"Aku masih heran gimana ceritanya Lata bisa jadi rebutan dua arjuna." Blaze tertenung di suatu malam yang cerah.

Solar mencubit dagu, berpikir, "Daripada arjuna, bukannya Kak Hali lebih tepat disebut arwana?"

"Lah, kok?"

"Arwana 'kan bersifat bentopelagis."

"Bento—apa?"

"Bentopelagis, Kak. Di dasar dan lapisan atas perairan. Dasar dan atas. Dilihat dari sisi mana pun, lebih unggul."

" … aku gak paham kamu ngomong apa, Lar. Jangan pake bahasa alien, dong!"

"Susah emang, ngomong sama anak IPS."

"HEH, APAAN TUH BAWA-BAWA PARTAI? NGAJAK TAWURAN?"


[Gadis Jamban dan 7 Kurcaci Tampan]

Chapter 7 : Arjuna vs Arwana (4)


Halilintar menyeka keringat, mengembuskan napas lega. Lengannya menggenggam erat ponsel tenonet kesayangan yang nyaris saja tewas. Jika saja penyelamatan yang dilakukannya gagal, Halilintar terancam say bye-bye.

Terakhir kali ia ke counter, abang-abang yang bersangkutan menyuruhnya segera selingkuh pada ponsel keluaran terbaru. Suku cadang gawai purbakala miliknya sudah terlampau langka. Lebih baik ditukar tambah saja, si abang bilang.

Iya, Halilintar tahu. Ponselnya cuma ecek-ecek jika dibandingkan dengan merek buah yang beken dipakai anak populer di sekolah. Tetapi ini perkara sentimentil. Halilintar membeli ponsel itu dari hasil keringat sendiri, bukan dari jatah uang saku bulanan. Mana rela jika harus berpisah begitu saja, apalagi jika alasannya karena tak sengaja menjatuhkan si ponsel dari balkon kamar!

Halilintar menggeram rendah. Siapa pun yang tadi membuatnya kaget, sampai nyaris membunuh ponselnya, harus bertanggung jawab!

Baru saja berniat melangkah, kemarahan Halilintar meluap begitu saja. Dia mengernyit, diserang rasa heran. Ada yang janggal.

Halilintar curiga kamar Latarin yang menjadi sumber kekagetannya, berhubung kamar terdekat lain adalah milik Taufan dan yang bersangkutan selepas ujian sibuk berguru pada Kakek Aba. Permasalahannya, Latarin tak pernah membanting pintu kamar sendiri. Menggedor kamar orang sih lain cerita. Kalau dugaan Halilintar memang benar, ada apa gerangan?

Tunggu sebentar!

Rasa cemas tumbuh perlahan. Seingat Halilintar, hari ini Latarin ada jadwal latihan. Kok … ?

Tak mau tenggelam dalam kekhawatiran, Halilintar segera melangkahkan kaki keluar. Alisnya otomatis naik sebelah saat melihat Mama Amaya berdiri di depan pintu kamar Latarin yang tertutup rapat.

"Nak—"

"Gak! Lata gak peduli. Pokoknya Lata keluar!"

Keluar?

Perasaan Halilintar jadi tidak enak. Mama Amaya mengurut pelipis, jelas terlihat penat atas … entahlah ini ada apa. Dia tak suka berbasa-basi, jadi langsung saja ia ajukan pertanyaan yang menggema di dalam kepala.

"Lata kenapa, Ma?"

"Ah, biasa, kumat keras kepala adikmu ini." Mama Amaya menghela napas.

"Oo … gitu." Halilintar berusaha keras agar tidak menyuarakan usul pada sang mama untuk berkaca. Bagaimanapun, dia kapok disuruh sunat dua kali. Biar Mama cuma bercanda, ngilunya tetap terasa.

Perhatian Mama Amaya kini tertuju pada Halilintar. Wanita itu mengernyit. "Lah, kamu sudah rapi begini mau ke mana?"

"Tadinya mau latihan drama di rumah Ying."

