Disclaimer!
This is a work of fan fiction using characters from the Naruto world, which is trademarked by Masashi Kishimoto. All of characters created and owned by Masashi Kishimoto and I do not claim any ownership over them or the world of Naruto.
This story is for entertainment only and is not part of the official story line.
Happy reading! :)
Drink My Blood by Osaki Luna
Sakura berjalan dengan kaki telanjangnya, menginjak lantai yang dipenuhi oleh genangan darah itu. Ia menggeram, giginya terlihat seram sekali seiring desisan anehnya. Ia mengikuti aliran darah yang semakin deras dibawah telapak kakinya itu, lalu terhenti ketika melihat tumpukan manusia yang bergelimangan darah disekitarnya. Lalu kelebatan bunga mawar. Kemudian rambut pirang. Lalu kuncir empat. Mata indigo. Ino terbaring dalam genangan darah. Hinata yang terduduk memamerkan lehernya yang meneteskan darah. Temari yang melolong kesakitan.
Lalu kelebatan mata onyx yang gelap menatapnya langsung.
Sakura membuka matanya, mengernyit sakit ketika pahanya bergesekkan dengan ujung kursi yang ia duduki saat ini dengan keadaan terikat. Ia menggertakkan giginya, menahan rasa takut yang sudah bergejolak didalam dirinya. Dimana?
Sakura memandangi sekelilingnya, mencoba mengingat- ingat detail tempatnya diculik sekarang. Pastinya agak sulit karena rumahnya gelap sekali, namun Sakura merasa matanya sedikit 'menyala' dan percaya dirinya bisa mengidentifikasi warna- warna dalam kegelapan ini. Ayo, Sakura.
Sakura mengitari pandangan keseluruh ruangan. Nuansa oranye. Lalu ada bingkai foto. Ada bingkai foto tergantung didekatnya. Sakura menajamkan pandangannya, mencoba mengidentifikasi siapa orang didalam foto itu. Ia tersentak, ketika seluruh memori menghantamnya dengan amat keras. Kepalanya berdengung, menyisakan rasa nyeri dibelakangnya. Sakura mengernyit.
Dia ada dirumahnya sendiri.
Kenapa?
"Jika pertanyaanmu adalah kenapa harus dirumahmu—"Sakura merinding ketika sebuah tangan menyentuh dan mengelus pipinya. Sakura membuang muka, menjauhkannya dari sentuhan dingin itu. "—sebab anjing- anjing pemburu Konoha itu tak akan pernah menduga korban penculikan akan disandera dirumahnya sendiri kan?"
Sakura terkejut. Ia memandangi ke sosok yang berdiri didekatnya itu. Ia adalah laki- laki berambut merah yang mengerikan, matanya menyala dalam kegelapan menatap mata Sakura. Pria itu tersenyum kecil, semakin membuat kesan mengerikan itu terjadi. "Kau salah,"kata Sakura dengan suara bergetar. "Polisi akan melakukan penyelidikan dirumah korban. Begitulah prosedurnya."
"Masalahnya,"kata Sasori mengelilingi kursi Sakura lalu ia membungkuk mendekatkan wajahnya ke telinga Sakura. "Aku bilang soal pemburu, bukan polisi."
"Apakah kau berharap pria Uchiha itu akan menyelamatkanmu?"
Tiba- tiba saja suara lainnya itu terdengar. Sakura tersentak ketika melihat sosok berambut kuning yang rasanya tak asing dimatanya itu. Rasanya ia pernah melihat pria ini. Sakura berusaha menggali ingatannya meski nyeri kembali menyerang kepalanya begitu saja.
"Kau terlalu naif,"kata laki- laki itu.
"Deidara,"tegur pria berambut merah.
"Jika sebelumnya kau selamat karena ada Uchiha sialan itu, maka sekrang janlgan harap. Kau akan menikmati ini, Sakura."
"Dari mana kau tahu namaku?"Suara Sakura bergetar.
"Ah,"kata pria berambut merah. "Aku belum mengebalkan dirku. Aku Sasori. Vampir Suna."
Sakura tersentak. Deidara. Sasori.
Ada vampir terkenal di Sunagakure yg berbahaya sekali. Mereka buronan polisi sejak dulu tapi selau lolos dari tangkapan. Dan buruknya, mereka sekarang kabur dari desaku. Kudengar mereka sekarang ada di Konoha.
Ucapan Temari langsung terngiang-ngiang ketika dua nama itu muncul dalam pikirannya. Jika pria berambut merah ini Sasori maka sudah pasti pria komplotannya ini adalah Deidara. Sakura mengernyit ketika rasa perih di paha belakangnya bergesekan dengan kursi, membuatnya tak nyaman duduk disana.
Ditambah lagi fakta dirinya yang haus.
Sakura menjilat bibirnya yang kering. "Jam berapa sekarang?"
