Disclaimer : Tokyo Ghoul by Sui Ishida
Chapter 8
Pagi yang cerah di sebuah sekolah bernama Aogiri Highschool.
Saat ini, terlihat seorang gadis yang berada di salah satu kelas di lantai dua sedang duduk sambil sesekali melihat ke arah jendela yang berada tepat di samping tempat duduknya. Dia sedang duduk sambil melihat ke arah gerbang yang bisa dilihat dari jendela itu.
Dia sedang menunggu seorang siswa yang ruang kelasnya berbeda dengannya. Saat siswa yang dia tunggu sudah terlihat memasuki gerbang, dia pun langsung keluar dari kelasnya untuk menghampiri orang itu. Hal itu sudah menjadi kebiasaan dari gadis itu.
Biasanya, dia akan menaruh tasnya terlebih dulu di kelasnya sendiri setelah berjalan bersama siswa yang dia tunggu tadi. Setelah itu, gadis itu akan mengunjungi kelas dari siswa yang dia tunggu tadi dan mengajaknya berbincang sebentar, walaupun sebenarnya sangat jelas kalau gadis itu yang lebih banyak berbicara.
Setelah itu, gadis itu akan kembali ke kelasnya sendiri saat bel masuk sudah berbunyi. Tujuannya melakukan semua itu hanya satu, mendapatkan cinta dari siswa yang selalu dia tunggu setiap pagi itu.
Gadis itu adalah Rize dan siswa yang dia tunggu itu tidak lain adalah Kaneki. Saat ini, dia dan Kaneki sudah berada di kelas 2 di Aogiri Highschool. Itu berarti sudah cukup lama sejak pertama kali Rize melalukan kebiasaan ini dan banyak hal lainnya hanya untuk mendapatkan cinta dari Kaneki. Tetapi, apakah dia berhasil? Sayangnya tidak! Pintu hati Kaneki masih saja tertutup untuk Rize.
Kalau boleh jujur, terkadang Rize merasa sakit hati karena sikap Kaneki yang seakan tidak menganggapnya benar-benar ada di dalam hidupnya. Tetapi, mau bagaimana lagi? Dia sangat mencintai pemuda berambut putih itu. Lagipula, Rize juga ingat kalau dirinya yang dulu juga cukup menyakiti Kaneki. Jadi, terkadang dia juga berpikir kalau dia sudah seharusnya menahan rasa sakit di hatinya hanya demi seseorang yang dulu dia sakiti itu.
..
.
Sementara itu, di pintu gerbang Aogiri Highschool. Kaneki baru saja masuk ke dalam pintu gerbang sekolah itu dengan kebiasaan yang masih sama, membaca buku sambil berjalan. Dia pun berjalan menuju kelas barunya di hari pertamanya sebagai siswa kelas dua di sekolah itu.
Saat Kaneki sedang berjalan di lorong yang masih berada di lantai satu, dia melihat seorang gadis di depannya yang terlihat sedang kebingungan. Gadis itu adalah murid baru di sekolah itu. Dia memiliki rambut pendek berwarna biru gelap dan poni yang agak panjang menutupi mata kanannya.
"Aduh, sekolah ini besar sekali! Di mana ruang kepala sekolah?" gumam gadis itu.
Karena posisi gadis itu membuat Kaneki sedikit kesulitan untuk lewat, Kaneki pun memanggilnya agar dia bisa minggir.
"Permisi nona, bisa minggir sebentar?"
"Ah, ada seseorang di belakangku. Sebaiknya aku bertanya kepadanya saja." pikir gadis itu saat mendengar suara Kaneki.
Namun, betapa terkejutnya gadis itu saat dia berbalik, matanya terbelalak menatap lekat pemuda berambut putih itu. Seakan-akan tidak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini.
"Ka-kaneki?" ucap gadis itu dengan terbata-bata.
Kaneki pun heran mendengar cara gadis itu memanggilnya. Dia pun mencoba memperhatikan wajah gadis itu. Walaupun Kaneki jarang memperhatikan wajah para gadis di sekolah itu, tetapi dia yakin kalau dia tidak pernah melihat wajah gadis itu di sekolahnya itu. Namun, dia merasa pernah melihat wajah gadis itu sebelum masuk sekolahnya itu.
Di saat yang bersamaan, terlihat Rize yang baru saja menuruni tangga. Dia terdiam sebentar saat baru turun dari tangga itu.
"Tumben sekali. Selambat-lambatnya Kaneki-kun datang ke sekolah, biasanya aku sudah melihatnya saat aku baru sampai di tangga, dia ke mana ya?" pikir gadis itu yang kemudian melihat ke kanan dan kiri, lalu kembali berjalan mencari Kaneki.
Saat sudah di sebuah persimpangan dan menoleh ke kiri, Rize pun menemukan Kaneki saat sedang berbicara dengan gadis yang sedang mencari ruang kepala sekolah tadi. Rize pun penasaran dengan siapa Kaneki saat ini dan sedang apa, tetapi dia merasa kenal dengan gadis itu.