"Tadinya?"

Halilintar melirik pintu kamar Latarin, bibirnya tertarik sedikit membentuk senyum. "Ada yang lebih urgent. Latihan bisa nyusul atau sekalian aja izin."

"Oho—" Mama Amaya menyikut putranya, iseng. "—anak Mama sudah pintar modus, ya!"

Modus? Dih, ogah! Halilintar kapok disangka kerasukan setan! Dia murni khawatir, lo!

"Gak gitu, Ma."

"Kalau 'gitu' juga tidak apa-apa."

Ekspresi wajah Halilintar langsung tertekuk. "Justru kalau modus seharusnya Mama larang, lah! Kalau Lata dimanfaatin gimana? Diambil kesempatan dalam kesempitan?"

Mama Amaya terkikik. Selama beberapa saat, wanita itu hanya mengelus pipi Halilintar tanpa mengatakan apa-apa. Saat suara merdunya kembali mengudara, pandangannya amat teduh.

"Kamu ada niatan begitu, memang?"

Halilintar memicingkan mata. "Mama serius nanya aku begitu?"

"Lihat? Ini alasan Mama tidak melarangmu kalau mau nyelip-nyelip modus. Juga tidak mengindahkan usulan Papa untuk memisah kamar kalian agar tidak bersebelahan—lebih parah lagi memintamu tinggal dulu di rumah Kakek Aba sampai hari keberangkatan."

Eh?

Halilintar mengernyit.

"Papa usul begitu? Aku pikir Papa mengira aku bercanda. Bukannya kemarin-kemarin itu Papa kelihatan siap bawa golok ya, pas tahu Lata lagi sering jalan dengan Fang? Padaku tidak begitu."

Cuma main yang belum modus-modus amat, ekspresi Papa sudah seperti itu. Bagaimana dengan Halilintar yang kepergok Taufan tidur satu kasur? Walau tidak sengaja, sudut hati Halilintar yang terdalam dan tersembunyi benteng ke-tsundere-an menganggap insiden itu sebagai rezeki yang kalau terjadi dua kali bisa menambah dosa.

Mama Amaya tertawa. "Papamu cuma tahu Fang itu kawan adikmu Blaze. Lah kalau kau, dia hafal dari orok. Jelas juga sudah melihat bagaimana hubunganmu dengan Lata selama ini. Kami percaya padamu, Halilintar."

"Hm …." Halilintar tak tahu harus menjawab bagaimana. Tiba-tiba saja dia merasa canggung.

"Ya sudah, Mama tinggal dulu." Mama melirik pintu kamar Latarin sejenak, menghela napas lagi. "Semoga saja Lata mau mendengarmu."

Setelah yakin Mama sudah menuruni tangga, Halilintar mengetuk pintu kamar Latarin. Tidak kasar, tapi pakai kaki.

"Kau yang buka atau Abang yang ancurin pintunya?" ujar Halilintar "santai".

Pintu langsung dibuka saat itu juga. Pemilik kamar mendelik, bibirnya mengerucut.

"Abang jangan ge-er, ya! Walau Mama dan Papa memberi lampu hijau, bukan berarti aku nerima Abang!"

Jamban sialan—

Halilintar memejam sebentar, menghitung satu sampai sembilan. Hitungan selesai, ia tersenyum pada Latarin. Senyumnya melebar sedikit saat sang adik reflek mengambil satu langkah mundur.

Tadinya Halilintar berniat tak akan menggali jika Latarin enggan membicarakan masalah dengan Mama. Kalau sudah begini sih … nurufufufufu.

Halilintar melipat tangan. "Kau dengar 'kan? Tadi Mama bilang kau kumat keras kepala. Ada apa?" tanyanya, langsung melakukan sekakmat.

Badan Latarin menegang, giginya mengertak. "Kalau Abang mau ngatain aku keras kepala juga, mending keluar aja sana! Tinggalin aku sendiri!"