"Beberapa saat yang lalu rasanya pukul tiga malam?"
Sakura merasa gerah sekaligus kepanasan. Ia bahkan kehausan. "Bo-bolehkah aku minum?"
Deidara mendekatkan wajahnya ke Sakura, menyeringai. "Hei, tawanan kita sudah berani meminta-minta ya?"
"Aku tuan rumahnya,"balas Sakura tak mau kalah.
"Tapi kau terikat dan bergantung pada kami,"balas Deidara.
Sasori menepuk pundak Deidara seraya menggeleng. "Kau ingin minum apa?"
"Cih,"kata Deidara seraya menarik kursi makan didekat Sakura. "Kalau saja bukan kau, pasti sudah habis kuminum darahmu."
"Lalu kenapa tidak?"Suara Sakura terdengar menantang, meskipun rasa takut kembali menyergapnya. Tapi Sakura kesal sekali dengan vampir banyak omong satu itu, sehingga lidahnya juga tidak bisa diam untuk mengata- ngatai vampir itu.
"Kau—"
"Ini minumnya,"kata Sasori seraya mendekatkan gelas berisikan air ke bibir Sakura yang kering. Sakura meneguk minuman itu, merasa lega akhirnya dahaganya bisa dipuaskan dengan air. Setelah air itu habis seteguk, ia mengernyit. Tenggorokannya masih panas. Sepertinya ia akan demam.
"Masih haus?"
Sakura mengangguk ragu- ragu. Sasori menyunggingkan senyum kecilnya yang mengerikan itu, lalu bergumam, "Tentu saja hausmu belum reda, bukan?"
Sakura sedikit merasa aneh ketika nada suara Sasori berubah jadi aneh dan menyeramkan demikian. Ia hanya tidak mengatakan apa- apa, memilih untuk mengabaikan Sasori apalagi Deidara. Sakura merasa panas sekali. Tidak biasanya rumahnya sepanas ini kecuali dimusim panas. Apakah dua vampir ini berasal dari neraka?
"Jadi bagaimana perkembangan selanjutnya? Apakah Konan sudah mengabarimu?"
"Mereka masih mempersiapkannya,"kata Sasori seraya duduk dipinggir meja. "Mungkin polisi akan segera kemari melacak keberadaan kita."
"Kita harus segera bergerak,"kata Deidara. "Aku sedang malas melihat muka pucat macam dinding itu."
Sakura langsung membayangkan orang yang dimaksud Deidara pastilah Sai. Setidaknya ia mengerti apa maksud mereka berdua barusan. Sakura menelan ludah, berusaha membasahi tenggorokannya yang panas itu.
"Kita sudah mendapat tujuan kita disini,"kata Sasori seraya melirik Sakura. "Baiklah, kita bisa pergi sekarang ke tempat itu."
Sasori melepaskan ikatan pada tangan Sakura dari kursi yang diduduki Sakura, lalu mengikat tangannya kembali ketika Sakura sudah berdiri dari kursi itu. Sakura merasa aneh ketika tubuhnya seperti menurut saja untuk tidak bergerak selama Sasori melepaskan ikatannya, seperti bukan tangannya sendiri.
Sasori kemudian menatap mata Sakura dalam- dalam, menelengkan kepalanya. Sakura tersentak, jantungnya langsung berdebar- debar aneh ketika tatapan aneh itu serasa menembus kepalanya. Sakura merasa ada penolakan dalam dirinya, membuatnya semakin takut atas reaksi dirinya sendiri.
"Lho?"
"Sudah jelas dia darah murni, Tolol,"gerutu Deidara. "Yang seperti itu tak akan ada gunanya untuk jenisnya."
"Yah,"kata Sasori seraya mengeluarkan sebuah subtikan. "Apapun jenisnya, tak mungkin kebal dari obat bius kan?"
Belum lagi Sakura mencoba berlari, Sasori sudah mendorongnya menindihnya diatas meja makan. Bunyi gelas jatuh menghantam lantai terdengar, lalu pekikan Sakura ketika jarum itu sudah masuk ke kulit lehernya. Mata Sakura membelalak, kakinya berusaha meronta- ronta namun tubuh kurus Sasori itu nyatanya tidak bergeming sama sekali selama menginjeksikan obat bius itu ketubuh Sakura. Perlahan- lahan mata Sakura menutup, namun bibirnya bergumam pelan. "Biadab."
Sasori tersenyum seram, kemudian mengecup bibir Sakura. "Selamat tidur."
"Baiklah, kita bisa pergi sekarang ke tempat itu."
Sasuke menekan pedal gasnya keras- keras. Ia seperti orang kesetanan memacu mobilnya dengan kencang dijalanan, memperhitungkan seluruh timing kapan lampu hijau saat ia sampai disetiap persimpangan dengan akurat sehingga ia tidak memelankan laju mobilnya sama sekali.
"Lho?"