"Itu dia Kaneki, dia sedang bersama siapa di sana? Tetapi, tunggu dulu. Gaya dan warna rambut itu, apa mungkin ...?" pikir Rize yang kemudian memanggil Kaneki.
"Kaneki-kun!"
Kaneki pun menoleh ke arah Rize yang memanggilnya. Gadis berambut pendek tadi pun ikut menoleh ke arah Rize.
"Touka-san?" Rize mencoba memastikan.
Setelah Rize menyebutkan nama gadis itu, Kaneki baru ingat kalau dia pernah bertemu dengannya. Gadis bernama Touka itu adalah seorang pelayan di Kafe Anteiku, sebuah kafe yang dulu sering dia kunjungi sejak hari pertama masuk SMA sampai dia menjadi pacar Rize.
Gadis yang ternyata bernama Touka itu pun sempat terkejut saat menatap wajah Rize, tetapi ekspresi wajahnya langsung berubah. Dia terlihat sedang menahan amarahnya.
"Ternyata dia juga bersekolah di sini." gumam Touka di dalam hati.
Tanpa membalas perkataan Rize, Touka langsung pergi meninggalkannya dan sempat menyenggolnya secara sengaja saat ingin melewatinya. Kaneki yang melihat itu mencoba memanggil Touka untuk menanyakan alasannya melakukan itu.
"Touka!"
Tetapi, dia sudah terlanjur berbelok dan menghilang dari pandangan Kaneki. Touka pun pergi tanpa sempat bertanya tentang letak ruangan kepala sekolah. Dia berpikir untuk mencari ruangan itu sendiri atau bertanya kepada murid lain yang kebetulan berpapasan dengannya. Kaneki pun memastikan keadaan Rize setelah disenggol oleh Touka.
"Kau baik-baik saja, Rize?"
"Aku baik-baik saja, Kaneki-kun." balas Rize.
"Bukankah dia pelayan di Kafe Anteiku?" tanya Kaneki lagi.
"Dia bukan hanya pelayan, tetapi dia juga anak dari pemilik kafe itu."
"Benarkah?"
"Ya, kau ingat'kan kalau setiap kita pulang bersama aku selalu berpisah denganmu di depan kafe itu karena aku bekerja paruh waktu di sana? Karena itu aku tahu kalau Touka adalah anak dari pemilik kafe itu."
"Tetapi, aku lihat dia sangat kesal denganmu. Apakah ada masalah di antara kalian?"
"Entahlah, aku juga tidak mengerti apa masalahnya denganku. Yang jelas, dia selalu terlihat tidak senang dengan keberadaanku di kafe milik ayahnya. Bahkan dia sempat memaksa ayahnya agar aku tidak diterima bekerja di sana, untungnya ayahnya masih mau menerimaku bekerja di sana.
Dia ditugaskan untuk mengajariku selama bekerja di sana, tetapi dia mengajariku dengan cukup keras. Dia sempat beberapa kali membentakku, bahkan kadang hanya karena kesalahan kecil." kata Rize menjawab pertanyaan Kaneki.
"Ya sudahlah, sebaiknya kita kembali ke kelas saja."
"Baiklah, Kaneki-kun."
Setelah itu, mereka pun berjalan bersama sambil berbincang.
"Kalau diingat lagi, aku sudah beberapa kali mengajakmu ikut singgah di Anteiku setiap kita pulang sekolah, Kaneki-kun. Sayang sekali kau selalu menolaknya."
"Bukankah sudah ku bilang kalau aku ingin belajar dan melatih kemampuan beladiriku di rumah, Rize?"
"Ayolah Kaneki-kun, apa kau tidak mau sesekali menyempatkan diri untuk singgah di tempat kerjaku itu?"
"Mungkin akan ku pikirkan hal itu nanti, Rize."
..
.
Saat bel masuk sudah berbunyi, Touka baru saja sampai di ruang kepala sekolah setelah diantar oleh salah satu murid di sekolah itu. Seperti Tsukiyama dan Rize, Touka disuruh ke ruang kesiswaan dan ditanyai tentang identitasnya. Setelah itu, dia pun disuruh menunggu wali kelas yang akan mengantarkannya ke kelasnya. Setelah sampai di depan kelasnya, dia pun disuruh menunggu dipanggil oleh guru yang sedang mengajar di kelasnya itu.
"Baiklah semuanya, kita kedatangan murid baru hari ini. Kirishima-san, silakan masuk." kata guru yang sedang mengajar itu.
"Kirishima?" batin salah satu siswa saat mendengar nama keluarga Touka.
Saat Touka masuk dan melihat siswa itu, dia langsung terkejut dan menunjuk siswa itu.
"Kau lagi?" kata Touka dengan nada bicara yang agak tinggi, sehingga menarik perhatian guru dan murid lain di kelas itu.
