MAELSTROM CHRONICLE : THE BURNING MAZE

When the sun shines so bright, the darkness will fade…

.

Naruto © Masashi Kishimoto

Percy Jackson and The Olympians, The Heroes of Olympus, The Trials of Apollo © Rick Riordan

.

.

Summary : Seorang putra matahari telah tiba di Manhattan, misinya adalah untuk menggantikan tugas ayahnya untuk menyelamatkan ketiga Oracle kuno yang masih berada dalam cengkraman Triumvirate Holdings. Kali ini, ia ditugaskan untuk mencari seorang Penutur teka-teki silang dalam sebuah labirin yang terbakar. Sanggupkah ia untuk menuntaskan misinya?


.

.

VII

Aku merangkak dalam labirin yang menyemburkan api

.

.


Eh … mengapa kalian masih di sini? Apa kalian masih penasaran dengan kisahku selanjutnya? Sebaiknya jangan deh … aku sangat menyarankan kalian untuk segera beranjak dari tempat ini karena apa yang terjadi selanjutnya hanya menyisakan rasa pedih yang mendalam dan aku tidak bisa menjamin kalian kalau kalian tidak tahan untuk membacanya.

Oi … hentikan tatapan memelas kalian! Aku sudah memperingatkan kalian! Pergi sana!

Argh … baiklah-baiklah, aku akan melanjutkan kisah ini. Sepertinya karma buruk Apollo tertular kepadaku, atau mungkin ini ada hubungannya dengan hukuman yang harus ia jalani? Siapa yang tahu. Oke … enaknya kita mulai darimana?

Ah ya, selepas pertemuan kami (aku dan Percy) dengan Hermes di tepi pantai, aku dan Percy memutuskan untuk kembali ke kabin kami masing-masing. Ketika aku baru saja masuk ke dalam, Apollo sudah mencecarku dengan beragam pertanyaan karena tiba-tiba menghilang dari arena latihan. Aku hanya bisa menceritakan pertemuanku dengan Hermes di tepi pantai tadi.

Apollo yang mendengar ceritaku sontak terkejut. Sepertinya ia juga tidak menyangka kalau saudarinya yang terkenal acuh dan sering membenci laki-laki, malah memberikan hadiah kepada seorang demigod laki-laki. Selepas makan malam, aku dan Apollo kembali ke Rumah Besar bersama Sasuke dan juga Meg untuk membahas perjalanan kami. Karena waktu semakin berjalan dan kami tidak tahu kapan Perkemahan Jupiter bisa bertahan dari serangan Triumvirat, maka kami memutuskan untuk berangkat saat fajar.

Kini aku berjalan dalam lorong yang sempit dan gelap bersama Sasuke dan Meg, sementara pemandu berkuku belah kami, Grover, tengah mengendus-endus udara di sekitar kami. Sudah lebih dari tiga hari kami menjelajahi labirin ini—menyeberangi lubang-lunag kegelapan dan mengitari danau-danau beracun, melewati pusat-pusat perbelanjaan bobrok yang hanya ditempati toko Halloween obral dan rumah makan Cina prasmanan yang meragukan.

Labirin adakalanya merupakan tempat yang membingungkan. Meski aku baru pertama kali memasuki tempat ini, namun aku merasa pusing karena harus menjelajahinya. Seperti jejaring pembuluh kapiler di bawah kulit dunia fana, Labirin menghubungkan ruang-ruang di bawah tanah, got-got, dan terowongan-terowongan terlupakan di sepenjuru bumi tanpa menghiraukan ruang dan waktu. Kita bisa saja memasuki Labirin melalui lubang jalanan di Roma, berjalan tiga meter, membuka pintu, dan mendapati diri kita berada di lereng kawah Gunung Vesuvius yang curam. (Tolong jangan bertanya. Hampir saja kami semua menjadi daging panggang.)

Mungkin aku lebih suka untuk menghindari labirin saja. Tetapi sialnya, ramalan pengganti yang disebutkan Apollo menyatakan secara spesifik : Lewati labirin kelam ke negeri nan gersang. Asyik! Bersama naga dan si pemandu berkuku belah yang tahu jalan, Mampu tunjukkan jejak kaki musuh ke sana.

Hanya saja, pemandu kami yang berkuku belah, Grover Underwood sang satir, sepertinya tidak mampu menunjukkan jejak kepada kami.

"Ini jalan yang benar 'kan?" tanya Sasuke untuk ke sekian kalinya.

"T-tentu saja. Ini jalannya," balas Grover gugup.

"Jangan bilang kau tersesat … lagi," gumamku.

