REINCARNATION
.
.
.
Chapther 8
.
.
.
Angin sedang berhembus kencang sekarang, membuat suara gesekan ranting-ranting di luar kaca jendela. Hanya butuh beberapa jam lagi matahari terbit dan udara akan menghangat, namun mata Kyungsoo terpaksa terjaga. Melewati udara dingin yang menyiksa kulit.
"Bisakah - "
"Tidak, " Chanyeol kembali memanguti bibir kekasihnya. Membelitkan tangannya ke pinggang ramping Kyungsoo. Merapatkan tubuhnya hingga mampu merasakan dada Kyungsoo yang naik turun bersusah payah untuk bernafas.
Jari-jari lentik sang gadis berada di lengannya. Berpegangan disana sangat erat, mencoba menahan tangan Chanyeol menjamah kebawah pinggangnya.
"Aku tidak bisa melakukannya," ucap Kyungsoo setelah berhasil membebaskan bibirnya.
Chanyeol menatapnya lekat-lekat. Kemudian mengeluarkan suara rendah dari kerongkongannya, "Kenapa? Kau keberatan melakukannya dengan kekasihmu sendiri? Apa aku - "
Bibir Chanyeol terlanjur bergetar, membuat suaranya semakin lirih dan ikut bergetar pula. " A-apa aku takk b-berhak atas apa pun?"
"Apa maksudmu, Chan?" seru Kyungsoo menatap Chanyeol penuh kekhawatiran. Seharian tanpa kabar, datang dengan wajah berantakan dan seulas senyum yang begitu dipaksakan di bibirnya. Dan tiba-tiba pula ingin menginap.
"Kita selalu memang seperti ini bukan? Seranjang dan telanjang, dan selalu berakhir dengan keraguan seperti ini..." suaranya terdengar sangat pilu di telinga Kyungsoo.
"Lalu kenapa dia bisa ada disini?" Chanyeol menatap perut telanjang gadisnya. "Kenapa kau tak ragu menyerahkan dirimu pada sepupumu? Apa yang diperbuat Jongin untuk menyakinkanmu?"
Sindiran Chanyeol berhasil membuat Kyungsoo mematung di tempatnya. Chanyeol akhirnya menyerah terus berpura-pura baik-baik saja. Menyimpan semua rasa kecewanya rapi di kepala, agar yang terlihat hanya pemuda yang menyikapi semua dengan bijaksana.
"Tidak ada, Jongin tak melakukan apa pun padaku," ucap Kyungsoo seraya mengusap jejak air mata di pipi Chanyeol. "Dia tidak tau apa-apa," tambahnya.
Chanyeol menahan tangan Kyungsoo tetap di pipinya, memejamkan matanya, membiarkan dirinya terus menangis tanpa henti. "Sampai kapan kau akan melindunginya, hmm?" tanyanya lirih.
"Chan~" seru Kyungsoo menggeleng-gelengkan kepala, seakan menampik tudingan Chanyeol.
"Aku lelah, Kyung...Sangat lelah! Jika kau ingin lari, larilah sekarang... Aku yakin saat ini sepupumu masih di bawah," ucap Chanyeol susah payah, ia tak ingin memberitahunya. Namun ia menekan semua ego-nya.
"Cepat larilah~," sambungnya diiringi kecupan panjang kening Kyungsoo.
.
.
Di kursi kemudi, kedua mata Jongin menerawang jauh ke pekarangan rumah. Memisahkan antara dirinya dengan gadis yang ia rindukan. Ia hanya perlu berjalan lima belas langkah ke depan untuk merengkuhnya. Membenamkan dalam dadanya hingga rasa rindunya habis menguap. Sayangnya, lagi lagi sayangnya ia hanya bisa duduk diam melihat Chanyeol memeluknya di depan pintu kontrakan.
"Ayo kita pergi," ujar Jongin menyudahi semuanya. Menghidupkan mesin mobil bersiap untuk kembali, tempatnya bukan disini, pikirnya.
Suho menaikan sebelah alisnya, "Kau yakin?"
Jongin menghela nafas pelan, mematikan mesinnya lagi. Matanya menatap ke jendela kamar Kyungsoo, tertutup gorden dengan lampu menyala. "Biasanya jika perasaanku tidak enak seperti ini, akan terjadi sesuatu yang buruk pada Kyungsoo," gumamnya.
