Disclaimer : Semua karakter punya Masashi Kishimoto-sensei, saya cuma punya plotnya.
Warning : OOC, bahasa tidak baku, setting AU, typo, mengandung umpatan kasar, dan sebagainya
.
.
.
.
.
daifukuwmochi presents:
Trapped with the Ex : Bad Luck or Good Luck?
Chapter 9 : Permintaan Maaf
A Sasusaku Fanfiction
.
.
.
.
.
Di dalam ruangan itu, seorang lelaki bersurai merah darah termenung. Tangannya mengepal erat. Berkali-kali ia meninju dinding di sampingnya. Buku-buku jarinya memerah menyisakan beberapa garis luka, namun ia tak mempedulikannya.
Ia akui dirinya adalah lelaki terbodoh di alam semesta ini. Dirinya dengan sadar telah mengkhianati kekasih yang telah setia menemaninya. Ia akui bahwa dirinya khilaf saat itu. Melihat Sakura yang sepertinya sangat dekat dengan mantan kekasihnya mengobarkan api cemburu di dadanya. Dan ketika teman sekelompoknya, Matsuri—yang sedari awal KKN sudah menunjukkan tanda-tanda tertarik padanya—menggodanya, maka tanpa pikir panjang ia menyambut undangan gadis itu.
Lelaki tak beralis itu tak menyangka bahwa kekasihnya—yang sekarang telah menjadi mantan—akan memergoki perbuatan mereka. Dan saat Sakura menjelaskan bahwa foto-foto itu hanyalah kebetulan semata, barulah ia menyadari perbuatannya. Benar kata gadis bersurai merah muda itu, dirinya sangat rendah. Lelaki yang mengkhianati kekasih yang telah setia membersamainya sangatlah rendah.
Ingin ia menemui mantan kekasihnya itu, memohon maaf atas perbuatannya dan memintanya agar kembali padanya, akan tetapi nyalinya ciut. Ia tak memiliki setitik pun keberanian untuk melakukannya.
Namun, kali ini berbeda. Kali ini ia bertekad untuk menemui gadis merah muda itu. Diambilnya ponsel dan diketiknya sebuah pesan pada gadis itu. Beruntung, Sakura tidak memblokir nomornya sehingga ia masih dapat mengiriminya pesan.
Satu hari, dua hari, hingga satu minggu tak kunjung datang balasan dari gadis itu. Hanya dibaca, namun tak dibalas. Mungkin gadis itu telah terlanjur kecewa padanya dan tak mau bertatap muka dengannya lagi barang sekali saja.
.
.
.
.
.
Sakura tengah mengecek pesan-pesan yang masuk di ponselnya. Begini nih nasib KKN susah sinyal, sekali dapat sinyal langsung banyak pesan yang masuk. Pesan dari orangtuanya, kakaknya hingga kawan-kawannya memenuhi ruang percakapannya. Wah, berasa jadi orang penting harus bales chat segini banyaknya. Dilihatnya sebuah nomor tak tersimpan mengiriminya pesan, sontak ia membuka pesan itu dan ternyata mantan kekasihnya—Gaara—yang mengirimnya. Bazengg! Tau gini tadi nggak dibuka aja! Sakura telah menghapus nomor lelaki itu, tapi tak memblokirnya. Males banget blokir-blokir segala, tinggal hapus nomornya saja kan sudah beres. Yah, tapi pesan itu sudah terlanjur terbuka jadi mengapa tak dibaca sekalian? Kali aja dia mau bagi harta gono-gini gitu—lah memangnya habis cerai.
From : Gaara
Boleh aku menemuimu? Kalau boleh, aku akan datang ke poskomu.
Sakura mendecih. Ngapain dia minta ketemu? Bukankah urusan mereka sudah selesai? Lagipula ia sudah mulai berusaha melupakan kejadian itu meskipun dadanya masih terasa sesak. Disaat seperti ini mantan kekasihnya yang tak tahu diri itu malah ingin menemuinya. Anjay!
Sakura mengacuhkan pesan itu dan bersikap bodo amat. Biarkan saja Gaara berasumsi sendiri. Lebih baik ia membantu perangkat desa yang sedang disibukkan dengan berkas-berkas.
"Mbak Sakura, tolong bantu rekap data ini, ya," ujar Karin, salah satu perangkat desa yang masih sangat muda—mungkin umur mereka tak berbeda jauh.
"Baik, Mbak," jawab Sakura. Gadis berkacamata itu berjalan menuju ruangan sebelah. Rambut merah gadis itu sedikit mengingatkannya pada Gaara. Tuh kan, ingat dia lagi. Gimana mau move on kalau ingat terus?
