Chapter 8
"Oi," Taufan yang baru saja masuk ke kelasnya menghela napas. Ini masih pagi dan suasana hatinya sedang buruk. Bertemu dengan anak yang menindasnya beberapa minggu ini menambah kejengkelan yang terus menumpuk di hatinya.
"Apa?" kata Taufan berusaha tidak ketus meskipun tidak berhasil. Siswa yang ada di depannya menggaruk belakang kepalanya. Taufan bisa merasakan bahwa siswa tersebut sedang gugup.
Taufan duduk di kursinya dan kembali menghela napas, "kalau tidak ada yang mau kau katakan cepatlah pergi dari hadapanku. Aku sedang tidak dalam suasana meladenimu."
Siswa di depannya tersentak sedikit. Bisa Taufan lihat bahwa mata siswa dengan name tag "Alvin" di dadanya mengarah ke pintu belakang kelas. Namun Taufan tidak melihat keberadaan seorang pun ketika dia melihatnya. "M-maaf," Taufan langsung menatap siswa tersebut.
"Apa kau melakukan kesalahan sampai meminta maaf kepadaku? Aku bahkan tidak tahu kalau mulutmu bisa mengeluarkan kata maaf," tanya Taufan dengan jelas memasukan kalimat sindiran.
"A-aku melakukan banyak ke-kesalahan padamu. Aku m-minta maaf. Kalau perlu aku akan bersujud di depanmu sampai kamu memaafkanku," jawab Alvin dengan tubuh bergetar. Dia langsung melakukan sujud tapi segera dihentikan Taufan.
"Aku tahu, aku tahu. Aku akan memaafkanmu. Aku tidak menyangka kau bakalan seserius ini. Geez, hampir saja aku melihat hal yang memalukan tadi."
"Kamu... memaafkanku?" wajah Alvin memelas. Taufan langsung menunjukkan ekspresi senyum bercampur jijik. Bayangkan anak yang sebelumnya memasang wajah bad boy dengan piercing di salah satu telinganya yang menindasmu selama hampir sebulan memasang wajah melas bak anak anjing di jalanan.
"Ugh... ya anggap saja gitu. Aku baru saja berpikir tidak akan memaafkanmu kalau kau masih menggangguku dan menjalankan rencanaku untuk memberimu pelajaran bersama teman-temanmu. Tapi sepertinya tidak perlu karena seseorang telah melakukannya terlebih dahulu," Taufan menampilkan cengirannya.
Taufan kembali ke tempat duduknya setelah membantu Alvin berdiri. "Dan kau tak perlu memasang wajah seperti akan dibunuh ketika meminta maaf kepadaku. Sebagai orang yang kau buat sebagai pelampiasan stres, aku cukup bersabar untuk tidak mematahkan kedua kaki dan tanganmu," lanjut remaja berjaket biru tua masih dengan senyumannya.
Keringat dingin Alvin kembali mengalir, "aku minta maaf."
"Ok. Aku terima minta maafmu kali ini. Semoga kita tidak berhubungan lagi lain kali," kata Taufan.
Setelah itu bel masuk berbunyi dan Taufan satu kelompok dengan Alvin karena tugas laporan Biologi.
Yah, bisa dibilang musuh kemarin adalah teman hari ini.
The Truth © LiTFa
BoBoiBoy © Animonsta Studios/Monsta
Language: Bahasa Indonesia
Rating: T+
Genre: Family, Mystery
Warning: AU, Typo(s), No Power, No Alien, No Robot, No Pairing, drama about family and friendship, press "back" if you don't like this story.
Brak!
Fang memukul meja rapuh itu dengan wajah penuh amarah. Suasana di ruang kelas kosong penuh dengan kemarahan dan kekesalan. "Kita sudah dapat pelakunya tapi kenapa menyuruhnya untuk mengaku susah sekali!" Fang mengepalkan tangannya sampai telapak tangannya meninggalkan jejak kuku.