"Sudah jelas dia darah murni, Tolol. Yang seperti itu tak akan ada gunanya untuk jenisnya."
"Yah, apapun jenisnya, tak mungkin kebal dari obat bius kan?"
Sasuke melirik jam. Jam tiga lewat dua puluh. Ia memperhitungkan pukul berapa tepatnya ia akan sampai kerumah yang jadi tujuannya sekarang. Sasuke mendengar suara sesuatu yang pecah dari trasnmiter ditelinganya, lalu suara pekikan perempuan kemudian makian pelan.
"Selamat tidur."
Sasuke mendecak marah ketika tiba- tiba ponselnya bergetar disaku celananya. Tak ada waktu untuk membalas panggilan dimalam seperti ini. Ia mengabaikan panggilan telepon itu.
"Srekk...Kreek...Ah...Jadi kita sudah ketahuan ya?"
"Sial!"Seru Sasuke ketika tiba- tiba ia mendengar suara gemerisik aneh dari penyadap yang ia pasang dimeja makan rumah Sakura. Ia merasa marah ketika getaran dipahanya tidak juga berhenti, membuatnya makin tidak bisa bersabar.
"Jadi Uchiha mengawasi gadis ini juga, heh? Apakah dia juga berniat membunuh Sakura?"
"Entahlah. Pastinya jangan sampai itu terjadi, karena tujuan kita belum selesai. Nah, Deidara, mungkin mereka belum mendengarkan ini. Bagaimana kalau kau ledakkan saja rumah ini?"
Ah. Sial.
Sedikit lagi sampai. Ia harus segera kesana dan memburu dua vampir gila itu.
KRATAK. KRATAK. DUAAR!
Lalu hening setelah bunyi ledakan itu terdengar dari alat penyadap Sasuke. Sasuke membelokkan mobilnya dengan kasar, menikung langsung masuk kedalam lorong perumahan yang amat ia kenal. Ia menggas kencang, tak sampai dua menit ia sudah tiba didepan rumah itu. Atau tepatnya puing- puing rumah itu. Sasuke langsung keluar dari mobilnya, menatap kearah rumah yang sudah terbakar habis setelah ledakan barusan.
Beberapa tetangga segera keluar rumah, terlihat panik ketika kebakaran itu terjadi. "Astaga! Sakura ada didalam!"Seru ibu- ibu panik.
"Telepon pemadam kebakaran!"
Sasuke memandang dengan wajah datarnya pada rumah yang dilalap api itu. Ia sudah menduganya. Sakura pastilah tak ada dirumah itu. Ia terlambat dua detik. Sakura mengepalkan tangannya. Sasuke berjalan ke mobilnya lagi, masuk kedalam seraya memasang seatbelt lalu mengeluarkan ponselnya yang masih berdering sejak tadi. Sudah ada sembilan panggilan tak terjawab.
Naruto yang meneleponnya.
Sasuke menerima panggilan baru itu. Klik. "Oi! Baka!—"
Klik.
Sasuke mematikan telepon itu seraya menghidupkan mobilnya. Drrrrttt...Drrrttt... Nama Naruto kembali muncul dilayar ponsel Sasuke. Sasuke mengabaikannya lalu memutar mobilnya begitu saja. Kemana ia harus mencari?
Dddrrrrrttt... Ddrrrrtttt...
Sasuke sudah membuka jendela untuk melemparkan ponselnya keluar kalau saja ia tidak ingat bahwa ponselnya punya ip adress yang bisa dilacak sewaktu- waktu oleh teroris atau penjahat dan bisa membongkar seluruh data pribadi atau informasi rahasia yang pernah masuk dalam ponselnya. Memggertakkan gigi, Sasuke akhirnya terpaksa mengangkatnya dan mengaktifkan fitur loudspeaker.
"Teme! Kau ini tidak bisa ya ramah sedikit padaku? Aku sudah meneleponmu dari tadi karena ada kabar penting yang harus kau tahu!"
"Katakan."
"Kau ini! Rumah Sakura terbakar barusan! Lalu aku juga dapat kabar dari Gaara sepertinya ada kericuhan yang terjadi di Sunagakure saat ini. Saat ini Gaara dan Kankurou langsung kembali ke Suna karena ada vampir yang menyusup dibandara Suna."
Itu dia. Sasuke menggas mobilnya, menikung tajam ke kiri lalu membelokkan mobilnya langsung masuk tol. Ia menatap plang yang menunjukkan arah ke Sunagakure, seraya menekan pedal gasnya dalam- dalam tanpa babibu lagi.
"Saat ini kepolisian Suna sudah bergerak. Ada kemungkinan duo vampir itu kembali ke Suna membawa Sakura—"
"Aku akan kesana."
"Apa? Oi! Teme! Kau gila! Jangan bertindak gegabah kau, kalau penduduk sipil tahu bisa gawat. Keadaan akan makin kisruh!"
