MAKASIH BANYAAAAK YANG MASIH MAU BACA FANFIC INI! TERHARU BANGET MASIH ADA YANG REVIEW
STAY HEALTHY YAA KALIAAAN!
DISCLAIMER: Aoyama Gosho, pemilik sah hak cipta Detective Conan. Daku hanya reader kentang karya beliau dari kelas 3 SD yang sangat menyukai chemistry ConanXAi atau ShinichiXShiho. Maaf aku terjangkit Second Lead Syndrome!
WARNING: OOC, Typo, Plot lebay dan ngebosenin, banyak scene cringey hahahahaha.
PS: Chapter ini ada scene yang mungkin kalau benar-benar dilakukan sama anak SD jadinya kurang pantas, tapi karena mereka berdua ASLINYA bukan anak SD, jadi bayangin aja pas masuk scene itu mereka jadi muda-mudi usia 20 tahunan :D
HEART
CHAPTER 8
PENYELESAIAN
AI's POV
Makan malam yang harusnya selesai mungkin dari dua jam yang lalu, nyatanya baru selesai saat ini, jam setengah sebelas malam! Jika bukan karena detektif mesum di depanku ini, aku tak akan mungkin sudi makan selarut ini. Apa-apaan dia tiba-tiba langsung memelukku begitu? Apa-apaan pula dia malah tidak mau melepaskan pelukannya dan terus menempel di belakangku seperti cicak? Aku jadi bisa merasakan hangat napasnya melewati leherku! Membuatku tidak bisa fokus memasak! Apakah dia ingin membuatku terkena serangan jantung karena tindakannya itu? Berbahaya sekali efeknya dan sialnya hari ini Hakase tidak akan pulang dan justru menitipkanku pada detektif mesum itu! Aku sudah menyuruhnya pulang, tapi dia tetap memaksa akan menginap dengan alasan untuk menjagaku, padahal kau sendiri yang justru berbahaya bagi diriku hingga aku harus menjaga diriku sendiri.
"Errr… Shin! Pulanglah! Aku bisa kok menjaga diriku sendiri!" Aku masih berusaha "mengusir" nya.
"Tidak! Aku sudah berjanji pada Hakase akan menjagamu dan aku juga tidak akan tenang membiarkanmu di rumah sebesar ini sendirian!"
Sulit juga jika kau dan kekasihmu sama-sama memiliki sifat keras kepala, tidak ada yang akan mau mengalah.
Aku memijat dahiku, "ya sudah, tapi awas saja kau jika berani macam-macam denganku seperti tadi!" aku mengancamnya.
"Hehehe…"
ASTAGA! Aku hapal ekspresi itu, dasar mesum! Aku harus terus waspada, aku tidak boleh lengah!
"Astaga, Shiho! Kau pikir aku akan melakukan apa kepadamu? Sepertinya justru kau yang mesum karena berpikiran aneh-aneh kepadaku, huh?"
Sial! Dia malah balik menggodaku! Memangnya siapa yang berpikir aneh-aneh sih, aku kan hanya menjaga diri. Sial! Mukaku pasti merah sekali! Kenapa malam ini panas sekali sih? Lebih baik aku segera pergi ke kamar, daripada dia mulai bertindak aneh lagi. EH! Stop it, Shiho! Kau makin berpikir yang aneh-aneh kan!
"B-baka! Sudahlah, aku mau ke kamar! Kau tidurlah di kamar belakang, jangan tidur di ruang tamu atau kau akan sakit nanti! Merepotkan!" ucapku sambil berlalu, masih mengipasi diri sendiri dengan tangan, kenapa panas sekali sih?
"Shiho."
"EH!" Aku terkejut karena lagi-lagi dia secara tiba-tiba memelukku dari belakang. "Lepaskan aku, Shinichi! Aku ingin istirahat."
"Sebentar saja, please. Aku tidak tau kapan lagi kita akan bisa berduaan seperti ini tanpa gangguan dari siapapun, termasuk mayat," dia makin mempererat pelukannya.
