Karena Usaha Tak Pernah Mengkhianati

JaeDo

Typo(s) everywhere!!

Thanks for reading my story

Jaehyun mengacak rambutnya kasar, ia lalu melempar gelas yang tadi ia pegang.

Lagi-lagi Doyoung mengabaikannya. Ini sudah satu minggu dan Doyoung beserta anaknya tak kunjung juga pulang.

Doyoung benar-benar menolak ajakannya karena Jeno terus saja menghindarinya.

Jaehyun mengerang frustasi, ada apa dengan anaknya itu, ia yakin Jeno baik-baik saja, tak ada yang salah dengannya.

Ia menceburkan tubuh polosnya kedalam bathtub mencoba mendinginkan dirinya, atensinya tidak pernah lepas dari ponselnya yang menampilkan foto Doyoung dan Jeno.

Demi apapun Jaehyun sangat merindukan Doyoung, ia menginginkannya melebihi apapun saat ini juga.

Jaehyun menenggelamkan kepalanya ke dalam air, ia menumpahkan seluruh cairan aroma yang biasa Doyoung gunakan ketika mandi.

Satu-satunya harapan Jaehyun untuk bersama Doyoung adalah besok karena mereka akan mencoba baju pernikahan yang berarti Jaehyun bisa menghabiskan waktu seharian bersama Doyoungnya.

Dan berita baiknya adalah ibunya akan menemaninya yang berarti mustahil untuk Doyoung menolaknya.

Yap Jaehyun cukup menenangkan dirinya dan bersabar untuk hari esok.

Di rumah orang tuanya, Doyoung hanya duduk melamun sembari mengelus kepala Jeno yang kini menonton melalui ponselnya dengan meminum susunya sebelum anaknya itu membuka suara.

"Eomma," panggil Jeno yang sudah melepas botol susunya.

"Ya sayang?" Sahut Doyoung yang kembali fokus pada Jeno.

"besok appa ke sini lagi?" Tanya Jeno yang berhenti menonton kartunnya.

"Hmm? Iya besok appa akan ke sini lagi," Jawab Doyoung mengiyakan.

"Oh," dan Jeno hanya ber-oh ria menanggapinya.

"Ada apa sayang? Apa Jeno rindu dengan appa ?" Tanya Doyoung penuh selidik dan si kecil menganggukkan kepalanya.

"Lalu kenapa Jeno tidak mau pulang bersama appa?" Bingung Doyoung.

Bukannya menjawab Jeno malah memeluk ibunya.

"Nanti appa malah lagi," gumam Jeno berbisik di telinga ibunya.

"Marah?" Ucap Doyoung mengulangi perkataan Jeno.

"Iyaa, appa malah dan belteliak pada Jeno," jelas Jeno mengingat ayahnya yang membentaknya beberapa waktu lalu.

"Kenapa appa marah dengan Jeno? Apa Jeno nakal?" Tanya Doyoung, tidak menyangka Jaehyun akan marah pada Jeno seperti itu.

"Jeno tidak nakal eomma, Jeno hanya mengigit saja,"

"Mengigit siapa?"

"Bibi tyong?" Jawab Jeno menyebut nama Taeyong.

Dan Doyoung sekarang mengerti kenapa Jaehyun sampai tega memarahi Jeno, apalagi jika bukan Taeyong.

Tentu saja Jaehyun akan membela Taeyong, memangnya siapa Jeno, ia hanya anak yang dilahirkan oleh Doyoung, tentu Jaehyun akan memilih Taeyong di bandingkan Jeno, setelah ini Jaehyun pasti menganggap Jeno sebagai pengganggu yang di bawa Doyoung karena kesalahan mereka.

Doyoung menertawai dirinya sendiri dan segala pikiran buruknya, tapi ia tidak perduli jika itu hanya prasangka buruk.

Doyoung tidak mempermasalahkan Jaehyun yang marah padanya karena tidak mengatakan tentang hubungannya dan Johnny dulu.

Doyoung juga tidak mempermasalahkan Jaehyun yang marah hanya karna Jeno memanggil Johnny ayah.

Tapi Jaehyun membentak putranya hanya karena Jeno melukai mantan kekasihnya padahal anaknya itu juga terluka.

Jeno, yang selalu Doyoung nomor satukan dan ia letakkan di atas segalanya bahkan dirinya sendiri, seperti apapun Doyoung mencintai Jaehyun tapi mengetahui Jaehyun memarahi anak mereka sampai sebegininya hanya karena mantan kekasihnya benar-benar melukai perasaan Doyoung.

Persetan dengan semua kata-kata cinta yang Jaehyun ucapkan padanya karena itu hanyalah omong kosong Jaehyun semata.

Seharusnya Doyoung tidak mempercayai Jaehyun, seharusnya Doyoung tidak menuruti kehendak Jeno dan menjadi egois, maka Jeno tidak akan seperti ini jika ia menolak Jaehyun hari itu.

Doyoung hanya diam menahan tangisnya, ia memeluk Jeno erat lalu menciumi pipi anaknya itu.

Sekarang Doyoung yakin membatalkan semuanya adalah yang terbaik, Jeno mungkin akan sedih dan merindukan ayahnya tapi itu bukan masalah untuk Doyoung, ia bisa memulainya kembali bersama Jeno.

Dan Jeno tidak perlu terluka lebih jauh dari ini, karena Doyoung tidak tahu bagaimana masa depan, ia tidak bisa menjamin Jaehyun akan memilihnya dan Jeno mengingat Taeyong yang bisa saja kembali padanya.