Klik.
Sasuke mengantongi ponselnya kedalam celana, lalu menggas mobilnya membelah jalan tol yang dilewati beberapa mobil pengangkut barang muatan ataupun mobil pribadi. Dua jam. Tidak, ia harus bisa sampai kesana dalam waktu satu jam. Tidak ada waktu lagi.
Sakura terbangun dengan kedua matanya yang ditutupi oleh sebuah kain yang mengikat kepalanya. Ia merasa pusing lagi karena efek obat bius yang mulai meluruh dari kesadarannya, dan ia masih merasa lemas. Tenggorokannya masih terasa sakit, membuatnya tidak nyaman. Dimana dia sekarang?
Ia bisa mendengar deru angin dan juga bunyi berisik seperti mesin yang digerakkan dengan keras. Kemudian suara komando- komando sayup- sayup terdengar. Sakura yakin ia ada didalam helikopter sekarang. Ia tidak tahu sudah berapa lama ia tertidur namun pastinya ia diculik. Ia diculik oleh dua makhluk vampir itu entah akan dibawa kemana. Tiba- tiba perutnya terasa bergejolak dan guncangan dirasakan. Sakura mengepalkan tangannya yang terikat selama guncangan itu terasa lalu hanya terdengar desing angin dari baling- baling helikopter.
"Ayo,"kata Sasori menuntun Sakura turun. Sakura nyaris saja terjerembap karena menutup mata, namun Sasori langsung menahan tubuhnya agar tidak limbung.
"Kau datang lebih cepat dari perkiraan, Sasori."
"Kita harus cepat kan, Konan?"
"Kearah sini."
Sakura didorong selama berjalan, ia bisa merasakan kulitnya yang lengket diterpa angin malam selama berjalan ditempat yang antah- berantah itu. Ia menggigit bibirnya. Dimana ia sekarang?
Mereka masuk kedalam sebuah mobil beraromakan lavender, mengingatkan Sakura pada Hinata. Lalu keheningan meliputi mobil, membuat Sakura tidak bisa mengerti atau mendapat informasi apapun mengenai lokasinya saat ini.
"Kau terlihat haus,"kata perempuan yang tadi berbicara pada Sasori.
"Sepertinya belum bangkit."
"Jadi dia belum pernah minum?"
"Kurasa demikian,"kata Sasori. Sakura bertanya- tanya apa maksud mereka dengan haus dan minum ini. Ia ingin nimbrung, meminta segelas air untuk meredakan dahaganya tapi rasanya akan konyol sekali.
"Kau mau minum?"
Sakura akhirnya mengangguk. Tak lama kemudian, terdengar bunyi gemerisik yang menguarkan aroma manis. Sakura merasa aneh. Ia meneguk ludahnya sendiri ketika aroma manis yang sudah ia hirup seharian itu lagi- lagi menyapa hidungnya. Namun aromanya tidak setajam aroma manis yang ia dapatkan seharian ini. Tapi... tetap saja manis kan?
"Minumlah,"kata Konan, diikuti seringai Deidara yang duduk didepan. Sakura menurut, tidak berpikir panjang lagi ketika sedotan itu sudah dibibirnya. Ia langsung menyedot minumanya yang berbau manis itu meskipun rasanya tidak semanis aromanya. Ia merasa sedikit aneh, karena jantungnya langsung berdebar- debar keras selama minum air itu. Rasanya aneh tapi enak. Ia takut jangan- jangan ini air berisi obat tidur. Tapi dirinya tidak bisa berhenti minum, dan ketika suara sedotan menghisap sisa air terdengar, Sakura merasa tenggorokannya sedikit lega.
Sasori yang duduk disebelahnya ikut menelengkan kepala, tersenyum kecil memperhatikan Sakura yang akhirnya terlihat tenang meminum darah itu. Sepertinya Sakura masih belum sadar ia sudah meminum darah sejak tadi namun instingnya sudah muncul untuk segera meminumnya. Ini artinya akan semakin bagus.
Dua puluh menit kemudian, mereka tiba ditempat tujuan. Disebuah mansion megah yang begitu berkilauan dan penuh kerlipan dari lampu chandelier yang tergantung diteras rumah itu. Sasori melepaskan ikat kepala Sakura. Pandangan Sakura masih buram menyesuaikan masuknya intesitas cahaya kedalam matanya yang tiba- tiba itu dan terperangah ketika melihat bangunan besar itu ada didepan matanya.
"Bersiap- siaplah untuk bertemu dengannya."
"Tersenyumlah,"kata Konan pada Sakura.
Pintu terbuka, dan mereka masuk. Saat mereka masuk, Sakura bahkan masih sempat kagum melihat seluruh tata ruangan dan juga furnitur mahal yang ada didalam rumah besar ini. Lalu mereka berhenti disebuah ruangan. Konan mengetuknya pelan- pelan.
