Title: SIDE STORY (Your Sick Game of Hide and Seek)

Main Cast:

- Choi Siwon

- Cho Kyuhyun

Other Cast: random boy group(s) and girl group(s), OC

Warning: Might be OOC, AU, BL, Typo(s), and etc

Disclaimer: They belongs to God and themselves


PART V

[ Honey Moon…? ]


Bulan madu adalah momen yang paling di nanti oleh semua pasangan pengantin baru. Namun, berbeda untuk Kyuhyun, ia justru sangat amat menghindarinya. Sudah terhitung dua minggu sejak ia menikah dan menjadi istri sah seorang Choi Siwon, tetapi tidak sekalipun mereka pernah melakukan hal intim selain berpelukan saat tidur. Terkadang ia tersentak kaget saat di pagi hari buta merasakan milik suaminya itu ereksi dan menekan paha dalamnya. Pria itu akan meminta maaf dan membujuknya untuk kembali berbaring diatas ranjang, sedangkan ia akan keras kepala, bertahan untuk duduk meringkuk diatas sofa yang ada didalam kamar mereka. Para anggota divisinya pun sedikit bingung, beberapanya juga ada yang memberanikan diri untuk bertanya, mengapa dirinya tidak mengambil cuti untuk bulan madu? Justru ia malah menerima tiga kasus pembunuhan untuk ditangani.

Tentu saja luka pada perut bawahnya adalah alasan terbaik yang bisa ia berikan. Itu bukan kebohongan, bagaimana mau menghabiskan waktu bulan madu jika ia harus kontrol rawat luka setiap seminggu sekali? Karena dirinya yang cukup aktif beraktifitas di lapangan, dokter Kwon pun mengatakan luka pada perutnya akan sembuh, paling cepat, dalam kurun waktu tiga bulan. Kembali membahas pekerjaannya, untuk sementara waktu, Kyuhyun cukup puas dengan tim yang ia bentuk. Namun, seniornya dari DDIT mengatakan, bahwa pria itu tidak bisa bergabung lagi karena cukup sibuk setelah dilantik menjadi ketua divisi. Sehingga, untuk pertama kalinya, ia menangani tiga kasus tanpa rekan DDIT di timnya. Terimakasih ia tujukan pada sang suami, yang beberapa kali membantunya dalam masalah IT. Bahkan, pria itu lebih berguna daripada beberapa anggota DDIT yang dikirimkan untuk bekerja bersama timnya. Ryeowook dan Yoongi pun hanya bisa menghela nafas pasrah, mereka harus rela berpindah ke beberapa lokasi dalam satu hari.

Kasus pertama selesai dengan memuaskan. Pembunuhan yang terlihat sulit untuk di kuak, namun sebenarnya hanyalah sebuah kasus bodoh. Korbannya adalah istri dari seorang pejabat tinggi negara, wanita berusia hampir setengah abad itu, meninggal didalam bathtub dengan dugaan kematian tersetrum listrik akibat pengering rambut yang jatuh kedalam bathtub berisi air. Awalnya memang sulit, karena pelaku memiliki alibi yang sempurna, tetapi hal itu bisa dipatahkan dengan interogasi delapan jam yang mencekam dengan dirinya. Ia juga membuat sibuk Yoongi dengan meminta pemuda itu datang menonton secara langsung. Dan Kyuhyun cukup puas dengan kinerja pemuda bersurai pirang keemasan itu. Jika bukan karena analisis dari sisi kejiwaan yang pemuda itu paparkan, mungkin kasus ini akan berjalan lebih dari satu minggu. Tanpa mendengar tawaran - tawaran uang suap dengan nominal tinggi yang tua bangka itu sebutkan, ia segera memproses surat penangkapan. Pria itu baru berhenti berbicara saat Siwon melangkah masuk ke ruang divisinya dan memanggilanya 'sayang'.

Kasus kedua juga tidak ada bedanya dengan kasus pertama. Bahkan, jauh lebih konyol lagi. Seorang wanita ditemukan suaminya, meninggal tergantung di langit - langit rumah, dengan dugaan bunuh diri. Hanya dengan satu kali lihat, orang paling tolol di Divisi Investigasi Pembunuhan pun akan langsung tahu, bahwa korban mati karena dibunuh. Ia bahkan tidak perlu Yoongi untuk melakukan otopsi terlebih dahulu. Jelas sekali, korban mati diracun sebelum digantung pada langit - langit rumah. Hipersalivasi dan kebiruan pada tungkai mayat, khas sekali dampak dari arsenik. Tidak mungkin seseorang yang gantung diri hanya memperlihatkan lebam kebiruan ditungkai. Lebam mayat karena gantung diri, juga bisa dilihat dari arah kunci simpul tali. Jika simpul berada dibelakang leher, lebam mayat hanya terjadi disatu sisi tubuh, dan jika simpul terletak disisi kanan atau kiri leher, lebam mayat akan terjadi diseluruh tubuh. Dan untuk kasus ini, simpul terletak dibelakang leher korban. Tak butuh lebih dari tiga hari untuk memasukkan suami korban ke penjara sebagai pelaku utama.

Kasus ketiga cukup memakan waktu, hingga dua bulan lamanya. Korbannya adalah dua orang gadis belia dan satu orang anak laki - laki, ketiganya ditemukan tewas terapung di Sungai Han, dengan waktu temuan yang berjarak seminggu untuk tiap mayat. Pelakunya adalah guru para korban sendiri yang bekerja disalah satu bimbingan belajar, dan merupakan tempat ketiga korban menuntut ilmu. Melihat dari hasil visum, ditemukan bahwa ketiganya mendapat kekerasan pada daerah kelamin dan terdapat bekas jeratan di leher. Pelaku cukup cerdik untuk menghapus sidik jari dan menghilangkan barang bukti, disokong juga dengan alibi yang tertata rapi. Namun, tidak akan ada yang tahan di interogasi langsung oleh dirinya. Kyuhyun meminta Yoongi untuk mengurutkan setiap terduga menjadi angka yang lebih kecil, dengan cara melakukan wawancara langsung dan menilai dari psikologis para terduga. Setelah mendapat tiga orang sebagai terduga utama, ia sendiri yang turun tangan untuk melakukan interogasi. Ia bahkan tidak bergeming, kecuali untuk pergi ke kamar mandi, selama dua belas jam menatap intens pada setiap terduga.

