HATI-HATI, OOC SUDAH DIPANDANG WAJAR DISINI. DAN BANYAK TYPO YANG BERSERAKAN, JUGA EBI YANG KURANG MENJANJIKAN
SELAMAT MEMBACA!
_Lost_
Claude sedang senggang saat itu. Dan kesenggangan itu tidak lagi menjadi kesenangan kala melihat sosok jangkung menghadapnya dengan senyum sopannya.
"Yo... Selamat siang, Claude. Kuharap Kau tidak sibuk hari ini!" Ucapnya halus. Senyum masih tersungging di bibirnya.
Claude menaikkan sebelah alisnya bingung, "Sejak kapan kau boleh memanggilku Claude?"
Sebastian memiringkan kepala innocent, "Sejak siang ini" jawabnya ringan.
Yah, sosok jangkung tadi adalah Sebastian yang... Em... Katakan saja terlihat aneh. Wajahnya sangat cerah. Bukan hanya bentuk formalitas seperti biasanya, tapi benar-benar wajah cerah yang sangat jujur.
"Ah... Kau senggang, bukan?" Tanya Sebastian lagi.
Claude mengangguk, "iya. Kenapa?"
Sebastian berjengit senang, dan juga matanya yang penuh binar antusias, "Wah... Senang mendengarnya. Sekarang ikut aku...!" Dia menarik tangan Claude.
Claude menampiknya. Siapa juga yang akan terima-terima saja jika diajak orang tanpa kepastian? Lebih lagi orang yang punya perbedaan argumen juga berada di pihak berlawanan. Kayaknya tidak ada deh.
"Ck... Ayolah, Claude! Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu! Ayo... Ikut aku...!" Sebastian semakin menarik-narik tangan Claude yang sama sekali tak beranjak se-inchi pun.
Claude menatap tangan Sebastian yang menggenggam lengannya. Tarikan Sebastian benar-benar tak terasa. Seolah Sebastian memang tak berniat menariknya.
Claude tetap pada pendiriannya untuk tetap tinggal. Tapi, lama-kelamaan, telinganya makin sakit mendengar rengekan Sebastian yang enggan berhenti.
"Ap masalahmu, Michaelis?" Tanya Claude datar, dingin, dan tak berperasaan.
Sebastian menghentikan rengekannya, lalu tersenyum makin lebar, "mengajakmu ke suatu tempat, Claude...!" Jawabnya.
Cukup!
Claude tak tahan dengan rengekan Sebastian, juga tangannya yang enggan berhenti di goyangkan ke kanan dan ke kiri.
"Hm... Kemana?"
Sebastian tersenyum senang mendengarnya.
Lost_
"Kenapa kau membawaku ke toko?" Tanya Claude sembari mengedarkan pandangan ke sekitar. Hanya ada barang-barang antik yang harganya mungkin saja sangat mahal.
"Bukan hanya ke sini saja, Claude. Kita akan jalan-jalan. Mungkin seperti hang out. Atau kencan...?" Sebastian mengernyit berpikir. "Yah, pokoknya yang seperti itu"
Dan dari situ, Sebastian benar-benar mengajak Claude keliling London, membeli ini-itu.
Claude juga harus menahan malu dan kesal ketika Sebastian akan bertingkah alay dan heboh sendiri karena melihat sesuatu yang menurutnya lucu.
Claude juga harus sabar ketika suara kucing tertangkap di telinga Sebastian. Karena, Sebastian akan duduk jongkok hampir setengah jam untuk mengagumi si kucing.
Dan kini, Claude dan Sebastian duduk diam memandang danau.
"Kenapa harus duduk di sini? Apa faedahnya...?" Tanya Claude malas.
Sebastian yang tadinya tersenyum, jadi cemberut, "Apa faedahnya? Tentu saja banyak, Claude. Misalnya, Kita bisa merasakan ketenangan."
"Lalu..." Sebastian menggantung ucapannya.
"Suasananya akan sangat romantis jika berdua" Lanjutnya sambil tersenyum manis.
Claude kaget. Terpana Sejenak dengan senyum Sebastian. Dia jadi agak merinding dan sedikit senang.
