A Recantation
Naruto by Masashi Kishimoto
Chapter 8
Salah Siapa?
"Ketika masa lalu menghantuimu dan kau mulai menyalahkan dirimu sendiri. Hatimu melemah, beristirahatlah!"
.
.
.
"Kau membuat Shinki dan yang lainnya khawatir, Gaara." Ujar Kankuro sambil membawa nampan berisi makan malam untuk Gaara.
Sejak kembali dari pemakaman, adiknya itu tidak mengatakan apapun. Gaara yang keluar dari dinding pasir dengan luka memar di tubuh, tidak membiarkan siapapun mendekati atau mengobatinya. Dia mengabaikan setiap tatapan khawatir dan perhatian yang diberikan olehnya dan yang lain. Menolak beranjak dari kursi yang dia letakkan di depan jendela kamarnya.
Bahkan ketika langit Suna mengganti warna cerahnya menjadi gelap malam, Gaara tetap diam. Tak bergeming.
"Kau tidak memakan makan siangmu," tambah Kankuro saat melihat nampan berisi makan siang yang telah mendingin tak tersentuh. Dia berjalan mendekati Gaara untuk menutup jendela kamarnya. Udara malam yang dingin akan membuat kondisi adiknya yang belum makan apa pun itu memburuk.
Kankuro menghela nafas panjang dan berbalik menghadap Gaara. Dirinya merasa kesal ketika melihat kondisi Gaara yang dipenuhi luka.
"Setidaknya biarkan aku atau Shinki mengobati lukamu, Gaara. Luka itu akan terlihat jelek esok pagi kalau dibiarkan."
Ketika Kankuro mencoba memegang luka di dahinya, pasir Gaara dengan cepat menghalaunya. Membuatnya hanya bisa mengulum bibir, menahan kekesalannya.
Kenapa Gaara membiarkan keluarga itu melukai dirinya? Kankuro tidak tahu. Tetapi, jika sampai membuat Gaara mengabaikan dan mengisolasi dirinya seperti ini. Ia rasanya ingin menghukum keluarga itu.
"Baiklah, biarkan saja luka itu. Tetapi katakan padaku, apa yang mereka lakukan sampai kau jadi seperti ini?" Sebisa mungkin Kankuro tidak meninggikan suaranya. Dari pengalamannya, dia tidak akan mendapatkan apapun jika dia membentak adiknya itu.
Namun jika itu Temari, mungkin akan lain ceritanya.
"Kalau Temari ada disini, dia pasti akan memarahimu."
"Dia pasti membenciku."
Ketika Gaara langsung membalas perkataannya, Kankuro tidak menduganya. Terlebih dia tidak mengantisipasi perkataan Gaara yang terdengar ironi baginya. "Hei, apa maksudmu? Temari tidak mungkin membencimu."
"Onii-san."
Sudah lama sejak Gaara memanggilnya dengan formal. Terakhir adalah saat mereka masih kecil dan adiknya itu meminta untuk bermain bersama.
"Kau tidak memanggilku seperti itu, Gaara." Ujar Kankuro seraya menggeleng lemah kepalanya. Dia tidak ingin mengingat masa kelam hanya karena adiknya yang tiba-tiba memanggilnya kakak.
"Maafkan aku."
"Oh Kami-sama! Apa yang keluarga itu katakan sampai kau—."
Bagaikan kilat yang menyambar, tatapan mata Gaara padanya membuat lidahnya kelu. Seketika itu juga, Kankuro menyadari apa yang terjadi dengan adiknya.
Seandainya dia lebih cepat menyadarinya..
"Tidak, Gaara! Apa kau sedang menyalahkan dirimu?"
Tidak ada respon.
"Gaara jawab! Apa kau menyalahkan dirimu?!"
Ketika Gaara mengalihkan tatapannya kembali ke jendela, Kankuro tidak membutuhkan jawaban lagi. Rasanya tubuhnya tidak mampu lagi menopangnya. Dia pun terjatuh di hadapan Gaara. Berlutut dengan kedua kaki menyentuh lantai, Kankuro meraih kedua tangan Gaara yang terasa dingin.
"Setelah sejauh ini, bagaimana mungkin kau menyalahkan dirimu? Ini salah, Gaara." Tutur Kankuro. Dia menyandarkan kepalanya pada kaki adiknya itu.
Sudah lama sejak Naruto menyelamatkan Gaara, Kankuro tidak pernah lagi melihat adiknya seperti ini. Bukannya ia tidak tahu, saat melihat hasil investigasi Konoha pagi tadi— ia sadar ini akan berpengaruh besar pada Gaara. Namun jika sampai membuatnya menyalahkan diri sendiri..
