DISCLAIMER: Saya tidak mengakui bahwa Naruto adalah milik saya tetapi milik om Masashi dan saya hanya meminjam karakter saja.
RATED: M
PAIR: Naruto X ?
SUMMARY: Uzumaki Naruto, Sang Nanadaime Hokage, menghilang saat melihat sesuatu yang membuatnya kecewa sehingga membuat kelima Desa besar panik saat mengetahui bahwa salah satu Pahlawan Perang telah menghilang dan tidak ada yang menyadari kalau Naruto telah berpindah dimensi.
WARNING: Assalamualaikum wr. wb. Untuk para pembaca sekalian, ane minta maaf karena sudah cukup lama menghilang dari dunia Fanfiction. Sekitar 5 bulanan ane menghilang karena sibuk dengan urusan sekolah ane, maaf jika lama sekali waktu untuk ane update. Jadi, sebagai permintaan maaf, ane sudah update chapter 8 dan 9, silahkan untuk dibaca selagi ane nulis untuk 'The Fate Of The Heroes'.
.
.
~A New Dimension~
.
.
Pagi hari di Desa Konoha kali ini tampak damai, orang-orang mulai keluar dari rumah untuk bekerja, shinobi-shinobi Konoha mulai pergi untuk mengerjakan misi sedangkan Akademy Konoha mulai rame karena murid-muridnya mulai berdatangan.
Disalah satu rumah yang ada di Konoha atau lebih tepatnya rumah milik mantan Hokage, Uzumaki Naruto. Tampak seorang wanita cantik yang sedang mencuci piring kotor. Wanita itu adalah Hyuuga Hinata atau Uzumaki Hinata setelah menikah dengan Naruto.
Hinata tampak fokus sekali mencuci piring meski jika dilihat secara seksama, ada bekas air mata yang sudah mengering di wajah cantiknya. Ia baru saja selesai menangis lagi setelah mengantar Himawari ke Mansion Hyuga. Hinata menangis karena baru menyadari sepinya rumah yang ia tempati ketika hanya ia sendirian dirumah.
Rumah ini sangatlah sepi sejak Naruto dikabarkan menghilang. Kabar tentang hilangnya Naruto sudah membuat beberapa orang disetiap negara besar ataupun kecil di Elemental Nations, menjadi gempar karena hilangnya sang pahlawan.
Hinata tahu. Hinata tahu kalau ini semua karena perbuatannya yang membuat Naruto kecewa. Sehingga tidak langsung, ialah yang membuat Naruto menghilang tepat ia ketahuan sedang berkencan dengan teman satu timnya, yaitu Inuzuka Kiba.
Ia sedikit menyelipkan poni rambutnya dibelakang daun telinga. Sudah ada 2 bulan sejak Naruto menghilang dan rambutnya sudah memanjang meski masih terawat. Menyimpan piring terakhir, Hinata langsung mengambil sapu untuk membersihkan lantai. Meski rumahnya selalu bersih dan rapi, tapi Hinata tetap membersihkannya hanya untuk mengalihkan rasa bersalahnya pada Naruto.
Sudah sekitar 30 menit, Hinata membersihkan rumah dan saat ini ia sedang duduk disofa sambil beristirahat. Sambil menyeka keringat, Hinata melihat sekelilingnya.
"Sepi." gumamnya dan tanpa ia sadari kalau air mata kembali mengalir. "Naruto-kun..." Hinata kembali terisak.
Meski sudah menangis sebelumnya tapi lagi-lagi Hinata menangis kembali l. Ia sudah sangat merasa bersalah, karena perbuatannya seluruh Desa justru kerepotan mencari Naruto. Bahkan Sasuke sampai turun tangan untuk mencari keberadaan Naruto, meski disuruh oleh Rokudaime yang tidak lain adalah Hatake Kakashi.
Tok! Tok! Tok!
Hinata terdiam sesaat sebelum menghapus air mata yang baru saja mengalir. Ia sedikit membenarkan posisi pakaiannya dan berjalan menuju pintu dengan mata sedikit merah. Ia kemudian membuka dan seketika menjadi bingung saat melihat siapa yang datang.
"Anbu-san?" gumamnya.
Anbu bertopeng motif harimau itu menunduk hormat. "Maaf Uzumaki-sama, anda sudah ditunggu oleh Rokudaime-sama diruang pertemuan."
"Memangnya ada apa, Anbu-san?"
"Hamba tidak tahu, Uzumaki-sama. Hamba hanya disuruh oleh Rokudaime-sama untuk memanggil anda."
"Baiklah anbu-san, saya akan datang."
"Kalau begitu, hamba permisi."
Hinata mengangguk mengizinkan sehingga anbu tersebut pergi menggunakan Sunshin. Hinata kemudian mengunci pintu dan segera berangkat ke ruang pertemuan. Lagipula rumah akan sepi jika ia sendirian dirumah, karena Boruto dan Himawari masih lama untuk pulang.
--o0o--
Disebuah ruangan ruangan yang luas saat ini sedang dipenuhi oleh banyak orang. Semuanya hadir atas undangan langsung Rokudaime Hokage melalui perantara anbu. Banyak sekali klan-klan elit yang diundang ke pertemuan ini, contohnya Klan Nara yang diwakili oleh Nara Shikamaru, Klan Yamanaka yang diwakili oleh Yamanaka Sai, Klan Aburame yang diwakili oleh Aburame Shino dan masih banyak lagi klan elit yang diundang.
"Kakashi, sebenarnya ada apa sehingga kau melakukan rapat tanpa memberitahu kami terlebih dahulu?" tanya salah satu tetua desa yang bernama Koharu.
"Benar Kakashi, ada kejadian apa hingga kau melakukan rapat tanpa memberi kabar." tambah salah satu tetua desa juga yang bernama Homura.
Kakashi hanya menunjukkan eye smile saja. "Gomen Koharu-sama, Homura-sama. Saya melakukan rapat untuk mengatakan sesuatu tentang hilangnya mantan Hokage, yaitu Uzumaki Naruto."
Ruang pertemuan itu langsung ricuh saat tahu kalau salah satu pahlawan perang sudah menghilang. Meski sudah 2 bulan sejak hilangnya Naruto, tapi masih sangat banyak orang yang tidak mengetahuinya dan hanya beberapa orang dari seluruh kawasan Elemental Nations yang tahu kalau Naruto sudah menghilang.
Hyuga Hiashi, selaku mantan Kepala Keluarga Hyuga hanya menutup matanya saja. Ia datang hanya untuk menggantikan putri bungsunya -Hyuga Hanabi- yang sedang melatih cucu perempuannya.
Jika Hiashi tampak tenang, maka berbeda dengan Kepala Keluarga Inuzuka yaitu Inuzuka Tsume. Wanita dua anak itu hanya bisa pasrah, ia tahu apa yang akan menimpa anak laki-lakinya pada hari ini juga.
