Warning!
Chapter ini bakalan songfic. Demi kenyamanan halusinasi dan imajinasi readers yang budiman, silahkan search dan dengarkan lagu dengan playlist berikut:
-Matahariku, Agnes Monica.
-Salahkan Aku Terlalu Mencintaimu, Fatin.
-Berharap Tak Berpisah, Reza Artamevia.
-Lihatlah Lebih Dekat, Sherina Nurul
-Cinta, Melly Goeslaw
-Bahasa Kalbu, versi paduan suara arransemen Dinar Primasti.
Kenapa? Karena bagian nyanyi-nyanyi yang bakalan dicantumkan dalam chapter kali ini berdasarkan imajinasi dan hearing-tuning author, kecuali lagu Lihatlah lebih dekat dan Bahasa Kalbu yang pernah dinyanyiin author waktu masih jadi anak paduan suara. Siapkan youtube atau spotify kalian sebagai bahan halu. Nggak bisa ngasih denger lagunya euy susah, silahkan kalian berhalu seliar mungkin hehehe.
Sakunami baru saja kembali dari latihan grup yang dijalankannya pada jam istirahat. Ia hanya melambai lesu pada Koganegawa yang mengatakan 'sampai jumpa' dengan penuh semangat dari depan kelasnya. Gadis mungil itu duduk dan menarik kotak bekalnya dari kolong meja. Lev yang tergiur dengan isi bekal Sakunami menarik bangkunya mendekat dan bergumam.
"Saku-chan, bagi doooong~~"
Sakunami bahkan menjejalkan sepotong sosis berbentuk gurita ke mulut Lev tanpa menoleh. Menyadari bahwa si teman sebangku tidak terlihat baik-baik saja, Lev memutar kepala Sakunami dan menatapnya dalam-dalam.
"Heh, kau kenapa?"
"Uguuu...Lev..." Sakunami bergetar. Pipinya merona dan wajahnya merengut menahan tangis. "Aku...aku ditembak Kogane..."
"Terus?" Tanya Lev, mencomot sebuah onigiri mini yang nasinya berwarna ungu dari kotak makan Sakunami.
"...aku...aku..aku bilang aku mau jadi pacarmu..." Sakunami melipat kedua lengannya ke meja dan menyembunyikan wajahnya. "Aku malu sekali. Rasanya seperti mau meledak."
Lev melongo. Onigiri masih setengah dikunyah di dalam mulut. Pemuda bongsor blasteran itu kemudian berdiri dari bangkunya dan buru-buru lari keluar sambil berteriak panik.
"HINATAAAAAAAA!"
Perbuatan impulsif Lev jelas mengundang pandangan aneh dari orang sekitar. Lev dengan semangat berkobar lari ke dalam kelas Hinata dan menemukan gadis itu tengah latihan di pojok kelas bersama Kageyama, Ushijima dan Sakusa. Sudah tabiat Lev yang tidak bisa baca situasi. Ia menarik tangan Hinata dan mengguncang-guncangkan bahu mungil gadis berambut ginger tersebut.
"Tahu, nggak? Tahu, nggak?!" Serunya riang. "Sakunami sama Kogane jadian!"
"Hah?!" Hinata bergumam tak paham.
Lev menelan sisa onigiri di mulutnya dan kembali mengulang apa yang dia katakan sebelumnya. "Sakunami sama Kogane jadian!"
"Kapan?!" Tanya Hinata, yang mendadak tersenyum cerah.
"Barusan. Barusan banget! Sakunami bilang katanya Kogane nembak dia, dan dia bilang yes!"
"Aaaa, gemess! Gemes bangettttt!" Hinata histeris. Ia dan Lev bertepuk tangan gembira.
BLETAK!
BUK!
"Heh, bokke! Latihan yang benar! Senpai-tachi sampai bela-belain ke kelasmu tapi kau malah ngegosip." Omel Kageyama sambil memberi jitakan mantap di kepala Hinata.
"Sakit!" Omel Hinata sambil mengelus kepalanya sendiri.
"Jangan bikin ribut di kelas orang." Desis Sakusa beriring tendangan ke belakang lutut Lev. Pemuda blasteran itu oleng sedikit sambil mengaduh.
Ushijima yang tampak tak paham dengan apa yang terjadi cuma mengerjap-ngerjapkan mata dengan polos.
"Yacchan sama Yuuki udah tahu, belom?!" Ujar Hinata lagi.
"Belom, belom! Aku mau kasih tahu mereka, ah!"
Hinata hanya terdiam melihat Lev yang dengan tidak santainya berlari heboh entah ke kelas Shibayama atau Yachi. Ia memutuskan untuk kembali melihat kertas lirik lagu yang dibawakan Ushijima, ditambah corat-coret tulisan tangan Kageyama dan Sakusa.
"Terus di bagian ini gimana?" Tunjuk Ushijima di jeda paragraf lirik yang dimaksud.
"Bunyi pianonya gimana, sih?" Kageyama kembali menyetel lagu yang sudah ditentukan oleh Semi via grup LINE Werewolf Heartstring di ponselnya, lalu menggunakan aplikasi piano virtual di ponsel Ushijima untuk menerka nada. "[Hmm hmm hmmm hmm...mmm.. ], A, A, D minor, C, A minor..."
"Kalo bagian ini di chop untuk Hinata dan Wakatoshi-kun, gimana?" Tanya Sakusa, mencoret-coret bagian yang dimaksudnya.
"Grace note naik, terus di bagian ini aku dan Sakusa-san masuk lagi?" Kageyama menambahkan huruf-huruf dan simbol aneh yang Hinata tidak pahami. "Nggak bisa, jomplang."
"Kalau nggak," Sakusa kembali memberikan coretan tambahan. "Aku dan Hinata bisa bermodulasi disini, sementara kau dan Wakatoshi-kun ambil straight tone di bagian refrain. Nah, begitu masuk verse kedua, kau bisa terapkan grace note turun dan naik di part-nya Hinata dan Wakatoshi-kun, lalu masuk kita berdua dengan straight tone. Oke, nggak?"
Kageyama menekan-nekan tuts virtual piano, membayangkan rangkaian nada yang dicorat-coret Sakusa sebelum mengangguk setuju. "Oke, oke. Bagus deh di bagian itu!"
"Ushijima-san?"
Si senpai kelas 3 menoleh begitu Hinata memanggil namanya.
"Tujuan latihan pergrup ini apa? Kupikir mukre itu ekskul paduan suara doang." Ungkapnya.
"Nanti latihannya direkam, dibikin semacam music video indie gitu. Seru, deh." Jawabnya datar dan kalem.
"Wajahmu tidak menggambarkan kalau kegiatan kita ini seru, Wakatoshi-kun." Cibir Sakusa.
Ushijima hanya tersenyum tipis. "Hei, kalau membosankan aku sudah cabut dari jaman dahulu kala, ya. Kau sendiri bilang 'sudah muak' tapi sampai sekarang tidak pernah bolos latihan."
Sakusa terkekeh pelan. "Nggak enak tahu, memulai sesuatu tapi tidak menuntaskannya?"
Hinata menatap kedua kakak kelasnya dengan pipi memerah dan mata berkilauan. Hei, ini betulan Ushijima si muka tembok dan Sakusa si ultra judes? Kenapa mereka berdua terlihat begitu akrab dan bisa sangat tampan saat keduanya tertawa lembut begitu? Ini bukan komik shojo, tapi Hinata bisa melihat rangkaian bunga dan kilau-kilau imajiner ketika kedua kakak kelasnya bercanda mengenai reaksi satu sama lain. Padahal Lev yang dibilang manis oleh cewek-cewek di angkatan Hinata wajahnya bisa begitu berantakan saat tertawa. Jangan lupakan Atsumu yang gantengnya langsung luntur begitu tertawa.
"Hei, Kageyama..." Hinata menarik-narik lengan kemeja Kageyama dan menariknya mendekat untuk berbisik. "Tampang-tampang kayak mereka bisa ketawa juga, ya? Kupikir mereka itu muka tembok hati es batu."
"Kalo Sakusa-san aku juga baru kali ini lihat dia ketawa." Balas Kageyama. "Kalo Ushijima-san itu sebetulnya orangnya lucu, tahu."
"Oh, ya?" Hinata melirik curiga.
Kageyama mengangguk. "Anak-anak kelas 3 yang sering cerita. Ushijima-san itu tipe-tipe orang yang nyablak tapi lawak gitu, katanya."
"Kau juga nyablak tapi nggak pernah lucu." Celetuk Hinata. "Latihan ngelawak sama Ushijima-san, gih."
Kageyama menarik pipi Hinata sampai melar dengan penuh dendam. Gadis mungil itu mengaduh-ngaduh kesakitan sampai akhirnya Ushijima melerai.
"Kau ini cubit-cubit dia terus." Sindir Sakusa. "Awas naksir."
Kageyama kelabakan, wajahnya memerah saat mendengar penuturan Sakusa. Merasa tidak senang karena diledek, Kageyama pun membela diri. "Sakusa-san cobain, deh. Pipinya si bokke ini melar-melar empuk gitu, kayak mochi." Kageyama menunjuk bekas cubitannya di pipi Hinata. Pipi Hinata yang mulus berwarna kuning langsat itu bergoyang-goyang pelan seperti memantul. "Enak buat dimainin."
Sakusa memandang Hinata dengan wajah berkerut, seakan inner self-nya sedang berkelahi perihal kesannya terhadap Hinata. Ia mengulurkan tangannya dan menarik pipi Hinata hingga lenting dengan jari-jarinya yang panjang, lalu melepaskannya begitu saja. Kegiatan itu diulanginya berkali-kali sampai akhirnya kedua tangannya malah menarik pipi Hinata semakin kencang.
"Ih, iya..." Sakusa terperangah. "Pipinya kayak mochi."
"Hamphuuunn...syakiiiit..." Hinata memelas, berusaha menepis tangan Sakusa tapi wajah judes si kakak kelas membuat nyalinya padam. "Whooomiii-syaaan..."
"Omi, anak orang dibejek-bejek." Ushijima menepis tangan Sakusa dan menangkupkan tangannya yang lebar dan besar ke dagu Hinata, memberikan usapan lembut pada bekas cubitan yang mulai terlihat memerah. "Kalau sampai pipinya memar kau bisa masuk BK, lho."
"Wakatoshi-kun, bilang aja kau juga mau bejek-bejek pipinya Hinata." Sakusa menyindir tajam.
