingga akhirnya bangkrut.
Seperti bangkit dari kematian tempat ini jauh lebih hidup bahkan pelanggan yang datang dari berbagai golongan murid sekolah, pegawai kantoran, dan ibu-ibu yang datang membeli untuk buat bekal makan malam.
Dan tentu saja sebab akibat dari ramainya Toko ini adalah yang berasal dari salah satu Toko yang bernama Sumire dengan menjual Kaarage, dan sama seperti Mozuya Toko yang ada di sekitaran Sumire terkena cipratan keuntungan dari banyaknya yang datang.
Dan pusat dari semua itu adalah Toko Sumire yang saat ini tengah membludak banyak pelanggan yang datang atau beberapa pelancong yang sekedar mampir dan ingin menikmati rasa Kaarage yang sangat lezat itu
"Aku mau satu!"
"Aku pesan dua tapi yang ada Nasinya!"
"Dibungkus tiga buat dibawa pulang!"
Banyak teriakan pelanggan yang meminta Kaarage dan tengah berkumpul di Toko Sumire yang tentunya di sana juga ada Yukihira Souma yang menjadi otak atau mesin pengendali yang membuat Distrik Pertokoan kembali ramai seperti pada umumnya, dengan bantuan Ikumi, Kurase, serta Pak Tomita.
Di Sumire terdapat dua variasi Kaarage ada yang menggunakan Daging Ayam dan juga menggunakan Daging Sapi namun Souma memilih Paha Ayam yang karna tak banyak tulang dan Perut Daging Sapi yang isinya lemak dengan sepenuhnya Daging lembut.
Untuk kedua Daging itu caranya sedikit berbeda, Paha Ayam dipotong-potong besar lalu diasamkan dengan Alkohol yang sudah difermentasi menjadi asam selama seharian dengan bagian Saus yaitu Kecap kedelai Pedas dan Bubuk Mericca Cayenne.
Dan untuk Perut Daging Sapi direndam dalam Cairan Nanas dan Madu selama Dua hari dengan tambahan Asam Acar Prem agar tak alot saat digigit dan lebih gurih saat digoreng, dan tambahan Saus, Souma menggunakan Paprica yang digiling halus dengan tambahan Mayonaise beserta Mentega.
Dan kedua bahan itu digoreng sebanyak dua kali, dan ditaruh di atas Kulit Lumpia serta Daun Salad, lalu ditambahi macam-macam potongan sayuran seperti Tomat, Wortel, dan Kacang Panjang.
Selain saus yang membuat rasanya enak ada tambahan Bubuk Lada Hitam diatasnya yang sedikit membuat bunyi kriuk ketika digigit diawal.
Sebenarnya di Sumire itu ada tiga macam menu Kaarage, ada yang dimakan langsung, ada juga yang menggunakan Nasi, dan ada yang bisa dibawa pulang.
Namun kebanyakan yang membeli itu lebih memilih dimakan langsung dan menggunakan Nasi karena kebanyakan pelanggan Orang-orang kantoran dan murid-murid sekolahan yang pulang lewat sini, namun untuk yang terakhir biasanya para wanita yang pulang larut karena tak sempat masak atau malas.
Cara pengolahan dan bahan utamanya sama namun ada sedikit perbedaan dibagian cara penyajian yang mana, jika menggunakan Nasi ukuran Kulit Lumpia sedikit lebih besar dengan Selada diganti dengan Daun Paper agar saat digigit Nasi tidak berantakan.
Lalu untuk yang dibawa pulang Souma tak menggunakan bungkus Plastik atau apapun yang berasal dari bahan Karbon karena itu akan membuat bau Nasi sedikit Asem dan Kaarage yang penuh dengan Minyak sehingga seperti Berlendir.
Dia menggunakan Daun Corennel yang memiliki bentuk seperti Daun Semanggi ditaruh diatas Nasi yang sudah matang serta dicampur dengan Kaarage, lalu digulung dengan ukuran yang sedang dan menyusaikan keinginan.
"Aku Pesan 5 untuk anak dan istri!"
"Aku juga tapi yang biasa!"
"Aku mau!"
"Tuan Tomita, kau sudah selesai membuat bahannya? Kita banyak pesanan nih" ucap Souma.
"Sebentar lagi!" ucap pemilik Toko sebelah yang terlihat kelelahan karena umurnya yang tak muda dan harus dipaksa kerja Rodi.
"Yukihira, sudah selesai!" ucap Kurase yang tengah mencuci sayuran sedangkan masalah goreng itu bisa diserahkan kepada Ikumi.
"Ah, taruh di sana saja" ucap Souma namun matanya menangkap wajah tak asing di depan Tokonya dan buru-buru dia lari ke depan "Pak Tomita, kau urusi para pelanggan yah!"
"Eh, Tunggu!"
Sementara itu Nakamozu ingin tau bahan apa yang dibuat Kaarage ini sehingga sedemikian enak dan bisa mengalahkan Kaarage milik Mozuya, namun dia tak bisa tau bahan apa yang digunakan karena dari jauh dan itu cukup menyulitkan.
"Ohhhh, Manager dari Mozuya yah"
Nakamozu terkejut dan melihat bocah itu sudah berdiri di belakangnya "kau kan..."
"Tak perlu buru-buru, kalau mau silahkan mengantri dengan tertib" ucap Souma melipat tangannya.
"Sejak kapan kau merencanakan ini?" tanya Nakamozu langsung pada intinya.
"Tiga hari yang lalu" jawab Souma.
Nakamozu ingat kalau tak salah waktu itu, sudah ada beberapa orang yang membeli Kaarage Sumire namun dia mengabaikan itu karena mungkin takkan berpengaruh ke penghasilan Mozuya namun ternyata perhitungannya sangat salah sekali.
"Seperti yang kau pernah bilang bahwa, sebuah Toko yang tak memiliki daya jual bersaing akan runtuh itu adalah hal benar" ucap Souma yang menjelaskan bagaimana bisa menarik semua Pelanggan seperti yang dia lakukan saat Camp pelatihan di hari terakhir "namun anda juga melupakan sesuatu, jika nona Manager tak membuat hal yang baru maka jangan terkejut jika suatu saat ada orang yang akan merebut pelanggan anda sendiri"
Souma menggunakan kelemahan yang tak dimiliki Mozuya yaitu dimakan langsung dan dia dalam tiga hari ini membuat sedikit peningkat dimulai menarik pelanggan dari kalangan sekolah, lalu pegawai kantoran, setelah itu semua orang.
Nakamozu tau bahwa ini sudah sangat jelas kekalahan Mozuya, awal dari semua ini adalah bocah rambut merah itu yang menjadi otak dari semua rencana yang begitu sangat rapi, dia malah lebih mirip seperti Jenderal Oda Nobunaga si ahli taktik perang yang mana dapat membuat sebuah kerajaan kecil tumbang dalam semalam.