Halilintar terkesiap. Ini lebih serius dari dugaannya. Ia mengusap wajah, berusaha menyingkirkan kedongkolan yang tadi dirasakan. Ini bukan saat yang tepat untuk tunduk pada emosi.

Apalagi, terlepas dari ucapan yang menyampaikan amarah, mata Latarin malah tampak menahan tangis.

"Sini." Halilintar menarik Latarin duduk berhadapan di kasur gadis itu. "Cerita sama Abang. Tadi ada apa? Bukannya kamu latihan?"

"Hari ini pengukuhan tim buat pertandingan provinsi. Aku didaftarkan di tim Kata."

Halilintar mengernyit. Kata adalah cabang pertandingan karate dalam bentuk peragaan jurus-jurus. Seingat Halilintar, progres Latarin di FORKI kota selama ini cukup unggul dan kemungkinan besar dipilih menjadi wakil yang maju untuk cabang Kumite alias perkelahian. Kenapa malah—

Ah. Tentu saja.

"Ada yang main belakang?" tebak Halilintar.

"Bukan cuma itu! Aku juga dituduh melanggar kode etik! Aku tahu, bukan cuma sekali aku terlibat urusan Kak Blaze. Tapi aku juga gak asal ikut gitu aja! Aku cuma bantu yang jelas bukan menyerang duluan dan bakal jadi bahaya kalau tidak kubantu!"

Halilintar mencubit dagu. "Sudah coba jelaskan pada Sensei? Kau akrab dengannya, bukan?"

"Daripada akrab, lebih tepat dia berusaha memanfaatkanku." Latarin tertawa hambar. "Aku memergokinya sedang berbincang dengan seseorang, Bang. Mereka seperti … sedang berdebat? Intinya, salah satu dari mereka berpikir tanggung kalau aku masih masuk tim bertanding. Sekalian saja tendang. Sementara Sensei ingin kompensasi karena terancam kehilangan kesempatan mendapat easy gold dariku."

Halilintar bersiul. "Kenapa tidak kau hajar saja mereka sampai babak belur?"

Latarin memukul Halilintar menggunakan bantal. "Jangan bercanda dulu! Aku lagi ngomong serius, ini!"

"Maaf, maaf!" Halilintar terkekeh. "Lanjut. Jadi, kau sadar Sensei-mu bermain kotor dan ingin keluar. Begitu?"

Latarin mengangguk. "Mama memintaku untuk sabar, toh katanya ini tahun terakhir Sensei memegang wewenang. Atau pindah ke klub lokal selepas pertandingan saja. Kalau aku keluar sekarang, kemungkinan besar aku di-blacklist karena terlihat seolah aku menolak masuk tim kata. Akan sulit untuk maju jadi atlet, Mama bilang.

"Mama menyuruhku jangan ambil keputusan saat emosi. Kalaupun iya pintuku jadi atlet akan tertutup, ya sudah! Aku tak ada niatan lanjut jadi atlet jika sudah lulus nanti! Kenapa Mama malah mengataiku keras kepala? Sayang kalau 'cadangan' ini kulepas begitu saja? Abang yang awalnya ingin jadi atlet dan mundur duluan saja tidak diprotes!"

Kalimat terakhir yang Latarin ucapkan menyalakan lampu artifisial di atas kepala Halilintar. Pemuda itu meringis. Dia merasa berhutang maaf.

"Abang curiga Mama sebenarnya hanya khawatir kau akan menyesali keputusanmu. Kamu ingat, 'kan? Lulus SMP Abang bingung mau ambil SMA/SMK dan kalau SMK mau jurusan apa. Di situ, jujur, Abang menyesal sudah mundur. Makanya SMK ambil ekskul karate untuk menggantinya."

"Eh?"

"Kau sudah masuk FORKI lokal. Langkahmu lebih jauh dari Abang dulu. Mungkin karena itu Mama lebih khawatir? Kau harus ingat, kau ini agak bebal kalau dikasih tahu. Ulahmu cenderung seolah kau tidak berpikir sebelum bertindak. Padahal memang berpikir, cuma terlalu malas saja untuk mendengar apa kata otak."