Hari demi hari berlalu. Sakura, yang kini duduk di tepi lapangan—biasa, nyari sinyal—memainkan ponselnya sembari menunggu panggilan video dari kakaknya, Sasori, yang sudah berjanji akan menghubunginya.
Kakaknya menepati janjinya. Terlihatlah wajah layu Sasori memenuhi layar ponsel gadis itu.
"Kakak potong rambut ya?"
Lelaki itu menjawab, "Iya, kelihatan ya?"
Sakura mengangguk. Model dan warna rambut kakaknya itu mengingatkannya pada Gaara, mantan kekasihnya.
"Mata Kakak kenapa?"
"Kebanyakan begadang gara-gara sering lembur, nih. Nggak papa, udah biasa kok."
Mata Sasori dikelilingi lingkaran hitam, persis seperti mata panda. Mata panda itu kembali mengingatkannya pada mantan kekasihnya. Si anjir! Dari kemarin kok malah ingat dia terus, sih?
"Gimana kabarmu disana? Lancar?" tanya Sasori.
"Ya gitu deh, ngurusin progja sama bantu-bantu desa."
"Gaara gimana? Baik-baik juga, kan?" Duh, kakaknya ini malah mengingatkannya lagi. Sakura belum bercerita pada kakaknya mengenai kandasnya hubungannya dengan lelaki tanpa alis itu. Ia takut jika kakaknya tiba-tiba datang menghampiri mantan kekasihnya itu lalu menghadiahinya bogem mentah. Kan bisa bikin gempar seluruh desa.
"Ya gitu deh. Dia kan ketua, lebih sibuk dariku."
Lelaki baby face itu mengangguk paham. "Ya udah, yang penting kau baik-baik saja. Jaga kesehatan, ya. Tidur sana, udah malam," tutup lelaki itu.
Sakura termenung. Beberapa hari belakangan ini ada saja hal yang mengingatkannya pada Gaara. Mungkin Kami-sama memberinya kode untuk menyetujui ajakan mantan kekasihnya itu. Gadis itu menghela nafas panjang. Ia membuka pesan dari Gaara dan membalasnya.
To : Gaara
Ayo kita bertemu. Besok jam 10, kedai dango dekat alun-alun. Aku nggak mau bikin keributan di posko.
.
.
.
.
.
Sakura diantar Ino menuju kedai dango, lokasi pertemuannya dengan Gaara. Ia turun dari motor dan melepas helm yang dikenakannya.
"Kau benar-benar yakin?" tanya Ino memastikan.
Sakura mengangguk mantap. Ia harus bersikap dewasa kali ini, salah satunya dengan menemui mantan kekasihnya itu. Ia tak mau lagi mengulang cerita yang sama seperti saat putus dengan Sasuke dahulu. "Seratus persen yakin. Dulu kan bertemunya secara baik-baik, jadi harus diakhiri secara baik-baik juga."
"Kalau ada apa-apa langsung kabari saja ya, nanti kujemput. Oke deh, tinggal dulu ya. Aku mau lihat-lihat baju disana. Semoga berhasil!"
Sakura memasuki kedai itu. Terlihat Gaara tengah menunggunya. Lelaki itu tersenyum melihat Sakura.
"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Sakura tanpa basa-basi terlebih dahulu.
Lelaki itu menarik nafas sebelum berkata, "Aku mau minta maaf. Aku memang bajingan. Aku salah. Aku khilaf ... " ia terdiam sejenak " ... aku paham kalau kau tak sudi memaafkanku, tapi aku benar-benar menyesal."
Sakura memalingkan wajahnya. Ia terdiam cukup lama. "Kau tahu, aku berusaha keras melupakan kejadian itu. Jadi, untuk benar-benar memaafkanmu, aku butuh waktu."
Hening melanda. Keduanya sibuk dengan pemikiran masing-masing.
"Kalau kau berniat memintaku untuk kembali padamu, maaf, aku benar-benar tak bisa," ujar gadis itu meneruskan.
"Tapi ... kita ... teman?"
Sakura mengangguk. "Tapi, kumohon jangan temui aku dulu, setidaknya untuk sementara ini. Dadaku masih terasa sesak saat ... melihatmu."
Gaara mengangguk maklum. "Terima kasih banyak, Sakura. Aku akan selalu mengingat kenangan indah kita."
Gadis itu menyunggingkan senyum. "Terima kasih juga, Gaara. Aku akan menyimpan kenangan indah itu baik-baik."
.
.
.
.
.
To be Continued