Hinata menunduk dan dengan canggung menurunkan tangan Ushijima dari pipinya. Berbeda dengan Sakusa dan Kageyama yang memang cubitannya terasa menyiksa, Ushijima benar-benar tulus memberikan belaian pengurang sakit untuknya. Tangannya yang besar dan hangat terasa sangat nyaman. Si kakak kelas berwajah deadpan itu menepuk pelan puncak kepala Hinata, yang dibalasnya dengan anggukan singkat.
Biar dikata stoic, perlakuannya pada perempuan lembut sekali. Shibayama pernah bilang pada Yachi bahwa ia sering dibuat kesemsem sekaligus iri kalau tidak sengaja lihat Ushijima dan Shirabu tengah bercengkrama sebagai pasangan kekasih. Lalu Hinata membantah bahwa Bokuto dan Akaashi bisa terlihat lebih manis lagi. Tapi kata Tsukishima, gosipnya Akaashi dan Bokuto itu tidak pacaran. Hinata mau lihat seperti apa Sugawara dan Kita kalau sedang pacaran. Dua-duanya berpribadi lembut, apakah bakalan memberi damage uwwu yang lebih besar?
"Sunshine!"
Hinata menoleh, balas tersenyum pada Hoshiumi yang menyerukan panggilannya sambil melambai penuh semangat. Pada kegiatan klub kali ini Hoshiumi dan Hinata sama-sama datang lebih awal. Kita ada di pojok sedang mengerjakan suatu berkas penting sepertinya, karena ia menempelkan pass fotonya di pojok dokumen dengan sangat teliti.
"Senpai yang lain mana, Patrick?" tanya Hinata.
"Kelasnya Omi sama Akaashi dan Shirabu ada jadwal olahraga, jadi mereka kayaknya bakal telat. Bokusen sama Kuroosen pergi beli konsumsi. Niro sama Tsumtsum disuruh fotokopi. Bunda ada rapat OSIS, kayaknya bakalan telat juga." jelas Hoshiumi panjang lebar.
"Yang lainnya belum datang." Kita mengangkat wajah dan tersenyum. "Duduk aja dulu. Santai saja."
Hinata duduk di sebelah Hoshiumi. Senyum lebarnya yang terlihat konyol itu sedikit meredakan kegugupan Hinata. Teringat kali terakhir mereka latihan, Hoshiumi menolong Hinata yang terguling dilantai akibat hukuman sikap tobat.
"Ano...Pa..Patrick..." Hinata menggumam canggung. "Lagu apa yang dinyanyikan grupmu?"
"Lihatlah Lebih Dekat." jawabnya santai.
Pertanyaan bodoh. Padahal Hinata sudah tahu semua lagu yang akan dinyanyikan setiap grup. Judul-judul lagunya diumumkan di grup Werewolf Heartstring. Hoshiumi terkekeh pelan, tersenyum lebih lembut seakan paham akan suasana kikuk diantara keduanya.
"Sunshine mau denger lagu-lagu yang biasa kupakai ibadah, nggak?"
"Mau, mau!" Hinata tanpa berpikir menjawab. "Eh, tapi apa nggak apa-apa? Maksudku, lagu itu kau pakai cuma buat berdoa, kan?"
"Nggak masalah. Niatnya kan berbagi kebahagiaan, bukan untuk pamer." Hoshiumi menggandeng tangan Hinata lembut hingga berdiri dan menuntunnya menuju piano. "Kalau lagu-lagu Gregorian, yang pakai bahasa latin, aku juga nggak suka menyanyikannya sembarangan. Tapi banyak lagu-lagu gereja yang lebih santai."
"Oh, gitu." Hinata mengangguk, berdiri di depan piano dengan mata berkilau-kilau seperti anak kecil yang hendak menyaksikan pertunjukan spektakuler.
"Uh-hm..."
Hoshiumi mendentingkan tuts-tuts piano, kemudian meneggakkan pundaknya. Hinata memperhatikan bagaimana Hoshiumi mengarahkan tubuhnya membentuk singing stance meski ia dalam posisi duduk.
Lord, don't move that mountain
Give me strength to climb
Lord, don't move my stumbling block
But lead me all around
Hinata tidak bisa menahan dirinya untuk bertepuk tangan. Suara Hoshiumi terdengar kelam namun bertenaga. Hinata bisa merasakan pengibaan dalam setiap baitnya, setiap tarikan suaranya, seakan Hoshiumi sungguh-sungguh memohon pada Yang Maha Berkehendak untuk memberinya kekuatan agar bisa mendaki "gunung" yang dimaksud dalam liriknya.
"Patrick..."
"Hmm?'
"Apakah kau belajar musik selama ini demi menjadi penganut agama yang taat?"
Pertanyaan Hinata membuat Hoshiumi merenung. Mata besarnya yang berwarna giok menerawang langit-langit ruang musik.
"Jawabanku mungkin iya, bisa juga tidak." gumamnya. "Aku tahu aku nggak terlalu ganteng. Tidak tinggi dan pandai dalam pelajaran. Tapi Tuhan memberiku suara yang lebih baik dibandingkan orang lain. Saat pergi ibadah ke gereja, orangtuaku dan orang-orang begitu terkesan dengan suaraku. Ibuku mulai mengajariku lebih dalam mengenai musik-musik gereja. Lagu-lagu gospel. Sulit, memang. Tapi sangat seru."
"Benarkah?"
Hoshiumi mengangguk. "Pernah suatu hari, dalam kebaktian sore grup choir gerejaku membawakan lagu In Memoriam dari Bruno Coulais. Aku melihat di bangku jemaat, ada seorang anak seumurku yang sangat lusuh, datang sambil menangis. Setelahnya aku menghampiri dia. Ia ternyata habis bertengkar dengan orangtuanya dan kabur dari rumah. Lirik kyrie eleison membuatnya menangis. Kyrie eleison artinya Tuhan, kasihani kami."
"Dia teringat pada orangtuanya?" tanya Hinata.
"Mungkin." Hoshiumi menggedikkan pundaknya. "Suster gereja menasehati anak itu biar pulang dan minta maaf pada orangtuanya. Setelah itu, aku tidak tahu lagi kabarnya. Kayaknya anak itu tidak tinggal di daerahku."
"Aku ikut mukre karena aku suka dengar musik." Hinata tertunduk malu. "Motivasiku tidak sekuat Patrick."
"Terus kenapa?" Hoshiumi bergumam. "Waktu pertama kali bergabung dalam mukre, Kenma dan Omi nol besar soal teknik vokal, lho."
Hinata terbelalak. "Beneran? Mereka jago lho, nyanyi dan beatbox-nya."
"Kenma berniat jadi DJ pro, dan kesal pada dirinya sendiri yang minim dengan pengetahuan musik dan tidak bisa nyanyi. Ia tidak puas terus menerus bergantung pada kemampuan beatbox dan mengedit musik yang dia punya. Sementara Omi bergabung karena kami mencantumkan nama musik kreatif. Dia itu dulunya pemain contrabass. Dia pikir ekskul musik itu mencakup semua bidang musik, nggak cuma nyanyi. Nyatanya, orkestra adalah kegiatan dengan fasilitas mahal dan minat anak jaman sekarang sangat sedikit."
"Jadi ucapannya soal dia itu pemain contrabass itu bukan bohong?" Hinata tertawa.
"Bisa dibilang kami menipunya. Atau dia merasa ditipu. Berkali-kali bilang ingin keluar karena kegiatan kami paling banyak berlatih teknik vokal, kan." Hoshiumi tertawa. "Tapi begitu kubujuk bahwa aku akan membawanya bertemu ibuku kalau dia menetap di Werewolf Heartstring, dia nggak jadi keluar."
"Eh? Memang mamanya Patrick pemain musik juga?"
"Tahu band Lightstreak, nggak?" tanya Hoshiumi dengan alis meliuk-liuk jahil. "Ibuku bassist-vokalis band itu."
Hinata menutup mulutnya, berusaha tidak menjerit. Lightstreak adalah band beraliran power metal legendaris dimana vokalis sekaligus pemain bassnya adalah cewek pendek berambut perak panjang yang tetap berdandan feminim meski suaranya kokoh melengking. Band tersebut masih sering konser sampai akhir tahun 2010 meski mereka dinyatakan hiatus, tidak lagi produktif namun tetap menerima tawaran manggung on air maupun off air. Band itu bubar ketika drummer mereka memutuskan hengkang.
"...bohong..." Hinata berbisik curiga. "Patrick bohong, kan?"
"Coba googling Sterling Lightstreak."
Hinata mengeluarkan ponselnya, menuruti Hoshiumi mencari nama yang dimaksud. Sterling adalah nama panggung untuk sang vokalis-bassis band Lightstreak. Wanita itu manis, rambutnya panjang putih berkelok-kelok. Penampilannya tetap seperti boneka porselen meski berkali-kali ganti gaya rambut, dan di beberapa kesempatan, ia tampil dengan warna rambut asli. Kalau dilihat baik-baik, ia memang terlihat seperti perempuan yang agak berumur tapi tidak terlalu tua. Kisaran akhir 30-an mungkin. Dalam fansite, dikatakan bahwa Sterling yang bernama asli Honda Misaki kini sudah menikah dan punya dua orang putra. Hoshiumi menunjukkan pada Hinata foto keluarganya yang terdiri dari dirinya, ayahnya, seorang pemuda tinggi yang mirip ayahnya dan...
"STERLING!" Hinata menjerit lagi. "Nggak salah lagi! Patrick benar!"
"Kan kubilang." Hoshiumi terkekeh.
"Ih, mamamu keren banget, Patrick..." Hinata berbinar-binar. "Aku juga mau ketemu, dong! Mau tanda tangannya!"
"Nggak mau tanda tangan anaknya aja?" Hoshiumi menadahkan tangannya.
"Nanti aja! Anaknya belum jadi legend!" Hinata menggeleng kuat-kuat. "Papaku ngefans banget lho sama Lightstreak! Kalau sedang dirumah, kadang nyetel lagu-lagunya. Aku mau foto sama mamanya Patrick, terus minta tanda tangannya juga, terus pamer ke orangtuaku!"
Hoshiumi terpingkal-pingkal mendengar penuturan polos Hinata. "Boleh, kapan-kapan Sunshine kuajak ke rumah, deh. Kuajak ketemu Sterling yang asli."
Eh, tunggu sebentar.
kuajak ke rumah.
