Disclaimer: Haikyuu! adalah karangan Furudate Haruichi. Author tidak mengambil keuntungan materiil.
Warning: Osamu x OC, berpotensi spoiler manga.
.
.
not another story about love
Kesebelas: Cinderella dan Little Mermaid
by Fei Mei
.
.
Osamu tidak senang kalau menerima hadiah yang 'sekalian'. Tidak masalah jika memang hadiah yang dimaksud adalah untuknya dan Atsumu, tapi Osamu tidak senang jika hadiah yang diperuntukan baginya itu dibuat sekalian diberikan padanya. Ia baru menyadari perasaan tidak suka itu ketika sekarang Atsumu sedang ikut pelatihan se-Jepang. Gara-gara si Setter tidak datang ke sekolah, para penggemar menitipkan hadiah pada sang adik. Dan mungkin karena tidak enak hati jika hanya menitip untuk Si Sulung, mereka menyisipkan hadiah untuk Osamu juga. Berterimakasih sih, pasti, tapi Osamu merasa lebih baik jika ia tidah usah punya bagian sama sekali daripada dapat yang 'sekalian'.
Tidak hanya dititip secara langsung, para penggemar Osamu mulai menjejali kiriman mereka di loker Osamu. Ia mengeluarkan tiap hadiah itu dari kotak loker hati-hati. Tidak banyak sampai tumpah-tumpah seperti yang biasa terjadi di loker Atsumu, tapi tetap saja. Jika tidak peduli, Osamu akan mengeluarkan setiap hadiah itu dengan biasa saja. Tetapi ia tidak mau, ia harus berhati-hati, siapa tahu ada hadiah dari Gadis Rahasia di antaranya.
Sudah tidak senang dengan hadiah-hadiah 'sekalian', Osamu tambah cemberut karena tidak menemukan bungkusan biru familiar. Ia menghela. Memang tahu bahwa gadis itu tidak memberi hadiah tiap hari, tetapi hadiah darinya akan sangat menghangatkan hati saat ini.
"Osamu-san, tumben pagi sekali."
Osamu terhentak dan menoleh ke asal suara. Kaji berdiri tidak jauh darinya dan tersenyum kecil, berjalan ke lokernya sendiri.
Pemuda itu pun mengangguk. "Hari ini aku piket kelas. Dan karena Atsumu tidak ada, aku jadi bisa tiba pagi."
Kekehan halus Kaji terdengar merdu di telinga Osamu. "Ah, jadi selama ini, kalau kau sampai terlambat, itu gara-gara Atsumu-san?"
"Iya, gara-gara dia."
"Osamu-san … ternyata penggemarmu banyak seperti saudaramu, ya," tutur Kaji, menunjuk hadiah di tangan Osamu dengan dagu. "Kalian memang kembar."
Osamu mendengus kecil mendengarnya. "Ini cuman titipan kok, sama ada hadiah yang sekalian buatku juga." Selesai di lokernya, Osamu menghampiri si manager. "Kaji, kalau warna rambutku dan 'Tsumu sama, kamu bakal bisa bedain kami, gak?"
Kaji menoleh, mengernyit sejenak pada pemuda seangkatannya, lalu tersenyum. "Entah ya ... wajah kalian memang sama sih."
Manggut-manggut, Osamu merasa wajar. Bahkan di rumahnya sendiri, kedua orangtua mereka tidak begitu bisa membedakan.
"Tapi … " sambung gadis itu. "Walaupun wajah kalian bagai pinang dibelah dua …" Kaji tersenyum lembut. "Kalian tetap dua pribadi yang berbeda. Kurasa, dari situ aku akan bisa membedakan."
Hati Osamu tersentil. Entah apa yang menggerakkannya, tetapi dengan spontan tangan kanannya memegang tangan Kaji. Jelas gadis itu terkejut. "Kaji, di antara aku dan 'Tsumu, siapa yang lebih baik?"
Dengan tawa canggung, Kaji melepas tangannya. "Kalian punya kualitas baik masing-masing."
"Contohnya?"
Kaji tersenyum tipis. "Atsumu-san itu sangat jujur, dia bisa mengutarakan isi hati dan pikirannya dengan lugas."
"Kalau … kalau aku?"
Gadis itu mundur selangkah, gara-gara Osamu begitu dekat dengannya saat ini. Tetapi Kaji tetap tersenyum kecil. "Osamu-san itu … menghargai semua hal yang ada di sekitarmu dengan tulus. Kupikir … Osamu-san adalah pribadi yang apa adanya, dan menerima segalanya dengan apa adanya."
