Title : Love Me If You Dare

Genre : Romance, Drama, Hurt/Comfort

Cast : Park Chanyeol x Byun Baekhyun slight

Park Chanyeol x Do Kyungsoo

and others

Rating : T / General / Mpreg

(rating bisa berubah sewaktu-waktu)

Length : Chaptered


Chapter 8

Apakah Baekhyun sudah pernah bilang kalau ia paling benci saat mendengar suara denting bel di pagi liburnya?

Serius.

Baekhyun sudah mengatakannya berulang-ulang, ia sangat membencinya.

Baekhyun tidak suka kesempatan untuk tidur lebih lama yang hanya bisa ia dapatkan saat akhir pekan terganggu dengan suara bel pintu yang pasti berasal dari seseorang yang tidak tahu 'etika bertamu' datang ke apartemennya.

Tangan Baekhyun terangkat untuk meraba sisi lain ranjangnya, berniat membangunkan Luhan yang seharusnya masih terlelap juga disana dan meminta temannya itu untuk membukakan pintu karna ia terlalu malas untuk bangun.

Dan sia-sia.

Ia tidak menemukan sosok Luhan disebelahnya.

'Sial, dia pasti tidak pulang saat semalam bilang akan menghabiskan malam minggu bersama teman-temannya di pub.'

Oke, Baekhyun menyerah.

Ia bangkit dari ranjangnya, setidaknya Baekhyun pikir ia hanya akan membukakan pintu, menanyakan maksud kedatangan si 'pelaku' , menyelesaikan urusannya dan kembali tidur.

−atau mungkin juga tidak.

Kalau saja bukan wajah pria tinggi nan tampan dengan senyum lebar yang saat ini menyapanya dibalik pintu apartemen yang telah ia buka lebar.

Ya, benar. Park Chanyeol adalah si 'pelaku' yang menekan bel pintu apartemennya pagi ini.

Baekhun reflek menyentuh rambutnya yang ia yakini saat itu mencuat berantakan layaknya sarang burung. Lalu menutup sebagian wajahnya dengan telapak tangan untuk menyembunyikan muka bantal-nya dihadapan pria itu.

Sungguh penampilannya saat ini pastilah sangat memalukan untuk menerima seorang tamu, apalagi tamu itu adalah Park Chanyeol.

"Hai, Baekhyun." sapa pria itu pertama kali.

Sial, ini benar-benar Chanyeol.

Baekhyun hampir mengira ia masih berada di alam mimpi saat menemukan sosok yang tidak pernah ia sangka akan berada di depan pintu apartemennya kini berdiri dengan pakaian casual, membawa satu paper bag cokelat di tangan dan senyum lebar andalannya dengan begitu santai.

"Apa yang kau lakukan disini?" Baekhyun berujar panik. Matanya mengawasi pada lorong-lorong gedung apartemennya yang terlihat sepi.

Tentu saja, bagi sebagian orang pasti terlalu awal untuk memulai aktifitas saat hari libur di jam delapan pagi. Tidak, terkecuali dengan dengan pria kelebihan kalsium dihadapannya ini.

"Membawakanmu seloyang tiramisu." ucapnya dengan tanpa rasa bersalah sambil mengangkat paper bag dengan logo toko kue kesukaan Baekhyum terpampang disana. "Kemarin kau bilang ingin memakannya, kan?"

Apa yang ia maksud kemarin adalah saat pria itu datang keruangannya, membawakan kotak makan malam dan menanyakan rencananya diakhir pekan?

"Aku bisa membelinya sendiri." Baekhyun dibuat geram dengan alasan konyol yang didengarnya.

"Kau tidak bisa membelinya sendiri, kau bilang tubuhmu mudah lelah semenjak hamil."

Baekhyun membelalakkan mata saat Chanyeol dengan mudah mengatakan soal kehamilannya dengan sembarangan.

Hei, itu rahasianya. Rahasia yang menyangkut hidup dan matinya.

Bagaimana kalau ada yang tidak sengaja mendengar perkataannya barusan dan mulai mengosipkan tentang kehamilan Baekhyun.

Kehamilannya bukan suatu hal yang bisa dibicarakan dengan sembarangan. Harusnya Chanyeol tahu hal itu.