"Tidak!" dia memprotes.

Pemuda itu tertatih-tatih dalam balutan celana jins gombrang dan kaus tie-dyed hijau, kaki kambingnya yang bersepatu New Balance 520 modifikasi terseok-seok di atas lantai berbatu. Topi rajut merah menutupi rambutnya yang coklat keriting. Benjolan tanduknya jelas-jelas kelihatan dari balik topi rajutnya. Sepatunya copot sendiri beberapa kali sehari dari kakinya yang berkuku belah, padahal aku ataupun Sasuke sudah bosan menjadi pemungut sepatunya.

Dia berhenti di lorong bercabang tiga. Di kanan kiri, dinding batu kasar terbentang ke kegelapan. Grover menarik-narik janggut kambingnya yang tipis sambil mengendus-endus. Aku lebih percaya kalau Grover itu seekor anjing daripada seekor kambing karena kebiasaannya yang suka mengendus itu.

"Bagaimana?" tanya Meg.

Grover berjengit. Yah … aku paham dengan perasaannya. Bagi para pembaca sekalian, aku ingin mengatakan sesuatu pada kalian. Jangan pernah membuat Meg marah. Aku sudah pernah mencobanya dan ya … itu pengalaman yang traumatis. Pokoknya jangan deh.

Bahkan Sasuke yang sering cuek bebek saja kini berkeringat dingin ketika mendengar nada Meg yang tidak senang.

Padahal, Meg McCaffrey tidak tampak menakutkan. Dia kecil untuk anak seusianya dan berpakaian sewarna lampu lalu lintas—rok terusan hijau, legging kuning, sepatu merah tinggi bertali-tali—yang kotor dan robek-robek karena sering dipakai merangkak-rangkak di terowongan sempit. Sarang laba-laba tersangkut di rambut pendeknya yang berwarna gelap. Lensa kacamatanya yang berbentuk mata kucing sudah kusam sekali sehingga mencengangkan bahwa dia masih bisa melihat. Secara keseluruhan, dia menyerupai anak TK yang baru selamat dari perkelahian brutal memperebutkan ayunan ban.

Grover menunjuk ke terowongan sebelah kanan. "Aku—aku lumayan yakin kalau Palm Springs di arah sana."

"Lumayan yakin?" tanya Meg, "Seperti kali terakhir, waktu kita masuk ke kamar kecil dan mengagetkan Cyclops di toilet lagi?"

Aku terkekeh kecil. Aku ingat Apollo pernah bilang kalau pada saat petualangan mereka bertiga sebelum ramalan diganti, Grover juga menyesatkan mereka menuju toilet dan mengagetkan seekor Cyclops. Tak kusangka aku akan merasakan hal yang sama.

"Apa yang lucu, hah?" tanya Meg geram. Kekehanku berhenti. "Um … maaf, kelepasan."

"Itu bukan salahku!" protes Grover. "Lagi pula, di arah sini, baunya pas. Seperti … kaktus."

Meg mengendus-endus udara. "Aku tidak mencium bau kaktus."

"Sama aku juga," balasku. Sasuke mendengus. "Lebih baik kita pasrahkan masalah penunjuk jalan ini kepada Grover. Kita tidak punya pilihan selain mempercayainya," katanya.

Grover memeluk Sasuke dengan erat. Aku bisa melihat ingusnya sedikit meler dari hidungnya. "Terimakasih atas kepercayaanmu, kawan," gumamnya, "kau sangat perhatian."

"Iya … iya, tapi singkirkan ingusmu dari pundakku," kata Sasuke sambil mengenyahkan kepala Grover dari bahunya.

Meg mengelap hidungnya. "Ya sudah. Aku Cuma tidak menyangka kita akan berkeliaran di bawah sini selama tiga hari. Pertengahan musim panas tinggal—"

"Empat hari lagi," tukasku, memotongnya. "Kami tahu."

Mungkin aku terlampau ketus, tetapi aku tidak perlu diingatkan mengenai isi lain ramalan. Selagi kami menuju selatan untuk mencari Oracle yang berikutnya, teman kami Leo Valdez kembali menerbangkan naga perunggunya habis-habisan ke Perkemahan Jupiter, kamp penggodokan demigod Romawi di California Utara, dalam rangka memperingatkan mereka tentang kebakaran, maut, dan bencana yang konon akan mereka hadapi saat pertengahan musim panas.

Kucoba untuk melembutkan nada bicaraku. "Kita harus mengasumsikan bahwa Leo dan bangsa Romawi mampu mengatasi apa pun itu yang muncul di utara nanti. Kita punya tugas sendiri."