Suaminya bahkan harus bolak - balik memastikan bahwa dirinya makan teratur dan tidak terlalu memaksakan diri. Kyuhyun berhasil menangkap pelaku karena mengamati gerakan jari pria tersebut serta bekas luka yang ada disana. Bajingan itu juga tidak bisa mempertahankan kewarasannya saat berhadapan dengannya selama hampir mendekati tiga belas jam. Ia terus menerus bertanya hal yang sama, hingga pada satu titik, si pelaku meracau dan tanpa sengaja mengatakan kebenarannya. Ryeowook langsung mengajukan cuti dua hari setelah kasus tersebut selesai, pemuda itu butuh tidur panjang untuk memulihkan kondisinya. Berbeda dengan Yoongi, dokter dari Divisi Forensik itu, ditemukan tertidur disamping brankar dengan mayat yang belum selesai di otopsi, korban yang ditangani oleh penyidik lain. Nyaris saja orang - orang mengira pemuda itu meninggal ditempat karena terlalu lelah bekerja, apa lagi tergabung dalam timnya. Namun, semua bernafas lega saat pemuda pirang itu berdiri dan berkata bawah segelas kopi akan menyembuhkannya.

Hari ini terhitung tiga bulan lebih dua minggu sejak tragedi penusukan di acara pernikahannya. Dokter Kwon juga mengatakan bahwa lukanya sudah lebih baik dan ia boleh melakukan perjalanan jauh. Dengan keberanian yang hanya tersisa setengah, Kyuhyun mengantarkan surat permohonan cutinya selama sepuluh hari. Beberapa anggota divisinya tersenyum penuh makna saat ia berbicara pada Minseok, meminta pemuda itu menjadi penggantinya selama sepuluh hari ke depan. Juhyun bahkan tertawa pelan sembari berbisik dengan beberapa orang penyidik wanita, mereka memberikan ia kedipan dan gesture semangat. Sepertinya, tanpa perlu dikatakan secara langsung, semua orang sudah mengetahui alasan cutinya. Wajahnya memang datar dan kaku, namun telinganya memerah bagaikan kepiting yang direbus. Beruntung hanya sang adik dan sahabatnya yang sadar akan hal itu, jika orang lain juga ikut mengetahui apa yang ia rasakan, mau ditaruh dimana wajahnya nanti?

"Baby Kyu?"

"Ya?!"

Ia mengerjap cepat dan mengalihkan fokus pada suaminya. Saat ini, mereka sedang duduk di kursi jet pribadi milik Siwon, burung besi itu yang membawa mereka terbang menuju Seychelles di Afrika Timur. Tentu saja pria itu yang merencanakan tur bulan madu mereka, karena ia sendiri sengaja menghindari topik pembicaraan tersebut.

"Kau melamun, sayang. Ada yang kau pikirkan?"

"Huh? Oh, tidak. Aku hanya... Entahlah. Aku terus memikirkan mengenai apa yang akan kita lakukan... Nanti...", netranya bergerak gelisah. Dan pria yang duduk disampingnya itu, menangkap hal tersebut.

"Hm... Banyak yang bisa kita lakukan. Olahraga air, menyelam, berkeliling, dan banyak lagi", ia tersenyum dan memberikan tatapan teduh pada pemuda itu. Mencoba menenangkan kegelisahan sang istri. "Jika kau khawatir mengenai malam pertama, kita tidak akan melakukannya sampai kau siap. Jangan khawatir, aku tidak akan memaksa mu"

Kyuhyun mengalihkan tatapannya kesamping, jantungnya berdetak dua kali lebih cepat, perasaan lega pun turut ia rasakan setelah mendengar ucapan pria tersebut. Senyuman lembut pria itu, sukses membuat pipinya terasa menghangat. Entah mengapa ia baru menyadari, pria yang di nikahinya ini sangatlah tampan. Akan sangat memalukan jika ia memuji sang suami sekarang, maka dari itu, dirinya lebih memilih untuk menutup wajah dengan berpura - pura membaca majalah yang sedari tadi ada dipangkuannya. Menjilat bibirnya, ia lalu berucap pelan, hampir seperti bisikan, namun masih dapat didengar oleh yang lebih tua. Mengundang senyuman lebar di wajah tampan itu.

"Terimakasih, Siwonnie..."


###


Kyuhyun terpukau dengan pemandangan yang terhampar didepannya. Laut dan perbukitan hijau sejauh mata memandang, sapaan ramah dari penduduk lokal yang berpapasan dengan mereka, serta kerlap kerlip lampu yang menghias jalanan dan deretan bungalow ditepi pantai. Tour guide yang memandu mereka, adalah seorang wanita yang merupakan salah satu penduduk lokal bernama Anike. Wanita berkulit coklat gelap dan bertubuh berisi itu, adalah seseorang yang sangat ramah dan menyenangkan. Karena jarang mendapat tamu dari Negeri Ginseng, wanita itu hanya bisa berkomunikasi menggunakan bahasa internasional, yaitu Bahasa Inggris. Mereka diantar menuju bungalow yang telah di sewa oleh Siwon selama delapan hari ke depan, mencapai tempat itu saja membutuhkan satu hari perjalanan dari Korea Selatan.

"Anike akan membiarkan kita beristirahat untuk hari ini"

"Apa yang akan kita lakukan besok?", mengambil sebuah kemeja tipis dan celana pendek, Kyuhyun pun mengisyaratkan pada suaminya itu untuk berbalik memunggunginya. Ia ingin berganti pakaian, sebelum berjalan - jalan dibibir pantai dan menikmati suasana sore hari.

Siwon terkekeh pelan melihat pemuda manis itu bertanya dengan semangat, lalu melakukan apa yang pemuda tersebut isyaratkan. Melihat sang istri yang sudah melupakan kegelisahannya tadi, membuat ia lega. Sungguh, ia ingin bulan madu mereka berjalan dengan baik, tanpa ada gangguan dari siapapun, salah satu alasan mengapa ia membawa istrinya itu sejauh ini. Ia cukup senang hanya dengan mengetahui bahwa pemuda itu menikmati acara mereka, walaupun tidak bisa ia pungkiri, semakin hari berganti, semakin sulit untuk menahan hasratnya. Terapi yang pemuda itu lakukan juga menunjukkan hasil yang memuaskan, Kyuhyun sudah tidak ketakutan lagi saat ia menyentuh beberapa bagian yang dulunya bisa memicu trauma yang lebih muda muncul. Namun, pemuda itu belum memperbolehkan dirinya menyentuh lebih jauh, bahkan melihat sang istri telanjang saja ia belum pernah.