"Ternyata benar, itu Touka." pikir siswa itu yang sempat menatap wajah Touka sebentar dan kembali mengalihkan pandangannya ke buku pelajarannya.
"Kau mengenal Kaneki, Kirishima-san?" tanya guru itu dengan menyebutkan nama siswa yang membuat Touka terkejut tadi, Kaneki Ken.
"A-anoo ... i-itu karena ... dia sempat menjadi langganan di kafe milik ayah saya." Kata Touka dengan agak gugup.
"Benarkah? Tetapi, kau sepertinya sangat kesal saat melihatnya, apakah ada masalah di antara kalian?" tanya guru itu lagi.
"Masalah? Tidak ... tentu saja tidak." jawab Touka yang semakin terlihat gugup.
Guru dan para murid di kelas itu pun semakin penasaran dengan hubungan antara Touka dan Kaneki. Tetapi, karena guru itu tidak ingin terlalu mengurusi urusan mereka, guru itu pun menghela napas dan langsung menyuruh Touka untuk memperkenalkan diri.
"Ya sudahlah Kirishima-san, silakan perkenalkan dirimu kepada murid yang lain." kata guru itu.
"Baiklah, Sensei! Perkenalkan, namaku Touka Kirishima, kalian bisa memanggilku Touka. Aku murid pindahan dari Kishou Academi. Salam kenal." ucap Touka yang mulai agak tenang sambil memperkenalkan dirinya dengan ramah dan dengan senyuman manisnya.
"Baiklah semuanya, apakah ada pertanyaan?" kata guru itu lagi.
"Baiklah, Kirishima-san, silakan duduk di salah satu bangku kosong di sana." setelah mengatakan itu, guru itu pun menyuruh seorang murid untuk mengangkat tangannya dan menyuruh Touka untuk duduk di sebelahnya.
Touka pun mengikuti pelajaran seperti murid lainnya, walaupun dia tidak benar-benar bisa melakukannya. Dia tidak bisa fokus dalam pelajaran. Dia sempat beberapa kali melihat ke arah Kaneki dan kembali mencoba fokus ke pelajaran. Sebenarnya, ada sesuatu yang membuatnya tidak nyaman jika harus sekelas dengan Kaneki, sehingga dia risih dan berharap bel istirahat segera berbunyi agar bisa keluar dari kelas itu secepatnya.
..
.
Bel istirahat pun berbunyi. Setelah guru di kelas Kaneki dan Touka meninggalkan kelas mereka, Touka langsung berlari keluar kelas itu dan semakin membuat para murid di kelas itu penasaran dengan hubungan di antara Touka dan Kaneki. Namun, Kaneki sendiri tidak terlalu mempedulikan tindakan Touka itu karena dia merasa tidak memiliki urusan yang cukup penting dengannya.
Kembali ke Touka. Saat ini, gadis berambut pendek itu sedang berada di kantin. Sebenarnya, dia tidak ingin berlama-lama di tempat itu karena berpikir kalau Kaneki bisa saja ke sana. Dia hanya membeli nasi kepal dan jus kotak untuk dimakan di tempat lain yang dia pikir tidak banyak dikunjungi para murid, sehingga dia berpikir kalau Kaneki tidak akan ke sana.
"Hah?"
Sayangnya, dugaannya itu salah. Saat dia baru memasuki pintu masuk, Kaneki sudah duduk di salah satu kursi yang ada di tempat itu, dia duduk di samping Rize sambil memakan bekal yang dibuat olehnya. Tempat itu adalah perpustakaan, tempat yang sudah biasa didatangi Kaneki dan Rize setiap jam istirahat.
"Shh"
Touka yang sempat terkejut langsung mendapatkan teguran dari penjaga perpustakaan yang memberikan isyarat dengan menaruh telunjuknya di depan bibirnya agar tidak berisik. Touka yang sebenarnya sudah sangat kesal hanya bisa menahan amarahnya setelah ditegur oleh penjaga perpustakaan itu. Dia pun mencoba mencari tempat lain. Kali ini, dia benar-benar berharap untuk tidak bertemu dengan Kaneki di sekolah itu, walaupun hanya di saat jam istirahat.
Di sinilah Touka sekarang, duduk di atap sekolah Aogiri Highschool sambil memakan makanannya dan sesekali menoleh ke arah pintu masuk dari tempat itu karena khawatir kalau Kaneki akan datang ke sana. Saat sedang menikmati makanannya, dia pun terlarut dalam lamunannya sendiri.
~Touka's POV~
Kaneki, kenapa aku harus bertemu dengannya lagi? Bahkan saat aku berusaha menghindarinya, aku malah bertemu dengannya. Sampai-sampai aku berpikir kalau dia sengaja memilih tempat yang bisa membuatnya bertemu denganku, percaya diri sekali aku!