"Kan sudah kubilang, mana ada maling mengaku maling," kata Taufan dengan mata yang masih fokus pada selembar kertas yang berisi data si pelaku.
"Muka dia tebal untuk mengaku bahwa dia tidak mencurinya," kata Ying. Dia sama kesalnya seperti Fang, rasa kesal terpampang jelas di wajahnya.
"Dia malah menantang kita untuk menunjukan buktinya," ucap Yaya.
"CCTV. Tidak dipasang," komentar Ice yang duduk sambil memeluk kedua kakinya.
"Mereka memasang CCTV di gerbang dan koridor sekolah tapi tidak dengan ruang guru. Mereka kehabisan uang atau gimana?" kata Fang masih dengan nada kesalnya.
Gempa dan Ocho menghela napas. Mereka sejenak diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Hingga Gempa sadar akan sesuatu yang diucapkan oleh remaja berambut raven tersebut. "Tunggu, CCTV di koridor sekolah..." gumam Gempa.
Ocho yang mendengar gumaman remaja bermata kuning emas itu langsung mengerti maksudnya. "Seharusnya ada CCTV di koridor arah ruang guru," kata Ocho.
Tujuh murid tersebut menemukan secercah cahaya harapan. "Kita coba lihat. Jika ada, kita minta tolong Pak Iwan untuk membuka rekaman CCTV," semua setuju dengan ucapan Ocho. Mereka kemudian berjalan keluar kelas kosong tersebut dan mulai memeriksa tempat CCTV berada.
"Ah," mata Taufan bertemu dengan CCTV yang ada di sudut koridor. "Ada!" remaja berambut hitam itu berseru. Segera keenam anak lainnya berkumpul menuju tempat Taufan.
"Posisinya agak jauh dari ruang guru tapi masih bisa terlihat," kata Ocho. Tempat CCTV dan ruang guru berada di ujung koridor satu sama lain.
"Tsk. Kenapa mereka memasang satu CCTV tiap lantai? Apa mereka tidak tahu kalau murid bisa memanfaatkan titik buta kamera?" keluh Ying.
"Pada dasarnya mereka memasang CCTV agar terlihat aman di mata wali murid," kata Fang kesal.
"Jadi mereka tidak memeriksa rekaman CCTV karena yakin tidak akan tahu siapa saja yang memasuki ruang guru di sore itu?" tanya Yaya.
Fang menggerakan bahunya, "mungkin. Area CCTV terlihat terbatas di bagian tertentu," jawabnya.
"Tapi mereka membeli CCTV bentuk lingkaran seperti ini harusnya bisa terlihat kan?" kali ini Gempa bertanya.
"Harusnya. Kita beruntung sekolah memasang CCTV seperti ini."
"Kalau begitu tunggu apalagi? Kita ke Pak Iwan sekarang."
Enam murid tersebut mengangguk. Mereka pergi menuju pos satpam dengan harapan rekaman CCTV tersebut memperlihatkan pelakunya dengan jelas. Ini akan menjadi bukti yang tidak akan bisa dibantah oleh si pelaku.
"Pak Iwan!" panggil Ocho saat sudah sampai di depan pos satpam. Pak Iwan yang sedang istirahat sejenak dari pekerjaannya menoleh, "oh, Dik Ocho."
"Dik?" enam orang tersebut berusaha agar tidak tertawa.
"Pak, saya mau minta tolong. Bapak bisa menunjukan kami rekaman CCTV sekitar 9 hari yang lalu? Kami mau memastikan sesuatu."
"Memastikan apa Dik? Terus ini kenapa rame-rame? Kalian kayak mau ngeroyok Bapak kalau gak dikasih tahu rekamannya," canda Pak Iwan.
"Murid yang masuk ke ruang guru di hari itu, mungkin jam 3 atau jam 4. Dan mungkin kami akan mengganggu Bapak kalau tidak diizinkan," Gempa membalas candaan Pak Iwan dengan senyuman.
Pak Iwan tertawa kecil, "ok. Sini ikut Bapak."