"Bisakah kau tidak mengatakannya dengan semudah itu tentang 'sesuatu' yang terjadi padaku saat ini?" Baekhyun melipat tangan didepan dada, melirik Chanyeol kesal. "Asal tahu saja itu masih menjadi sebuah rahasia besar yang coba aku sembunyikan dengan susah payah selama ini."

"Ah, maaf." Chanyeol mengusap tengkuknya merasa bersalah. "Aku tidak bisa menahannya."

"Apa yang tidak bisa ditahan?"

"Tidak, bukan apa-apa." gugup Chanyeol yang langsung mengalihkan pandangannya.

"Bagaimanapun terima kasih untuk tiramisu-nya." Baekhyun mengambil alih paper bag ditangan Chanyeol. "Aku menerimanya karna kau sudah repot-repot membelikannya dan mengantar sampai kesini."

Chanyeol kembali mengulas senyum, ia merasa seperti ada secercah harapan bahwa Baekhyun mulai menerima kehadirannya−

"Lain kali tidak perlu melakukan hal ini lagi. Aku benar-benar merasa tidak nyaman." lanjutnya kemudian.

−atau mungkin juga tidak.

Chanyeol tersenyum simpul mendengarnya. Ia tau apa maksud dari ucapan Baekhyun barusan.

Perjanjian itu.

Baekhyun pasti menerimanya karna ia merasa terikat dengan perjanjian yang mereka buat saat itu. Tentang kesempatan yang diberikan padanya, tentang waktu satu minggu, tentang ia akan membiarkan Chanyeol melakukan apapun yang ia mau pada 'bayi' itu sebelum Baekhyun mengugurkannya.

Ah, tidak.

Mengingat soal mengugurkan kandungan membuat retakan yang ada dihati Chanyeol semakin besar. Ia harus berhenti memikirkannya.

Setidaknya Chanyeol merasa senang ia menganggap Baekhyun mulai sedikit membuka hati untuk kebaikannya dengan menerima tiramisu yang ia belikan.

Itu sudah lebih dari cukup.

"Kalau sudah tidak ada keperluan lagi−"

"Apa aku boleh mampir?" tanyanya cepat saat Baekhyun hampir menutup pintu apartemennya.

Walaupun kemungkinan diizinkan hanya lima persen dari seratus persen kemungkinan yang ada, Chanyeol tetap mengutarakan keinginannya.

Ia tahu itu adalah sebuah permintaan yang agak berlebihan mengingat Baekhyun belum sepenuhnya menerima kehadirannya, tapi apa yang ada dipikiran Chanyeol saat ini−setidaknya ia sudah berusaha.

"Aku-"

"Waktu ku hanya tinggal sebentar lagi." ucapnya beralasan. "Setidaknya biarkan satu hari ini aku berada didekatnya. Aku tidak akan menganggumu atau membahas hal ini. Aku hanya akan diam lalu pulang setelahnya."

Lagi.

Chanyeol kembali membahas soal waktu yang ia berikan. Baekhyun tidak bisa membantah karna ia sendiri yang juga ikut menyepakati tentang perjanjian konyol soal waktu satu minggu itu.

Baekhyun terlihat berpikir sejenak sebelum akhirnya kembali membuka pintu apartemennya lebih lebar. "Masuklah."

Ajakan itu disambut senyum lebar dari Chanyeol, sebelum sosok dihadapannya berubah pikiran Chanyeol segera melesak masuk kedalam apartemen Baekhyun.

Tolong jangan salah paham. Baekhyun tidak ada maksud lain saat mengizinkan Chanyeol untuk mampir kedalam apartemennya.

Ia hanya merasa tidak enak karna pria itu sudah repot-repot membelikannya tiramisu kesukaannya−tanpa diminta−dan mengantarnya langsung pada Baekhyun.

Ia rasa menerima tanpa membalas hanya akan membuatnya berhutang budi pada pria itu, jadi Baekhyun pikir setidaknya ia akan membalas tiramisu yang diberikan Chanyeol dengan secangkir kopi dan setelah itu ia tidak perlu merasa berhutang lagi pada kebaikan Chanyeol padanya.

Mungkin bagi sebagian orang itu memang terdengar seperti hanya sebuah alasan. Tapi terserah Baekhyun malas memikirikannya.

Chanyeol melangkah masuk ke dalam apartemen Baekhyun, matanya tidak sengaja menangkap sebuah paper bag dengan logo yang sama seperti yang ia berikan pada Baekhyun tadi.

