Warning:Jika membosankan berhentilah membaca agar kalian tidak merasa kecewa dengan chapter ini.
Disclaimer:Naruto dan High School DxD bukan punya saya, saya hanya meminjam/menggunakan karakter dari dua seri tersebut, keduanya milik pengarang masing-masing.
Naruto milikMasashi Kishimoto.
High School DxD milik Ichiei Ishibumi.
Chapter 19:Awal kekacauan
Jam 21:23 PM.
Setelah pertemuan kembali dengan Sasuke dan Kaguya setengah jam yang lalu, Naruto mengajak Sasuke dan Kaguya kerumahnya setelah terjadi sedikit reunian lama antara Naruto dan Sasuke, didalam perjalanan mereka menuju kerumah Naruto, Sasuke menceritakan pada Naruto apa yang dia ketahui terutama tentang kutukan klan Otsutsuki yang dikatakan Kaguya.
Saat ini mereka sudah sampai didepan rumah sederhana milik Naruto yang diberikan oleh kepala sekolah Kyoto Akademi sebelumnya, Naruto membuka kunci pintu rumahnya dan mengajak Sasuke dan Kaguya masuk.
"Aku tidak percaya masalah ini ternyata lebih serius dari apa yang aku pikirkan." ucap Naruto sambil melangkah memasuki rumahnya diikuti oleh Sasuke dan Kaguya dibelakangnya.
"Ya, kau benar, aku juga sempat berpikir bahwa itu tidaklah nyata." ucap Sasuke sambil mengikuti Naruto.
"Kalian duduklah dulu, akan aku buatkan minuman untuk kalian." ucap Naruto mempersilahkan sahabat dan mantan musuhnya itu duduk disofa ruang tamunya, Sasuke mengangguk kecil dan berjalan kearah sofa bersama Kaguya, sedangkan Naruto pergi kedapur untuk membuat minuman untuk mereka.
Sasuke duduk dan memperhatikan ruang tamu rumah Naruto, itu hanya sebuah ruangan persegi yang menghubungkan ruangan itu dengan kamar tidur, dapur dan belakang rumah yang terdapat kamar mandi disana.
Sasuke kemudian menoleh menatap kearah Kaguya yang duduk disofa di sebrang tempat dia duduk, Sasuke melihat wanita itu terlihat sedang memasang wajah yang sulit diartikan olehnya.
"Kaguya, ada apa?" tanya Sasuke dengan alis terangkat sebelah, Kaguya menggeleng pelan.
"Tidak apa-apa, Indra. Aku hanya sedikit mengingat masa lalu." ucap Kaguya dengan nada sedikit sedih.
"Apa itu tentang kedatanganmu ke bumi?" tanya Sasuke serius, apapun yang berhubungan dengan wanita itu pastilah sangat penting, bahkan kehidupan sehari-hari wanita itu perlu untuk diketahui untuk memahami keinginan wanita Otsutsuki pertama yang ada di bumi itu.
"Bukan, ini hanya ingatan tentang tempat asalku." ucap Kaguya sambil menggeleng saat berkata 'bukan' untuk menjawab pertanyaan Sasuke, Sasuke terdiam mendengar ucapan Kaguya sampai Naruto datang dari arah dapur sambil membawa nampan kayu yang terdapat teko dan tiga buah gelas kosong diatasnya.
"Maaf membuat kalian menunggu." ucap Naruto sambil meletakkan nampannya di meja didepan mereka dan menuangkan teh dari teko ke gelas kosong itu, lalu Naruto mempersilahkan keduanya untuk menikmati teh buatannya, yang entah enak atau tidak karena dia belum pernah membuat teh untuk orang lain selain dirinya sendiri.
Sasuke mengambil satu gelas yang sudah berisi teh itu dan meminumnya secara perlahan.
"Terlalu manis, Dobe." ucap Sasuke mengomentari teh buatan Naruto, Naruto yang mendengar ucapan Sasuke hanya bisa menggaruk kepalanya dengan sedikit gugup.
"Yah... ini adalah pertama kalinya aku membuat teh untuk orang lain, hehe." ucap Naruto menggaruk belakang kepalanya, lalu dia menoleh menatap Kaguya sambil mengingat ekspresi memprihatinkan diwajah wanita itu sebelumnya.
'Dia sudah melewati waktu yang sangat lama dalam keputusasaan, setidaknya aku harus bisa membantunya tersenyum sekali lagi.' batin Naruto prihatin, lalu Naruto mengalihkan pandangannya kearah Sasuke yang duduk disebelahnya karena diruang tamunya itu hanya ada dua sofa, satu yang dirinya dan Sasuke tempati dan satu lagi sofa yang Kaguya duduki saat ini yang bersebrangan dengan dirinya.
"Naruto," Naruto menatap Sasuke dengan wajah bingung saat sahabatnya itu memasang wajah serius.
"Ada sesuatu yang belum aku beritahu padamu tadi," ucap Sasuke serius sambil menatap Naruto, Naruto yang melihat wajah serius Sasuke juga ikut serius.
"Apa itu?"
"Perkataan Kaguya yang belum aku sampaikan padamu," Naruto diam mendengar ucapan Sasuke, dia memilih diam karena perkataan Sasuke itu sangat serius saat ini, terlebih lagi kutukan Otsutsuki yang dikatakan sahabatnya sebelumnya juga masih terasa ada yang kurang menurutnya.
"Klan Otsutsuki terpecah menjadi tiga, pertama disebut Inti, kedua Akar, dan ketiga Daun, ketiganya saling bermusuhan satu sama lain," ucap Sasuke menjeda ucapannya sambil mengamati reaksi sahabatnya itu. Naruto terdiam dengan wajah serius, Otsutsuki terpecah jadi tiga? Inti? Akar? dan Daun? apa maksudnya itu? entahlah, apapun itu dia merasakan firasat buruk saat mendengar informasi itu dari Sasuke.
"Dan ada yang menyusul Kaguya kesini dari ketiga kelompok pecahan klan Otsutsuki itu, dua diantaranya sudah ada disini." ucap Sasuke menyelesaikan ucapannya dan mengingat ketiga Otsutsuki tadi dan Otsutsuki yang belum pernah bertemu dengannya, yang dia rasakan chakranya tertinggal di kota ini kemarin malam, kenapa dia bisa tahu padahal dia belum pernah bertemu dengan mereka? itu karena chakra seorang Otsutsuki itu unik dan berbeda dengan chakra Shinobi biasa, sama seperti chakra milik Kaguya.
Naruto terdiam mendengar ucapan Sasuke, dia mengingat musuh misterius yang sampai sekarang belum pernah dia ketahui itu, musuh itu memiliki chakra dan tidak ada mahluk beraura manusia yang memiliki chakra saat ini kecuali dirinya, sahabatnya, dan Kaguya, sedangkan Zetsu dia tidak tahu Zetsu itu mahluk apa, yang dia tahu Zetsu itu adalah wujud dari keinginan Kaguya di masa lalu. Dengan sedikit informasi itu dia sudah dapat menebak bahwa musuh misterius itu adalah kelompok Otsutsuki yang menyusul Kaguya ke bumi.
"Lalu yang satunya?" tanya Naruto serius setelah terdiam cukup lama.
"Mereka..."
"Mereka juga sudah ada di bumi." Kaguya yang dari tadi diam mendengarkan akhirnya angkat bicara saat pembicaraan kedua reinkarnasi cucunya itu membahas kelompok Otsutsuki ketiga, Sasuke yang ucapannya dipotong oleh Kaguya menoleh menatap wanita leluhurnya itu begitu juga dengan Naruto yang menatap Kaguya dengan wajah serius.
"Jadi ketiganya sudah ada di bumi?" tanya Naruto serius, Sasuke menatap Kaguya dengan wajah serius lalu membuka suara untuk bertanya juga.
"Darimana kau tahu, Kaguya? aku belum merasakan chakra lain selain milik kelompok tadi dan kemarin itu." Kaguya menatap Sasuke dengan wajah serius lalu menjawab.
"Urashiki, dia mengatakannya padaku sebelum pergi." ucap Kaguya serius.
"Kalau begitu bumi dalam bahaya." ucap Naruto serius, Kaguya mengangguk membenarkan perkataan reinkarnasi Ashura, lalu dia melihat kearah Sasuke yang terdiam dengan wajah serius.
"Kita harus segera bertindak untuk mencegah bencana yang akan terjadi saat ketiga kelompok itu mulai bertarung," ucap Sasuke sambil mengingat kekuatan salah satu dari Otsutsuki yang dia lawan tadi, kekuatannya cukup kuat dan dia belum tahu kekuatan mereka yang sebenarnya seperti apa, terutama orang yang bernama Momoshiki itu, dia merasakan orang itu lebih kuat dari yang bernama Kinshiki.
"Dua hari lagi akan diadakan pertemuan antara tiga fraksi di Akademi di kota ini, aku diundang pada pertemuan itu," ucap Naruto sambil menatap Sasuke serius, Sasuke menatap Naruto dengan wajah serius juga.
"Aku ingin kalian ikut denganku ke pertemuan itu dan membahas masalah ini secara serius disana, mereka berencana untuk membentuk aliansi, itu adalah kesempatan kita untuk bergabung dengan mereka." ucap Naruto sambil menatap sahabat dan mantan musuhnya itu dengan wajah serius. Sasuke terdiam mendengar ucapan sahabat pirang nya itu, lalu dia menatap Kaguya yang hanya diam mendengarkan.
"Bagaimana menurutmu, Kaguya? apa kau bisa ikut? kau disini yang paling mengetahui tentang klan Otsutsuki, jadi informasi darimu akan sangat berpengaruh besar pada kelangsungan dunia ini." ucap Sasuke serius, Kaguya terdiam, sebenarnya tidak perlu ditanyakan lagi, dia sudah memutuskan untuk berada disisi para reinkarnasi cucunya itu untuk membantu mereka menghapuskan kutukan klannya, terlebih dia sudah terlalu mencintai bumi sejak awal dia memutuskan untuk menetap di planet biru ini, jadi tidak ada lagi yang perlu para reinkarnasi cucunya itu tanyakan karena jawabannya tentu saja...