"Apa adanya … seperti tanpa pamrih?" gumam Osamu. "Bukankah itu seperti cinta?"
Spontan Kaji terkekeh. Ia tak lagi menjawab dan malah hanya mengangkat bahu. "Aku duluan, Osamu-san. Sampai nanti di gym."
Lalu Osamu melihat gadis itu memunggunginya dan berjalan pergi.
Kaji sama sekali bukan tipe cewek cantik. Wajahnya biasa saja, dan malah terkesan jarang berekspresi sehingga tampak membosankan. Awalnya Osamu pikir Kaji bakal cocok disandingkan dengan Kita-san, karena keduanya sama-sama tampak serius. Tetapi makin sering mereka berinteraksi di luar aktivitas klub, yang mungkin karena mereka sekarang hampir selalu naik bus yang sama saat pulang sekolah, Osamu jadi menemukan secara langsung sisi hangat dan manis dari gadis itu.
Dan Kaji bukan cewek langsing. Tinggi badannya mungkin lebih pendek daripada rata-rata siswi di SMA Inarizaki. Kaji bukannya gendut, tapi memang badannya agak berisi. Dan karena memang tidak tinggi, kalau ada orang reseh, pasti akan langsung berpikir bahwa gadis itu bantet—padahal mah, menurut Osamu, Kaji sama sekali tidak bantet.
Ampun, Osamu baru sadar sekarang.
Atsumu tidak akan pergi dan pulang sekolah bareng dengannya beberapa hari ini. Dengan kata lain, mulai hari ini sampai beberapa hari ke depan … Osamu hanya akan berdua saja dengan Kaji dalam bus pulang sekolah!
/'Kepada Atsumu,
SOS'/
/'Dari Atsumu,
Wah, selamat pagi untukmu juga, dedekku sayang. Baru sebentar loh, udah kangen abangmu ini, eh?'/
/'Kepada Atsumu,
Idih kangen apaan, bikin jijik ah lu.
Aku cuman baru inget. Kalau gak ada kamu, berarti entar pulang sekolah aku cuman berdua sama Kaji!'/
/'Dari Atsumu,
CIIIEEE UHUY~
Lumayan lah, PDKT. Mending kamu sama si Kaji yang udah jelas keliatan daripada sama si Rahasia yang masih gak jelas dia siapa.'/
/'Kepada Atsumu,
Jadi kamu ngeship aku sama Kaji, gitu?'/
/'Dari Atsumu,
Enggak ngeship, kok, biasa aja. Aku tau kamu suka sama Kaji sekaligus sama si Rahasia. Tapi selama kita gak tau sosok asli Rahasia, aku pribadi berpendapat mending kamu sama Kaji, gitu.'/
/'Kepada Atsumu,
Aku gak suka sama Kaji dan Rahasia, 'Tsumu.'/
/'Dari Atsumu,
Terlepas soal Rahasia, ya. Kalau memang gak suka Kaji, kenapa kamu panik saat ngeh entar bakal berduaan aja saat pulang nanti? ;)'/
… giliran yang kayak gini, abangnya bisa pinter begitu.
.
.
.
.
Aku tersenyum geli melihat Osamu menenteng kantong kresek besar yang transparan. Bisa kulihat banyak bungkusan hadiah di dalamnya. Saat sebelum kami jalan ke perhentian bus, aku sudah terkikik duluan melihatnya, tapi berusaha untuk jangan sampai tertawa lepas karena Osamu keburu melempar tatapan tajam padaku.
Jadi Osamu cerita, bahwa selama ini kalau mendapat banyak hadiah, Atsumu malah membagi-bagikannya pada orang lain, terutama untuk hadiah yang dipikirnya tidak bakal terpakai atau sudah punya atau memang hanya kebanyakan. Tentu saja aku mencetuskan agar Osamu melakukan hal yang sama pada sekantong hadiah yang ia bawa pulang ini. Tetapi pemuda ini menolak, ia merasa sangat tidak enak jika mengoper hadiah itu pada orang lain.
Tuh, kan, Osamu orangnya tulus dan baik walau sering berantem dan kesal pada kakaknya. Aku jadi curiga, jika nanti ada perempuan yang nekad tembak dia, mungkin Osamu akan langsung terima karena tidak enak menolak padahal tidak suka.
"Osamu-san, apa mau kubantu bawa saja sebagian?" tanyaku.
Dia menggeleng. "Gak usah, gapapa. Justru karena aku cowok, harusnya memang aku yang bawa banyak barang. Dan lagi sekarang kita lagi duduk, jadi gak berasa berat."