"Sepertinya aku terlambat membawakannya, kau sudah memiliki tiramisu-mu disana."

Baekhyun memang tidak asal bicara kemarin saat Chanyeol menanyakan soal rencananya menghabiskan akhir pekan dengan tidur seharian dan menikmati seloyang tiramisu.

Ia memang telah merencanakannya.

Jadi saat kemarin ia pergi keluar bersama dengan Kyungsoo, Baekhyun menyempatkan diri untuk mampir ke toko kue langganannya dan membeli tiramisu kesukaannya.

Ia tidak menduga kalau Chanyeol juga menganggap serius ucapannya tempo hari dan benar-benar membawakannya tiramisu yang bahkan juga ia beli dari toko kue yang sama.

Kebetulan yang menyebalkan.

"Aku akan membasuh wajahku terlebih dulu." pamit Baekhyun lalu menghilang di balik salah satu pintu yang Chanyeol yakini itu adalah pintu kamarnya.

Sambil menunggu Baekhyun, Chanyeol memutuskan untuk berkeliling diruang tengah apartemen tersebut.

Baekhyun menata apartemennya dengan sangat minimalis, semua perabotannya benar-benar berada pas dan sesuai dengan fungsinya didalam apartemen mungil tersebut. Sangat jauh berbeda dengan rumah yang ia tinggali saat ini.

Terlalu besar dan kosong.

Dulu tujuan Chanyeol saat akhirnya memutuskan untuk membeli rumah besar tersebut yang ada dikepalanya adalah untuk ia tinggali bersama keluarga kecilnya kelak.

Chanyeol memilih rumah dengan banyak kamar dan halaman luas dengan harapan suatu saat ia akan melihat anak-anaknya akan memiliki kamarnya masing-masing dan dapat berlari bebas dihalaman yang ia desain se-nyaman mungkin.

Benar. Anak-anak.

Chanyeol memutuskan saat ia siap menjadi seorang ayah nanti, ia akan memiliki empat orang anak. Dua laki-laki dan dua perempuan.

Chanyeol ingin menebus kesepian yang selama ini ia rasakan karna terlahir sebagai anak tunggal dengan membuat keluarganya sendiri.

Empat anak akan membuat rumahnya ramai dengan tawa dan rengekan manja yang akan terjadi.

Sungguh memikirkannya saja sudah membuat jantungnya berdegup senang.


.
.
.

Saat ia masih sibuk mengagumi interior didalam apartemen Baekhyun, Chanyeol tertarik pada satu sudut dimana ada sebuah rak buku dengan foto-foto berbingkai yang tertata rapi disana.

Ia memutuskan mendekat agar dapat melihatnya lebih jelas.

Dibarisan partama ada foto Baekhyun saat ia masih kecil−mungkin umurnya sekitar satu tahun− mengenakan jaket mirip beruang cokelat lengkap dengan kupingnya yang menonjol diatas kepala tengah tertawa lucu menghadap kamera.

Oke, Chanyeol akui Baekhyun memang sudah terlihat manis sejak ia masih sangat kecil.

Dibarisan selanjutnya ada foto Baekhyun yang mengenakan seragam sekolah menengah, sedang merangkul sosok lain yang memakai pakaian yang senada. Chanyeol mengenali sosok lain didalam foto tersebut yang tidak lain dan tidak bukan yaitu kekasihnya sendiri−Do Kyungsoo.

Keduanya terlihat bahagia dari foto yang diabadikan dan terbingkai rapi disana. Baik Kyungsoo maupun Baekhyun terlihat hampir tidak menua jika dibandingkan dengan sosok mereka saat ini yang sebentar lagi menginjak usia kepala tiga.

Keduanya terlihat sangat dekat. Tidak heran kalau mereka terlihat lebih seperti kakak dan adik daripada sahabat sejak kecil.

Dibarisan terakhir adalah foto Baekhyun saat ia merayakan hari kelulusannya dari universitas.

Ia tidak sendiri, didalam foto dirinya didampingi oleh dua orang paruh baya dengan senyum hangat yang Chanyeol kenali sosoknya adalah sebagai orang tua Kyungsoo.