"Berhubung anda ada di sini, maka tak ada salahnya mencoba Kaarage Sumire ini" ucap Souma memberikan Kaarage buatannya "lagipula kita sudah mencoba Kaarage Mozuya, jadi sekarang gantian dong!"
Nakamozu ingin menolak namun tangannya berkata lain bahkan menerima tawaran itu dan ketika Kaarage itu sudah masuk ke dalam mulutnya.
*Krskkkk!
"Ini belum seberapa" ucap Souma melihat ekspresi kepuasan dan kekalahan dari musuhnya itu.
'Ini enak'
.
.
Xxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxx
.
.
- Tengah Malam
Setelah Jam menunjukkan tengah malam semua orang yang telah selesai dari aktifitas mereka memilih beristirahat untuk memulihkan tenaga, dan termaksud di Distrik Pertokoan juga sudah kosong melompong karena semuanya tertidur setelah berjuang cukup lama melayani para pelanggan.
Tentu saja semua lampu di masing-masing Toko sudah gelap pertanda yang punya Toko sudah tertidur dan tutup hingga menunggu buka lagi waktu pagi, kecuali di kedai Yukihira yang masih menyala bagian lampunya karena sang pemilik masih terjaga.
Di dalam sana ada Souma sendiri, bersama Ikumi, Kurase, dan Pak Tomita yang sudah tertidur lelap di Sofa karena dipaksa kerja sibuk diumurnya yang sudah tak muda lagi, saat ini mereka tengah membereskan dan mencuci perabotan dapur yang dipakai tadi.
Semuanya terjual ludes habis untuk dua bahan utama Daging Kaarage yang hanya menyisakan Selada saja karena pada waktu itu yang beli sangat banyak sekali apalagi saat jam sepuluh malam, yang mana semua orang pulang bekerja mereka.
Souma tau saat ini liburan dia di rumah sudah berakhir dan tinggal dua hari lagi, lalu dia akan kembali ke Tootsuki karena memang banyak hal ingin dia lakukan bersama teman baru dan ingin mengalahkan ayahnya suatu saat nanti.
Sekarang tugas dia sudah selesai dengan membuat Distrik Pertokoan kembali ramai lagi seperti sebelumnya, namun saat ini dia tak tau siapa yang akan mengolah Kaarage nanti karena tak mungkin Souma bisa melakukannya.
Meskipun ada Pak Tomita tapi, mustahil untuk bisa sendirian meskipun dia sudah memberikan resep pembuatan Kaarage tapi tetap saja jika saat ramai mustahil mengerjakan pelayanan, menggoreng, dan lain-lain secara bersamaan tapi sepertinya dia punya satu orang untuk dimintai tolong.
"Terima kasih Nikumi kau cukup membantu, dan jika ada sesuatu lagi nanti aku hubungi kau!" ucap Souma senang.
"Ye-yehhh ta-tak masalah" balas Ikumi sedikit canggung.
Kurase melihat keakraban mereka dan tau bahwa jarak dirinya dengan Yukihira semakin jauh, apalagi waktu moment untuk berdua terbuang percuma karena masalah ini meskipun menyebalkan tapi dia sadar diri bahwa memang waktu dan tempat yang membuat suasananya tak pas.
"Oh ya Kurase, ini jika kau bersedia" Souma berbalik badan dan menyudahi mencuci piring "tapi, bisakah kau kerja sambilan di Toko milik Pak Tomita?"
"Ehhh, maksud?" Kurase masih terkejut dengan pernyataan itu.
"Jika ingin mengembangkan Kaarage agar bisa dikenal banyak orang harus dilanjutkan dengan bantuanmu" jawab Souma menjelaskan tujuannya dan mustahil Pak Tomita bisa mengatasi semuanya sendirian apalagi waktu ramai adalah saat Sore hari jadi dirasa Kurase bisa melakukan itu.
"Ta-tapi...a-aku belum pernah kerja sambilan sebelumnya!" balas Kurase agak gugup
"Begitukah? Tapi aku fikir kau orang yang bisa dipercaya" ucap Souma sedikit mengingat gadis ini waktu SMP "bahkan waktu SMP kau selalu bekerja keras hingga larut malam dan sewaktu SD kau selalu menyiram tanaman bunga jika waktu bagianmu, yahhhh... Akan sangat menyenangkan jika kau menerima itu"
Kurase tak mengira bahwa Yukihira selalu memperhatikannya sangat sedetail itu padahal difikir jarak mereka sudah semakin menjauh semenjak sekolah mereka berbeda namun sepertinya dia sudah salah persepsi selama ini.
Souma mengusap belakang lehernya "yah, jika kau keberatan maka aku takkan memaksa"
"Baiklah aku mau!" jawab Kurase sepenuh hati.
"Ohh syukurlah, terima kasih" balas Souma melepas celemek "dan aku akan sesering membuka Yukihira namun coba mampir ke Tootsuki nanti aku traktir makanan"
"Iya" balas Kurase tersenyum namun dalam hati dia sangat kegirangan sekali.
Souma menyadari ekspresi gadis pirang di sebelahnya dan bertanya "kau kenapa Nikumi?"
"Enggak!" balas gadis berkulit coklat itu membuang mukanya.
"Ah oke" Souma hanya mengangguk
'Mantap, masa muda'
.
.
.
.
.
- Asrama Bintang Polar
Setelah menjalani semua liburan musim panas mereka, semua murid-murid Tootsuki kini kembali lagi ke akademi untuk menjalani kehidupan normal untuk orang-orang yang suatu saat akan menjadi koki terkenal namun harus menjalani kerasnya latihan di Tootsuki.
Termaksud murid-murid yang tinggal di salah satu Asrama yang sudah menjadi Veteran karena menampung banyak para murid-murid dari generasi sebelumnya dan tak meninggalkan kesan bangunan yang terkesan jadul untuk sebuah Asrama yang berada di sekolah nomor satu itu.
Di dalamnya tentu saja suasana Bintang Polar cukup ramai, dengan suasana hangat yang penuh senyuman yang diisi oleh penghuninya, sebut saja si Pemilik Asrama Nenek Fumino yang tengah bersantai di kamar dengan menyantap cemilan yang dibuat oleh para bocah di sini.
Di lantai atas Ibusaki yang sedang melakukan pengasapan, Marui yang tengah membaca Buku dan cukup senang karena kamarnya tidak dipakai seenak jidat untuk berpesta, Dago dan Shouji tengah bertengkar saling memperdebatkan hal yang gak penting sekali.
Sedangkan di lantai bawah saat ini tengah ada dua Meja Pingpong yang sudah di sana sejak tadi, yang saat ini tengah mereka gunakan untuk mengisi waktu senggangg sebelum berlatih memasak atau mengkreasikan sesuatu yang baru.
Souma ikutan juga bermain Tennis Meja setelah kemarin dia kembali ke Asrama yang paling terakhir dan dia baru tau bahwa Bintang Polar memiliki Meja Pingpong namun, dia juga sedang gabut makanya ikut bermain bersama dengan Sasaki.