Di sini, kuharap dia tidak akan bisa menemukanku. Jujur, aku sama sekali tidak ingin bertemu dengannya. Membencinya? Tidak, aku tidak membencinya, memangnya dia punya salah apa denganku? Justru aku ragu, apakah aku bisa membencinya setelah ada rasa nyaman di hatiku?
Cinta, itu adalah rasa yang kumaksud. Aku mencintai pemuda berambut putih itu, Kaneki Ken. Lalu, kenapa aku sangat ingin menghindarinya? Biar aku ceritakan. Tetapi sebelum itu, biar ku ceritakan dulu tentang diriku.
Namaku adalah Touka Kirishima, anak dari Arata Kirishima dan Hikari Kirishima. Aku memiliki adik laki-laki benama Ayato Kirishima.
Dulu, ayahku adalah seorang mantan karyawan di salah satu perusahaan swasta yang harus kehilangan pekerjaannya setelah perusahaan tempat kerjanya bangkrut saat aku baru berada di kelas 2 SMP.
Karena sulitnya mencari pekerjaan di usianya yang sudah cukup tua, ayahku pun mencoba membuka usaha sendiri setelah mendapatkan saran dari ibuku. Dengan modal tabungan yang masih tersisa dan beberapa resep minuman yang diajarkan oleh ibuku, ayahku pun membuka sebuah kedai minuman di dekat salah satu taman di Tokyo. Kedai itu bernama "Kedai Anteiku".
Ibuku ikut membantu ayahku karena tidak ingin dia kewalahan dan merasa bisa membagi waktu antara mengurus kedai dan melakukan pekerjaan sebagai ibu rumah tangga. Aku dan Ayato yang saat itu masih duduk di kelas 4 SD juga ikut membantu mereka setiap pulang sekolah.
Kedai kami cukup laris karena keramahan kami dalam melayani pelanggan dan rasa minuman yang enak. Kebutuhan kami pun terpenuhi dengan baik, termasuk keperluan sekolahku dan Ayato.
Larisnya kedai itu juga membuat ayahku memiliki cukup uang untuk mengembangkan usahanya menjadi sebuah kafe sekitar beberapa hari setelah pengumuman kelulusanku dari SMP-ku. Dia membeli sebuah bangunan yang tidak jauh dari kedainya dan menjadikannya sebuah kafe dengan nama "Kafe Anteiku".
Karena aku dan Ayato saat itu sedang libur, waktu yang kami miliki untuk membantu ayah mempersiapkan dan mengurus kafe itu menjadi lebih banyak. Ayahku juga membuka lowongan pekerjaan karena merasa memiliki cukup uang untuk menggaji pegawai dan supaya bisa membantunya saat nanti aku dan adikku sudah masuk sekolah lagi, dia pun mendapatkan beberapa pegawai.
Setelah melewati masa liburan yang terasa cukup singkat, aku pun masuk sekolah baru bernama "Kishou Academi". Adikku juga sudah naik kelas ke kelas 5 di SD-nya. Setelah pulang di hari pertama kami masuk sekolah, aku dan Ayato melayani pelanggan kami seperti biasa. Di hari itu, dia datang ke kafe kami saat aku sedang membantu ayahku, seorang pemuda seumuranku dengan rambut putih yang menarik perhatianku.
Saat itu, salah satu pelayan perempuan sedang melayaninya, sementara aku menunggu pesanan pelanggan yang sedang dibuat oleh ayahku. Kesan pertamaku saat melihatnya, dia adalah pemuda yang cukup pemalu.
Hal itu terlihat dari cara bicaranya yang canggung saat berbicara dengan pegawai ayahku itu. Rasanya ingin sekali aku langsung mengatakan kepadanya "Hey, untuk apa kau canggung seperti itu? Tenang saja, dia tidak akan memakanmu!", tetapi tentu saja aku tidak ingin membuatnya semakin terganggu.
Tetapi kalau aku perhatikan lagi, sifat pemalunya itu membuatnya terlihat manis. Setelah mengantarkan pesanan pelanggan lain, ku lihat lagi wajahnya yang sedang menunggu pesanan sambil membaca novelnya. Ya ampun, ekspresi wajahnya tetap terlihat manis, walaupun saat tidak tersenyum.
Hey, tunggu dulu. Perasaan apa ini? Kenapa aku sangat senang saat melihat wajahnya? Hal itulah yang aku pikirkan saat merasakan perasaan yang tiba-tiba muncul di dalam hatiku saat itu. Aku juga berpikir, apakah aku mencintainya? Ayolah Touka, mana mungkin kau langsung mencintainya? Bahkan kau belum tahu siapa namanya. Lagipula, kau tidak bisa menjamin kalau dia akan datang lagi. Hal itu yang aku katakan kepada diriku sendiri.