Doyoung tidak akan membenci Taeyong ataupun Jaehyun, ia tahu Taeyong juga sedang kesusahan karena Yuta yang menghilang, dan Jaehyun, Doyoung tahu semua ini adalah salahnya yang mencintai Jaehyun.

Oleh karna itu Doyoung hanya bisa mencegah agar Jeno tidak terluka sama seperti dirinya karena berharap pada Jaehyun.

Di sinilah mereka sekarang, di salah satu butik milik teman ibu Jaehyun yang terkenal.

Doyoung benar-benar tidak semangat begitu melihat semua gaun yang ada tapi ibunya dan ibu Jaehyun sangat antusias memilihkannya membuat Doyoung tidak tega untuk mengutarakan niatnya untuk membatalkan pernikahannya dan Jaehyun.

Sementara Jeno dan Jaehyun duduk dengan jarak yang cukup jauh atau lebih tepatnya, Jeno menjaga jarak darinya.

Sesungguhnya acara fitting bajunya benar-benar akan terasa awkward jika hanya Jaehyun dan Doyoung yang pergi, beruntung kedua ibu mereka ikut karena kedua wanita itu menyadari atmosfir dingin yang berada di antara Jaehyun dan Doyoung.

Begitu selesai mereka lanjut dengan makan siang dan berbelanja kebutuhan.

Tapi saat akan pulang ibu Jaehyun menyuruh Doyoung untuk pulang bersama Jaehyun terlebih dahulu karena mereka masih ingin membelikan sesuatu untuk Jeno.

Doyoung menolaknya tentu saja, tapi Jaehyun mencegahnya dengan berdalih bahwa mereka harus membicarakan tentang Jeno.

Tapi Doyoung tahu, mereka tidak akan berbicara mengenai Jeno, yang mungkin terjadi adalah mereka bertengkar ataupun hal yang Doyoung benci lainnya.

Dan sialnya kedua ibu mereka menyetujuinya. Jadilah Doyoung sekarang bersama Jaehyun di apartemen pria itu.

Doyoung yang duduk di kursi penumpang mobil Jaehyun, menepis tangan Jaehyun yang meraihnya, "Aku ingin pulang Jaehyun," ketusnya yang terus menolak Jaehyun yang mengajaknya untuk turun dari mobil.

"Ini sudah, ayo turun," ajak Jaehyun yang masih mengacuhkan Doyoung yang bertingkah dingin padanya.

"aku tidak mau! Ini bukan rumah orang tuaku," tolak Doyoung lagi.

"Kau ingin turun atau aku menarik mu paksa dari sini?" Ancam Jaehyun dan Doyoung yang mendengarnya hanya menuruti Jaehyun pada akhirnya.

Doyoung membuntuti Jaehyun yang berjalan mendahului, sampai-sampai Jaehyun harus menarik Doyoung yang berjalan terlalu lambat.

Begitu sampai, Doyoung hanya berdiri layaknya patung di ruang tamu.

Jaehyun yang baru saja meletakkan belanjaannya di sofa hanya menghela nafas dengan tingkah Doyoung yang berubah acuh padanya.

Tapi Jaehyun tetap memeluk Doyoung dan sesekali mencium pipinya, namun ketika Jaehyun akan mencium bibirnya, Doyoung langsung menghindari Jaehyun dengan membuang muka.

Jaehyun mendecak kesal, ia menatap Doyoung yang tidak melihat kearahnya sama sekali.

Tapi Jaehyun tidak terlalu peduli, ia justru menarik Doyoung ke kamarnya, merebahkan tubuh berisi wanitanya ini di atas ranjangnya yang beberapa hari terakhir terasa dingin karena tidak ada Doyoung bersamanya.

Ia membuka satu persatu kancing baju Doyoung, menyingkap rok wanita itu dan melepas celana tipis miliknya.

Dan Doyoung yang sama acuhnya seperti Jaehyun membiarkan saja pria itu berbuat semaunya, tidak ada gunanya menolak Jaehyun yang sedang marah.

Doyoung tidak menikmati setiap sentuhan dan kecupan yang Jaehyun berikan pada tubuhnya, otak Doyoung menolaknya walaupun tubuhnya memberikan respon sebaliknya.

Jika di ingat, maka Doyoung jarang menikmati percintaan yang mereka lakukan.

Hingga ketika dirinya dan Jaehyun mendapatkan klimaks mereka Doyoung hanya membungkam mulutnya agar tidak mengeluarkan desahannya, Doyoung juga selalu menolak ketika Jaehyun menciumnya.

Tingkah Doyoung yang mengabaikannya cukup untuk merusak mood Jaehyun begitu saja.

Pria itu lalu bangkit dan membersihkan miliknya, Jaehyun membenarkan kembali dalamannya dan celana panjangnya tadi.

"Apa kau sudah puas?" Tanya Doyoung ketus, membuat Jaehyun menatapnya bingung.

"Apa maksudmu?" Tanya Jaehyun balik lalu menghentikan Doyoung yang sedang membenarkan kembali pakaiannya yang ia buka tadi.

Sesekali wanita itu meringis melihat payudaranya yang kini di hiasi beberapa cupang darinya dan membersihkan area kewanitaannya yang di basahi oleh cairannya dan Doyoung.

"Kalau kau sudah puas maka antar aku pulang, ah kau juga bisa mentransfer uang untukku karena sudah melayani mu," ucap Doyoung menyindir.

Wanita itu hendak berdiri dari ranjang Jaehyun tapi di tahan oleh Jaehyun yang sudah sangat kesal dengan tingkah Doyoung.

Doyoung hanya memejamkan matanya ketika Jaehyun mulai mengangkat tangannya, tapi pria itu justru mengusap pipinya.

