Dance of Love
Karya : Miyuki Kobayashi
Re-Write : JAS
.
.
.
.
.
Selamat Membaca Semoga Suka
.
.
.
.
.
Dance Of Love
Disclaimer : Miyuki Kobayashi, Pt Elex Media Komputindo.
Rate : T (For Teen)
Genre : Romance, Friend Ship, Family
Warning : Typo's
.
Bab 7 : Blue Cardigan
"Selamat malam!"
"Selamat malam!"
Malam itu kami berpisah di koridor, lalu tidur di kamar yang berbeda. Tatsuya dan Tomoya tidur di kamar sebelah, sedangkan aku dan Ai tidur di kamar lain. Kami segera naik ke tempat tidur, tapi aku belum mengantuk. Meski dipaksa tidur, tetap saja mataku tak bisa dipejamkan.
"Ai, kamu sudah tidur?"
"Belum."
"Tadi pergi kemana dengan Tomoya?"
"Cuma jalan-jalan di sekitar sini."
"Enak nggak?"
"Ya, malam ini sangat menyenangkan. Terima kasih, Mebae!"
"Ai?"
"Ya?"
"Hmm, kamu ingin sekamar dengan Tomoya?"
"Kamu nggak boleh berpikiran seperti itu!"
"Begitu, ya!"
"Mebae, bagaimana pendapatmu tentang Kak Tatsuya?"
"Orangnya baik."
Author side : Jawaban Klise Macam Apa itu Mebae!
"Kalian mau pacaran nggak?"
"Aku mau sih, tapi…"
"Yah, aku mengerti. Eh, nanti kita pergi berempat lagi, ya!" kata Ai riang.
"Fuaah!" Aku menguap.
"Mebae, terima kasih banyak!"
"Sama-sama. Selamat tidur!"
"Selamat tidur!"
Tak lama kemudian, terdengar napas Ai mulai teratus. Wajahnya tampak tanpa dosa. Akhirnya, mataku terbiasa dengan keglapan. Sinar bulan yang terang menyelusup masuk lewat jendela. Ai benar-benar Bahagia memiliki pacar yang baik. Tatsuya juga baik, tapi… kami nggak mungkin pacaran. Kalau pacaran dari jarak jauh, hati pun akan terasa jauh. Sudahlah, lebih baik dari awal kami bertaman saja. Mebae, kamu nggak boleh suka padanya, kataku pada diri sendiri.
Ini malam terakhirku tidur di ranjang ini. Aku jadi sedih. Perlahan-lahan kusingkap selimut, lalu aku turun dari ranjang. Jangan sampai Ai terbangun. Aku berjingkat seperti anak kucing, menuruni tangga. Dapur di lantai dasar tampak sepi. Apakah Tatsuya dan Tomoya sudah tidur?
Aku segera menjerang ai. Ya, aku ingin minum jasmine tea. Suasana begitu sepi dan gelap. Dari jendela tampak bayangan gelap pepohonan. Cahaya bulan memasuki dapur melalui jendela. Rasa sepi ini membuat pikiranku melayang jauh.
Author side : buset baru tahu sy ada kata 'menjerang' kl ada yg tahu kata ganti yang paling sering digunakan dari kata itu tolong kasih tahu sy.
Sejak kecil, aku selalu datang ke Karuizawa pada setiap musim panas. Aku sering berjalan-jalan ke hutan untuk melihat embun pagi di atas rerumputan. Aku juga senang bermain di padang rumput berbunga. Suara serangga dan lompatan tupai di dahan-dahan pohon sangat indah. Tapi… semua itu sudah berakhir. Hari-hari yang indah di Karuizawa bersama Papa dan Mama sudah berakhir. Mulai sekarang hidup kami akan menderita.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekat. Aku tersentak kaget. Dengan cepat aku berbalik.
"Belum tidur?" Tatsuya berdiri di belakangku. Cardigan birunya menutupi piama.
"Aduh, kaget!"
"Aku juga kaget!"
Tapi, kehadirannya di saat-saat sepi begini membuatku senang.
"Kupikir hantu!"
"Aku juga."
Kami berdua tertawa cekikikan.
"Kenapa?" tanya Tatsuya.
