Author's note: Untuk Cherrylate, Latte, Callysta, dan Hrkarlert, Penulis mengucapkan terima kasih banyak mau meluangkan waktu untuk memberi komentar demi kemajuan fanfic ini. Para pembaca ternyata mengatakan menyukai kisah yang Penulis tulis ini membuat Penulis merasa bahagia. Syukurlah sampai sekarang belum dapat flame.

Oh ya, omong-omong di chapter ini, Penulis memilih untuk segera ke garis depan. Tahu maksudnya? Ah, baca saja. Nanti kalian akan mengerti. Semoga suka!

.

.

Disclaimer : Isayama Hajime

BENANG TAK TERLIHAT

Halaman Sembilan: Sebuah Evolusi

By Josephine Rose99

.

.

.

.

.

BENANG TAK TERLIHAT

HALAMAN SEMBILAN

SEBUAH EVOLUSI

By Josephine Rose99

.

.

.

"Pakaian,"

"Check!"

"Koper,"

"Check!"

"Majalah,"

"Check!"

"Pelindung kepala,"

"Sangat check!"

"Apa yang kalian lakukan?" tanya Mikasa penuh heran melihat tingkah absurd dua teman dekat Annie yang sekarang sedang mengangkat barang-barang Hitch. Oh! Jika kalian bertanya mengapa hari ini Mikasa bisa terjebak di rumah Hitch bersama Ymir, katakan saja bahwa dia diminta Kakek Armin untuk mengurus 'kepindahan sementara' Hitch.

Tepat sekali. Keluarga dari dua sejoli tersebut telah memutuskan hasil persidangan, yakni Hitch dan Ymir akan diungsikan ke rumah Armin demi menemani Annie sampai si Romeo tersebut kembali dari antah berantah. Berita buruk. Meski berkali-kali Annie menyemburkan lahar panas pada Ibunya karena menolak ide ini, sayangnya lahar Ibunya jauh lebih panas. Terpaksa dia mengalah sekaligus merutuki nasib, ck ck ck ck.

Sambil bersenandung ria, Ymir membalas pertanyaan Mikasa tadi, "Hn hn hn hn hnnn~~! Tentu saja untuk memastikan tidak ada barang tertinggal, 'kan? Memangnya apa lagi?"

"Ya, aku tahu itu. Tapi kenapa harus membawa pelindung kepala segala?" Mikasa menunjuk pelindung kepala tinju bewarna biru yang dipegang Hitch.

"Oooh, itu untuk berjaga-jaga jika kami dibanting Annie saat tinggal disana. Kami masih sayang nyawa, Mikasa. Benar 'kan, Hitch?"

"100 poin untukmu, sobat!" sahut Hitch sambil memasukkan pelindung itu ke dalam ransel hitam miliknya.

Jangan salahkan Mikasa yang harus sweatdrop, saudara-saudara.

"Sangat tidak bermanfaat sekali hidup kalian..." beginilah batinnya ikut berduka cita pada Annie karena memiliki teman-teman tidak jelas dalam berpikir. Di zaman modern seperti ini, pola pikir Hitch dan Ymir masih terjebak di zaman Paleolithikum. Masih menari-menari bersama gajah purba alias Mammoth dan makhluk minim pakaian lainnya.

Dibantu Mikasa, Hitch pun meletakkan barang-barangnya ke dalam mobil. Rasa lelah sekaligus panas membuatnya menyeka keringat yang bercucuran berkat teriknya mentari. Diliriknya sebentar Ymir yang masih bersenandung setelah meletakkan kertas daftar barang di atas box kardus. Gadis jerawat bertubuh jangkung tersebut kemudian berjalan mendekati mereka sambil membawa kardus dan ikut memasukkannya ke mobil Hitch.

Mikasa melongok ke dalamnya, memperhatikan satu per satu barang yang sudah mereka angkat, lalu bertanya memastikan, "Apakah sudah semuanya? Tidak ada lagi?"