Ketemu Sterling yang asli berarti bertemu langsung dengan ibunya Hoshiumi, kan?
Belum ada apa-apa sudah diajak ketemu orangtua tuh rasanya...
Hinata menunduk malu, menyembunyikan pipinya yang memerah dan memanas. Menyadari reaksi Hinata, Hoshiumi dibuat canggung dan mereka terjebak dalam keheningan tidak nyaman. Maksud hati ingin memperkenalkan ibunya yang merupakan musisi veteran, kenapa kesannya terdengar seperti permohonan restu untuk lamaran, ya?
"Po..po...pokoknya gitu, deh!" Hoshiumi tergagap. Ia memilih kabur dan menghampiri Kita yang bahkan tidak sedang melakukan apa-apa.
"Heeeeh? Tuh, kan masih sepi. Tahu gitu mampir beli burger dulu." omel Futakuchi yang masuk sambil membawa segepok kertas fotokopi.
"Ih, mau latihan malah makan! Sesak tahu, nanti." balas Atsumu. "Hei, Shoyo. Mana yang lain?"
"Belum datang, kayaknya." Jawab Hinata santai. "Aku datang lebih a—"
"Ay, yo! Wassap, bitches!" Oikawa berteriak heboh dan melenggang masuk tanpa dosa. "Lho, kok sepi?"
"Toorucchi-paisen!" Hinata melambai-lambai dan menghampiri sang kakak kelas.
"Wuiih, chibi-chan!" Oikawa mencari tempat duduk dan Hinata mengajaknya untuk duduk di sebelahnya. "Buaya-buaya kelaparan ini nggak berbuat asusila padamu selama cewek-cewek yang lain nggak ada, kan?"
"Excuse me?" Atsumu membalas dengan dengusan sinis. "Gentleman begini mana mungkin berbuat asusila? Shoyo kan masa depanku, belahan jiwaku, cinta hidupku."
"Nggak doyan, ah. Hinata kecil." Futakuchi membalas acuh. "Dimakan nggak kenyang."
"Apanyaaaaaa?" Oikawa menyeringai lebar.
"Oppai-nya." Dengan gamblang Futakuchi menjawab sambil melompat duduk di salah satu meja. "Eh, kalo dibandingin sama Oikawa-senpai sih dia masih lebih montok."
"KURANG AJAR!" Oikawa meraung murka sambil menyilangkan tangan di depan dadanya. "Dasar cabul! Berani-beraninya menghina aset perempuan!"
"Lah, emang bener. Papan cucian di rumah nenekku aja masih lebih seksi dibanding badannmu." Futakuchi dengan kejam masih balas menghujat Oikawa.
"Niro, nggak boleh ngomong begitu sama seorang gadis." tegur Kita dari pojok ruangan.
"Eh, ada Kita-san." Futakuchi tertawa palsu. "Mana Suga-san?"
"Kenapa tanya-tanya aku? Kangen?"
Sugawara muncul dari balik pintu bersama beberapa anak kelas 1. Kageyama datang bersama Ushijima dan Iwaizumi. Sakusa, Akaashi dan Shirabu menjadi tiga orang yang terakhir datang. Selesai Sugawara mengabsen semua orang, ia mempersilahkan Kita untuk memimpin latihan hari ini.
"Oke, selamat siang semuanya." Kita membuka sesi latihan mereka. "Semi-san bakalan datang nantinya. Sebelum beliau datang, ada baiknya kita pemanasan dulu. Yang pertama perenggangan leher dan pundak, staccato, vocal dexterity, vibrato dan nanti kita coba beberapa lagu-lagu wajib kita. Yuk, baris persuara!"
Anak-anak mukre mulai berpencar membentuk barisan setengah lingkaran sesuai jenis suara mereka. Hinata berdiri diantara Bokuto dan Tsukishima. Setelah perenggangan leher dan pundak, mereka mulai menyanyikan satu nada statis dalam staccato selama 14 ketukan dan diakhiri dengan nada yang panjang sebelum pindah not. Tidak seperti Oikawa dan Atsumu yang senang menjentikkan jari ketika sedang memimpin latihan sebagai conductor, Kita lebih sering membuat tepukan tangan sebagai pengatur tempo. Ia berdiri dan berkeliling, mendengarkan nada setiap orang dengan seksama. Setelah sesi latihan staccato selesai, dilanjutkan dengan latihan vocal dexterity. Ada satu lagu yang waktu itu pernah diajarkan anak-anak kelas 3, lagu yang selalu digunakan untuk berlatih vocal dexterity.
"Daichi,pelangiku." Kita mengangkat tangannya dengan siaga, membentuk komando. "Singing stance, please."
"[Titik...]" Daichi mengerenyit, tampak kurang yakin dengan nada suaranya. "Di E atau D#?"
"D#." Kita tersenyum tipis. "Singing stance, please. Satu, dua, tiga, empat..."
[Titik, titik hujan.
Masih membasahi.
Kala kau menyapa pelangiku.
Ingin ku berlari.
Jumpa bidadari.
Bawalah aku pergi bersamamu.]
Hinata menoleh. Lagu yang dinyanyikan Daichi bernada rendah sekali. Hanya anggota bass yang bisa menyanyikannya, namun Kita dan Kuroo tampak tidak kesulitan sama sekali. Begitu notnya naik, mereka mulai menyanyi dari awal lagi. Atsumu dan Sakusa mulai ikut bernyanyi. Begitu notnya naik lagi, Tsukishima nampak mulai bisa mengimbangi. Anak-anak cewek yang lain masih bersiaga dalam singing stance seakan menunggu tangga nada mana yang bisa mereka panjat. Akaashi, Hinata, countertenor, tenor dan mezzo mulai masuk pada interval keempat. Ayunan tangan Kita mendisiplinkan tempo dan dinamika yang mulai berantakan. Pada interval keenam, Hoshiumi dan anak-anak sopran mulai bergabung. Pada interval ke delapan, hanya anak-anak sopran yang menyanyi. Setelah itu, ayunan tangan Kita berubah lagi.
Bagian akhir dimana seluruhnya satu suara.
[Bisikkan kisah yang lucu.
Nyanyikanlah lagu merdumu.
Merah, kuning, jingga dan ungu.
Sentuhkan warnamu dalam gaunku...
Ingin kumenari
hingga kau sembunyi
Rindu pelangiku datang lagi
Rindu pelangiku datang lagi]
Tangan Kita mengayun turun lalu mengepal naik, tanda diam. Senyum tipisnya merekah lebih lembut. Suara langkah kaki berisik terdengar dari depan pintu ruang musik. Semi masuk dengan terburu-buru lalu duduk begitu saja di kursi pemain piano.
"Udah cukup kayaknya pemanasan yang tadi." ujarnya dingin. "Langsung baris pergrup waktu itu."
Tanpa banyak bicara, Kageyama menarik Hinata dan mengajaknya bergabung dengan Sakusa dan Ushijima. Semi menatap layar ponselnya beberapa saat sebelum memainkan beberapa not acak di tuts piano.
"Tujuan kita latihan pergrup kali ini adalah untuk mempelajari karakter masing-masing dari suara kalian, terutama yang anak kelas 1. Jadi, setelah setiap penampilan aku akan memberikan review. Kita akan latihan sampai agak larut dan sangat intensif. Kumohon jangan banyak bercanda, hemat tenaga kalian. Buat yang nggak bisa pulang terlalu larut, biar aku yang hubungi orangtua kalian nanti supaya kalian nggak kena marah nantinya. Lagian ini hari jumat. Kalian besok kan nggak sekolah."
"Memangnya nggak ekskul?" tanya Kageyama polos.
"Latihan, tapi aku mau mulainya agak siang. Bokuto, Yaku. Besok jam 11 pagi, ya. Santai saja, soalnya aku mau ada sesi kelas." ungkap Semi lagi.
Bokuto dan Yaku cuma mengangguk patuh.
"Saa, kita mulai saja..." Semi kembali memainkan tuts piano, kali ini intro-nya Someone Like You dari Adele. "...dimulai dari grupnya...umm...bagaimana kalau grupnya Koganegawa?"
"Geh!" Koganegawa terkesiap panik. "Futakuchi-san, gimana dong?"
"Ya maju lah, dasar bocah manja!" omel Futakuchi sambil memukul kepala Koganegawa.
Grup itu terdiri dari Futakuchi, Koganegawa, Sakunami dan Shibayama. Secara komposisi suara, mereka bisa dibilang seimbang. Hinata penasaran lagu seperti apa yang akan dinyanyikan mereka, ya? Futakuchi lebih banyak beraksi sebagai werewolf sampai Hinata tidak benar-benar tahu seperti apa suara Futakuchi kalau ia bernyanyi.
[Sakunami]: tararam
[Futakuchi, (Koganegawa)]: pam param param (turururu) pam pararam (turururu) pam pam (turururu)
[Shibayama]: duuu duuu duuu, duu duuu, duuu duuu duuu
[Koganegawa] (Sakunami, Futakuchi):
Menapak jalan (menapak jalan...) yang menjauh
Tentukan arah yang ku mau (yang ku mauu...uuu)
Tempatkan aku pada satu
Peristiwa yang membuat hati lara (membuat hati lara)
[Sakunami]: tararam
[Shibayama] (Futakuchi):
Di dekat engkau (ee..eeng...kau...) aku tenang
Sendu matamu (sendu matamuuu...) penuh tanya
Misteri hidup akan kah (meeng...hilaang...) menghilang
Dan bahagia (dan bahagia...) di akhir cerita
[Koganegawa, Futakuchi, TB]:
Cinta tegarkan hatiku
Tak mau sesuatu merenggut engkau
Naluriku berkata
Tak ingin terulang lagi
Kehilangan cinta hati
Bagai raga tak bernyawa
[Shibayama, Sakunami]:
Aku junjung petuahmu
Cintai dia yang mencintaiku
Hati yang dulu belayar
Kini telah menepi
Bukankah hidup kita
Akhirnya harus bahagia
[Sakunami]: tararam
[Futakuchi, (Koganegawa)]: pam param param (turururu) pam pararam (turururu) pam pam (turururu)
[Shibayama]: duuu duuu duuu, duu duuu, duuu duuu duuu
[Futakuchi]:
Di dekat engkau aku tenang
Sendu matamu penuh tanya
[Shibayama]:
Misteri hidup akan kah menghilang
Dan bahagia di akhir cerita
[Sakunami, Koganegawa, SB]:
Cinta tegarkan hatiku
Tak mau sesuatu merenggut engkau
Naluriku berkata
Tak ingin terulang lagi
Kehilangan cinta hati
Bagai raga tak bernyawa
[Futakuchi, Shibayama, ST]:
Aku junjung petuamu
Cintai dia yang mencintaiku
Hati yang dulu belayar
Kini telah menepi
Bukankah hidup kita
Akhirnya harus bahagia
[Koganegawa]: Cinta
[Koganegawa] (Futakuchi):
Biar saja ada (cinta..uuh)
Yang terjadi biar saja terjadi
[Shibayama] (Sakunami):
Bagai manapun hidup
(Memang..) Memang hanya cerita
[(Cerita tentang meninggalkan dengan ditinggalkan)]
[All]: Cinta
[Sakunami]: tararam
[Futakuchi, (Koganegawa)]: pam param param (turururu) pam pararam (turururu) pam pam (turururu)
[Shibayama]: duuu duuu duuu, duu duuu, duuu duuu duuu
Semi bersidekap pelan, lalu menunjuk Oikawa. "Oikawa, ekspresi wajahmu seperti hendak mengatakan sesuatu. Bagaimana kalau kau memberi review?"