"Bagaimana kalau pergi touring? Melihat - lihat daerah sekitar. Dua hari touring dan sisanya, kita bisa mencoba water sport atau diving, lalu belanja buah tangan untuk teman dan keluarga"

"Itu ide bagus"

"Sayang"

"Um? Ada apa, hyung?", Kyuhyun merapikan penampilannya lalu mengangguk pelan. "Aku sudah selesai"

Ia berbalik dan kembali mengarahkan atensinya pada pemuda manis itu. Netranya melebar saat melihat pemandangan didepannya, sungguh sebuah cobaan untuk kewarasannya. Ia tidak pernah membayangkan istrinya itu akan terlihat sungguh menawan hanya dengan kemeja putih tipis dan celana krem sependek lutut. Mengerjap beberapa kali, ia mengumpati pikiran kotornya, yang dengan kurang ajar, timbul ke permukaan. Siwon tahu bahwa ia menikahi seorang yang sangat manis dan menawan, terlalu indah bahkan. Namun, ia baru menyadari sebesar apa daya tarik seksual yang pemuda itu pancarkan, tak heran banyak mata yang terkadang menatap intens pada istrinya itu. Kaki jenjang dan leher pucat yang terekspos itu, benar - benar terlihat sangat menggiurkan untuk dicicipi. Berdehem pelan ia pun tersenyum pada yang lebih muda.

"Pergilah duluan jika ingin melihat - lihat. Tapi jangan terlalu jauh, aku tidak ingin ada turis lain yang merayu istri ku. Terutama para pria"

"Ayolah, tidak semua mahluk yang memiliki penis didunia ini mau merayu pria seperti ku. Bagaimana dengan mu?"

"Ya ampun, kalimat mu itu, Kyu... Hei! Mereka akan berganti orientasi seksual saat melihat mu! Percayalah pada ku", ia memberikan kecupan pada dahi pemuda itu, lalu mengantarkan yang lebih muda untuk keluar. "Aku harus mengurus sesuatu dulu. Ada beberapa hal yang harus ku selesaikan"

"Baiklah. Aku pergi duluan"

Setelah menutup pintu bungalow yang mereka tempati, ia pun mulai merapikan isi koper mereka dan memesan makan malam untuk diantar ke bungalow. Tak butuh setengah jam untuk melakukan semua itu, ia pun segera berganti pakaian dan pergi menyusul sang istri. Siwon menemukan pemuda manis itu sedang duduk diatas salah satu batu karang sembari kaki pucat itu bergerak didalam air, bermain - main dengan riak - riak air laut. Sendal milik pemuda tersebut, tertata rapi disampingnya. Ia menghampiri yang lebih muda, menepuk pelan pundak itu, sebelum mengisyaratkan agar sang istri untuk mengikutinya. Mereka berjalan menyusuri bibir pantai, bertukar cerita seputar hal - hal konyol yang pernah mereka alami, membahas mantan kekasihnya yang sudah meninggal, dan banyak hal lainnya. Ia tertawa lepas saat yang lebih muda berusaha melontarkan lelucon, mungkin terdengar biasa saja di telinga orang lain, namun terdengar begitu menghibur untuknya.

Tepat setelah matahari terbenam sepenuhnya dan kerlap kerlip lampu menjadi satu - satunya penerangan disana, mereka merapatkan tubuh dan menyatukan bibir dalam sebuah ciuman. Lembut dan manis, bahkan jika ada yang menyaksikan, mereka tak akan berani menginterupsi momen tersebut. Siwon memberikan usapan pelan pada punggung bawah sang istri, yang dibalas dengan tarikan pelan pada rambut dibagian belakang kepalanya. Mereka memutus ciuman tersebut saat paru - paru keduanya terasa panas karena tidak mendapat suplai oksigen, walau sedikit terpaksa karena keduanya enggan untuk meninggalkan bibir pasangannya. Menyandarkan dagu pada pundak yang lebih muda, ia semakin mengeratkan pelukannya. Mereka bertahan dalam posisi tersebut selama beberapa menit ke depan, sebelum memutuskan untuk kembali ke bungalow. Sepanjang jalan hanya diisi dengan keheningan diantara keduanya dan suara deburan ombak yang menghantam bebatuan karang. Hal sederhana seperti ini saja, sudah cukup untuk membuat keduanya bahagia.


###


Bulan madu mereka berlangsung lancar tanpa ada gangguan berarti. Mereka sudah melakukan touring ke beberapa tempat, mengambil gambar sebagai kenang - kenangan, dan mencicipi masakan khas negara tersebut. Tak lupa tur khusus ke situs bersejarah yang hanya boleh dimasuki oleh para turis yang dapat membayar lebih. Olahraga air dan menyelam pun sudah mereka lakukan, bahkan mereka juga menaiki kapal selam, mengamati keindahan bawah laut dan biota yang hidup disana. Hari pun berlalu cukup cepat bagi keduanya, membeli buah tangan untuk teman dan keluarga juga sudah mereka lakukan. Tersisa dua hari yang kosong tanpa ada rencana kegiatan, Anike menyarankan agar mereka menghabiskan waktu berdua saja, menikmati sisa liburan disana. Awalnya, hari itu berjalan dengan baik, mereka menghabiskan waktu dengan menonton film dan berpelukan, layaknya pasangan pada umumnya.

Namun, hal menyenangkan itu berakhir saat Siwon tanpa sengaja melihat Kyuhyun yang tidak mengenakan apapun. Padahal yang lebih muda sudah memperingatkan agar ia tidak masuk ke kamar sampai pemuda manis itu memperbolehkan. Berdiri didepan cermin kamar mereka, pemuda tersebut sedang mengoleskan krim pada bekas jahitan diperutnya lalu pada bekas luka di lengan atas dan paha dalamnya. Siwon tak melepaskan pandangan dari tubuh telanjang sang istri. Ia berjalan mendekat saat pemuda itu masih fokus dengan kegiatannya, dan tanpa mengatakan apapun, menarik yang lebih muda dalam pelukannya. Pandangannya berkabut dengan nafsu, tak memperhatikan respon sang istri yang sudah gemetar dan di lingkupi rasa takut. Ia memberikan kecupan pada tengkuk pucat itu. Kedua tangannya bergerak pelan, menyusuri tiap jengkal kulit yang berada dibawah telapaknya, hingga semakin turun pada bagian kemaluannya. Namun, dirinya terkejut saat pemuda itu mendorongnya kuat, tepat setelah ia menorehkan tanda kemerahan pada perpotongan leher pucat tersebut.