"Kau tahu? Jika ada yang harus disalahkan, itu adalah kami. Kalau saja aku melihatmu sebagai seorang adik sejak awal, maka aku akan menghentikan rencana ayah... Aku kakakmu, tapi aku tidak pernah bisa membantumu. Bahkan saat kau begitu tersiksa dengan pengkhianatan Yasamaru, atau saat Akatsuki menculikmu."
Kankuro mendongak. Mencoba melihat sepasang mata emerald adiknya.
"Dengar Gaara, kita selesaikan ini bersama. Tidak peduli Temari melarang kita bertemu dengan Shikadai atau tidak, besok pagi, kita akan ke Konoha. Maka kau akan melihatnya." Ini kesalahan kita bersama.
Seharusnya setelah Sasuke menyerahkan perkamen yang ditemukannya, dia bisa langsung pergi. Namun karena paksaan sahabatnya, Naruto, dia tertahan di kedai ramen Ichiraku.
Sebotol sake dan dua mangkuk ramen telah tersedia di depan mereka. "Saat kau bilang makan, kau tidak mengatakan akan memesan sake?"
"Hehe, kalau dua pria dewasa makan di kedai saat pulang kerja seperti ini, tidak lengkap jika tidak ditemani sake ttebayou.
"Hn."
"Uh, responmu masih sangat menyebalkan. Pantas saja Sarada kesal denganmu," ujar Naruto yang kemudian menyeruput ramennya lahap.
Sasuke yang mendengar sesuatu tentang putrinya langsung mendelik tajam pada sahabatnya itu. Entah bagaimana Naruto tahu tentang apa yang terjadi di rumah tangganya, rasanya, Naruto seperti tinggal disana dan mengetahui segalanya.
"Eeh, jangan salah paham dulu. Aku tahu dari Boruto yang kesal karena Sarada tidak fokus saat latihan ttebayou. Karena Sarada tidak mungkin kesal pada Sakura, berarti dia sedang kesal padamu Teme."
Mendengar penjelasan Naruto, Sasuke langsung melanjutkan makannya. Dia sadar saat terakhir Sarada berbicara padanya adalah makan malam setelah pemakaman itu. Esok paginya dia langsung pergi saat putrinya masih tertidur. Setelah beberapa hari, sepertinya Sarada masih kesal dengan jawabannya.
"Hei, Sasuke. Karenaku, kau tidak punya waktu banyak dengan keluargamu."
Tidak hanya dirinya, Sasuke juga tahu kalau Naruto tidak memiliki banyak waktu dengan keluarganya.
"Tetapi, pergi dengan kesan yang tidak baik rasanya kurang tepat. Kau tahu, walau hanya sebentar bertemu dengan orang tuaku yang merangkul dengan hangat dan menjelaskan banyak kesalahpahaman dengan sedikit kata— rasanya sangat menyenangkan. Seolah aku telah menghabiskan bertahun-tahun waktuku dengan mereka."
Sasuke menaruh sumpitnya, dia melihat Naruto yang memandang lurus dengan tatapan melankolis. Senyum pilu pun terpatri di wajah lelah sahabatnya.
"Saat bertemu dengan kakakmu di perang dunia shinobi keempat pun, aku yakin kau merasakan hal yang sama."
Mendengar tentang kakaknya setelah sekian lama, hatinya berdesir. Semua temannya tahu, membicarakan Itachi adalah hal tabu baginya. Tapi bagi Naruto pun, membicarakan orang tuanya adalah hal yang tabu. Jadi rasanya impas bagi Sasuke.
"Apa yang ingin kau katakan, Naruto?" Tanya Sasuke.
"Aku pikir, mungkin tidak apa jika besok kau mengambil cutimu lagi. Keluarga itu nomor satu, dattebayou."
"Aku baru mengambilnya beberapa hari lalu—."
"Ya, kau benar. Walaupun begitu, kau masih belum meninggalkan kesan baik untuk Sarada. Dan setelah sekian lama, kau tidak bisa melewatkan pesta ulang tahun saudaramu ini ttebayou."
"Kau tidak merayakan ulang tahunmu Dobe."
"Yup, tapi sekarang beda. Kata Shikamaru, setelah banyak hal merepotkan terjadi di Konoha— sebuah perayaan kecil sepertinya menyenangkan. Karena festival musim dingin masih lama, kenapa tidak merayakan ulang tahunku saja dattebayou."
Sasuke hanya bisa menghela nafasnya. Saat Naruto telah menginginkan sesuatu, tidak ada yang bisa melarangnya. Lagipula, dia memang butuh waktu untuk bersama keluarganya saat ini.
"Oi, Teme! Kau membiarkan ramenmu dingin dattebayou!"
"Hn."
.
.
.
*End of Chapter 8*