Sebenarnya Tsume merasa malu dengan apa yang telah dilakukan anaknya. Ia sudah mulai curiga ketika hubungan Akamaru dan Kiba menjadi buruk, bahkan ia sering melihat Akamaru justru menjadi galak saat dekat dengan Kiba. Kecurigaan itu sekali jelas saat tidak sengaja melihat kalau Kiba pernah jalan berduaan dengan Hinata.
Namun ia menepis kecurigaan itu dan berpikir kalau mereka sedang reuni satu team. Tetapi mendengar kabar saat dikantor Hokage kalau anaknya ditangkap, karena telah berani mengambil istri orang, yang tidak lain adalah Hinata. Tsume tidak habis pikir dengan kelakuan anaknya.
Krieet~
Pintu pun terbuka dan beberapa orang masuk kedalam. Salah satu dari mereka yang berjenis kelamin wanita dan memiliki rambut berwarna pirang pucat, duduk di kursi yang ada disamping Kakashi.
"Segera dimulai rapatnya, Kakashi. Aku sudah mulai muak melihat wajah mereka berdua." pinta wanita tersebut, menatap tajam seseorang yang dikawal oleh dua anbu.
"Baiklah Tsunade-hime." Kakashi melihat kedepan. "Dan untuk Uzumaki Hinata, silahkan duduk terlebih dahulu. Anda disini untu mewakili Klan Uzumaki."
Hinata mengangguk dan duduk di kursi yang ada disamping Hiashi. "Apa kabar, T-Tou-sama." Hinata terlihat ragu-ragu.
Hiashi sama sekali tidak membalas, ia hanya diam sambil menutup mata. Seakan-akan tidak ingin melihat putri sulungnya. Hinata terlihat sedih dan murung, tahu kalau ayahnya masih kecewa.
Kakashi hanya menatap sekilas, pandangannya beralih pada orang yang dikawal. "Baiklah, kita akan mulai rapat untuk hukuman yang pantas diberikan kepada Inuzuka Kiba, berkaitan dengan hilangnya mantan Hokage kita, Uzumaki Naruto."
--o0o--
Sudah ada 2 jam lebih rapat berakhir. Rapat yang awalnya tenang, langsung menjadi ricuh. Akhirnya semua orang tahu, kalau Inuzuka Kiba dan Uzumaki Hinata penyebab Naruto menghilang. Kiba mendapat hukuman yang sangat berat bagi seorang shinobi. Hukumannya ialah seluruh chakra miliknya akan disegel untuk selamanya dan dikeluarkan dari kepolisian Konoha. Bahkan namanya juga dihapus dari silsilah Klan Inuzuka.
Hinata juga sebenarnya akan ikut dihukum, karena Kiba menceritakan semuanya agar bukan hanya ia sendiri yang dihukum. Sebenarnya banyak yang ingin Hinata dihukum juga tapi Kakashi bilang kalau Hinata tidak akan dihukum karena permintaan Naruto secara pribadi.
Kakashi bahkan memperlihatkan sebuah gulungan kecil dan ada tanda tangan milik Naruto di gulungan itu. Mau tidak mau para dewan tidak jadi menghukum Hinata.
Saat ini didalam kantor Hokage, Hinata berdiri diam menghadap kearah Kakashi yang sedang duduk memunggunginya. Mantan Hokage, Tsunade Senju juga berdiri membelakangi. Wanita yang sangat awet muda itu lebih memilih melihat kearah desa kelahirannya.
"Anu... Rokudaime-sama, kenapa saya ada disini juga?" setidaknya Hinata bersyukur karena ada Sakura yang menemani.
Kakashi memutar kursinya. "Aku memanggilku kesini untuk memberitahu pesan dari Sasuke."
"Dari Sasuke-kun/-san?"
"Kalian berdua benar. Untuk Hinata, kau pasti penasaran dengan gulungan ini, kan?" Kakashi berucap sambil menunjukkan gulungan tadi.
"Benar Rokudaime-sama, saya sangat penasaran dengan apa yang ditulis oleh Naruto-kun!" Hinata terlihat tidak sabaran.
Kakashi menunjukkan eye smile andalannya. "Kalau begitu, pesan digulungan ini memang untukmu. Ambillah."
Hinata mengambil gulungan itu dan mulai membacanya. Sakura kemudian menoleh kearah Kakashi. "Rokudaime-sama, apa isi pesan dari Sasuke-kun?"
"Ah, aku hampir lupa. Tunggu sebentar." Kakashi membuka laci meja, dan mengambil selembar kertas. Ia pun berdehem sebentar dan mulai membacanya. "Kakashi, aku akan menghentikan pencarian done untuk sementara. Sekarang, aku akan melanjutkan pencarian istana Kaguya terlebih dahulu. Sampaikan salamku pada Sakura."
Sakura tertegun sesaat. "Itu pesan dari Sasuke-kun?"
"Iya, benar Sakura."
Sakura terdiam sesaat sebelum senyum tipis tercipta. "Cepatlah pulang, Sasuke-kun." gumamnya.
Brug!
"Hinata!"
Sakura terlihat panik. "Hinata! Ada apa!?"
Hanya menangislah jawaban yang diterima oleh Sakura. Ibu satu anak itu kemudian mengambil gulungan yang dibaca oleh Hinata tadi. Ia terlihat penasaran dan langsung membacanya.
"Hai, Hinata. Kalau kau membaca pesan ini, itu berarti kau sudah menyadari dari kesalahanmi dan aku sudah pergi. Maaf jika selama ini aku sudah menjadi suami yang buruk, sampai-sampai kau lebih memilih Kiba daripada aku. Maaf juga karena aku sudah menjadi ayah yang buruk."
"Pesan ini sebenarnya aku tulis setelah kalian berdua ketahuan olehku. Aku juga sadar, sejak menjadi Hokage rumah tangga kita menjadi renggang. Saat itu aku ingin memberitahumu kalau aku sudah berhenti menjadi Hokage. Dengan begitu, rumah tangga kita akan membaik. Tapi apa yang kulihat sore itu di taman, sudah membuatku sangat kecewa."
"Kekecewaanku bertambah saat kau dengan kejamnya menyebutku monster. Tidak kusangka, istri yang sangat kucintai sangat tega menyebut ku monster. Aku yakin, Kakashi-sensei akan memberikan hukuman kepada Kiba, secara otomatis kau juga akan mendapatkan hukuman."
"Tapi tenang saja, kau tidak akan ikut mendapatkan hukuman karena aku sudah memberikan ultimatum melalui surat dan Kakashi-sensei yang menyampaikannya. Ini adalah tugas terakhirku sebagai suamimu- tidak, tapi lebih tepatnya mantan suamimu."
"Hinata, tolong jangan cari aku, sudah cukup kekecewaan yang kau berikan padaku. Katakan pada anak-anak kalau aku menyayangi mereka."