"Uh-huh! Semua barang telah dipastikan ceklis!" jawab Ymir. Gadis ini pun menghidupkan mobilnya dan diikuti Hitch yang melakukan hal sama. Kemudian, dia menyadari suatu keanehan ketika turun lagi dari mobil, "Oh ya, Mikasa. Mana Eren? Biasanya kalian 'kan lengket sekali seperti Ibu-anak," begini tanyanya sekaligus menyindir.

Alis Mikasa berkedut. Tatapan tak suka diberikan padanya, "Eren bukan anakku," begini jawabnya lugas, "Dia sedang menunggu di rumah Armin. Katanya dia akan mengantarnya ke bandara bersama Annie selagi aku membantu kalian berdua mengangkat barang."

"Oh, begitu?" Ymir mengangguk-angguk kecil, "Mereka tak menunggu kita? Setidaknya kita bisa ikut melepas kepergiannya," tanyanya lagi bingung alasan kenapa tak membiarkan mereka bertiga ikut bersama Eren.

Hitch spontan menoleh pada Ymir yang buruk dalam penggunaan kosa kata, "Jangan bicara seolah Armin mati, baka."

Sementara Mikasa memilih menghiraukan itu dan menjelaskan, "Aku juga bilang begitu padanya, tapi jadwal keberangkatan Armin pagi ini jam 10.15. Tak mungkin kita sempat mengantarnya ke bandara."

Jadwal yang cukup pagi tersebut membuat Ymir bertanya linglung, "Hah? Jam berapa sekarang?"

"Jam sembilan lewat lima menit," jawab Hitch sambil melirik jam tangannya, "Kurasa Armin sedang check in saat ini."

Ymir mendengus kesal. Melewatkan kesempatan di depan mata bukan ciri khasnya. Gadis ini pun bersandar pada mobil sambil melipat tangan, "Cih, padahal aku masih ingin menggoda pasangan bodoh itu disana."

"Hei, beri mereka ruang," celetuk Mikasa tak habis pikir dengan teman dekat Annie ini. Selalu meledeknya habis-habisan tanpa berpikir ulang 1000 kali. Tak tahukah dirinya bahwa Annie selalu berwajah muram setiap kali namanya disebut?

Melihat Mikasa yang tak memahami keadaan, Hitch segera membela Ymir, "Kami sudah sering memberi mereka ruang, tapi tak ada kemajuan, nona Polisi. Ah, sudahlah. Yang terpenting kita berdua akan menggodanya habis-habisan selama tinggal di rumah sang Romeo, hahahaha!" ujarnya sambil tertawa setan bersama Ymir.

Mikasa hanya mampu berekspresi malas pada tawa menyebalkan tersebut. Well, sambil kasihan pada nasib Annie di rumah Armin tentunya.

.

.

Perbatasan Distrik Shiganshina. Bandara Angel Aaltonen.

Pukul 09.05 waktu setempat.

.

Annie menyerahkan sebuah tas tangan besar abu-abu pada Armin di depan konter check in bandara Angel Aaltonen. Armin kemudian menerimanya lalu meletakannya di dekat koper hitamnya. Diliriknya kembali dua pengantarnya ke tempat ini. Yang satu sedang tersenyum, sementara yang satu lagi berwajah sedikit muram. Tak perlu ditanya siapa yang berwajah muram itu.

Eren memeluk Armin. Menepuk pelan punggungnya sembari berujar, "Jaga dirimu baik-baik, kawan."

Armin juga membalas pelukan itu. Tak bisa menahan diri untuk memberikan senyuman, "Terima kasih, Eren. Aku pasti akan berhati-hati disana," Armin dan Eren pun melepaskan pelukan, serta sedikit mundur seolah memberikan ruang pada Annie supaya dia juga melakukan hal yang sama. Tapi gadis itu diam. Dia tak bergeming sama sekali. Eren mengerutkan dahinya, sementara Armin hanya bergumam pelan, "...Annie..."

Eren bisa mendengar nada bersalah itu dari Armin. Ekspresinya juga. Melihat kedua insan yang dijodohkan atas alasan insting sedang saling menatap, tiba-tiba Eren teringat dengan perkataan Mikasa sebelum mengantar Armin kemari.