"Belum lagi kebakaran," Grover mendesah.

"Kebakaran yang pernah kau sebutkan di Perkemahan itu?" tanya Sasuke.

Grover mengangguk. Tapi sebagaimana lazimnya selama tiga hari terakhir ini, Grover kembali berkelit. "Sebaiknya tidak kita bicarakan … di sini."

Dia melirik ke sana kemari dengan gugup, seakan dinding-dinding mempunyai telinga—yang memang mungkin. Labirin adalah struktur hidup. Berdasarkan bau yang menguar tajam dari sejumlah lorong, aku lumayan yakin kalau Labirin setidak-tidaknya memiliki usus besar.

Grover menggaruk-garuk rusuknya "Akan kuusahakan supaya kita bisa sampai di sana secepatnya, Teman-Teman," dia berjanji. "Tapi, Labirin punya pikiran sendiri. Kali terakhir aku ke sini bersama Percy ..."

Nostalgia mewarnai ekspresinya, sama seperti ketika dia menyebut-nyebut petualangan lama bersama sahabatnya yang juga sahabatku, Percy Jackson. Aku tidak bisa menyangkal Grover. Percy memanglah demigod yang serbabisa dan telah memiliki segudang pengalaman yang belum tentu juga dialami oleh demigod lainnya.

Kutepuk bahu Grover seraya berkata, "Oke deh … aku tahu kalau kau merindukan saat-saat petualanganmu bersama Percy. Tapi kita masih memiliki misi di sini. Ayo terus mengendus-endus kaktus, mungkin kau bisa membuka hidungmu lebar-lebar sekalian untuk mencari sarapan. Kopi dan semangkuk ramen, misalkan. Itu juga boleh."

Ia tertawa kikuk. "Hehehe … maafkan aku. Kalau begitu ayo berangkat!"

Kami langsung menyusuri lorong yang dimaksud oleh Grover. Lorong itu sangat sempit dan mengeluarkan bau anyir dan bacin yang semerbak, bahkan kedua bahuku menempel pada dinding lorong. Kami harus masuk satu persatu seraya membungkukkan badan saking sempitnya lorong tersebut.

Aku menempati posisi tengah, tepat di belakang Grover, sedangkan Meg dan Sasuke berada di belakangku. Tanganku mulai sedikit merogoh sakuku, tempat dimana pena yang sekaligus pedangku bersemayam. Kami berjalan terseok-seok di koridor, Panah Dodona ajaib mendengung di dalam sarungnya seperti ponsel yang diaktifkan dalam mode diam, seolah ingin dikeluarkan dan dimintai nasihat.

Yap … kalian tidak salah lihat atau baca, Panah Dodona yang sebelumnya berada di tangan Apollo kini ia serahkan kepadaku sebelum aku berangkat menyusuri labirin ini. Ia bilang kalau Panah itu akan memberikan nasihat ataupun petunjuk yang mungkin berguna untuk misiku ini (meski aku menduga kalau Apollo tidak ingin terlalu direcoki oleh sebuah panah yang bisa berbicara). Akhirnya Panah Dodona menjadi salah satu penghuni tas anak panahku.

Kucoba untuk mengabaikannya.

Tiap kali aku mencoba untuk meminta nasihat dari panah itu, ia tidak membantu. Yang lebih parah, cerocosannya yang tidak membantu disampaikan dengan sok puitis, lengkap dengan kata-kata seperti wahai, engkau, dan duli, sampai-sampai aku mual. Jadilah anak panah itu terus berdengung di dalam tasku layaknya handphone dalam mode getar.

Tak lama kemudian, lorong yang kami masuki kembali bercabang menjadi tiga. Tiba-tiba, jantungku berdegup cepat. Entah mengapa aku merasa was-was semenjak sampai di persimpangan lorong ini. Apakah ada sesuatu yang menunggu di balik lorong-lorong ini? Kuharap bukanlah sesuatu yang membahayakan.

Tapi sepertinya Dewi Fortuna tengah berjudi pada nasibku (Terkutuklah Styx dan juga karmanya kepada Apollo, ayahku) karena sebuah lidah api hampir saja membakar kepalaku hingga hangus kalau saja Sasuke tidak menarikku ke bawah. Kami berempat jatuh tertunduk sambil menunggu jilatan api yang berkobar di atas kepala kami mulai sirna. Persimpangan lorong itu mulai terasa panas, bahkan bau bacin yang menguar dari lorong itu serasa menguap dan digantikan oleh hawa pengap dan panas.