Sakura menatap tidak percaya kearah gulunga itu. Temannya, teman satu timnya yang bego itu menulis pesan ini? Sakura tahu betul kalau teman kuning nya itu sangatlah loyal terhadap Konoha. Tapi, jika dilihat dari isi pesan digulungan ini, itu berarti teman kuningnya bukan menghilang tapi lebih memilih pergi.
Perempuan berambut merah muda itu menatap prihatin kearah Hinata yang masih menangis. Ia langsung menarik Hinata kedalam pelukannya untuk menenangkan istri teman satu timnya itu. Kakashi hanya menatap diam, ini bukan urusannya.
Tsunade sama sekali tidak menoleh, ia tahu kalau Hinata pasti akan sangat terpukul setelah membaca pesan itu, sama seperti dirinya saat membaca pesan tersebut. Kantor itu langsung senyap, yang terdengar hanyalah isalan tangis dan suara lirih Hinata.
"Naruto-kun..."
--o0o--
Di tempat lain, lebih tepatnya di Ibu Kota, terlihat kalau seorang pria berambut kuning yang memiliki umur sekitar kepala tiga, sedang berjalan-jalan. Meski sudah berkepala tiga, wajah pria itu masih tetap awet seperti remaja berumur 17 atau 18 tahunan.
Pria yang bernama Uzumaki Naruto, itu sedang melihat sekeliling sambil memutar-mutar sebuah kunai bercabang tiga, menggunakan tangan kirinya. Tangan kanannya sebenarnya sudah pulih pasca menggunakan Rasenshuriken, saat melawan Zank lima hari yang lalu. Tapi karena paksaan Leone, sehingga tangan kanannya harus digips.
"Tidak boleh! Pokoknya kamu jangan melepaskannya walaupun sudah sembuh total."
"Jangan menatapku begitu, kalau memang teknik milikmu itu sudah membuat tangan kananmu lumpuh, sudah seharusnya tanganmu dirawat. Kamu mengerti, kan. Naru?"
'Hehe, Leone-chan seperti Tsunade baa-chan saja.' tawa Naruto.
Yap, benar sekali. Sepandai-pandainya tupai melompat, suatu saat pasti akan jatuh juga. Sepertinya peribahasa itu cocok menjelaskan situasi Naruto saat ini. Awalnya ia berniat untuk menyembunyikan kemampuannya untuk sementara waktu dari teman-temannya di Night Raid, akhirnya harus terbongkar juga. Berterima kasihlah pada Akame, yang menceritakan kejadiannya secara detail kepada Najenda.
Pada awalnya, semua orang di Night Raid merasa dibohongi kecuali Tatsumi yang masih pingsan. Namun semuanya bisa menerima kelakuan Naruto, tidak mudah untuk langsung mempercayai orang yang baru saja ditemui. Naruto juga merasa lega, setidaknya dia tidak harus melawan semua temannya, jika Najenda kehilangan kepercayaan dan langsung menyuruh yang lain untuk mengeksekusi dirinya.
Jujur saja, ia lebih memilih mencari jalur aman dengan cara mengajak negoisasi mereka dibanding harus bertarung.
'Bah, tapi kalau bertugas sebagai anbu, aku yakin kau akan menghabisi mereka dengan cepat."
'Itukan beda, Kurama. Hanya Tsunade baa-chan saja yang bisa memerintahkanmu sebagai anbu.'
'Walau sudah menjadi Hokage?'
'Walau sudah menjadi Hokage sekalipun, jika Tsunade baa-chan ingin aku melaksanakan tugas anbu, dengan senang hari akan aku lakukan.'
'Kau dan keloyalanmu.'
'Biarin, lagipula aku adalah anbu khusus pengawal Tsunade baa-chan. Setidaknya, aku bisa menjadi Hokage dengan mudah berkat prestasiku selama menjadi anbu.'
Selama menjadi anbu khusus pengawal Godaime Hokage, prestasi yang dimiliki oleh Naruto bukanlah isapan jempol belaka. 51 rank D, 60 rank C, 35 rank B, 55 rank A dan 30 rank S. Itulah catatan misi yang diselesaikan oleh Naruto.
'Lalu, kenapa kau mau menjadi anbu kalau diberikan misi oleh oleh perempuan berambut putih itu, Gaki?'
Naruto terdiam sesaat. 'Kalau soal itu, sepertinya karena Najenda-san mirip Tsunade baa-chan. Makanya aku kembali menjadi anbu saat Najenda-san memberi misi.'
Kurama mendengus didalam tubuh Naruto. Nidaime Juubi itu menutup mata, kembali tidur.
"Walaupun jawabanmu nyeleneh, setidaknya kebencian tidak tumbuh dihatimu karena gadis Hyuga itu." gumamnya. "Jangan pernah berubah, Gaki."
--Skip Time--
Waktu sudah mulai menjelang sore dan saat ini ia sedang duduk disebuah lapangan kecil. Disisi kirinya sendiri ada sebuah gulungan berukuran sedang. Isinya adalah kunai yang ia pesan dan sebuah rompi untuk menggantikan rompinya yang robek.
"Ya ampun, bagaimana mungkin aku bisa tersesat." tangan kirinya ia gunakan untuk menutup wajahnya.
Sepertinya Naruto sedang sial hari ini. Setelah mengambil pesanan kunai ditoko Dwargon Shop, Naruto memilih untuk berjalan-jalan terlebih dahulu. Karena masih belum terlalu familiar dengan Ibu Kota, akhirnya ia tersesat disebuah tempat antah-berantah. Naruto sama sekali tidak mengenali wilayah ini.
"Ano... Apa kau ada masalah?"
Sebuah suara halus dan ceria menyapa gendang telinga Naruto. Ia menyingkirkan telapak tangan kirinya dan melihat pemilik suara yang ceria itu. Didepannya ada seorang perempuan yang memiliki rambut coklat diikat ponytail, memakai baju khas militer Ibu Kota dan sebuah boneka? Naruto seketika terdiam.
Perempuan itu terlihat penasaran, tidak mau ada salah paham, Naruto langsung tersenyum tipis. "Tidak, tidak, sebenarnya aku hanya tersesat."
"Tersesat?" tanda tanya melayang muncul diatas kepala gadis itu.
Naruto mengangguk. "Aku baru sampai di Ibu Kota, belum terlalu familiar dan akhirnya tersesat. Jadi, bisakah kau membantuku?"
"Tentu!" gadis itu terlihat senang. "Sebagai seorang polisi militer kerajaan, sudah tugasku untuk menolong yang kesusahan!"
Naruto pun terkekeh kecil. 'Sungguh gadis kecil yang polos, tapi hebat juga bisa menjadi polisi militer dalam usia semuda ini.'