"Sepupumu mengandung saja sudah hal yang buruk, Jongin," Suho menepuk-nepuk pundak pada pemuda disampingnya ini.
"Apa kau tak pernah dengar jika bayi yang dihasilkan perkawinan sedarah akan berakhir dengan ketidaknormalan?" sambungnya.
"Aku tau benar itu, bayi itu akan cacat - " Jongin menghentikan ucapannya, tersadar sesuatu. "Bukankah kau percaya padaku, hyung? Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?"
"Sehun pernah melihatmu pulang dengan banyak bercak merah keunguan di leher dan badan. Mmm.. Lebih tepatnya setelah kau menjemput sepupumu Kyungsoo dari stasiun, " jelas Suho santai agar tak terdengar memojokkan Jongin.
"Apa hubungan hyung dengan Sehun sudah sangat dekat sekarang?" tanya Jongin dingin.
Suho melipat tangannya di dada. "Kau keberatan?" balasnya.
Jongin tak ingin memperpanjang urusan hubungan Suho dengan Sehun. Jadi dia mengalah dan memilih meluruskan kecurigaan Suho. "Aku juga melihatnya dari pantulan kaca... Aku juga cukup terkejut, tapi hari itu aku sedang demam tinggi jadi aku memilih mengabaikannya. Mungkin saja itu hanya gigitan semut, entahlah aku tak yakin."
Suho terdiam sesaat. "Ketika Sehun menceritakannya, kurasa Chanyeol-ssi juga mendengarnya, dia mungkin berpikir - "
" - aku berbohong," lanjut Jongin.
Mata Jongin beralih menatap kaca mobil yang bergetar dan berderit nyaring. Ia tak merasakan apa pun dari dalam mobil, namun rupanya angin berhembus sangat kencang hingga pohon-pohon di sekitarnya bergoyang dan menerbangkan daun beserta debu-debu di jalanan. "Sejak kapan anginnya sekencang ini?" ucapnya tanpa sadar.
Suho ikut tercengang dengan apa yang terjadi sekelilingnya. "Aku juga tidak tau, sebaiknya kau mengecek sepupumu Kyungsoo... Tiba-tiba aku khawatir padanya," usulnya.
"Jongin?" panggil Suho ketika mendapati Jongin hanya duduk kaku dengan beberapa kelopak bunga persik di tangannya. Bagaimana kelopak kelopak bunga itu masuk? Pikirnya.
Setelahnya Suho hanya bisa menerka-nerka apa yang sedang terjadi. Ia hanya menunggu di mobil, melihat siluet Jongin menghilang dari balik pintu. Pemuda itu tau jika sepupunya menyimpan duplikat kunci di bawah pot tanaman. "Bunga persik.. Bunga persik.. " gumannya berulang-ulang, mencoba mencari ingatan di kepalanya.
Sementara itu Jongin menaiki satu persatu tangga menuju kamar Kyungsoo dengan tergesa-gesa. Membuka pintu kamar tanpa mengetuk. Ketakutannya jika terjadi sesuatu yang buruk, membuatnya tak pikir panjang.
"Jongin?" suara lembut yang familiar di telinga Jongin.
Jongin tak segera menimpali, ia malah berdiri terpaku menatap sang sepupu yang memeluk kekasihnya , yang tertidur pulas di dadanya. Dengan tertutup selimut sampai ke dada, siapa pun tau mereka sedang telanjang sekarang. Jongin membungkuk meminta maaf, "Maaf aku tidak tau kalau- "
" - sekali lagi aku minta maaf," Jongin berbalik dan memegang kenop pintu, berniat segera pergi.
"Kenapa kau datang?" tanya Kyungsoo sambil menggigit bibirnya sendiri.
Jongin menelan ludahnya susah payah, kerongkongannya sangat kering sekarang, rasa cemburu sedang menggerogoti tubuhnya. Yang ingin ia lakukan hanya segera pergi dari sini, kekhawatirannya hanya semu belaka. "Aku hanya mengantar Chanyeol-ssi."
"Aku tau, yang kutanyakan kenapa kau... Kau menemuiku?" tanya Kyungsoo lagi.