Aku pun berusaha menahan perasaanku ini, walaupun sebenarnya sangat sulit. Bayangan wajahnya sering muncul dan sulit untuk dihilangkan. Aku berusaha agar tidak ketahuan oleh seluruh keluargaku dan para pegawai di kafe ayahku kalau aku sedang memiliki perasaan yang menurutku masih belum jelas seperti ini. Aku terus berusaha menjalani hari dengan perasaan yang terus menggangguku ini.
Beberapa hari kemudian, dia datang lagi ke Kafe Anteiku. Jujur saja, aku masih belum bisa menghilangkan perasaanku ini. Karena itu, aku ingin sekali mendekatinya selama ada kesempatan, tetapi aku tetap berusaha supaya tidak ketahuan.
Saat dia duduk di salah satu kursi pelanggan, aku langsung menghampirinya dengan membawa daftar menu dari Kafe keluargaku itu. Saat dia sedang membaca daftar menu itu, aku mencoba memastikan kalau keluargaku dan para pegawai ayahku sedang sibuk. Keadaan saat itu berpihak kepadaku, mereka saat itu sedang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.
Aku pun mencoba mengajaknya berbincang, aku juga menanyakan namanya. Namanya adalah Kaneki, Kaneki Ken. Saat aku mengajaknya bicara, dia hanya menjawab seadanya dengan ekspresi yang sedikit gugup.
Hal itu membuat ingin sedikit menggodanya. Aku pun mendekatkan pipiku ke samping pipinya saat menawarkan menu favorit di Kafe keluargaku itu sambil memasang ekspresi semanis mungkin. Benar saja, dia terlihat semakin gugup dengan tindakanku itu, walaupun aku merasa kalau dia masih belum tertarik kepadaku.
Kaneki pun akhirnya memilih menu yang aku tawarkan. Aku menulis pesanannya dan menyuruhnya menunggu sebentar sambil tersenyum semanis mungkin. Setelah mengantarkan pesanannya, aku pun kembali ke tempatku sambil memperhatikannya yang sedang menikmati hidangannya. Tiba-tiba, dia terlihat menerima sebuah telepon, aku penasaran dengan siapa dia bicara.
Setelah menikmati hidangannya dan membayar, dia kembali ke tempat duduknya tadi. Dia terlihat sedang menunggu seseorang. Tidak lama setelah menunggu, Kaneki pun terlihat memeriksa ponselnya dan melihat ke arah pintu Kafe Anteiku yang terbuat dari kaca. Aku pun ikut melihat ke arah yang sama, terlihat sebuah mobil singgah di depan kafe keluargaku itu. Dia pun keluar kafe itu dan menghampiri mobil itu.
Saat pengendara mobil itu keluar, ayahku langsung menyuruh salah satu pegawai untuk menjaga kasir sebentar. Setelah itu, dia menghampiri sopir itu. Karena penasaran, aku pun ikut menghampirinya. Ternyata, sopir itu adalah teman sekolah ayahku dulu, ayahku juga memperkenalkan diriku kepadanya.
Satu hal yang membuatku terkejut. Ternyata, dia adalah sopir pribadi Kaneki, berarti dapat dipastikan kalau Kaneki berasal dari keluarga orang kaya. Bukan hanya itu saja, ternyata ayah Kaneki adalah pengusaha paling kaya ke-10 di Tokyo. Tidak bisa dibayangkan seberapa kaya keluarga dari Kaneki.
Mengetahui itu, aku pun bingung. Sebenarnya aku merasa sudah benar-benar menyukai Kaneki, tetapi apakah aku pantas bersamanya dengan status keluargaku saat itu? Aku tahu kalau ayahku sudah mulai berhasil dengan usahanya, tetapi aku merasa kalau kesuksesannya ini masih belum seberapa. Memang tidak semua orang kaya suka membeda-bedakan seseorang berdasarkan status sosialnya, tetapi apakah itu berarti aku bisa bersamanya.
Dua hari berjalan dengan aku yang masih memikirkan keraguanku ini, dia datang kembali ke Kafe Anteiku bersama seorang teman berambut pirang dengan sebuah earphone menggantung di lehernya. Ku biarkan seorang pelayan melayani mereka, sementara aku mencoba fokus melayani pelanggan lain. Walaupun sebenarnya aku tidak bisa, apalagi saat temannya yang Kaneki panggil dengan nama Hide itu seperti sedang memujiku, aku malah berpikir kalau Kaneki yang sedang memujiku.
Saat baru selesai menulis pesanan salah satu pelanggan, seorang gadis dengan rambut panjang berwarna ungu datang ke kafeku. Matanya yang sedang membaca sebuah novel dihiasi oleh sebuah kacamata merah muda. Saat dia sedang duduk dan dilayani oleh seorang pelayan, aku melihat Kaneki yang menatap lekat gadis itu.
Jujur saja, aku merasa tidak suka dengan tatapan Kaneki itu. Cemburu? Anggap saja itu yang memang aku rasakan saat itu. Apalagi saat Hide langsung menebak kalau Kaneki menyukai gadis itu, walaupun Kaneki terlihat berusaha membantahnya.