Halilintar mengabaikan seruan protes dari sang adik, melanjutkan, "Wajar Mama sampai begitu. Mengenalmu, Abang yakin kau tidak berusaha menjelaskan. Alasanmu waktu bocah sampai merengek ingin masuk karate saja memangnya Mama tahu? Apa Mama masih berpikir kau ingin menghabiskan lebih banyak waktu denganku?"

Latarin membuang pandangan, memilih menutup mulut. Halilintar memutar bola mata menanggapinya. Sekakmat lagi, tentu saja.

"Abang paham kalau kau takut penjelasanmu tidak diterima. Mama sama batunya denganmu." Senyum tak bisa Halilintar tahan saat Latarin tertawa kecil mendengarnya mengatai mama mereka keras kepala. "Kalau memang kau sudah yakin ingin keluar, Abang dukung. Nanti Abang bantu bicara sama Mama juga."

"Aku—" Latarin meneguk ludah. Matanya berkaca-kaca. "—takut Mama marah atau kecewa padaku. Aku ada bakat di sini, tapi mau kusia-siakan."

"Kau lupa Mama bilang apa pada Blaze?" Halilintar mencubit pipi Latarin, gemas. "Abang juga sudah bilang tadi, Abang mundur dari karate sampai ujungnya menyesal. Mama marah? Tidak. Kalau kecewa pun ya tidak akan jadi masalah. Ada jalan lain, bukan? Kesalahan itu tahap pendewasaan."

Latarin masih terlihat tidak yakin. Halilintar gatal ingin menyingkirkan ekspresi itu dari wajahnya.

"Kalau sampai kau gagal sepenuhnya juga santai saja. Abang bisa menjamin biaya hidupmu, kok." Dari wajahnya yang spontan merona dan terlihat jelas menahan salah tingkah, dapat dipastikan dia sama sekali tidak merencanakan jawaban itu. Sepertinya sedikit efek samping obrolan dengan sang ibu tadi.

Setidaknya, niat Halilintar terpenuhi. Ekspresi gadis itu berubah seketika.

"Ih, Abang! Kok doanya jelek begitu?" Latarin melotot kesal. "Aku bakal berusaha biar gak sampai gagal segitunya lah! Abang tahu apa yang mau kukejar di masa depan! Aku masuk jurusan IPA dan tetap bertahan walau harus menghadapi Solar itu tentu saja ada alasannya!"

"Nah, kau tinggal bilang pada Mama. Masalah selesai. Kau keluar setelah memberi 'salam perpisahan tak terlupakan' pada Sensei pun Abang yakin Mama tak akan protes."

Latarin memukul lengan atas Halilintar, tertawa lepas. "Dasar hipokrit! Pada Kak Blaze bilang jangan banyak mengajarkanku hal tidak baik, padahal Abang yang paling sesat!"

Halilintar menyeringai kecil. "Kau tidak butuh tambahan kakak yang bijak dan budiman. Satu Gempa saja sudah cukup."

Latarin mendecih, lalu tertawa lagi. Saat tawanya selesai, Halilintar mengusap puncak kepala gadis itu.

"Sudah mendingan?" tanyanya, lembut.

"Iya. Makasih ya, Bang."

"Ok. Sekarang bayar."

"Ih, Bang Hali ngeselin!"

"Trims."

Misi sukses!

.

Ketika Latarin siap jiwa-raga untuk menghadap Mama Amaya, yang bersangkutan tak ada di tempat.

"Kalau kau mencari Mama, tadi pamit ke kantor. Ada yang harus diurus, katanya." Blaze menjelaskan.

Latarin ingin mengeluh, tapi yang biasa ia jadikan tempat rengekan juga sudah berangkat latihan drama. Suasana hatinya langsung memburuk.

Itulah mengapa saat Fang mengajaknya jalan-jalan, ia menyetujui tanpa pikir panjang. Kejadian hari ini menuntutnya mencari pelampiasan bersenang-senang.