"Dia sudah ada disini."
Beberapa saat kemudian terdengar ucapan untuk menyuruh masuk. Saat Konan membukakan pintu dan Deidara mendorong Sakura untuk masuk kedalam kamar itu, mata pria berambut panjang yang berbaring diranjang bertelanjang dada itu menatap Sakura dengan tajam. Sakura merasa takut. Pandangan itu seolah- olah menelanjanginya.
"Tinggalkan ia disini."
"Baiklah,"kata Konan seraya membungkuk. "Madara-san."
Sasuke sudah berjalan menyelinap dalam kegelapan hutan sejak beberapa saat lalu. Ia menajamkan pendengarannya, memfiltrasi bunyi jangkrik dan kodok yang bersaing dengan suara geraman ataupun langkah patroli pengawal vampir- vampir itu. Sasuke berjalan mengendap- endap melewati sebuah pohon. Lalu ia mendengar suara desisan juga rengekan rusa. Sasuke menajamkan pandangannya, lalu menembak satu vampir itu dengan akurat.
Tumbang satu.
Sasuke terus berjalan. Ia berjalan dalam kegelapan seraya menajamkan mata juga telinga untuk memastikan dia sedang aman saat ini. Dia memegang pistolnya dengan posisi siaga, bersiap- siap untuk menghadapi segala kemungkinan. Sasuke melihat kedepan, memastikan lampu terang di kejauhan sana adalah lampu dari rumah yang megah. Tak salah lagi. Ini adalah rumah yang sering dibicarakan oleh kepolisian selama ini. Rumah yang dicurigai akan adanya aktivitas vampir namun selalu terbukti bersih setiap kali Kepolisian Sunagakure berusaha menyergap mereka diam- diam.
Sasuke memicingkan matanya, menyelinap dibalik semak- semak berduri. Rumah itu berada ditengah hutan, dikelilingi pepohonan besar yang daunnya bergemerisik seiring tiupan angin. Ada dua penjaga didepan sana. Dua vampir yang berdiri didepan pintu itu, berdiri tegap seperti patung dengan wajah tanpa ekspresi. Begitu dingin. Begitu pucat. Membuat kebencian Sasuke semakin bertambah pada mereka.
Sasuke sudah bersiap- siap akan segala kemungkinan. Tapi ia harus memikirkan strategi. Jika benar Sakura ada didalam sana, maka hal yang harus ia lakukan adalah menyelamatkannya dan membawanya kabur. Sakura pasti disekap disalah satu kamar.
BRAK!
Sasuke terguling, ketika sebuah tubuh menimpanya seraya menggeram seram. Sasuke mengeluarkan pistolnya, menembaknya tepat dikening. Duar!
Sialan. Pastilah penghuni rumah itu mendengar suara letusan barusan. Ia harus segera bangkit dan segera mencari Sakura. Sekarang juga.
Sakura tersentak kaget, ketika samar- samar telinganya mendengar letusan ditengah hutan. Ia merasa semakin ngeri, memikirkan fakta bahwa rumah ini pastilah dihuni oleh vampir- vampir jahat. Sakura memeluk dirinya sendiri, ketakutan mencengkeram perasaannya selama ia terduduk lemah diatas ranjang yang sudah rapi. Sakura mengigil meskipun ia tidak kedinginan.
Pikirannya kembali pada pertemuannya tadi dengan seorang vampir yang begitu mengintimidasi, dan matanya menyiratkan ekspresi dingin yang begitu mengerikan. Mata seorang pembunuh berdarah dingin.
"Aku Madara."
"Siapa?"
Madara tersenyum kecil. Ia menelengkan kepalanya, menumpukannya pada tangannya yang berada di pinggiran sofa. Rambut panjangnya bergerak, menampakkan sedikit mata yang tadinya tertutup sebelah itu.
"Senang bertemu denganmu,"kata Madara. Ia menatap sebuah kursi didekat Sakura. "Duduklah, Haruno Sakura."
Sakura mengerutkan dahinya ketika mendengar nama terakhir yang disebut Madara saat ia duduk dengan ragu- ragu. Jantungnya berdebar keras, rasa takut melingkupinya saat ini memikirkan fakta bahwa ia saat ini berada dilingkungan vampir. Ia berusaha menahan gidikan ngerinya ketika pikiran menyeramkan tentang vampir muncul dikepalanya.
"Apa yang kau inginkan dariku?"
Madara tersenyum ketika mendengar pertanyaan dengan suara bergetar itu keluar dari bibir Sakura. "Pasti banyak sekali pertanyaan yang ingin kau ajukan padaku."
Sakura tak menjawab.
"Apakah kau haus?"