Oikawa mengerjap terkejut, lalu ia mengangguk. "Di bagian reff yang pertama, Koganegawa salah menarik nada. Harusnya ia menyanyikannya dengan mezzo piano. Tetapi karena timbre-nya yang tebal, bagian duetnya dengan Niro jadi meleset. Not yang harusnya dinyanyikan dengan halus malah jadi off-pitch, suaranya seperti tiba-tiba senyap di beberapa lirik. Niro berusaha mengimbanginya dengan menarik tenaga lebih agar terdengar satu pitch dengan suara Koganegawa pada range bass, tapi hal itu tidak banyak membantu."
Mendengar penuturan Oikawa, Semi mengangguk setuju. "Pada bagian reff kedua, yang cewek-cewek juga harus lebih hati-hati. Pada bagian [aku...junjung petuahmu...] bukaan mulut kalian terlalu lebar, suaranya tidak terproyeksi dengan maksimal. Terdengar cempreng. Cara kalian menggeser rahang, membentuk bibir dan menarik pita suara kalian berpengaruh besar dalam produksi suara. Ada pertanyaan?"
Hinata dengan semangat mengacungkan tangannya. "Kalau begitu, bagaimana anak-anak werewolf bisa memproduksi suara-suara bagus dengan bukaan mulut yang lebih tidak stabil?"
"Uh, very good question!" Semi terkekeh. "Futakuchi, kau yang jawab. Kau kan werewolf."
"Seperti yang dibilang Semi-san tadi, cara menggeser rahang, membentuk bibir dan menarik pita suara berpengaruh besar dalam produksi suara. Kami para werewolf menjalani latihan trill lidah dan bibir jauh lebih sering dari kalian. Selain itu, kami biasanya cuma mengambil beberapa jenis beat saja agar bisa dimainkan dengan seimbang. Tidak akan bisa 100% sama dengan suara instrumen asli, tapi bisa dibilang identik. Bantuan ampli dan kondensor juga dibutuhkan untuk pertunjukkan yang lebih besar." jelas Futakuchi.
"Oy, Kogane lebih merdu hari ini dibanding penampilan band-nya sama Chibi-chan Sunshine waktu itu." celetuk Iwaizumi. "Mentornya Futakuchi aja, deh!"
"Nggak mau! Dia kan anakmu di bass!" balas Futakuchi sengit.
"Boleh juga aransemenmu, Futakuchi." Semi berdiri dan mengucek-ucek kepala Futakuchi. "Kalau kau mau sedikit lebih rajin, kau ini lumayan juga."
"Do...doumo..."
"Selanjutnya...um..." Semi melirik satu persatu anak didiknya. "Bokuto atau Oikawa?"
"Satu grup!" jawab Oikawa dan Bokuto bersamaan.
"Oh, baguslah. Coba kalian yang maju, aku mau dengar.
Oikawa, Bokuto dan Atsumu dengan sigap maju ke daerah dekat piano dan berdiri menghadap anak-anak mukre yang lain. Shirabu yang awalnya sibuk dengan ponselnya yang sedang di charge tergopoh-gopoh menyusul setelah mendapat deheman menyindir dari Oikawa. Dalam kelompoknya Oikawa, Atsumu memiliki range suara terendah. Bakal seperti apa lagu yang mereka nyanyikan? Hinata memilih mengambil partiturnya dan mencari halaman kosong pada bagian buku latihan mininya, mencatat komentar yang tadi dilontarkan atas penampilan grup sebelumnya. Mungkin dalam setiap grup, ia bisa mendapat ilmu baru.
[Oikawa, Shirabu]: Lalala laaa laaa, lalala laaa
[All]: taa raam...
[Shirabu] (Atsumu) {Bokuto}:
[{(Tertutup sudah pintu)}] pintu hatiku
Yang pernah [(dibuka waktu)] hanya untukmu
Kini kau pergi {(pergi)} dari hidupku {(hidupku)}
[{(ku harus relakanmu...)}] walau aku tak mau ({huu uuh})
[Bokuto] (Atsumu):
(Pam pam param) Berjuta warna pelangi (Pam pam param) di dalam hati (pam pam pam pam)
(Pam pam param) Sejenak luluh bergeming (Pam pam param) menjauh pergi (pam pam pam pam)
Tak ada lagi (pam pam pam paaaam) cahaya suci (pam pam pam paaaam)
(pam pam pam paaaam) Semua nada beranjak (paaaam) aku terdiam sepi
[Atsumu]: aku terdiam sepi...
[Oikawa]:
Dengarlah matahariku suara tangisanku
Ku bersedih karna panah cinta menusuk jantungku
Ucapkan matahariku puisi tentang hidupku
Tentangku yang tak mampu menaklukkan waktu
[Atsumu, Bokuto, TA]: dengarlah matahariku, panah cinta menusuk jantungku
[Shirabu] (Atsumu) {Oikawa}:
(Pam pam param) Berjuta warna pelangi (Pam pam param) di dalam hati (pam pam pam pam)
(Pam pam param) Sejenak luluh bergeming (Pam pam param) menjauh pergi (pam pam pam pam) {uuu huuu uuuh huuu...}
[Bokuto] (Atsumu) :
Tak ada lagi (lagi...) cahaya suci (haa aah aah haaa)
[(Semua nada beranjak aku terdiam sepi)]
[Bokuto, Shirabu] (Atsumu, Oikawa, ST):
aaaaah...(nana nana nana nana nana nana nananaaa)
(nana nana nana nana nana nana nananaaaaa)
[All]:
huuuuu oo ooh uuuh, yeee aaaah
dengarkan aku matahariku
[Shirabu]: Dengarlah matahariku suara tangisanku
[Atsumu]: Ku bersedih karna panah cinta menusuk jantungku, ooh...oooh...yeeaaaa
[Oikawa, Shirabu]: Dengarlah matahariku
[Bokuto, Atsumu]:
Suara tangisanku.
Ku bersedih karna panah cinta menusuk jantungku
[Oikawa, Shirabu]: Ucapkan matahariku puisi tentang hidupku
[Oikawa]:
Tentangku yang tak mampu menaklukkan waktu..
hooo yeaaaaahhhh!
[Atsumu, Bokuto, Shirabu]:
Dengarlah matahariku suara tangisanku
Ku bersedih karna panah cinta menusuk jantungku
[Oikawa]:
Dengarlah matahariku suara tangisanku
Ku bersedih karna panah cinta menusuk jantungku
Hening.
Tidak hanya Hinata yang tertegun dengan penampilan mereka, melainkan seluruh anak-anak mukre. Semi yang tampak lebih cepat sadar dari keterkejutannya dibanding yang lain, mendentingkan nada-nada di bagian interlude.
"[aku terdiam sepii...]." lantunnya. Lalu ia memainkan bagian dimana mereka berempat menyanyikan nada yang sama dengan begitu mengagumkan. "Uh, wow. Itu G#5. Kalian pasti latihan lumayan keras untuk membuat bagian itu sinkron, ya?"
Bokuto dan Atsumu cuma menyeringai lebar.
"Iya, iya, Koganegawa. Sabar." Semi mendengus melihat Koganegawa melompat-lompat sambil mengangkat tangan. "Apa yang mau kau tanyakan?"
"Bagaimana caranya Miya-san menyanyi seperti tadi? Maksudku, Bokuto-san kan countertenor. Suaranya lebih tinggi dari cowok-cowok lain di Werewolf Heartstring. Apa aku juga bisa seperti Miya-san?"
"Hmmmm..." Semi bersidekap. "Sugawara, coba kau nyanyikan bagian yang sama."
Sugawara mengangguk dan berdiri, memasang singing stance. Semi memainkan nada awalan dan memberi aba-aba.
[huuuuu oo ooh uuuh, yeee aaaah
dengarkan aku matahariku]
"Terdengar sama seperti Shirabu-san dan Oikawa-san." Celetuk Lev.
"Iwaizumi, coba kau juga."
Iwaizumi melakukan hal yang sama. Nadanya masih tepat sasaran, tetapi suara serak mirip berteriak yang malah justru terdengar. Koganegawa, Futakuchi, Bokuto, Hoshiumi dan Hinata bertepuk tangan, merasa bahwa bagian itu begitu menonjolkan suara Iwaizumi yang gagah dan sangar seperti penyanyi rock.
"Shinsuke, coba kau juga."
Tidak seperti Sugawara dan Iwaizumi yang bisa menyanyikannya dengan lantang, justru Kita menyanyikan bagian yang dimaksud dengan lembut dan ringan, padahal nadanya benar. Ia tampak kesulitan menjangkau nada tersebut. Semi kemudian mengangguk dan menyuruhnya kembali duduk.
"Ada banyak cara menjangkau nada tinggi. Untuk Oikawa, Shirabu dan semua cewek-cewek sopran, suara kalian sudah cukup tinggi dan tipis. Kontrol dalam pitch dan power yang seimbang membuat kalian pasti bisa menyanyikan bagian itu. Untuk Bokuto dan suaranya yang sedikit abnormal, ia menggunakan campuran dari head voice dan falsetto guna menyeimbangkan pitch yang ia keluarkan. Namun dalam kasusnya Miya yang punya suara nyaris 2 oktaf lebih rendah dari mereka, ia harus bekerja 3x lebih keras dalam mencapai nada tersebut." Jelas Semi. "Miya menarik seluruh tenaganya dalam chest voice naik hingga G#5, lalu mengeluarkannya dengan hati-hati melalui head resonance agar tidak off-pitch."