Sedangkan Yuuki hanya jadi penonton namun dalam kondisi mood yang buruk karena selalu menatap Payudara Sasaki yang selalu memantul ketika bergerak atau sedang loncat saat bermain Tennis Meja dan sangat berbanding terbalik dengannya yang tak ada isi dan rata, makanya dia selalu jengkel ke tubuhnya sendiri.
"Ahhh, ini benar-benar payah" Souma sedikit kurang mahir dalam olahraga ini bahkan sewaktu SMP, dia hanya bisa bermain Basket meski cuma jadi pengganti.
"Tapi, kau menang melawanku" balas Ryouko tersenyum dengan mengusap keningnya yang berkeringat banyak di bagian leher.
"Hari ini kau tak melakukan pengeringan?" Souma bertanya kepada gadis itu yang biasanya terkadang selalu di dalam kamar dan dia bisa melihat Bra Ungu gelap yang digunakan gadis itu dibalik Baju putih yang kebasahan karena keringat.
"Ahhh, saat ini istirahat saja karena lebih enak refreshing daripada harus berlarut-larut dalam latihan hingga lupa untuk menyenangkan diri" jawab Ryouko mengangkat bahunya terkekeh "setidaknya kita cuma bermain dan tidak seperti mereka"
Souma melihat ke samping Meja Pingpong di sebelahnya dengan saat ini sedang berlangsung Todokoro bersama Isshiki-senpai yang sangat serius sekali seperti pemain Profesional tingkat Olympic bahkan cukup mengejutkan untuk Todokoro yang selalu panikan dalam segala hal namun kali ini sifatnya berbeda.
"Ayo, Todokoro-chan semangat masa muda!" ucap Isshiki dengan sempak saja dan sudah menjadi pemandangan hal lumrah yang ada di dalam Asrama Bintang Polar.
"Seharusnya jangan menggunakan sesuatu yang sangat merepotkan untuk bergerak" ucap Megumi yang mengayunkan Smash kencang dengan wajah yang serius sekali.
*Plak *Pltok *Pltak *Plok
"Woah, Todokoro kau cukup hebat" Souma memuji sifat gadis itu yang berubah drastis dari yang kikuk menjadi agressive.
"Ngomong-ngomong selamat yah Todokoro-chan, kau masuk ke dalam Tes Pemilihan Musim Gugur" ucap Isshiki yang berhenti bermain dan memberi ucapan selamat.
"Apa itu?" Souma dengan wajah bingung sendiri dan sedikit mendengar kata-kata itu.
"Apa kau sudah tau bahwa 100 peserta yang lolos saat Camp Pelatihan lalu diperkecil lagi menjadi 40 orang" ucap Isshiki menjelaskan dan Souma cuma menyimak dengan seksama "dan semua anggota Elite 10 saat ini sedang berdiskusi tentang beberapa orang yang layak masuk dalam Tes seleksi Pemilihan Musim Gugur dan baru 20 orang yang terpilih"
"Lalu siapa saja yang terpilih itu?" tanya Souma karena sepertinya dia juga lulus waktu Camp pelatihan musim panas.
"Untuk di Asrama Bintang Polar baru, Ibusaki-kun, Todokoro-chan, dan Marui-kun" jawab Isshiki.
"Marui juga!?" Sasaki terlihat terkejut karena lelaki itu masuk juga padahal sewaktu camp dia orang yang paling mengeluh dan selalu menderita saat itu tapi ini diluar perkiraan.
"Ah, begitu yah" Yuuki yang sedikit tertunduk dan wajahnya sedikit tak ceria karena dia tak masuk padahal sudah berjuang sekuat tenaga untuk bisa melewati semua tantangan yang sulit ini, seolah perjuangannya seperti sia-sia saja.
"Tenanglah, mungkin tahun depan bisa dicoba lagi" ucap Sasaki yang tetap memberi semangat meski dia juga merasakan hal yang sama.
Untuk Souma sendiri dia cuma bisa menyipitkan matanya penuh kebingungan karena namanya tak disebut padahal saat Camp pelatihan dia melakukan semua tugas dengan baik bahkan menyaingi stand Nakiri disaat hari terakhir meskipun begitu, dia gak habis fikir saja.
Isshiki terkekeh melihat beberapa raut wajah kohainya yang kesal atau sedih karena tak masuk namun dia menjawab "tapi, kalian tak usah runyam gitu karena ini baru terpilih 20 orang dan 20 orang lagi masih akan didiskusikan besok jadi tetap bersemangat karena siapa tau kalian menjadi 20 orang yang tersisa itu"
"Sungguh!?" Yuuki terlihat sangat berharap penuh senang.
"Yah, karena nanti kita akan diskusikan lagi dan hasilnya kalian tunggu 3 hari lagi" jawab Isshiki mengangguk.
"Aku berharap kalian juga masuk" ucap Todokoro yang sifatnya kembali seperti semula "ughhhh, pasti ba-banyak o-orang uwahhhhh!" dia mulai bertingkah panik dan mengguman tak jelas.
"Yah semoga saja" ucap Sasaki dengan air mata penuh harapan.
Isshiki lalu menatap lelaki berambut merah itu "Nee Souma-kun, apa kau masih ingin tetap melanjutkan ke atas?"
Souma tau dia takkan bisa melampaui ayahnya dengan skill yang pas-pasan dan juga memegang kendali Kedai milik ibunya itu makanya mungkin dia dititipkan ke sini lagipula di Tootsuki ini, dia cukup belajar banyak hal yang baru bahkan orang-orang yang hebat jadi sebelum ayahnya dia harus mengalahkan batu sandungan secara bertahap.
"Tentu saja itu jelas bukan" balas Souma dengan serius lagipula dia sudah mendeklarasikan ke semua orang saat acara pembukaan penerimaan murid baru.
"Semangat yang bagus" ucap Isshiki yang kembali bermain Tennis Meja bersama Todokoro "ayo, kita lanjutkan permainan ini karena belum mencapai skor akhir"
"Yah"
.
.
Xxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxx
.
.
- Ruang Pertemuan
Sebuah ruangan yang berukuran sedang dengan nuansa gelap kemerahan yang mewarnai ruangan itu, terdapat sebuah meja besar berbentuk lingkaran, dengan sepuluh kursi yang mengelilingi meja itu seperti Konfersi Meja bundar dan disetiap kursi itu sudah diisi orang-orang yang duduk di sana minus, dua kursi yang masih kosong.