Ketujuh murid tersebut memasuki ruang CCTV. Mereka melihat rekaman CCTV 9 hari yang lalu dengan Pak Iwan sebagai pusatnya yang mengoperasikan rekaman tersebut.
"Ah. Tolong rewind sedikit Pak," Ice berbicara dalam keheningan tersebut.
Pak Iwan memundurkan rekaman video tersebut seperti yang diminta oleh Ice sampai murid pendiam tersebut mengucapkan, "berhenti."
"Ini..." Yaya meragukan kualitas video rekaman yang tidak bagus.
"Harusnya itu cukup. Karena terlalu jauh jadi wajahnya tidak kelihatan. Seharusnya ada perbedaan pakaian yang dipakai Blaze sama Si Pelaku," kata Taufan berusaha yakin.
Pak Iwan yang mendengar percakapan mereka mengingat sesuatu, "kalau boleh tahu, apa yang terjadi 9 hari yang lalu?"
"Terjadi pencurian kunci jawaban soal semester. Para guru dan siswa salah menduga kalau pelakunya itu Blaze," Ocho menjawab.
"Itu tidak mungkin."
"Kenapa Pak?"
"Bapak ingat kalau Dik Blaze izin ke Bapak hanya mengembalikan kunci gudang. Dik Blaze benar-benar mengembalikan kunci tersebut di depan mata Bapak."
Ketujuh murid tersebut terkejut. "K-kalau begitu, Bapak ingat siapa yang masuk ke ruang guru sebelum atau sesudah Blaze?" tanya Gempa.
"Itu..."
Tujuh murid itu menatap Pak Iwan dengan mata berharap.
From : Ocho
Kita sudah tahu pelakunya kemarin tapi dia terus membantah. Dia sampai menantang kami untuk memperlihatkan buktinya. Kami akan memperlihatkannya hari ini, harusnya dia tidak akan bisa menyangkal bukti itu.
Halilintar menghela napas. Dia sedang berjalan mengitari sekolah ketika istirahat berlangsung. Remaja tersebut sedang mencari seseorang atau mungkin beberapa orang. Kedua matanya melihat di segala sisi sekolah yang ia lewati.
"Ini benar-benar tidak terduga! Kukira aku akan tertangkap meskipun berkas kunci jawaban aku taruh di lokerku."
Kepala Halilintar menoleh mengikuti arah suara yang didengar telinganya.
"Tapi itu membuat usahamu sia-sia. Soal ulangan pasti bakal dirombak ulang dan tempat untuk menaruh kunci jawaban juga tidak akan sama."
"Tidak masalah, mengambil kunci jawaban saat malam hari akan memberi banyak waktu untuk mencari di setiap ruangan. Kali ini kalian akan membantu."
"Ya, dan kau juga tidak akan melihat si Bom Waktu meskipun hanya seminggu. Matamu pasti terasa segar sesaat tidak melihatnya di kelasmu."
"Dia benar-benar perusak pemandangan karena terus mencari perhatian."
Ketiga siswa yang asyik berbicara sambil menghisap rokok di sudut halaman belakang sekolah terus berbicara tanpa menyadari kehadiran Halilintar. Mereka dengan santai menyulut rokok baru tanpa mengkhawatirkan guru maupun siswa karena tempat tersebut jarang dilewati orang.
[...kukira aku akan tertangkap meskipun kertas kunci jawaban aku taruh di lokerku...]
[…usahamu sia-sia. Soal ulangan pasti bakal dirombak ulang dan tempat untuk menaruh kunci jawaban...]
[Tidak masalah, mengambil kunci jawaban saat malam...]
Ketiga siswa itu menoleh ke arah suara berasal, menyadari kehadiran Halilintar yang tengah melihat smartphone-nya.
"Ini jelas."
Tanpa memedulikan ketiga siswa yang tengah mencerna apa yang baru saja terjadi, Halilintar meninggalkan mereka.