Tidak ada Kyungsoo disana, hanya ada mereka bertiga yang tersenyum lebar menghadap kamera dan tangan Baekhyun yang melingkar dimasing-masing pundak orang tua Kyungsoo. Terlihat hangat dan menyentuh bagi siapapun yang mengetahui cerita sebenarnya dibalik kehadiran orang tua Kyungsoo dihari kelulusannya−termasuk Chanyeol.

Tidak heran mengapa Baekhyun begitu keras ingin menggugurkan kandungannya mengingat apa yang menjadi alasan kuatnya untuk melakukan hal tersebut adalah karna ia tidak ingin mengecewakan keluarga Kyungsoo.

Chanyeol tidak bisa egois untuk hal satu itu. Sebegitu inginpun ia untuk mempertahankan bayi ini kalau Baekhyun sendiri tidak bisa mempertahankannya Chanyeol mau tidak mau harus menerimanya.

Saat ini, bayi itu bukan hanya menyangkut hidupnya saja tapi Baekhyun juga mempertaruhkan hidupnya pada kesalahan yang terlanjur mereka lakukan sehingga menyeret sosok lain yang tidak bersalah itu kedalam hubungan rumit yang telah mereka ciptakan.

Chanyeol tahu tidak ada jalan kalau hanya ia yang mengharapkan kehadiran bayi tersebut, terkecuali kalau Baekhyun merubah pikirannya−yang mana kemungkinan itu hampir tidak akan mungkin terjadi.

Chanyeol yakin keputusan ini pasti sudah Baekhyun pikirkan matang-matang. Termasuk saat ia memutuskan untuk jujur pada Chanyeol tentang kehamilannya.

Jujur adalah sebuah keputusan yang sulit, tapi Baekhyun melakukannya untuk 'sedikit' meringankan rasa bersalahnya. Chanyeol harus merasa bersyukur akan hal itu.

Seandainya saat itu Baekhyun tidak berkata jujur, mungkin hingga saat ini Chanyeol tidak tahu kalau ia 'hampir' memiliki seorang bayi yang begitu ia idam-idamkan sejak lama.

Cukup dengan mengetahuinya.

Saat sibuk dengan foto-foto berbingkai di rak tersebut Chanyeol menyadari ada hal lain yang juga menarik perhatiannya. Ditumpukan buku-buku yang tertata rapi ada satu buku yang membuatnya tanpa sadar tersenyum.

Itu adalah buku yang ia berikan pada Baekhyun tempo hari saat ia membawakan makan malam ke ruang kerjanya.

Chanyeol kira Baekhyun akan membuangnya, mengingat perubahan raut wajah Baekhyun saat ia mengetahui buku apa yang Chanyeol bawakan padanya malam itu.

Chanyeol mengeluarkan buku itu dari tumpukan lainnya, membuka beberapa halaman yang dilipat ujungnya seolah menandakan bahwa buku ini dibaca oleh pemiliknya sehingga si pemilik menandakan beberapa halaman yang mungkin akan berguna untuk ia baca kembali dengan melipat ujung kertasnya.

Saat Chanyeol membuka halaman terakhir sebuah foto yang awalnya ada disana ikut terjatuh ke lantai. Chanyeol meraihnya, meneliti gambar hitam putih yang terlihat abstrak itu sambil menebak-nebak foto apa yang ada ditangannya saat ini.

Chanyeol rasa ia pernah melihatnya disuatu tempat, tapi Chanyeol tidak begitu yakin dengan ingatannya tersebut.

Tapi tunggu sebentar−

Bukankah ini mirip dengan gambar janin yang dulu pernah Baekhyun tunjukkan didalam buku yang saat ini dipegangnya?

"Kau ingin aku buatkan kopi atau yang lain?" Baekhyun yang sudah terlihat lebih segar muncul dari pintu kamarnya, menuju pantry yang tidak bersekat di sudut ruangan.

"Baekhyun−" panggil Chanyeol sambil mengangkat foto tersebut untuk ia perlihatkan pada Baekhyun. "Apa ini bayi-ku?"

"Darimana kau dapatkan foto itu−" ucapannya terhenti saat melihat buku yang saat ini dipegang oleh Chanyeol.

Sungguh sial, Baekhyun lupa menyembunyikan buku itu setelah kemarin membacanya.

Iya benar, Baekhyun sempat membacanya.

