Owari no Seraph bukan saya yang buat. Saya cuma pinjam judul dan nama para karakternya saja. Kecuali OC yang saya buat :)


Chapter VI: Berkunjung

Shinku POV

Akhirnya aku sampai juga di depan apartemen yang ditinggali Kak Guren. Sopir yang tadi mengantarkanku juga kini mengikuti di belakangku. Sebelum memasuki bangunan apartemen itu, aku menyuruh sopirku untuk menunggu di depan pintu masuk. Dengan segala upaya kuucapkan padanya hingga akhirnya dia setuju untuk menunggu.

Sebetulnya sejak tadi turun dari mobil, aku punya perasaan buruk. Entah apa itu, tapi sepertinya akan terjadi sesuatu yang tak baik. Aku berusaha berpikir positif. Semoga saja itu hanya masalah kecil antara Guren, Sayuri, dan Shigure.

Tapi rupanya firasat buruk itu semakin kuat begitu aku memasuki bangunan itu. Aku segera memasuki lift dan menuju ke lantai apartemen tempat Kak Guren tinggal.

Selama lift berjalan naik, aku merasakan hawa yang sangat tak mengenakkan dan terus memasang sikap dan posisi waspada.

Tepat saat pintu lift terbuka, hawa buruk yang tadi kurasakan menghilang. Terlihat Kakakku yang sedang menatap pintu lift yang ada di sebelah lift yang kunaiki berada.

"Kak Guren..."

Panggilan dariku membuat Kak Guren mengalihkan pandangannya dari arah lift menjadi ke arahku.

"Yo Shinku. Cepat juga. Kukira masih berbulan-bulan sampai kau bisa kemari." Ucap Kakakku dengan nada santai seperti sama sekali tak merasakan hawa buruk yang sejak tadi kurasakan.

"Kakak. Tadi ada apa? Sejak aku sampai kemari ada hawa buruk yang terus terasa, dan baru saja tadi haa buruk itu menghilang". Aku bertanya. Tak mungkin Kakakku tak bisa merasakan hawa buruk yang tadi.

"Ah itu..." Ucapan Kak Guren terpotong Sayuri yang tiba-tiba datang dengan berlari sambil mengenakan celemek.

"Guren-Sama. Kenapa anda pergi tiba-tiba tanpa memberitahu kami... Ah. Shinku-Sama juga ada disini rupanya". Ucap Sayuri dengan nada yang terdengar khawatir.

"Itu. Tadinya aku ingin berlatih, tapi kebetulan bertemu Shinku-Sa... Shinku, karena itu tak jadi. Kari nya sudah jadi?" Kakakku mengatakan setengah kebenaran dan setengah kebohongan. Saat dia hampir memanggilku dengan sebutan -Sama, aku mencubit lengannya. Aku tak suka kakakku sendiri memanggilku dengan julukan itu.

Sayuri ternyata meninggalkan kompor yang masih menyala. Karena itu dia langsung berlari kembali untuk memeriksa masakannya.

Shigure yang lebih peka, menanyakan apakah ada sesuatu yang terjadi padaku dan Kak Guren. Dengan santainya, kakakku mengatakan kalau tak terjadi apapun.

"Shinku-Sama. Apakah Anda akan ikut makan malam bersama di sini bersama kami?" Tanya Shigure dengan sopan.

Sebelum aku sempat menjawab iya, telepon genggamku berdering. Yang menelepon rupanya sopir merangkap penjaga yang kutinggalkan di bawah.

Sesuai dugaanku. Aku sudah harus segera kembali ke kediaman Hiiragi. Aku hanya punya waktu sebentar utuk berbicara dengan Kakakku.

"Maaf. Aku hanya diberi sedikit waktu untuk datang kemari dan berbicara dengan kakakku. Shigure, kupinjam Kak Guren sebentar ya." Ucapku lalu menarik tangan Guren. Shigure hanya mengangguk lalu berjalan ke arah yang sama dengan Sayuri.

Begitu Shigure sudah tak terlihat, aku kembali berbicara dengan kakakku.

"Kak, tadi itu, sebenarnya ada apa? Apa ada penyerangan dari Hiiragi?" Tanyaku penasaran.

"Bukan. Orang itu mengaku berasal dari organisasi Gereja Hyakuya dan menawarkan perjanjian untuk menghancurkan Mikado no Oni" Jawabnya.

"Hyakuya ya... Memang sih dari dulu Hyakuya dan Hiiragi itu memang musuh berat. Lalu? Jawaban Kakak gimana?" Aku kembali bertanya.

"Tentu saja kutolak. Aku tak ada minat untuk bergabung dengan organisasi seperti itu" Jawabnya.

Tentu saja. Kakakku tak akan mau ikutan dengan organisasi yang sama mengerikannya dengan Hiiragi, walaupun dia membenci Hiiragi setengah mati.

Aku sedikit tersenyum mendengarnya lalu mengubah topik pembicaraan.

Aku mengganti raut wajahku menjadi lebih serius. Kak Guren pun nampaknya tahu kalau kali ini aku ingin mengatakan sesuatu yang lebih serius.

"Kak, Kakak tinggal di ruangan apartemen yang berbeda dengan Sayuri dan SHigure kan?" Tanyaku.

Kakakku tak langsung menjawabnya dan malah membuang muka sambil menggaruk tengkuknya.

"jangan-jangan kakak satu ruang apartemen dengan mereka?!"

Pertanyaanku lagi-lagi diabaikan tak dijawab. Namun dengan itu aku sudah tahu. Kakakku tinggal di satu ruang apartemen yang sama dengan kedua gadis itu. Aku tediam mencerna fakta itu.

"I...Itu soalnya mereka berdua terus bersikeras. Semua usahaku untuk menyuruh mereka keluar gagal..." Kak Guren membela dirinya. Aku memang tahu Kakakku bukan orang yang mesum (mungkin), tapi masa puber kan sulit ditolak...

"Kak. kalau kakak mengkhianati Mahiru, aku sendiri yang akan melempar Kakak dari puncak gunung Fuji" Ucapku dengan aura gelap menahan marah yang salah sasaran.

Mendengar ucapanku, wajah Kakak sedikit memucat lalu mengangguk dengan cepat sebanyak 3 kali.

Setelah itu, aku tak punya banyak waktu tersisa untuk berbicara dengan kakakku karena telepon genggamku kembali berdering, kali ini Kureto yang menelepon dan menyuruhku segera pulang. Karena Kureto yang menelepon, aku tak bisa membantah dan segera pulang.

Padahal, aku masih ingin mengobrol dengan kakakku lebih lama...

Bersambung...