"Nggak bisa tidur."
"Aku juga, nih!"
"Kenapa?" tanyaku.
"Tanpa bantal kesayanganku, aku jadi susah tidur."
"Aneh! Kayak anak kecil saja, sih. Eh, apa Tomoya sudah tidur?"
"Sudah ngorok, tuh. Ai juga?"
"Ya. Kita berdua kayak anak nakal, ya? Malam-malam malah keluar diam-diam," kataku.
"Hmm, tandanya kita sehat. Eh, itu teh, ya? Aku juga mau!" seru Tatsuya.
Kuberikan secangkir teh kepada Tatsuya. Uap panasnya mengepul di atas cangkir.
"Kalau sepi seperti ini, rasanya damai sekali," kata Tatsuya.
"He-eh. Eh, kamu orangnya romantis." Tatsuya tersenyum.
"Tadi Mebae lagi mikirin apa?"
"Masa kecilku."
"Tentang apa?"
"Dulu kalau datang ke sini, aku sering piknik bareng sepupu-sepupuku."
"Ke mana?"
"Biasanya kami pergi ke Air Terjun Shiroito atau ke Danau Kumoba. Tempatnya sejuk dan asri. Tak lupa kami selalu membawa sandwich dan nasi kepal untuk dimakan di sana. Wow, menyenangkan sekali!"
"Besok kita ke sana, yuk!" ajak Tatsuya.
"Boleh."
"Eeem…"
"Apa?"
"Walau sedih kamu harus tetep tersenyum, dong!"
"Kok kamu tahu aku lagi sedih?"
"Kadang-kadang wajahmu tampak muram."
"Maaf."
"Kenapa kamu jadi minta maaf? Mebae, kamu harus berani menghadapi semua ini!" Tatsuya mengucapkannya dengan lembut dan serius. Kata-katanya langsung mengisi relung hatiku. Aku Bahagia dia peduli padaku. Kugigit bibirku kuat-kuat, berusaha menahan tangis.
"Tahukan kamu, sebetulnya aku sudah bertindak nekat," ujarku pelan.
"Nekat?"
"Ini pertama kalinya aku datang ke sini bersama cowok."
"Hah? Tapi… kita kan nggak melakukan apa-apa!"
"Ya, sih! Mestinya aku nggak usah tertalu khawatir!"
Perlahan-lahan air mataku menetes.
"Mebae, kita kan tidak melakukan sesuatu yang buruk. Kita hanya mencari ketenangan."
Tiba-tiba Tatsuya mendekapku ke dadanya. Oh, betala hanganya dada itu. Perasaanku jadi tanang.
Aku merasa nyaman sekali, seperti ditutupi selimut yang hangat. Rasanya malah jadi mengantuk. Perasaan apa ini? Deg… deg… deg… jantungku berdebur semakin kencang. Apakah ini yang namanya cinta?
Author side : sy agak bingun nih kalau di buku sih tulisannya 'berdebur' tapi setahu sy yang bener itu 'berdebar' sy gak tahu yang mana yang bener yang versi sy atau versi buku, jadi sy putusin untuk pake yang di buku aja, namanya juga re-write, yah walah ada beberapa sih yang dibenerin wk.
"Dingin?" tanya Tatsuya.
"Sedikit."
"Ini, pakailah." Tatsuya melepas cardigan birunya dan mengaitkannya di bahuku.
"Terima kasih."
Oh, baju hangat itu menyisakan kehangatan dekapannya. Deg! Tapi… kenapa kedua lengan cardigan rajutannya tidak rapi? Ini… rajutan tangan! Tiba-tiba aku serasa disiram air dingin. Siapakah yang merajut cardigan ini? Cewek lain? Siapa?
Rupanya ada cerita yang tidak kuketahui. Siapa yang memberi Tatsuya cardigan ini? Pastaskah aku meminjamnya? Tomoya pernah bilang, Tatusya memang playboy…
Aku tidak berhak untuk marah. Walaupun aku merasa sangat cemburu pada cewek yang merajut cardigan itu. Namun, tak bisa kupungkiri bahwa aku benar-benar syok!
.
.
.
.
.
Bersambung