Rasa cemburuku membuatku tidak peduli dengan status sosial keluargaku atau kenyataan kalau aku yang tidak memiliki hubungan apapun dengan Kaneki, sehingga tidak pantas untuk cemburu kepadanya. Gadis itu bernama Rize, setidaknya itu yang ku dengar dari mulut Hide saat aku secara tidak sengaja menguping pembicaraan mereka tadi.
Tidak lama, Hide terlihat mendorong Kaneki untuk membawa hidangannya dan duduk satu meja dengan Rize. Setelah itu, Hide kembali ke tempat duduknya dan membiarkan mereka berbincang. Seperti biasa, Kaneki masih saja lebih sedikit berbicara daripada orang yang berbincang dengannya. Aku pun kembali melanjutkan pekerjaanku, kalau bukan karena tidak ingin ketahuan sedang memperhatikan Kaneki, aku mungkin sama sekali tidak akan fokus saat melayani pelanggan yang lain.
Di sela perbincangan Kaneki dan Rize, Kaneki terlihat menelepon seseorang. Dari yang aku dengar, sepertinya dia meminta agar sopirnya menjemputnya. Benar saja, tidak perlu menunggu terlalu lama, sopir pribadinya langsung datang. Aku hanya bisa menatap kepergian mereka dengan sedih. Membayangkan mereka berkencan dengan mesranya membuatku sangat sakit hati karena cemburu.
Hari-hari selanjutnya adalah sumber rasa sakit untukku. Hampir setiap hari, aku melihat mereka singgah di Kafe Anteiku sambil bermesraan, itu sudah cukup untuk membuatku yakin kalau mereka sudah menjadi sepasang kekasih. Aku menjadi malas ke kafe keluargaku itu. Kalau bukan karena ingin memuaskan pelangganku, aku mungkin tidak akan fokus sama sekali dalam bekerja.
Aku sudah beberapa kali sengaja terlambat pulang sekolah dengan berbagai alasan. Aku juga terus mencari cara agar tidak melayani Kaneki dan Rize. Dari melayani pelanggan lain sampai berpura-pura sakit aku lakukan hanya demi menjauhi mereka.
Pernah sekali aku terpaksa harus melayani mereka, aku berusaha keras menahan rasa sakit di hatiku dan bersikap seramah mungkin kepada mereka. Setelah selesai, aku langsung meminta izin ke toilet dan menangis sejadi-jadinya di sana, namun dengan suara yang sedikit ditahan agar tidak ketahuan.
Saat itu, aku sudah tidak tahu lagi harus melakukan apa. Merebut Kaneki? Memangnya aku bisa membuat Kaneki yang sudah memiliki kekasih jatuh cinta kepadaku? Kalaupun berhasil, bukankah hal seperti itu adalah perbuatan jahat? Merebut apa yang sudah menjadi milik orang lain. Menyuruh Kaneki dan Rize supaya tidak ke Kafe Anteiku lagi? Tidak, itu sama sekali tidak profesional dan sama saja menghalangi rezeki ayahku.
Aku hanya bisa menjalani hari-hari selanjutnya bersama rasa sakit di hatiku. Untunglah, Aku tidak perlu waktu lama untuk menyandang rasa sakit itu. Setelah tiga minggu lebih aku lihat mereka sering datang ke kafe keluargaku, tiba-tiba mereka tidak lagi terlihat datang ke kafe itu. Awalnya, aku berpikir kalau mereka memang sedang tidak ingin ke kafe kami dan bisa saja datang keesokan harinya. Tetapi, aku tetap saja tidak melihat mereka datang.
Aku sempat heran, apa yang terjadi kepada Kaneki dan Rize? Tetapi kalau dipikir lagi, untuk apa aku peduli? Justru aku merasa kalau memang ini yang aku inginkan! Dengan tidak adanya mereka, aku bisa kembali menikmati pekerjaanku bersama seluruh keluargaku dan karyawan lain.
Aku tidak perlu lagi berusaha untuk mencari alasan agar bisa terlambat ke Kafe Anteiku, aku sudah mulai disiplin. Saat bel pulang sekolah berbunyi, aku segera ke kafe dan bersiap untuk melayani pelanggan kafe keluargaku itu. Aku juga bisa lebih ramah dalam melayani pelangganku, bahkan lebih ceria dari sebelumnya. Hasilnya, kafe kami menjadi semakin laris.
Aku sangat senang dengan semua pencapaian yang telah diraih oleh kafe kami saat itu. Namun sayang, kebahagiaan itu harus kembali terganggu. Saat aku sedang tidak sibuk, aku melihat ada sepasang insan di depan pintu Kafe keluargaku. Itu adalah Kaneki dan Rize, sepasang kekasih yang sudah lama tidak terlihat di kafe kami.