Kaguya mengangguk untuk menjawab pertanyaan Sasuke, Naruto tersenyum kecil melihat itu, sepertinya sumber informasi yang paling dapat dipercaya telah berada dipihak mereka saat ini, informasi tentang klan Otsutsuki itu cukup sedikit dan hampir tidak ada di bumi, jadi keberadaan Kaguya dipihak mereka benar-benar seperti sebuah anugrah dari Tuhan untuk mereka, Naruto terdiam saat dia memikirkan itu, sebuah ingatan melintas dipikirannya.
'Seseorang pasti akan membantumu saat itu terjadi.' itu adalah kalimat yang Tuhan katakan padanya satu tahun yang lalu saat dirinya bertemu dengan Tuhan.
Naruto kembali tersenyum mengingat itu.
'Mereka kah yang akan membantuku, Tuhan?' batin Naruto sambil menatap Sasuke dan Kaguya yang saat ini sedang berbicara.
"Baiklah, Naruto. Aku dan Kaguya akan ikut denganmu dalam pertemuan tiga fraksi yang kau katakan itu." ucap Sasuke serius, Naruto tersenyum mendengar ucapan Sasuke.
"Yosh! untuk saat ini kita beristirahat dulu, Kaguya, kau bisa menggunakan kamarku untuk tidur, aku dan Sasuke akan tidur disini." ucap Naruto sambil menatap Kaguya dengan senyuman kecil diwajahnya, Kaguya menatap Naruto dalam diam, dia masih belum bisa menunjukkan senyuman yang berarti kepada kedua reinkarnasi cucunya itu, dia masih merasa sakit didadanya saat dia mengingat kedua anaknya yang telah menghianatinya, dan itu adalah karena kesalahannya sendiri yang sudah dibutakan oleh kekuatan dari buah pohon suci yang dia bawa dari tempat asalnya itu.
"Aku tidak perlu mengantarmu ke kamarku, karena kamarku hanya disana." ucap Naruto sambil menunjuk kearah pintu dibelakang Kaguya duduk.
"Memang terdengar kurang pantas sih seorang tamu disuruh langsung ke kamarnya tanpa diantar, tapi mau bagaimana lagi rumahku cuma rumah sederhana seperti ini, hehe." ucap Naruto sambil menggaruk belakang kepalanya merasa sedikit malu, jujur saja ini adalah pertama kalinya dia benar-benar membawa seorang tamu kerumahnya, Sara dan Ophis tidak dihitung karena mereka malah seperti penunggu rumahnya daripada seorang tamu saat kedua naga betina itu tinggal dirumah kecilnya ini.
Kaguya menarik bibirnya untuk tersenyum, dia berusaha untuk membiasakan diri dengan kehadiran reinkarnasi Ashura itu disekitarnya, bagaimanapun pemuda berambut pirang itu telah membuat dirinya merasakan kembali memiliki seorang anak seperti dulu, meski kenyataannya reinkarnasi cucunya itu tidak memiliki hubungan darah apapun dengannya.
"Terima kasih, Ashura." ucap Kaguya dengan senyum yang semakin mengembang diwajahnya yang masih terlihat cantik itu, meski umurnya tidak diketahui berapa sekarang ini, itu tidak penting karena Otsutsuki berdarah murni cenderung selalu muda penampilan fisiknya meski umurnya sudah beribu-ribu tahun lamanya.
Naruto tersenyum mendengar ucapan terima kasih dari wanita itu, jujur saja, ini seperti mimpi baginya, musuh yang dulu dirinya dan teman-temannya lawan kini menjadi sekutunya, mungkin itulah yang disebut dengan keajaiban.
"Kau tidak perlu berterima kasih padaku, Kaguya. Tapi... bisakah kau memanggilku Naruto? rasanya aneh mendengar nama orang lain digunakan untuk memanggilku." ucap Naruto sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Kalau tidak bisa ya... tidak masalah sih, aku tidak memaksamu." ucap Naruto, Kaguya terdiam mendengar permintaan reinkarnasi cucunya itu, lalu...
"Baiklah, Ashura. Mulai sekarang aku akan memanggilmu, Naruto." ucap Kaguya dengan nada sedikit ragu, Naruto yang mendengar itu tersenyum.
"Tidak perlu memaksakan diri, kalau namaku terasa kurang nyaman untukmu, kau bisa panggil aku seperti sebelumnya." ucap Naruto sambil memperhatikan ekspresi wajah Kaguya yang terkesan kurang nyaman saat menyebut namanya.
Sasuke yang dari tadi diam mendengarkan akhirnya angkat bicara.
"Sudahlah Naruto, jangan dipermasalahkan tentang panggilan Kaguya kepada kita, kita perlu menyusun rencana untuk kedepannya untuk mencegah bencana yang akan terjadi di bumi." ucap Sasuke serius, Naruto mengalihkan pandangannya kearah Sasuke dan dia kembali memasang wajah serius.
"Malam ini dan besok kita gunakan untuk menyusun rencana pencegahan terhadap bencana yang akan ditimbulkan oleh ketiga kelompok Otsutsuki itu pada bumi, setelah itu kita diskusikan dengan ketiga fraksi yang kau katakan itu disaat pertemuan itu berlangsung." ucap Sasuke serius sambil menatap Naruto.
"Kau benar, Sasuke. Kita memang perlu menyusun rencana pencegahan dengan hati-hati, salah sedikit bisa berakibat fatal pada kehidupan di bumi." ucap Naruto serius.
Dengan itu, malam itu mereka lalui dengan mendiskusikan rencana mereka untuk mencegah bencana yang akan ditimbulkan oleh para Otsutsuki itu kedepannya.
Skip
Dua hari kemudian.
Taman.
Terlihat Vali bersama Timnya sedang berkumpul dibawah sebuah pohon dipinggiran taman sebuah kota, terlihat Vali menatap mereka dengan ekspresi serius diwajahnya.
Semua anggota Timnya terdiam melihat wajah serius ketua mereka saat ini.
"Vali, ada apa Nya?" tanya Kuroka dengan wajah bingung sambil menatap Vali yang menunjukkan ekspresi serius.
Vali menatap kearah Kuroka lalu dia mendongak menatap langit.
"Loki bersekutu dengan seseorang, kalian beritahu Ophis tentang itu," ucap Vali serius, dia kembali menatap kearah Kuroka.
"Loki? memangnya dia bersekutu dengan siapa, Vali?" tanya Bikou penasaran, Vali mengalihkan pandangannya kearah Bikou.
"Entahlah, aku hanya melihatnya sekilas semalam," balas Vali, Arthur terlihat menatap kearah Vali dengan wajah seriusnya lalu dia mulai berbicara.
"Sepertinya dia orang yang kuat, Loki-sama tidak mungkin bersekutu dengan orang yang lebih lemah darinya." ucap Arthur, dia terlihat menggerakkan tangannya kearah kacamata yang dia kenakan dan memperbaiki posisinya.
Vali melihat kearah Arthur, lalu kearah adik perempuannya Arthur.
"Arthur, kau dan adikmu bisakah ikut denganku kesuatu tempat?" tanya Vali, Arthur terdiam sesaat lalu dia menatap kearah adiknya yang tengah berdiri disampingnya.
"Tentu saja, Vali-sama, aku dan Nii-sama akan ikut kemana pun kau pergi!" Arthur yang keduluan oleh adiknya hanya bisa menghela nafas pasrah, terkadang dia lupa bahwa adik perempuannya itu selalu bersemangat kalau disuruh ikut Vali kemanapun Vali pergi.
"Hah~ Le Fay, jangan berbicara yang macam-macam," ucap Arthur dengan helaan nafas pasrah.
"Tenang saja Arthur, aku akan menjamin keselamatan Le Fay, aku membutuhkan dia untuk menguraikan sebuah lingkaran sihir ditempat yang akan kita datangi." ucap Vali, Arthur memejamkan matanya sebentar lalu dia terlihat akan membalas perkataan Vali tapi sebelum dia menjawabnya adiknya sudah lebih dulu berbicara.
"Tenang saja Vali-sama, aku pasti tidak akan merepotkanmu." dengan nada ceria Le Fay membalas ucapan ketua Timnya itu, dia bahkan tidak memperdulikan kakaknya yang menundukkan kepalanya.
"Le... Fay..." panggil Arthur dengan nada horor, Le Fay menoleh kearah kakaknya itu dengan gerakan patah-patah seperti robot yang sudah mau rusak.
"Hiii! Nii-sama jangan memasang wajah menakutkan seperti itu, Le Fay takut!" teriak Le Fay sambil berlari dan bersembunyi dibelakang punggung Vali.
"Vali-sama, lindungi Le Fay dari amukan Nii-sama!" ucap Le Fay memohon pada Vali sambil mengintip kearah kakaknya dari balik tubuh Vali.
Vali hanya menghela nafas melihat itu, terkadang dia juga lupa bahwa kedua keturunan Raja Arthur Pendragon itu suka bertingkah seperti itu, meski itu disaat hanya ada anggota Tim mereka saja dan akan bersikap beda lagi jika ada orang lain disekitar mereka.
"Arthur sudahlah, Le Fay biar aku yang jaga lebih baik kita pergi," Vali menoleh kearah Kuroka dan Bikou.
"Kalian berdua kembali ke markas dan beritahu Ophis tentang Loki." Vali kembali menoleh kearah Arthur yang sudah kembali seperti sebelumnya.
"Arthur, sebelum kita pergi ke tempat tujuan, aku ingin kita menemui seseorang," Arthur mengangguk mendengar ucapan ketua Timnya.