Kalau tahu bagaimana akhirnya, mungkin Latarin memilih mendekam di kamar saja sampai Mama pulang.

.

.

.

Penyesalan itu selalu datang terlambat. Halilintar menyadarinya dari umur 14 tahun. Apakah setelah empat tahun kemudian ia jera? Tentu tidak. Terutama jika gengsi dan harga diri sudah bersuara.

Sambil memacu langkah, Halilintar hanya bisa mengumpati diri. Kurang lebih 5 kilometer ia lalui dengan berjalan kaki. Sebab, bis kota jalur dekat rumah Ying sudah lewat jam operasi. Terpaksa ia harus berjalan menuju rute angkot ke rumahnya. Mau pakai jasa transportasi daring pun percuma, Halilintar lupa membawa tablet. Di sakunya cuma ada ponsel tenonet kesayangan yang baterainya sudah habis pula.

Kalau saja tadi Halilintar mengabaikan gengsi dan menerima tebengan dari teman perempuannya, mungkin saat ini ia sudah sampai rumah.

Sial kuadrat, pokoknya.

Halilintar sanggup, kok, biar harus berjalan sampai rumah. Ini belum seberapa jika dibandingkan dengan sesi latihan dari Pak Tarung. Hanya saja, saat ia berangkat, keadaan Latarin belum membaik sepenuhnya. Halilintar khawatir Solar akan memperburuknya.

Kecerdasan intelektual yang dimiliki laki-laki paling muda keluarga Amato itu seringkali menumpulkan kecerdasan emosionalnya. Rasa penasaran anak itu tidak pernah menghiraukan rambu-rambu emosi seseorang. Kalau tak ada salah satu dari tiga kembar sulung—atau Latarin di waktu tertentu—yang menjadi tameng penahan, memicu perang bukanlah hal yang mustahil dilakukan Solar.

Huh. Rasa khawatir ini membuat Halilintar jadi hiperbolis. Halilintar harus cepat-cepat sampai rumah.

Tak lebih dari lima menit kemudian, Halilintar sampai di halte angkot yang dituju. Sebelah alisnya terangkat, menyadari ada sosok lain di halte tersebut.

Dari tubuhnya, Halilintar menebak orang itu berjenis kelamin perempuan. Dia duduk bersandar, tudung jaket menutupi wajahnya dari—sebentar, Halilintar merasa tidak asing. Jaket yang dipakai orang itu mirip dengan parka kesukaan Latarin. Dilihat-lihat lagi, bukankah itu celana latihan tim junior FORKI kota mereka?

"Oi, Jamban!" Sosok itu tersentak, langsung mengangkat kepala dengan mulut menganga. Yep, Halilintar tak salah. Memang Latarin. "Habis dari mana?"

Ini sudah cukup larut. Kenapa Latarin bisa ada di sini? Sendirian?

Kalau ada apa-apa dengan Solar, setidaknya masih ada Gempa atau Ice. Mereka pasti menyusul Latarin kalau anak ini memilih enyah dari hadapan Solar. Ke luar rumah pula.

Sudah jadi kesepakatan tak tertulis penghuni rumah untuk tidak membiarkan Latarin sendirian jika anak itu sedang merasa terpukul atau marah.

"Bang Hali ... ? Ini beneran Abang, 'kan? Bukan khayalanku saja?"

Lampu merah berkedip cepat diiringi sirine nyaring di kepala Halilintar. Dia buru-buru duduk di sebelah Latarin dan memeluknya erat. Benar saja, Latarin langsung menangis.

Halilintar benci perasaan tidak enaknya terbukti. Lagi.

"Kenapa?"

Latarin tak menjelaskan. Tapi, dari pertanyaan yang dibisikkan anak itu—kemungkinan besar tak disadari pula—satu nama muncul di kepala Halilintar sebagai kesimpulan.

"Bang Hali gak akan nuntut aku balas perasaan Abang, 'kan?"

Fang.

.

.

.