Doyoung pikir Jaehyun akan melakukan hal yang sama seperti dulu. Ketika Jaehyun menamparnya hanya karena mengejek Taeyong dan Doyoung yang terbiasa dengan sikap kasar Jaehyun hanya bisa diam ketika Jaehyun akan memukulnya.

Jaehyun yang merasa aneh dengan tingkah Doyoung, memeluk pinggang Doyoung agar mendekat kepadanya dan berkata, "Kenapa kau berbicara seperti itu? kau bukan pelacur Doyoung." menunjukkan ketidaksukaannya akan nada dan cara bicara Doyoung padanya.

"Benarkah? Berarti hanya diriku yang merasa seperti itu," ucap Doyoung yang semakin membuat Jaehyun kesal.

"Ada apa denganmu?" Tanya Jaehyun yang benar-benar tidak mengerti dengan tingkah Doyoung.

Jaehyun lalu menyuruh Doyoung untuk duduk sementara dirinya berjongkok agar tubuhnya lebih rendah dari Doyoung.

"Apa aku melakukan sesuatu yang membuatmu marah?" Jaehyun kembali bertanya, ia bisa melihat tubuh Doyoung yang bergetar menangis.

Tapi Doyoung malah menjawab Jaehyun dengan perkataan yang membuat pria itu semakin kesal.

"Jaehyun, ayo batalkan pernikahan kita," ucapnya yang sama sekali tidak menjawab pertanyaan Jaehyun.

Wanita itu kini menatap Jaehyun dengan wajahnya yang dilinangi air mata tapi tidak memberikan efek apapun kepada pria itu. Jaehyun justru menolak permintaannya mentah-mentah.

"Tidak! Kenapa kau tiba-tiba seperti ini Doyoung," erang Jaehyun frustasi.

Doyoung yang masih menangis berkata,"Hiks, aku- aku tidak yakin Jaehyun, aku takut," dengan tangannya yang mencengkram erat tangan Jaehyun yang menggenggamnya.

"Apa yang kau takutkan Doyoung? Aku janji tidak akan bersikap kasar padamu lagi," jawab Jaehyun cepat, meyakinkan Doyoung yang masih menangis.

Tapi wanita itu hanya menggelengkan kepalanya, karena bukan itu yang Doyoung takutkan.

"Tidak Jaehyun, bukan itu, aku takut kau berbohong, aku takut tidak bisa mempercayaimu setelah semua ini,"

"Katakan padaku, apa yang kulakukan? Apakah ini tentang Jeno? Atau-" tanya Jaehyun, "Apakah ini tentang Taeyong?" Lanjutnya perlahan mencoba memastikan.

Doyoung hanya diam tidak menanggapi tapi cukup untuk Jaehyun mengerti.

"Aku tidak ada apa-apa dengan Taeyong, aku hanya bertemu dengannya hari itu saat kau menyuruhnya ke sini, kau tahu itu, dan yah aku memeluknya tapi hanya sebagai teman,"

"Maaf karena tidak menceritakannya padamu, tapi aku bisa membuktikan padamu bahwa aku tidak melakukan hal lainnnya," jelas Jaehyun panjang lebar mengaku.

"Aku tahu, aku tidak mempermasalahkannya, tapi Jeno? Jaehyun apa kau tahu apa yang sudah kau lakukan pada Jeno?" Tanya Doyoung pada Jaehyun yang menatapnya penuh rasa bersalah.

"Jeno melihatnya Jaehyun, Jeno melihatmu memeluk wanita lain selain aku, ibunya," Jelas Doyoung membuat Jaehyun terdiam begitu saja.

"Tidak hanya itu, Jeno sedang terluka dan syok karena bertengkar dengan Mark tapi kau malah memarahinya, berteriak padanya dan membentaknya, hanya karena Jeno mengigit Taeyong," sambung Doyoung yang masih menangis.

"Menurutmu apa yang terjadi padanya? Kau mungkin ayahnya tapi kau hanyalah orang baru dalam hidupnya Jaehyun, aku tidak pernah membentak Jeno apalagi berteriak padanya,"

"Aku salah Doyoung, maafkan aku," sesal Jaehyun yang terus mengusap buku jari tangan Doyoung.

"Kau memang salah tapi tak apa aku sudah memaafkan mu Jaehyun, aku mengerti Taeyong adalah seseorang yang sangat kau cintai, Aku dan Jeno hanyalah pengganggu yang tiba-tiba saja kembali ke dalam hidupmu-" ucap Doyoung menggantungkan perkataannya dan Jaehyun menggelengkan kepalanya tidak menyetujui perkataan Doyoung.

"Sekarang adalah kesempatanmu untuk merebutnya dari Yuta, kau harus memanfaatkannya, jangan pikirkan aku dan Jeno, aku berjanji tidak akan mengganggumu dan Taeyong, kalian bisa hidup bahagia,"

"Kau salah Doyoung aku-," tolak Jaehyun tapi Doyoung segera di memotong Jaehyun yang ingin memberikan penjelasannya.

"Tidak Jaehyun, Sebelum semua terlambat, aku tidak ingin kau menyesalinya, aku benar-benar minta maaf karena telah menghancurkan hidupmu dan mengganggumu dengan perasaanku, seharusnya aku tidak pernah melahirkan Jeno, seharusnya aku segera membuangnya ketika tahu aku memilikinya, seharusnya aku tidak mengharapkan mu waktu itu,"

"Kembalilah pada Taeyong, Jeno mungkin sedih tapi tak apa Jaehyun, setidaknya ia tahu bahwa dirinya memiliki ayah dan aku tidak ingin anakku merasakan apa yang kau lakukan padaku Jaehyun,"

"dan jangan khawatir aku tidak akan membuatnya membencimu ataupun Taeyong, jadi berbahagialah dengan Taeyong dan batalkan pernikahan kita," ucap Doyoung final, wanita itu tidak berhenti menangis ketika mengatakan semuanya.