"Tangkap anak itu!" salah satu siswa yang sadar terlebih dahulu memerintah kedua temannya.
"Sialan! Beraninya ka—"
Ketiga murid tersebut diseret menuju ruangan BK sebelum mereka sempat menyentuh Halilintar dengan rasa sakit di tubuh masing-masing.
Guru BK terdiam, keringat dingin mengalir di dahinya. Rasa bersalah dan malu menyelimuti hatinya ketika dia mendengar penjelasan siswa yang menjabat sebagai Ketua OSIS bersama kedua temannya.
"Kalau Ibu masih tidak percaya, saya akan menunjukkan rekaman CCTV-nya," kata Ocho.
Remaja berambut pirang itu menampilkan video rekaman CCTV di smartphone-nya kepada guru BK. Meskipun kualitas rekaman tersebut tidak bagus, matanya masih bisa membedakan siapa yang membawa setumpuk kertas dan siapa yang keluar hanya untuk mengembalikan sebuah kunci.
"Murid itu mengatakan yang sebenarnya," batin guru tersebut dengan wajah memerah mengetahui letak kesalahannya.
"Kalau Ibu masih tetap dengan pendirian Ibu setelah melihat bukti jelas ini, saya akan memanggil Pak Iwan dan siswa yang terkait," Taufan berkata setelah melihat reaksi guru BK.
"Itu tidak perlu. Mereka akan mengatakannya sendiri."
Orang yang ada dalam ruangan tersebut mengarahkan pandangan mereka ke arah pintu. Melihat Halilintar mendorong tiga siswa dengan beberapa luka ringan di tubuh mereka.
"Katakan."
Halilintar memerintah ketiga siswa itu dengan suara dinginnya yang serak. Batuk kecil kemudian menyusul karena tenggorokannya yang sakit.
Salah satu dari tiga siswa tersebut mendecakkan lidahnya. Dua siswa lainnya bersikap seolah tidak terjadi apa-apa meski tubuh mereka sedikit gemetar.
"Itu bukan aku. Kenapa aku harus mengakui kesalahan yang tidak aku perbuat?"
Ochobot, Taufan, dan Gempa menghela napas kesal. Itu adalah jawaban yang mereka terima ketika meminta pengakuan dari siswa itu. Bahkan dengan bukti yang begitu kuat, siswa itu masih punya muka untuk menyangkal perbuatannya.
"Kamu serius mengatakan itu ketika rekaman CCTV yang kami bawa memperlihatkan mukamu?" kata Gempa berusaha sabar. Sangat jarang BoBoiBoy ketiga itu menunjukkan kemarahannya.
"Ocho."
"Apa?"
"Sudah kukirim."
"... ha?"
Handphone Ocho bergetar tepat setelah Halilintar selesai berbicara. Dia membuka benda kotak tipis tersebut dan melihat notifikasi email.
"Ini...!"
Semua orang di ruang BK kecuali Halilintar menatap Ocho. Ketiga siswa yang dibawa (diseret) oleh remaja bermata merah tersebut bisa menebak apa yang Halilintar kirim.
"Itu bukti jelas. Otak licin mereka tidak akan bisa mencari alasan lagi," Halilintar menjelaskan secara singkat.
Taufan dan Gempa menghampiri siswa berambut pirang tersebut. Melihat isi email yang dikirim oleh Kakak Sulungnya.
"...wow," Taufan tersenyum tidak percaya sementara Gempa mendengkus ringan.
"Ada apa?" guru BK yang daritadi terseret dengan perubahan suasana bertanya.
Ocho langsung menunjukkan isi email Halilintar yang berupa video dengan ekspresi penuh kemenangan kepada guru tersebut.
"Jika Anda masih membantah bukti ini, maka Anda harus berhenti menjadi Guru Konseling."
Pada hari itu, kasus Blaze yang menjadi pelaku kunci jawaban dilepas dan skors yang diberikan kepadanya dicabut. Hukuman untuk ketiga siswa yang merupakan pelaku sebenarnya akan diputuskan ketika Blaze masuk sekolah.