Jika ada cermin di depanku, pasti aku akan bisa melihat sendiri semerah apa wajahku saat ini!
"Apa kau tidak menyukainya, Shiho?"
Aku suka sekali, Shinichi! Perasaan nyaman ini, pelukan hangat darimu, cintamu, semuanya. Aku suka sekali!
"Pantas saja kau selalu menghindar ya? Baiklah, maafkan aku, Shiho. Aku tidak akan memaksamu lagi. Istirahatlah, aku tau kau sangat lelah."
Aku mendengar nada kekecewaan dari suaranya, aku pun juga sedikit kecewa karena dia melepas pelukannya. Aku tidak ingin kehilangan rasa nyaman ini. Aku menginginkannya lagi.
"Hmmm… Shinichi," aku berbalik dan memegang tangannya. Aku tertunduk malu, tidak berani menatap wajahnya, karena ku yakin wajahku pasti sudah amat sangat merah.
"Ada apa, Shiho?" tanyanya bingung.
Aku mendekat dan memeluknya, tidak peduli jika nanti dia akan menggodaku habis-habisan, tapi sekarang aku hanya ingin memeluknya erat, aku butuh tempat untuk bersandar, melepaskan sedikit kegundahanku, merasakan aman dan nyaman karena cintanya kepadaku, hanya dia.
"Terima kasih, Shin. Terima kasih," ucapku dalam pelukannya, tanpa sadar air mataku jatuh. Aku bukan sedih, tapi aku bahagia. Selama ini aku selalu berjuang sendirian karena tidak memiliki siapapun di dunia. Bahkan kasih sayang kakakku pun tak dapat kurasakan secara langsung, setiap hari, setiap saat, dan tiba-tiba aku menjadi sendirian lagi. Sebelumnya aku merasa di dunia ini tidak ada tempat untuk seorang Sherry, pun tidak juga untuk Shiho Miyano. Setiap hari yang kupikirkan hanya berbagai cara untuk mati meninggalkan dunia ini, bahkan jika Gin membunuhku pun aku akan lebih bahagia dibandingkan harus terus hidup dan menjadi anggota organisasi. Setiap hari hanyalah hari-hari yang menyesakkan untuk hidupku. Selalu seperti itu sebelum aku mengenalnya, mengenal Hakase, mengenal detektif cilik, mengenal semuanya. Sebelum aku terpaksa mengikutinya hanya karena ingin mencari celah untuk menghancurkannya atau sekadar mencari kelemahannya. Sebelum aku terpaksa menjadi anggota detektif cilik karena dia tidak ingin membiarkanku sendirian. Sebelum aku mulai merasa nyaman karena perlakuannya kepadaku dan sebelum aku … jatuh cinta padanya. Dulu Shiho Miyano hanya ingin menjalani hari hanya untuk mati, sekarang Shiho Miyano menjalani hari untuk terus hidup, agar bisa terus melihatnya, merasakan cintanya.
"Hei, kenapa kau menangis, Shiho?" dia hendak melepas pelukanku, mungkin dia hanya panik mendengarku menangis, tapi aku tidak ingin melepas pelukanku. Aku makin erat memeluknya, dia memahami keinginanku, dan membalas pelukanku. "Seperti yang sudah pernah kukatakan, Shiho. Jangan memendam masalahmu sendiri, ada aku yang selalu ada untukmu. Mungkin saat ini kau belum ingin menceritakannya. Aku tidak akan memaksamu, tapi aku harap kau akan menceritakan semua keluh kesahmu kepadaku nanti. Aku mencintaimu, Shiho."
Mendengar kata-katanya barusan justru makin ingin membuatku meledak dengan tangisan bahagia ini. Ternyata dicintai seseorang efeknya bisa sebesar ini. Ternyata memiliki seseorang yang bersedia mendengarkanmu atau pun menjadi sandaranmu disaat kau punya masalah rasanya sebahagia ini. "Terima kasih, Shin. Terima kasih untuk semuanya. Aku juga mencintaimu, Shinichi."