"Kalau begitu kami akan kembali ke markas, Ayo Kuroka." Kuroka hanya terdiam mendengar ucapan Bikou, lalu dia melihat kearah Vali.
"Vali, tentang yang kau katakan kemarin... akan aku ceritakan setelah aku bisa mengambil kembali Shirone dari mereka." ucap Kuroka sambil berjalan kedekat Bikou, lalu dibawah kaki mereka muncul lingkaran sihir berwarna ungu dan menelan mereka berdua menghilang dari sana.
Vali melihat lokasi kedua anggotanya itu menghilang dengan lingkaran sihir, lalu dia kembali menatap Arthur.
"Ayo pergi." setelah mengatakan itu, dibawah kaki Vali muncul lingkaran sihir biru dan Arthur berjalan mendekati Vali, dengan itu mereka bertiga juga ikut menghilang dari sana tanpa ada yang menyadari meski hari sudah siang dan banyak orang ditaman itu.
Skip
Trang!
Dhuaaar!
Di atas beberapa gedung tinggi di sebuah kota, terlihat beberapa orang tengah bertarung satu sama lain, bunyi benturan benda tajam dan ledakan terdengar dari atas gedung tersebut, dari lokasi ledakan di salah satu gedung itu, kini puing-puing bangunan berjatuhan ke bawah, lebih tepatnya kearah jalan yang dimana dijalan itu terdapat banyak mobil atau pun pejalan kaki yang lewat, salah satu puing yang jatuh itu menghantam bangunan rumah ataupun toko-toko dipinggir jalan yang dekat dengan gedung itu, semua orang panik dan berlarian kesana kemari, kendaraan macet saat sebuah puing jatuh tepat ditengah jalan, suara klakson kendaraan bermotor terus berbunyi dari belakang barisan kendaraan itu, suara teriakan juga ikut terdengar dari sang pengendara.
Kembali keatas gedung, di salah satu gedung yang terdapat seseorang yang sedang bertarung itu kini tertutupi oleh debu tebal hasil dari ledakan tadi, setelah debu menghilang, terlihat dua orang bertanduk sedang menatap satu sama lain dengan tatapan tajam, salah satu dari mereka memiliki mata Byakugan dan yang satunya memiliki mata Rinnegan merah, mereka terdiam dengan postur tubuh yang sangat waspada satu sama lain, aura merah menguar dari orang yang memiliki mata Rinnegan merah, sedangkan orang yang memiliki mata Byakugan menatap orang itu dengan mata Byakugannya yang aktif.
"Hahaha... Tidak aku sangka, kalian juga ada disini, Kuroshiki." orang yang memiliki mata Byakugan itu tertawa lalu berbicara dengan nada suara yang terdengar mengejek.
"Dari semua yang mengejar Kaguya-hime, kenapa harus kau yang aku lihat... Jigen?" ucap Kuroshiki dengan nada dingin, orang yang dipanggil Jigen tersebut terlihat menyeringai saat mendengar ucapan Kuroshiki.
"Mungkin sudah takdirmu untuk mati ditanganku, Kuroshiki." ucap Jigen, lalu Jigen menghilang dan muncul dihadapan Kuroshiki sambil menyiapkan tinju berlapis chakra berwarna ungu gelap.
"Ini hanya salam permulaan saja, berikutnya kita akan bertemu di medan perang saat Isshiki-sama sudah mendapatkan kekuatan dari pohon suci terakhir."
Kuroshiki melebarkan matanya saat sebuah pukulan kuat bersarang di perutnya dengan telak.
"Gaahkk!"
Syuut!
Blaar!
Syuut!
Brak!
Syuut!
Duuaar!
Kuroshiki terlempar kearah gedung lain dan menembus gedung tersebut, saat tubuh Kuroshiki menghantam gedung ketiga tubuhnya berhenti dan membuat lubang besar digedung itu.
"Heh, kalian anggota Akar tidak akan pernah bisa mengalahkan kami, tidak akan ada yang dapat menghentikan Isshiki-sama untuk menguasai dunia ini, hehehe haha!" Jigen tertawa melihat lawannya terlempar menembus gedung-gedung didepannya, lalu Jigen menghentikan tawanya dan menoleh kearah lain, dimana disana dia melihat anggotanya yang lain sedang melawan rekan Kuroshiki.
"Kawaki, kita pergi sebelum Shishiki menyadari kehadiran kita." ucap Jigen memanggil rekannya yang jauh lebih muda darinya.
Kawaki yang dipanggil melompat mundur untuk menghindari serangan lawannya.
"Sampai bertemu lagi, Senpai." setelah mengatakan itu pada lawannya, Kawaki melompat ke gedung dimana Jigen berada dan mereka pergi dengan melewati portal yang terbuka didepan mereka.
"Sialan kau, Isshiki!" rekan Kuroshiki yang tidak lain adalah Ginshiki itu berteriak keras dengan nada yang penuh kekesalan dan kebencian, saat Ginshiki berteriak Kuroshiki datang menghampirinya.
"Ughh, pukulannya sangat kuat, uh..." Ginshiki menoleh kearah Kuroshiki yang sedang meringis menahan sakit di perutnya akibat pukulan berlapis chakra dari Jigen tadi.
"Kakak!" panggil Ginshiki khawatir sambil menghampiri Kuroshiki dan membantu Kuroshiki menahan tubuhnya.
"Ginshiki, kita membutuhkan kekuatan yang lebih besar lagi, mereka sepertinya telah menambah kekuatan mereka dengan sesuatu ketika mereka juga ikut mengejar Kaguya-hime." kata Kuroshiki dengan wajah yang masih menahan rasa sakit. Ginshiki terdiam sampai seseorang datang dari ruang yang terbuka, mereka menoleh saat mereka merasakan kedatangan orang itu.
"Master." panggil Ginshiki dan Kuroshiki bersamaan meski Kuroshiki terlihat masih menahan rasa sakit di perutnya.
"Cih, sepertinya mereka dan dia sudah mendapatkan tambahan kekuatan, Kuroshiki, Ginshiki, kita pergi dan memburu para kadal itu dan jadikan mereka sumber kekuatan kita." sang Master terlihat menunjukkan wajah kesal saat melihat keadaan kedua rekannya itu yang cukup buruk meski yang terluka hanya Kuroshiki saja tapi tidak dapat dipungkiri bahwa mereka telah tertinggal dibawah kekuatan lawan mereka saat ini.
Mendengar ucapan sang Master, Kuroshiki dan Ginshiki mengangguk.
"Ha'i, Master." dengan itu mereka pergi meninggalkan atap gedung tersebut. Setelah kepergian mereka, beberapa helikopter datang dari arah selatan dan mengamati apa yang terjadi di atas gedung tersebut, meski mereka tidak menemukan apapun selain dari kehancuran yang terjadi diatas gedung tersebut.
Skip
Celah Dimensi.
Blaaarr!
"Grooaaar!"
Celah dimensi, suatu ruang hampa tiada batas, kini tempat itu dipenuhi oleh monster aneh yang mengepung seekor naga merah besar, bola-bola hitam terus terlontar dari mulut ratusan monster yang mengepung naga merah tersebut, sang naga terbang tinggi yang entah setinggi apa karena tempat itu tidak memiliki yang namanya batas.
Cahaya merah menyelimuti tubuh naga merah tersebut dan membuat tubuh naga itu berubah ke wujud manusia, dengan penampilan seorang gadis berambut merah berpakaian seperti seorang putri dari suatu negeri dengan sepasang sayap naga merah besar di punggungnya, mata kuning dengan pupil hitam vertikal milik perubahan wujud dari naga merah tadi menatap ke bawah dengan tatapan serius. Dia perlahan membuat suatu objek bulat berwarna merah ditangan kanannya.
"Kenapa monster itu datang lagi?" wujud manusia dari naga merah tadi yang tidak lain adalah Sara bergumam dengan wajah seriusnya sambil menarik tangan kanannya kebelakang dan melemparkan bola merah ditangannya itu kearah kumpulan monster-monster aneh di bawahnya.
"Aku harus menemui Naruto dan memberitahu ini padanya, tapi sebelum itu aku harus membasmi mereka dulu."
Blaaarr!
Bola merah yang Sara lempar menabrak salah satu monster dan meledak, membuat monster-monster yang berdekatan dengan monster yang terkena serangan itu terkena efek ledakan dan gelombang kejut dari serangan itu membuat begitu banyaknya monster terpental.
Sara kemudian melesat kebawah dengan sayap naganya sambil menyiapkan serangan selanjutnya.
'Perasaanku tidak enak saat ini, berhati-hatilah, Naruto.' batin Sara sambil mengarahkan sebuah bola merah yang dia buat ke seekor monster.
Blaaarr!
Skip
Jam 13:45 PM.
Vali, Arthur, dan Le Fay muncul di dekat kota yang porak-poranda seperti terkena terjangan badai yang sangat besar, mereka terdiam dilokasi dimana mereka muncul yaitu diatas sebuah tiang yang menjadi kekuatan sebuah jembatan untuk berdiri yang menghubungkan dua kota yang sama-sama hancur, asap tebal membumbung tinggi dari kedua kota yang terhubung melalui jembatan tersebut. Vali mengaktifkan Sacred Gear miliknya dan terbang tinggi mencapai awan untuk melihat lebih jelas apa penyebab hancurnya kedua kota tersebut. Setelah Vali berada diatas, dia hanya dapat terdiam syok saat melihat ternyata yang hancur bukan hanya dua kota yang terhubung melalui jembatan tempat dimana dia muncul. Vali dapat melihat sejauh matanya dapat memandang yang dia lihat hanyalah asap hitam tebal dimana-mana, meskipun tempat dimana dia datang itu berada di sebuah negara kecil namun bukan berarti benua yang sudah menjadi negara tersebut dapat disebut kecil dalam segi ukuran yang sebenarnya.
"Apa yang terjadi di negara ini?" gumam Vali bertanya-tanya.