Mendengar perkataan Doyoung benar-benar membuatnya merasa bersalah Jaehyun bahkan menendang meja kecil di samping tempat tidurnya dan mengumpat kasar.

"Aghh! Sial," gerutu Jaehyun frustasi.

Ia lalu menarik nafasnya dalam-dalam mencoba menenangkan dirinya, sementara Doyoung masih menangis seperti sebelumnya.

"Doyoung apa yang kau katakan, bagaimana bisa kau menyuruhku kembali dengan Taeyong, aku mencintaimu, aku mencintai Jeno, aku tidak pernah sekalipun berpikiran untuk meninggalkan kalian," ucap Jaehyun yang kini berjongkok di depan Doyoung.

Ia menggenggam tangan Doyoung lagi, menciumi setiap bagian tangan Doyoung yang tidak lagi memakai cincin pertunangan mereka, Jaehyun tertawa mengejek dirinya sendiri, bagaimana bisa ia tidak menyadarinya dari tadi.

"Aku tahu aku salah, aku berbohong padamu, aku selalu membentak dan bersikap kasar padamu, aku juga membentak Jeno, dan yang terburuk aku melukai perasaan kalian, aku benar-benar menyesali semua perbuatan bodohku tapi kumohon jangan seperti ini, jangan katakan bahwa kau menyesali ini, jangan katakan kau menyesal melahirkan Jeno,"

"Aku justru sangat berterima kasih karena kau mempertahankan Jeno, kau melahirkannya dengan sehat dan selamat, kau juga membesarkannya dengan baik, jika saja hari itu kau mengatakannya padaku, aku tidak akan melepaskanmu, aku tidak akan membiarkan Johnny mendapatkan kesempatan itu, aku akan menemui ayahmu dan memintanya untuk menikahkan kita, aku tidak akan melewati semua kesempatan yang ku lepaskan karena egoku," tutur Jaehyun yang terus mengusap tangan Doyoung.

"Aku mungkin bisa mendapatkan wanita lainnya tapi aku mencintaimu Doyoung, kumohon percayalah, berhenti berpikir bahwa aku masih menginginkan Taeyong, karena satu-satunya yang ku inginkan adalah dirimu, aku hanya menginginkanmu untuk menjadi ibu dari adik-adik Jeno kelak, aku menginginkan kalian di hidupku," Jelas Jaehyun panjang lebar, pria itu kini menundukkan kepalanya di paha Doyoung.

Jaehyun lalu memukul dan menampar dirinya sendiri, "Pukul saja aku jika itu membuatmu puas," ujarnya, tapi Doyoung segera menarik tangan Jaehyun dan menahannya.

"Tak apa Doyoung kau tahu aku salah, tapi Kumohon percayalah padaku dan jangan batalkan pernikahan ini," pinta Jaehyun memohon pada Doyoung yang hanya menatapnya sedih.

Untuk beberapa saat hening menyelimuti Jaehyun dan Doyoung, setelah mengungkapkan perasaan mereka untuk menenangkan diri dari luapan emosi mereka.

Jaehyun lalu mendudukkan tubuhnya di samping, menarik wanita itu agar menghadap ke arahnya.

"Aku mencintaimu dan maaf karena terus membuat terluka," ucap Jaehyun membuka suara, Jaehyun tahu ia yang salah dan sudah tugasnya untuk meyakinkan Doyoung.

"Kau tidak berbohong kan? Maksudku kau selalu melakukannya Jaehyun, ini bukan yang pertama kalinya, aku memberimu kesempatan, tapi kau melakukannya lagi, apa hubungan kita akan selalu seperti ini terus-menerus?" Tanya Doyoung dengan suara seraknya, wanita itu menatap mata cokelat Jaehyun yang indah.

"Aku sudah lelah Jaehyun, jika kita akan berakhir seperti ini tak apa, aku benar-benar tidak sanggup lagi dengan semuanya, aku sangat mencintaimu sampai-sampai hatiku sakit di buatnya," Doyoung meluapkan segala keluhannya.

Jari-jari lentik Doyoung mengusap pipi mulus Jaehyun.

"Kau tahu, aku tidak pernah menginginkannya Jaehyun, perasaan ini aku tidak menginginkannya karena aku tahu kau mencintai orang lain," aku Doyoung sembari menggelengkan kepalanya.

"Doyoung," panggil Jaehyun yang menatap Doyoung menyesal.

"Sekarang apa yang akan kau lakukan Jaehyun? Jeno menolakmu, alasanku kembali bukan karena perasaanku ataupun kata-katamu Jaehyun, tapi karena Jeno menginginkanmu" Ungkap Doyoung.

"Beri aku kesempatan Doyoung, kali ini saja kumohon," pinta Jaehyun memegang jari Doyoung yang menyentuhnya.

"Kesempatanmu padaku sudah habis Jaehyun, aku tidak akan berbohong padamu, aku masih sangat mencintaimu, tapi kali ini aku tidak bisa menerimamu," tolak Doyoung halus, ia tidak lagi menangis, matanya sudah perih dan dadanya sudah sangat sesak, Doyoung sudah sangat lelah.