Kenapa rasanya kalimat itu sering sekali didengarnya hari ini? Sakura tidak menjawab, ia memilih untuk tidak bergeming ketika Madara masih berbasa- basi padanya sejak tadi. Ia hanya ingin segera urusannya selesai lalu dilepaskan dengan selamat. Ia belum mau mati, masih banyak urusan yang belum ia selesaikan. Lagipula mati dihisap vampir akan menjadi salah satu pilihan yang tidak akan pernah diinginkan Sakura untuk mati.
Seorang pelayan datang, membawakan nampan yang ada gelas kaki yang berisikan cairan berwarna merah pekat. Sakura bisa mencium aroma manis yang sama seperti yang ia cium saat minum didalam perjalanan tadi. Tunggu dulu. Sakura menatap air berwarna merah darah itu. Apakah minuman ini yang ia teguk saat perjalanan tadi? Emeraldnya membelalak ngeri, meskipun ia belum tahu minuman macam apa itu. Tenggorokannya langsung panas ketika aroma itu bertamu dihidungnya, membuatnya sedikit gelisah.
"Minumlah. Setelah itu kita akan ngobrol dengan santai."
Sakura bisa merasakan nada perintah dari Madara, namun ia tetap mengurungkan niatnya. Ia membuang mukanya, menumpulkan penciumannya. Madara memandangi Sakura yang tidak bereaksi apapun, seraya menyesap minumannya sendiri yang juga berwarna merah seperti minuman Sakura.
"Tak perlu khawatir, minumannya bebas dari racun."
Madara meneguk minumannya lagi.
"Atau kau ingin meminumnya langsung?"
Konan tiba- tiba muncul, menyeret seorang perempuan yang menangis tersedu- sedu dilantai. Rambutnya kusut dijambak Konan, wajahnya dipenuhi oleh air mata. "Kumohon...bunuh aku."
Sakura membelalak saat Konan mengeluarkan belatinya. Konan menatap Sakura tanpa ekspresi, lalu mengulas senyum mengerikan. "Jangan!"
Terlambat. Konan sudah menggorok leher perempuan itu, diikuti bunyi deguk mengerikan juga erangan aneh dari perempuan yang sekarat itu. Sakura langsung menutup wajahnya, ketakutan semakin muncul dalam dirinya. Kenapa mereka semua begitu mengerikan? Apakah mereka semua pembunuh berpengalaman?
Sakura bahkan tidak bisa memalingkan pandangannya selama Konan menampung darah segar dari leher korban itu ke gelas berkaki yang baru. Terjawab sudah. Ternyata gelas beraroma manis itu adalah darah. Darah seseorang. Dan mereka adalah vampir.
Tak lama kemudian Sasori dan Deidara muncul, menyeret gadis yang kejang- kejang itu kebelakang membuat darah menodai seluruh lantai. Konan dengan tenangnya berjalan meletakkan gelas berkaki itu ke meja, didepan Sakura. Sakura bisa mencium bau manis tajam yang menguar itu, membuatnya pusing sekaligus sakit tenggorokan. Mengerikan. Ia ketakutan sekali.
"Aroma yang ini sedikit lebih baik."
Sakura menatap Madara. "Kau membunuh orang!"
"Kau belum pernah?"
Sakura terperangah. "Jangan samakan aku dengan kanibal seperti kalian."
"Kanibal?"Madara menyeringai seram. Taringnya terlihat, berwarna emas. "Apakah kami terlihat sejenis dengan makhluk rendahan itu? Lagipula kau juga tidak sama seperti mereka, apa salahnya?"
"Aku bukan bagian kalian!"
"Ah,"kata Madara seraya menggeleng. "Kau bahkan tidak menyadari siapa dirimu saat ini."
Sakura begitu ketakutan, juga marah dan frustasi akan hal yang terjadi ini. Ia bahkan semakin gila ketika aroma manis itu semakin tercium didepannya. Gila. Gila. Ia haus. Dan darah itu anehnya memicu dirinya untuk marah. Ia menekan kuku-kukunya ke telapak tangan, berusaha mengontrol pikirannya.
"Minumlah, kau terlihat haus."
"Tidak,"kata Sakura, menggertakkan giginya. "Aku tidak minum darah."
"Tapi kudengar kau minum sekantung saat kemari?"
Sakura bangkit berdiri. Ia harus segera pergi dari omong kosong ini. Namun ia langsung oleng, terduduk kembali ketika Konan mendorongnya keras. Sakura mendongak marah pada Konan. "Jalang."
Madara tiba-tiba berdiri, meraih gelas itu dan menarik dagu Sakura kasar. Konan menahan tubuh Sakura agar Sakura tidak bisa bergerak. Madara memaksakan gelas itu menempel kemulut Sakura, menuangkan isinya. Sakura langsung tersedak, kaget ketika minuman yang rasanya memabukkan itu menggenang dalam mulutnya, mengaliri tenggorokannya dan membuatnya kehilangan diri sesaat.