"Sayang-"

Dorongan tadi juga ikut berdampak padanya, membuatnya jatuh terduduk. Melupakan rasa sakit yang mendera bagian bokongnya, Kyuhyun beringsut mundur, hingga punggungnya bertubrukan dengan meja nakas. Netra coklat karamel itu melebar, menatap nyalang pada pria didepannya, dengan ketakutan dan teror yang kentara terpancar disana. Pemuda itu menjerit histeris saat yang lebih tua akan melangkah mendekat, lalu mencoba menyembunyikan diri pada sudut yang dibentuk oleh sisi ranjang dan meja nakas.

"JANGAN SENTUH AKU! MENJAUH DARI KU!"

"Kyu...?", kebingungan yang dialaminya terjawab saat kesadaran menyentaknya kuat. Apa yang dirinya lakukan?! Mengapa ia lepas kendali dan melupakan janjinya pada pemuda itu?! Siwon menyumpah serapahi ketololannya karena telah membangkitkan kembali ketakutan sang istri. Sungguh ia tidak bermaksud menyakiti pemuda itu. "Astaga! Maafkan aku! Sayang, maafkan aku, kemarilah"

"Hikss menjauh!"

"Kyuhyunnie, ini aku Siwon"

Pemuda manis itu semakin meringkuk, memeluk kedua lutut dengan erat, berusaha menyembunyikan tubuhnya. Ingatan mengenai malam itu, seakan menutupi kesadarannya. Menutupi kenyataan tentang siapa yang berdiri didepannya dan dimana dirinya berada sekarang. Sakit. Sakit. Sakit. Ia tidak mau di sakiti lagi. Pandangannya mengabur saat bulir bening itu memenuhi pelupuk matanya. Takut. Kyuhyun benar - benar takut jika harus dipaksa melayani para bajingan itu lagi, dengan semua alat itu yang menyiksa tubuhnya, ia tidak mau memakai barang - barang itu lagi. Lebih baik dirinya pulang, dilempar dengan botol sake dan disumpah serapahi oleh ayahnya yang sedang mabuk. Dengan panik, kedua tangannya meraba sekitar dan membuka laci nakas, mencari barang yang bisa digunakan untuk melindungi dirinya, apapun itu. Hingga jemarinya menyentuh sebuah benda dingin yang berada didalam laci. Saat itu juga ia menyadari bahwa pria tadi berjalan mendekat kearahnya. Walau tremor hebat, ia mengarahkan cepat benda tersebut pada seorang lainnya yang ada disana.

"JANGAN MENDEKAT!"

Siwon mengatupkan bibirnya rapat dan berhenti ditempat. Sedikit merutuki kebodohannya karena menyimpan benda seperti itu didalam nakas. Yah, walaupun tujuannya untuk berjaga - jaga jika ada bahaya yang mengintai mereka. Kembali mencoba untuk mengambil satu langkah maju, ia menatap pemuda itu dengan penyesalan yang kentara di netranya. "Kita tidak akan melakukannya. Maafkan aku, ya Tuhan... Sayang, maafkan aku karena sudah lepas kendali", tangan pucat itu menggenggam benda tersebut, yang merupakan sebuah senjata api jenis hand gun, dengan kuat. "Kyu, tolong lepaskan pistol itu"

"TIDAK! AKU AKAN MENEMBAK MU! JANGAN MENDEKAT!"

"Aku tidak akan mendekat. Tapi ku mohon, tolong lepaskan pistol itu... Benda itu berbahaya, sayang. Tolong dengarkan aku"

"JANGAN MENDEKAT! ATAU AKU BENAR - BENAR AKAN MENEMBAK MU!"

Ini bukan perkara mudah. Pemuda itu tidak mengenalinya lagi, trauma itu kembali bermain dengan kesadarannya. Siwon merasakan ulu hatinya tertohok, lidahnya mengecap pahit, melihat bagaimana yang lebih muda menatapnya saat ini. Netra coklat karamel itu basah karena kelenjar lakrimal yang memproduksi cairan secara berlebih, air mata itu bahkan membasahi kedua pipi pucat tersebut. Ada gurat kebencian dan amarah disana, walau didominasi oleh ketakutan, tetap saja tatapan itu ditujukan padanya. Seketika, dirinya merasa bagaikan orang paling jahat yang pernah hidup, karena telah membuat pemuda itu menangis. Memperhatikan gerak - gerik yang lebih muda, ia menunggu hingga istrinya itu melupakan revolver ditangan. Jika ia berhati - hati dan bergerak cepat, ia bisa menghindari kemungkinan timah panas yang akan dilontarkan.

Momen itu datang tepat disaat yang lebih muda melonggarkan pegangan pada revolver. Ia berlari secepat mungkin, mencoba merampas senjata api tersebut. Namun, pemuda itu berhasil melepaskan satu tembakan yang nyaris mengenai kepalanya. Beruntung, Siwon dapat mengalihkan arah moncong revolver tadi kesamping, mencengkram kuat pergelangan tangan sang istri. Jantungnya berdebar keras, nyaris saja ia mati konyol tadi. Merampas revolver dari tangan pemuda tersebut dan melemparnya menjauh, ia pun menarik pemuda itu dalam pelukannya, tak ia pedulikan cakaran dan pukulan yang diarahkan padanya. Ia berusaha untuk menahan nyeri yang mendera tubuhnya dan lebih memilih fokus untuk menenangkan yang lebih muda. Kyuhyun masihlah seorang pria, apa lagi pemuda manis tersebut adalah seseorang yang terlatih, jelas sekali tenaganya juga lumayan membuat ia sedikit kewalahan.

"LEPAS! LEPASKAN AKU!", dirinya terus meronta, pukulan dan cakaran pun ikut ia lemparkan. Apapun itu, asal dirinya dilepaskan. Namun, tubuhnya membeku, rontaannya berhenti saat pria yang memeluknya itu memberikan kecupan - kecupan ringan pada sisi wajahnya, didekat telinganya. "Ja, jangan sakiti aku. Ku mohon hikss hikss... Aku akan lakukan apapun hikss"

Sakit. Hatinya sakit melihat sang istri seperti ini. Entah apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu pemuda itu, pastilah sesuatu yang sangat mengerikan. Siwon tahu secara garis besar, bahwa yang lebih muda dilatih sebagai pemuas nafsu disalah satu rumah bordil yang ada di Jepang. Tempat yang cukup terkenal karena talenta pekerjanya, selain itu, hal paling unik dari rumah bordil tersebut adalah, mereka hanya memiliki anak berusia dua belas tahun ke bawah sebagai pekerja. Ya, dirinya berhasil mengetahui logo apa yang tertera dilengan atas pemuda tersebut dan sudah melakukan pencarian mendalam. Untuk menghancurkan usaha bejat itu juga tidaklah mudah, karena beberapa kelompok yakuza yang berpengaruh di negara tersebut, memberikan sokongan dana besar - besaran serta perlindungan dari hukum maupun anjing pemerintah. Salah satu alasan mengapa rumah bordil itu bisa bertahan sekian lama.