"Kau Michaelis, bukan?"
Sebastian mengangguk, "Iya... Sebastian Michaelis. Ingat itu...!"
Sebastian merogoh sakunya, "ini surat dari Undertaker" ucapnya sembari menyodorkan sebuah amplop. "Untukmu"
Claude mengernyit bingung, "Undertaker?" Gumamnya yang dibalas anggukan oleh Sebastian.
Claude menerimanya dan membaca dengan cermat surat dari Undertaker.
Halo, Iblis. Xixixi...
Aku tidak sengaja melempar ramuan personality change pada Sebastian tadi. Aku tidak tahu harus menyerahkan perubahan sifatnya pada siapa. Tak mungkin juga pada Earl Phantomhive yang punya temperamen buruk itu. Sebastian pasti nangis keras nanti. Jadi... Take care for him, Claude Faustus.
Oh iyaa, saat efek ramuannya habis, dia mungkin akan pingsan. Jadi, tolong jaga dia ya...
Xixixixi
Undertaker.
Claude meremat surat itu kesal. Kenapa harus dia yang disuruh menjaga Sebastian seharian? Badannya jadi lelah.
Ternyata, Menjaga Sebastian jauh lebih melelahkan daripada menjaga danna-samanya. Entah apa yang membuatnya bisa begitu. Claude tak tahu.
"Eh... Kenapa dibuang...?" Sebastian menatap surat dari Undertaker yang telah terlontar jauh entah kemana.
Claude meliriknya sinis. Yang sama sekali tak mempan pada Sebastian. Sebastian malah tersenyum senang.
"Ne, Claude..." Sebastian menarik lengan Claude dan memeluknya.
"Hm...?"
"Hari sudah malam. Dan rasanya sangat dingin." Sebastian makin mengeratkan pelukannya pada lengan Claude.
"Lalu...?"
"Peluk aku ya...?" Pinta Sebastian dengan matanya yang sedikit sayu.
"Nggak!"
"Tapi dingin..." Keluh Sebastian.
"Kalau begitu, Kita pulang!"
"Jangan dulu. Nanti kita diganggu 2 bocah ngeselin di rumah. Disini dulu ya...?"
"Hm"
Sebastian melepaskan rangkulannya pada lengan Claude. Dia lalu berdiri dengan sedikit terhuyung. Dan dengan begitu santainya, Sebastian melemparkan tubuhnya ke tubuh Claude.
Bugh
"Ugh..." Claude mendengus ketika rasa sakit menghantam tubuhnya. "Apa maumu, Michaelis?" Tanya Claude kesal.
"Memelukmu tentu saja"Sebastian membenamkan kepalanya di bahu Claude, Kedua tangannya berada didepan dadanya sendiri, dan tubuhnya mendempet rapat tubuh Claude. "Dingin...! Kepalaku juga pusing"
Claude menghela nafas, Apa untungnya membiarkan Sebastian menyender padanya...? Yang ada bahunya yang bakal sakit.
Sebastian sedikit memutar kepalanya sehingga matanya bisa menatap dengan jelas wajah Claude, "Ne... Claude..."
Claude menatap wajah Sebastian, "apa...?"
Jari Sebastian terangkat, menyusuri rahang Claude, "Claude tampan sekali..." Sebastian lalu tersenyum.
Perlahan namun pasti, Matanya menyayu, senyumnya melemah, dan tangannya jatuh terkulai begitu saja.
Claude menatap lekat. Tidak melewatkan sedikitpun gerakan Sebastian yang terlewat dari penglihatannya. Dan sedikit tersenyum geli ketika melihat mata Sebastian benar-benar tertutup rapat. "Udah pingsan?"
Tangan kiri Claude menarik pinggang Sebastian, dan tangan kanannya mengelus lembut bagian belakang kepala Sebastian.
"Ssaa... Kurasa aku cukup puas dengan hari ini" Claude menatap ke bawah, tepat ke wajah tenang Sebastian. "Ceh... Cantik sekali Iblis satu ini..."
Malam itu, Claude habiskan dengan Sebastian yang mendengkur nyaman dalam pelukan.