Namun, ada sesuatu yang aneh tertangkap oleh mataku. Mereka tidak terlihat begitu mesra layaknya sepasang kekasih. Bahkan saat Rize ingin menggandeng tangan Kaneki, pemuda itu terlihat tidak suka dan melepaskannya. Saat Rize ingin masuk, dia terlihat tidak ingin masuk bersama Rize layaknya sepasang kekasih yang ingin makan bersama di Kafe Anteiku seperti dulu. Dia langsung meninggalkan Rize setelah berbicara dengannya sebentar.
Ekspresi wajah Kaneki juga terlihat aneh. Saat aku memperhatikannya, hanya ada ekspresi wajah yang terlihat sangat dingin. Tidak seperti saat pertama kali datang ke Kafe Anteiku, di mana ekspresi wajahnya akan tetap terlihat manis walaupun tidak sedang tersenyum.
Aku penasaran dengan apa yang terjadi di antara mereka. Apakah mungkin Rize melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan kepada Kaneki? Ayolah Rize, aku sudah merelakan Kaneki untukmu. Jangan katakan kalau semua firasatku itu benar. Tetapi, aku mencoba menghilangkan prasangka burukku itu saat Rize sudah masuk ke Kafe keluargaku.
Ternyata, dia datang bukan sebagai pelanggan. Dia datang dengan tujuan untuk bekerja paruh waktu di kafe kami. Aku tidak tahu apa yang membuatnya ingin bekerja di kafe kami. bukankah Kaneki cukup kaya? Kalau dia sedang memiliki masalah keuangan, kenapa tidak minta bantuan saja ke Kaneki?
Yang jelas, aku sama sekali tidak mau menerimanya. Aku tahu kalau itu egois, aku tahu kalau itu tidak profesional, tetapi kehadirannya di kafe keluargaku itu hanya akan membuka luka lama yang harusnya sudah tidak kurasakan lagi. Setelah senang karena tidak lagi melihatnya bermesraan dengan seseorang yang aku cintai, aku harus melihatnya setiap hari di kafe kami? Jangan bercanda! Walaupun dia tidak bersama Kaneki, tetapi aku sama sekali tidak ingin melihat wajahnya lagi.
Aku berusaha mencari alasan agar ayahku tidak menerimanya, jumlah pegawai yang sudah kami miliki sekarang, pengeluaran untuk gajinya nanti, pengalamannya bekerja dan alasan lainnya sudah aku gunakan hanya untuk menolaknya. Tetapi tetap saja, ayahku mau menerimanya menjadi pegawai di kafe kami.
Keesokan harinya, Rize pun datang bersama Kaneki ke Kafe Anteiku untuk mulai bekerja . Kaneki masih saja bersifat seperti hari sebelumnya, dia juga masih tidak mau masuk ke kafe kami. Tetapi, aku tidak merasa perlu lagi mengurusnya. Aku lebih terganggu oleh satu hal, perintah ayahku untuk mengajarinya bekerja. Lagi-lagi, aku tidak bisa menolak keinginan ayahku, tetapi bukan berarti aku akan benar-benar mengajarinya dengan baik.
Aku mengajarinya dengan sangat keras, bahkan aku sempat memarahinya hanya karena kesalahan yang sangat kecil. Tentunya aku tidak akan memarahinya di depan pelanggan, aku akan menjauhkannya dulu dari pelanggan sebelum memarahinya.
Aku tidak peduli kalau dia tidak akan sanggup dengan caraku mengajarinya saat itu. Aku sudah sangat kesal kepadanya. Saat itu, aku mengatakan kepada ayahku kalau umurnya yang masih cukup muda dan tidak punya pengalaman dalam bekerja membuatnya harus diajari dengan sangat serius. Ayahku pun setuju dengan alasan itu.
Hari-hari pun berlalu dengan Kaneki yang hanya singgah di depan kafe kami tanpa masuk untuk menikmati hidangan di sana dan aku yang terus mengajari Rize dengan keras. Perlahan-lahan, dia pun mulai bisa bekerja dengan baik di kafe kami. Aku pun semakin jarang memarahinya karena melihat kualitas kerjanya. Sayangnya, aku masih belum bisa menghilangkan rasa kesalku kepadanya, karena itu aku cukup sering melemparkan tatapan sinis kepadanya.
Hingga sampailah hari kenaikan kelasku. Beberapa hari setelah pengumuman kenaikan kelasku, ayahku berencana untuk membeli sebuah bangunan yang lebih besar dari kafe kami saat itu untuk membuka kafe yang lebih besar. Nantinya, kafe kami yang sebelumnya akan dipimpin oleh salah satu karyawan terbaik yang sudah ayahku pilih. Sementara kafe yang baru akan dijaga oleh kami sekeluarga dengan pembagian tugas yang kami atur nantinya.