"Sayang...", ia terus memberikan kecupan lembut, sebelum berbisik ditelinga yang lebih muda. "Baby Kyu, ini aku. My Baby... Ini aku, Siwon"

Seakan terbangun dari mimpi buruk, ia mengerjap pelan. Sekelilingnya seakan kembali seperti semula, suara familiar yang memanggilnya tadi, adalah suara suaminya. "Si, Si, Siwon...?"

"Ya, aku Siwon. Choi Siwon mu yang brengsek. Ini aku", setelah yakin bahwa sang istri sudah merasa lebih tenang, ia pun menangkup kedua pipi pucat itu dan menyandarkan dahinya pada dahi pemuda tersebut. "Maafkan aku, Baby Kyu. Aku sungguh minta maaf. Aku tidak akan menyentuh mu seperti itu lagi"

Meraih selimut diatas ranjang, ia menutupi tubuh telanjang istrinya itu, sebelum mengangkat pemuda tersebut dan mendekapnya sembari duduk menyandar pada kepala ranjang. Siwon hanya dapat menepuk pelan punggung istrinya, berusaha menenangkan tangis pemuda tersebut. Kyuhyun tidak pernah memperlihatkan pada siapapun, serapuh apa dirinya, bahkan keluarga angkatnya tidak pernah tahu. Dirinya tidak ingin terlihat lemah, memang sebuah alasan konyol, namun itulah kebenarannya. Ia selalu menangis sendirian, menumpahkan kesedihan disaat semua orang tertidur atau menutup rapat pintu kamarnya agar tidak ada yang mendengar, sejak dulu selalu seperti itu. Tetapi saat ini, ia bahkan tidak punya harga diri lagi untuk tetap terlihat kuat. Semua yang ia simpan sendirian selama ini, rasa sakit, malu, kecewa, takut, dan stress yang tak berujung, semuanya tumpah begitu saja bersama air matanya.

Entah sudah berapa lama waktu berlalu, hal tersebut sudah tak lagi penting bagi mereka. Kyuhyun menegakkan tubuhnya setelah berhasil menghentikan tangisnya. Tatapannya beralih pada rahang bawah, leher, dan kedua lengan sang suami. Netranya bergetar melihat gores cakaran yang mengeluarkan darah dibeberapa tempat, bahkan ada yang tampak cukup dalam. Memar juga terlihat di sisi wajah pria tersebut. "Hyu, hyung... Darah... Kau berdarah...!"

"Jangan khawatir, hanya luka kecil. Pakailah dulu piyama mu, aku akan membersihkan luka ku"

"Aku... Yang melakukannya...?"

Siwon hanya tersenyum lembut tanpa menjawab pertanyaan tersebut, yang jelas bersifat retoris. Ia melangkah kearah lemari dan mengambil satu pasang piyama berwarna kuning pastel, untuk dikenakan sang istri. Kecupan ringan ia berikan di puncak kepala yang lebih muda, sebelum memberikan piyama yang dibawanya dan meminta pemuda tersebut untuk mengenakan pakaian itu. Ia segera memasuki kamar mandi, membersihkan diri lalu mengobati luka bekas cakaran dan pukulan tadi dengan first aid kit yang tersedia disana. Rasanya seperti baru saja menjinakkan seekor kucing hutan, jika dilihat dari luka yang ada ditubuhnya, ia terkekeh pelan karena pemikiran konyolnya tadi. Setelah selesai, ia mengenakan jubah mandi dan melangkah keluar, tangannya sibuk mengeringkan rambutnya yang masih sedikit basah.

"Kyuhyunnie, aku akan tidur di sofa malam ini. Istirahatlah", tatapannya beralih pada sang istri. Dahinya mengernyit, melihat pemuda itu tidak bergerak dari posisi awalnya. Piyama yang ia siapkan juga masih terlipat rapi diatas nakas, tak kunjung dikenakan oleh pemuda tersebut. "Kenapa belum memakai piyama mu, hm? Kau bisa sakit kalau tidur dalam keadaan seperti ini"

"Tidak mau", Kyuhyun menggeleng pelan, ia mendongak untuk bersitatap dengan sang suami, yang saat ini berdiri tepat didepannya dan mengusak lembut rambutnya. "Aku... Kita harus melakukannya"

Selama beberapa detik, ia mencoba mencerna apa yang pemuda itu maksud. Siwon baru memahami perkataan sang istri, saat tangan pemuda tersebut menyingkirkan selimut yang menutupi bahu pucat itu perlahan. "Tapi sayang, kau masih sangat terguncang"

"Sudah cukup empat bulan ini aku melarikan diri. Aku tidak mau dibayang - bayangi para iblis itu... Aku ingin kegilaan yang mereka bisikkan berhenti... Aku ingin ini berhenti!"

"Bukan berarti kau harus memaksakan diri, Kyu"

Bukan ini tujuannya menikah dengan Kyuhyun. Baiklah, Siwon akan jujur, awalnya memang begitu. Siapa yang tidak ingin mencicipi bibir plum itu? Kulit pucat seputih susu yang mengundang hasrat siapapun. Mata bulat bak boneka dengan iris seindah lelehan karamel yang memikat setiap orang, dengan surai hitam lembut yang membingkai wajah manis tersebut. Seorang pria lurus pun, pasti akan beralih dari jalannya dan memuja keindahan istrinya itu. Tetapi, semakin ia mengenal personal pemuda tersebut, semakin ia jatuh kedalam lumpur hisap bernama 'cinta'. Bak setangkai mawar, indah namun berduri, tak sembarang orang bisa memetik, hanya tangan terampil yang bisa menyentuh keindahannya. Dan dirinya adalah orang paling beruntung karena mendapat kepercayaan penuh dari yang lebih muda. Tidak mungkin ia menyia - nyiakan hal tersebut dan menggantinya dengan nafsu bejat semata.

"Hyung, aku ini kotor, bahkan sudah seperti barang bekas... Apa yang kau lihat dari ku? Harusnya kau menyesal menikahi orang seperti ku... Harusnya kau mendapatkan yang lebih baik!", mencengkram selimut yang menutupi pahanya, rahangnya mengeras.

"Aku mencintai mu. Aku tidak peduli dengan apa yang terjadi di masa lalu mu. Kau bahkan lebih dari pantas menerima yang jauh lebih baik dari ku"

"AKU INI DI JUAL, HYUNG! DIJUAL SEBAGAI PELACUR PARA BAJINGAN ITU!", Kyuhyun menyentak marah. Ia marah pada dirinya sendiri, karena membiarkan pria itu justru memilih dirinya yang tak seberapa berharga.

