Part 8
.
.
Oktober 2019
The Groucho Club, Soho
London, Inggris
Kedua manusia berbeda gender dengan warna rambut dan iris mata yang hampir mirip, keluar dari mobil sedan Audi A7 berwarna putih yang terparkir tidak jauh dari salah satu club tersohor di London, sebuah private club. Yakni The Groucho Club. Sang gadis mengenakan sebuah gaun panjang tidak berlengan berwarna lilac, dengan sebuah jubah besar dan panjang yang berwarna merah, dengan combat boots berwarna coklat. Rambutnya yang berwarna pirang platina tertutup dengan tudung besar dari jubahnya yang cukup besar. Rambut panjangnya ia buat bergelombang dengan poninya yang dia jepit ke atas dahinya. Sapuan riasan tidak begitu tebal turut menghiasi wajahnya. Ino Yamanaka, perempuan itu, berjalan dengan cukup riang dan santai menuju pesta Halloween yang diselenggarakan oleh salah satu teman dekatnya, Shion.
Sementara pemuda yang berjalan di sampingnya, memakai setelan seperti seorang ring master dalam sebuah sirkus. Rambut pirang yang mencuat ke atas terlihat melambai-lambai terkena angin malam di musim gugur. Sebuah tongkat yang biasa dipakai oleh seorang ring master terlihat digenggam oleh tangan kanannya. Iris birunya terlihat menampakkan kebahagiaan dan keantusiasan karena adik sepupu tersayangnya, mengajaknya untuk datang ke pesta Halloween salah satu teman dekatnya. Naruto Namikaze tanpa berpikir langsung mengiyakan ajakan Ino ketika gadis itu menawarinya untuk ikut sekitar tiga hari yang lalu. Ketika Ino bilang kalau pesta itu diadakan oleh salah satu temannya dari industri hiburan, Naruto langsung berpikir kalau pesta tersebut pasti dipenuhi oleh model-model dan aktris-aktris cantik yang mungkin salah satu dari mereka bisa menjadi teman kencan Naruto.
"Berhenti tersenyum mesum seperti itu."
Naruto menoleh cepat ke arah sepupunya, Ino memberi pandangan tidak suka kepadanya.
"Siapa yang tersenyum mesum?"
"Kau!"
Naruto memutar bola matanya kesal, tidak lagi memperdulikan Ino yang kalau dia lanjutkan, pasti akan menjadi acara perdebatan.
"Coba saja kalau Gaara tiba-tiba tidak harus ke Birmingham, aku tidak perlu pergi bersama mu ke pesta ini," Ino bersunggut-sunggut kesal.
"Memangnya kau tidak ingin memperkenalkan diriku kepada teman-teman mu sebagai sepupumu yang tampan ini?" tanya Naruto sambil menyisir rambutnya dengan jemari tangannya.
Ino melihatnya dengan pandangan meledek, menaikkan sebelah alisnya, "Kau tahu, terkadang kau bisa sangat kelewat percaya diri."
"Bukankah itu hal yang bagus?"
"Sesuatu yang berlebihan tidak pernah bagus, Sir."
Naruto mendengus pelan mendengarnya. Ino sudah berada di depan pintu masuk club, dua orang laki-laki kekar terlihat sedang menjaga pintu masuk, seseorang dari mereka memegang sebuah tablet yang Ino duga merupakan isi daftar tamu.
"Ino Yamanaka, dengan Naruto Namikaze."
Seorang yang memegang tablet yang berisi daftar tamu itu sempat mencari-cari nama Ino di daftar tamu. Setelah menemukan nama Ino, mereka mempersilahkan Ino dan Naruto masuk.
Ino dan Naruto dapat mendengar suara musik dan orang yang sedang berbincang-bincang ketika baru saja memasuki club itu. Saat masuk lebih dalam, terlihat banyak orang yang sedang berpesta. Beberapa membuat kerumunan kecil sambil memegang gelas champagne yang sengaja disediakan untuk pesta Halloween milik Shion.
Ino mengedarkan pandangannya kepada setiap sudut, berusaha menemukan Shion dilautan manusia yang cukup ramai namun tidak begitu padat. Setelah semenit berusaha menemukan teman dekatnya itu, Ino akhirnya menemukan Shion yang sedang berbincang dengan seorang gadis berambut merah dan seorang laki-laki berambut hitam yang memakai topeng yang menutupi setengah wajahnya. Ino sangat familiar dengan topeng tersebut, topeng dari pertunjukkan musikal kesukaannya, The Phantom of the Opera.
"Naruto, ayo!"
Tangan Naruto ditarik begitu saja ketika dirinya sedang mengedipkan matanya pada seorang gadis berambut coklat terang yang sedang mengerling nakal ke arahnya. Naruto sampai mendecakkan mulutnya melihat Ino menarik tangannya begitu cepat dan tanpa aba-aba. Dia hampir saja jatuh jika tidak segera menyeimbangkan tubuhnya.
Naruto tidak berbicara apa-apa ketika Ino membawanya ke tempat yang sepertinya merupakan teman yang dia sebut bernama Shion sedang mengobrol.
"Shion! Hai!"
Shion yang sedang asik berbicara dengan kedua orang di dekatnya langsung menoleh ke arah Ino, yang berjarak sekitar 2 meter di depannya. Ino melepas genggaman tangannya dari tangan Naruto lalu memeluk Shion dengan begitu antusias.
"Akhirnya kau datang! Aku menunggumu sedari tadi!" ucap Shion sembari melepaskan pelukkan mereka berdua.
"Maafkan aku, Kakak sepupu ku ini lama sekali bersiapnya, aku harus menunggu dia. Dan jalanan sedikit macet tadi, jadi aku terlambat deh," ucap Ino dengan raut muka penuh penyesalan. Di belakangnya, Naruto yang menjadi kambing hitam dari keterlambatan mereka tentu saja terlihat begitu jengkel. Padahal alasan keterlambatan mereka adalah karena Ino yang bingung harus membuat model rambutnya seperti apa, bukan karena Naruto yang lama bersiap-siap.
"Kakak sepupu?" tanya Shion, raut mukanya menunjukkan kebingungan.