"Woah, belting!" Seru Kageyama.
"Yep." Semi memainkan kembali nada yang dimaksud. "Jika Miya menyanyikannya hanya dengan pure chest voice, suaranya akan terdengar seperti Iwaizumi. Jadinya seperti teriak, dan suara teriak tidak sehat untuk pita suaramu, dan sangat sulit dikendalikan. Miya bisa saja menggeser suaranya menjadi falsetto menembak nada tersebut dengan tambahan head voice seperti yang dilakukan Bokuto." Semi menoleh. "Miya, coba kau nyanyikan nada tadi dengan falsetto."
Atsumu mengangguk. Ia menyanyikan bagian yang dimaksud. Suaranya nyaris serupa dengan bagaimana Kita menyanyikannya, hanya saja sedikit lebih tinggi. Suaranya tipis, tidak ada tenaga dan sesuatu yang mengesankan seperti bagaimana ia menampilkannya dalam kuartet barusan.
"Kenapa suaranya berbeda dengan suara Bokuto-san meski cara menyanyinya sama?" tanya Yachi.
"Karena, setiap orang memiliki fisiologi pita suara yang berbeda. Notnya bisa sama, tekniknya bisa sama, namun suara yang dihasilkan akan tetap berbeda. Tentu saja karena karakter suara dan fisiologi pita suara mereka berdua berbeda." Semi kembali menerangkan.
"Oh, karena itu Atsumu-san menarik pundaknya ke belakang dan mendongakkan kepalanya sedikit ke samping, serta memajukan dagunya saat bagian woo yea yea yeah itu?" celetuk Hinata gamblang yang mengundang tawa dari beberapa senpai mereka.
"Kau lumayan jeli, Hinata. Bagus." Semi menyetujui. "Biarpun kalian sudah tahu bagaimana mekanisme menyanyi dengan teknik belting, itu merupakan teknik yang tidak bisa sembarangan ditiru."
"Kenapa?" Sebagian besar anak kelas 1 menyahut.
"Pita suara adalah serangkaian otot dan jaringan tulang lunak. Area diafragma yang merupakan breath supporting system dalam tubuh kalian juga dibentuk atas otot dan jaringan lunak. Diperlukan kekuatan dan kelenturan yang tinggi untuk bisa menyanyi belting dengan tenaga sebesar yang dinyanyikan Miya tadi. Karena jika kalian yang tidak cukup kuat dan lentur memaksakan diri menyanyi belting, kalian bisa sakit. Sampai sini paham?"
"Hai, Semi-san!" jawab mereka serempak.
"Siapa lagi ya, uhm..." Telunjuk Semi berputar-putar, lalu berhenti pada Akaashi. "Grupmu."
[Akaashi]:
tamm taram taram taaam
nanananaaa, taram tararaammm
[Daichi] (Yachi, Iwaizumi):
Kutatap dua bola matamu
Tersirat apa yang (yang...kan...) kan terjadi (..terjadi...)
Kau ingin pergi dariku
[Akaashi, Daichi]:
Meninggalkan semua kenangan
Menutup lembaran cerita
[Yachi]:Oh sayangku, aku tak mau
[Daichi]: nananana nanaanaa...
[Akaashi] (Iwaizumi):
Ku tahu semua akan berakhir
Tapi ku tak rela lepaskanmu (ku tak rela lepas..kan...)
Kau tanya, mengapa aku...
[Iwaizumi, Yachi]:
tak ingin pergi darimu
[Akaashi]: Dan mulutku, diam membisu...
[Yachi]: nana nana...salah kah oh lalalalala
[Iwaizumi]:
Salahkah bila diriku terlalu mencintaimu
Jangan tanyakan mengapa, karena ku tak tahu
Aku pun tak ingin bila kau pergi tinggalkan aku
Masihkah ada hasratmu tuk mencintaiku lagi
[Yachi, Akaashi, Daichi, Iwaizumi, SAB]:...uuuh ooh hoo uuhh...
[Yachi] (Iwaizumi, Daichi):
Apakah yang harus aku...
[(Lakukan...)] Tuk menarik perhatianmu lagi, ooh
Walaupun terus mengiba...[(agar kau tetap disini)]
Lihat aku, duhai sayangku
[Iwaizumi]:
Salahkah bila diriku terlalu mencintaimu
Jangan tanyakan mengapa, karena ku tak tahu
Aku pun tak ingin bila kau pergi tinggalkan aku
Masihkah ada hasratmu tuk mencintaiku lagi
[Akaashi](Daichi) {Yachi}:
salahkah aku {terlalu cinta} (jangan tanya)
{terus mengiba} untuk (cintaiku lagi)
hoo ooh uuuh ooh hooo oooh hoo
[Iwaizumi]:
Salahkah bila diriku terlalu mencintaimu
Jangan tanyakan mengapa, karena ku tak tahu
Aku pun tak ingin bila kau pergi tinggalkan aku
Masihkah ada hasratmu tuk mencintaiku lagi, oooh
[Akaashi, Yachi] (Daichi, Iwaizumi):
Salahkah bila diriku terlalu mencintaimu
[(Jangan tanyakan mengapa, karena ku tak tahu)]
(Oooh) Aku pun tak ingin bila kau pergi tinggalkan aku (uuuh hoooo)
Masihkah ada hasratmu
[Iwaizumi]: tuk mencintaiku lagi...
[Yachi]: ...lagi...
[Daichi, Akaashi]: yeeeaa...ooh, hoo ooh hooo...
Begitu mereka selesai, tepuk tangan riuh terdengar. Hinata begitu bangga pada mentornya, Akaashi, bisa menyanyikan nada alto sekeren tadi. Jangan lupakan ternyata Daichi yang sering menyanyikan nada berat dan kelam bisa terdengar begitu lembut dan innocent dengan suara bass-nya. Iwaizumi, jangan tanya. Aksen retak dan suara bass miliknya menghidupkan suasana merana dalam setiap penggalan liriknya. Bass dan alto merupakan pasangan suara rendah, yang tetap bisa terdengar begitu indah jika diolah dengan seksama. Meski menjadi satu-satunya sopran, Yachi juga tidak kehilangan peran dalam kuartet tersebut. Suaranya yang cerah, tinggi dan terkesan manis memberikan kesan yang lebih kaya dalam penampilan mereka.
"Curang! Iwa-chan keren banget! Nggak ada celah!" Jerit Oikawa frustasi.
"Iwasen! Iwasen! Iwasen!" Hoshiumi, Futakuchi dan sebagian besar anak kelas 1 berseru histeris sebagai fans dadakan.
"Iwa-chan suaranya ganteng! Mukanya biasa aja!" Sugawara ikut berseru jahil.
"Iwa-chan suaranya bikin sange~~" timpal Kuroo.
"Iwa-sen, aku hamil!" balas Atsumu.
"WOY!" Iwaizumi membalas murka. "Jamet pertama, jangan ajarin anak kelas 1 bercanda nggak senonoh! Dasar kucing garong poni ayam! Jamet kedua, itu yang pirang-pirang alay suaranya nggak medok Kansai bisa, nggak? "
"Parah banget, Tsukishima! Kau dikatain medok, tuh!" Atsumu berseru.
Tsukishima yang sedari tadi membungkam cuma melirik sinis dan memutar bola matanya.
JRENGGG!
Semi menghantamkan jemarinya ke tuts piano dengan geram. Semua orang mendadak bungkam, takut dengan kemurkaan Semi dan hukuman sikap tobat, tentu saja.
"Simpel. Elegan. Keren, tapi kesan sedihnya dapet banget. Modulasi dan interpretasi acapella-nya juga rapi, nggak terlalu banyak drama." Semi berkomentar. "Kalian latihan pakai instrumen dulu sebelum mengarang bagian acapella-nya, ya?"
Akaashi mengangguk. "Tapi Daichi-san yang menciptakan modulasinya."
"Nggak akan sempurna tanpa suara serak-serak beceknya Iwaizumi." Daichi membalas dengan nada merendah.
"Well, kuartet kalian tampil dengan baik. Terima kasih." Semi tersenyum tipis. "Tapi, apakah trio werewolf ditambah satu kucing garong bisa mengalahkan mereka?"
Trio werewolf ditambah satu kucing garong yang dimaksud Semi adalah grupnya Lev. Yang terdiri dari Lev, Kenma, Yaku dan Kuroo. Kenma sering kena omel Oikawa dan Yaku kalau sedang latihan. Katanya Kenma itu pemalas, sulit konsen dan paling sering dihukum. Tambahkan kata 'dingin', karena Kenma mendapat predikat pertama untuk anak kelas 2 yang paling sulit didekati, nomor 2 adalah Shirabu. Padahal, Hinata sering melihat bagaimana giatnya Kenma berlatih pada sesi latihan khusus para werewolf. Dibanding anak-anak lain, Kenma memang lebih senang mengeluarkan beat dibanding bernyanyi. Seperti apa suaranya membuat Hinata dibuat penasaran.
[Yaku]:
Ingatkah kan dirimu
Yang pernah menyakiti aku
Kau kecewakan aku
Tapi ku maafkan salahmu hmm
[Kuroo]:
Kini berganti kisah
Ku menyakiti dirimu
Tapi apa yang terjadi
Kau meninggalkanku
[Kuroo]: izinkan
[All]: a-kuuuu
[Kuroo, Kenma] (Yaku, Lev): Untuk terakhir kalinya (ka-li-nyaaaa...)
[Kenma]: Semalam saja bersamamu. Mengenang asmara kita.
[Kenma] (Kuroo, Lev, Yaku) : (dan aku...) Dan aku pun, berharap (harap...)
[Kuroo, Lev] (Yaku): Semoga kia tak berpisah (oh oh oh ooh)
[Lev, Kenma]: Dan kau maafkan kesalahan yang pernah kubuat
[Lev]:
Ingatkah kan dirimu
Yang pernah menyakiti aku
Kau kecewakan aku
Tapi ku maafkan salahmu hmm
[Kenma]:
Kini berganti kisah
Ku menyakiti dirimu
[Kenma] (Kuroo, Yaku, Lev):
Tapi apa yang terjadi (ah ah ah aaaah)
Kau meninggalkanku..