"Uwaahhh, benar-benar membosankan menunggu seperti ini..." Seorang gadis berambut merah dengan mata kuning reptilnya tengah menghela nafas bosan dan menaruh kepalanya di atas meja, dan sebut saja gadis ini Rindou Kobayashi, Kelas Tiga, Kursi Kedua di Elite 10 "Megishima, tolong buatkan aku Ramen atau apa gitu"
Seorang pria berbadan besar dan memakai topi kupluk belang bernama Sousuke Megishima, Kelas Tiga, dan Kursi Ketiga di Elite 10, cuma bisa sweatdrop melihat tingkah gadis itu "Kobayashi, saat ini aku sedang tidak berada di dapur sekarang" dia bingung tentang kapasitas perut gadis ini yang tak ada habisnya dan anehnya berat badannya gak bertambah.
"Tapi, aku benar-benar lapar!" Rindou merengek seperti anak kecil sambil cemberut.
Megishima menghela nafas "bukankah, tadi kau sudah makan 2 jam yang lalu?"
"Itu cuma hidangan utama, aku ingin hidangan penutup" balas Rindou dengan nada suara memaksa.
"Lagipula mana ada makanan penutup dengan Ramen? Dan juga itu bukan keahlianku, lebih baik minta ke Akanegakubo sana" ucap Megishima menggeleng kepalanya dan menolak permintaan gadis.
"Nee, Momo?"
"Ugh!"
Sementara itu gadis mungil kecil, rambut pendek ungu, dengan ada dua tonjolan seperti telinga Kucing, mata emerald, yang selalu memeluk Boneka Teddy Bear warna ungu, gadis kecil ini bernama Momo Akanegakubo, kelas Tiga, Kursi Keempat, meskipun tubuhnya malah lebih mirip untuk anak SD.
Saat ini ekspresi wajahnya khawatir cemas, karena tau akan jadi objek yang akan direpotkan oleh Kobayashi ini mengingat si Kursi Kedua selalu melakukan seenak jidat bahkan jika masalah tugas atau rencana selalu dilimpahkan kepadanya dan juga termaksud yang lainnya dan itu cukup menganggu sekali.
"Saat ini, aku benar-benar tak mood tolong suruh yang lain" ucap Momo memainkan Bonekanya tanpa menatap mata kuning reptil yang mendeliknya dengan sangat buas.
"Mouhhh, kalian benar-benar gak asyik" Rindou cemberut dan beranjak dari kursinya dan bersiap untuk kabur dari hal yang membosankan apalagi jika tak ada cemilan atau pengganjal perut gitu.
"Kau mau ke mana Senpai?" tanya seorang gadis bertubuh kurus, rambut berwarna hijau, dikepang kecil, mata berawarna ungu, dan menggunakan kacamata bulat.
"Keluar, jalan-jalan, siapa tau aku bisa mencicipi makanan beberapa orang yang tengah Shokugeki di luar sana" jawab Rindou dengan berjalan sempoyongan.
Gadis itu langsung mencegahnya "tidak bisa, karena ini adalah acara tahunan yang mendapat perintah dari Kepala Sekolah, untuk menyeleksi murid-murid yang pantas" dia bernama Kinokuni Nene, Kelas Dua, dan berada di kursi Keenam.
Rindou langsung duduk menurut tanpa banyak protes "terserahlah apa kata kau"
"Maaf, kita Telat!"
Erina dan Isshiki akhirnya datang juga dengan seperti biasa namun sepertinya si Cucu Kepala sekolah itu sedikit berkeringat dengan rambut berantakan.
"Baiklah, kita bisa mulai sekarang" ucap seorang dengan mata berwarna putih seperti Es.
Erina langsung bicara dengan secarik kertas "tidak bisa diterima!, saya fikir Yukihira Souma tak usah dimasukkan dalam Pemilihan Musim Gugur ini karena tingkah dan sikapnya tak begitu bagus!" dia tak ingin orang itu masuk meski alasannya gak masuk logika.
Isshiki tersenyum dan bicara "Nakiri-chan, penilaianmu dalam hal masakan memang tak diragukan lagi cuma sikapmu ini sedikit tak logis jika berurusan dengan Souma chan" dia tak bisa membiarkan Kouhainya tak masuk apalagi Souma itu cukup unik "ngomong-ngomong apakah terjadi sesuatu diantara kalian berdua?"
Wajah Erina langsung memerah panik dan tak karuan namun dia tetap menjawab "ma-mana mu-mungkin!, jangan bercanda Isshiki-senpai! mentang-mentang dia satu asrama kau malah membelanya" meskipun begitu nada bicara dia sedikit gelagapan.
"Ahhh, aku jujur soal menilai kok" balas Isshiki tersenyum meski dia kesal juga.
"Yukihira Souma yah?" ucap seorang laki-laki, berambut Hijau keputihan, dengan rambut disisir ke belakang, dan pakai kacamata, memberi komentar "secara penialaian dia cukup unik dengan cara memasaknya yang sangat berbeda... dan bukankah itu akan jadi hal menarik saat seleksi nanti bukan?"
Rindou terkekeh kecil melihat reaksi Nakiri yang sangat jarang sekali terlihat bahkan berbeda dari biasanya, yang selalu dingin, terlalu ketat, dan gak menyenangkan namun ketika dihubungkan dengan Yukihira malah sifatnya berubah derajat, dan memang sepertinya telah terjadi sesuatu.
"Aku juga setuju jika dia dimasukkan" Rindou kali ini mendukung apalagi memang Yukihira itu cukup menarik, dan selalu memberi hiburan yang sangat lucu baginya dan akan sangat membosankan Seleksi ini jika dia tak ikut "lagipula semua tes yang dikerjakkan mendapat nilai tinggi sekali jadi, tak ada alasan jika tak memasukannya" dia memberi alasan logis karena jika tidak banyak yang akan bertanya-tanya.
"..." Erina tak bisa membantah bahkan suara dia sudah kalah jadi harus menerimanya saja.
"Kalau begitu, mari kita lanjut"
.
.
.
.
.
- Halaman Sekolah
Semua murid-murid kelas satu berkumpul semua di depan sebuah Papan besar yang terhalang kain besar yang berada di depan Gedung sekolah setelah ada pengumuman tentang hasil atau daftar orang-orang yang akan mengikuti Seleksi Musim Gugur dan banyak juga yang berharap meskipun yang dipilih hanya 40 orang.
"Baiklah semua murid-murid Tootsuki, ini adalah daftar yang telah ditentukan untuk ikut seleksi ini!" ucap Urara sebagai pembawa acara yang berada di Balon Udara dengan gaya nyentrik dia "dan berdoa saja, semoga nama kalian ada di sini!"
"Uwahhhh Urara-chan! kau sungguh cantik hari ini!" ucap semua murid laki-laki yang menganggumi dengan pesona gadis pembawa acara ini dan tentu saja itu tidak disukai murid-murid perempuan karena, gadis itu menarik semua perhatian para laki-laki.
"Sungguh menyebalkan!"
"Dan ini Dia!" teriak Urara dan Kain besar itu terbuka dan menunjukkan semua nama-nama yang ikut serta.