Madara memandangi Sakura yang susah payah tersedak minuman itu, lalu Madara melempar gelas itu. Ia menjambak rambut Sakura, mendekatkan wajahnya. "Jangan naif. Kau menginginkan darah ini sejak tadi, Haruno."
Sakura terengah- engah mendelik pada Madara. Madara menatap tajam Sakura, menempelkan bibirnya ke telinga Sakura. "Karena kau adalah vampir berdarah murni."
Haruno tertegun.
"Haruno Sakura."
Sakura masih tidak percaya ia adalah vampir seperti yang dikatakan oleh Madara. Ia menatap kedua tangannya sendiri. Apakah ia akan menjadi pembunuh seperti mereka? Ia tidak pernah menyangka bahwa dirinya adalah vampir. Selama ini hidupnya normal- normal saja kecuali ketika gejala mengerikan mulai dari rasa haus hingga aroma manis yang mengganggunya itu muncul. Tapi tak pernah ia sangka penjelasan Madara mengenai dirinya itu vampir akan terjadi.
"Aku vampir?"
Keluargamu yang sesungguhnya sudah mati dibunuh oleh kawanan pemburu. Kau adalah keturunan terakhir vampir berdarah murni, Haruno Sakura.
Jadi dia bukanlah Fujimaru Sakura.
Lalu siapa perempuan yang selama ini ia anggap ibu dan merawatnya tanpa pamrih itu? Apakah oka-san tahu dirinya adalah vampir? Sakura masih tak bisa mempercayai dirinya sendiri adalah vampir. Tak mungkin.
Cklek.
Sakura mendongakkan kepalanya ketika seseorang membuka pintu kamarnya dan masuk. Sakura terkejut, matanya membelalak saat melihat Sasuke yang masuk kedalam kamarnya. Sasuke menutup pintu, menguncinya lalu berjalan kearah Sakura. Sakura ternganga tak percaya, Sasuke berada didepannya saat ini.
"Kau gila—"
Sasuke langsung memeluknya, mendekap kepala Sakura kedada bidangnya. Sakura terdiam, kaget ketika pelukan itu terjadi. Wajahnya memanas, namun anehnya kelegaan membanjiri dirinya saat ini. Ia merasa air matanya merebak seiring tangannya terangkat menyentuh punggung tegap Sasuke. Hangat. Aman.
Beberapa saat kemudian, Sasuke melepaskan pelukannya tanpa mengatakan apapun. Ia menatap Sakura dengan tatapan dinginnya. "Ikuti aku."
Sakura mengangguk. Sasuke membuka jendela kamar, membuat angin malam langsung masuk kekamarnya. Sasuke menunduk kebawah, menaksir besar ketinggian lantai tiga rumah ini. Sakura mendekatinya. "Kau bercanda."
Sasuke menarik Sakura untuk lebih dekat. "Percaya padaku."
Sakura menggeleng. "Tidak, aku bisa mati."
Sasuke langsung melumat bibir Sakura. Ia membiarkan bibir kenyal itu berada dalam pagutannya, seiring tangannya mengarahkan pinggang Sakura untuk berdiri dibingkai jendela. Sakura lagi- lagi harus membelalak namun ia memejamkan matanya membiarkan Sasuke menciumnya lebih dalam. Lidah mereka bertautan satu sama lain, seiring ciuman dalam itu.
BRAK! BRAK! BRAK!
Sakura membuka matanya ketika gedoran itu terjadi. Ia tak sadar sejak kapan ia sudah duduk dibangkai jendela, dengan tubuh Sasuke berada ditengah pahanya. Harusnya mereka tidak bercumbu disaat genting seperti ini. "Mereka tahu!"
BRUAK
"Sialan!"
Seseorang menyumpah serapah mendapati mereka berdua dijendela. Pintu sudah terbuka, menampakkan beberapa vampir yang bersenjata. Konan yang berdiri didepan langsung mengarahkan pistolnya.
DOR!
Sasuke mendorong Sakura, membuat Sakura terlontar dari jendela dengan memekik keras. Sasuke menaiki jendela dengan gesit, menghindari tembakan barusan seraya menoleh. Ia menembakkan pistolnya ke arah Konan disusul tembakan beruntun dari vampir lainnya.
DOR! DOR! DOR!
Sasuke sudah meloncat turun, mengulurkan tangan menggapai Sakura yang memekik ketakutan. Beberapa senti lagi ia akan menggapai tubuh Sakura. Sakura sudah memejamkan matanya, pasrah jika kematiannya sudah datang saat kepalanya nanti menghantam bumi dengan kerasnya. Ya, ia sudah siap untuk mati, saat ini juga.
Bruak.