Pandangan Naruto teralih kearah makhluk yang dipeluk oleh gadis itu. Awalnya ia pikir kalau itu adalah sebuah boneka, tapi saat melihat kalau telinganya bergerak. Barulah ia tahu kalau yang berada didalam pelukan gadis itu bukanlah boneka, melainkan makhluk hidup.
"Apa ada yang aneh dengan Coro?"
Naruto tersentak. "Tidak, cuman, aku pikir kalau yang ada di pelukanmu itu adalah boneka."
"Anda adalah sekian banyak orang yang mengatakan kalau Coro adalah boneka." gadis itu menatap lembut kearah makhluk yang bernama Coro. "Mahō no kemono no hen'yō: Hekatonkeiru (Magical Beast Transformation: Hekatonkheires) namanya. Sebenarnya bukan aku pemilik Coro, tapi saat semua atasan dites apakah cocok dengannya, hasilnya adalah gagal. Mereka semua mati. Akhirnya pengetesan itu dialihkan kepada bawahan sepertiku, karena dia melihat rasa keadilan yang sangat besar pada kau, saat dites rupanya cocok dan Coro memilihku sebagai tuannya."
Gadis itu mengakhiri penjelasannya sambil mengusap Coro ke pipinya, tanpa menyadari kalau Naruto menatapnya tajam.
'Sebuah teigu yang berbentuk makhluk hidup. Ini informasi penting, Najenda-san harus tahu kalau Kekaisaran memiliki pengguna teigu yang seperti ini. ' batinnya.
"Jadi, kemana saya harus mengantar anda?" tanya gadis itu.
"Bisakah kau mengantarkanku ketoko Dwargon Shop, rumahku tidak jauh dari situ." tentu saja Naruto berbohong.
"Bisa! Kalau gitu, silahkan ikuti saya." gadis itu berjalan duluan.
"Ha'i." Naruto mengambil gulungannya dan mengikuti langkah gadis itu.
Selama diperjalanan, mereka berdua terlihat sedang berbincang-bincang. Melalui pembicaraan tersebut, akhirnya Naruto tahu kalau nama gadis itu adalah Seryu Ubiquitos.
Oleh karena itu, ia juga memperkenalkan diri sebagai 'Uzumaki'. Cukup memperkenalkan nama klannya saja, nama asli tidak usah. Seru juga sempat memberikan sebuah kertas lembaran kepada Naruto. Bisa ia lihat, kalau dikertas tersebut ada sketsa dirinya yang sedang memakai topeng anbu bermotif rubah. Harga kepalanya juga cukup besar terpampang jelas di poster itu.
Melihatnya membuat Naruto bernostalgia, ketika harga kepalanya juga dipasang dengan harga yang cukup besar oleh Kumogakure dan Iwagakure didalam bingo book. Naruto juga harus mengakui kalau yang membuat sketsa ini sangat berbakat, hampir sama bagusnya dengan gambaran milik Sai.
Tidak terasa kalau mereka sudah sampai didepan toko Dwargon Shop. Seru berjalan menjauh sambil hormat kepada Naruto, tersenyum.
"Kalau begitu saya pergi dulu, Tuan Uzumaki. Semoga lain kali kita bisa bertemu kembali." ujar Seryu.
Naruto mengangguk. "Tentu, terima kasih sudah menolongku."
"Tidak masalah, Tuan Uzumaki." Seryu kemudian pergi.
Naruto hanya melambaikan tangan kirinya sebelum raut wajahnya menjadi serius. "Seryu Ubiquitos, dia sudah tidak bisa diselamatkan."
Melihat kalau Dwargon Shop sudah tutup dan sekeliling sepi, Naruto kemudian menghilang meninggalkan kilatan kuning.
--o0o--
Diruang pertemuan markas Night Raid saat ini sedang ramai-ramainya. Tatsumi bahkan menelan ludahnya saat ditatap serius oleh Najenda. Membuang asap rokok, Najenda melihat serius kearah Tatsumi lagi.
"Tatsumi, lukamu sudah sembuh, kan?" tanya Najenda.
"Ah, iya, lukaku sudah sembuh semua. Ngomong-ngomong, Naruto-sensei kemana? Dari tadi pagi aku tidak melihatnya." Tatsumi celingak-celinguk mencari Naruto disitu.
"Naruto pergi kekota, katanya mau mengambil barang pesanannya." jawab Lubbock. Tatsumi hanya mengangguk paham.
Najenda kembali membuang asap rokok. "Lupakan dulu tentang Naruto. Tatsumi, aku ingin kau mencoba teigu ini."
"Itu, teigu yang diambil dari Zank?"
"Benar, cobalah kau pakai."
Melihat kearah yang lain, Tatsumi bertanya dengan ragu. "Bagaimana dengan yang lain? Apa tidak ada yang mau memakainya?"
"Tidak usah, Tatsumi. Sepertinya kali ini kau yang mendapatkan teigu." Leone berucap, tersenyum.
"Satu orang sudah cukup satu teigu." ujar Akame.
"Menggunakan satu teigu sudah sangat menguras tenaga dan pikiran. Bisa kau bayangkan sendiri apa yang terjadi kalau salah satu dari kami memiliki dua teigu." Bulat menimpali.
Tatsumi melihat teigu yang ada diatas tangan mekanik milik Najenda. Tangan kanannya perlahan terulur untuk mengambilnya.
Ia memandang teigu itu dengan pandangan sedikit ragu. 'Walaupun teigu ini tidak terlihat keren, tapi setidaknya teigu ini memiliki kemampuan yang hebat.'
Merasa sudah siap, Tatsumi menaruhnya didahi. Najenda sendiri tersenyum kecil melihatnya.
"Sepertinya teigu itu memilihmu." ujar Najenda.
Tatsumi mengangguk, ia kemudian menoleh saat Akame mendekat. "Tatsumi, teigu itu bisa membaca pikiran bukan? Kalau begitu, baca isi pikiranku, apa yang aku inginkan besok pagi."
Tatsumi tersenyum semangat. "Baiklah, Akame."
Akame dan Tatsumi saling bertatapan, sangat serius. Sedangkan yang lainnya juga terlihat penasaran dengan kemampuan yang akan digunakan oleh Tatsumi. Kedua iris berbeda warna itu semakin menajam.
"Kau..."
"Ya?"
"Kau ingin..."
"Iya, iya?"
"Kau ingin makan daging besok!" ujar Tatsumi dengan lantang sehingga membuat Akame tersentak.
"Kau benar."
"Teigu itu bahkan belum diaktifkan. Bukannya teigu itu punya lima kemampuan panca indra? Gunakan teknik yang lainnya, aku tidak ingin isi hatiku dibaca." ujar Mine dengan nada ketus.
"Cih, protes melulu." cibir Tatsumi.