Menghela nafas pelan, Siwon menggenggam kedua tangan pucat itu, memberikan kecupan pada punggung tangan pemuda tersebut. "Dan aku adalah seorang pembunuh yang telah menghabisi banyak nyawa. Aku ini penjahat kotor yang tak pantas untuk mu"

Ia mendudukkan dirinya diatas ranjang, berhadapan dengan sang istri yang sedang menatap keras dirinya. Pemuda manisnya yang keras kepala namun sangat rapuh jiwanya, Choi Kyuhyun nya yang sangat ia cintai. Bahkan, adik angkatnya pun tidak ia pedulikan saat menentang keras pernikahan mereka. Justru, Siwon berbalik dan mengancam sang adik agar tidak mengusik istrinya. Dirinya yang tak pernah sekalipun berpaling dari keluarga kecil yang ia bentuk sendiri, berani membuang itu semua. Baginya, untuk saat ini dan seterusnya, Kyuhyun adalah prioritasnya, separuh nyawanya, dan dunianya.

"Dengar, Kyuhyun. Aku mencintai mu bukan atas dasar belas kasihan atau ketertarikan sesaat. Aku mencintai mu dengan sungguh - sungguh, sebutlah ini obsesi, karena aku akan membunuh siapapun yang berani mengambil mu dari ku. Bahkan jika itu adalah adik ku sendiri, aku akan membunuhnya. Tidak ada yang lebih penting di dunia ini selain diri mu"

"Kau gila... Kau benar - benar gila, hyung..."

"Ya. Aku gila karena mu, Choi Kyuhyun", Siwon terkekeh pelan. Benar, dirinya memang sudah tidak waras sejak mengetahui eksistensi pemuda itu. "Kau membuat ku gila, sayang... Diri ku yang brengsek ini tergila - gila pada mu"

Kyuhyun menggigit bibir bawahnya, menahan senyuman. Pria tolol ini adalah suaminya, satu - satunya orang yang tetap mencintainya walau mengetahui apa yang terjadi di masa lalunya. Pria brengsek yang sengaja memancing traumanya dan dengan tidak sopan menciumnya dipertemuan pertama mereka. Ia jarang pergi ke gereja untuk berdoa, namun Tuhan masih tetap menyayanginya dan memberikan ia pasangan hidup seperti Choi Siwon. Kejahatan yang pria itu lakukan, tidaklah penting untuknya. Dirinya juga bukan seseorang yang suci tanpa dosa. Mungkin akan terdengar mustahil jika ini adalah dirinya yang dulu, tetapi sekarang, dirinya juga ingin merasakan bagaimana dicintai sepenuhnya oleh pria itu.

"Kau mencintai ku?"

"Tentu. Aku sangat mencintai mu"

"Jika itu memang benar... Tunjukkanlah", tangannya meraih pergelangan pria itu, lalu mengecup telapak tangan besar tersebut. "Cintai aku. Perlihatkan pada ku bahwa semua perkataan mu itu bukanlah omong kosong belaka"

Bohong jika Siwon mengatakan dirinya tidak merasa bahagia. Euforia itu menggelitik perutnya, namun kekhawatiran akan kondisi sang istri, lebih mendominasi batinnya untuk saat ini. "Baiklah, akan ku lakukan. Tapi, berjanjilah untuk tidak memaksakan diri mu. Berjanjilah pada ku. Aku tidak ingin menyakiti mu"

"Aku berjanji"

Dua kata yang disuarakan oleh pemuda itu, menjadi penutup pembicaraan mereka. Bibir keduanya bertemu dalam ciuman lembut, lalu berubah menjadi lebih panas dan dalam. Lidah bertemu lidah, geligi saling bergesekan, tatapan mereka fokus pada netra keduanya. Pria itu melarang sang istri untuk menutup mata, yang lebih muda harus tahu dengan siapa dirinya berada diatas ranjang saat ini. Bibir pria tersebut beralih mengecup sudut bibirnya, semakin turun ke leher pucat itu. Siwon memberikan hisapan kuat disana, meninggalkan bercak kemerahan yang kentara di kulit pucat tersebut. Setiap jengkal kulit yang pria itu kecap, tak lupa ia memanggil nama yang lebih muda, memegang fokus Kyuhyun agar tak pergi kemana pun. Apa yang akan mereka lakukan ini, bukan hanya seks semata, melainkan bercinta. Dan pria itu ingin agar sang istri mengerti maksudnya.

Siwon menyibakkan selimut yang pemuda itu gunakan untuk menutupi daerah kemaluannya. Tak lupa, ia juga ikut melepas jubah mandi yang dikenakannya, lalu mendorong sang istri perlahan agar dapat berbaring dengan nyaman di ranjang. Membuka laci nakas, ia meraih dua botol pelumas dan sebungkus pengaman. Akan sangat sakit rasanya jika tidak dilakukan tanpa persiapan, dan untuk Kyuhyun, setelah sekian lama tidak melakukan hal seintim ini, keadaannya akan sama seperti saat pertama kali. Meletakkan barang - barang tadi disampinya, ia memberikan kecupan lembut didahi yang lebih muda. Sebelah tangannya mulai menyentuh kemaluan pemuda tersebut, sebelah tangannya lagi menautkan jemari mereka. Ia dapat merasakan tubuh pucat itu bergetar kuat dibawahnya, tatapan netra coklat tersebut kembali tak fokus. Mempererat genggaman mereka, ia kembali mencoba memanggil pemuda itu.

"Kyuhyun? Baby Kyu, ini aku Siwon. Baby Kyu, lihat aku? Lihat aku sayang. Kau bersama ku saat ini"

"Hyu, hyung... Siwon hyung...?"