[All]: ah ah ah aaaah
[Lev] {kuroo} (Kenma, yaku):
Izinkan, a-kuuuuu {uuh uuuh} (aaah aaah)
Untuk terakhir kalinya ({ka-li-nyaaaa...)}
[Lev]: Semalam saja bersamamu. Mengenang asmara kita.
[All]: dan aku pun, berharap
[Lev] (Kuroo, Yaku, Kenma): semoga kita tak berpisah (ooh ooh ooooh)
[Lev]: dan kau maafkan kesalahan yang pernah kubuaat.
[Yaku] (Lev):
Mengapa kau begitu mudahnya (no no no no nooo)
Berfikir hanya dalam waktu
Yang sekejap mata (ooh, aah ah aaah)
[Kuroo] (kenma):
Kutahu hanya bibirmu yang bicara (hmm, aaah)
Tapi hati kecilmu masih mencintaiku
[All, SATB-bar]: Oh, ooooh
[Kuroo]: izinkan
[All]: a-kuuuu
[Kuroo, Kenma] (Yaku, Lev): Untuk terakhir kalinya (ka-li-nyaaaa...)
[Kenma]: Semalam saja bersamamu. Mengenang asmara kita.
[Kenma] (Kuroo, Lev, Yaku) : (dan aku...) Dan aku pun, berharap (harap...)
[Kuroo, Lev] (Yaku): Semoga kia tak berpisah ((oh oh oh ooh)
[Lev]: Dan kau maafkan kesalahan yang pernah kubuat
[Yaku, Kenma] (Kuroo Lev):
Oh ijinkan aku (uuuh, uuuh)
untuk terakhir kalinya (terakhir kalinya)
Semalam saja bersamamu
Mengenang asmara kita
[Yaku, Kuroo] (Lev, Kenma):
Dan akupun berharap (harap...)
Semoga kita tak berpisah (oh oh ooh)
[Kuroo]:
Dan kau maafkan
Kesalahan yang pernah kubuat
"Hmmmm..." Semi bersidekap. Dahinya berkerut-kerut. "Kencang."
"Apanya?" tanya Kuroo, Lev, Yaku dan Kenma nyaris bersamaan.
"Aransemennya." Semi memberikan tepukan tangan bertempo cepat. "Memang, sih. Lagu ini memiliki beat yang cepat. Tapi hal itu malah menjebak kalian, membuat kalian semua bernyanyi dengan terlalu terburu-buru. Ada beberapa tarikan yang membuat pemilik suara-suara tanggung seperti Kuroo dan Kenma jadi agak strained. Dan Lev, fals di sana-sini! Ada beberapa part yang modulasinya nggak sinkron."
"Hehehe..." Lev mengucek-ucek kepalanya sendiri.
"Bukan hehehe! Turun!" sergah Semi. "Coba di ulang di bagian reff, ya. Tapi Kenma aja. Miya, kasih beat, dong!"
Atsumu mengerucutkan bibirnya, membentuk suara-suara beatbox untuk mengiringi bagian yang harus dinyanyikan Kenma.
[Izinkan, a-kuuuuu
Untuk terakhir kalinya
Semalam saja bersamamu. Mengenang asmara kita.]
Semi memberikan tanda diam. "Lev, naik."
"Sankyuu, Semi-san!" Lev mulai pelan-pelan berdiri supaya tidak sempoyongan lagi.
"Nah, padahal di bagian ini kau bisa switch dengan mix voice. Kau berusaha menarik terlalu banyak tenaga dalam chest voice-mu, akibatnya terlalu banyak udara yang keluar, membuat suaramu terdengar breathy. Ini adalah contoh dari belting yang tidak sehat. Padahal range suaramu sampai pada sopran, tidak masalah kalau kau menggunakan mix voice atau bahkan dinaikkan sedikit agar kau lebih nyaman menyanyikannya." Terang Semi.
"Hai." jawab Kenma kalem.
"Yaku, ada banyak bagian dimana suaramu goyang. Kebiasaanmu menahan ketegangan di pertengahan dada masih sulit hilang, ya?" Semi memainkan salah satu part yang dinyanyikan Yaku. "[Kau kecewakan aku, tapi kumaafkan salahmuu]. Bagian itu harusnya kau berikan grace note turun, jangan dihajar langsung."
"Uhm." jawab Yaku dengan raut wajah tidak senang.
"Kenapa bunda harus nahan ketegangan di dada, Toorucchi-paisen?" tanya Hinata polos, namun cukup keras sampai semua orang menoleh.
"Bunda punya singing voice dan speaking voice yang lumayan jomplang. Kalau kau dengar suara bicaranya, 100% yakin kalau dia itu alto karena suaranya yang berat. Tapi dia bisa menjangkau nada-nada sulit sopran. Bunda itu ibarat alto yang bisa nada sopran." jelas Oikawa. "Bagusnya adalah range-nya bunda jadi sangat luas. Jeleknya, transisi menjadi hal yang paling sulit buat bunda Yaku. Dia cuma bisa menyanyi nada alto atau sopran dalam satu lagu secara terus menerus, karena meski jangkauan nadanya luas, pita suaranya kurang fleksibel. Untuk mengurangi hal tersebut, bunda biasanya membuat sekitar urat lehernya menjadi tegang biar bisa menarik tenaga lebih dari suaranya yang berat."
"Nggak bisa belting kayak yang dilakukan Atsumu-san?" tanya Hinata lagi.
"Kalau bisa sudah dilakukan dari dulu." Oikawa tertawa. "Inilah pentingnya latihan. Iya kan, bunda Yaku?"
Yaku mendengus mendengar komentar Oikawa.
"Terus, apa-apaan vibrato-nya Kuroo-san?! Kenapa suaranya bisa belok-belok begitu?" tanya Shibayama panik.
"Di bagian Kuroo bernyanyi [kini berganti kisah, kau menyakiti dirimu. Tapi apa yang terjadi...]." Semi memainkan nada tersebut di piano, dengan cengkok yang nyaris sama persis dengan yang dinyanyikan Kuroo. "Itu bukan vibrato. Itu namanya riff. [kisaaah] [tapi...]. Di bagian tersebut, sebetulnya Kuroo bisa saja menyanyikannya dengan nada langsung. [tapi...]. Apakah terdengar fals?"
"Nggak, sih." Shibayama menggeleng. "Tapi tidak terdengar benar."
"Karena itu, Kuroo membelokkan nada pada kata [kisaaah] dan [tapi...] menjadi seperti ini." Semi memainkan tuts pianonya dengan nada berbelok seperti bagaimana Kuroo menyanyikannya. "Riff, atau yang bisa disebut melisma, adalah serangkaian nada yang dinyanyikan secara cepat dan terhubung."
"[With song that have sung, for a thousand yeaaaa aaars...]." Hinata secara refleks bernyanyi, mengingat bahwa nada belok-belok dalam bait Sound of Music di bagian alto terdengar seperti riff.
"Bukan. Itu legato." Semi menggeleng. "Riff, diukur berdasarkan pentatonic scale. [Do] [re] [mi] [fa] [sol]. Dan manipulasi yang dilakukan tidak akan lebih tinggi dari [sol...] karena kau harus menyanyikannya dengan cepat namun tetap terhubung. Riff menciptakan elemen tambahan yang membuat lagumu terdengar lebih megah, lebih keren dan mengetahui dimana kita harus menggunakan riff sangat penting. Kenapa?"
"Penyanyi yang terlalu banyak pakai riff kedengaran norak." jawab Tsukishima lantang.
"Pembahasan tentang riff akan menjadi bahan pembelajaran kita minggu depan." Semi menutup sesi penampilan dan komentar dari tim Lev. "Oke, mana tim selanjutnya yang mau maju?"
Penampilan selanjutnya adalah dari timnya Sugawara. Tim yang bisa dikatakan tidak imbang. Satu sopran, satu alto, satu countertenor dan satu bass-baritone. Komposisinya seperti timnya Oikawa, dimana Hoshiumi tetap dihitung sebagai 'suara perempuan'. Semi kelihatan bersemangat sekali melihat penampilan mereka. Bagaimana tidak? Bakal sedahsyat apa penampilan tim dengan dua orang conductor? Penampilan timnya Oikawa saja sudah sangat luar biasa karena dirinya dan Atsumu, oh jangan lupakan suara tinggi abnormal Bokuto. Meski Shirabu memiliki satu part solo, ia menyanyi dengan normal-normal saja.
[Sugawara]:
Naa naa naa naa
Laa Laa laa laa lalalalalalalaaaa...
[Hoshiumi] (Tsukishima):
Hatiku sedih
(daa daa daa daa) Hatiku gundah
Tak ingin pergi berpisah (tam tam taram...)
Hatiku bertanya (na nanana naa naaaa)
Hatiku curiga
Mungkinkah kutemui kebahagiaan seperti di sini
[Hoshiumi] (Sugawara, Tsukishima, Alto) {Kita}
Sahabat yang selalu ada {(huu uuuh huuu uuh huuu)}
Dalam suka dan duka (huu uuh huuu)
Sahabat yang selalu ada {huu uuh huu uuh huu uuh huuu}
Dalam suka dan duka
[All, SAB-bar]:
Uuuh huu uuuuh, huuu uuuuh
Huuu uuuh huuuu uuh huuuu...
[Tsukishima]:
Tempat yang nyaman
Kala ku terjaga
Dalam tidurku yang lelap
[Tsukishima] (Sugawara, Hoshiumi, Sopran) {Kita}:
Ah Aaaah aaaah haaaa aaahh (Ah Aaaah aaaah haaaa aaahh)
Ah Aaaah aaaah haaaa aaahh (Ah Aaaah aaaah haaaa aaahh)
Ah Aaaah {Haaa aah haa aah haaaa aah haaa} (Ah Aaaah aaaah haaaa aaahh) aaaah haaaa aaahh
Ah Aaaah {Haaa aah haa aah haaaa aah haaa} (Ah Aaaah aaaah haaaa aaahh) aaaah haaaa aaahh
[Kita]:
Janganlah sedih
Janganlah resah
Jangan berlalu
Cepat berprasangka
Janganlah gundah
Janganlah resah
Lihat segalanya lebih dekat
Dan kau bisa menilai lebih bijaksana
[Sugawara]:
Mengapa bintang bersinar
Mengapa air mengalir
Mengapa dunia berputar
Lihat segalanya lebih dekat
Dan kau akan mengerti
[All, SAB-bar]:
Mengapa bintang bersinar
Mengapa air mengalir
Mengapa dunia berputar
Lihat segalanya lebih dekat
Dan kau akan mengerti
[Hoshiumi, Tsukishima, Alto]:
Mengapa bintang bersinar
Mengapa air mengalir
[Kita, Sugawara, SB-bar]:
Mengapa dunia berputar
Lihat segalanya lebih dekat
[All, SAB-bar]
Dan kau, a-akan mengerti
[Hoshiumi]:
A..kan...me...ngerti...