Ino mengangguk, "Iya! Gaara tidak bisa ikut, dia harus menghadiri acara keluarga di Birmingham, jadi aku membawa Kakak sepupuku!" Ino menoleh ke belakang, lalu menarik tangan Naruto, "Nah, Shion, perkenalkan, ini Naruto Namikaze, Kakak sepupuku!"
Naruto mengulurkan tangannya ke arah Shion yang hanya terdiam menatap Naruto dengan pandangan penuh terpesona, dirinya bahkan tidak sadar kalau mulutnya sedikit menganga melihat Naruto yang sedang tersenyum lebar di hadapannya.
"Hai, aku Naruto Namikaze, kau Shion, kan?"
Seorang gadis berambut merah yang tadi bersama Shion pun terkikik melihat teman dekatnya sampai-sampai terdiam melihat sosok Naruto. Ino jadi ikut terkekeh juga melihat Shion yang sepertinya sangat terpesona pada Kakak sepupunya.
"Shion, tidak ingin memperkenalkan diri juga?" goda Ino sambil menyikut Shion.
Shion seketika tersadar, kedua pipinya memunculkan rona merah menandakan dirinya sedang tersipu hebat. Shion tersenyum kikuk lalu membalas uluran tangan Naruto yang lebih besar darinya, "Hai! Aku Shion, teman Ino. Selamat datang di pesta Halloweenku, Naruto."
"Ah, biar ku tebak kostummu malam ini," ucap Naruto pada Shion.
Naruto memperhatikan Shion dari atas sampai bawah. Rambut pirang platinanya dia gelung dengan rapih dan sengaja menyisakan sedikit helaian yang membingkai wajahnya. Tubuhnya dibalut sebuah pakaian seorang penari balet yang berwarna hitam dengan sebuah mahkota kecil berwarna hitam yang tampak kontras dengan rambut pirang platinanya. Naruto tersenyum kecil sebelum menjawab.
"Black Swan? Natalie Portman?"
Shion mengangguk, "Dan kau…" Shion terlihat berpikir sebentar, melihat kostum yang Naruto pakai, "Phineas Barnum, The Greatest Showman?"
Naruto menyeringai, "Kau pintar menebak."
"It was an easy guess," Shion tersenyum kecil lalu meminum champagnenya, berusaha menghilangkan kegugupannya karena ditatap oleh sosok kakak sepupu teman dekatnya. "Ah iya! Ino, Naruto, perkenalkan, ini Tayuya, temanku sedari kami di sekolah menengah atas," ucap Shion sambil menunjuk seorang perempuan berambut merah yang memakai strapless dress berwarna putih panjang yang begitu membentuk tubuh atasnya, dengan sebuah kalung besar yang melingkari lehernya dan sebuah head piece dengan rantai kecil yang melingkari dahinya. Ino sebagai penggemar musikal tentu menyadari kostum siapa yang Tayuya pakai. Itu adalah kostum di adegan terakhir untuk Satine, pada film Moulin Rouge.
"Dan, ini adalah Sasuke Uchiha, temanku sejak kami main film bersama beberapa tahun yang lalu," ucap Shion memperkenalkan seseorang dengan topeng yang menutupi sebagian wajahnya. Dirinya mengenakan setelan tuksedo tradisional model tahun 1900an tiga lapis berwarna hitam dengan dasi kupu-kupu berwarna putih dan sebuah jubah berwarna hitam yang memeluk tubuh tinggi tegapnya.
Setelah melempar senyum ke arah Tayuya, Ino mengalihkan pandangannya pada seorang pemuda yang sedang berdiri di samping kiri Shion. Dia terlihat sehabis berjabat tangan dengan Naruto. Lalu pemuda itu melepaskan topengnya, membuat Ino dapat melihat wajah tampan pemuda itu dengan leluasa. Ino dapat merasakannya, iris mata hitam kelam itu menatapnya dengan intens, sedikit menaikkan bibirnya ke sudut kanan, dan mengulurkan tangannya kepada Ino.
Ino menerima uluran tangan Sasuke, lalu tersenyum manis untuk pemuda itu. "Ah! Aku tahu kau!" Shion baru ingin bertanya ketika Ino langsung lanjut berbicara, "Kau Sasuke Uchiha si Sex God, kan?"
Tayuya yang mendengarnya langsung tersedak champagne yang baru saja dia minum. Shion membelalakkan matanya mendengar penuturan Ino. Sementara Naruto menepuk dahinya pelan dan menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar sang adik sepupu berkata demikian, kepada seseorang yang baru saja dia temui.
Sasuke menyeringai, "Julukkan yang boleh juga."
Shion mengguncangkan lengan atas kiri Ino, "Julukkan macam apa, itu?"
"Aku mendengarnya dari Sakura, kata Sakura penggemar Sasuke menjulukkinya begitu," Shion menaikkan sebelah alisnya sembari menatap bingung pada Ino, "Sakura itu penggemar Sasuke, meski bukan penggemar berat sih, tapi dia cukup sering beberapa kali menonton film yang kau bintangi."
Sasuke tersenyum tipis.
Namun dalam dirinya, sebenarnya dirinya dilanda kegugupan luar biasa. Untung saja dia seorang aktor dan seorang Uchiha. Apa hubungannya dengan dia menjadi seorang Uchiha? Para Uchiha seperti memiliki sebuah sifat turun menurun yakni berwajah datar disetiap kesempatan. Dan karena profesinya sebagai aktor yang sudah sering sekali akting, dia sama sekali tidak menunjukkan keantusiasaannya maupun kegugupannya ketika akhirnya bisa mengobrol secara langsung dengan seorang perempuan pujaannya.
Detak jantung Sasuke berdetak tidak karuan begitu tangan kecil Ino menjabat tangannya saat mereka berkenalan, dan tidak tahan melihat seulas senyum yang Ino berikan kepadanya. Sasuke menahan dirinya untuk tidak berbuat di luar dugaannya saat ini. Seperti langsung merengkuh Ino ke dalam pelukkannya, misalnya. Tentu hal itu akan sangat canggung dan memalukan. Terlebih Ino memanggilnya dengan julukkan yang sudah sering Ia baca di kolom komentar media sosialnya yang di isi oleh para penggemarnya yang menjulukinya seorang Sex God karena wajah super tampannya, dan karena beberapa potong adegan ciuman panas yang dia lakukan dengan lawan mainnya di film yang dia bintangi.