Tiga hari kemudian, Blaze masuk rumah sakit.
Mata jingganya terbuka, melihat pemandangan serba putih dengan bau obat-obatan yang menyeruak indra penciumannya. BoBoiBoy keempat itu tahu dimana ia berada. Dengan cepat menemukan jawaban bahwa ia berada di rumah sakit tapi tidak tahu bagaimana bisa ia berakhir di tempat seperti ini. Seingatnya, ia sedang dalam perjalanannya yang tanpa arah kemudian menunggu lampu lalu lintas berganti warna merah dan ketika sedang menyeberang tiba-tiba dia merasa ditarik oleh seseorang. Ingatannya berhenti sampai di situ karena tiba-tiba kepalanya terasa sakit dan semuanya menjadi gelap.
Blaze melihat sekelilingnya, mendapati jarum jam menunjukan angka 2 lebih 15 menit. Menjelaskan kenapa ruangan yang ia tempati begitu gelap. Lalu dia melihat jendela yang tirainya tidak ditutup, membiarkan sinar bulan menerangi sedikit ruangannya. Seseorang tengah memandang ke arah luar dari jendela tersebut.
"Kenapa di sini?" tanya Blaze ketus.
Orang itu mengalihkan pandangannya ke Blaze, "hanya memberitahu," Blaze diam menunggu orang yang ada di depannya itu menyelesaikan kalimatnya. "Kamu bisa masuk sekolah mulai besok— tepatnya nanti," ucap Halilintar. Blaze mengerutkan dahinya, terheran kenapa orang itu menunggunya sadar hanya untuk memberitahu hal tersebut.
"Terus?"
Halilintar menatap Blaze sejenak, "hanya itu."
Kemudian, mereka berdua terjebak dalam keheningan. "Kenapa masih di sini?" Blaze bertanya seakan-akan menyuruh Halilintar untuk segera pergi.
Halilintar mengabaikan pertanyaan adiknya itu, ia kembali menatap langit malam yang disinari bulan. Blaze menatap tajam Halilintar yang tak kunjung pergi. "Ketika semuanya selesai, aku akan memberitahu kalian," kata Halilintar tiba-tiba.
Blaze heran, jawaban Halilintar keluar topik dari pertanyaannya. Memangnya dia bertanya apa selain menyuruh Halilintar keluar?
Halilintar kembali menatap Blaze, "aku juga akan mengabulkan keinginanmu," lanjut Halilintar.
"Apa yang kau bicarakan?"
Halilintar tersenyum tipis, "menghilang," jawabnya.
"Karena tidak ingin hidup bersama seorang pembunuh, kamu ingin aku menghilang kan?"
Blaze langsung teringat kejadian 5 hari lalu. Orang itu, Halilintar mendengar semuanya. "Tapi maaf," Halilintar kembali berbicara sedangkan Blaze menggertakan giginya. "Ada yang harus kulakukan, ini tidak akan lama."
Halilintar berjalan mendekati Blaze, kedua tangannya terangkat untuk memeluk tubuh adiknya. Blaze terkejut, dengan keadaan mereka semua yang tidak begitu baik, orang yang merupakan kakaknya ini masih bisa memberi pelukan penuh kehangatan.
Bukan ini yang dia harapkan. Dia tidak menginginkan situasi ini terjadi.
"Aku tidak akan menunjukkan diriku di depanmu. Apa itu akan membuatmu sedikit tenang?"
Blaze, kau benar-benar idiot.
[To Be Continued]
Note :
Fiuh... dah lama gak meninggalkan note di sini.
Terimakasih kalian yang sudah mereview cerita yang updatenya lama ini. Akan kuusahakan untuk lebih rajin menulis cerita ini ke depannya.
Selamat hari natal dan tahun baru!
Selamat menikmati hari libur dan terkutuk kau tugas yang masih diberikan! T_T
2020.12.21
LiTFa.