Akan ada karyawan dari kafe kami yang lama yang akan ditempatkan di kafe yang baru, tetapi lebih sedikit dari kafe yang sebelumnya karena ayah juga akan membuka lowongan kerja untuk kafe yang baru. Aku meminta kepada ayahku agar Rize tetap di kafe yang lama dengan dalih kalau dia masih perlu belajar lagi. Aku sangat senang karena ayahku menerima saran dariku. Dengan begitu, aku pikir kalau aku tidak perlu bertemu dengan Rize lagi. Sayangnya dugaanku salah.
Karena ayahku tidak ingin aku menempuh jalan yang terlalu jauh ke kafe kami setiap aku pulang sekolah, aku pun disuruh oleh ayahku pindah sekolah. Awalnya aku sama sekali tidak mempermasalahkan itu. Namun ternyata, hari ini aku malah bertemu dengan Kaneki dan Rize yang juga bersekolah di sini. Lebih parahnya lagi, aku harus sekelas dengan Kaneki. Bahkan saat aku berusaha menghindarinya dengan pergi ke perpustakaan, ternyata dia juga ada di sana bersama Rize.
Di sinilah aku sekarang, di atap sekolah sambil menikmati waktu istirahat dengan makanan yang sudah aku beli tadi. Menjengkelkan sekali, kenapa seakan-akan selalu ada kesempatan untukku bertemu dengan mereka, padahal aku sama sekali tidak menginginkan itu?
Entah sudah berapa lama aku di sini, mungkin sebentar lagi waktu istirahat berakhir. Tetapi, aku tidak perlu terburu-buru meninggalkan tempat ini. Biar saja aku tunggu bel berbunyi, baru aku meninggalkan tempat ini.
Aku sangat malas kalau harus secepatnya ke kelas dan bertemu Kaneki. Biar saja aku dihukum karena terlambat masuk kelas, itu pun kalau guru yang mengajar sampai lebih dulu ke kelasku. Apalagi kalau guru yang mengajar sedang tidak bisa masuk, aku tidak perlu khawatir kalau tidak masuk ke kelas sekalipun.
Benar saja, tidak perlu waktu yang lama untuk bel masuk berbunyi. Dengan malas, aku berjalan menuju kelasku. Semoga saja pelajaran hari ini tidak terlalu membosankan atau aku akan semakin malas untuk tetap di kelas karena kehadiran Kaneki.
~Touka's POV end~
Hari-hari selanjutnya pun berlalu dengan Touka yang berusaha menghindari Kaneki dan Rize. Karena itu, Touka selalu lambat datang ke sekolah, saat bel masuk hampir saja berbunyi. Bahkan dia pernah sekali dihukum karena datang ke sekolah beberapa menit setelah bel masuk berbunyi.
Dia memang pergi dari rumah saat hari masih cukup pagi, tetapi itu hanya supaya orang tuanya berpikir kalau dia ke sekolah pagi-pagi. Sebenarnya, dia akan singgah dulu di mana pun dia suka sebelum melanjutkan perjalanan ke sekolahnya.
Saat jam istirahat, dia akan bergegas meninggalkan kelas. Dia tidak akan ke kantin, dia hanya akan ke atap sekolah untuk memakan bekal yang dia bawa dari rumah karena berpikir kalau Kaneki dan Rize tidak akan ke sana saat jam istirahat. Touka juga akan berlama-lama di sana dan baru akan ke kelas saat bel berbunyi, untungnya dia selalu sampai ke kelas sebelum guru yang mengajar di kelasnya datang.
Setiap bel pulang sekolah berbunyi, para murid sudah bisa menebak siapa yang akan lebih dulu meninggalkan kelas, tentu saja Touka. Dia selalu bergegas meninggalkan kelas dan pergi ke kafe barunya.
Dia tahu kalau dia bisa saja bertemu dengan Kaneki saat jam pelajaran. Setidaknya, dia bisa berusaha menghindari pertemuan dengan Kaneki di luar jam pelajaran.
Dia melakukan semua itu karena tidak ingin melihat kebersamaan Kaneki dan Rize karena berpikir kalau mereka masih menjadi sepasang kekasih, walaupun kenyataannya tidak. Rize yang terus menggunakan berbagai cara untuk mendekati Kaneki masih belum bisa mendapatkan hatinya.
Kaneki sendiri masih lebih ingin fokus untuk meraih kesuksesan. Bahkan terkadang dia akan bersiap-siap menuju ke kantor ayahnya setelah pulang sekolah mumpung jam kerja di kantor itu belum selesai. Dia ingin belajar bekerja agar lebih mudah saat bekerja setelah menyelesaikan pendidikannya nanti. Awalnya ayahnya melarangnya, tetapi dia pun mengizinkannya setelah Kaneki mencoba menjelaskan.
-To be continued
Ok, chapter kali ini cukup sampai sini saja dulu. Maaf kalau masih ada kekurangan di cerita ini dan terima kasih sudah membaca.
#RAMAIKANFFN2020
