"Aku tidak berniat untuk mendengarkanmu berbicara seolah-olah kau tahu banyak hal tentang hidupku."
Kiyoshi menghela napas. "Aku tidak bermaksud sok tahu kok, Hanamiya. Tolong jangan salah paham denganku."
"Jadi hanya ini yang ingin kau bicarakan? Kalau begitu aku pulang, terimakasih sudah menyia-nyiakan waktuku."
"Hanamiya tunggu!" Kiyoshi lagi-lagi menggenggam pergelangan tangan Hanamiya, mencegah pemuda itu untuk kembali mengabaikannya. Berkali-kali hal ini terjadi, dan Kiyoshi sadar bahwa Hanamiya tidak sekadar malas bertemu dengannya, tapi ia memang berusaha menghindarinya. Hanamiya bahkan menolak bertatapan mata dengannya. Kiyoshi merasa aneh, sungguh aneh. Ia berkali-kali menegaskan pada dirinya sendiri bahwa Hanamiya itu pantang menundukkan pandangan kepada siapa saja, terutama kepada Kiyoshi yang sejak dulu selalu ia anggap musuh utamanya meski Kiyoshi sampai sekarang masih tidak paham mengapa Hanamiya melakukannya.
Hanamiya menghela napas. "Apa lagi?"
"Aku… um… bagaimana kalau kita jalan-jalan sebentar?"
"HAH? KAU GI-Ouh! Woy! Lepaskan aku!"
Kiyoshi menariknya, menahan protes Hanamiya dan terus membawa pemuda itu berlari. Kiyoshi tidak tahu apa sebenarnya yang sedang ia lakukan. Yang ia inginkan sejak awal hanyalah mengetahui alasan Hanamiya yang sebenarnya, tapi pemuda itu terlalu sulit untuk bicara. Lagipula Kiyoshi bukan kawan dekatnya. Bahkan Kiyoshi sangsi Hanamiya mau berbagi masalahnya kepada teman-teman Kirisaki Daiichi mengingat posisinya di tim lebih seperti diktator alih-alih seorang rekan.
Rasanya aneh. Tahun lalu Kiyoshi benar-benar tidak ingin melihat wajah pemuda itu karena apa yang dilakukannya bersama timnya, tapi sekarang ia mati-matian membujuk Hanamiya agar pemuda itu mau membagi masalahnya. Tahun lalu ia yakin sekali bahwa ia membenci Hanamiya sepenuh hati, tapi sekarang ia mempertanyakan dirinya sendiri; benarkah ia membenci Hanamiya?
Insiden tahun lalu benar-benar mengubah seluruh hidupnya. Basket yang ia sukai tidak akan bisa ia mainkan selamanya. Kondisi kakinya membuatnya harus rajin rehabilitasi. Bahkan, masa SMA nya harus terpotong hampir setahun penuh hanya untuk rehabilitasi. Tahun ini adalah yang terakhir dan ia harus kembali rehabilitasi. Kiyoshi frustrasi, tapi tidak ada hal lain yang bisa ia lakukan selain menerima. Lalu sekarang, ia dengan suka rela malah berusaha membujuk Hanamiya agar mau mengatakan masalahnya. Apa sebenarnya yang ia pikirkan? Apa yang sebenarnya ia inginkan?
"Apa ini balas dendam?"
Langkah Kiyoshi terhenti. Ia memalingkan wajahnya dan menatap Hanamiya dengan kening berkerut. "Maksudmu?"
Hanamiya mengangkat bahu cuek, tapi ekspresinya tidak relevan. "Kau tau, semacam membalas apa yang ku lakukan tahun lalu…. Mungkin."
"Apa isi kepalamu begitu buruk tentangku?"
"Memangnya kau tidak?"
"Hah?"
Hanamiya terkekeh. "Hentikan semua topeng 'Orang Baik' mu Kiyoshi. Jangan bertingkah seolah-olah kau malaikat berhati murni. Keluarkan saja semua emosimu, kebencianmu, dan semacamnya. Tenang saja, aku bukan orang yang berpaling ketika orang lain berusaha balas dendam."
Kiyoshi menggeleng, ia reflek mengeratkan genggamannya pada pergelangan tangan Hanamiya dan membuat pemuda itu kontan meringis karena ngilu.
"Kau tidak mengenalku dengan baik, Hanamiya."
"Begitu pun denganmu 'kan?" Hanamiya menghela napas. "Apa yang penting untuk dilakukan dua orang yang tidak saling mengenal dengan baik? Tidak ada!"
Memang benar. Kiyoshi menyadari sepenuhnya, tapi toh ia juga sadar bahwa yang dilakukannya tidak salah. Mungkin ia terlalu naïf dengan dunia, dan menganggap segalanya bisa berakhir dengan baik.
Kiyoshi melepaskan genggamannya dan ganti mencengkram kedua bahu Hanamiya. Ia menundukkan kepalanya, menatap lekat pada dua iris kehijauan Hanamiya. Tidak ada raut kekanakannya, pun tidak ada ekspresi konyolnya yang biasa. Hanamiya takjub. Ia beberapa kali melihat wajah serius Kiyoshi, tapi tak pernah sedekat ini.