END OF AI's POV.
CONAN's POV.
Aku memaksakan diri untuk memejamkan mata dan berkali-kali pindah posisi dari mulai miring ke kiri, miring ke kanan, telentang, tengkurap, tapi tetap saja tidak bisa membuatku tidur. Sudah jam dua pagi dan aku masih tidak mengantuk!
*FLASHBACK*
"Terima kasih, Shinichi. Terima kasih."
Shiho memelukku sangat erat dan aku bisa merasakan sesuatu membasahi punggungku. Dia menangis!
"Hei, kenapa kau menangis, Shiho?"
Aku hendak melepas pelukannya sebentar untuk menghapus air matanya, tetapi dia tidak ingin melepas pelukannya. Aku mengerti.
"Seperti yang sudah pernah kukatakan, Shiho. Jangan memendam masalahmu sendiri, ada aku yang selalu ada untukmu. Mungkin saat ini kau belum ingin menceritakannya. Aku tidak akan memaksamu, tapi aku harap kau akan menceritakan semua keluh kesahmu kepadaku nanti. Aku mencintaimu, Shiho," ucapku berusaha untuk menenangkannya.
"Terima kasih, Shin. Terima kasih untuk semuanya. Aku juga mencintaimu, Shinichi."
Mendengar kalimat itu darinya membuatku semakin ingin melindunginya. Shiho Miyano adalah sosok wanita yang kuat tapi juga lemah. Menanggung semua bebannya sendiri namun akan tiba saatnya ketika dia sudah tak kuat lagi dan semuanya akan meledak seperti bom waktu. Shiho Miyano yang dulu seperti batu, keras, tidak ingin terlihat lemah, tidak mau membuka diri kepada siapapun, perlahan melunak menjadi Shiho yang mau berusaha membuka dirinya ke orang lain, yang sadar kalau kemampuan yang dia miliki ada batasnya hingga dia hanya perlu meminta tolong jika dia tidak mampu. Shiho yang dulu hanya memiliki kekosongan di hatinya, sekarang berubah menjadi Shiho yang perlahan hatinya dipenuhi dengan cinta dan kasih sayang orang-orang disekitarnya. Shiho mulai menikmati hidupnya dan itu awal yang baik, bukan?
"Shiho," aku memecah keheningan di antara kami berdua. Shiho melepas pelukannya. Mungkin dia sudah merasa lebih tenang.
"Ah, maaf, Shinichi. Aku memakai kemejamu untuk mengusap ingusku. Hehehe."
Aku melihat kemejaku dan benar saja kemeja bagian bahuku lebih lecek dari bagian lain. Wanita ini! Huh, untung sayang!
"Iya, iya, kau bebas menggunakan kemejaku untuk mengusap ingusmu jika itu bisa membuatmu berhenti menangis atau kau ingin membawa kemejaku untuk jadi teman tidurmu? Siapa tau kau merasa lebih nyaman dan bisa tidur nyenyak karena mencium aroma tubuhku disana," aku melepas dua kancing bagian atas kemejaku untuk menggodanya.
"Uh, Pervert! Aku tidak tertarik dengan kemejamu, aroma tubuhmu, ataupun badan bocahmu itu! Jadi kau tidak perlu membuka kemejamu di depanku!"
Badan bocah? Errr… kalau saja saat ini dihadapanmu adalah Shinichi Kudo yang berusia 20 tahun, kau pasti akan menyesal karena berkata seperti itu! Lihat saja, Shiho!
Aku menatap tajam Shiho dan mendorongnya mundur hingga merapat ke tembok.
"Eh, kau mau apa, Shinichi?"
Sedikit hukuman untukmu, Shiho!
"Apa kau begitu takut bocah di hadapanmu ini melakukan sesuatu kepadamu, Shiho?"
Shiho memutar bola matanya, ingin bersikap biasa saja? Hei, wajahmu sudah jelas memerah seperti itu!