"Aku menghawatirkanmu," balas Jongin jujur.
"Apa yang kau khawatirkan? Apa darah yang mengalir sepanjang kakiku ini?" ucap Kyungsoo menahan dirinya untuk tidak berteriak.
Jongin tersentak sesaat, membalik tubuhnya menatap ranjang dimana mata Kyungsoo berkaca-kaca, meringis menahan sakit. Memeluk Chanyeol sambil meremas selimut sampai menjadi kusut karenanya. Ia melangkah dengan cepat ke sisi ranjang. Mengambil selimut bersih dari lemari, melingkupkannya ke tubuh Kyungsoo yang telanjang.
"Chanyeol... Aku tak bisa meninggalkan Chanyeol.. " ujar Kyungsoo ketika Jongin akan menggendongnya.
"Aku juga tak bisa meninggalkanmu seperti ini," sahut Jongin.
.
.
Drrrttt...
Drrttt... Drrrtttt...
Sehun terpaksa membuka matanya yang beberapa menit yang lalu baru saja terpejam. Meraih ponselnya di nakas meja. Melihat layar ponselnya tanpa minat. Kim Suho.
Sehun buru-buru merapikan rambutnya yang berdiri layaknya tersengat listrik. Mendadak mengusap lehernya sendiri dengan kerutan di dahi, merasa terusik dengan ingatannya sendiri.
"Apa seperti ini maksudmu?" bisikan di telinganya, membuat otot-ototnya tegang seketika. Pasalnya Suho, senior Jongin itu baru saja menyentuh ceruk lehernya dengan bibir lalu menghisapnya agak kuat. Membuat darahnya berlomba-lomba bergerombol membentuk tanda merah keunguan di leher.
"Seperti ini yang kau lihat di tubuh Jongin?" ucap Suho lagi. Dirinya hanya bisa mengangguk kaku, bibirnya membuka tapi tak mau mengeluarkan suara. Suho membalasnya dengan seulas senyum sambil berkata, "Kau manis sekali, Sehun-ssi."
"Sehun-ssi? Sehun-ssi?" panggi Suho dari sebrang sana.
"Ya.. Oh maaf aku.. Mmmm mencuci muka.. Ya aku baru saja mencuci muka," balas Sehun mencari bantal untuk ia peluk, mengurangi kecanggungannya.
"Bisakah kau kemari? Ke kontrakan Kyungsoo-ssi?"
"Ya, tentu. Aku akan bersiap."
Sehun segera mengendap-endap keluar dari kamar, seperti itulah yang ia lakukan ketika pulang tadi. Jika saja ayahnya tau dirinya pulang dini hari, pasti namanya sudah di depak dari keluarga Oh.
Dengan bermodalkan kakinya yang panjang, Sehun berlari menembus udara dingin tanpa jaket. Membuatnya bersumpah serapah sepanjang jalan. "Aku merasa dejavu seperti saat mengejar Molly," gumamnya ketika sampai di halaman kontrakan.
Orang yang pertama ia lihat adalah Suho. Berdiri di depan mobilnya dengan wajah gelisah, yang kemudian menghampirinya sembari melepas jaket tebal yang ia kenakan.
"Maaf, membuatmu kemari. Jika tau seperti ini aku tidak perlu memulangkanmu dulu, dan membuatmu berlari seperti ini," Suho menyampirkan jaketnya di tubuh jakung Sehun. Menepuk-nepuk lengannya dengan rasa bersalah.
Suho membawanya masuk ke kontrakan. Mata Sehun tertuju pada Kyungsoo yang terbaring di sofa hanya berbalut selimut dan Jongin. Jongin yang berlutut di samping sofa sibuk dengan benda-benda di atas meja. "Hey, kawanku... apa yang kau lakukan dengan obat-obatan dan jarum suntik itu? Kau ingin membunuh Kyungsoo noona?"
"Kyungsoo tak mau kerumah sakit ataupun klinik, takut jika Chen hyung tahu. Aku tak punya pilihan lain selain merawatnya sendiri," ucap Jongin menyuntikkan jarumnya ke lengan Kyungsoo. Jarum menembus kulit putih itu dengan mudahnya, memindahkan cairan berisi obat ke dalam tubuhnya.