"Entahlah. Vali, sepertinya ada yang bertarung disebelah sana."ucap Albion, meski Vali tidak melihat kemana arah yang ditunjuk Albion, sebagai pemilik dari Sacred Gear Divine Dividing dimana Albion tersegel dia dapat merasakan partnernya itu menunjuk kearah barat, karena dia sendiri cukup dapat merasakan sebuah tekanan energi asing yang terasa mirip dengan milik seseorang yang dia kenal.
"Disana kah?" gumam Vali melihat ke sisi barat, Vali kemudian melihat kebawah kearah kakak beradik Pendragon disana, dia terbang menghampiri kedua Pendragon tersebut.
"Vali-sama, apa yang terjadi ditempat itu?" tanya Le Fay sambil menunjuk kearah salah satu kota yang hancur itu.
"Le Fay, lihatlah lingkaran sihir disana," Vali menunjuk kearah atas tiang dimana mereka berada.
"Uraikan lingkaran sihir itu, Arthur kau jaga Le Fay aku ingin memeriksa sesuatu dulu." ucap Vali mengabaikan pertanyaan Le Fay padanya, setelah Vali mengatakan itu dia memasuki mode Balance Breaker dan terbang kearah dimana Albion merasakan keberadaan seseorang yang sedang bertarung.
"Mou... Vali-sama jangan pergi tanpa menjawab pertanyaan Le Fay!" ucap Le Fay cemberut. Arthur menghela nafas melihat tingkah adiknya itu.
"Le Fay, lakukan saja perintah Vali dan jangan memasang wajah cemberut seperti itu, kau membuat Nii-sama ingin mencubit pipimu." kata Arthur sambil menatap wajah cemberut adiknya yang terlihat sangat imut dan membuat dia ingin mencubit pipi adiknya itu.
"Mou Nii-sama, jangan cubit pipi Le Fay, itu sakit!" ucap Le Fay menutupi kedua pipinya agar tidak dicubit oleh kakaknya. Arthur yang melihat itu malah semakin gemas dengan adiknya itu.
'Arthur sadar, dia adikmu!' Arthur berteriak dalam hatinya saat melihat adiknya malah bertingkah makin imut dengan wajah cemberut dan kedua tangan yang berusaha menutupi kedua pipinya itu... uh...
'Stop!'
Mari tinggalkan Arthur yang berusaha menahan serangan mental dari adiknya itu, sekarang kita beralih ke sisi Vali berada.
Kini terlihat Vali melayang diantara awan putih diatas sebuah kota yang hampir musnah sepenuhnya, disana Vali dapat melihat seseorang yang dia kenal dan sangat dia benci sedang bertarung bersama seseorang bertanduk melawan seseorang yang juga memiliki tanduk, Vali saat ini benar-benar ingin sekali melesat turun kebawah untuk membunuh orang yang dia benci itu, namun dia sadar dalam situasi seperti itu dimana kekuatan dari orang-orang bertanduk itu terlihat sangat besar dan kuat dia tidak akan dapat berbuat banyak, dia hanya akan mati jika dia datang kesana saat ini.
"Apa itu?" gumam Vali saat dia melihat salah satu dari tiga orang yang memiliki tanduk itu menciptakan sebuah bola hitam raksasa diatas kepalanya, bola itu dilemparkan kearah orang bertanduk yang sedang bersama orang yang dia benci itu yang tidak lain adalah Rizevim, kakeknya sendiri. Saat bola hitam raksasa itu hampir mengenai orang bertanduk didekat kakeknya bola itu terhisap kedalam tangan kanan orang bertanduk itu.
"Dia menyerapnya?" ucap Vali terkejut saat melihat bola hitam raksasa yang ukurannya lebih besar dari sebuah gunung itu terhisap dengan begitu mudah dan cepatnya kedalam tangan kanan orang bertanduk itu.
"Pendengaran iblisku tidak mampu mencapai tempat itu." ucap Vali sedikit kesal, sebenarnya dia ingin mendekat dan menguping pembicaraan orang-orang itu tapi jika dia turun dia pasti akan ketahuan oleh mereka dan itu cukup berbahaya untuknya.
"Lebih baik aku kembali dan segera pergi dari sini setelah Le Fay selesai menguraikan lingkaran sihir kuno milik Lucifer itu." ucap Vali sambil memandang kearah kakeknya dengan wajah penuh kebencian dari balik helm zirah nya. Setelah terdiam selama beberapa saat akhirnya Vali terbang menjauhi kota dimana kakeknya itu sedang bertarung.
'Mungkin aku harus memperingati Naruto dan Ophis setelah ini.' batin Vali melesat dengan cepat kembali ke jembatan tadi dimana dia muncul pertama kali.
Skip
Jam 18:56 PM.
Konferensi Tingkat Tinggi! Dimulai!
Akademi Kuoh, sebuah sekolah elit yang terletak dikota Kuoh didunia manusia saat ini diselimuti oleh sebuah penghalang, itu karena di Akademi tersebut saat ini sedang berlangsung sebuah pertemuan penting antara para pemimpin dari ketiga fraksi akhirat untuk menentukan masa depan dunia. Di salah satu ruang kelas yang sudah disiapkan oleh kelompok Sona Sitri untuk tempat pertemuan penting tersebut kini sudah duduk para pemimpin dari masing-masing fraksi. Sirzechs Lucifer dan Serafall Leviathan adalah pemimpin dari fraksi iblis, Azazel dan Baraqiel adalah pemimpin dari fraksi malaikat jatuh, dan yang terakhir adalah Michael dan Gabriel pemimpin dari fraksi malaikat. Saat ini mereka sedang duduk seperti menunggu seseorang karena terdapat dua kursi lagi yang masih kosong, meja yang digunakan oleh mereka bukanlah meja bundar melainkan meja persegi yang dimana ditiap sisinya terdapat dua kursi, untuk pemimpin dan wakilnya yang dipilih oleh pemimpin tertinggi dari fraksi masing-masing.
Para pemimpin dari ketiga fraksi tersebut tidak hanya membawa wakilnya saja tapi mereka juga membawa pengawal pilihan mereka. Fraksi iblis dikawal oleh Grayfia Lucifuge dan kelompok iblis muda yang terlibat dalam tragedi penyerangan Kokabiel sebelumnya, mereka adalah kelompok iblis Sona dan Rias, mereka juga akan memberikan laporan atas kejadian pada malam tragedi tersebut. Fraksi malaikat jatuh dikawal oleh Vali sang Hakuryuukou yang juga terlibat dalam tragedi penyerangan itu. Fraksi malaikat dikawal oleh Shidou Irina yang juga sempat bentrok dengan pengikut Kokabiel, Irina sekarang bukan lagi manusia dia sekarang adalah seorang malaikat hasil reinkarnasi menggunakan sistem Brave Saint yang mirip dengan sistem Evil Pieces milik fraksi iblis. Bukan hanya mereka saja yang hadir di Akademi Kuoh tersebut, banyak diluar gedung tempat pertemuan itu berlangsung para prajurit dari ketiga fraksi yang ditugaskan untuk mengamankan kelangsungan pertemuan penting tersebut.
Sona dan Rias maju dari barisan kelompok iblis mereka, mereka terlihat membawa kertas yang berisi detail tentang kejadian penyerangan Kokabiel saat itu. Sona terlihat menarik nafas, dia jelas sekali sedang gugup saat ini, dihadapkan dengan situasi seperti itu membuat sisi tenangnya seakan terbang tertiup angin entah kemana.
"Sebelumnya, Saya Sona Sitri selaku salah satu saksi dari kejadian penyerangan itu akan memberikan visualisasi tentang kejadian pertarungan pada malam itu," meskipun sedang gugup, Sona terlihat mampu untuk menyembunyikan rasa gugupnya itu saat ini, dia kembali menarik dan menghembuskan nafasnya berusaha untuk tetap tenang.
"Ini adalah visualisasi pertarungan malam itu, mulai dari pertama hingga yang terakhir dimana Kokabiel berhasil dikalahkan." Sona merentangkan salah satu tangannya kearah dinding dan menggunakan sihir untuk memvisualisasikan ingatannya ke layar hologram sihir yang dia buat. Setelah tayangan kejadian penyerangan itu selesai ditayangkan oleh Sona, Rias yang dari tadi diam mulai angkat bicara.
"Saya Rias Gremory membenarkan informasi yang ditampilkan oleh sahabat saya Sona, sebagai salah satu saksi dan yang terlibat dalam pertarungan pada malam itu saya menyatakan bahwa informasi ini 100% akurat." ucap Rias dengan wajah serius dan tegas.
"Sekian laporan dari kami tentang kejadian penyerangan Kokabiel ke Akademi Kuoh." ucap Sona dan Rias bersamaan, lalu mereka mengambil langkah mundur setelah membungkuk untuk memberikan hormat kepada para pemimpin dari ketiga fraksi yang mendengar dan mengamati rekaman ringkas kejadian pada malam penyerangan Kokabiel ke Akademi Kuoh.
Sirzechs sebagai pemimpin tertinggi fraksi iblis menoleh menatap kearah Azazel yang merupakan pemimpin tertinggi dari fraksi malaikat jatuh.
"Sebagai pemimpin dari pihak yang memulai, apa Anda tidak ingin mengatakan pembelaan, Azazel-dono?" tanya Sirzechs serius, tentunya karena saat ini adalah pertemuan penting dia menggunakan bahasa formal untuk berbicara dengan pemimpin dari fraksi lain.
"Yah itu memang kesalahanku sebagai pemimpin membiarkan Kokabiel bertindak bebas, tapi itu adalah murni keinginan Kokabiel sendiri yang ingin memulai kembali Great War kedua." ucap Azazel santai.
"Itu artinya dia tidak puas dengan kepemimpinan Anda Azazel-dono?" ucap Michael menatap kearah Azazel. Azazel hanya mengangkat bahu tidak perduli.