Sakura mengaduh kesakitan, membuka matanya dan kaget ketika ia berada didalam pelukan Sasuke. Aroma manisnya kembali menyadarkannya bahwa ia masih hidup, dalam rengkuhan hangat Sasuke. Sasuke berada dibawahnya saat ini, lalu menggulingkan tubuhnya melindungi Sakura dibawahnya agar tidak terkena tembakan. Sasuke menatap Sakura, lalu bangkit berdiri menarik tangan Sakura.
"Lari."
Mereka terus berlari menuju hutan, menerobos semak- semak terus- terusan. Tak dipedulikan batu ataupun duri- duri yang menggores tubuh Sakura itu, mereka terus berlari berusaha mengamankan diri dari kejaran gerombolan vampir itu. Sialan.
Sakura sudah kehabisan nafas terengah-engah. Sasuke menarik tangan Sakura, lalu membawanya bersembunyi disebuah lengkungan pohon. Atau tepatnya ceruk yang terbentuk di awah akar-akar pohon raksasa yang ada. Mereka duduk dibawah sana, menahan napas seiring derap langkah dan tembakan membabi buta terdemgar semakin dekat. Sakura menutup mulutnya sendiri agar nafasnya tidak terdengar. Sasuke tetap diam tenang, dengan pistol ditangannya. Ia siap menembak kapanpun.
Selama sepuluh menit mereka diam diposisi itu, tidak mengatakan apa- apa. Hutan kembali hening, tidak terdengar lagi suara mengerikan apapun. Sakura menghela napas lega, meskipun jantungnya masih tak karuan akibat pacuan adrenalin tadi. Sakura melirik tangannya yang berada dalam genggaman Sasuke. Ia menoleh ke Sasuke yang masih menegakkan badan mendengarkan dengan waspada.
Aura Sasuke begitu berbeda dari biasanya, lebih menakutkan sekaligus memberikan rasa aman dengan sendirinya. Sakura merasa wajahnya memanas ketika Sasuke tiba- tiba meliriknya. Sakura membuang mukanya. Tangannya terasa hangat didalam genggaman Sasuke, membuatnya malu.
"Gaara,"kata Sasuke pelan. Ia menempelkan ponselnya ketelinga. Ia bisa mendengar suara Gaara ditelepon. "Sakura berhasil diamankan. Kami ada didalam hutan, radius 2 kilometer kurang lebih dari mansion vampir itu."
Sakura meraba roknya. Ah, dia tidak membawa ponsel. Sasuke memasukkan kembali ponselnya kedalam saku celananya. "Tak ada sinyal, percuma jika kau mau memanggil temanmu."
"Lalu bagaimana kau bisa...?"
"Ponselku dirancang untuk keperluan pekerjaan."
Sakura menutup mulutnya, akhirnya paham maksud Sasuke. "Bagaimana keadaan Ino?"
"Kau sudah diculik, terluka, lalu dibawa ke Sunagakure sejauh ini kau cuma memikirkan keadaan temanmu?"
"Kita ada di Suna?"
Sasuke mendesis pelan."Pelankan suaramu. Ino aman bersama Sai."
Sakura baru menyadari bahwa kantung mata Sasuke begitu besar berwarna hitam gelap. Sasuke seperti mayat hidup yang tidak pernah kenal tidur. Kapan terakhir kali Sasuke tidur?
"Kau selalu saja membuat masalah."Kata Sasuke.
"Bukan salahku kalau masalah yang suka mengikutiku,"balas Sakura kesal. "Ah, sialan."
Sasuke melemaskan tubuhnya, memejamkan matanya seraya menghela napas. Ia sudah lelah sekali setelah beberapa hari ini tidak tidur. Ingin rasanya ia berbaring sekarang, beristirahat dari kemelut dunia ini. Ia capek sekali.
"Sasuke,"kata Sakura pelan. "Kau perlu istirahat."
Sasuke membuka matanya. Menatap langit malam. "Kau yang perlu istirahat."
"Tidurlah,"kata Sakura tidak sabaran seraya menarik kepala Sasuke ke bahunya dengan tangan kanannya. Ia memaksakan Sasuke lebih menunduk untuk bisa meletakkan kepalanya dibahu Sakura. Sakura bisa merasakan panas diwajahnya ketika rambut raven itu menusuk pipinya. "Polisi juga harus tidur agar bisa bekerja dengan baik."
Entah kenapa pertahanan Sasuke runtuh ketika mendengar ucapan menenangkan dari Sakura itu. Ia akhirnya memposisikan dirinya dengan nyaman dibahu Sakura, lalu memejamkan matanya kembali. Ia memasukkan tangan kirinya kedalam saku mantel yang berisikan pistol, bersiaga.
"Bangunkan aku jika ada yang mencurigakan."
Sasuke melirik tangan kanannya yang masih menggenggam tangan Sakura. Biarlah. Ia harus memastikan Sakura aman bersamanya selama bantuan masih dikirimkan kesini.
"Arigatou, Sasuke-kun."
Sasuke memejamkan matanya. "Hn."
.
.
.
.
To be continued