"Ya, benar, ini aku. Kau sedang bersama ku. Lihat aku, jangan alihkan pandangan mu dari ku. Kau bisa melakukannya untuk ku, Baby?", ia tersenyum saat pemuda itu memberikan anggukan sebagai jawaban. Tremor tadi pun perlahan berhenti. "Bagus, seperti itu. Kau bisa mengucapkan nama ku. Saat ini, kau bersama ku. Baby Kyu saat ini bersama Siwonnie nya. Aku tidak akan menyakiti mu, dan tidak akan ada yang melukai mu"

Ia melanjutkan kegiatannya tadi, meninggalkan kecupan ringan pada perut yang lebih muda lalu semakin turun pada kejantanannya. Siwon meraih pelumas disampingnya untuk mempersiapkan lubang pemuda itu. Mulutnya menghisap kepala kejantanan didepannya, sebelum memasukkan batang kejantanan itu perlahan kedalam mulutnya. Satu jarinya pun ikut menerobos masuk kedalam lubang sempit itu, menghasilkan rintihan pelan dari bibir plum pemiliknya. Satu persatu jemarinya masuk dan melakukan gerakan memotong perlahan, mulutnya pun tidak berhenti memberikan kenikmatan pada kejantanan pemuda tersebut. Saat sang istri meneriakkan namanya, saat itu jugalah ia mengecap rasa dari ejakulasi milik pemuda tersebut. Ia mengeluarkan jemarinya, lalu tersenyum tipis dan menjilat bibirnya dengan gerakan sensual, tak bisa menahan kekehan pelan ketika melihat wajah istrinya bersemu merah.

"Siwonnie... Apa akan sakit?"

"Jangan pikirkan tentang hal itu. Aku akan mempersiapkan mu sebaik mungkin. Ini malam pertama kita, Baby"

"Tapi-"

"Sayang, percayalah pada ku. Yang lalu tidak akan masuk hitungan, dan yang terpenting adalah saat ini. Saat kita bersama", mengecup pipi sang istri yang tampak memerah karena bersemu, ia mengarahkan agar lengan pemuda itu memeluk tubuhnya. "Kau bisa mencakar ku atau menggigit ku kalau rasanya sangat sakit"

Yang lebih muda hanya bisa mengangguk, tidak memberikan bantahan, dan membiarkan suaminya menuntun. Ia memasukkan kejantanannya perlahan, mengatupkan rahangnya keras saat merasakan kuku - kuku jemari yang menancap pada punggungnya. Siwon melirik kearah sang istri, dan mendesah pelan saat netra pemuda itu melebar, suara gemeletuk gigi pun dapat ia dengar. Pasti karena menahan sakit, lubang itu masih tetap sempit walau sudah ia persiapkan dengan empat jari. Kembali menyatukan bibir keduanya, ia menyangga tubuh dengan satu tangan sembari memperdalam ciuman mereka. Tangannya yang lain, meraba bagian dada pemuda tersebut yang sedikit berisi, dan menggesekkan telunjuknya pada tonjolan kecoklatan yang ada disana. Desahan halus, lolos dari belah bibir plum itu, pemiliknya menggeliat pelan merasakan sensasi aneh didadanya.

Siwon tidak menyia - nyiakan kesempatan tersebut. Ia mendorong kejantanannya hingga masuk sepenuhnya, mengundang pekikan tertahan dari yang lebih muda. Memutus ciuman mereka, ia memberikan kecupan lembut pada dahi, mata, pipi, dan bibir agar sang istri merasa lebih tenang. Setelah menunggu beberapa menit, ia mencoba bergerak perlahan. Tidak melihat tanda - tanda penolakan, ia pun melanjutkan gerakannya, yang semakin bertambah kecepatannya sesaat setelah menemukan prostat pemuda tersebut. Tangan pucat itu mencengkram bahunya, netra coklat itu menatapnya dalam, lalu bibir plum itu terbuka. Memanggil namanya, memohon padanya.

"Mmh... Si, Siwonnie?", kedua tangannya menangkup pipi pria didepannya. Kyuhyun mencoba memfokuskan pandangannya yang sedikit mengabur karena air mata.

"Ya, Baby Kyu?"

Tubuhnya gemetar merasakan kenikmatan yang belum pernah ia cicipi. Senyuman lega tampak di parasnya saat Kyuhyun mendengar pria tersebut menjawabnya, berhasil mengusir segala pemikiran buruk yang ada di kepalanya. Ya, saat ini ia bersama suaminya. Choi Siwon nya. Tidak akan ada hal buruk yang terjadi. Iblis itu tidak akan bisa memanipulasi kesadarannya, selama pria itu bersamanya dan terus memanggil namanya, sudah cukup untuk memberikan distraksi dari memori buruknya.

"Siwonnie Siwonnie Siwonnie...! Ahhn lagi ahhh...! Disanaahh nghh lagii"

"Khh... Tentu. Berpegangan pada ku, Baby"

Kedua lengannya menyangga bawah lutut pemuda tersebut, sebelum menghentak lebih dalam dan cepat. Pekikan dan desahan memenuhi ruangan kamar tersebut, diikuti dengan suara benturan kulit antar kulit. Ranjang pun ikut berderit dengan bagian kepala yang menubruk dinding, menghasilkan bunyi yang lumayan keras. Siwon menggeram rendah, atensinya tak lepas dari wajah sang istri yang memerah karena suhu tubuh yang meningkat. Pemuda itu terus meracaukan namanya disela desahan yang keluar dari bibir plum tersebut. Saat keduanya hampir mencapai klimaks, mereka kembali mempertemukan bibir dan saling melumat. Desahan kenikmatan ketika mencapai puncak, teredam oleh ciuman panas yang mereka lakukan, ia bisa merasakan tangan sang istri yang menekan kepala belakangnya, enggan melepas tautan bibir mereka. Keduanya baru berhenti saat kembali mengingat bahwa oksigen adalah sebuah kebutuhan.

Setelah berhasil menstabilkan nafasnya yang memburu, ia tersenyum pada yang lebih muda. "Sayang... Terimakasih karena sudah berusaha melawan trauma mu"

"Hn... Itu bukan hal yang hebat", Kyuhyun mengalihkan pandangannya, menggerutu pelan.

Siwon terkekeh, istrinya akan tampak sangat manis saat mencoba menghindar, seperti saat ini. Ia memberikan kecupan di pipi pucat tersebut, lalu mengusap peluh yang membanjiri wajah istrinya. "Itu hal yang sangat hebat, Baby Kyu", tersenyum lebar, ia kembali menggerakkan pelan miliknya. "Akan lebih hebat lagi kalau My Baby bisa meneriakkan nama ku hingga pagi"

Wajahnya memucat saat merasakan milik sang suami kembali menegang didalam lubangnya. Kyuhyun bahkan baru sadar bahwa kejantanan pria itu masih berada didalam. "Hyu, hyung, bukankah hanya sekali? Normalnya laki - laki hanya bisa ereksi sebanyak tiga kali saat berhubungan. Dan-"

"Hm, tapi aku baru keluar sekali, Baby. Masih ada dua kali lagi"

"Tunggu! Tapi menurut buku-"