"Lalu apa yang harus kulakukan, aku tidak ingin kehilanganmu lagi,"ucap Jaehyun bersungguh-sungguh, Doyoung bisa melihat kesungguhan Jaehyun dari kilatan matanya.

"Tidak Jaehyun, kau sudah kehilanganku tiga tahu lalu ketika kau membiarkanku pergi dulu, sekarang kesempatanmu ada pada Jeno, Kau terus memohon padaku padahal kau tahu kau melukai Jeno bukan aku, jadi jika kau ingin memohon maka Jeno lah tujuanmu," Jelas Doyoung membantu Jaehyun.

"Tapi Jeno terus menghindari ku Doyoung, jangankan berbicara menatapku saja dia enggan," keluh Jaehyun pada wanitanya ini.

"Jaehyun, kau ayahnya, Jeno tidak akan membencimu karena ia sangat menyayangimu, percayalah padaku, kau mungkin melukainya tapi Jeno selalu mengharapkan mu," ucap Doyoung meyakinkan dan Jaehyun mengangguk menurutinya.

Doyoung membalas pelukan Jaehyun yang memeluknya.

"Aku mencintaimu Jaehyun, tapi semuanya ku serahkan padamu dan Jeno, jika Jeno tetap menolakmu, maka kita harus membatalkan semuanya," tutur Doyoung lembut, Jaehyun menggelengkan kepalanya menolak perkataan Doyoung.

Jaehyun lalu menjatuhkan kepalanya di atas dada Doyoung yang baru tertutup setengah bagiannya karena beberapa kancingnya belum tertaut dengan benar, sementara Doyoung menyisir rambut cokelat kehitaman Jaehyun, hal yang selalu ingin ia lakukan dengan Jaehyun.

"Aku juga mencintaimu dan Jeno kau tahu itu," ucap Jaehyun pasrah dengan suara seraknya.

"Aku tahu Jaehyun kau sudah mengatakannya, sekarang ayo temui Jeno dan kita selesaikan semuanya,"ajak Doyoung yang kini berdiri dan menarik Jaehyun.

Doyoung merapikan pakaian dan penampilannya, ia juga membantu Jaehyun yang tidak menunjukkan semangatnya.

Jaehyun lalu menarik Doyoung kembali kedalam pelukannya, ia tahu sekeras apapun ia berusaha Doyoung tetap akan menolaknya jadi ia hanya ingin memeluk Doyoung dan menciumnya jika saja semua ini berakhir buruk untuknya.

Sementara Doyoung membalas ciuman yang Jaehyun berikan, membagi perasaan kacau yang sama-sama mereka rasakan.

Selama perjalanan pulang baik Doyoung dan Jaehyun hanya diam. Mereka kembali menuju rumah orang tua Doyoung untuk menemui Jeno tapi ibu Doyoung mengatakan bahwa Jeno berada di rumah orang tua Jaehyun karena ibu Jaehyun mengajaknya.

Lantas Doyoung dan Jaehyun segera menuju kerumah orang tua Jaehyun. Doyoung berpamitan pada ibu dan ayahnya begitu juga dengan Jaehyun.

Jaehyun memberanikan diri untuk mengajak Doyoung berbicara, ia menanyakan semua tentang Jeno, Jaehyun sadar ia selalu berfokus pada Doyoung dan hanya menganggap Jeno sebagai alat untuk mendapatkannya lagi, seharusnya ia menjadi ayah yang lebih baik untuk Jeno.

Setelah sampai Doyoung memilih untuk berbicara pada orang tua Jaehyun tentang keadaan hubungan mereka yang sebenarnya.

"Ah Jeno di kamarmu Jaehyun, eomma meninggalkannya karena ingin mengambilkan cemilan untuknya, tapi kalian justru datang dengan keadaan berantakan seperti ini," ucap ibu Jaehyun memberi tahu anaknya, wanita cantik itu menatap kasihan kepada anak dan calon menantunya ini.

Ia tidak tahu apa yang terjadi dengan mereka, tapi ia yakin mereka sedang tidak baik saja.

Jaehyun buru-buru menuju kamarnya untuk segera menemui Jeno.

Jeno yang tadinya sibuk bermain dengan tabletnya setelah di tinggal neneknya. Menatap ke arah pintu ketika pintunya terbuka, ia pikir itu neneknya tapi Jeno justru mendapati Jaehyun yang berjalan masuk dan menutup pintu kamar.

Wajah bocah kecil itu tiba-tiba saja berubah menjadi pucat. Jeno bahkan segera beranjak dan hendak turun dari kasur kamar Jaehyun yang sangat besar.

Tapi Jaehyun segera menahannya dan menyuruh Jeno untuk duduk di pinggiran kasur sementara dirinya duduk bersila di lantai.

Jeno ingin menghindar tapi Jaehyun masih menahannya jadi bocah kecil itu hanya membuang muka dengan memanyunkan bibir mungilnya sebal.

"Jeno-ya," panggil Jaehyun lembut.

Jeno tidak menggubris panggil sang ayah.

"Jeno sayang," panggil Jaehyun lagi, kali ini lebih lembut daripada sebelumnya.

"Appa minta maaf yah,"ucap Jaehyun, awalnya ia mengelus luka di pelipis Jeno yang mulai memudar lalu mengelus pipi gembil anaknya itu.

Satu minggu tidak bertemu dan Jaehyun benar-benar merindukan Jeno. Ia tidak membayangkan tiga tahun hidupnya ini ia lalui tanpa mengetahui Jeno ada.

Jeno tidak menjawab, ia hanya menangis selagi menutup mulutnya seperti yang Jaehyun perintahkan padanya ketika memarahinya beberapa waktu lalu.