Dan tentu saja berbagai reaksi ditunjukkan semua murid, ada yang senang karena terpilih dan lanjut ke tahap berikut, dan ada yang kecewa karena tak masuk jadi mungkin bisa mengulang tahun berikutnya, lalu untuk orang-orang yang berasal dari Asrama Bintang Polar.
"Ahhh, gak ada namaku"
"Mantap! Namaku ada!"
"Nunggu lagi deh!"
"Bukan keberuntunganku hari ini!"
"Ahhhhh yahhh kita masuk!" ucap Yuuki yang saling berpelukan dengan Sasaki karena nama mereka terdaftar.
"Iya!" Sasaki tersenyum senang penuh haru karena masuk juga.
'Kenapa dipisah ya?' Souma melihat namanya juga ada namun yang membingungkan adalah dia masuk dalam plot A bahkan Isshiki-senpai tak memberi tau soal ini dan hanya bilang bahwa 40 orang bakal terpilih dalam Seleksi Musim Gugur 'mungkin sistemnya bakal sama saat waktu di Camp?' dia masih ambigu tentang ujian ini.
"U-u-uwahhh! namaku ada!" Todokoro yang seperti biasa terlalu panikan dan gugup sendiri karena namanya masuk juga.
"Hey! Yukihira! mungkin kali ini kita tak satu Plot tapi setelah itu aku tunggu kau nanti!" ucap Takumi yang begitu semangat karena masih belum terima kekalahan dan ingin tanding ulang semenjak di Camp itu.
"Ohhh Nikumi kau masuk juga?" tanya Souma yang seperti biasa mengabaikan lelaki yang memiliki setengah keturunan Italia ini dan lebih memilih bertanya ke gadis Daging yang di samping kanannya "ahhh dan kau juga yah Aldini?"
"I-iyah" balas Ikumi sedikit gugup dengan mata tak menatap.
"Fbrrtttt! Nii-chan dikacangin!" Isami tak bisa menahan tawanya terhadap kebodohan kakaknya itu.
"Isami! berhenti tertawa!" ucap Takumi sangat kesal karena ditroll terus ama adiknya dan selalu dicuekin Yukihira.
Sedangkan tak jauh dari mereka Nakiri Alice serta asistennya Kurokiba Ryou yang melihat hasil juga, dan sudah tak heran jika mereka berdua masuk dan akan sangat mengagetkan jika tak masuk.
"Ah, namaku ada" ucap Kurokiba yang kurang gairah.
"Memang sepantasnya ada jika tidak itu akan sangat memalukan" ucap Alice penuh bangga.
"Ah kalau begitu aku akan serius menghadapi Nona" ucap Kurokiba yang menatap tuannya.
Alice memukulnya dengan Kipas Kertas "Mou!, kau harus lebih hormat dan sopan pada tuanmu!" dan itu berkali-kali meskipun lelaki berambut hitam itu mengabaikan saja.
"Baik"
"Hmmm?"
Matanya akhirnya menangkap sesuatu yang dia cari dan secara mengendap-ngendap, dia berjalan ke arah Souma yang tak menyadari keberadaan gadis itu dan tetap dalam fikirannya sendiri sedangkan Kurokiba yang tau hanya membiarkan itu terjadi lalu, kemudian.
"Boo! Tebak siapa?"
Souma menyadari kedua matanya ditutupi sepasang tangan lembut dan menyadari bahwa itu adalah suara wanita namun dia cukup mengenalinya karena pernah berbicara secara empat mata.
"Ahhh Sepupu Nakiri" jawab Souma dan ketika berbalik dia mendapati gadis itu tengah tersenyum menatapnya.
"Bagaimana kau bisa tau?" tanya Alice yang tersenyum meski tadi sedikit muram karena sebutan tadi terasa seperti formal bukan orang yang sudah lama mengenal.
"Suara kau dan lagipula dari semua perempuan yang kukenal cuma kau yang berani seperti ini" jawab Souma mengusap rambutnya namun dia sedikit mengendus "hssttt! ngomong-ngomong kau pakai parfum hari ini?" dan itu cukup harum namun entah kenapa kerasa tak asing lagi
Alice tersenyum senang "yepz, kau lumayan peka juga terhadap sesuatu" dia memang sengaja memakai ini karena mungkin siapa tau dia mengingatnya.
"Nah, mungkin terlalu banyak juga kau menyemprotkannya ke tubuhmu" ucap Souma bercanda.
Alice cemberut lucu "mouh, aku ini wanita dan harus tampil modis juga!"
Sedangkan itu teman-teman satu Asrama Souma melihat lelaki berambut merah itu yang cukup akrab sekali dengan orang-orang penting bahkan salah satu cucu dari kepala Sekolah ini.
"Cukup mengejutkan Yukihira bisa kenal dengan orang terkenal" ucap Marui yang tak mengerti.
"Yah karena sifatnya mungkin yang mudah bergaul" ucap Sasaki mengangkat bahunya.
Alice hanya mendengar Souma berbicara tentang waktu Camp pelatihan sambil menatap lelaki itu penuh hasrat sesuatu yang terpendam dan dia ingin sekali langsung merangkul atau memeluk namun jika keadaan sekarang maka akan sedikit membuat isu yang heboh.
Namun dia sadar sesuatu yang Souma kenakan di lengan kanannya "ngomong-ngomong Gelang yang bagus, dapat dari mana?" dia sekedar basa-basi dan siapa tau Souma mengingatnnya.
Souma sambil menunjuk "ohhh ini, aku tak tau kapan membeli namun sepertinya bagus jadi aku pakai saja" ketika memakai ini ingatannya samar-samar namun suara yang tak begitu jelas jadi tak tau kapan dia membeli Gelang ini.
"Ahhh begitu" ucap Alice menghela nafas menahan rasanya untuk tak murung karena Souma tak ingat sama sekali.
"Kau kenapa?" Souma menyadari ekspresi gadis berkulit Albino itu sedikit berbeda.
"Ahhh bukan apa-apa" Alice menggeleng namun senyum kecil di wajahnya karena kepekaan itu yang masih sama.
Alice menyadari ada sesuatu yang aneh di jidat Souma sebelah kanan lalu tangannya bergerak dan menyingkirkan rambut yang menghalangi itu, betapa terkejutnya dia bahwa di sana terdapat bekas Jaitan seolah telah terjadi sesuatu.
"Ini kenapa?!" tanya Alice sangat khawatir.
Souma menjawab dengan santai "ohhh ini? waktu umur 11 tahun aku terserempet Mobil Box dan membuat Jidatku bocor dan harus dijahit" itu kejadian cukup mengerikan namun sudah dilupakan.
"Begitu.." Alice mengangguk faham dan sekarang semuanya sudah jelas alasan kenapa Souma seperti itu 'itu menjelaskan kenapa dia hanya samar-samar mengingatnya'
"Ngomong-ngomong kita sepertinya beda plot" ucap Souma yang membuka pembicaraan lain.