Namun, daripada membalas perkataan Mine yang bisa-bisa bakalan ada perang mulut, Tatsumi lebih memilih duduk bersila. Menutup kedua matanya, Tatsumi kemudian mencoba untuk fokus.
'Teknik yang sama sekali aku tidak tahu. Aku mohon, aktif lah!'
Teigu berbentuk bola mata itu terbuka, Tatsumi kemudian membuka matanya saat merasa kalau teigu itu sudah aktif. Akame kemudian berjalan maju kearah Tatsumi, diikuti oleh Mine dan Sheele.
"Bagaimana?" tanya Akame penasaran.
"Gah!" Tatsumi sangat terkejut.
Dengan rona merah di wajah, Tatsumi segera mundur cepat dari hadapan Akame, Sheele dan Mine. Karena apa yang ia lihat adalah berkah bagi kaum adam yang melihatnya.
Karena kelakuan Tatsumi jugalah membuat yang lain menjadi bingung.
"Kau kenapa? Aneh sekali." ujar Mine sambil melipat tangannya, tanpa ia ketahui kalau Tatsumi bisa melihat dalaman yang ia pakai.
Deg!
"Ugh!" lenguh Tatsumi sambil memegang kepalanya yang tiba-tiba sakit.
"Gawat, teigu itu menolaknya." Akame dengan sigap melepaskan teigu itu dari dahi Tatsumi. Laki-laki yang sudah ia anggap adik.
Najenda kemudian menerima teigu itu dari Akame, ia menghela nafas. "Sepertinya kau harus bersabar untuk memiliki teigu, Tatsumi."
"Tidak apa, tapi kenapa teigu itu menolaknya, bos?" Tatsumi bertanya meski sedikit merintis.
"Pandangan terhadap teigu saat pertama kali itu penting, Tatsumi. Sepertinya kau sempat meremehkan teigu itu." ujar Bulat sambil tertawa.
Tatsumi berdiri, dibantu oleh Akame. "Benar sih, aku pikir kalau teigu itu tidak keren sama sekali."
"Pantas, rupanya kau itu termasuk orang yang pemilih." Najenda tertawa kecil. "Ini, didalam buku itu ada catatan teigu yang sudah kita ketahui. Pelajarilah buku itu." pinta Najenda.
Tatsumi mengambil buku itu dan membukanya. Bisa ia lihat kalau ada catatan beserta kemampuan teigu. Contohnya adalah Pumpkin milik Mine, Extase milik Sheele dan Murasame milik Akame.
"Sugoi, semuanya ada didalam buku. Apa semua teigu itu kuat,l sekali, bos?" tanya Tatsumi.
"Semua teigu itu kuat, cuma tergantung dari penggunanya. Namun jika bisa kubilang..." tatapan Najenda menajam sambil tangannya menutup mata kiri. "...teigu yang paling kuat adalah teigu yang bisa mengendalikan es."
Deg! Deg!
Sontak hawa yang berada didalam ruangan itu berubah. Ruangan yang awalnya santai dan tenang, langsung berubah menjadi mencekam, semua tahu -terkecuali Tatsumi- siapa yang dimaksud Najenda. Sedangkan Tatsumi, ia mencoba untuk tetap tenang meski teman-temannya dengan mengeluarkan nafsu membunuh dalam jumlah gila-gilaan.
"Teigu yang bisa mengendalikan es? Teigu seperti apa itu dan siapa pemiliknya?" tanya Tatsumi.
"Tidak ada yang tahu bentuk teigu itu, terkecuali Kaisar dan Perdana Mentri sendiri. Tapi tenang saja, kita beruntung karena pemilik teigu itu sedang tidak ada di Ibu Kota." terang Najenda.
"Souka." Tatsumi melihat kearah buku sebelum tersentak. "Bos, kau bilang catatan teigu ini hanya untuk semua teigu yang sudah Pasukan Revolusioner ketahui, bukan?"
"Benar." Najenda mengangguk.
"Hehehe." Tatsumi tertawa pelan. "Kalau begitu, pasti ada teigu yang bisa menghidupkan orang yang sudah mati." tanpa Tatsumi sadari, pandangan semuanya menjadi gelap dan dingin.
"Jika kita mendapatkan teigu itu, Saya pasti bisa dihidupkan kembali dan jug-"
"Tidak ada."
"Eh?" Tatsumi menoleh. "A-apa maksudmu, Akame?"
Akame menatap Tatsumi dengan dingin. "Tidak ada teigu yang seperti itu, Tatsumi."
"Pasti ada! Aku yakin kalau teigu yang seper-"
"Bukti nyata adalah Kaisar Pertama, Tatsumi." Bulat memotong perkataan, menatap dingin. "Kaisar Pertama tahu kalau dia akan mati, makanya dia membuat teigu untuk menjaga Kekaisaran."
"Jika teigu yang seperti itu ada, Kekaisaran ini tidak akan rusak karena masih Kaisar Pertama yang memimpin." tambah Mine.
"Sejak lahir nyawa manusia hanya ada satu, jika manusia sudah mati maka tidak akan ada yang bisa hidup lagi." ucap Sheele dengan pandangan kosong.
"Kami semua yang ada disini sudah siap jika harus mati suatu saat nanti, karena sudah sangat banyak sekali dosa yang telah kami lakukan." ujar Lubbock.
"Hadapilah kenyataan, Tatsumi. Temanmu tidak akan bisa hidup lagi. Kenyataan itu memanglah kejam." tambah Leone.
Tatsumi terdiam, syok. Ia pikir kalau teigu yang bisa menghidupkan orang yang sudah mati itu ada. Karena masih cukup banyak teigu yang belum terindentifikasi. Tapi, yang dikatakan oleh Mine ada benarnya juga, jika teigu yang seperti itu masih ada maka Kekaisaran tidak akan rusak, karena masih Kaisar Pertama yang memimpin.
Najenda sendiri hanya diam saja, ia tahu kalau kenyataan tersebut pasti sudah menghancurkan harapan Tatsumi. Tapi seperti yang dikatakan oleh Leone tadi, kenyataan itu memanglah kejam.
--Skip Time--
Sudah sekitar 20 menit semuanya pergi dari ruangan itu, meninggalkan Najenda sendirian yang sedang nikmatnya menghisap rokok sambil menutup mata.
Futs!
Mendengar sesuatu, Najenda kemudian membuka matanya. "Oh Naruto, kau sudah pulang?"
Uzumaki Naruto, mantan Nanadaime Hokage itu mengangguk. "Yap, aku sudah pulang dan ngomong-ngomong yang lainnya kemana?"
"Mereka semua baru saja bubar sekitar 20 menit yang lalu."
"Souka." Naruto mengangguk singkat. "Oh, ya, Najenda-san, ada informasi yang ingin kukatakan."
"Oh?" Najenda terlihat tertarik. "Informasi apa itu."