Jaehyun yang melihatnya menarik tangan mungil Jeno tapi si kecil justru menggelengkan kepalanya.

"Jangan di tahan, menangis saja," perintah Jaehyun dan Jeno menurutinya.

Jeno mulai menangis sesenggukan dengan wajahnya yang basah berlinang air mata.

"Appa tidak malah?" Tanya Jeno bergetar takut-takut Jaehyun memarahinya lagi.

Jaehyun justru tersenyum dan menghapus air mata anaknya itu.

"Tidak sayang, Appa justru minta maaf karena sudah memarahi Jeno, appa janji tidak akan meneriaki Jeno ataupun membentak Jeno lagi,"

"Benalkah?"

"Iya Jeno,"

"Appa tidak akan pelgi dengan bibi itu?" Tanyanya lagi, Jeno kini mulai menatap Jaehyun dengan matanya yang berbinar penuh harap.

"Appa tidak akan pergi, kan appa punya Jeno dan eomma,"jawab Jaehyun yang kini memeluk anaknya.

"Tapi appa peluk bibi," ucap Jeno dengan suaranya yang parau.

"Karena bibi Taeyong sedang sedih, dan bibi Taeyong teman appa dan eomma jadi appa memeluknya agar tidak sedih, Jeno kalau sedih memeluk eomma kan ?" Jelas Jaehyun, dan Jeno mengangguk menyetujuinya.

"Jadi appa tidak akan pelgi?" Tanya Jeno mengulang sembari menatap ayahnya.

Jaehyun menggelengkan kepalanya meyakinkan Jeno.

"Appa tidak akan pergi," Jawab Jaehyun tanpa ragu.

Jeno lalu memeluk ayahnya dan menangis dengan kencang

"Huwaaa appa," rengeknya memeluk Jaehyun erat.

"Jeno sedih-" ucap si kecil menggantung,

Lalu melanjutkan perkataannya, "eomma juga sedih dan selalu menangis jadi jeno pikil appa pelgi kalena Jeno," mengadu pada sang ayah.

Jeno bahkan terbatuk-batuk karena tangisannya.

"Maafkan appa yah, appa janji tidak akan pergi meninggalkan Jeno dan Eomma, jadi jangan menangis lagi," ucap Jaehyun meyakinkan, ia juga menepuk punggung Jeno yang batuk.

"Janji?" Tanya Jeno melepas pelukannya, ia mengangkat jari kelingkingnya pada Jaehyun.

"Janji," jawab Jaehyun menautkan kelingkingnya pada Jeno.

Jaehyun lalu menggendong Jeno menuju kamar mandinya, ia menegakkan Jeno di wastafelnya, Jaehyun lalu membasah kan tangannya dan mengelap muka Jeno, membersihkan wajah tampan anaknya ini.

"Sudah jangan menangis lagi, nanti eomma sedih, lagi pula Jeno pria tampan dan keren kan," bujuk Jaehyun yang di setujui Jeno dengan cepat yang masih sesenggukan karena menangis.

"Sini appa cium," tawar Jaehyun dan Jeno segera menyodorkan pipinya pada sang ayah.

Begitu Jaehyun dan Jeno selesai, mereka mendapati Doyoung yang baru saja masuk.

Doyoung yang melihat ayah dan anak itu berbaikan sudah tahu apa jawaban dari permasalahan mereka.

"Jadi? Jeno tidak lagi memusuhi appa?" Tanya Doyoung pada sang anak, wanita itu mengelus kepala anaknya sayang.

"Tidak! Kalena appa sayang Jeno," jawabnya dengan penuh bangga, Doyoung hanya tertawa geli sembari mengelap hidung Jeno yang memerah walaupun sebenarnya Doyoung sedikit kecewa.

"Kalau begitu ayo turun, ibumu menyuruh turun untuk makan malam," ajak Doyoung pada Jaehyun.

Dan Jaehyun yang mendengarnya menawarkan ajakan Doyoung pada Jeno yang di jawab dengan penuh semangat.

Jeno berlari terlebih dahulu, di ikuti oleh Jaehyun dan juga Doyoun.

Mereka makan malam dengan penuh tawa, Jeno yang sudah tidak lagi murung benar-benar membuat kakek dan neneknya senang bukan main.

Selesai makan mereka tidak langsung bubar, Jaehyun meminta ibu dan ayahnya untuk mendengar penjelasannya yang kurang lebih sama seperti yang Doyoung jelaskan.

Jaehyun lalu meminta maaf pada orang tuanya, Doyoung dan juga Jeno karena sudah menjadi anak, kekasih dan ayah yang buruk, tapi Jaehyun berjanji bahwa ia akan merubah dirinya.

Dan tentang pernikahan mereka, Jaehyun yang duduk di samping Doyoung menarik bahu wanita itu untuk mendekat padanya.

"Eomma, appa, perkenalkan ini Doyoung, ia kekasihku yang sangat kucintai," ucap Jaehyun penuh percaya diri.

Ia lalu menarik Jeno yang duduk di sampingnya dan berkata, "dan ini putra kami, Jeno".

Ibu dan ayah atau lebih tepat ibunya Jaehyun saja yang terharu dengan perbuatan anaknya itu.

Sementara Doyoung hanya tersenyum canggung dan malu, walaupun sejujurnya ia sangat senang.

Tidak berhenti di situ, Jaehyun kini menghadap pada Jeno menyuruhnya untuk berdiri di atas kursinya agar lebih tinggi daripada dirinya.

"Jeno," panggil Jaehyun.

"Ne appa?" Sahutnya bingung.