"Yah, mari kita kesampingkan masalah itu dulu, kalian ingin membentuk aliansi bukan?" ucap Azazel menyeringai. Mendengar ucapan Azazel semuanya terdiam, kecuali Issei yang tampak kesal pada Azazel entah karena apa.
"Oh ya, dia juga belum datang, mari tunggu dia terlebih dahulu dan baru kita bahas masalah yang lebih serius lagi dari ini." ucap Azazel saat melihat dua kursi masih kosong sejak tadi. Semua melihat kearah dua kursi yang masih kosong tersebut dengan wajah bingung kecuali beberapa yang tahu tempat duduk untuk siapa itu, tapi mereka juga sedikit bingung kenapa ada dua kursi?
"Jadi siapa yang kita tunggu, Azazel-dono?" tanya Michael, dia juga mengingat pesan rahasia yang disisipkan Azazel di surat pertama. Azazel menyeringai misterius.
"Seseorang yang memberi kita informasi itu, Michael." ucap Azazel, dia tampaknya tidak menggunakan bahasa formal dan malah bahasa seperti biasanya yang dia gunakan meski saat ini sedang dalam pertemuan penting.
Tok! Tok! Tok!
Terdengar suara ketukan di pintu masuk ruang pertemuan itu dan dari pintu itu masuk tiga sosok, dua diantaranya adalah laki-laki dan satunya wanita, semua yang ada didalam ruangan itu terdiam dengan rasa penasaran dan juga terkejut.
"Maaf kami terlambat." ucap seseorang yang memiliki rambut pirang yang berdiri ditengah dan paling depan diantara dua yang lainnya, dia tidak lain adalah Uzumaki Naruto yang diundang ke pertemuan penting tersebut.
Naruto berjalan kearah kursi yang masih kosong diikuti oleh kedua rekannya yang merupakan sahabat dan mantan musuhnya dulu.
"Tidak, kami baru akan memulainya, yang tadi hanya membahas kejadian malam itu." ucap Azazel sambil menatap kearah satu-satunya wanita yang berada dalam rombongan Naruto.
'Cantik, dia baru wanita dewasa tipeku, muehehe.' batin Azazel tanpa sadar menunjukkan senyum mesumnya.
"Dia tidak akan tertarik denganmu, Azazel." Naruto yang menyadari senyum mesum Azazel hanya berucap dengan nada datar, sungguh dia ingin memberi hadiah Rasengan ke wajah mesum Azazel saat ini entah kenapa dia jadi kesal saat malaikat jatuh mesum dan hobi memancing tersebut menatap Kaguya seperti itu, rasanya dia seperti melihat Ero-sennin yang ingin mengintip ibunya meski dia belum pernah hidup bersama orang tuanya, yah setidaknya dia punya kenangan bersama orang tuannya di dimensi buatan Obito dulu.
Azazel menatap Naruto dengan alis terangkat heran.
"Kalau belum dicoba mana tahu, siapa tahu dia mau denganku hehehe." ucap Azazel dengan tawa aneh.
"Azazel-dono, saat ini kita sedang dalam rapat penting sebaiknya Anda bersikap serius saat ini." ucap seorang gadis cantik berambut pirang pucat dia duduk dikursi disamping Michael. Naruto menatap gadis tersebut dan dia sedikit melebarkan matanya saat melihat siapa gadis itu.
"Yo, Gabriel-chan, sepertinya kita bertemu lagi." ucap Naruto sambil tersenyum kearah gadis malaikat tersebut. Gabriel yang mendengar itu dari orang yang baru datang dan duduk dikursi yang bersebrangan dengannya terdiam dengan wajah bingung, dia memiringkan kepalanya sambil menatap Naruto, cukup lama dia menatap Naruto sampai akhirnya dia melebarkan matanya saat mengingat siapa sosok yang baru saja menyapanya tersebut.
"Na-Naruto-san?" ucap Gabriel terkejut. Naruto tersenyum melihat reaksi gadis tersebut.
"Kalian saling kenal?" tanya Azazel heran, dia belum pernah melihat malaikat tercantik surga itu turun ke dunia manusia, jadi kapan pemuda pirang itu bertemu dengan malaikat tercantik milik surga itu?
"Yah, dulu aku bertemu dengannya saat dia sedang mengobati luka seorang anak kecil." ucap Naruto sambil sedikit mengingat pertemuannya dengan Gabriel.
"Jadi, pemuda ini yang kau katakan padaku waktu itu, Gabriel?" tanya Michael meminta penjelasan. Gabriel mengangguk mendengar pertanyaan kakaknya itu.
"Ha'i Onii-sama, Naruto-san lah pemuda manusia itu." ucap Gabriel.
Semua terdiam setelah itu, mereka menatap kearah Naruto dengan wajah penasaran. Naruto yang melihat itu menghela nafas.
"Mari lupakan itu, aku ada berita buruk untuk kita semua saat ini." ucap Naruto serius. Mendengar nada serius dari pemuda pirang bernama Naruto tersebut membuat semua memasang wajah serius juga, inilah alasan mereka melakukan pertemuan penting tersebut, untuk membentuk aliansi dan membahas masalah besar yang sedang terjadi didunia ini tanpa banyak yang mereka ketahui dan pemuda pirang itu memiliki informasi mengenai masalah tersebut.
Kaguya yang berdiri bersama Sasuke berjalan kearah kursi dan duduk disana saat Naruto menyuruhnya duduk.
"Wanita ini adalah Otsutsuki Kaguya, dia memiliki informasi tentang masalah yang akan kita hadapi di masa depan nanti." ucap Naruto memperkenalkan Kaguya kepada mereka semua.
"Otsutsuki?" ucap Sirzechs terkejut, dia memang belum pernah mendengar informasi detail mengenai klan tersebut, tapi dia paham bahwa klan tersebut adalah klan kuno yang berasal dari masa kuno dunia ini yang tidak tercatat secara jelas kebenarannya.
"Ya, dia adalah seorang Otsutsuki, lebih tepatnya dia adalah putri penguasa klan tersebut yang datang ke bumi beberapa ribu tahun yang lalu." ucap Naruto sedikit menjelaskan.
"Dia juga memiliki informasi mengenai musuh yang akan membawa kekacauan pada dunia ini." ucap Naruto serius. Semua terdiam mendengar itu.
"Bagaimana manusia bisa hidup selama itu?" pertanyaan itu datang dari seorang gadis berambut hitam bermata violet yang duduk disebelah Sirzechs, Serafall itulah namanya.
"Dia bukan manusia bumi, dia bilang, dia berasal dari tempat yang sangat jauh dari bumi, dia ke bumi untuk mencari perdamaian tapi..." Naruto menjeda ucapannya dan menatap kearah Sasuke, Sasuke yang melihat itu mengangguk mengerti arti tatapan dari sahabatnya tersebut.
"Tapi?" beo Serafall bingung, yang lain hanya diam menunggu kelanjutan dari perkataan pemuda tersebut.
"Sebuah tragedi telah terjadi pada masa itu dan membuat dia," menunjukkan Kaguya dengan ibu jarinya.
"Kaguya memakan buah dari sebuah pohon suci dan mendapatkan kekuatan bernama chakra yang sangat besar, bahkan lebih besar dari Great Red sekalipun, kekuatannya pada masa itu tidak terhingga." ucap Naruto serius sambil menatap satu persatu wajah para pemimpin fraksi tersebut.
"Dan karena kekuatannya itu, Kaguya menjadi haus akan kekuasaan, yang awalnya menginginkan perdamaian berubah menjadi ingin menguasai semuanya dibawah perintahnya." ucap Naruto, dia mengalihkan pandangannya kearah Kaguya yang hanya diam, semua mahluk yang ada disana terdiam sambil menatap Kaguya dengan ekspresi terkejut, namun mereka tetap diam.
"Kaguya, kau bisa sampaikan apa yang ingin kau katakan pada mereka." ucap Naruto menatap wanita Otsutsuki tersebut dengan ekspresi serius. Kaguya mengangguk mendengar ucapan Naruto.
"Baiklah, Ashura," Kaguya kemudian menatap para pemimpin dari tiap fraksi dengan wajah serius.
"Otsutsuki akan menghancurkan dunia ini jika tidak dicegah, aku ingin kalian menghentikan mereka bagaimana pun caranya." ucap Kaguya serius. Semua yang mendengar itu terdiam.
"Maaf sebelumnya, Kaguya-hime. Apa maksud Anda mengatakan klan Anda ingin menghancurkan dunia ini?" tanya Sirzechs tidak mengerti akan ucapan Kaguya.
"Saat ini, klan Otsutsuki terpecah menjadi tiga kelompok, masing-masing dari mereka menginginkan kekuatan dan kekuasaan untuk mendominasi segalanya." ucap Kaguya menjelaskan.
"Mendominasi segalanya? itu terdengar seperti sesuatu yang mustahil, tapi mengingat Anda sendiri di katakan datang dari tempat yang sangat jauh dari bumi, sepertinya itu cukup dapat dipercaya." ucap Sirzechs, menurutnya apa yang dikatakan oleh wanita Otsutsuki tersebut tidak dapat dipercaya, tapi dia percaya pada pemuda pirang itu yang memang sudah memberikan bukti meski masih belum cukup jelas mengingat pemuda itu masih misterius baginya, dia berharap di pertemuan ini pemuda itu mengungkapkan siapa dirinya yang sebenarnya.
"Bukan cukup dapat dipercaya, tapi itu adalah kebenarannya, Sirzechs." ucap Naruto serius. Naruto menoleh menatap kearah Sasuke. Sasuke mengangguk mengerti.
"Aku pernah bertemu dan berseteru dengan salah satu kelompok pecahan Otsutsuki itu, dan dari apa yang aku ketahui dari pertarungan dengan mereka, mereka cukup kuat meski mereka tidak sedang serius bertarung." ucap Sasuke memberi informasi pengamatannya tentang kemampuan lawannya. Semua terdiam dengan wajah serius sambil menatap Sasuke.