Setelah kobaran api itu mulai menghilang, aku mulai menghela nafas lega. "Gila! Apa-apaan kobaran api itu? Apakah salah satu dari kita baru saja menginjak sebuah jebakan?" tanyaku dengan nada bingung.

"Seingatku Labirin Daedalus tidak memiliki jebakan seperti ini," kata Sasuke. "Jebakan milik Labirin Daedalus lebih mengarah ke lorong yang akan membuatmu tersesat hingga suatu tempat yang tidak pernah kau bayangkan."

"Itu bukan jebakan," balas Grover. "Sepertinya kita memang sudah dekat."

"Sudah dekat? Apa maksudmu?" tanya Meg.

"Kalian akan tahu nanti, lebih baik kita melanjutkan perjalanan kita," kata Grover.

"Lorong mana yang harus kita ambil?" tanya Sasuke.

"Ambil yang kiri," balas Grover.

"Anu," kataku. "Api tadi datang dari lorong sebelah kiri."

"Paling cepat lewat situ."

"Bagaimana kalau kita mundur aja?" tanya Meg.

"Teman-teman, kita sudah hampir dekat." Grover bersikeras. "Aku bisa merasakannya. Tanpa sadar, kita menggelandang di dalam wilayahnya di dalam labirin ini. Kalau kita tidak buru-buru—"

Ngiiik!

Tiba-tiba terdengar suara yang amat nyaring dari belakang kami. Aku tidak bisa menerka hewan atau monster atau apa pun yang kini tengah mengeluarkan suara nyaring itu. Suaranya seperti derit pintu logam berengsel karatan yang tengah dibuka secara paksa. Aku ingin meyakini kalau suara itu memang hanyalah derit pintu logam biasa, tapi air muka Grover mengonfirmasi kecurigaanku: Itu adalah jeritan makhluk hidup.

NGIIK! Jeritan kedua terasa lebih dekat dan lebih marah.

Aku tidak suka dengan kata-kata Grover bahwa kami menggelandang ke wilayahnya. Siapa dia yang Grover maksud? Aku sudah pasti tidak mau lari ke koridor yang memiliki sistem 'bakar otomatis', tetapi sebaliknya, jeritan di belakang kami membuatku ngeri.

"Lari?" tanya Meg.

"Lari," Grover setuju.

Kami semua langsung melesat ke lorong sebelah kiri. Kabar bagusnya: lorong tersebut sedikit lebih besar dari yang kuduga, alhasil siku kami bisa bergerak lebih leluasa selagi kami berlari demi menyelamatkan nyawa kami. Di persimpangan lorong berikutnya, kami lagi-lagi belok kiri, kemudian langsung berbelok ke kanan.

Kami melompati lubang, menaiki tangga, dan lagi-lagi menyusuri koridor, tetapi makhluk-entah-apapun-itu masih bersikeras untuk mengejar kami.

NGIIIK! Jeritnya dari balik kegelapan.

Aku kembali mencoba-coba untuk menerka suara itu. Jeritannya seperti jeritan yang dihasilkan oleh makhluk semacam unggas, tapi mengingat kalau kita berada di dalam dunia Yunani Kuno yang berbahaya, pasti makhluk itu bukanlah yang imut-imut macam parkit atau kakaktua.

Tak lama setelahnya, kami tiba di ruang bundar yang menyerupai dasar dari sebuah sumur raksasa. Di samping dinding bata kasar, aku bisa melihat sebuah titian sempit spiral yang menanjak ke arah atas. Entah apa yang akan kami temui ketika berada di atas. Aku tidak bisa menemukan jalan keluar lainnya.

NGIIIKK!

Jeritan itu terdengar menyayat tulang-tulang telingaku. Kepak sayap bergema dari koridor di belakang kami—atau jangan-jangan aku mendengar lebih dari satu burung? Apakah makhluk yang harus kami hadapi memang sering berkelompok?

"Sekarang apa?" tanya Meg. "Naik?"

Grover menerawang ke keremangan di atas, mulutnya menganga. "Ini tidak masuk akal, yang di sini seharusnya bukan ini."

"Grover!" seru Meg. "Naik atau jangan?"

"Ya, naik!" pekiknya. "Naik boleh."

Aku melirik ke belakangku. "Tidak," kataku, bulu kudukku merinding. "Tidak akan sempat. Kita harus memblokade koridor ini."

Meg mengerutkan kening. "Tapi—"

"Kau bisa menggunakan sihir tanaman 'kan?" tanyaku kepada Meg. "Cepat!"