Awalnya memang ia berniat membuang buku itu dimalam saat Chanyeol memberikan padanya, tapi sungguh dia lupa dan malah membawanya sampai ke apartemen.

Kemarin saat ia tidak sengaja menemukan rekam hasil USG saat ia pertama kali memeriksakan kandungannya, Baekhyun kembali membuka lembar buku yang diberikan Chanyeol padanya karna penasaran.

Hingga akhirnya tanpa sadar ia membaca hampir setengah dari isi buku tersebut dan menandai beberapa halaman yang menurutnya harus ia pelajari nanti−untuk jaga-jaga.

"Apa yang kau lakukan dengan tanpa izin membuka barang-barangku?" wajah Baekhyun memerah.

Antara marah dengan perbuatan Chanyeol yang menyentuh barang-barangnya tanpa izin dan malu karna ketahuan memberikan perhatian pada sosok yang saat ini tumbuh didalam dirinya.

"Aku hanya penasaran akan sesuatu−" Chanyeol kembali menatap foto itu. "Apa ini dia? Bayiku yang saat ini ada didalam sana?"

Raut wajahnya menjadi sulit terbaca. Demi apapun Chanyeol terlihat amat menyedihkan saat ini.

Baekhyun berdiri canggung sambil reflek memegang permukaan perutnya yang terasa mulai menonjol. Sesuatu berdenyut disana membuat Baekhyun mengalihkan atensinya pada sosok tersebut.

"Kau sudah tahu kenapa harus bertanya." Jawabnya lirih, nyaris tidak terdengar.

Oh, Tuhan.

Chanyeol ingin sekali berlari menghampiri Baekhyun, memeluk pria itu dengan perasaan bahagia. Ia ingin berterima kasih karna membiarkan bayi-nya meminjam sebagian tubuh Baekhyun untuk ia tempati−walau hanya sementara.

Tidak.

Tadi Chanyeol sudah berpikir untuk tidak egois dan hanya memikirkan perasaanya saja. Perasaan Baekhyun saat ini pasti lebih menderita dari pada dirinya sendiri.

Ia tidak boleh kembali goyah, Chanyeol harus terlihat baik-baik saja dengan keputusan yang telah Baekhyun pilih untuk kebaikan bersama.

Ya, kebaikan bersama.

Ia dan Baekhyun.


.

.

.

Chanyeol mengembalikan hasil rekam USG itu ke halaman belakang buku dan kembali meletakannya ketempat semula. Bertingkah seolah ia tidak pernah melihat hal itu hari ini, setelah keluar dari pintu apartemen Baekhyun nanti ia akan melupakannya.

Semoga saja.

"Kau punya cappucino?" tanya Chanyeol sambil berjalan menghampiri Baekhyun yang masih berada dibalik meja pantry.

Baekhyun kembali tersadar. "Sepertinya aku punya." ucapnya lalu beralih membuka lemari penyimpanan dan mulai sibuk dengan mesin kopi didapurnya membuatkan cappucino untuk Chanyeol.

Setelah selesai Baekhyun meletakkannya dihadapan Chanyeol dan banana smoothie untuk dirinya sendiri.

"Kau tidak memakan tiramisu milikmu?" tanya Chanyeol setelah menyesap kopinya.

"Aku bisa memakannya nanti."

Chanyeol tidak menerima alasan itu, jadi ia mengambil paper bag yang sedari tadi belum tersentuh dan mengeluarkan isinya.

Aroma manis menguar dari seloyang tiramisu yang dibuka Chanyeol dari penutupnya membuat Baekhyun meneguk air liurnya dengan tidak sabar.

Ia lalu menyodorkannya kehadapan Baekhyun. "Makanlah, semua ini milikmu."

Masih dengan malu-malu Baekhyun meraih satu sendok tiramisu mengigit dan menguyahnya dengan pelan dan untuk beberapa saat ia tertegun heran.

Tiramisu yang dibawakan Chanyeol saat ini berasal dari toko kue langganannya dan tiramisu ini adalah salah satu menu favorit Baekhyun disana.

Baekhyun hafal benar dengan rasanya tapi entah kenapa Baekhyun merasakan perbedaan dengan yang dibawakan Chanyeol hari ini padanya.

Seperti sang patissier spesialmemakai resep baru untuk menciptakan tiramisu-nya hari ini. Rasanya sangat berbeda dan jujur saja Baekhyun lebih menyukai yang satu ini.