"Padahal aku ingin menunjukkan cara memasakku yang berbeda" ucap Alice yang menyangkan ini dan dia sudah cukup lama belajar untuk menunjukkan dia hebat.
"Wah boleh dicoba tuh, nanti kau icipi punyaku juga!" ucap Souma yang sangat bersemangat.
"Tentu" balas Alice tersenyum dan mengambil Handphone dari sakunya "aku minta nomor Line milikmu dong, biar nambah kontak saja"
"Baiklah" balas Souma memberi nomor Line.
"Tapi, setelah ini kau mau ke Asrama Bintang Polar setelah pulang sekolah?"
"Tentu saja!"
.
.
Xxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxx
.
.
- Asrama Bintang Polar
Setelah pulang berlatih mengasah diri untuk Seleksi Musim Gugur, Souma kembali pulang ke Asrama bersama dengan Alice yang tadi ditawarinya sedangkan Kurokiba menunggu di Mansion apalagi niat gadis itu ingin menginap semalam dan tentunya karena Souma memang ingin membuat sesuatu.
Dan ketika membuka pintu dia sudah disambut oleh Isshiki dengan senyum khasnya dan tentu saja dengan celemek bugil, dan entah kenapa orang itu tak pernah kedinginan di malam hari.
"Selamat datang Souma-kun!" ucap Isshiki menyapa namun dia menyadari kouhainya itu tak sendirian "dan ahhhh, Nakiri-chan juga datang ke sini!"
"Yukihira-kun, yang mengajakku ke sini" ucap Alice dan juga dia ingin tau di mana Souma menetap, dan dia cukup asing dengan tempat ini ditambah sepertinya dia tak begitu peduli dengan Isshiki yang celemek Bugil.
"Sebenarnya ada apa di sini?" Souma bertanya melihat beberapa dekorasi seperti sedang ingin berpesta.
"Ohh saat ini Fumino-san sedang merayakan pesta untuk orang-orang di Asrama yang berhasil ke tahap selanjutnya" ucap Isshiki berjalan ke ruang makan "ohhh ya, Nakiri-chan juga ikutan yah"
"Tentu"
"Oh ya, Eizan Tetsuya dari Elite 10 itu seperti apa?" Souma bertanya karena kemarin dia dipanggil oleh orang itu karena hubungannya dengan Mozuya kemarin dan menyuruhnya bergabung, namun dia langsung menolaknya.
Isshiki berhenti lalu menjawab "dia seperti seorang Yankee"
"Ahhh Yankee" ucap Souma yang bisa menebak seperti apa sifatnya dan cukup tepat sekali untuk sebutan itu.
Isshiki menambahkan "meski begitu dia memiliki pengetahuan dan kepintaran yang cukup jeli makanya dia masuk dalam Elite 10"
Souma berjalan namun kedua matanya mendapati bahwa terdapat sosok yang tak asing sedang memasak dengan santai, yang rupanya itu adalah Ayahnya Yukihira Jouichirou yang sudah pulang dari tugasnya, namun aneh kenapa dia ada di sini.
Jouichirou menyadari anaknya datang "ah Souma, cepat ambil pisau dan bantu aku"
"Baiklah" balas Souma yang masih belum menyadari keanehan yang terjadi namun tak lama dia akhirnya sadar "Woyyyyy Pak tua! aku tau ini sering kita lakukan di Kedai, cuma bagaimana bisa kau ada di sini!?"
"Tunggu kalian saling kenal?" tanya Fumino yang sedikit kaget.
"A-anu siapa dia?" tanya Todokoro sedikit gugup terhadap orang asing.
"Dia adalah Saiba Jouichirou, lulusan dari Tootsuki dan juga mantan anggota Elite 10 di kursi Kedua" jawab Fumino.
"Ehhh Kursi Kedua?!"
"Buset!" Souma terkejut dengan predikat itu.
"Nasinya sebentar lagi matang, Souma tolong siapkan Piring" ucap Jouichirou yang tak mempedulikan keanehan ini.
Souma ngegas, sambil melempar Centong yang dapat ditangkap dengan mudah oleh Ayahnya "berisik! coba jelaskan kenapa kau ada di sini Ayah!?"
"Ehhhh, mereka Ayah dan Anak!?" semuanya terkejut minus Alice yang cuma bisa tertawa kecil karena sudah tau.
Akhirnya semua kembali tenang dan semua orang yang ada di Asrama diundang untuk makan bersama dalam perayaan kecil-kecilan ini, dan untuk Souma dia masih terkejut karena ayahnya menyuruhnya sekolah di sini selain untuk menambah pengalaman, ternyata ayahnya juga pernah sekolah di sini.
'Menyebalkan sekali' Souma sedikit murung karena prestasi ayahnya cukup tinggi.
"Ini mengejutkan Yukihira punya rasa Depresi" ucap Yuuki.
Isshiki menyapa mantan alumnus itu "selamat datang Saiba Jouichirou"
Jouichirou membalas karena nama lamanya disebut sebelum menikah "ohhh, kau tau banyak tentangku?"
"Aku pernah melihat nama anda di Dokumen para alumni Elite 10 yang sudah lulus" jawab Isshiki sambil memberi salaman tangan "aku Isshiki Satoshi Kursi Ketujuh di Elite 10"
"Iya" balas Jouichirou yang tak begitu mempedulikan Celemek Bugil Isshiki.
'Bahkan dia tak mempermasalahkan celemek Bugil itu sendiri' Yuuki cukup keheranan.
"Yukihira-kun, apa kau tak tau tentang ini?" tanya Sasaki yang melihat wajah kebingungan.
Souma mengusap rambutnya "bagaimana yah, memang ayah sering keluar Negeri untuk urusan bisnis dan aku sering dapat panggilan dari orang-orang yang memakai bahasa asing, tapi dia tak pernah bilang sama sekali"
'Bukankah itu sudah jelas?' Yuuki sweatdrop.
"Yah tak usah banyak bicara, lebih baik kita santap masakan sekarang" ucap Jouichirou yang menawari mereka semua apalagi saat ini memang tengah mengadakan pesta perayaan kecil "jadi... tolong dicicipi"
Dan seperti yang diharapkan dari mantan Kursi kedua dengan tangan hebatnya dan dijuluki Asura itu cukup membuat masakan enak yang berasal dari bahan sederhana saja, sifatnya itu sangat menurun ke Souma yang selalu membuat masakan dari bahan yang tak biasa.
"Wahhh, ini enak sekali!"
"Sial aku sampai menangis!"
"Aku ingin makan lagi!"
"Tunggu, ini masakan apa? Tapi baunya seperti Daging Domba?" tanya Todokoro yang baru melihat jenis masakan berbeda itu.
"Oh itu Harissa, segala bumbu masakan yang terbuat dari bahan Cabe dan bahan lain dari Afrika Selatan" jawab Jouichirou menjelaskan "dan sedikit tambahan Parsley serta Garam Magala"
"Kalau ini Jouichirou-san?" ucap Souji yang bertanya juga.