"Suho-ssi kau membiarkan kawanku yang baru duduk di bangku sekolah atas ini menyuntikkan cairan yang tak kukenal ke sepupunya?" seru Sehun histeris.
"Ia bahkan menulis resepnya sendiri, asal kau tau," balas Suho enteng. Hampir saja rahang Sehun terjatuh sampai ke dasar lantai.
"Lebih baik kita merawat Chanyeol-ssi, ia juga sakit bukan," ajak Suho menyeret Sehun menuju kamar atas.
Jongin tak menghiraukan kepergian dua kawannya itu, ia sibuk meletakan jari telunjuk dan tengahnya di pergelangan tangan kiri Kyungsoo. Memeriksa denyut nadinya dengan seksama. Sangat samar seharusnya detaknya harus lebih cepat untuk ukuran wanita hamil, batinnya. Sampai-sampai ia merasa frustasi dengan dirinya sendiri.
"Tolong tekuk lututmu dan buka sedikit pahamu. Aku akan membersihkan darahnya dan memasukkan obat penguat kandungan," pinta Jongin sambil membantu Kyungsoo pelan-pelan bergerak.
Keringat menetes deras di dahi Jongin, memakai sarung tangannya dengan perasaan campur aduk. Perlahan ia menyingkap selimut Kyungsoo. Melihat dengan jelas sumber darah yang sempat mengalir di kaki sepupunya itu. Ini pertama kali ia melihatnya, membuat tangannya sedikit gemetar.
Ia memejamkan matanya sejenak. Mengesampingkan emosinya yang mulai tersulut, lantaran ia melihat dengan mata kepalanya sendiri ada cairan putih yang bercampur bersama darah Kyungsoo. "Apa memang kau dan Chanyeol-ssi sudah berencana menghilangkannya?" Jongin menekan suaranya agar tak terdengar membentak.
Kyungsoo tak mampu menjawabnya, ia hanya menggeleng lemah. Jongin memilih segera menyeka darah yang keluar dengan handuk kering. Sampai bentuk aslinya terlihat. Mengambil sebutir tablet obat dan memasukkannya ke kewanitaan Kyungsoo. Pelan dan sangat hati-hati.
Milik Kyungsoo berkedut-kedut seakan ingin menolak obat yang ia masukan. Sehingga jari Jongin ikut masuk dan menahannya beberapa saat, sampai obat itu mencair dan menjadi terasa lengket.
Jongin membuang nafasnya pelan, melepas sarung tangannya dan mengecek kembali nadi Kyungsoo. Masih saja terasa samar. Tak ada gumpalan putih yang keluar, kemungkinan terburuknya Kyungsoo keguguran namun janinnya masih di dalam. Ia harus menunggu beberapa jam ke depan untuk memastikannya lagi.
"Terima kasih, Jongin," ujar Kyungsoo merasa kasihan pada sepupunya itu. Melakukan perjalanan panjang lalu harus sibuk merawatnya hingga hampir pagi, seperti saat ini.
"Sudah sepatutnya aku melakukannya," ucap Jongin datar sembari menyenderkan tubuhnya ke meja terdekat. Yang mulanya bersih, kini berubah menjadi tempat sampah medis.
Jongin merogoh saku jaketnya, mengeluarkan kelopak bunga persik yang ia simpan disana. Terpaku padanya untuk beberapa saat. Hingga sebuah tiupan angin kecil membawa kelopak-kelopak itu berterbangan dari tangan Jongin. Menuju celah-celah jendela, dimana sinar matahari mulai menyorot lembut dari sana.
Ia mengadahkan kepalanya, melihat langit-langit ruang tamu, seraya menarik nafas dalam-dalam. Mencoba mengusir penat di kepala. "Kau yakin akan menikah?"
Kyungsoo mengangguk sebagai jawaban. "Kau akan datang?" imbuhnya.
Jongin membalasnya dengan pandangan terlukai. "Apa kau benar-benar ingin aku datang?" tanyanya, dengan suara yang tercekat di kerongkongan.
Kyungsoo diam tak membalasnya, mencoba menerka-nerka kemana arah perbincangan ini. Jongin memalingkan wajahnya, "Ayo lari saja bersamaku!"
"Jangan bergurau disaat seperti i- "
"Aku serius. Aku sudah memikirkannya lama," potong Jongin.