Chanyeol memperhatikan Baekhyun yang melahap tiramisu-nya dengan tenang. Awalnya Chanyeol hanya ingin melihatnya dengan tenang, hingga−

Ia tertegun saat lidah merah muda Baekhyun menjilati sisi bibirnya yang terkena cream tiramisu.

Perasaan itu, perasaan resah yang beberapa waktu lalu ia rasakan saat melihat adengan yang sama persis itu terjadi kembali.

Serius.

Chanyeol takut ia harus berkonsultasi dengan psikiater karna Chanyeol merasa, ia memiliki obsesi yang aneh pada lidah mungil milik Baekhyun.

Ia pernah merasakannya−dulu−dan demi apapun Chanyeol merasa ingin terus mengecap rasa manis dari lidah mungil itu dibibirnya.

Dan tentu saja adegan barusan benar-benar menyiksa batinnya.

Chanyeol tidak bisa menahan diri untuk terus melirik Baekhyun yang masih menikmati tiramisu-nya.

Saat suapan selanjutnya dan Baekhyun nyaris kembali menjilati ujung bibirnya yang terkena cream, Chanyeol dengan sigap menyeka sudut bibir Baekhyun dengan ibu jarinya.

Sentuhan lembut itu membuat Baekhyun terkejut. Ia menoleh cepat pada pria dihadapannya yang saat ini juga terlihat sama terkejutnya dengan tindakannya barusan.

"Aku−aku tidak bermaksud melakukan hal itu." Chanyeol terlihat gugup, ia takut Baekhyun menganggap tindakannya barusan kurang ajar dan keterlaluan. "Maaf aku tidak sengaja."

Baekhyun yang masih terpana dengan kejadian barusan tanpa sadar menyapu sudut bibirnya yang baru saja disentuh Chanyeol.

Rasa hangat bekas jejak jemari pria itu membuat Baekhyun merona tanpa alasan.

Sejenak pandangan keduanya bertemu. Baekhyun dengan rona merah disudut pipinya terlihat mengemaskan dimata Chanyeol yang masih sibuk mengaguminya.

Baekhyun yang awalnya berniat menghindari kontak mata tersebut harus mengalah dengan manik kelam milik pria dihadapannya saat ini.

Tatapan lembutnya membuat Baekhyun terpesona, seolah tatapan itu mampu melumpuhkan seluruh saraf ditubuhnya hingga ia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari kelam milik Chanyeol.

Getaran itu.

Keduanya tahu bahwa degupan didalam dada yang mereka rasakan saat ini menandakan sebuah perasaan−

Perasaan terlarang yang tidak boleh mereka miliki.

Hingga tatapan itu akhirnya terputus saat ponsel milik Baekhyun yang berada diatas meja berbunyi.

Mengembalikan kesadaran masing-masing.

"Ya, dokter?" sapa Baekhyun setelah melihat nama kontak yang tertera dilayar ponselnya. Mencoba menstabilkan suaranya yang terasa kering karna hal barusan.

Mendengar Baekhyun menyebut dokter diperbincangannya membuat Chanyeol menatapnya penasaran.

Apa yang terjadi?

Kenapa Baekhyun berbicara dengan seorang dokter?

"Baiklah kalau harus seperti itu. Aku akan mengambil cuti besok dan melakukan pemeriksaan." jawabnya sebelum mengakhiri panggilan telepon tersebut.

"Ada apa? Kenapa kau harus melakukan pemeriksaan? Apa kau sakit, Baekhyun?" tanyanya berturut-turut membuat Baekhyun binggung menjawab pertanyaan pria itu darimana.

"Tidak, aku tidak sakit. Hanya pemeriksaan akhir sebelum−" ucapannya terhenti saat menyadari apa yang baru saja ingin ia ucapkan.

Operasi pengangkatan janin.

Chanyeol yang melihat perubahan raut wajah Baekhyun seolah mengerti apa yang ingin diucapkan sosok dihadapannya saat ini.

"Ah, apa sudah dekat dengan jadwalnya?" tanya pria itu yang diikuti anggukan pelan dari Baekhyun.

"Aku sudah menunda pemeriksaan akhirnya beberapa hari lalu dan aku telah meminta penjadwalan ulang operasinya kemarin." Baekhyun mengulum bibir bawahnya, kebiasaan yang sering ia lakukan saat ia merasa gugup.

