Day 8

Collar/Biting x Mirror


Reflection

Sebuah kotak dibuka, Dazai mengambil seutas collar bewarna hitam. Dengan seuntai platina manis berbentuk tetes air di tengahnya. Ia melangkah pada Chuuya yang ada di depan kaca, tengah menyisir rambut ikal agar tidak kusut dibawa tidur.

"Aku baru beli tadi," Dazai melingkarkan choker hitam itu di leher putih Chuuya, mengancingkan bagian belakang lalu melihat tetesan air yang bergoyang di bawah jakunnya. "Manis."

Sebuah kecup Dazai beri pada tengkuk, dibatasi besi penaut namun tetap bisa mencecep rasa kulit kekasihnya. "Chuuya punya leher yang indah."

Chuuya merasakan pemuda yang lebih tinggi darinya imenyandarkan kepala di pundak, kedua tangan yang melingkar pada perut Chuuya timpa agar bisa menggenggam. "Karena itu kau suka membelikanku kalung?"

"Warna hitam cocok untuk kulit putihmu, serasi dengan jejakku." Hidung Dazai menyentuh kulit leher, membuat Chuuya melenguh sembari mempersilahkan. "Manis."

Senyum tertarik di bibir Chuuya. Dengan hembusan napas, Dazai dapat membawa pergi semua pertahanan. Lalu dengan hisapannya, Chuuya melenguh karena jiwa ditarik oleh kecup. Berganti titik merah manis menyala.

"Ini tanda," Dazai mengecup titik itu, "Kau milikku."

"Tentu."

Mata Dazai naik, menatap cermin yang memantulkan wajah bersemu Nakahara Chuuya. "Manisnya," ia mengecup pipi.

Pelukan Dazai mengerat, perlahan membawa Chuuya mendekat hingga kedua tangannya bersanggah pada cermin. Mempersilahkan Dazai menaikkan kemeja agar dapat meraih belahan daging bokong Chuuya.

"Bukannya kita mau tidur?"

"Salahkan cermin itu," Dazai memijat kepemilikannya agar bisa menancap dalam. Mengira-ngira desakan Chuuya yang memang familiar namun selalu mengejutkan. "Dia membuatku bergairah."

"Kau selalu bergairah, Dazai."

"Kalau itu salah Chuuya."

"Hh!" Chuuya terhentak. Kakinya berjengit ketika tiba-tiba Dazai memasuki analnya. Ia berpegang pada sisi cermin, tidak mengintrupsi gerakan Dazai yang tanpa pemanasan dan segera kasar. "Ah.. Dazai—"

Refleksi kedua manik mata Chuuya sangat menghipnotis.

Selain karena sensasi hangat dan sempit celahnya, Dazai tenggelam dalam laut godaan di sepasang manik yang walau hanya bayangan.

Suara Chuuya memantul dari kaca, ia menekuk punggung ketika Dazai kembali mengecup chokernya. Membaui sepanjang pundak yang masih tertutup piyama, lalu kembali pada leher. Debar Chuuya berpacu ketika gigi Dazai terasa di tengkuk, di bawah besi pengait yang tidak lagi dingin.

"Ahhnn..." Gigitan diberi, seakan Dazai benar-benar ingin melahap tengkuk yang manis itu hingga guratan melingkar bewarna merah tampak. Ia mengecup untuk menggoda rasa sakit dengan gelitik, Chuuya melenguh.

Satu tangan Dazai menjamah kepemilikan Chuuya, membuatnya menyesuaikan diri pada kondisi Dazai yang kritis di dalam sana. Kecupan terus diberi. Gigitan-gigitan kecil memancing pekik, namun tanpa ampun Dazai tidak berhenti.

"Dazai.." Chuuya menemani tangan Dazai, membantunya memijat karena begitu nikmat. "Ah, Dazai..."

Dazai keluar di dalam terlebih dahulu. Ia memang begitu lemah dibandingkan Chuuya yang indah ini. Hasratnya mudah terpancing dan gairahnya menguar kemana-mana sampai selalu menatap Chuuya sebagai mangsa. Namun tidak masalah, ia menyukainya. Ia menyukai gairah di antara mereka berdua yang dipancing olehnya.

Ketik Dazai menarik mundur, Chuuya ikut mencapai puncak. Membasahi tangan Dazai, berikut cermin di depan. Wajahnya terpantul sempurna di cermin, dan Dazai tidak bisa mengontrol ereksi untuk kembali melingkupi.

Chuuya terhentak, "Oi!" Ia menoleh, "Ini waktunya tidur!"

Dazai menggigit bibir sejenak. Ia berada dalam zona aman saat memulai ketika Chuuya juga ingin. Namun sekarang, ia tidak bisa. Kata-kata Chuuya mutlak karena Dazai tidak ingin pisah ranjang.

Namun ia tidak bisa berhenti sekarang.

"Aku ingin—" Kalimat Dazai terputus oleh tatapan memusuhi. Ia berusaha menyingkirkan hasrat yang menggebu lalu menekan miliknya yang masih keras.

Lenguh Chuuya disambung helaan napas, ia memutar tubuh lalu menatap wajah Dazai yang seperti anak anjing sebelum menurunkan pandangan pada kepemilikan pemuda itu yang masih tegang.

Dazai menutupinya dengan tangan, "Aku akan urus sendiri. Chuuya mau tidur?"

"Ya," bukannya naik ke tempat tidur, Chuuya malah menunduk. Bersimpuh dan berdiri dengan lututnya. Memancing raut heran dari si brunette ketika ia menarik tangan Dazai. "Kalau punya kekasih, kenapa kau harus mengurusnya sendiri?"

Ah, ketika Dazai sangat mencintainya, Chuuya tidak keberatan menyisir rambut lagi setelah ini.

Reflection

END