"Jadi, Naruto, apa kau punya kekasih?" tanya Tayuya dengan senyum meledek.
Naruto menggeleng, "Tidak ada."
"Ya Naruto memang tidak punya kekasih, tapi punya banyak wanita simpanan kalau kau mau tahu," ucap Ino sembari tersenyum manis.
"Jangan mengada-ngada Ino," Naruto memutar bola matanya kesal.
Ino melirik ke arah Shion yang sedikit menampakkan ekspresi kecewanya. Ino menahan dirinya untuk tidak tertawa melihat kekecewaan temannya itu mengetahui kalau Naruto memiliki banyak wanita simpanan meski Naruto sama sekali tidak memilikinya. Pemuda itu lebih senang berkencan satu malam atau kencan dalam waktu singkat saja.
"Ups, ada yang cemburu ya," goda Ino, "Bercanda kok, Shion. Naruto sedang single dan free," lanjut Ino sambil menyikut Shion. Shion yang mendengarnya langsung menunduk malu, berusaha untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah. Naruto melemparkan senyum kecil dan mengusap tengkuknya canggung. Biasanya dia bisa menggoda para perempuan yang berada di dekatnya, tapi rasanya kali ini akan sangat canggung kalau menggoda Shion. Terlebih gadis itu merupakan tuan rumah dari pesta yang dia datangi.
"Kalau kau, Ino?" tanya Tayuya.
"Apa?"
"Kau punya kekasih?"
Shion langsung bertingkah dengan heboh, "Memangnya kau tidak pernah melihat media? Ino beberapa kali tertangkap kamera paparazzi maupun kamera penggemar sedang berdua dengan vokalis band terkenal itu! Sabaku Gaara!"
"Oh, tipemu merupakan seorang penyanyi, hm?" Sasuke yang sedari tadi hanya diam memperhatikan tiba-tiba ikut menimbrung.
"Err, Shion, kayaknya kau terlalu heboh deh…" Shion memasang cengiran lebarnya pada Ino, "Oh, dan tipeku bukan hanya seorang penyanyi. Hanya kebetulan saja kalau Gaara seorang penyanyi, aku menyukainya karena kepribadiannya," balas Ino sambil tersenyum-senyum saat wajah Gaara melintas dalam pikirannya.
Sasuke menganggukkan kepalanya lalu langsung menegak champangenya, berusaha menutupi kekecewaannya mendengar Ino yang terdengar begitu bersemangat menceritakan tentang Gaara kepada Shion dan Tayuya.
"Uchiha."
Naruto menyikut Sasuke pelan. Sasuke menoleh dan menaikkan alisnya, seakan berkata 'apa?' tanpa bersuara sama sekali.
"Apa kau kenal dengan semua orang di sini?"
"Tidak juga."
Naruto ber-ohh ria lalu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kedua bola matanya jelalatan memandang seluruh tamu pesta yang diundang oleh Shion. Beberapa kali matanya menangkap perempuan-perempuan yang menarik baginya, tapi entah mengapa malam ini dia tidak berniat membawa salah satu dari perempuan-perempuan itu untuk menjadi teman kencan singkatnya.
"Kalian saudara sepupu?"
Naruto menoleh begitu cepat ke sampingnya, mendengar Sasuke yang tiba-tiba buka suara. Sesungguhnya, Naruto tidak menyangka kalau pemuda di sampingnya itu akan membuka suara terlebih dahulu. Meski ini pertemuan pertama mereka, Naruto cukup mengerti kalau Sasuke bukanlah tipe orang yang akan banyak bicara dan yang akan memulai pembicaraan terlebih dahulu.
"Ya, begitulah. Saudara sepupu yang hubungan darahnya agak jauh sebenarnya. Kakek Ino dari pihak Ayah merupakan kakak dari Nenek ku dari pihak Ibu ku. Tapi karena kami sudah terbiasa bersama sedari kecil, makanya kami sangat dekat," Sasuke bergumam pelan membalasnya dan menganggukkan kepalanya. "Kalau kau?"
"Hanya memiliki seorang kakak laki-laki, Itachi Uchiha namanya."
Naruto langsung heboh begitu mendengarnya, "Woah, kau adik Itachi Uchiha? Meski dari awal aku sudah menduganya karena kalian memiliki nama keluarga yang sama, namun aku tidak menyangka kalau kau benar-benar adik kandungnya.
"Dia itu hebat sekali! Sesosok pengacara yang jenius! Dia pernah menjadi pengacara untuk perusahaan Wine milik Ayah Ino, ya kan, Ino?" lanjut Naruto sambil menepuk-nepuk bahu adik sepupunya.
"Ada apa?" tanya Ino yang sedari tadi masih sibuk meladeni hujanan pertanyaan dari Shion dan Tayuya mengenai hubungannya dengan Gaara, sehingga tidak begitu memperhatikan percakapan antara Naruto dan Sasuke.
"Itachi Uchiha pernah jadi pengacara untuk perusahaan Ayahmu, bukan?"
"Oh iya, benar. Kenapa memang?" tanya Ino bingung.
"Sasuke merupakan adik kandungnya," balas Tayuya.
Ino memelotot kaget, "Eh, benarkah? Tapi kalau dilihat-lihat kalian memang mirip sih…"
Sasuke membalasnya dengan senyuman tipis singkat.
"Shion! Tayuya!"
Shion dan Tayuya menoleh ke arah dari panggilan untuk mereka berasal. Di sudut lainnya dari club, ada seorang perempuan berambut coklat sedang melambai pada mereka berdua. Shion dan Tayuya pun pamit sebentar untuk menghampiri teman mereka itu. Sementara Naruto izin untuk pergi ke toilet dan akan mengambil minum untuk dirinya dan Ino setelahnya.
Tersisalah Ino dan Sasuke ditempat mereka tadi.
"Kau terlihat sangat keren dengan kostum mu, Sasuke. Aku suka sekali karakter yang sedang kau pakai ini!" puji Ino dengan senyum lebarnya.