"Bolehkah appa menikah dengan eomma dan menjadi ayah Jeno?" Tanya Jaehyun membuat Jeno menatapnya dengan penuh decak kagum.

Jeno mengangguk cepat dan berkata, "bolehhh," dengan penuh semangat.

"Kalau begitu-," ucap Jaehyun menggantungkan perkataannya dan

berlutut ke pada Doyoug di hadapan kedua orang tuanya beserta anaknya.

"Aku sangat mencintaimu, maaf untuk semua yang telah kulakukan, tapi aku berjanji akan menjadi pria yang lebih baik untukmu, karenanya-,"

"Maukah kau menikah denganku?" Pinta Jaehyun, sembari mengeluarkan cincin milik Doyoung, membuat sang empunya terkejut melihatnya.

Yah Doyoung memang melepas cincinnya tapi ia menyimpannya, Doyoung menyimpannya dengan menjadikan cincin miliknya sebagai mainan kalung Jeno

"Cincinku..." Gumam Doyoung.

"Iya ini cincinmu, Jeno memberikannya padaku-,"

"Dan sekarang katakan padaku apa jawabanmu?" Tanya Jaehyun dengan penuh harap.

Pria itu menatap Doyoung dengan penuh harap, ia bahkan tidak menyangka dirinya akan berbuat sesuatu yang romantis seperti ini, terlebih di depan kedua orang tuanya.

Doyoung yang kini menjadi pusat perhatian mulai berkeringat dingin, tenggorokannya terasa kering.

Ia senang tapi Doyoung takut.

Wanita itu bimbang dan tertekan karena semuanya menatap ke arahnya penuh harap, terutama Jeno, ia pikir Jeno akan menolak Jaehyun.

Apa hanya dirinya yang terlalu berlebihan atau memang Jaehyun sudah kelewatan hanya saja mereka tidak begitu mempermasalahkannya.

"Tentu saja aku menerimanya, karena Jeno menerimamu Jaehyun," ucap Doyoung, dengan senyuman yang di paksakan nya.

Jaehyun yang melihatnya, menarik tangan Doyoung dan menggenggam eratnya.

"Tidak! Aku ingin jawabanmu Doyoung bukan karena Jeno, jawab saja tidak apa, apapun itu aku akan menerimanya," ungkap Jaehyun meyakinkan Doyoung.

Jaehyun tahu, Doyoung tertekan karenanya, wanita itu tidak terlihat seperti seseorang yang terharu bahagia, Doyoung lebih ke seperti orang yang akan menangis menderita karena pilihannya sendiri.

Wanita itu hanya menunduk diam.

"Sebenarnya aku..." Ucapnya menggantung seraya menatap anak dan tunangannya ini bergantian.

"Aku bukannya tidak bisa menjawabnya Jaehyun, aku belum siap, setelah semua ini, aku tidak yakin dengan hubungan ini, maafkan aku," sambung Doyoung dan beranjak dari tempatnya.

Jaehyun beserta Jeno ingin mengejar wanita kesayangan mereka tapi ibu Jaehyun menahannya.

"Kalian disini saja, biar aku yang berbicara dengannya," jelas wanita Jung itu pada kedua anak dan cucunya.

Sang suami menyetujui.

Jaehyun hanya duduk pasrah dengan Jeno yang kini bingung.

Sejujurnya Jaehyun tidak ingin di tolak, ia sudah sangat menginginkan Doyoung menjadi miliknya tapi Jaehyun tidak ingin memaksakan kehendaknya lagi pada Doyoung.

"Tidak apa nak, kau sudah berusaha, ia membutuhkan waktu," ucap sang ayah menyemangati.

Ia merasa kasihan pada anaknya, tapi ia juga tidak bisa membelanya, bagaimanapun juga anaknya itu sudah salah sedari awal, seharusnya ia bersyukur Doyoung sudah mau menerimanya kembali.

Doyoung duduk di atas sofa ruang tamu keluarga Jung, ia ingin menangis di tempat yang lebih tertutup tapi Doyoung tidak tahu dimana, ini bukan di rumahnya, ia bahkan baru dua kali mengunjungi rumah Jaehyun.

Ibu Jaehyun yang mengikuti Doyoung kini duduk di samping wanita cantik itu.

Calon menantunya ini menangis dengan terisak.

"Sudah nak Doyoung, jangan menangis," ucap wanita itu menenangkan.

Doyoung yang sudah sangat lelah hanya memeluk wanita yang lebih tua darinya itu.

"Aku mencintai Jaehyun eommonim, tapi aku lelah, Jaehyun terus melukaiku, bagaimana caranya aku mempercayainya lagi," isak Doyoung.

Wanita yang lebih tua itu bisa merasakan bahunya yang basah karena tangisan Doyoung.

"Iya aku tahu, Jaehyun juga mencintaimu tapi ia sudah berbuat salah padamu," timpal wanita itu, menyetujui fakta yang Doyoung katakan tanpa membela anaknya sedikitpun.

Ia tidak bisa mengelak, Jaehyun memang salah di sini, ia tidak menyusul Doyoung untuk memaksanya menerima Jaehyun, ia tidak sejahat itu.

Wanita itu hanya ingin Doyoung merasa lebih baik dari permasalahannya ini.

"Anakku sudah sangat kurang ajar karena membuat wanita secantik dirimu menangis seperti ini," ucap ibu Jaehyun yang menarik Doyoung untuk melihatnya lalu memeluk Doyoung erat.

"Aku selalu menginginkan seorang putri secantik dirimu, tapi aku hanya bisa memiliki Jaehyun, karenanya aku terlalu memanjakannya dan malah membuatnya menjadi pria yang brengsek," sesal wanita itu, dan Doyoung menggeleng menanggapinya.