"Dia Uchiha Sasuke, dia adalah Rival sekaligus sahabatku." ucap Naruto memperkenalkan Sasuke pada semua mahluk supranatural disana.
"Uchiha?" ucap Serafall bingung, sepertinya dia pernah mendengar nama itu.
"Itu sama seperti Otsutsuki dan Uzumaki, Serafall." ucap Sirzechs menatap rekannya sesama Raja iblis tersebut.
"Itu adalah nama yang muncul di mimpimu itu, yang kau katakan diberitahu oleh seorang pemuda berambut pirang, bermata biru dan memiliki tiga pasang garis tipis di pipinya mirip kumis kucing." ucap Sirzechs sambil menoleh menatap Naruto saat mengatakan ciri-ciri pemuda yang muncul di mimpi Serafall yang diceritakan padanya dulu.
Mendengar ucapan dan arah tatapan Sirzechs membuat Serafall terdiam sambil menatap kearah Naruto yang hanya menatap mereka dengan alis terangkat.
"Aku baru menyadarinya setelah Sirzechs-chan mengatakan itu, kau pemuda yang muncul di mimpiku dulu." ucap Serafall sambil menatap Naruto dengan wajah sedikit terkejut karena baru menyadari bahwa pemuda pirang itu memiliki ciri-ciri yang sama seperti pemuda yang muncul di mimpinya dulu.
Naruto menatap Serafall heran.
'Jadi dia iblis yang bermimpi bertemu denganku, tapi bagaimana bisa?' batin Naruto bingung.
"Naruto, ada yang mendekat." ucap Sasuke serius. Naruto terdiam lalu dia berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati jendela. Saat Naruto menatap kearah luar tiba-tiba waktu berhenti membuat semua mahluk yang ada disana membeku kecuali mereka yang memiliki kekuatan lebih.
"Apa yang terjadi?" tanya Issei bingung saat tiba-tiba Boosted Gear miliknya aktif dengan sendirinya, saat itu Rias juga sedang menyentuh bahunya.
"Forbidden Valor View. Sepertinya bocah setengah Vampir itu sedang dalam bahaya." ucap Azazel sambil berdiri saat dia melihat diluar muncul lingkaran sihir raksasa dan mengeluarkan ratusan penyihir yang langsung menyerang para prajurit dari ketiga fraksi yang membeku karena waktu mereka telah dihentikan.
"Kita dilindungi oleh kekuatan naga kita, sedangkan mereka dengan pedang suci mereka." Vali yang dari tadi diam akhirnya angkat suara saat dia melihat rivalnya kebingungan. Issei terdiam sambil melihat kearah anggota kelompoknya yang memegang pedang yang mengeluarkan aura suci.
"Aku baik-baik saja berkat menyentuhmu, Issei." ucap Rias menjelaskan saat melihat pion nya itu menatap dirinya dengan wajah bingung.
"Kalian harus segera menyelamatkan Gasper-kun, jika kekuatannya terus ditingkatkan, bahkan waktu kami pun dapat berhenti." ucap Sirzechs serius sambil menatap Rias dan Issei.
"Ha'i, Onii-sama, aku akan pergi menyelamatkan Gasper." ucap Rias sambil mencoba membuat lingkaran sihir teleportasi namun baru saja terbentuk lingkaran sihir itu menghilang.
"A-Apa?" ucap Rias terkejut.
"Sepertinya mereka memblok sihir teleportasi kita." ucap Sirzechs saat melihat lingkaran sihir yang adiknya buat langsung hilang.
"Bagaimana cara kita menyelamatkan Gasper dengan cepat jika kita tidak bisa sihir teleportasi, Buchou?" tanya Issei bingung dan dia juga mengkhawatirkan keadaan Gasper dan Koneko saat ini yang berada di gedung lama. Rias berjalan mendekati Sirzechs.
"Ada satu bidak Rook yang tersisa digedung lama," ucap Rias sambil menatap kakaknya itu.
"Jadi begitu, kita bisa menggunakan rokade untuk menukar posisimu dengan bidak Rook mu, Rias." ucap Sirzechs serius. Grayfia berjalan mendekati Sirzechs.
"Jika kita menggunakan kekuatan Sirzechs-sama, kita bisa mengirim satu orang lagi." ucap Grayfia dengan wajah datar khasnya.
"Izinkan saya ikut membantu Buchou, Sirzechs-sama." ucap Issei serius, dia ingin menyelamatkan temannya dan tentu saja melindungi Buchou nya dari bahaya apapun. Sirzechs menatap Issei serius.
"Kalau begitu aku serahkan penyelamatan Gasper-kun pada kalian, Issei-kun, Rias." ucap Sirzechs serius.
"Ha'i, Onii-sama." ucap Rias tegas, Issei mengepalkan tangannya dengan kuat.
"Serahkan saja padaku Sirzechs-sama, aku pasti akan melindungi Buchou dan menyelamatkan Gasper dari musuh." ucap Issei dengan nada yakin. Sirzechs mengangguk mendengar ucapan pion adiknya itu, lalu dia bersiap untuk melakukan sihir teleportasi untuk menukar posisi Rias sebagai King dengan bidak Rook yang ada digedung lama ruang klub milik Rias, tapi sebelum dia men teleportasi mereka Azazel datang mendekat dan memberikan dua buah gelang pada Issei.
Disisi Naruto, kini dia, Sasuke dan Kaguya sedang menatap kearah langit, dia memperhatikan para manusia yang menggunakan jubah dan dapat menggunakan sihir sedang menyerang para prajurit dari ketiga fraksi yang membeku.
"Sepertinya itu bukan mereka." ucap Naruto yang melihat para penyihir yang bermunculan.
"Itu adalah manusia yang menggunakan sihir iblis." ucap Sasuke, Sharingannya juga telah aktif dan berputar pelan mengobservasi setiap penyihir yang bermunculan dari lingkaran sihir teleportasi besar dilangit.
Kaguya mengaktifkan Byakugan miliknya, dia melihat jauh keluar dari area Akademi Kuoh tersebut dimana disana dia melihat seorang wanita membawa tongkat sedang mengamati gedung dimana dirinya berada saat ini.
"Diluar penghalang itu ada seseorang yang sedang memandang kearah sini, Ashura, Indra." ucap Kaguya. Naruto melirik kearah Kaguya yang berada di samping kanannya.
"Apa itu mereka?" tanya Naruto serius. Kaguya menggeleng.
"Dia seorang wanita, dan dari energinya dia sama seperti mereka." ucap Kaguya sambil mengalihkan pandangannya kearah dua knight dari kelompok Rias yang berada tidak jauh dari posisi mereka saat ini. Naruto yang melihat arah pandangan Kaguya terdiam.
"Iblis kah?" gumam Naruto serius. Azazel dan para pemimpin dari ketiga fraksi berjalan mendekati lokasi Naruto berada.
"Apa ada tanda-tanda musuh itu, Naruto?" tanya Azazel serius. Naruto menoleh menatap Azazel yang mendekati jendela disamping Kaguya.
"Kaguya melihat seorang iblis diluar penghalang." ucap Naruto memberitahu apa yang Kaguya lihat.
"Iblis? siapa?" tanya Sirzechs yang berdiri disamping Azazel.
"Entahlah, aku juga tidak tahu." ucap Naruto.
"Para penyihir itu menghabisi para prajurit kita, kita tidak bisa hanya diam saja." ucap Sirzechs serius saat dia melihat para penyihir yang terus bermunculan itu menyerang dan menghabisi para prajurit dari ketiga fraksi.
"Selama bocah setengah Vampir itu belum diselamatkan, kita tidak bisa menyerang balik, itu terlalu berbahaya." ucap Azazel sambil melirik iblis-iblis yang membeku karena waktu mereka telah diberhentikan oleh Sacred Gear milik Gasper.
"Kau benar, kita harus menunggu Rias dan Issei-kun berhasil menyelamatkan Gasper-kun." ucap Sirzechs, dia tidak lagi menggunakan bahasa formal untuk berbicara dengan Azazel karena situasinya sudah berubah dari rapat menjadi perang dadakan karena ada yang menyerang Akademi Kuoh.
"Onii-sama, setidaknya kita harus bertindak agar pasukan kita tidak dihabisi semua." ucap Gabriel yang dari tadi diam, Michael menoleh menatap adiknya dengan wajah serius.
"Kau benar, kita harus melakukan sesuatu." ucap Michael. Azazel melirik kearah wakilnya Baraqiel yang saat ini sedang berdiri didekat seorang gadis berambut raven panjang diikat ekor kuda.
'Anakmu adalah prioritas utamamu kah? itulah kenapa kau ingin ikut ke pertemuan ini, Baraqiel.' batin Azazel sedikit menyunggingkan senyuman kecil, temannya itu memang sangat ingin bersama lagi dengan anaknya tapi karena suatu hal dia tidak bisa, terlebih lagi anaknya sepertinya masih membenci Baraqiel karena tragedi masa lalunya.
Azazel menoleh kearah Vali yang hanya diam saja bersandar pada dinding, dia menghela nafas melihat itu.
"Vali, dari pada kau hanya diam saja, lebih baik kau menyibukkan mereka yang diluar, jika mereka melihat Hakuryuukou perhatian mereka pasti akan teralihkan." ucap Azazel. Vali menegakkan badannya dan mengangkat bahu.
"Baiklah, berdiam diri seperti ini membuatku bosan." ucap Vali sambil mengaktifkan Sacred Gearnya dan terbang dengan kecepatan tinggi keluar melewati para penyihir itu membuat perhatian mereka teralihkan.
"Balance Break." ucap Vali ketika dia sudah berada diatas para penyihir itu.