Sasuke sampai sempat terpana melihat senyum yang Ino berikan untuknya, "Terima kasih. Karakter Erik sebagai Phantom yang misterius memang keren."
Ino seketika terlihat begitu antusias, "Iya kan! Aku suka sekali menonton pertunjukkan musikalnya. Rasanya kalau menonton sekali saja tidak cukup!"
"Kau membaca bukunya?"
"Iya, aku membaca yang versi asli dari bahasa Prancisnya."
"Kau bisa berbahasa Prancis?" sebuah pertanyaan retorik dari Sasuke yang tetap dia tanyakan padahal dia sudah tahu jawabannya karena dirinya yang sempat mencari-cari di internet mengenai gadis pujaan hatinya tersebut.
"Ya. Ibu ku merupakan orang Prancis, dan dia suka memberiku buku berbahasa Prancis untuk ku baca."
"Ahh," Sasuke menanggapinya.
"Anyway, setahu ku kau pernah bermain untuk Romeo and Juliet tidak, sih?"
"Ya, pernah. Kenapa?"
"Apa kau masih ingat beberapa dialognya?" tanya Ino antusias.
Sasuke terlihat berpikir sebentar, "Beberapa iya. Aku cukup sering membacanya juga, salah satu buku klasik kesukaanku."
"Keren sekali! Kau suka baca klasik ya? Aku juga suka membaca klasik. Menurut ku mereka merupakan sebuah mahakarya yang sangat luar biasa!" Ino mengatupkan kedua telapak tangannya dengan raut wajah yang berbinar-binar menghadap ke Sasuke. Membuat Sasuke ingin sekali mencubit kedua pipi Ino dengan gemas.
"Apa buku favorit mu?"
"Anna Karenina dan Pride and Prejudice, kau?"
"The Great Gatsby dan Wuthering Heights."
"Wow, keren! Sasuke sepertinya kita harus bertukar kontak untuk sesekali mengobrol mengenai buku klasik! Aku tidak begitu memiliki teman yang suka membaca buku klasik, yang suka membaca sih banyak, tapi biasanya mereka membaca karya modern. Gaara saja tidak bisa ku ajak untuk mengobrol mengenai buku klasik, huh."
Sasuke diam-diam menyeringai penuh kemenangan. Ini bisa menjadi salah satu keuntungannya untuk bisa menjadi teman Ino. Terlebih ketika Ino mengatakan kalau kekasihnya itu tidak bisa diajak berbicara mengenai buku klasik, sebuah nilai tambahan untuk Sasuke. Meski Sasuke pernah berkata pada Itachi kalau dia tidak akan berniat untuk mendekati Ino, semua pemikiran itu dia tepis begitu saja ketika melihat sosok Ino dari dekat dan ketika mereka berjabat tangan. Sosok yang membuatnya bisa melupakan dunia disekitarnya dan kehilangan oksigennya sementara karena begitu terpana dengan kecantikan dara muda yang berada di hadapannya.
Rambut pirang platina Ino terlihat begitu lembut, membuat Sasuke ingin mengulurkan tangannya dan mengusap rambut itu dengan lembut. Iris mata Ino yang berwarna biru juga terlihat begitu indah dan cerah, memancarkan kebahagiaan. Bibir Ino terlihat sangat menggoda bagi Sasuke, senyumannya begitu menyihir dirinya dan hanya dengan memperhatikan Ino ketika gadis itu sedang berbicara saja membuatnya ingin menginterupsi Ino dengan sebuah ciuman di bibirnya.
Ino Yamanaka merupakan sosok gadis sempurna yang tidak pernah Sasuke sangka akan begitu ia idam-idamkan. Gadis ini benar-benar menarik hatinya, terlebih ketika mendengar suara lembutnya. Sasuke merasa setelah ini, bisa jadi dia akan menjadi gila hanya karena tidak dapat mendengar suara Ino di telinganya. Panggil Sasuke gila, pada kenyataannya dirinya memang sudah tertarik dengan paras Ino sejak awal, dan semakin besar rasa ketertarikkannya ketika akhirnya mendapat kesempatan untuk berbagi cerita dengan sang gadis pada malam ini.
Sasuke bersumpah, ketika datang hari dimana Sabaku Gaara melepaskan Ino, dia tidak akan menyia-nyiakan waktu itu dan akan dengan senang hati mengambil gadis di hadapannya dan merengkuhnya dalam dekapannya, selamanya.
Sasuke merasa jijik dengan dirinya yang begitu mendambakan Ino, namun persetan dengan itu semua. Dirinya sudah benar-benar jatuh cinta pada sosok yang sedang tersenyum manis setelah Sasuke mengetikkan nomor telponnya di handphonenya.
"Oh iya, Sasuke, kau ta–"
Ino tiba-tiba saja oleng begitu seseorang secara tidak sengaja menabraknya dari belakangnya. Ino hampir saja terjembab ke depan kalau tangan Sasuke tidak sigap untuk menangkap gadis itu sebelum dia tejatuh. Kedua tangan Ino otomatis menggenggam erat lengan atas Sasuke, tepat pada otot bisep Sasuke yang terasa begitu kencang. Sementara kedua tangan Sasuke berada pada pinggang Ino, posisi Ino yang sudah setengah jatuh membuat wajah Ino tepat berada di depan dada bidang Sasuke.
Ino mendongakkan kepalanya, memandang Sasuke yang lebih tinggi darinya sedang menunduk ke arahnya. Menatap iris birunya begitu dalam, seakan dirinya sedang berenang dalam indahnya iris biru sewarna laut bebas pada mata Ino. Ino sendiri sempat terpana melihat paras Sasuke yang dia akui sangat amat tampan. Akan tetapi dirinya langsung mengingat kekasihnya yang kini sedang berada di Birmingham. Ino langsung melepaskan dirinya dari Sasuke sesaat rasa kaget akan dirinya yang tetiba akan jatuh begitu saja sudah hilang. Sasuke juga melepaskan tangannya dari pinggang Ino. Suasana di antara mereka seketika menjadi canggung. Baru Ino ingin membuka mulutnya untuk melepas kecanggungan di antara mereka, Naruto datang membawakan dua gelas champagne untuk Ino dan diri Naruto sendiri.