"Sejak kapan?" Kyungsoo mencoba percaya ucapannya sepupunya ini.
"Lima menit yang lalu," balas Jongin tanpa ekspresi.
"Selera humormu buruk sekali," cibir Kyungsoo mengusap air mata yang ada di ujung matanya.
"Kau menangis?" kata Jongin tak percaya melihat sepupunya tiba-tiba mengeluarkan air mata. Bahkan sekarang sudah terdengar suara sesenggukan. "Kenapa? Ada apa? Mana yang sakit?" suara Jongin terdengar begitu panik sekarang.
Jongin tidak tau apa yang membuatnya memberanikan diri memeluk sang sepupu. Membiarkan yang lebih tua menangis di pundaknya, tanpa sebab. "Kenapa, Kyung?" tanya Jongin sekali lagi.
Kyungsoo tak bisa berkata - kata lagi, mulutnya hanya membuka tanpa ada yang bisa ia ucapkan. Terlalu banyak yang ingin ia katakan. Jongin menepuk-nepuk punggung telanjangnya.
"Ayo kita lari. Aku ingin lari," Suara tangisan Kyungsoo semakin terdengar memilukan.
.
.
Chen ada di restaurantnya, rumah terasa sepi tanpa Jongin. Sehingga restaurant kerap kali menjadi tempatnya beristirahat atau tempatnya mengobrol dengan sang kekasih, seperti saat ini. Mengobrol sebelum restaurantnya buka.
"Aku tak punya pilihan," ujar Chen mencoba meminta pengertian dari Xiumin.
Xiumin menyilangkan tangannya ke dada, "Kau tak ingat ceritaku saat di kuil?"
"Aku ingat, anak laki-laki yang mencari ayahnya bukan? Itu tidak pasti, kita hanya bisa mengira-ngira saja," balas Chen tak mau kalah.
"Tapi dia memanggilku Mama."
"Lantas jika Kyungsoo mengandung anak adikku, apa aku harus menikahkan mereka?"
Xiumin terdiam sesaat, dirinya tau Chen dalam dilema besar sebagai anak tertua. Pernikahan antar saudara sepupu bukanlah pilihan bagus. Keluarganya pun juga pasti menolak.
Chen mendesah pelan kemudian mengusap kasar wajahnya sendiri. "Eomma mendengar Kyungsoo sudah mengandung saja membuatnya seperti orang depresi. Apa jadinya jika Kyungsoo batal menikah dengan Chanyeol."
"Eommamu begitu terkejut pasti," Xiumin ikut merasa prihatin.
Chen mengangguk, "Eomma sampai memintaku agar tak memberitahu Jongin soal pernikahan Kyungsoo."
"Kenapa? Memberitahunya tidak akan membuat Jongin mengobrak-abrik pernikahan sepupunya sendiri," Xiumin menarik kursinya mendekat.
"Aku yakin adikku tak akan mengobrak-abrik. Dia pria yang tenang, tapi dia akan datang sebelum hari pernikahan dan memastikan Kyungsoo benar-benar bahagia dengan pilihannya. Kebahagiaan Kyungsoo yang utama bagi Jongin."
"Jika Kyungsoo tidak bahagia, apa yang akan Jongin lakukan?"
"Tidak ada yang tau. Itulah yang ditakutkan eomma."
"Tapi kurasa seseorang telah memberitahunya," Xiumin menoleh ke arah pintu masuh restaurant. Pemuda berbaju dan bertopi hitam turun dari mobil. Ia tak sendiri, seseorang menunggunya di mobil.
"Jam berapa ini?" tanya Chen melihat apa yang Xiumin lihat.
"Hampir pukul enam pagi," jawab Xiumin cepat.
Pandangan mereka langsung tertuju pada Jongin yang berhasil masuk ke dalam restaurant. Melepas topinya, wajahnya terlihat lelah dan pucat. Anak rambutnya telihat basah karena keringat. Jongin menekuk lututnya satu persatu, hingga ia berlutut sempurna di lantai.
"Hyung...Tolong aku!"
.
.
.
NB: Akhirnya kuberanikan diri balik ke ffn lagi.. Huhuhu. Mana pas balik sepi lagi T_T