.


Lihat situasi, Eren. Terkadang kau juga harus peka. Ada kalanya biarkan mereka berdua saja.


.

Harus peka, ya?

Baiklah. Situasi saat ini sudah sangat membuatnya peka.

"Ah, kalau kalian ingin bicara berdua, aku bisa menunggu diluar," begini ujarnya sembari berbalik, memberikan lambaian kemudian memasukkan kedua tangannya ke saku jeans. Membiarkan punggungnya yang berbicara selanjutnya, baginya itu keren.

Armin menoleh pada sang sahabat yang tumben peka. Jadi dia hanya membalas apa adanya, "O-oh, te-terima kasih, Eren. Aku hargai itu," setelah itu, Armin menoleh pada Annie lagi.

Hening pun tercipta.

Mereka berdua hanya saling tatap saja sekarang. Menghiraukan para penumpang lainnya berlalu lalang. Mereka berdiri tegak disana sampai Armin memecah suasana beku tersebut.

"Aku pergi dulu, Annie. Sampai jumpa tiga bulan dari sekarang."

Mendengar itu, hati Annie semakin jatuh.

Dia bisa merasakan aura gelap menguasai perasaannya. Tak bisa membohongi perasaan ini lebih lama. Luar biasa sedih begitu mengetahui Armin akan pergi jauh darinya. Sejenak Annie berpikir jika dirinya seorang peneliti, dia pasti akan selalu bersama dengannya kemana pun Armin pergi. Tapi, dia tentara, bukan? Tempatnya bukan di laboratorium. Tempatnya bukan di lokasi survey. Melainkan di medan perang.

Gadis ini kemudian menunduk. Lalu dia bergumam pelan, "Kurang dari tiga bulan."

"Eh?"

"Kurang dari tiga bulan."

Apa Armin tak salah dengar?

Annie memintanya cepat pulang? Apa baginya tiga bulan itu terlalu lama? Bukankah biasanya bagi seorang tentara yang bertugas di pertempuran, pergi berbulan-bulan itu hal biasa?

Terbesit rasa bahagia yang sederhana ini di hati sang ilmuwan muda. Dia tak bisa menahan diri untuk tersenyum, "Baiklah, akan kuusahakan," jawabnya mantap yang membuat Annie mendongak padanya. Menatapnya tak percaya. Namun kembali lagi menunduk. Armin pun berujar lagi, "Sesampainya disana, aku akan langsung menghubungimu," tentu saja ini akan dia lakukan. Memberi kabar bahwa dirinya baik-baik saja setidaknya akan membuat kelegaan dalam diri Annie.

Annie memberi jawaban singkat, "Hn."

"Jaga dirimu, Annie..." ucapan selamat berpisah benar-benar menyebalkan. Jujur, Armin bahkan tak ingin meninggalkan Annie sehari saja. Dia ingin menghabiskan hari-harinya bersamanya, "Aku pasti merindukanmu selama aku disana..." ujarnya terlalu jujur sampai Annie terkesiap.

Gadis itu memeluk lengannya. Menoleh ke arah lain supaya sang ilmuwan tak melihat wajahnya yang seperti kepiting rebus, "Bodoh, apa yang kau katakan? Berhenti mengatakan hal memalukan..."

"Aku akan merindukan wajahmu, kata-kata sinismu, masakanmu..." oke, Armin. Bisa tidak kau berhenti sebentar? Tolong pahamilah Annie yang semakin salah tingkah, "Seandainya kau juga peneliti. Kau pasti akan kubawa ikut bersamaku," atau tidak. Pria ini terlalu berterus terang. Salah satu sifat yang dibenci sekaligus disukai Annie.

Leonhart muda terdiam sejenak.

"Saat kau pulang, aku akan membuat makanan kesukaanmu," begini katanya masih tak mau melirik Armin.

Kedua alis Armin terangkat. Dia tak percaya apa yang barusan dikatakan Annie, "Benarkah?"

"Ya..."