"Ino, ini minuman mu."
"Terima kasih."
Ino langsung meraih gelasnya dari tangan kanan Naruto, lalu langsung menyesapnya. Naruto pun langsung menepuk bahu Sasuke dan mengajaknya untuk mengobrol bertiga dengan Ino, menghilangkan kecanggungan di antara mereka yang tidak Naruto sadari.
.
.
.
.
Birmingham, Inggris
Di pinggiran kota Birmingham yang dekat dengan perbatasan dengan Wolverhampton, berdiri sebuah mansion mewah dengan gaya modern dengan dominasi cat warna putih. Mansion yang merupakan kediaman Kakek dan Nenek Gaara dari pihak Ayahnya, pada hari sabtu ini menjadi tempat untuk merayakan pesta ulang tahun Kakeknya yang ke 80 tahun. Sabaku Reto, Kakeknya, lebih memilih untuk tinggal di Birmingham dan membangun sebuah Mansion di sana ketika pada akhirnya dia menyerahkan semua urusan bisnisnya kepada anaknya, Sabaku Rasa.
Keluarganya baru saja pulang dari pemakaman untuk berziarah ke makam Neneknya. Sudah menjadi tradisi penting bagi keluarga Gaara jika sedang mengunjungi Birmingham untuk ziarah ke makam Neneknya. Sementara seluruh anggota keluarganya sedang mengobrol dengan beberapa kerabat dekat mereka di dalam Mansion, Gaara lebih memilih menyendiri di balkon belakang atas Mansion, yang mengarah ke hamparan lapangan berwarna hijau yang luas. Dia bahkan bisa melihat lapangan golf tempat Ayah dan Kakeknya biasa bermain dari balkon itu.
Rambut merah gelapnya berkibar tertiup angin musim gugur. Hari sudah pukul 3 sore, jam setengah 5 nanti keluarga mereka akan mengadakan acara minum teh yang akan dilanjutkan dengan makan malam. Gaara memandang hamparan hijau yang terbentang luas di hadapannya. Sebuah pemandangan yang menyejukkan hati dan juga pikirannya. Sebatang rokok yang baru terbakar tengah terapit di jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya.
Sejujurnya dia cukup kecewa karena tidak bisa ikut Ino untuk ke pesta Halloween temannya. Tapi mau bagaimana lagi, dia juga tidak bisa meninggalkan acara keluarganya begitu saja, terlebih ulang tahun Kakeknya, dimana pada hari-hari seperti ini lah keluarganya bisa berkumpul dengan lengkap. Gaara begitu mencintai keluarga yang dia miliki, tidak akan pernah terbayang olehnya apa yang akan terjadi kalau dia kehilangan salah satu dari mereka.
Gaara menghisap batang candu miliknya lalu menghembuskan asapnya secara perlahan. Dirinya selalu dihantui pemikiran kalau-kalau hubungannya dengan Ino kandas begitu cepat, terlebih melihat reaksi penggemarnya terhadap rumor mereka berdua. Gaara sampai harus mematikan kolom komentar di media sosialnya dan jarang mengunggah hal-hal baru karena takut dengan komentar para penggemarnya mengenai hubungannya dengan Ino. Dia tidak ingin hal-hal yang terjadi kepada mantan-mantan kekasihnya terlebih dahulu terjadi lagi kepada Ino.
"Gaara!"
Pemuda berambut merah itu sama sekali tidak menoleh ke belakangnya, dimana suara itu berasal. Gaara cukup sadar kalau suara yang memanggilnya tersebut sedang berjalan ke arahnya.
"Ugh, kau merokok?!"
Gaara menoleh ke sampingnya, Sakura Haruno berdiri di sampingnya dengan tatapan kesal melihat sebatang rokok yang masih setia bertengger di bibir Gaara. Gaara tidak menjawab apa-apa, gadis itu sudah bisa melihat dengan dirinya sendiri harusnya kalau Gaara sedang merokok.
Sebagai keponakan jauh dari pihak Ibunya, Sakura yang sedang tinggal sendirian di Inggris memang dititipi pengawasan oleh Mebuki Haruno, Ibu gadis itu, kepada Sabaku Karura. Jadi dalam waktu selama Gaara memiliki acara dengan keluarga besarnya, Sakura selalu diajak ikut oleh Karura.
"Banyak yang sedang kau pikirkan, ya? Tentang album baru, kah?" Gaara sudah membuang puntung rokoknya, Sakura menatap saudara jauhnya itu dengan tatapan penasaran.
"Hm."
"Ino, ya?"
Gaara terdiam, tidak menjawab apa-apa, pandangannya tetap lurus ke depannya. Namun ekspresinya menunjukkan sedikit raut kesedihan. Dan Sakura terlalu menyadari perubahan raut wajah tampan Gaara.
"Ada apa?" Gaara tetap tidak menjawab pertanyaan Sakura. Sakura sendiri tidak marah, dia sudah cukup mengenal kalau Gaara bukanlah tipe orang yang bisa menceritakan secara gambling masalah dan apa yang sedang dirasakannya, kecuali kepada Ibunya. Itupun kalau Ibunya sudah memaksa. Gaara merupakan pribadi yang tertutup. "Kau tahu kalau tidak baik bukan memendam masalahmu sendiri. Aku juga sahabat Ino sejak lama, setidaknya aku sangat mengenal sifat-sifatnya. Aku bukan orang asing dalam hidup kalian berdua, tahu."
"Gaara…"
Kali ini Gaara menoleh.
"Kenapa Ino?"
"… Ino…"
Sakura tersenyum kecil, Gaara mau membuka mulutnya. Meski pandangan Gaara langsung teralih lagi pada pemandangan lapangan hijau di depannya.
"Ino luar biasa sempurna. Meski terkadang suka mengeluarkan komentar tidak menyenangkan kepada teman-teman dekatnya, sesungguhnya dia adalah pribadi yang hangat. Dia bisa membuatku bercerita kepadanya mengenai keluh kesah sehari-hari ku, aku bisa mempercayainya begitu cepat sejak pertama aku bertemu dengannya. Ino tidak hanya cantik secara paras, tetapi hatinya juga sangat cantik. Saat di Verona, begitu melihat seorang remaja yang tinggal dipinggir jalan, dia bahkan mengajak remaja tersebut untuk makan dan membelikan dua pasang pakaian baru. Ino selalu suka bercerita mengenai hari-harinya, dan dia selalu bercerita dengan semangat, matanya selalu memancarkan kebahagiaan."