Kruyuk~
Mataku membulat. Nah lho, perut siapa tuh? Aku tahu itu bukan perutku. Maksudku, kalau perut sendiri, bakal tahu lah, ya.
Spontan aku menoleh, melihat Osamu yang tampak malu sendiri. Gara-gara itu, aku jadi tahu jawabannya. "Osamu-san, kalau lapar, makan kue hadiah penggemarmu saja."
"Enggak ah, males, di rumah aja," gumamnya.
Kruyuk~ bagian kedua. Ia tampak makin malu dan aku terkekeh kecil.
"Osamu-san, penggemar rahasiamu yang biasa itu hari ini gak kasih bekal, ya?" tanyaku, padahal aku sudah tahu sendiri jawabannya.
Osamu mengangguk. "Padahal aku udah ngecek dalam lokerku di antara tumpukan hadiah yang bareng titipan untuk 'Tsumu, lho. Jangan-jangan gara-gara ngeliat lokerku penuh, dia jadi males ngasih …"
Ah, sebenarnya itu tebakan yang tepat. Nyatanya aku memang telah membuat tiga buah nasi kepal dan berniat menaruhnya di loker Osamu. Kupikir aku jangan terlalu sering pura-pura 'menitip pada manager', jadinya selang-seling saja. Tetapi melihat Osamu sudah datang duluan dan sudah banyak hadiah menunggu di lokernya, aku mengurungkan niat. Bisa saja pakai metode 'menitip' lagi dan kuberikan di gym, tapi kubatalkan karena kupikir toh dia sudah dapat banyak makanan dari para penggemarnya yang sesungguhnya.
.
.
Malam itu, setelah selesai memeriksa ulang buku untuk kubawa besok ke sekolah, ponselku bunyi. Baris notifikasi muncul, tertulis bahwa aku dapat pesan dari 'dia'. Aku tersenyum dan membukanya.
/'Dari Dia,
Sudah selesai belajar?'/
/'Kepada Dia,
Baru selesai. Ada apa?'/
/'Dari Dia,
Aku kangen :('/
/'Kepada Dia,
Padaku? Atau pada Atsumu-san?'/
/'Dari Dia,
Tentu saja padamu, buat apa aku kangen si 'Tsumu?'/
/'Kepada Dia,
Kita berkirim pesan tiap hari, dan sebenarnya kau tidak bisa merindukan orang yang bahkan tidak kau tahu siapa, Osamu-san.'/
/'Dari Dia,
Kalau begitu, tolong beritahu aku siapa kamu.
Apa perlu aku mengepas sepatu kaca di kakimu?'/
/'Kepada Dia,
Aduh astaga, ini bukan Cinderella! Ahahaha.'/
/'Dari Dia,
Dibanding kisah Cinderella, aku merasa seperti menjadi si pangeran dari kisah Little Mermaid. Kau tahu, aku seperti terjebak di antara dua gadis, dan aku tidak tahu kalau aku menyukai gadis yang benar.
Oh, kupikir ini bisa jadi fakta tentangku malam ini.'/
/'Kepada Dia,
Semoga kau menyukai gadis yang benar, kalau begitu. Soalnya, kalau sampai salah, maka Si Gadis yang Benar akan menjadi buih. Semoga kau memilih gadis yang benar, wahai pangeran :).
Tentangku malam ini: Sebenarnya tadi pagi aku sudah menyiapkan nasi kepal untukmu, tetapi kupikir kau tidak akan membutuhkannya karena sudah mendapat banyak hadiah dari yang lain. Bukan berarti aku tidak senang kau mendapatkan itu semua, tapi aku hanya takut makanan dariku yang sederhana malah jadi perusak pemandangan jika disandingkan dengan dari gadis lain.'/
/'Dari Dia,
Sekalipun suatu saat darimu hanya terbungkus kertas koran, aku akan tetap memilih hadiahmu.'/
.
.
Bersambung
.
.
A/N: Kacau, bagian Cinderella dan Little Mermaid itu sama sekali gak ada dalam rencana, bisa enak ngalir gitu, maapkeun. Dari chapter 2 sampai 10 itu awalannya dari POV OC lalu belakangan Osamu ya, mulai chapter ini pembukanya dari Osamu dulu terus nanti dari OC. Dan yang pasti, Fei pun ngerasa bahwa makin kesini, adegan kirim pesannya lebih banyak dan hampir menyaingi narasi, serta plotnya melambat karena kebanyakan dialog. Tapi Fei berusaha agar inti ceritanya tetap terjaga.
Review?