"Itu Seafood Liguria" jawab Jouichirou.
"Semuanya sangat enak sekali" Ibusaki memberi komentar.
"Kalau yang ini bagaimana yah" ucap Marui melihat masakan yang asing namun terlihat reaksi Jouichirou sedikit berbeda dan tak lama "guahhhh! ini menjijikan sekali!"
"Oh kalau itu sepertinya aku lupa memisahkan makanan eksperimen dengan untuk yang dihidangkan" jawab Jouichirou yang begitu santai seolah tak bersalah dengan perbuatannya itu dan kasihan Marui yang harus kehilangan Rohnya karena makanan itu sangat merusak sekali "dan itu aku mencoba merebus Daging Ular namun bagian sisiknya belum dipisahkan dan seadanya saja mantap kan?"
Souma malah tertarik mencobanya dengan seringai maniak di wajahnya "hehhhh, ini benar-benar sangat menjijikan sekali"
"Benar kan, ini pasti masuk record Dunia dengan masakan yang sangat menjijikan" Jouichirou menyetujui itu dan tentunya dengan aura negatif di sekitarnya dan itu khusus ayah beserta anaknya.
'Mereka benar-benar ayah dan anak' Semuanya sweatdrop.
"Kau dan juga Dojima Gin, adalah salah satu pilar utama yang membuat Asrama menjadi hebat dan nomor satu" ucap Fumino yang kembali menceritakan hal membosankan namun sepertinya itu hal yang sudah dimaklumi "dengan selalu melakukan Shokugeki dan membuat lahan semakin luas, maka sebab itu Bintang Polar terbebas dari biaya sekolah"
'Itu menjelaskan kenapa mereka tak tau' Souma masih ingat sewaktu tersesat untuk mencari asramanya sendiri.
"Tapi, Gin setiap tahun selalu memberi ucapan kartu serta Hadiah" ucap Fumino yang terlihat kesal dan ditunjukkan kepada ayah Souma "dan kau Jouichirou!, tak pernah mengirim apapun! bahkan kau mirip seperti Kucing Liar yang selalu datang dan pergi sesukamu!"
"Tapi, aku kadang-kadang sering ke sini" Jouichirou mengelak agar tak selalu dicemoohi oleh pemilik Asrama ini.
"Cukup hebat untuk seorang lulusan legendaris" Isshiki memuji.
"Tapi, aku gak lulus" ucap Jouichirou dan sedikit mengherankan Souma yang mendengarnya.
Dan setelah itu semuanya kembali ke kamar masing-masing setelah membuat pesta minus Jouichirou serta Souma yang beres-beres, serta Alice yang ikut membantu dan dia berniat menginap semalam karena beberapa alasan yang tak bisa dijelaskan.
"Ayah pakai kamar mana? kamar punyaku saja" Souma menawarkan.
Jouichirou melihat kunci kamar itu dan berasa sedikit nostalgia "ahhh kamarmu 303 yah, dan ngomong-ngomong di lantai tengah ada bekas kejatuhan Panci yang gosong" dan siapa mengira regenerasi yang sama itu ada "dan di sana juga aku pernah menempati kamar itu"
"Begitu"
.
.
.
.
.
- Esok Hari
Iris mata merah yang terbuka dengan sebuah sinar Matahari yang memasuki ruangan melalui celah Jendela, menandakan bahwa orang itu harus bangun dari tidurnya dan melakukan segala aktifitas.
Alice sudah terbangun dari kasur dengan kondisi memulihkan nyawa sambil mengusap wajahnya, dia sekarang memilih untuk tidur di Asrama ini meskipun tak sebagus di Mansion tempat tinggalnya, tapi itu tak masalah karena dia cukup menikmatinya.
Dia sekarang hanya mengenakan Piyama tipis panjang sepaha, cuma pakai celana dalam warna ungu, yang tak menyembunyikan bentak proporsal dari tubuhnya yang luar biasa itu, kedua kaki yang jenjang dengan kulit putih yang mulus, kedua Paha yang begitu menggoda, serta lingkaran bulatan payudara yang besar.
Untuk gadis yang memiliki proporsi tubuh sexy di umur segitu cukup bagus apalagi dia adalah anak dari orang yang terkenal, jadi sudah sewajarnya untuk selalu merawat kondisi tubuhnya sendiri yang selalu terlihat menawan.
Alice juga memiliki tubuh yang tak kalah bagus dari Sepupunya Erina yang cenderung tertutup tapi tetap saja tubuh sexy dia tak bisa menyembunyikan itu dibalik bajunya, namun yang sedikit membedakan dia dengan Erina adalah ukuran kedua Payudaranya yang lebih besar beberapa centi dan dia kalah soal itu.
Tapi, itu tak masalah karena tau saat ini Alice masih masa perkembangan jadi dia akan bertambah besar lagi dan suatu saat dia bisa menggunakan tubuhnya itu untuk menggoda Souma dan mengalahkan Erina setelah 8 tahun berlalu deklarasi perang itu.
Alice membersihkan wajahnya dan hanya mencuci muka saja, lalu turun ke bawah berniat untuk sarapan, dia mengenakan Tanktop kuning, dan celana pendek, meski begitu dia merasa biasa saja mengenakan pakaian seperti itu meski cukup terbuka.
Tapi sebelum turun dia melihat pintu kamar Souma yang terbuka sedikit, lalu dia mengintip dengan mendapati lelaki itu masih tertidur sangat pulas sekali dan secara perlahan dia masuk ke dalam secara pelan karena takut membangunkan orang yang pernah membuat hatinya selalu ceria.
Ketika mendekat Alice tak bisa menahan diri untuk tertawa betapa lucunya Souma tidur dengan ingus yang sudah jadi gelembung besar, jari jemarinya menjelejah di setiap suduh wajah lelaki itu dengan ekspresi senyum manis di wajahnya.
"Sudah cukup lama ya?"
Alice melihat Gelang yang dipakai Souma dan sebuah Gelang yang sama sehingga mereka sepertinya dipertemukan lagi karena takdir, namun dia tau ini sedikit berbeda karena biasanya reuni akan selalu saling berpelukan atau bercanda ria namun kali ini ada sebuah perbedaan.
Dia cukup memahaminya karena itu Alice tak ingin memaksa dan membiarkan Souma mengingat itu sendiri apalagi saat ini Erina belum mengetahui siapa orang yang membuat mereka berdua berselisih dan selalu bersaing demi mendapatkan seseorang, yang setidaknya dia selangkah lebih dulu dibanding Erina.
Alice tak berniat membangunkan Souma namun sebelum pergi dia memberi sebuah kecupan kecil di kening lelaki itu dirasa tak bangun, dia menutup pintu lalu ke ruang makan.