Sakura mendengarkan dengan seksama, membiarkan Gaara terus berbicara mengenai Ino.
"Ino…." Gaara mendesah pelan, "Akan terdengar seperti omong kosong kalau aku mengatakan bahwa dia berbeda dari perempuan-perempuan lain yang pernah aku kencani. Meski kenyataannya adalah seperti itu. Sesuatu tentangnya begitu menarik diriku untuk jatuh sedalam-dalamnya kepadanya. Ino membuat rumah baru bagiku, salah satu rumah ternyaman untuk ku pulang. Kedua bola matanya selalu berhasil untuk menghipnotisku. Kau tahu, Sakura, saat kau menatap matanya, rasanya seperti kau berenang di laut bebas dan tidak akan takut kalau kau tenggelam, karena kau tahu, saat itulah dimana kau akan bertemu dengan rumah mu."
Gaara tersenyum tipis.
"Aku selalu merasa, apakah tidak terlalu cepat ketika aku merasa kalau aku jatuh cinta kepadanya. Aku terus memikirkan mengenai reaksi para penggemar dan media. Aku mencintai pekerjaanku, tapi mengenai hidupku yang akan selalu menjadi konsumsi media membuatku muak. Aku takut Ino terluka karena tingkah para media yang seakan tidak akan pernah puas untuk mengulik kami dan membuat berita-berita yang tidak-tidak hanya agar mereka mendapatkan perhatian khayalak umum. Aku benci melihat banyak orang di media sosial yang mengatakan kalau mereka mendukungku, tetapi tetap menghujat Ino hanya karena dia mengencaniku. Persetan!"
Gaara menjambak rambutnya frustasi. "It's like she's so fragile and I couldn't let anything hurt her, or else I would blame myself."
Sakura terdiam. Gaara tidak kunjung melanjutkan ucapannya.
"Aku setuju kalau Ino merupakan sosok yang luar biasa. Ino memang menakjubkan. Dia yang pertama kali membuatku percaya kepada diriku sendiri, untuk tidak menghiraukan segala ucapan jahat anak-anak lain di Sekolah Dasar mengenai dahi ku yang lebar ini. Ino yang pertama kali mendatangi ku dan berkata kalau aku adalah seseorang yang cantik," Sakura tersenyum mengingat masa kecil mereka, "Tanpa Ino, aku tidak akan bisa merasa sepercaya diri sekarang."
"I love her…"
Sakura memelototkan bola matanya terkejut mendengar ucapakan Gaara.
"Gaa–"
"She's a perfection that I never know I could have."
Tatapan Gaara memang tidak mengarah kepadanya, namun Sakura dapat melihatnya, tatapan penuh kasmaran dari Gaara. Bibir Gaara membingkai sebuah senyuman. Kedua tangannya dia sandarkan kepada pagar balkon Mansionnya.
"Terima kasih karena sudah begitu mencintai Ino, Gaara," Sakura menepuk pelan bahu saudara jauhnya itu. Gaara tidak bergeming sama sekali. Wajah Ino dan beberapa kenangan mereka tengah berkeliaran dengan liarnya dipikirannya. Gaara tenggelam pada pikirannya sendiri. Ino benar-benar membuatnya tergila-gila dan jatuh cinta se dalam-dalamnya.
"Gaara! Sakura!"
Keduanya menoleh ke arah pintu balkon Mansion. Temari sedang berdiri di sana. Si Sabaku sulung itu melipat kedua tangannya di dadanya, menatap adik bungsu dan adik saudara jauhnya itu dengan tatapan tenang sekaligus sedikit memancarkan penasaran, sejujurnya Temari memang penasaran dengan hal apa yang mereka bicarakan.
"Ayo masuk, Ayah dan Kakek mengajak untuk pergi bermain golf. Baru setelah itu kita akan makan malam."
Sakura beranjak mendekati Temari, "Tidak ada acara minum teh?"
"Tidak jadi. Kakek lebih memilih untuk pergi bermain golf. Acara minum teh bisa dilaksanakan besok sore. Kakek lebih memilih seperti itu," balas Temari. Sakura mengangguk mendengarnya. Keduanya menatap Gaara yang masih setia dengan posisinya di balkon. "Apa yang kalian bicarakan?"
"Tidak ada apa-apa, hanya membicarakan mengenai Ino," ucap Sakura sambil melambaikan telapak tangan kanannya pada Temari.
"Ah, sayang sekali Ino tidak bisa ikut ya. Padahal Gaara saja sudah pernah ikut acara keluarganya di Yamanaka Manor," ucap Temari dengan sedikit nada kecewa.
"Ino tidak bisa meninggalkan pestanya. Pesta itu dibuat oleh salah satu teman dekatnya yang sudah lama tidak bertemu, memang sungguh disayangkan, tetapi mau bagaimana lagi, kan?" kata Sakura dengan sebuah senyum memaklumi.
Temari mengangguk-anggukkan kepalanya, "Sesungguhnya aku senang Gaara mengencani seseorang seperti Ino. Aku dan Ibu juga bisa mengandalkan Ino untuk menjaga Gaara ketika dia tidak di rumah dan mengontrol apa yang bocah itu makan. Lagipula Sakura, kalau ternyata dia merupakan sahabatmu, kenapa tidak dari dulu saja sih kau kenalkan kepada Gaara?! Biar mereka mengenal lebih awal."
Sakura meringis mendengar nada galak keluar dari Temari, "Yah, habis jadwal ku kan cukup padat juga di Rumah Sakit. Terlebih Ino juga sering berada di luar negeri karena pekerjaannya, Gaara juga begitu. Hanya sebuah kebetulan saja mereka bisa bertemu waktu itu setelah menghadiri acara peragaan busana dari Balmain. Kalau tidak, mungkin sampai sekarang pun mereka belum bertemu juga."