"Kita sedang praktek, sayang. Terkadang, apa yang tertulis di buku, tidak sepenuhnya benar atau hanya berlaku pada beberapa populasi saja", Siwon kembali mengecupi leher jenjang itu, menambahkan lebih banyak bercak kemerahan disana. Kedua tangannya kembali merangsang pemuda tersebut pada titik - titik sensitive nya. Tersenyum simpul, ia berbisik di telinga sang istri. "Baby Kyu, Siwonnie akan membantu menendang bokong para iblis laknat yang bermain di kepala mu. Jadi, teriakkanlah nama ku sekeras mungkin, agar mereka tahu dengan siapa mereka berurusan"


###


Suara ponsel berdering nyaring, mengusik ia dari tidur panjangnya. Memaksa membuka kelopak matanya yang terasa berat, Kyuhyun mendorong tubuh lain yang berada didepannya. Ia tersentak kaget saat merasakan nyeri pada bagian bawah tubuhnya, membuka lebar kedua matanya, ia menatap nyalang pada dada berkulit tan didepannya. Kepalanya memutar ulang apa yang terjadi kemarin malam. Oh, ya ampun, itu semua bukan mimpi. Ia benar - benar melakukan malam pertamanya dengan sang suami. Wajahnya terasa panas saat mengingat bagaimana ia mendesah dan meneriakkan nama pria itu, seperti jalang saja. Berdehem pelan, ia mengipasi wajahnya dengan sebelah tangan untuk mengurangi rasa terbakar pada kedua pipinya, yang ia yakini sudah bersemu merah saat ini, sembari tangan yang satu lagi meraih ponselnya. Ia segera mengangkat panggilan masuk tersebut tanpa melihat identitas pemanggilnya.

"Selamat sore, Tuan Choi!"

"Oh? Ah, Nona Anike... Selamat sore...?"

"Yup! Sekarang sudah sore! Saya sedikit khawatir karena anda tidak datang untuk sarapan pagi dan makan siang, bahkan anda tidak memesan apapun"

"Ah, maaf karena telah membuat anda khawatir. Kami-"

Kyuhyun mengerjap saat ponselnya diambil oleh sang suami, bahkan ia belum sempat merangkai kalimat untuk menjawab lawan bicaranya tadi. Pria itu tersenyum jahil padanya, lalu menaik turunkan alis tebalnya, sungguh ekspresi yang sangat menyebalkan. Dan jujur, ia punya firasat buruk mengenai ini. Ingat? Mulut suaminya itu terkadang bisa lebih frontal darinya.

"Halo, Nona Anike. Maaf karena tidak memberitahu mu terlebih dahulu, kami terlambat bangun karena kegiatan bulan madu di ranjang"

"Oh! Ya ampun! Maafkan saya karena sudah mengganggu! Bagaimana kalau makanannya saya antarkan saja ke bungalow anda? Saya akan meletakkannya di meja teras!"

"Tentu, itu akan sangat membantu. Terimakasih, Nona Anike"

"Bukan hal besar! Anda tidak perlu berterimakasih!"

Dengan itu, transmisi tadi berakhir. Kyuhyun merengut kesal, melemparkan tatapan menusuk pada yang lebih tua. Bisa - bisanya pria itu mengatakan secara gamblang bahwa mereka terlambat bangun karena sibuk bercinta. Ah, sial, ia jadi kembali mengingat kejadian kemarin malam. Mendudukkan tubuhnya perlahan, ia mengernyit saat merasakan nyeri hebat mendera punggung bagian bawahnya. Keparat, memang para iblis yang terus membisikkan memori buruk padanya perlahan pergi, tetapi itu semua karena 'raja' mereka sendiri yang mengusirnya. Choi Siwon brengsek, jika dirinya tidak mencintai pria tersebut, sudah pasti ia akan memukul wajah tampan itu. Meraih selimut yang menutupi bagian bawah tubuh mereka, ia pun membungkus tubuh telanjangnya dan perlahan berdiri, berjalan tertatih ke kamar mandi.

"Baby? Boleh aku ikut mandi?"

"Diam kau, brengsek. Dan jangan masuk sampai aku selesai!"

Pintu kamar mandi ditutup dengan kasar. Siwon terkekeh pelan mendengar sang istri yang mencaci maki dirinya dibalik pintu tersebut. Ia mengambil celana pendek untuk dikenakan, sebelum menyiapkan baju ganti untuk pemuda tersebut dan meletakkannya diatas nakas. Besok mereka sudah harus kembali ke Korea, walau ia bisa mempercayakan segala urusan mengenai perusahaan pada Shindong dan Chanyeol, posisi sang istri di kepolisian tidak bisa ditinggalkan terlalu lama. Meskipun tanggung jawab sementara dialihkan pada orang yang pemuda itu percaya, tetap saja atasan istrinya menginginkan yang lebih muda untuk segera kembali dari cuti bulan madu. Terkutuklah Jung Yunho karena tidak memberikan izin cuti lebih panjang. Bersenandung pelan, ia kembali berbaring diatas ranjang, kedua tangannya terkepal, meninju udara kosong. Sejujurnya, ia sudah menahan diri untuk tidak melakukan selebrasi saat bangun tidur tadi.

"Aku tidak percaya akhirnya bisa 'memakan' baby manis ku itu. Tuhan, terimakasih! Dia sungguh menggemaskan kemarin malam!"

Suara benturan dari kepalan tangannya dan kaca tebal pintu, menggema didalam kamar mandi. Kyuhyun menatap tajam pintu kaca yang memisahkan ia dengan suaminya itu. Bagaimana bisa ia keluar dari sana dengan wajah merah padam? Cukup ia merasa malu perihal sikapnya di malam pertama mereka kemarin, dirinya tidak butuh sang suami juga ikut mengungkit hal tersebut lagi.

"AKU DENGAR ITU, BAJINGAN! DAN KEMARIN MALAM ADALAH JATAH TERAKHIR SEUMUR HIDUP MU!"

Tentu tidak, itu hanyalah sebuah gertakan kosong. Mana mungkin kemarin malam akan menjadi yang terakhir. Kyuhyun hanya tidak ingin mengakui bahwa dirinya juga kembali menginginkan hal tersebut. Apa lagi jika kembali mengingat tatapan yang sang suami berikan saat mereka sedang bercinta. Ah, sial, wajahnya kembali memanas. Setidaknya, untuk saat ini, ia tidak akan mengatakan keinginannya mengenai hal tersebut.


Honey Moon...? : End


A/N:

Maafkan jika ada typo yang bertebaran. Jangan lupa untuk review ya buat penyemangat author bikin lanjutannya :3

Special Thanks to :

- gnf

- Chii

- Nunna

- gyu1315

- maynidit