[Vanishing Dragon Balance Breaker]
Vali langsung diselimuti oleh armor naga putih dan dia menahan semua serangan yang ditembakkan oleh para penyihir itu dengan lingkaran sihir lalu dia menciptakan bola energi putih dan melemparkannya kearah para penyihir di bawahnya membuat bola itu berubah layaknya sambaran petir warna putih dan menghabisi cukup banyak penyihir.
"Hebat." ucap Kiba yang melihat Vali menggunakan Balance Breaker dan berhasil melenyapkan banyak penyihir.
"Ya dia hebat, tapi dari kekuatannya tercium sesuatu yang berbahaya." ucap Xenovia yang juga melihat kearah luar, pemegang Durandal itu berdiri disamping Kiba.
"Kita juga harus membantu." ucap Xenovia, lalu dia berjalan mendekati Sirzechs.
"Sirzechs-sama, izinkan kami membantu menahan mereka." ucap Xenovia serius. Sirzechs menoleh menatap Xenovia serius, dia juga melihat Kiba dan Irina juga mendekat.
"Kalian?" ucap Sirzechs memandang anggota keluarga adiknya itu dengan wajah serius.
"Kami ingin membantu, setidaknya kami bisa menahan mereka sampai Buchou berhasil menyelamatkan Gasper." ucap Xenovia serius. Sirzechs mengangguk mendengar ucapan Xenovia.
"Baiklah, Xenovia." ucap Sirzechs mengizinkan.
"Ha'i!" setelah mendapat izin dari Sirzechs, Xenovia dan Kiba pergi keluar gedung dan melawan para penyihir itu.
"Michael-sama, Gabriel-sama, izinkan saya juga ikut membantu mereka." ucap Irina meminta izin pada Michael dan Gabriel yang berdiri didekat jendela. Michael dan Gabriel menoleh menatap Irina.
"Baiklah, bantu mereka menahan para penyihir itu, Irina." ucap Michael memberi izin pada Irina.
"Irina-chan, hati-hati ya." ucap Gabriel tersenyum, dia tahu gadis mantan manusia itu ingin bertarung bersama Xenovia seperti sebelumnya sebagaimana mereka waktu sama-sama seorang manusia.
"Ha'i, Gabriel-sama." ucap Irina membalas senyuman Gabriel, setelah itu Irina pergi menyusul temannya keluar.
Naruto yang melihat interaksi Gabriel dan gadis berambut coklat terang bernama Irina itu tersenyum.
'Malaikat kah.' batin Naruto, lalu Naruto mengalihkan pandangannya kearah luar lagi.
"Apa iblis itu bergerak, Kaguya?" tanya Naruto melirik Kaguya yang masih mengawasi gerak-gerik iblis wanita yang Kaguya katakan tadi.
"Dia membuat suatu lingkaran di bawah kakinya, dari penglihatan Byakugan milikku sepertinya dia akan menuju kesini, Ashura." ucap Kaguya. Naruto mengangguk paham.
"Jadi begitu," Naruto mengalihkan pandangannya kearah Sirzechs.
"Sirzechs bersiaplah, akan ada tamu yang akan datang kesini." mendengar ucapan Naruto, Sirzechs segera mengangguk dan berjalan mendekati para iblis muda kelompok adiknya dan adik temannya. Para pemimpin dari ketiga fraksi juga berjalan ke tengah ruangan.
Disalah satu sudut ruangan muncul lingkaran sihir.
"Lingkaran sihir itu, Katerea Leviathan." ucap Sirzechs, dan seperti dugaannya seorang wanita yang dia kenali muncul dari sana.
"Apa maksud penyerangan ini, Katerea?" tanya Sirzechs tajam.
"Katerea-chan, kenapa kau ada disini?" tanya Serafall terkejut.
"Sirzechs, Serafall. Kalian Raja iblis palsu akan aku musnahkan." ucap Katerea sinis.
"Apa maksudmu Katerea-chan?" tanya Serafall bingung.
"Heh, Serafall, kau yang telah merebut posisi Leviathan dariku tidak mengerti maksudku?" ucap Katerea dingin. Serafall terdiam dengan wajah sedikit menunduk.
Naruto terdiam melihat siapa yang datang, dia menghela nafas sebentar lalu berjalan mendekati Sirzechs.
"Kau bawahannya Rizevim bukan?" ucap Naruto dengan nada serius.
"Naruto?" Naruto mengabaikan panggilan penuh tanda tanya dari Sirzechs, dia lebih memilih menatap Katerea.
"Kau?!" ucap Katerea terkejut saat melihat siapa pemuda beraura manusia yang barusan bicara.
"Kau masih mengingatku? kalau begitu ini akan lebih cepat." ucap Naruto serius. Katerea berdecak kesal mendengar perkataan manusia pirang didepannya itu.
"Heh, kau berhianat dari kami, aku akan memusnahkanmu lebih dulu sebelum mereka!" ucap Katerea sambil mengangkat tongkatnya dan merapalkan suatu mantra, setelah itu terjadi ledakan besar digedung pertemuan tiga fraksi tersebut. Asap tebal memenuhi gedung pertemuan yang sudah hancur tersebut, setelah asap menghilang kini terlihat para pemimpin dari ketiga fraksi membuat penghalang untuk melindungi para iblis muda yang sedang membeku oleh kekuatan dari Sacred Gear Forbidden Valor View milik Gasper. Katerea yang melihat itu tertawa menghina.
"Penghalang yang dibuat oleh pemimpin ketiga fraksi? hahaha sungguh menyedihkan." ucap Katerea sinis memandang penghalang buatan para pemimpin dari ketiga fraksi.
"Yare Yare, Sepertinya aku terlibat dengan kudeta yang dilakukan seorang iblis yang kehilangan tahta Rajanya." ucap Azazel berjalan mendekati Katerea.
"Bolehkan, Sirzechs, Michael?" ucap Azazel tanpa melihat kedua orang yang dimaksud. Mendengar ucapan Azazel membuat Sirzechs menatap serius Katerea.
"Apa kau tidak akan menarik mundur pasukanmu, Katerea?" ucap Sirzechs serius.
"Heh, tidak akan Sirzechs, aku akan menghancurkan kalian semua dan membangun ulang dunia busuk ini." ucap Katerea.
"Hahaha, membangun ulang dunia ini? lelucon yang bagus." ucap Azazel menertawakan ucapan Katerea.
"Apa yang kau tertawakan, Azazel?!" ucap Katerea kesal dengan suara tawa Azazel yang menghinanya.
"Aku akan menghancurkan dan membuat revolusi pada dunia busuk ini di mana Tuhan dan Raja iblis sudah tidak ada lagi." ucap Katerea sambil terbang ke atas disusul oleh Azazel yang juga terbang dengan ke-enam pasang sayapnya.
"Jadi yang kau incar adalah seluruh dunia?" ucap Michael sambil menatap keatas dimana Katerea terbang meski tidak terlalu tinggi.
"Ya Michael, aku akan merevolusi dunia ini dan kalian tidak akan ada didunia ini setelah aku menghancurkan kalian." ucap Katerea melihat kearah Michael yang terdiam setelah mendengar ucapan Katerea.
"Cara bicaramu seperti kau bisa melakukannya, Katerea." ucap Naruto yang dari tadi diam setelah Azazel mengambil alih apa yang ingin dia lakukan. Naruto menatap Katerea dengan alis terangkat pertanda bahwa dia tidak yakin akan apa yang wanita bawahannya Rizevim itu katakan.
"Ya, aku bisa melakukannya..." ucap Katerea percaya diri sambil menunjukkan beberapa ular hitam yang langsung melilit tubuhnya dan menghilang memasuki tubuhnya, kekuatannya juga meningkat drastis.
"Dengan kekuatan yang Ophis berikan padaku, hahaha!" ucap Katerea dengan tawa meremehkan menatap kearah Naruto dan para pemimpin dari ketiga fraksi. Naruto hanya menatap datar apa yang dilakukan Katerea.
'Kekuatan Ophis? Kokabiel lebih kuat dari dia, meski saat itu kekuatan milik Ophis belum menyatu sempurna dengan Kokabiel.' batin Naruto, lalu Naruto menoleh menatap Vali yang sedang menghabisi para penyihir.
'Aku rasa Vali menyembunyikan sesuatu dari Azazel.' batin Naruto, dia kemudian berjalan mendekati Sasuke dan Kaguya yang berdiri cukup jauh dari para pemimpin ketiga fraksi karena tadi saat Katerea menggunakan sihir untuk meledakkan gedung pertemuan mereka melompat menghindar kecuali Kaguya yang terbang mengikuti Sasuke.
"Naruto, Kaguya melihat seorang gadis beraura sangat kuat sedang mendekati tempat ini." ucap Sasuke saat melihat Naruto menghampiri mereka. Naruto terdiam dengan wajah serius.
"Ciri-ciri nya seperti apa?" tanya Naruto serius sambil menatap Sasuke.
"Dia berambut merah, memiliki mata kuning seperti mata Kyuubi, dan memiliki sayap besar di punggungnya, untuk pekaiannya mirip seperti pakaikan seorang putri namun dalam keadaan sobek cukup parah." ucap Sasuke. Naruto terdiam saat mendengar ciri-ciri yang Sasuke katakan.
'Bukankah itu...' batin Naruto terkejut, dia mendongak menatap langit.
"Dia datang!" ucap Sasuke bersiap untuk bertarung karena dia merasakan kekuatan yang sangat besar dari seseorang yang datang tersebut.
"Tahan Sasuke! sepertinya aku mengenal aura ini." ucap Naruto serius. Sasuke menoleh menatap Naruto dengan alis terangkat namun tidak mengatakan apapun.
Diatas langit seorang gadis yang dikatakan oleh Sasuke melesat kearah penghalang yang menyelimuti Akademi Kuoh dengan kecepatan tinggi, wajah gadis itu juga terlihat sangat serius dan juga gelisah, saat gadis itu akan menabrak penghalang yang menyelimuti Akademi Kuoh dia membuat suatu robekan dimensi dan memasukinya lalu muncul dibawah didepan Naruto, Sasuke dan Kaguya. Naruto yang melihat ruang terbuka didepannya terdiam dengan berbagai pikiran.