"Iya juga ya," Temari tertawa lalu menepuk-nepuk pundak Sakura, "Terima kasih ya sudah mengenalkan Ino kepada adikku."
Sakura tersenyum, "Tidak masalah. Aku juga merupakan pihak yang senang karena mereka bersama."
Temari melemparkan senyum manisnya, meski terlihat sangat galak, namun sebenarnya Temari merupakan sosok Kakak yang sangat peduli dan menyayangi kedua adik laki-lakinya. Tentu saja Temari ingin sosok perempuan yang sempurna untuk kedua adik laki-lakinya. Temari ingin mereka berdua terus berbahagia dan akan ada seseorang yang akan memperhatikannya dan menyayanginya seperti Temari sangat memperhatikan dan menyayangi Kankurou dan Gaara.
Dan sekarang, Gaara sudah menemukan orang tersebut, hanya tinggal Kankurou yang masih di jalan untuk menuju mendapatkan gadis impian yang menurut Temari pantas untuk mendampingi Kankurou.
Gaara sudah berjalan menghampiri mereka berdua. Temari segera meraih lengan adik bungsunya itu dan mengamitnya, membawa Gaara menuju lantai bawah dimana Ayah, Kakeknya dan Kankurou sudah bersiap untuk pergi bermain golf.
"Gaara, berbahagialah terus. Aku selalu mendoakan kebahagiaanmu," ucap Temari sembari mengelus lembut rambut merah gelap milik adiknya. Sakura tersenyum kecil melihat pemandangan itu, sebagai anak tunggal, dirinya tidak memiliki seorang saudara untuk berbagi, memiliki Ino, Naruto, Kiba dan Shikamaru sebagai sahabatnya sudah merupakan hal yang sangat dia syukuri karena mereka bisa menjadi tempat bagi Sakura untuk berbagi cerita senang maupun sedih.
.
.
.
.
The Groucho Club, Soho
Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, dan sebagaian besar dari tamu undangan pesta milik Shion sudah pulang. Mungkin hanya sekitar seperempat saja yang masih bertahan, namun sebagian dari mereka pun sudah bersiap-siap ingin beranjak pulang.
Tayuya sudah sedikit mabuk, dirinya terlalu menikmati minuman alkohol pada pesta malam ini. Begitu pula dengan Shion, dirinya sudah sadar tidak sadar, pipinya memerah dan beberapa kali omongannya terdengar sudah melantur. Hanya Ino, Naruto dan Sasuke yang masih seratus persen sadar.
Shion tengah menyandarkan pipinya dibahu kanan Naruto, jari jemari lentiknya mengusap-usap dagu Naruto sembari berkata banyak kalimat pujian untuk pemuda itu. Tayuya sudah menelungkupkan kepalanya di lipatan tangannya di meja bar. Mereka berlima sedang bersandar di meja bar, memperhatikan sekeliling mereka yang mulai sepi.
"Shion! Aku pulang dulu ya, terima kasih atas pestanya!"
Begitulah beberapa kali terdengar sapaan dari para tamu, yang tidak dapat begitu digubris dengan normal oleh Shion, jadilah Ino dan Sasuke yang menjadi juru bicara Shion kepada tamu-tamunya yang pamit pulang.
"Naruto…"
Ino sampai bergidik ngeri mendengar suara Shion yang memanggil Naruto. Shion seperti sedang menggoda sepupunya itu, dan Ino tahu kalau itu sama saja memancing Naruto untuk, yah, kau tahu, bercinta sepanjang malam.
Naruto menyeringai mendengar lantunan pelan Shion memanggil namanya, tangan kanannya sudah melingkar pada pinggang Shion, menopang gadis itu untuk tidak oleng karena tingkahnya sendiri yang tidak bisa diam.
Sasuke dan Ino sampai saling memandang melihat pemandangan di sebelah mereka. "Shion benar-benar memancing Naruto itu namanya!" bisik Ino pelan pada Sasuke, agar Naruto yang berdiri di sebelahnya tidak mendengar apa yang dia bicarakan.
Sasuke mengangkat sebelah alisnya, posisinya yang berada di sebelah kiri Ino, membuatnya harus sedikit menoleh ke kanan, untuk melihat Naruto dan Shion yang sedang saling merangkul. "Sepertinya kau tidak akan pulang bersamanya," ucap Sasuke pelan. Ino mendesah, kalau dipikir-pikir Sasuke ada benarnya juga, sepertinya Naruto berniat membawa teman dekatnya itu untuk langsung pergi ke flat Naruto tinggal.
"Oi! Kalian!"
Naruto dan Shion yang sudah hampir berciuman langsung menoleh ke arah Ino yang memanggilnya dengan nada penuh kekesalan. "Get a room you two!"
"Oh, dengan senang hati!" ucap Naruto dengan cengiran lebarnya. "Ino kau ingin pulang sekarang?"
"Iy–"
"Pulang dengan taksi saja ya, bye!" Naruto melingkarkan kedua tangannya di pinggang Shion sembari berjalan bersama keluar dari club.
"Naruto sialan! Yang benar saja!" seru Ino geram, mengepalkan tangan kanannya dan mengarahkannya kepada Naruto.
"Kau pulang denganku saja, sekalian aku mengantar Tayuya," ucap Sasuke. Ino menoleh ke arahnya, memberikan tatapan skeptisnya. "Aku tidak mungkin membiarkanmu pulang naik taksi, kan? Sudah hampir tengah malam, tidak baik untuk kau pulang sendiri."
Ino mendesah pelan, "Oke deh. Tayuya tinggal dimana?"
"Pimlico. Kau?"
"Kennington."
"Berarti kita akan mengantar Tayuya dulu, baru aku akan mengantarmu," Sasuke menepuk-nepuk bahu Tayuya. Tayuya mengangkat kepalanya, ekspresinya sudah begitu sayu, sepertinya dia sempat tertidur. "Ayo pulang, aku akan mengantarmu."
Tayuya mengangguk dan beranjak dari kursi tinggi yang dia duduki. Dia berjalan pelan menuju pintu keluar, diikuti oleh Sasuke dan Ino. "Kau tinggal dimana, Sasuke?"
