Chapter 8: A Secret Admirer A Stalker
.
.
.
.
Saat pertama kali sebuah ide untuk menulis pesan pada sang gebetan terlintas di kepalanya, Katsuki sama sekali tidak pernah berpikiran jika dirinya akan mendapatkan sebuah balasan. Baginya, dapat melakukan protes saja sudah cukup—meski sebenarnya ia ingin sekali berkata kasar—. Makanya, saat Katsuki melihat balasan dari si doi, ia agak kaget, tapi di sisi lain ia juga merasa bahagia. Selain itu, ia juga merasa secercah harapan mendatanginya. Mungkin saja Katsuki bisa menggunakan cara ini untuk memperkecil jarak di antara mereka.
Tapi, jawaban seperti apa yang harus Katsuki tulis untuk membalas pesannya?
Tidak mungkin kan kalo ia mengakui siapa dirinya? Jika semudah itu ia mengakuinya, jadi untuk apa selama ini dirinya bersusah payah menyembunyikan eksistensinya? Ia juga tidak bisa bilang kalo dia tuh pengagum rahasianya, karena ia menyukai Todoroki Shouto makanya ia memberikan semua 'hadiah' itu. Kalo ia jawab seperti itu, bisa-bisa gebetannya itu malah tambah ilfil lagi. Ugh, Katsuki jadi tambah bingung harus jawab apa.
Argh.
Masa bodo lah, yang paling penting saat ini adalah membalas pesan dari sang pujaan hati yang setidaknya bisa membuat mereka berdua saling terhubung.
Menurutmu?
Sebuah pesan singkat membalas pertanyaannya tempo hari.
Shouto tidak mengerti apa maksud dari sang stalker mengiriminya pesan singkat itu. Apa orang itu bermaksud untuk bermain tebak-tebakan dengan dirinya? Well, Shouto juga mengerti sih jika dirinya tidak akan mudah mendapatkan identitas si penguntit begitu aja.
It takes two to tango.
Kalo memang orang itu ingin bermain dengannya, akan Shouto layani.
{A/n: dari sini adalah percakapan antara Katsuki dan Shouto lewat tulisan di meja setiap harinya}
S: Menurutku kau adalah seorang stalker
K: Sudah ku bilang kalo aku bukanlah stalker
S: Kalo gitu, kau itu adalah seorang penguntit
K: Itu sih sama aja
S: Menurutku berbeda
K: Apa bedanya?
S: Kalo stalker itu b. inggris, kalo penguntit jelas-jelas b. indonesia
(Saat Katsuki membaca kalimat ini, rasanya ia ingin sekali menjedotkan kepalanya ke dinding)
K: Meski beda bahasa, tapi artinya tetep sama
S: Emang artinya apa?
K: Sama-sama tukang ngintilin orang
S: Bukannya yang suka ngintilin orang tuh kamu ya?
K: Siapa yang suka ngintilin orang? Lagian aku gak pernah ngintilin kamu tuh
S: Kalo kamu gak pernah ngintilin aku, bagaimana kamu selalu tau benda yang ku butuhkan?
K: Cuman kebetulan aja liat kamu sedang kesusahan
S: Kamu selalu membantuku setiap kali melihatku sedang kesusahan. Bukankah itu berarti selama ini kamu memperhatikanku?
K: Terus memangnya kenapa kalo aku selalu memperhatikanmu?
S: Apa yang kamu lakukan berbanding terbalik dengan apa yang kau katakan
K: Maksudmu?
S: Kamu bilang kalo dirimu bukanlah seorang stalker, tapi apa yang kamu lakukan adalah hal yang sering dilakukan oleh stalker
K: Selalu memperhatikanmu bukan berarti aku adalah stalker
S: Jika kamu bukanlah seorang stalker, terus kenapa kau selalu memperhatikanku? Kenapa kau selalu mengirimiku sesuatu?
K: Tidak ada alasan khusus, hanya ingin saja
S: Apa itu artinya kau juga selalu memperhatikan dan mengirimi sesuatu pada orang lain selain diriku?
K: Tentu saja tidak. Kau pikir aku tuh Santa Claus apa yang gak punya kerjaan lain selain mengirimi orang hadiah?
S: Lalu kenapa harus aku?
K: Karena tidak ada artinya jika itu bukan kamu
S: Kenapa?
K: Alasannya tidak penting
Katsuki tidak menyangka jika kini dirinya bisa kontekan dengan sang pujaan hati. Well, meskipun dirinya harus ekstra sabar tiap kali membaca balasaan dari si doi. Tapi setidaknya ia kini selangkah maju dalam mendekati Todoroki Shouto. Dan untuk sekarang, yang perlu—mesti—ia lakukan adalah menyingkirkan persepsi Todoroki Shouto yang keukeuh menganggap dirinya seorang stalker.
YOSH! KATSUKI, GANBAROU!