Naruto mengambil nafas pendek, ia mulai bercerita kalau Kaisar dan Perdana Mentri telah memperketat keamanan mereka, lalu dilanjutkan dengan informasi kalau Kekaisaran memiliki teigu yang berbentuk makhluk hidup.
"Dan terakhir, perkataan Perdana Mentri, dia bilang kalau penaklukan Suku Utara telah berhasil dilakukan." ujar Naruto mengakhiri perkataannya.
Deg!
Najenda tampak menegang saat mendengar laporan terakhir Naruto. Ia tahu betul siapa yang mendapat tugas untuk menaklukkan suku utara. Ia ingat kalau orang itu adalah orang terkuat di Kekaisaran setelah Jendral Utama yang ada di Kekaisaran, maka untuk menaklukkan suku utara bukanlah suatu hal yang sulit.
"Ini gawat, jika memang benar maka tidak lama lagi dia akan kembali ke Ibu Kita." gumam Najenda.
Namun gumaman Najenda masih kurang pelan. "Siapa yang sebenarnya kau maksud, Najenda-san?"
Najenda menatap serius Naruto, sambil memegang mata kirinya. "Dia yang kumaksud adalah orang terkuat kedua di Kekaisaran dan sekaligus orang yang bertanggung jawab atas hilangnya mata kiri dan tangan kananku. Namanya adalah, Esdeath."
Ditempat lain, jauh kearah utara. Disana ada sebuah desa yang sedang diterpa oleh badai salju. Namun, jika masuk ke dalam desa itu, maka akan nampak banyak sekali mayat-mayat yang tertancap di pasak. Pria, wanita, anak-anak bahkan lansia juga.
Semuanya mati dengan cara yang kejam. Ditempat lain yang ada di desa itu juga, ada sebuah lubang besar yang membeku. Tapi didalam lubang yang beku itu ada banyak sekali manusia. Mereka semua adalah penduduk desa yang dibekukan hidup-hidup.
Di jalan-jalan desa juga banyak sekali mayat yang bergelimpangan. Tangan terpotong, kaki terpotong, usus tercerai-berai, bahkan ada beberapa mayat yang sudah dipenuhi oleh burung gagak dan juga belatung. Sungguh kejam sekali.
Disebuah lapangan yang ada di desa itu, terlihat seorang wanita berpakaian militer sedang duduk di singgasana yang terbuat dari es. Tangan kirinya ia gunakan untuk menopang kepala sedangkan tangan kanannya memegang rantai.
Iris biru muda miliknya menatap bosan pria yang sedang dirantai lehernya, pria itu sedang menjilat sepatu yang sedang digunakan wanita itu. Terlihat kalau pria tersebut juga sedang tidak memakai busana apapun.
Salah satu prajurit maju satu langkah kedepan. "Esdeath Shogun, misi yang diberikan oleh Kaisar untuk menaklukkan suku utara sudah berhasil. Saat ini kita bisa kembali ke Ibu Kota."
Wanita bernama Esdeath itu menghela nafas pendek. "Aku pikir misi kali ini akan sangat menarik, tapi ternyata sangat mengecewakan."
Pandangan Esdeath kembali kearah pria yang sedang menjilat sepatunya. "Sampah."
Duagh! Crash!
Prajurit tadi sedikit terkejut saat cipratan darah mengenai wajahnya. Pria itupun mati setelah kepalanya ditendang, Esdeath kemudian berjalan melewati para prajurit sebelum berhenti.
Esdeath kemudian menyeringai. "Ibu Kota, aku harap ada sesuatu yang sangat menarik saat aku kembali."
--o0o--
Suasana yang ada disalah satu tempat yang ada di Ibu Kota, siang ini sedang ramai-ramainya. Terlihat penduduk yang sedang berjalan-jalan ataupun membeli sesuatu diwarung yang terpasang dipinggir jalan.
Perhatian orang-orang juga teralihkan kepada dua orang yang sedang berjalan bersama. Beberapa orang juga tampak tersenyum kepada dua orang itu.
"Oh Leone, lama tak jumpa."
"Kau semakin cantik saja, Leone."
"Leone Onee-chan, nanti main lagi!"
"Leone, nanti pijat bahuku lagi, ya."
Laki-laki yang berumur sekitar 19 tahun itu menoleh. "Kau sepertinya sangat terkenal, Nee-san."
"Ahahahaha, asal kau tahu saja, Tatsumi. Aku ini lahir di pemukiman miskin seperti ini, Aku juga sering membantu makanya aku sangat dikenal disini." jelas Leone.
"Souka. Ne, Nee-san, aku sudah sangat penasaran sebenarnya."
"Tentang apa?"
"Apa Nee-san suka sama Naruto-sensei?" tanya Tatsumi.
Langkah kaki Leone seketika berhenti dan terlihat kalau wajah gadis itu memerah serta ilusi uap yang keluar dari dalam kepalanya. Tatsumi juga ikut menghentikan langkahnya, ia pun menoleh kebelakang.
"Ada apa, Nee-san? Kenapa berhenti? Apa pertanyaanku itu benar?" tanya Tatsumi lagi.
"A-apa maksudmu!? A-aku mana m-mungkin menyukainya!" sanggah Leone, hilang sudah keceriaan yang ia miliki tergantikan oleh rasa malu.
Tatsumi terdiam sesaat sebelum tersenyum lebar. "Ternyata benar, Nee-san."
"Sudah kubilang kalau aku tidak menyukainya!" lagi-lagi Leone menyangkal.
"Tenang saja Nee-san, rahasiaku akan aman bersamaku." Tatsumi berujar sambil menepuk dadanya, bangga.
"Kau in-"
"ITU DIA LEONE!"
Tatsumi melihat kebelakang Leone sedangkan Leone menoleh kebelakang juga. Betapa terkejutnya mereka berdua saat melihat gerombolan pria dengan gampang seram, sedang berlari kearah mereka.
"ITU DIA LEONE!"
"KEMBALIKAN UANGKU YANG KAU PINJAM!"
"BAYAR UTANGMU, LEONE!"
Merasa kalau mereka berdua sedang dalam bahaya, Tatsumi melihat kearah Leone. "Nee-san, sepertinya kita harus segera pergi."
Leone mengangguk. "Kurasa kau benar, Tatsumi."
""Kabur!/Lari!""
Dengan jurus langkah seribu, mereka berdua segera kabur dari amukan massa yang menjadikan mereka berdua target.
"JANGAN KABUR!"
"GYAA!" histeris Tatsumi.
"HAHA, BAGAIMANA? MENYENANGKAN BUKAN?!" Leone bertanya sambil nyengir disela-sela berlari.
"NEE-SAN INGIN MATI!!" protes Tatsumi.
"AHAHAHA!"
Akhirnya aksi kejar-kejaran itupun terjadi, orang-orang juga hanya geleng-geleng kepala melihatnya. Kita tinggalkan dulu kedua adik kakak tidak bersaudara itu. Saat imi kita berfokus kepada kedua orang berbeda jenis kelamin, lagi.