"Oaklands Estate."
"Jauh juga," kata Ino. Tayuya berhenti di depan BMW 8 berwarna putih milik Sasuke. Sasuke membuka mobilnya, Tayuya langsung duduk di belakang dan tiduran begitu masuk ke dalam. Sasuke membukakan pintu penumpang depan untuk Ino, dan mempersilahkan gadis itu untuk masuk.
Setelah Sasuke sudah masuk ke kursi supir, dia langsung menghidupkan mobilnya dan menjalankan mobilnya membelah kota London di malam hari. Tidak ada percakapan yang terjadi di antara mereka. Ino sibuk mengecek handphonenya untuk mengetahui apakah ada pesan singkat atau telefon dari Gaara yang tidak dia sadari. Ternyata hanya ada dua buah pesan singkat dari Gaara yang mengabari kalau dirinya habis bermain Golf dengan Kankurou, Ayah dan Kakeknya. Dan pesan satunya lagi berisi ucapan selamat beristirahat dan selamat malam dari Gaara. Ino membalasnya kembali dengan mengucapkan selamat malam kepada Gaara. Seutas senyum muncul di wajah cantiknya.
Sasuke melirik sekilas pada Ino, melihat senyum Ino yang mengembang, Sasuke pasti tahu itu dari Gaara karena mata gadis itu yang tidak lepas dari layar handphonenya. Hatinya menjadi panas, melihat Ino yang tersenyum lebar hanya karena sebuah pesan singkat dari Gaara yang bahkan tidak dia ketahui isinya seperti apa. Sasuke menggelengkan kepalanya sebelum dirinya berpikir yang tidak-tidak, lalu kembali memfokuskan dirinya pada jalanan di depannya.
Setelah tidak ada percakapan sama sekali dari mereka sampai akhirnya mereka sampai di flat Tayuya, Ino akhirnya membuka suaranya, "Kau masih single?"
Sasuke menoleh sekilas, Ino ternyata sedang memandangnya dengan penuh penasaran, "Ya."
"Kenapa?"
"Sedang tidak ada yang pas saja."
"Ah, begitu."
Ino kembali terdiam, dirinya juga dilanda kebingungan harus berbicara apalagi.
"Apa dekat-dekat ini kau sedang ada proyek untuk film baru?" tanya Ino pada akhirnya. Dia menyerah juga kalau perjalanan pulang mereka hanya diisi keheningan.
"Belum sih, terakhir aku sempat ditawari untuk sebuah peran utama tapi aku tidak begitu menyukai ceritanya. Aku menolaknya," jawab Sasuke. Ino mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Sasuke melanjutkannya, "Kalau kau? Ada proyek baru untuk karirmu?"
"Sedang tidak sih, aku hanya sedang membantu Ibu ku untuk merealisasikan impiannya membuka brand pakaian miliknya. Sudah 80% jadi, jadi aku sedang membantu banyak persiapannya."
"Semoga sukses untuk Ibu mu."
Ino tersenyum, "Terima kasih. Oh iya, flat ku yang berada dekat mobil Mercedez hitam itu parkir," ucap Ino sambil menunjuk mobil yang dimaksud.
Sasuke berhenti tepat di belakang mobil Mercedez hitam itu.
"Terima kasih sudah mengantarku pulang. Naruto memang kurang ajar, biar aku adukan kelakuan dia kepada bibi Kushina," sunggut Ino kesal, Sasuke tersenyum miring mendengarnya. "Bye Sasuke, ternyata kau orang yang menyenangkan juga! Terima kasih ya, sampai bertemu lain waktu!"
Ino turun dari mobil Sasuke setelah menepuk pundak laki-laki itu sebanyak dua kali, lalu dirinya melambaikan tangannya ke arah Sasuke yang masih di dalam mobil. Sasuke membalas lambaiannya dan tersenyum kecil. Ino langsung melangkah memasuki flatnya dan pandangan gadis pirang itu hilang dari mata Sasuke.
"Ino Yamanaka… aku akan mendapatkan mu."
.
.
a/n: HAAHHH AKHIRNYA BISA UPDATE PART 8! Setelah minggu-minggu gila, kayak surat ujian proposal ku yang keluar h-2 ujian, jadi panik sendiri dan untungnya aku lulus ujian proposal ku jadi bisa lanjut skripsi:") meski revisian proposalnya belom ku kerjain HAHAHAHA terus setelah ujian proposal langsung diserbu pengumpulan berkas lomba ku karena udah deadline:") astaga minggu lalu bener-bener minggu gila banget dan aku sempet merasa kosong banget makanya baru bisa update sekarang, jadi maafkan ya kalian harus nunggu lama:(
aku sengaja bikin chapter panjang, semoga kalian puas bacanya ya, akhirnya yang kalian semua tunggu-tunggu yaaa! SasuIno akhirnya ketemu kannnn, dan sampe dianter pulang loh sama Sasuke:p semoga kalian suka part SasuInonya karena dipart ini GaaIno lagi libur dulu hahaha. aku masih setia menunggu review dan kritik dari kalian terhadap cerita ini, makasih karena udah terus menunggu aku buat update meski updatenya lama dan gak menentu:")
.
.
balas-membalas review!
Cloesalsabilaahh: wish kamu tercapai nih.. ada adegan sasuino di pestaa! semoga suka yaaa
Saiinojin: iya ni gaaino makin lengket, hmm hayoo emang mau kalau sasuke jadi pelakor?:p
Kyudo YI: OMG IYA JUGA HAHAHAHA aku bahkan gak sadar kalau gaaino jadi mengingatkan sama Zayn dan Gigi, btw Gigi udah lahiran yaa huhuuu makasih udah nunggu ceritanya yaa!
xoxo: arctic monkeys keren banget gak sihhh *cry* seneng aku kalau kamu bacanya sambil nyanyi juga!
Minty: aw makasih karena suka karakter sasuke:) gaara sebenernya maunya apasihhh *pukul gaara* hmm, yah prediksi kamu salah nii:p malah jadi Naruto yang sama Shion hahahaha makasih semangatnya!
uchihayamanaka: dipart ini ada sasuino nih... semoga sukaa!
terima kasih kalian semua atas reviewnya!