"Tidak eommonim, anda tidak salah, dari awal aku yang salah karena mengejar Jaehyun padahal aku tahu Jaehyun tidak menyukaiku," sanggah Doyoung, tidak ingin membuat ibu Jaehyun merasa bersalah.

"Kau baik sekali,"jawab ibu Jaehyun yang terharu, ia menyayangkan Doyoung yang menolak anaknya tapi ia juga tidak bisa memaksa, Jaehyun sudah memperlakukannya dengan sangat buruk.

Doyoung menceritakan semuanya, bagaimana anaknya bersikap pada wanita cantik ini, ia tahu Jaehyun selalu mendapatkan apa yang ia inginkan tapi ia tidak menyangka Jaehyun akan bersikap kasar.

Seumur ia menikah dengan ayah Jaehyun, belum pernah sekalipun pria itu mencampakkan tangannya pada dirinya, tapi anaknya, Jaehyun, dengan mudahnya melukai orang lain padahal ia mencintai orang tersebut.

Wanita itu bahkan bisa melihat tanda kemerahan di tubuh Doyoung yang terlihat akibat wanita itu membungkuk karena menangis, ia yakin anaknya itu pasti memaksa Doyoung berhubungan sebelum mereka datang kemari.

Belum lagi aroma tubuh Doyoung yang di baluri bau Jaehyun.

Ia hanya bisa menghela nafasnya berat.

Ia memang menginginkan Jaehyun memiliki istri lalu mendapatkan cucu darinya, tapi tidak seperti ini.

Mengetahui Jaehyun menghamili Doyoung saja sudah membuatnya marah besar dan tadi, Doyoung baru saja menceritakan kelakuan anaknya itu.

Ia sudah tidak tahu harus bagaimana lagi.

"Nak Doyoung dengar, aku tidak bisa membatalkan pernikahan kalian, aku juga tidak ingin memaksamu untuk menikahinya,tapi kita juga tidak bisa menundanya lagi hanya untuk menunggu kau merasa yakin dan bisa mempercayai anakku, seharusnya dari awal kau menolak Jaehyun terlebih dahulu daripada mementingkan Jeno," jelas ibu Jaehyun.

"Aku tidak menyalahkan mu, tapi pernikahan ini bukan hanya tentang kalian saja, pernikahan ini juga menyangkut keluarga kita, karena itu kita tidak bisa membatalkannya ataupun menundanya lagi, ibu mohon atas nama kedua keluarga kita,"

"Namun jika kau bersikeras dan benar-benar tidak bisa menerimanya maka kalian boleh bercerai dan berpisah, aku juga tidak akan mengambil Jeno darimu karena itu hak kalian berdua dalam mengurusnya tapi–," ucap wanita itu menggantung.

"Aku ingin Jeno memiliki dan tetap memakai marga Jaehyun, anakku itu masih hidup dan ia juga memiliki hak atas anaknya,"

Doyoung yang mulai tenang mendengar penjelasan ibu Jaehyun dengan seksama, ia tahu seharusnya dirinya menolak dari awal agar tidak menjadi seperti ini.

"dan seandainya kau hamil lagi maka anakmu itu akan selalu memiliki marga keluarga kami, tidak apa jika kalian menambah anak lalu berpisah tapi kondisi ini harus di penuhi walaupun sebaiknya kalian lebih fokus untuk membesarkan Jeno terlebih dulu dan tidak berpisah setelahnya, karena aku sangat menyukaimu menjadi anggota keluargaku," ucap wanita itu final.

Membuat wajah Doyoung memerah tersipu, ia tidak menyangka ibu Jaehyun akan sangat menerimanya dan di saat bersamaan merasa malu karena ibu Jaehyun menyadari dirinya yang baru saja berhubungan dengan Jaehyun, ia yakin ibu Jaehyun tahu dari mencium bau tubuhnya.

"Kau dan Jaehyun sebaiknya membicarakan perasaan kalian lebih baik, kalian saling mencintai, jadi kali ini yakinkan dirimu dan Jaehyun bahwa bahwa kalian memang menginginkan pernikahan ini dan tidak akan menyesalinya, selesaikan semua salah paham kalian dan katakan pada Jaehyun perasaanmu yang sesungguhnya, semua keluhan mu padanya, anakku itu sangat menginginkanmu, dan aku yakin ia akan senang mendengar perasaanmu yang sebenarnya," tutur ibu Jaehyun menasehati Doyoung, menurutnya masalah Jaehyun dan Doyoung itu simple.

Tapi mereka berdua terlalu bodoh untuk menyikapinya.

"Eomma benar-benar berharap kau tidak akan berpisah dari Jaehyun dan menerimanya kembali walaupun secara perlahan," tutur wanita itu yang menatap Doyoung seksama, ia tersenyum manis pada calon menantunya ini.

"Sekarang beristirahat lah dan tenangkan dirimu, aku akan berbicara pada ayahmu dan mengurus masalah pernikahan kalian,"

Doyoung mengangguk dan menjawab

"Terima kasih banyak eommonim."

-TBC-

Haiii haiii, gimana nih udah menyakitkan atau belum huhu T.T

Btw kalian Tim balikan atau Tim bubaran ? Komen yaa hehe:3

Oh iya aku juga udah nyiapin next chapt buat OMM semoga aja bisa buruan update \\ siapa tau double update sekalian hahahaha

Jangan lupa vote dan komen ya.

Sekali lagi terima kasih

Ily semuanyaaa 3