"A-aku tidak takut! Lagipula bocah sepertimu bisa melakukan apa kepadaku? Huh! Dulu saat bersama Ran saja kau tidak berani menya… mmpphh…"
Shiho membelalakkan matanya, terkejut karena tiba-tiba aku mencium bibirnya saat dia belum selesai bicara. Kan sudah kubilang kau akan menyesal! Walaupun fisik kita terlihat seperti anak berumur 10 tahun, tetapi sebenarnya kita sudah 20 tahun. Jadi kalau hanya kontak fisik seperti ini kurasa tidak apa-apa, benar kan? Lagipula kenapa dia harus membahas Ran, sih? Yah, aku tahu dulu memang aku bodoh untuk urusan hati, makanya aku sekarang tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Aku mencintaimu dan kau pun sudah tahu itu, Shiho!
"Pervert!" ucapnya dengan wajah yang sangat merah setelah aku melepaskan ciumanku.
"Biar saja! Kau duluan yang memulai!" balasku. Haaah… sebenarnya aku ingin melakukannya lagi! ASTAGA! APA YANG AKU PIKIRKAN?
"APA? Huh, jelas-jelas kau yang …" Shiho menghentikan omongannya sesaat lalu wajahnya merona merah lagi. "Sudahlah, aku mau ke kamar dan awas saja kalau kau berani masuk ke kamarku!"
Dia meninggalkanku sendirian di ruang makan.
*FLASHBACK END*
Dan disinilah aku sekarang, sendirian di kamar belakang rumah Hakase, mencoba untuk tidur tapi tetap tidak mengantuk padahal sudah jam dua pagi dan besok aku harus sekolah. Bagaimana bisa aku melupakan sensasi ciuman itu? Anggap saja aku pria mesum, tapi HEY! INI SHIHO MIYANO! Oh, tentu saja kalian tidak boleh membayangkannya! Hanya aku yang boleh membayangkan untuk menciumnya lagi! Aku ini pacarnya! Dulu saat bersama Ran, aku sering membayangkan rasanya berciuman dengannya, yaah… memang sempat terwujud sih, tapi saat itu Ran memberiku napas buatan saat aku tenggelam dan itu bukan situasi yang aku harapkan,
Eh tunggu, kenapa aku jadi memikirkan Ran? Oh mungkin karena sudah lama aku tidak mendengar kabar darinya. Baiklah, sepertinya aku juga harus menyelesaikan masalahku dengan Ran secepatnya. Baiknya aku kirim pesan saja ke dia sekarang, mungkin dia sedang tidur saat ini, tapi setidaknya aku sudah berusaha mengabarinya dan berharap aku bisa segera jujur kepadanya.
Oi, Ran! Kau sudah tidur? Ada sesuatu yang harus aku bicarakan kepadamu. Kabari aku jika kau sedang senggang.
Apakah Ran bisa menerimanya ya? Selama ini dia menungguku pulang, padahal aku selalu ada di dekatnya. Aku hanya bisa membuatnya menangis. Aku memang pria brengsek. Jika nantinya Ran membenciku, aku harus menerima konsekuensi itu.
Maafkan aku, Ran. Hatiku sudah jadi milik Shiho sekarang. Maafkan aku.
END OF CONAN's POV
NORMAL POV
Tok… Tok… Tok…
"Shinichi bangun! Kau mau tidur sampai jam berapa sih?" Haibara berdiri di depan kamar, mengetuk-ngetuk pintu kamar tempat Conan terlelap tapi tidak ada tanggapan apapun dari dalam kamar. Sepertinya memang Conan masih tidur.
Tok… Tok… Tok… Tok…
Kali ini Haibara mengetuk pintu dengan tidak sabar, karena satu jam lagi mereka sudah harus ada di sekolah tapi lelakinya ini masih saja tidur.
Akhirnya Haibara membuka pintu kamarnya dan untung saja kamar itu tidak dikunci. Haibara berdecak kesal karena Conan masih saja tertidur dan tidak menghiraukan perintahnya.