Gumamam hoooo banyak terdengar dari mulut anak-anak kelas 1, terutama yang tidak terlalu memperhatikan karakter suara Kita Shinsuke. Suaranya ringan, namun tetap memiliki bobot, terdengar begitu dreamy, mirip karakter suara-suara pangeran dalam serial Disney. Duetnya dengan Sugawara di bagian terakhir terlihat begitu romantis. Mereka bahkan sampai tatap-tatapan dan pegangan tangan. Semi mengucek-ucek wajahnya dan tertawa jengkel.
"Kuso, bagus banget. Nggak bisa komentar apa-apa." Gumamnya.
"Lawannya 'Tuan-Tanpa-Celah-Kita-Shinsuke, sih." Atsumu tertawa masam. "Kalau aku jurinya, aku sudah pencet tombol I Choose you dari Kita-senpai menarik nafas. Nafasnya aja merdu, ih."
"Lebay." Cibir Shirabu.
"Nggak mau ngomongin switch voice-nya aku?" Hoshiumi menepuk dadanya dengan menggebu-gebu.
"Iya, iya. Kalian semua udah tahu lah, seberapa sakti suaranya Hoshiumi." Semi memainkan salah satu bagian reff pada piano. "[Mengapa bintang bersi-i-nar, mengapa air mengaaa-aa-lir...]."
"Riff!" Seru anak-anak mukre, yang sudah paham bahwa Semi berusaha mengetes kepekaan telinga mereka.
"Salah." Jawab Kita dan Oikawa yang tidak sependapat dengan mereka semua.
"Yang jawab riff siapa?"
Sebagian besar anak kelas 1 dan 2 angkat tangan. Bokuto dan Kuroo juga termasuk.
"Yang jawab bukan siapa?"
Cuma Kita, Hoshiumi dan Oikawa yang mengangkat tangan. Hinata yang awalnya tidak angkat tangan lalu ikut-ikutan mengacungkan tangan.
"Hinata, kenapa kau jawab salah?" tanya Semi.
"Ehm..." Hinata bergumam, tak tahu harus menjawab apa. Awalnya ia yakin bahwa nada itu harusnya riff, tapi begitu tiga orang conductor bilang salah, Hinata berpikir bahwa sepertinya jawabannya bukan riff. Tapi, tadi Atsumu angkat tangan saat menjawab bahwa nada tadi itu riff.
"Kageyama." Panggil Semi. "Kau tidak angkat tangan dari tadi. Kau tidak tahu jawabannya juga?"
Kageyama menggeleng. "Pertanyaannya membingungkan. Kalau dibilang riff, bagian itu memang riff. Tapi ada bagian grace note-nya juga. Jadi aku pilih dua-duanya, kalau ada pilihan ketiga."
"Kenapa?"
Kageyama berjalan mendekati piano dan memainkannya dalam posisi menghadap Semi, yang mana ia memainkan tuts dalam keadaan terbalik buatnya.
"[Mengapa...bintang| bersi-i-nar...]." gumamnya sambil memainkan nada. "Itu grace note naik dan riff. Selanjutnya juga seperti itu. Kalau dihajar terus, lagunya bakalan terdengar monoton. Nggak ada emosi dalam nadanya."
"Exactly." Ujar Semi. "Ditambah, permainan dinamika juga menciptakan atmosfer emosi yang hendak disampaikan penyanyi pada pendengar. Seperti bagian [hatiku bertanya...] Hoshiumi memenggal nadanya, membuat ancang-ancang dalam melembutkan dinamika. Lalu pada bagian [hatiku curiga], pianissisimo. Hampir berbisik, tetapi notnya tetap terdengar jelas. Sekali lagi, pitch control. Tidak hanya suara tinggi dan lantang saja yang harus diukur. Suara lirih dan pelan juga bisa menghancurkan harmoni paduan suara kalau penempatan dinamikanya tidak sesuai."
"Terima kasih, Semi-san."
"Kau yang membuat aransemennya?" tanya Semi.
"Kebetulan, Tsukishima yang membuatnya." Kita menunjuk gadis tinggi pirang berkacamata tersebut. "Suga membantu mencarikan nada dengan piano. Aku dan Korai mencoba bagian mana yang pas dengan suara kami berempat."
"Kekuatan cinta emang beda, ya." Gumam Futakuchi.
"Mereka nggak cakar-cakaran pas bikin aransemen, ya?" Shirabu menimpali. "Walaupun suaranya normal-normal saja, Suga-san sebenarnya lumayan pintar soal musik, lho. Dia kan guru pianonya Kita-senpai."
"Memang Atsumu sama si bidadari neraka itu cakar-cakaran?" tanya Futakuchi.
"Hampir jambak-jambakan. Aku biarin aja mereka berantem. Aku lebih repot ngurusin Bokuto-san yang ngambek nggak mau latihan karena mengganggu jadwal ngapelnya sama Akaashi."
"Wah, Bokusen benar-benar masih gigih mengejar sexbomb Akaashi, ya!" Futakuchi tertawa sambil melirik Akaashi dan Bokuto yang duduk bersebelahan. "Seluruh galaksi juga tahu kalau Akaashi juga suka sama Bokuto. Memang semua cewek itu senang dikejar-kejar, ya?
"Aku tipe yang sebaliknya." Shirabu menimpali. "Risih tahu, dikejar cowok yang tidak kita suka. Ini kan jaman dimana cewek dan cowok itu setara. Aku akan bilang terus terang kalau aku suka dan tidak suka."
"Yah, kalau yang ngejar cantik begini sih aku juga nggak bakalan lari." Futakuchi menyodorkan kedua tangannya. "Borgol aku, Shirabu-neesama!"
Shirabu terkikik sambil mencubit lengan Futakuchi. Karena sudah lama kenal, Shirabu sudah lumayan kebal dengan kelakar menjurus Futakuchi.
Hinata dan grupnya dapat penampilan terakhir. Sakusa dan Kageyama sudah melemparkan tatapan yang seakan berkata 'awas kau kalau sampai fals, kucubit pipimu sampai robek nanti!' Ushijima cuma memberi tepukan ke punggung Hinata, menginstruksikannya untuk memasang singing stance lewat gestur tubuh. Hinata menarik nafas dan berusaha fokus.
Tenang.
Selama ia tenang, semuanya akan baik-baik saja.
[Ushijima]: uuuh uuuh uuuh, uuuuh, aaaahh
[Kageyama]: aaaah, aaah
[All]: aah, aah, aah aah aah aaaah, haa aah haaa
[Ushijima]: Kau satu terkasih
Kulihat di sinar matamu
Tersimpan kekayaan batinmu
[Kageyama, Ushijima] (Sakusa, Hinata):
Ooh, (huuu, huuu) Di dalam senyummu (huuu)
Kudengar bahasa kalbumu (huuuu)
[All]:
Mengalun bening menggetarkan
[Hinata] (Kageyama, Ushijima): Kini dirimu yang selalu (huu, uuuh)
[All, ATB]: Bertahta di benakku
[Sakusa]: Dan aku kan mengiringi
[All, ATB]: Bersama...disetiap langkahku...
[Kageyama, Hinata] (Sakusa, Ushijima):
Percayalah (huu uuuh huuuu)
Hanya diriku yang paling mengerti (huu uuh uuuh)
Kegelisahan (huu uuh uuuh) jiwamu kasih (huu uuh uuuh)
[All]: Dan arti kata kecewamu
[Sakusa, Hinata] (Kageyama, Ushijima):
(yaaa...) Kasih yakinlah (..kinlah)
(aaaahh) Hanya aku yang paling memahami (haaaah)
(huuh uuuh huuu) Besar arti kejujuran diri
[All]: Indah sanubarimu kasih
[Hinata]: Percayalah
[All, ATB]: huuu uuuh huuu, uuuh huuu, uuuh huuu
[All, ATB]: huuu uuuh huuu, uuuh huuu, uuuh huuu
[Hinata] (Sakusa): Kini dirimu yang selalu (uuuhhh)
[All, ATB]: Bertahta di benakku
[Kageyama]: Dan aku kan mengiringi
[Kageyama, Ushijima]: Bersama, di setiap langkahmu
Sakusa menaikkan sebelah alisnya saat menatap Hinata, seakan bertanya apakah ia siap pada part selanjutnya. Hinata mengangguk mantap. Ia meniru cara Atsumu dengan menarik pundaknya ke belakang seraya menarik nafasnya dalam-dalam. Dengan hati-hati, mendongakkan kepalanya agak kesamping saat ia menembak nada tinggi yang seharusnya dinyanyikannya berdua dengan Sakusa. Harus terdengar kuat, namun halus dan tidak boleh terlalu berlebihan.
[Sakusa, Hinata. TA]:di setiap langkahmu, uuuh
[Hinata] (Sakusa, Kageyama, Ushijima TB):
Percayalah (huu uuuh huuuu)
Hanya diriku yang paling mengerti (huu uuuh huuuu)
Kegelisahan jiwamu kasih
[All]: Dan arti kata kecewamu
[Sakusa, Hinata] (Kageyama, Ushijima):
(yaaa...) Kasih yakinlah (..kinlah)
(aaaahh) Hanya aku yang paling memahami (haaaah)
(huuh uuuh huuu) Besar arti kejujuran diri
[Hinata, Ushijima] (Sakusa):
Indah sanubarimu (indah sanubarimu)
(Hinata, Kageyama, Ushijima, ATB) [Sakusa]: (uuuuuh) kasih...
[Sakusa]: Percayalah
Semi menganga. Anak-anak mukre lain juga menganga. Lalu kemudian tepuk tangan riuh menyambut akhir penampilan grup tersebut. Yaku, Hoshiumi, Sugawara dan Akaashi menghambur menuju Hinata dan memberinya pelukan dan kucekan kepala penuh sayang.
"Oi, tadi itu kan..." Bokuto menampar-nampar pundak Atsumu.
"Sasuga, Shoyo." Atsumu terkekeh. "Sekali coba langsung bisa. Dia benar-benar seperti seekor beo, ya."