Yang laki-laki berambut pirang jabrik sedangkan yang perempuan berambut pink yang dimana rambutnya dikepang dua. Mereka ialah Uzumaki Naruto dan Mine, anggota dari Night Raid. Mereka saat inj sedang berdua sambil berjalan dengan bahagianya, atau lebih tepatnya hanya Mine saja yang sedang bahagia.
"Hoi Mine, maksudmu mengajakku ke Ibu Kota hanya untuk menjadi suruhanmu saja?" tanya Naruto sambil mengangkat kedua tangan yang sedang memegang tas belanja.
Mine menoleh. "Tentu saja, lagipula itu bukan pekerjaan yang susah bagimu dan jangan lupa kalau gips ditangan kananmu sudah dilepas."
Memang benar, kalau tangan Naruto saat ini sudah lepas dari gips yang terpasang. Gips itu dilepas tadi pagi setelah dengan susah payah ia memohon kepada Leone. Karena Naruto sangat bersikeras akhirnya Leone luluh dan setuju untuk membuka gips itu.
Sebenarnya Naruto bisa saja melepaskan gips itu tanpa meminta persetujuan, namun karena ingat kalau Leone tidak ada bedanya dengan Tsunade baa-chan saat marah, Naruto kembali berpikir berulang kali untuk melakukannya.
Kembali ke cerita. Mendengar jawaban Mine, entah kenapa membuat Naruto sempat marah sebelum menghela nafas pendek. Ia lebih memilih mengalah.
'Tidak kusangka, Shinobi terkuat sekaligus Hokage terkuat menjadi tukang suruh.'
'Hei, aku hanya malas berdebat.'
'Bukan karena malas, tapi karena takut kalah melawan anak kecil lagi.'
'Hei! Apa maksudmu itu!?'
'Apa kau lupa?' Kurama menyeringai. 'Kau pernah kalah debat melawan adik dari gadis Hyuga itu.'
'Ugh...' Naruto sama sekali tidak bisa berkata apa-apa.
Selain karena tidak bisa membalas perkataan makhluk yang sudah mendiami tubuhnya sejak bayi, Naruto terdiam karena mengingat Hinata. Meski sudah meminta Kakashi-sensei untuk mengurus perceraiannya, Naruto masih susah untuk melupakan semua kenangannya bersama Hinata.
Karena tidak mendapat balasan sehingga Mine penasaran dan ia menoleh kebelakang. Bisa ia lihat kalau Naruto berada di jarak 10 meter darinya, sedang berjalan dengan pandangan kosong. Menoleh kebawah kanan dan kiri, akhirnya Mine berhasil menemukan apa yang ia cari dan mengambilnya.
Sebuah batu kerikil sebesar kelereng sudah berada digenggaman. Mengambil posisi yang sederhana, tangan kanan ditarik kebelakang, Mine mulai membidik.
Bletak!
"Wadauw!"
"Yes! Kena juga!"
"Hoi! Apa-apaan itu!?"
Kesal, tentu saja Naruto kesal. Sudah disuruh menjadi pembantu dadakan dan sekarang, kepalanya dilempar pakai baru. Sudah tentu Naruto bakalan kesal, busa dibilang kalau Mine ini sama menjengkelkannya dengan Ini saat kecil.
"Tentu saja untuk menyadarkanmu, siapa suruh jalan sambil melamun."
"Siapa yang sedang melamun, kampret!?"
"Sudah jelas kau yang jalan sambil melamun, rambut duren."
"Oi, rambutku memang sudah begini sejak kecil!"
"Kyaa! Kenapa kau jatuhkan tas belanjaku!? Kuning sialan!"
"Siapa tang kau panggil kuning, cebol!?"
"Ce-cebol?! Dasar kuning sialan!"
"Pink cebol!"
"Kuning tai!"
"Cewek judes!"
"Kucing garong!"
Perdebatan diantara mereka berdua akhirnya terjadi, tanpa memandang tempat. Orang-orang yang lewat hanya geleng-geleng kepala. Tidak jauh dari mereka berdua, ada dua orang lansia yang duduk bersama di bang ku taman.
"Seperti kita dulu saat masih muda." kata si kakek.
"Iya." balas si nenek.
--Skip Time--
Malam hari ketika sedang puncaknya bulan bersinar, lampu-lampu yang ada di Ibu Kota menyala terang sehingga gelap malam tidak menakutkan. Ada sebagian orang-orang yang masih melakukan aktivitas, sehingga jalan di Ibu Kota masih ramai.
Futs!
Seberkas kilatan cahaya berwarna kuning, muncul diatas salah satu atap perumahan. Kilatan cahaya itu menghilang dan memperlihatkan dua orang berbeda gender.
Pria yang memakai baju kaos lengan panjang berwarna hitam dan dilapisi rompi hijau tanpa lengan itu, merendahkan tubuhnya dengan kedua tangan memegang atap. Iris berwarna blue saphire itu sedang mengobservasi rumah besar tepat dihadapan mereja berdua.
"Jadi, pemilik rumah ini yang menjadi bagian kita berdua, Akame-chan?" tanya pria itu.
"Akame mengangguk singkat. "Benar, Leone dan Tatsumi sudah mendapat bagian untuk menghabisi semua bawahan Yora yang sedang melakukan pertemuan di satu tempat."
"Mine dan Sheele mendapat bagian untuk mengeksekusi langsung Yora sedangkan kita mendapat bagian untuk menghabisi Edric yang bekerja sama dengan Yora." jelas Akame.
Pria itu mengangguk meski matanya tidak berhenti mengawasi banyaknya prajurit yang sedang berjaga. Ia melihat kearah menara, dimana ada prajurit yang sedang mengatur cahaya senter. Pria itu melirik kearah Akame.
"Bagaimana kalau kita berdua bagi tugas." usul pria itu.
"Bagi tugas?"
"Benar." pria itu mengangguk. "Tugasmu adalah menghabisi Edric sedangkan biar aku menghabisi seluruh penjaga itu."
Meski wajahnya terlihat datar tapi Akame sebenarnya merasa khawatir. "Apa kau yakin, Naruto?"
Ternyata pria itu adalah Naruto, mantab Hokage desa Konoha. Ia hanya tersenyum tipis. "Jangan khawatir, mereka belum pernah melawan seorang Shinobi."
Akame menghela nafas, merasa lega. Kenapa bisa ia lupa kalau pria disampingnya ini adalah seorang shinobi atau bisa disebut ninja. Melihat kalau Akame mengangguk, Naruto menutup mata dan memakai topeng bermotif rubah dengan dua lubang dibagian mata. Ia kemudian membuka matanya dan memperlihatkan kalau iris blue saphire itu menyala dibalik topeng.
Naruto menoleh. "Aku pergi duluan."