"Lima menit lagi, Shiho," begitu katanya saat Haibara memaksanya bangun.
'Huufftttt…' Haibara menarik napas panjang. "Terserah kau saja! Aku tidak peduli!"
Saat Haibara akan beranjak keluar kamar, Conan menarik tangannya hingga Haibara terjatuh di atas tubuh Conan dan Conan langsung memeluknya. Wajah mereka berdua dekat sekali.
"Ughhh… Kau berat sekali, Shiho," ucapnya sambil tersenyum jahil.
"Lantas kenapa kau menarikku, Tantei San?" Haibara bersikap acuh, mencoba mengendalikan ekspresi dan debaran jantungnya. Sepertinya dari kemarin malam jantungnya tidak diberikan waktu untuk istirahat.
"Karena aku merindukanmu," Conan membelai lembut rambut pirang strawberry milik Haibara.
'Tenang, Shiho! Kau harus mengendalikan detak jantungmu!' ucap Haibara dalam hati.
"Tidak usah gombal! Sudahlah, aku mau sarapan. Kalau kau tidak ingin masuk sekolah, terserah saja, tapi tidak usah mengajakku!" Haibara mencoba bangun tetapi ditahan oleh Conan dan memeluknya semakin erat. Haibara tidak menolak lagi dan dia menyandarkan kepalanya ke dada Conan. Haibara dapat mendengar detak jantung Conan. Nyaman sekali.
"Sepuluh, ah tidak, lima menit! lima menit lagi ya. Please, Shiho. Aku baru tidur tiga jam dan kau sudah membangunkanku," rengek Conan masih membelai rambut Shiho.
"Apa yang kau pikirkan sampai-sampai kau kurang tidur seperti ini?" tanya Haibara.
"Memikirkanmu dan… Ran," jawab Conan jujur.
Yah memang benar Conan tidak bisa tidur karena memikirkan dua wanita itu dan Conan tidak mau menutupi apapun dengan Haibara.
Haibara menarik napas panjang, kemudian memejamkan matanya. Bukan, dia bukan sedang cemburu karena Conan memikirkan Ran, dia hanya merasa bersalah, terlebih lagi kejadian kemarin. Dia bimbang antara memberi tahu langsung kepada Conan atau membiarkan Conan mengetahuinya langsung dari Ran.
"Apakah kau sudah menghubunginya?" tanya Haibara.
"Yah, aku sudah mengirim pesan padanya, tapi sepertinya dia belum membacanya. Aku hanya ingin semuanya cepat selesai, kau pun juga begitu kan, Shiho?"
'Aku harap semuanya berakhir dengan baik, Shinichi,' jawab Haibara dalam hati.
"Sudah lima menit, kau harus bangun!" Kali ini Haibara melepas pelukan Conan.
"Huuuu…. Menyebalkan! Kau ini hobi sekali sih merusak suasana!" Conan mencibir dan dengan terpaksa bangun dari tidurnya.
Haibara yang sedang berdiri di hadapannya melemparkan senyum manisnya kepada Conan. "Good boy!" ucapnya sambil mengacak-acak rambut Conan.
"Tch!" Conan berdecak kesal tapi kemudian tertawa melihat perlakuan kekasihnya itu.
"Aku sudah membuat sarapan untukmu, jadi sepuluh menit lagi kau sudah harus siap atau aku akan meninggalkanmu!" ancam Shiho tegas.
"Iya, iya. Astaga, ternyata kau lebih cerewet dari Ra…" Conan menghentikan ucapannya karena merasa ada aura kegelapan yang siap menerkamnya. "E-eh, g-gomen, Shiho. Sepuluh menit lagi, ok! Siap!" ucapnya lagi langsung berlari menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
'Huh, dasar!' Haibara menggelengkan kepalanya.
CHAPTER 8 END.
PS: Maaf nih, author udah lama menjomblo jadi lupa romantis-romantisan tuh kayak gimana :p jadi mungkin banyak yang terkesan maksa dan cringey hahahahaha punteeeeen ...