"Naruto!" Naruto menatap seseorang yang muncul dari robekan dimensi tersebut dengan mata melebar terkejut. Gadis itu berjalan cepat kearah Naruto dengan wajah serius dan terlihat gelisah. Sasuke waspada tapi dia tidak melakukan gerakan yang berarti saat gadis itu seperti mengenal sahabat pirangnya itu, Kaguya terdiam melihat siapa gadis yang datang itu dengan Byakugan yang masih aktif.
"Sara?" ucap Naruto terkejut. Sara berdiri dihadapan Naruto dengan wajah serius, dia juga tidak memperdulikan penampilannya yang seperti gembel karena pakaiannya sudah sobek sana-sini memperlihatkan kulitnya yang putih dan bahkan salah satu dari dua gunung kembarnya terekspos dengan sangat jelas dihadapan Naruto saat ini.
"Naruto, setelah aku keluar dari celah dimensi aku melihat di beberapa bagian dari berbagai penjuru bumi, beberapa kota telah hancur total dan ada sisa energi yang aku rasa mirip denganmu." ucap Sara serius. Naruto terdiam mendengar itu. Sasuke yang mendengar itu juga terdiam hingga ingatan tentang sebuah kota yang hancur dulu kembali dia ingat.
'Sepertinya mereka mulai bentrok satu sama lain.' batin Sasuke serius, dia menatap gadis yang mengenal Naruto itu dengan wajah serius.
"Apa kau melihat siapa pelakunya?" tanya Sasuke serius. Sara menoleh menatap kearah Sasuke dan menggeleng.
"Tidak, hanya aura dari energi yang tertinggal disana yang aku temukan." ucap Sara, lalu Sara kembali menatap kearah Naruto yang terdiam dengan wajah serius.
"Ophis, bagaimana dengan Ophis?" tanya Naruto serius, Sara terdiam mendengar itu dari Naruto, dia menoleh menatap kearah langit bagian timur.
"Aku rasa dia sedang bertarung dengan seseorang saat ini." ucap Sara saat dia merasakan pancaran energi naga milik Ophis cukup jauh dari lokasi dirinya berada saat ini. Naruto yang mendengar informasi itu terdiam.
"Sara bantu Ophis dan bawa dia kemari, perasaanku benar-benar buruk saat ini." ucap Naruto serius, Sara terdiam lalu mengangguk mengerti.
"Baiklah, aku akan pergi dan membawa Ophis kesini." Sara kemudian membuat robekan dimensi dan berjalan untuk memasuki robekan dimensi tersebut, namun sebelum dia pergi dia menatap kearah Naruto dengan wajah yang sulit diartikan.
"Apa kau tidak mengkhawatirkanku, Naruto?" gumam Sara pelan dan tidak dapat didengar oleh orang yang dimaksud, setelah itu dia pergi dari sana untuk ketempat Ophis jauh di timur, namun tanpa Sara sadari gerakan bibirnya terbaca oleh Sharingan Sasuke hal itu membuat Sasuke menaikkan sebelah alisnya sambil melirik kearah sahabatnya namun tidak mengatakan apapun. Setelah kepergian Sara, Naruto menoleh menatap Sasuke dengan wajah serius.
"Sasuke, sepertinya bumi sudah mulai terancam sejak mereka menginjakkan kaki ke bumi." ucap Naruto serius. Sasuke menatap Naruto dengan wajah serius.
"Ya, tidak ada lagi yang dapat mencegah kerusakan yang terjadi." ucap Sasuke serius.
Disisi lain, Azazel yang sudah mengalahkan Katerea dan berkumpul dengan para pemimpin fraksi yang lain terdiam saat mendengar apa yang dibicarakan oleh Naruto dan gadis yang memiliki aura naga yang sangat besar tadi, dia dan para pemimpin dari kedua fraksi lainnya mendengar pembicaraan itu karena pendengaran mereka lebih tajam dari manusia. Azazel menoleh menatap kedua pemimpin fraksi lain, yaitu Sirzechs dan Michael dengan wajah serius.
"Kau dengar itu, Sirzechs, Michael? dunia ini makin kacau tanpa kita sadari, kita harus segera meresmikan perjanjian damai ini agar tidak memperburuk segalanya." ucap Azazel serius. Sirzechs terdiam lalu menoleh menatap kearah Naruto yang sedang berbicara dengan Sasuke.
"Ini benar-benar sulit untuk diterima, saat kita ingin berdamai dunia ini malah akan dilanda bencana." ucap Sirzechs, dia mengalihkan pandangannya kearah Azazel dan Michael.
"Aku setuju untuk membentuk aliansi dengan kalian, Azazel, Michael-dono." ucap Sirzechs serius. Azazel mengangguk mendengar jawaban dari Sirzechs.
"Kami fraksi malaikat selalu menginginkan yang terbaik untuk dunia." ucap Michael sambil mengangguk. Azazel yang melihat itu tersenyum.
"Baiklah dengan ini ketiga fraksi resmi beraliansi, berikutnya kita harus bekerjasama untuk melindungi dunia ini dan mencegah bencana yang akan melanda dunia ini." ucap Azazel serius, Michael dan Sirzechs mengangguk serius.
Disisi Vali, dia terdiam melayang di atas sambil menatap kearah Naruto hingga akhirnya dia terbang dan mendarat dihadapan Naruto.
"Vali?" ucap Naruto saat melihat Hakuryuukou itu menghampirinya.
"Naruto, ada sesuatu yang perlu aku bicarakan denganmu," ucap Vali, dia melepas mode balance breaker nya sambil menatap Naruto serius. Naruto diam menunggu kelanjutan dari apa yang ingin Vali katakan.
"Tadi siang aku melihat beberapa orang yang memiliki tanduk sedang bertarung, mereka menghancurkan sebuah negara kecil akibat pertarungan mereka itu, harusnya saat ini beritanya menyebar melalui saluran berita di televisi ke seluruh dunia." ucap Vali serius. Naruto terdiam mendengar itu.
"Apa ada lagi yang kau temukan, Vali?" tanya Naruto serius.
"Ya ada, Loki dan pak tua sialan itu juga bergabung dengan salah satu dari mereka." ucap Vali dengan nada dingin saat dia menyebut kata 'Pak Tua' dalam kalimatnya. Naruto terdiam, Loki bergabung dengan salah satu kelompok Otsutsuki itu? bagaimana dengan Ophis? jangan bilang saat ini yang sedang dilawan oleh Ophis adalah para Otsutsuki itu?!
"Kenapa mendadak situasinya jadi seperti ini?" ucap Naruto serius dan juga prihatin dengan nasib dunia saat ini. Sasuke menatap Naruto dengan wajah datar dan serius miliknya.
"Itulah yang akan terjadi jika mereka tiba di bumi, Kaguya pernah bilang kutukan Otsutsuki itu sudah menghancurkan lebih dari ribuan dunia sebelumnya." ucap Sasuke serius. Para pemimpin dari ketiga fraksi berjalan mendekati mereka saat mereka mendengar pembicaraan yang benar-benar serius antara Naruto, Vali, dan Sasuke, sedangkan Kaguya hanya diam mendengarkan sambil mengawasi keadaan diluar penghalang yang melindungi Akademi Kuoh.
"Sepertinya situasinya benar-benar sangat buruk saat ini benar begitukan, Naruto?" ucap Azazel serius. Mereka bertiga mengalihkan pandangannya kearah para pemimpin dari ketiga fraksi yang datang mendekati mereka.
"Azazel." ucap Vali datar. Naruto memejamkan matanya sejenak.
"Ya, seperti itulah Azazel..." ucap Naruto sambil menghela nafas pasrah akan informasi yang dia dapatkan dari Sara yang tiba-tiba muncul dan juga Vali yang tidak langsung mengatakan informasi yang dia miliki kepada semua orang yang terlibat dalam pertemuan penting itu. Naruto menatap kearah timur dimana kata Sara, Ophis sedang bertarung disana dengan seseorang, dia berharap Ophis baik-baik saja begitu juga dengan Sara, sebenarnya dia khawatir pada kedua naga betina itu tapi saat ini pikirannya seperti dihantam oleh Gudoudama raksasa, dia tidak bisa menunjukkan ekspresi khawatirnya saat ini karena kekhawatiran terbesarnya adalah dunia mungkin saja akan segera berakhir. Dengan kekuatannya saat ini meskipun dia dibantu oleh Sasuke dan bahkan Kaguya, dia masih belum cukup untuk menyelamatkan seluruh dunia dari kehancuran total, dia hanya seorang manusia dari zaman kuno dan dia tidak tahu bumi ini seluas apa, dia hanya berharap Tuhan memberikan petunjuk untuk menyelamatkan dunia ini dari kehancuran, tapi jika Tuhan sekali lagi terlibat dengan dunia ini para mahluknya tidak akan memiliki kepercayaan yang kuat untuk melindungi dunia ini karena jika Tuhan ada mereka pasti akan lebih memilih bergantung pada bantuan Tuhan dari pada berjuang untuk melindungi dunia ini dari bencana yang akan terjadi nanti. Naruto menarik nafas dan menghembuskannya untuk menenangkan pikirannya yang sedang kacau saat ini.
'Masalah ini perlu bantuan dari banyak pihak, perasaanku mengatakan akan ada banyak mahluk yang berdatangan ke negara Jepang ini tidak lama lagi.' batin Naruto dengan nada serius, dia berharap dunia ini cukup tenang untuk manusia saat ini, agar tidak terjadi kepanikan besar-besaran diseluruh dunia ini dan menambah bencana yang ditimbulkan para Otsutsuki itu.
[To Be Continue]