Belum sempat membalas, Naruto sudah hilang dalam kilatan kuning. Akame menghela nafas pendek. Berhati-hatilah, Naruto."
Akame pun lompat turun, mengikuti gravitasi. Sedangkan dihalaman rumah megah milik Edric, para penjaga yang sedang memeriksa sekeliling langsung menoleh ke satu tempat, ketika kilatan kuning muncul disitu.
Salah seorang penjaga tersentak, saat sadar siapa yang baru muncul. "Itu Kitsune! Anggota Ni-"
Belum sempat selesai berbicara, prajurit itu langsung mati ketika sebilah kunai cabang tiga bersarang dilehernya. Kilatan kuning muncul di depan mayat penjaga itu, Naruto mencabut kunai itu dan melirik dingin kearah kiri.
Futs! Cleb!
Satu penjaga kembali mati saat Naruto muncul dibelakangnya dan menusuk lehernya hingga tembus. Kemudian Naruto kembali menghilang dalam kilatan kuning dan kembali menghabisi penjaga yang masih mencerna kejadian.
Salah seorang penjaga yang tersadar duan, langsung berteriak. "Serang anggota Night Raid itu!!"
Sontak semuanya langsung tersadar dan segera menyerbu Naruto. Menatap dingin, kunai miliknya digenggam erat, Naruto langsung berlari kearah kumpulan penjaga itu. Selagi berlari, Naruto mengalirkan chakra ke kunai yang ia pegang sehingga kunai itu menjadi panjang seperti pedang.
Crash! Crash! Crash!
"Arrrrk!"
"Arrgh!"
"Sakit!"
Teriakan kesakitan langsung memenuhi lapangan yang luas itu ketika tubuh mereka tertusuk dan ditebas duluan. Para prajurit itu tidak bisa melawan sama sekali.
Ketika sedang menebas dan menusuk penjaga yang mengepungnya, instingnya berteriak sehingga Naruto dengan segera menjauh dari kepungan itu. Benar saja, rentetan peluru langsung menghujani dirinya. Dengan kunau cabang tiga yang menjadi panjang karena dialiri oleh chakra, Naruto langsung menangkis semua peluru itu.
Iris blue saphire yang bersembunyi didalam topeng itu menanam, akhirnya ia tahu darimana peluru itu berasal. Karena tangan kanannya sedang sibuk menangkis semua peluru itu, Naruto membuat single heandseal menggunakan tangan kiri.
"Hiraishin No Jutsu."
Penjaga yang menembak dari atas menara itu terkejut saat melihat kalau targetnya menghilang. Merasakan hawa keberadaan seseorang dibelakangnya, prajurit itu segera menoleh.
Crash! Dug! Brugh!
Kepala prajurit itu jatuh terlebih dahulu dan diikuti tubuhnya yang tanpa kepala. Melihat kearah menara satunya, Naruto menghilang dalam kilatan kuning dan muncul dibelakang prajurit yang ada dimenara itu.
Cleb!
"Ohok!"
Kepala penjaga itu tidak ditutupi oleh helm sehingga terlihat kalau kedua matanya membola saat merasakan sakit tepat didadanya. Dengan gerakkan patah-patah, prajurit tersebut menoleh kebelakang.
"Ku-kurang ajar..." ucapnya.
Ekspresi Naruto sama sekali tidak terlihat karena ia menutupi wajahnya menggunakan topeng. Ia kemudian memajukan kepalanya ke telinga penjaga itu.
"Ternyata memang benar kalau kalian semua belum pernah melawan shinobi." bisiknya.
Naruto menarik kunau itu dengan kasar sehingga cipratan darah mengenai bagian depan badannya. Ia pun berjalan kedepan dan melihat kebawah dimana penjaga yang lain sedang mencarinya.
"Waktunya pembantaian, Kurama." ujar Naruto pelan.
'Tunjukkan pembantaian yang menarik, Gaki.' Kurama menyeringai.
"Tentu saja." Naruto langsung melompat turun dari atas menara.
Tap!
Perhatian semua penjaga teralihkan kearah suara yang baru saja terdengar. Mereka semua bisa lihat kalau disitu sudah ada Naruto yang sedang berjongkok sambil menundukkan kepalanya.
Secara slow motion, Naruto mengangkat kepalanya sehingga terlihat kalau kedua matanya menyala terang. Sebagian penjaga berjengit takut saat bertatapan langsung.
"Hiraishin."
Suara pelan menyala gendang telinga setiap penjaga dan selanjutnya tidak ada yang tahu. Mereka semua hanya melihat kilatan-kilatan kuning sebelum kegelapan menyambut. Kejadian terjadi selama 2 menit dan seluruh penjaga yang ada dirumah itu sudah dibabat habis oleh Naruto.
Dari seluruh penjaga yang disewa oleh Edric, hanya satu yang saja masih selamat dari pembantaian itu. Dengan kedua kaki dan tangan kiri yang terpotong, penjaga itu menangis sambil mencoba menjauh.
"Pergi! Pergi! Tinggalkan aku sendirian! Dasar kau monster!" teriak penjaga itu dengan histeris.
Bagaiman tidak mau disebut monster, dari seluruh penjaga yang berjumlah ratusan orang, semuanya dibabat habis hanya dalam waktu 2 menit saja. Karena itulah, penjaga yang masih hidup tanpa ragu menyebut Naruto dengan sebutan monster.
"Monster?" langkahnya berhenti sesaat. "Sudah lama sekali aku tidak mendengar julukan itu."
Penjaga itu semakin ketakutan saat Naruto kembali berjalan menuju arahnya. Dengan keadaan seluruh tubuh yang terkena noda darah dan sebilah kunai ditangan kanan, Naruto segera menginjak perut besar penjaga itu.
Sing!
"Hii!"
Penjaga tersebut berjengit saat merasakan dingin besi dilehernya. Naruto menatap dingin penjaga itu sambil memusatkan nafsu membunuhnya hanya kepada penjaga itu.
"Katakanlah ini kepada Perdana Mentri, Kaisar dan orang-orang yang membantu kejahatan mereka. Kami, para Pasukan Revolusioner dan Night Raid akan segera menggulingkan pemerintah yang rusak ini." ancam Naruto sebelum menghilang dalam kilatan kuning, meninggalkan satu-satunya penjaga yang masih hidup meski sudah pingsan.
Pada malam itu, tidak bisa diragukan lagi kalau Kitsune adalah anggota Night Raid yang paling cepat. Hanya bermodalkan sebilah kunai serta kecepatan diluar nalar. Kitsune bisa membabat habis penjaga yang berjumlah ratusan orang hanya dalam waktu 2 menit.
Pada malam itu juga merupakan malam tragedi pertama dipihak Night Raid.
--To Be Continued--
--Minggu, 10-Januari-2021--
--Pukul 21:40--