"Mereka mengatakan aku bisa melakukan pemeriksaan akhir besok dan kalau hasilnya bagus, aku bisa melakukan operasi dalam dua hari kedepan."

Chanyeol yang sedari tadi mendengarkan hanya bisa menganggukan kepalanya.

Seolah mengerti.

Seolah ia menerima hal itu terjadi.

"Satu minggu." Baekhyun menekankan saat mengatakannya. "Akan terlewati dalam beberapa hari, apa yang akan kau lakukan?"

"Aku akan memikirkannya nanti." lirih pria itu sambil memaksakan sudut bibirnya untuk tersenyum.

Baekhyun sudah membulatkan tekadnya untuk menggugurkan janin yang ada didalam kandunganya. Tidak ada yang bisa Chanyeol lakukan selain mendukung keputusan tersebut.

Ia tidak akan mencegah lagi seperti sebelumnya agar Baekhyun tidak melakukannya.

Karna memang pada dasarnya ia tidak memiliki hak untuk melakukan hal itu. Ia tidak mungkin membiarkan hidup seseorang hancur didepan mata hanya karna keegoisannya yang ingin mempertahankan bayi itu.

Ya, inilah akhirnya.

Chanyeol sudah hampir sampai diujung batas kehilangan bayi-nya. Bayi yang begitu amat didambakannya.

"Kau−" suara Baekhyun memecah keheningan yang sempat terjadi.

Chanyeol mendongak untuk menatap iris cokelat Baekhyun, melihat ada keraguan dari balik sorot matanya.

"Apa kau ingin menemaniku untuk pemeriksaan akhir?" tawarnya dengan suara nyaris tidak terdengar.

"Apa aku boleh melakukannya?" lebih tepatnya−

'Apa ia bisa melakukannya?'

"Aku rasa baik-baik saja kalau kau ikut. Lagipula−"

Baekhyun menggantung ucapannya untuk meneliti raut wajah Chanyeol yang balas menatapnya dengan serius. "−aku rasa setidaknya walau sebentar kau harus mendengar detak jantung bayi ini. Saat pemeriksaan mereka akan membiarkanmu mendengar detak jantungnya melalui usg doppler."

Merasakan kehidupannya.

Apakah setelah mendengarnya Chanyeol akan lapang dada melepaskannya begitu saja?

Apakah perasaannya bisa tenang kalau ia mendengarnya walau hanya sebentar?

"Atau kalau kau merasa itu terlalu sulit untuk dilakukan biar−"

"Aku akan menemanimu." ujarnya dengan yakin.

Walaupun Chanyeol tidak begitu yakin kalau ia akan baik-baik saja setelahnya.

.

.

.

-To Be Continued-


Halo... pasti banyak banget yang mau maki-maki aku karna setelah sekian lama baru lanjutin ceritanya yaaa. Maaf yaa~

Kekesalan kalian selama ini aku dengarkan kok, maka dari itu hari ini aku muncul lagi untuk lanjutin work ini yeyyy

Karna beberapa hari ini banyak yang tiba-tiba aktif di story ini seperti mancing aku untuk muncul kepermukaan lagi, jadi setelah hampir 1 tahun bak hilang di telan bumi aku muncul kembali di ffn karna aku kira ffn sudah sepi jadi aku lebih aktif di wp (kalian juga butuh asupan ya selama #stayathome 😂)

Aku tau ini kaya cuma alasan, tapi serius kondisi aku saat ini enggak seluang seperti tahun-tahun saat aku masih sering aktif posting story disini, jadi sekali lagi walaupun enggak ada yang minta tolong pengertiannya yaa, aku akan update kalau memang dirasa feel buat lanjutinnya dapet hehe

Oke, untuk kalian yang masih setia sampai saat ini nungguin Love Me If You Dare, aku persembahkan chapter ini untuk menemani waktu stayathome kalian

Oh ya, Chapter 9 sudah rampung sekitar 90% cuman tinggal menyempurnakan aja, jadi mungkin kelanjutannya akan aku posting juga di minggu ini, doakan saja aku tidak mager yaaa~ hihi (mari sama2 beri semangat untuk author ini 😂)

Untuk sekarang selamat menikmati chapter ini~

See yaaa~~~