Satu hal yang mesti kuakui Meg: ketika kita membutuhkan sihir tanaman, dialah orang yang paling tepat. Meg merogoh kantong serut di sabuknya, membuka sebungkus benih, dan melemparkannya ke terowongan.

Grover mengeluarkan bumbung tiup. Dia memainkan melodi ceria untuk merangsang pertumbuhan sementara Meg berlutut di hadapan biji-biji yang ia sebarkan tadi, wajahnya berkerut penuh konsentrasi. Aku dan Sasuke hanya bisa bersiaga sembari menyiapkan senjata kami.

Bersama-sama, Tetua Alam Liar dan juga putri Demeter membentuk duo berkebun super. Benih-benih langsung meruah menjadi tanaman tomat. Tangkai-tangkainya bertumbuh, saling silang di mulut terowongan. Daun-daunnya merekah teramat cepat. Tomat-tomat itu langsung membengkak hingga buahnya seukuran kepalan tangan manusia. Terowongan itu hampir tertutup rapat ketika sebuah sosok berbulu gelap menghambur keluar melalui celah di jejaring tanaman.

Sebuah cakar menggaruk pipi kiriku saat burung itu terbang melintas begitu saja, nyaris sekali mengenai mataku. Makhluk itu terbang mengelilingi ruangan sembari memekik senang karena merasa menang. Lalu, ia mendarat di titian spiral tiga meter di atas kami, mata bulat emasnya yang mirip lampu sorot terlihat memicing ke bawah.

Burung hantu? Bukan, ukurannya dua kali lipat dari burung hantu yang kuketahui. Bulunya yang mengilap sehitam obsidian. Ia mengangkat satu cakarnya yang merah kental, membuka paruhnya yang keemasan, dan menggunakan lidah hitam tebal, menjilat darah dari cakarnya—darahku.

Tiba-tiba penglihatanku mengabur. Lututku perlahan melemas. Aku menyadari bunyi-bunyi lain dari terowongan—jeritan frustasi dan kepakan sayap burung-burung iblis lain yang berusaha untuk menerobos masuk.

Meg muncul di sampingku, pedang sabit berkilat-kilat di tangannya, matanya terpaku ke arah burung hitam besar di atas kami. "Kau baik-baik saja 'kan?"

Aku berusaha untuk mengangguk, tapi rasanya seperti mengangkat beban ribuan kilo. Aku menyentuh luka sayat di pipiku, tapi aku tidak bisa merasakan pipi ataupun jariku.

"Strix," kata Sasuke. Ia menyiagakan pedangnya dengan bimbang. "Makhluk itu strix."

"Cara membunuhnya bagaimana?" tanya Meg.

"Wah, membunuhnya itu susah," balas Sasuke. Matanya menatap awas ke arah burung iblis yang masih betah bertengger di atas tepian itu.

Grover memekik sementara strix-strix di luar menjerit dan melemparkan diri ke tanaman. "Teman-teman, ada enam atau tujuh ekor lagi yang berusaha masuk. Tomat-tomat ini tidak akan bisa bertahan lama."

"Sasuke, jawab aku sekarang!" titah Meg. "Apa yang harus kulakukan untuk mengalahkannya?"

Sasuke sedikit terdiam. Wajahnya masih menatap awas makhluk-makhluk itu. "Kalau membunuh burung itu, nanti kau kena kutuk," katanya.

"Kalau aku tidak membunuhnya, bagaimana?" tanya Meg.

"Oh, kalau begitu, dia akan memburai daging dan ususmu, meminum darahmu, dan mematahkan tulangmu," sahut Sasuke. "Selain itu, jangan biarkan strix menyayatmu. Nanti kau lumpuh!"

Setelah Sasuke selesai berbicara, aku ambruk ke samping.

"Dasar payah!" gerutu Meg.

"M-maaf deh," kataku dengan susah payah.

Di atas kami, strix membentangkan sayapnya dan langsung menukik.


.

Bersambung

.


Hei semuanya, kembali bersama FI. Antonio no Emperor di sini. Maaf kalau aku sudah off selama beberapa bulan dari FFN, ternyata kehidupanku di RL juga benar-benar sibuk sehingga aku terpaksa menunda semua ficku. Lalu aku ingin membuat pengumuman, bahwa untuk fic HBS nantinya kuubah menjadi orific karena aku sudah buntu dengan jalan ceritanya untuk versi fanfic.

Mungkin itu aja dari aku untuk saat ini, semoga chapter ini bisa menjadi hiburan untuk kalian semua.

Akhir kata, sampai jumpa lagi.