"Lah, Latarin kenapa? Kok pake kacamata hitam? Lagi sakit mata?" Pertanyaan ini adalah sambutan pertama yang didapat Latarin begitu duduk di bangkunya.

"Matanya bengkak, dipipisin kecoa." Belum sempat menjawab, Solar sudah menikung duluan. Latarin berani bertaruh, anak itu puas karena jawabannya berhasil memancing tawa dari seisi kelas.

"Sumpah? Mana lihat!"

"Iya, coba buka Lat!"

Teman sekelas biadab, memang, mereka itu.

Ma, Lata ingin pulang saja.

Helaan napas dilakukan gadis itu saat Solar menarik kacamata yang ia pakai tanpa izin. Cekikikan dan berbagai ekspresi tersebar di kelas. Latarin ingin mencakar muka Solar. Kenapa dia merasa seolah dirinya adalah hewan sirkus yang sedang dipertontonkan Solar?

Itu juga yang berdecak takjub siapa coba? Keterlaluan!

"Eh, tapi mending! Kakakku pernah dipipisin kecoa juga, bengkaknya lebih parah lo!" Salah satu anak berkomentar.

Latarin membatin kesal, aku gak nanya, Bambang!

Lagi pula matanya tidak benar-benar kena kencing kecoa.

Serius. Latarin tidak punya tenaga untuk menjadi makhluk sosial hari ini. Dia ingin pulang. Mandi kuaci kalau perlu.

Suasana hatinya masih ambyar. Ingin menghancurkan sesuatu yang kokoh, tapi takut dilaknat Kakek Aba.

"LATARIN … !"

Latarin mengerang keras, menyembunyikan wajah di balik lipatan tangan. Kak Gopal ada perlu apa mendatanginya ke kelas sebelum bel masuk begini? Tadi pagi satu keluarga berangkat bersama. Kak Blaze tak mungkin dihadang di perjalanan oleh pasukan lawan.

Kecuali kalau semalam dia membelah diri?

Latarin mengernyit. Tidak, tidak! Seingat Latarin, tak ada cacing pipih di pohon keluarga mereka. Hari ini Kak Blaze memang sampai di sekolah dengan aman dan damai.

"LATARIN!" Gopal mengguncang bahu Latarin. Intonasinya jelas panik, tapi Latarin menolak untuk peduli. "GASWAT!"

"Aku gak peduli pasukan mana yang ngajak tawuran. Kak Gopal bisa balik nanti. Aku lagi gak mood."

"BUKAN ITU!" Guncangan Gopal makin dahsyat. "KAK HALILINTAR SAMA FANG BERANTEM DEPAN KANTIN DKV!"

NANI … !

"Buruan! Gak ada guru yang berani misahin!"

Latarin mengerang lagi, mengeluh pada udara, "Kenapa harus aku?"

Kak Gopal menggelengkan kepala. Dia terlihat masih panik. "Blaze yang menyuruhku memanggilmu!"

"Fang itu kawannya! Bang Hali juga abang dia! Harusnya dia bisa misahin juga! Masa—"

Cerocos kesal Latarin diputus tawa tertahan Solar. "Kurasa kau tahu kenapa harus kau yang melerai mereka, Lat," ujar Solar. Senyum kambing terukir di bibirnya.

Sesaat, Latarin terdiam. Rasa jengah terkunci semakin rapat seiring terprosesnya kata-kata Solar di otak. Saat ia mengerti apa yang Solar maksud, tangannya terkepal erat.

Gopal dan Solar melihat gadis itu mengeritkan gigi, sebelum berlari meninggalkan kelas dengan kecepatan tertingginya.

.

Ricuh. Hanya satu kata itu yang tepat menggambarkan keadaan sekitar kantin jurusan DKV Kokotiam.

Murid-murid bersorak, membentuk barikade yang mengelilingi medan tempur dua murid berbeda angkatan dan jurusan yang sedang baku hantam. Latarin melihat Gempa dan Taufan baru sampai, keduanya terlihat berdiskusi. Kemungkinan membuat rencana agar bisa menyudahi sumber kericuhan.