"Dia meniru teknik belting Atsumu mentah-mentah." Oikawa mendengus sambil memutar bola matanya. "Bodoh."
"Ini anak yang kemarin deaf tone?!" Ujar Yaku sambil tersenyum lebar.
"Otsukare, Hinata." Akaashi tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya pada perkembangan signifikan anak didiknya.
"Oi, selama ini kau pura-pura nggak bisa nyanyi apa gimana?! Tadi belting-mu mantap banget! Makan apa kau tadi pagi tahu-tahu bisa nyanyi sebagus tadi hah, Sunshine!?" Hoshiumi mengguncang-guncang pundak Hinata.
"Hah? A—" Hinata memucat. Suaranya pecah, serak dan tidak terdengar apapun meski bibirnya membentuk kata arigatou atas pujian para kakak kelasnya. Rasa perih yang tiba-tiba mencekik membuat tenggorokannya perih sampai ia menitikkan air mata.
"Ututu...sayang, sayang...suaranya strained." Sugawara dengan lembut mendongakkan kepala Hinata dan memeriksa daerah tenggorokannya dengan usapan. "Sakit nggak, disini?"
Hinata yang tidak bisa menjawab cuma bisa mengangguk.
"Pertolongan pertama. Korai, ambilkan salonpas!" titah Yaku.
"Roger!"
Sugawara mengajak Hinata kembali duduk di bangkunya di sebelah Oikawa. Yaku menerima operan sebungkus salonpas dari Hoshiumi dan menempelkannya di bagian leher Hinata yang membengkak. Gadis berambut ginger itu meringis linu. Sugawara memberikannya sebotol air dan menginstruksikan Hinata untuk minum pelan-pelan.
"Jangan ngomong dulu sebelum sakit tenggorokanmu baikan, ya." tegur Yaku. "Kalau terasa perih, minum air sedikit-sedikit."
Hinata cuma mengangguk pelan.
"Hinata itu anak bawang semua orang, ya?" Iwaizumi menyeletuk. "Anak-anak lain nanti cemburu lho, kalau bunda Yaku, Suga-mama sama mami Akaashi cuma sayang sama chibi-chan."
"Siapapun yang sakit dan nggak nyaman saat latihan akan kutolong, kok. Jangan iri gitu, dong." Yaku membalas ketus.
"Hinata kan anakku." balas Akaashi datar.
"Anak kita, Akaashi?" sahut Bokuto.
Akaashi kemudian menggeleng, mengoreksi ucapannya. "Anak didik di alto, Bokuto-san."
"Suga-mama, boboku nggak nyenyak dari kemarin. Nggak ada yang ngelonin soalnya..." rengek Kuroo sambil memeluk dirinya sendiri.
"Ehem." Kita berdehem palsu dengan raut wajah mengeras.
"BERANI-BERANINYA GODAIN SUGASEN! BACOK AJA KUCING GARONG KEHAUSAN ITU, KITA-SENPAI!" Atsumu, Futakuchi dan Hoshiumi yang selalu jadi trio pengobor keadaan buruk langsung histeris.
"Tetsu, mau kubikin bobo selamanya atau gimana?" Kita tersenyum tipis.
"Bercanda! Bercanda, elah! Kita-senpai, ampun!" Kuroo langsung kalang kabut menangkupkan tangannya memohon belas kasihan. Raut wajah Kita yang lebih sering datar kali ini tersenyum tipis, dan malah terlihat sangat menakutkan baginya.
Semi tidak melarang apalagi marah melihat anak-anak binaaannya mulai saling melempar candaan dan berteriak-teriak, tertawa atas lelucon satu sama lain. Toh, tugas mereka sebagai grup kuartet sudah beres. Meski keributan barbar anak-anak Werewolf Heartstring selalu kelewat batas dan sering membuatnya sakit kepala, pada dasarnya mereka semua adalah anak-anak. Mengekang mereka untuk bersikap serius di segala latihan akan menimbulkan stress dan mempengaruhi baik kualitas vokal dan relasi antar anggota. Maka, Semi lebih memilih menonton adu mulut dan aksi lempar banyolan bocah-bocah SMA ini, hitung-hitung mengenang masa remajanya dulu.
Ditengah cekcok penuh komedi yang sering terlontar di antara anggota mukre (oh, jangan lupakan kemurkaan bunda Yaku yang selalu menjadi penyedap di hari-hari latihan), Kageyama menghampiri Hinata dan menyodorkan sebungkus permen hitam pelega tenggorokan. Hinata dengan polos mengambil dua butir dan melemparkannya ke dalam mulut. Rasanya pedas dan pahit. Ia hampir meludahkan permen itu keluar namun tangan besar Kageyama membekap mulutnya.
"Mau sembuh, nggak?" ketusnya. "Emut pelan-pelan."
Hinata mengangguk. Oikawa yang tadinya duduk di sebelah Hinata malah ambil ponsel, sibuk mengabadikan kericuhan barbar anak-anak Werewolf Heartstring di akun media tidak punya tenaga untuk sekedar ikut tertawa. Ia melipat kedua tangannya dan memilih bersidekap, merebah di meja. Permen pahit dan pedas itu perlahan-lahan membuatnya mengantuk. Kageyama mengetuk-ngetuk kening Hinata dan gadis itu perlahan mengangkat kepalanya.
"Heh, pulang lewat mana nanti?" tanyanya.
"Hiyasa...(biasa)." Jawabnya dengan suara parau. Hinata menggedikkan dagunya dengan ekspresi bertanya.
"Temenin jajan setelah latihan." katanya lagi. "Aku mau ngomongin sesuatu denganmu."
-Playlist-
-Lord don't move that mountain, Mahalia Jackson
-Pelangiku, Sherina
a/n:
-off-pitch: nama lain dari fals, namun bukan kesalahan dalam menyanyikan not, melainkan kesalahan dalam menyanyikan pitch. Seperti terlalu tebal, terlalu cempreng (pitchy) dan lainnya.
-grace note: dapat juga disebut slash. Salah satu bentuk artikulasi dimana terjadi 'pemenggalan' nada naik atau turun. Grace note diaplikasikan untuk membuat lagu menjadi terdengar catchy atau lebih hidup.
-Belting: salah satu teknik menyanyi dimana si penyanyi menarik suara dari register yang rendah ke register tinggi sampai batas dimana ia hendak melakukan switch. Sekilas terdengar seperti teriak, namun dengan teknik belting, para penyanyi bisa mengontrol suara teriakan mereka agar tetap terdengar indah, sesuai dengan not-not yang dibutuhkan tanpa memberikan stress pada pita suara mereka. Penyanyi yang lumayan sering menggunakan teknik belting contohnya adalah Brendon Urie, Demi Lovato, Mariah Carey, Christina Aguilera dan lain-lain.
-mixed voice: adalah suara campuran. Dari segala banyak register suara, transisi antar suara menghasilkan kualitas yang lebih stabil. Transisi ini juga bisa disebut dengan mix voice.
-head voice: atau suara kepala, adalah suara yang berasal dari getaran yang terjadi di sekitar tengkorak, biasanya saat menyanyikan nada-nada tinggi. Meski sama-sama digunakan untuk menyanyikan nada tinggi, head voice menghasilkan suara yang lebih "penuh", lebih stabil dan bisa lebih tinggi lagi dibandingkan dengan nada yang dinyanyikan dengan teknik falsetto.
-head resonance: resonansi atau getaran yang terasa di sekitar tengkorak. Agak susah dijelaskan secara teori, tetapi saat hendak menyanyikan nada tinggi menggunakan head voice, biasanya penyanyi akan menarik nafas dan meresonansikannya di sekitar area tengkorak. Jadi kalau kalian nyanyi nada tinggi dan ada ngerasa kayak "teeeng" di daerah ubun-ubun kalian atau di belakang kepala, itu adalah sensasi head resonance.
-modulasi: perubahan kunci nada. Seperti bagian dimana penyanyi sopran dan bass menyanyikan bagian dan nada yang sama, modulasi terjadi agar memudahkan keduanya menyanyikan bagian lagu yang dikehendaki secara seimbang.
-penjelasan mengenai kuartet.
Kalau tertulis seperti ini [Kita, Sugawara, SB-bar] tandanya mereka bernyanyi dengan modulasi atau pecah suara. Secara di fanfic ini Sugawara adalah sopran dan Kita adalah bass-baritone. Jadi mereka nyanyinya dengan range masing-masing. Sementara kalau tertulis [Atsumu, Bokuto, Shirabu] tandanya si karakter menyanyikan dengan 1 suara. Kalau tertulis [Bokuto] (Atsumu) tandanya Bokuto adalah si penyanyi utama, dan Atsumu sebagai penyanyi latarnya. Tanda kurung siku selalu menunjukkan karakter utama yang nyanyi. Sementara kurung biasa (seperti ini) atau kurung kurawal {seperti ini} menandakan part nyanyi si karakternya.
Bangsat (bacotan ngegas tapi santuy dari author):
Yo wassap, madafakah! Akhirnya haikyuu s4 cour 2 tayang! Author yang sibuk kerja akhirnya punya bahan halu lagi. KENAPA MIYA KEMBAR DAN SUNA RINRIN DAN KITA-SENPAI HOT BANGET DI ANIMENYA AAAAA AKU GAKUAAATTTTT!
Okeh, balik lagi ke fanfic ini. Pokooknya author udah kasih warning dari awal kalau bakalan songfic. Update-an kali ini juga panjang karena performa pergrup. Author mau suasana padusnya lebih berasa, walaupun buat readers yang awam musik mungkin chapter ini terlihat panjang tapi ngebingungin dan ngebosenin. TAPI KALO NGGAK GINI SUNSHINE KESAYANGAN KITA NGGAK ADA PROGRESSNYA DONG AH! /autongegas.
Oke karena ini udah panjang banget author mau udahan ngebacotnya. Spoiler, ada lah tenang aja. KALIAN PASTI KAGET DENGAN APA YANG AKAN DIKATAKAN KAGEYAMA SAMA HINATA NANTI! SIAPKAN KOKORO KALIAN! Oh, dan para readers yang juga jadi readers di wattpad, author mau crossposting beberapa completed fanfic. Supaya fandom HQID rame aja sih. Ffn tetap nomor satu kok, sejak tahun 2009 buat author. Tapi kalau kalian mampir ke wattpad, vote sama comment di akunku juga, ya!
Sampai ketemu di chapter selanjutnyaaaaaa