"Kalau begitu, katakan semuanya tentangmu dan aku akan mengatakan semuanya tentangku maka kita akan berubah menjadi orang yang saling mengenal."
"Hah?! Untuk apa aku melakukannya? Terlebih denganmu? Jangan konyol!"
"Aku hanya ingin mengubahnya."
Hanamiya merengut. "Mengubah? Apa yang terjadi di antara kita tidak akan pernah berubah, Kiyoshi. Sadari saja dan jangan banyak bertingkah. Tidak perlu menyia-nyiakan waktumu untukku karena aku tidak membutuhkannya."
"TAPI AKU BUTUH!"
Hanamiya terbelalak. Kiyoshi menaikkan suaranya dengan ekspresi yang tidak pernah Hanamiya bayangkan. Lebih mengejutkan bahwa ia sendiri sadar tubuhnya bergetar karena hal itu. Respon yang benar-benar tidak pernah ia bayangkan dari dirinya sendiri.
Kiyoshi mengusap wajahnya. Ekspresinya menunjukkan bahwa ia sendiri terkejut dengan tingkahnya. Helaan napas berat dikeluarkan, dan kedua tangan yang meremat kedua bahu Hanamiya berpindah melingkari tubuhnya.
Sebuah pelukan.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud membentakmu."
Hanamiya membeku, jelas ia terkejut. Tapi merasakan bagaimana kedua lengan kekar Kiyoshi melingkari tubuhnya cukup untuk membuat otaknya berhenti bekerja. Diam adalah satu-satunya yang bisa ia lakukan karena ia sendiri tidak tahu harus melakukan apa. Seluruh koleksi sumpah serapahnya tertelan di tenggorokan.
"Hanamiya?"
Hanamiya mengedip bingung. "A-Ah? Eh?"
"Hanamiya? Kau baik-baik saja?"
Hanamiya mendorong dada Kiyoshi, membuat pemuda Seirin itu mundur beberapa langkah.
"Ku kira kita tidak sedekat itu untuk melakukan hal ini."
Kiyoshi menggaruk tengkuk, tersenyum minta maaf. "Aku reflek, tolong maafkan kelancanganku."
"Lupakan saja. Aku pulang."
"Hanamiya, tunggu kita belum—"
"Berhenti atau kau tidak akan pernah bisa berbicara denganku lagi!"
Kiyoshi terdiam, kedua bola matanya melebar melihat Hanamiya yang semakin melangkah menjauh. Sebenarnya ia tidak mengerti dengan maksud Hanamiya. Apakah yang tadi semacam ancaman? Dan kenapa pula Kiyoshi menurut begitu saja?
Sebuah helaan napas kembali lolos. "Apa sih yang ku lakukan?"
Hanamiya berlari masuk ke kamar, membanting pintu. Sembari menyandarkan tubuhnya pada daun pintu, ia merosot jatuh menutupi wajahnya sendiri. Kening mengerut dalam, bibir bawah digigit keras. Reaksi yang jelas-jelas tidak menggambarkan seorang Hanamiya Makoto.
"Seharusnya tidak seperti ini." gumamnya pelan. Kembali ia mengusap wajahnya asal.
Dengan sisa kekuatan di tubuhnya, Hanamiya berdiri dan segera menuju kemar mandi. Setiap kali ia merasa ada yang tidak benar akan dirinya, mandi adalah salah satu jalan untuk sekadar menenangkan diri. Hanamiya jelas tidak tenang sepenuhnya, apalagi setelah apa yang terjadi hari ini.
Kiyoshi Teppei.
Sosok itu benar-benar mengganggu pikirannya belakangan ini. Tidak, sebenarnya sudah lama Hanamiya menandai sosok Kiyoshi di pikirannya. Alasannya terlalu banyak hingga Hanamiya malas menyebutkannya satu-satu. Bahkan insiden cidera tahun lalu pun sesungguhnya hanyalah emosi Hanamiya saja. Kalau boleh jujur, selama ia bermain curang tidak pernah sekalipun ia menghendaki lawannya cidera parah. Tapi kenyataanya selalu berbeda. Tidak hanya Kiyoshi, tapi ace tim-tim lain yang pernah bertanding dengan Kirisaki Daiichi selalu mengalami cidera parah hingga harus ditarik dari lapangan.
Reputasi Hanamiya sebagai bocah nakal sudah terkenal ke seluruh antero pebasket Sekolah Menengah. Sejak dulu, bahkan meski selama ini Hanamiya hanya sekadar mengimajinasikan dan merencanakannya tetapi tidak pernah benar-benar menyentuh para pemain yang cidera itu melainkan teman-teman setimnya.
Luar biasa, bukan? Hanamiya terkekeh datar. Begitulah kehidupannya berjalan.
OooO
AN: RnR?