Di sisi lain, Blaze dengan beberapa anak buahnya sedang berusaha menembus kerumunan. Ekspresi mereka serupa, menunjukkan kekhawatiran … yang Latarin yakini tertuju pada pimpinan mereka.

Mereka sudah pernah menyaksikan bengisnya Halilintar ketika marah. Dan kali ini, anak emas Teknik Elektronika Industri itu kalap.

Latarin meregangkan otot sejenak, langsung menancap langkah gesit. Ia melompat, menaiki satu anak di sisi terluar barikade, lalu menjadikan anak lain seolah medan parkour hingga akhirnya ia mendarat sempurna di depan barisan murid paling depan.

"Idiot!" hardik Latarin.

Dia tidak berteriak. Namun, ia memastikan dua tersangka keributan dapat jelas mendengarnya.

Keadaan senyap dalam sekejap. Fang dan Halilintar membeku dalam posisi masing-masing. Mata keduanya membulat, tertuju pada Latarin.

"Sori, Kak Fang." Latarin melirik Fang sebentar, seolah tak ada niat sama sekali untuk melakukannya. Dia lanjut menuding Halilintar. "Bang Hali kalau butuh partner gelut bilang aja, aku jabanin. Bukan cuma Abang yang butuh pelampiasan emosi!"

Hening.

"Kalian ini apa? Pemeran sinetron menye-menye?" Latarin memijat keningnya. "Harus banget berantem di sekolah? Bablas jam pertama?"

Masih hening. Latarin jadi dongkol sendiri.

"Pak, Bu, ini udah saya bikin berhenti berantemnya gak bakal diseret ke kantor kepsek? Perlu saya juga yang ngasih sanksi sama mereka?"

Beberapa guru langsung tersadar setelah sindiran itu Latarin ucapkan. Latarin terang-terangan menolak menatap dua murid yang dibawa pergi. Dia menggertak anak lain yang masih diam saat dibubarkan sisa guru yang ada.

"Aku males balik ke kelas. Nanti bawain tasku pulang, Lar," ujar Latarin saat berpapasan dengan Solar, tak jauh dari tempat kejadian perkara.

Solar masih memasang senyum yang sama. "Selamat bolos, Lat," katanya, jelas menahan tawa.

Latarin mendengus. "Nanti aku lihat catatanmu, ya."

"Memangnya bisa mengerti catatan punyaku?"

"Laron sialan." Meski umpatan yang terucap lisan, bibir Latarin membentuk senyuman.

Ketujuh saudaranya punya cara berbeda dalam menunjukkan kasih sayang. Dan Latarin mensyukuri hal itu.

Kalau semuanya sama seperti Halilintar, Latarin bisa gila. Terkadang, keprotektifan Halilintar terhadapnya terasa terlalu mencekik. Dia memang tak membatasi ruang gerak Latarin, tapi tindakannya di luar itu terkadang sangat menjengkelkan dan terlalu berlebihan. Seperti ancaman yang dilakukannya pada pasukan Kokotiam, terutama Blaze, hanya karena Latarin terlibat tawuran.

Padahal, Latarin tak pernah pulang babak belur.

Sekarang … masalah ini.

Lata bisa meninju Fang sendiri, tidak perlu diwakili.

.

.

.


Bersambung


Untuk yang bertanya ini bakal berapa chapter, saya gak bisa ngasih jawaban mutlak wkwk. Karena memang ngetiknya nyelip lagi garap naskah novel dan langsung up kalau chapternya selesai. Yang udah jadi tuh outline-nya. Jelasnya sih tak akan mencapai angka dua puluh.

So, this is the end of "Arjuna vs Arwana" arc! What do you think?

Maaf kalau kurang maksimal, btw. :')

See you next part! Kritik dan saran seperti biasa silakan tinggalkan saja di kolom review.

Sekian terima gaji.

Salam Petok,

Chic White