Yang di sana sudah terdapat Jouichirou tengah membuat sarapan untuk semua penghuni Asrama ini ditambah dia memang menginap jadi itu tak mengherankan.
Ayah Souma itu menyadari bahwa wajah tak asing sudah duduk di meja lalu bicara "tunggu sebentar nona putih kecil, pesanan sebentar lagi siap" sambil bercanda kedua tangannya tetap memasak sesuatu dengan porsi banyak.
Alice terkekeh dengan nama sebutan itu sewaktu kecil "tolong cepat yah, kita tak boleh membuat tamu menunggu" dengan nada suara seperti Tuan Puteri yang angkuh.
Alice mengenal Ayah Souma saat 8 tahun yang lalu, disaat itu juga dia bertemu juga dengan Souma dan telah merebut hatinya.
Saat itu Jouichirou diundang oleh kedua orang tuanya untuk menjadi Chef pribadi untuk pesta ulang tahun pernikahan kedua orang tuanya, dan saat itu Alice kecil tengah bosan namun dalam suatu keadaan sebuah bau enak yang menuntunnya ke dapur dan akhirnya bertemu dengan Jouichirou hingga akhirnya bermain bersama Souma.
"Bagaimana?" tanya Jouichirou memulai topik pembicaraan.
Alice menjawab dengan maksud pria itu "baik, cuman... bagaimana yah..?" dia sedikit menggantung cara bicaranya.
"Reuni yang gagal huh?" Jouichirou menoleh ke belakang namun kedua tangannya tetap memotong Bawang serta Seledri.
"Dia tak ingat" jawab Alice sedikit muram "dan Souma pernah bil-"
Jouichirou langsung menyela "memang benar, sewaktu umur 11 tahun Souma mengalami kecelakaan sehingga mendapat luka di kepala dan tak sadarkan diri selama 10 hari"
"Tapi, kenapa?" tanya Alice.
"Aku dan istriku sedikit lengah" jawab Jouichirou tapi tak dijelaskan secara detail lagipula Alice tak bertanya lagi "sekarang itu tugasmu dan Erina untuk membuatnya ingat kembali" dan itu adalah sebuah kesalahan buruk yang takkan pernah terulang lagi dan hampir kehilangan anak satu-satunya.
"Mengerti" Alice mengangguk tapi cukup disayangkan juga karena Erina tak mengingat Souma juga.
"Dan ngomong-ngomong bagaimana dengan Leonora dan Seo?" tanya Jouichirou mengalihkan topik lain.
"Ibu masih tetap mengembangkan tehknik memasak Gastronomi bagi anak-anak di Denmark kalau Ayah masih seperti biasanya" jawab Alice yang lupa memberi kabar kepada Ibunya tentang Souma.
"Bagus lah"
Lalu semua orang-orang di Asrama bangun termaksud Souma yang sedikit telat dan akhirnya sarapan, berhubung sekolah hari ini libur karena untuk Seleksi Musim Gugur jadi semua orang yang masuk setelah sarapan, memilih mengasah kemampuan mereka.
.
.
Xxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxx
.
.
- Mansion Nakiri
Sebuah Kamar dengan dekorasi yang cukup elegan, terdapat lampu gantung yang berwarna, kasur besar dengan tenda tipis menutupinya, sebuah meja berisi beberapa buku, dan jendela besar yang terhubung dengan balkon rumah.
Di sini Erina Nakiri, Cucu dari Kepala Sekolah Tootsuki, sekaligus orang termuda yang berhasil masuk Elite 10, serta dijuluki sebagai 'Lidah Dewa' bahkan apabila sebuah Restaurant dikritik olehnya maka tempat itu akan langsung tutup, di mana tempat ini adalah sebagai hiburannya dari segala penat dan stress oleh jadwal yang tak pernah habisnya.
Dia sekarang tengah berbaring di di Kasur sambil membaca sebuah Manga Romcom yang dia beli kemarin, biasanya jika sendirian nganggur Erina akan selalu membaca manga atau apapun itu untuk membuat rasa jenuh itu hilang apalagi selalu saja banyak jadwal yang menumpuk untuknya setiap hari.
Erina mengenakan Lingerie berwarna ungu pendek, dan celana dalam pink, bahkan dengan pakaian seperti itu benar-benar menonjolkan tubuhnya yang luar biasa itu, kedua Payudara yang besar, kaki putih yang mulus, proporsi tubuh yang sangat bagus, seolah menggambarkan figure yang begitu sempurna sekali.
"Jika, setiap cerita Teman masa kecil selalu kalah? lalu bagaimana dengan jika keduanya juga teman masa kecil?"
Erina saat ini sedang membandingkan cerita yang ada di manga dengan kehidupan aslinya selama ini, dia tentu tak lupa tentang pernyataan perang itu kepada sepupunya untuk seseorang yang bahkan dia tak tau namanya sama sekali termaksud Alice juga yang tak tau namanya.
Orang itu, yang membuat suasana negatif dan selalu penuh tekanan dari ayahnya itu kini menjadi lebih terang dan berharga sekali meskipun pertemuan mereka cukup singkat tapi, baginya itu sangat bermakna sekali dalam kehidupannya.
Setelah Alice pindah kota dan sebelum ada Hisako, hidup dia selalu penuh kesendirian bahkan dia tak pernah tertawa apalagi didikan diktator dari ayahnya dan Ibunya yang hilang entah kemana, membuat kehidupan dia jalani sebagai anak kecil biasanya penuh kesuraman meskipun ada kakeknya itu tak cukup.
Selain idolanya Saiba yang membuatnya tetap semangat dalam memasak bahkan bahwa berkat orang itu yang mendorongnya tetap semangat disaat rasa depresi itu.
Yang membuatnya hatinya yang selalu dingin membeku seperti Es dan perlahan mencair ialah dari lelaki itu, dan juga bahwa orang itu bahkan tak menilainya dari status bahkan terlihat masa bodo ketika dirinya menggunakan title 'Lidah Dewa', bahkan dia merasa konyol di depan orang itu mungkin cukup menjengkelkan tapi itu malah membuatnya tertawa dan akrab dengan orang itu.
Erina tak ingat sekali dengan wajah orang itu bahkan cuma samar-samar warna merah saja, dan juga Kalung pemberian darinya itu sebagai kenang-kenangan bahwa mereka akan bertemu lagi dan dia masih ingat kata-kata yang tetap terngiang di kepalanya.
'Ketika kau terjatuh, maka hitunglah bintang dan itu akan menenangkanmu'
Erina ke luar balkon namun cukup kecewa bahwa suasana di malam hari banyak tertutup awan dan tak terlihat cahaya Bulan, lalu dia kembali ke kamar lalu langsung tidur karena besok akan sibuk.
'I Hope meet with you soon'
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Dan cuttt akhirnya selesai juga dengan hasil yang memuaskan meski saya cukup lama karena memang menyebalkan sekali untuk update jadi see ya.
Pm
RnR