Terasa sekali.

Jantung yang berdebar-debar kencang dan lembut ini.

Armin tak bisa lagi menahan bahagianya. Tanpa pikir panjang, di tengah-tengah keramaian bandara, Armin memeluk Annie dengan erat. Begitu erat seakan tak ingin melepaskannya. Dia merebahkan kepala Annie pada bahunya. Merasakan aroma dan sensasi gadis yang dia cintai sebelum meninggalkannya dalam waktu lama.

Oh, jangan tanya Annie seperti apa reaksinya sekarang. Dia terbujur kaku. Tak menyangka Armin bisa seagresif ini. Tak pernah sekalipun terlintas di pikirannya bahwa Armin akan memeluknya, terutama di keramaian. Matanya terbelalak, bibir kecilnya menganga, dan tangannya gemetar. Pipinya bahkan tak bisa lagi disebut putih pucat, melainkan merah membara sampai ke telinga. Annie bisa merasakan dada bidang Armin dalam pelukannya. Dia bisa merasakan sensasi hangat yang tak pernah dia rasakan sebelumnya.

Tapi terlalu banyak orang! Para penumpang, keluarga penumpang yang mengantar keberangkatan anggota keluarga, dan petugas bandara sampai memperhatikan mereka. Bisik-bisik hingga tersenyum pada mereka berdua. Annie semakin malu!

"A-Armin! Apa yang kau—"

"Se-sebentar saja!"

"Hah?"

"Kumohon... sebentar saja..."

Pelukan Armin semakin erat saja. Annie bisa mendengar irama jantung Armin yang tak jauh beda darinya. Sangat kencang sekali. Mereka sampai berharap semoga satu sama lain menghiraukan hal seperti itu. Maka pada akhirnya, Annie pun mulai mengikuti kata hati.

Membalas pelukan Armin.

Perlahan Annie memeluk punggung Armin, sesekali mengusapnya. Dia akan merindukan punggung dari pria yang selalu memperhatikannya ini. Pria yang selalu peduli padanya. Bukan hanya dalam tiga bulan, malam ini juga Annie pasti akan merindukan Armin. Persetan tatapan dari orang-orang. Kenapa pula dia harus memedulikan hal itu dibanding perasaannya?

Tak sampai lima menit mereka berpelukan. Meskipun mereka masih ingin berlama-lama, namun pengumuman yang terus memberitahukan perihal keberangkatan. Mau tak mau Annie dan Armin saling melepaskan diri. Yah, walau tak sepenuhnya. Kalian tanya kenapa? Tangan kiri Armin mengusap pelan pipi Annie, sementara tangan kanannya masih memeluk pinggangnya. Menatap mata biru seindah lautan itu dengan intens. Walau mereka memiliki warna mata yang sama, Armin lebih memilih mata Annie lebih indah darinya.

Kulit wajah Annie begitu lembut, itulah yang dikatakan jemari Armin. Maka dengan pelan, Armin menautkan poni Annie yang menutupi pipi tersebut ke belakang telinganya. Annie hanya diam. Dia tak beragumen sama sekali. Annie biarkan Armin melakukan apa yang dia mau sambil terus menatap lembut wajahnya. Hingga kemudian dia menyadari bahwa Armin mendekati wajahnya. Memiringkan sedikit kepalanya lalu mencium pipinya.

Chu~

Ciuman pertama Armin diberikan kepada mantan musuhnya sekaligus sang calon istri. Si ilmuwan tersebut pun menarik wajahnya, kembali memerhatikan ekspresi Annie yang tak jauh beda dari sebelumnya. Dia bisa melihat raut wajah terkejut itu yang tentunya dihiasi kumpulan warna tomat. Namun Armin hanya tersenyum malu. Bahkan dia masih mengusap pipi yang barusan dia cium tersebut.

"Aku berangkat, calon istriku. Aku janji akan menjaga diriku baik-baik disana. Maka kau pun juga. Jaga dirimu. Jika terjadi sesuatu, hubungi aku. Aku akan segera datang untukmu..." sejak kapan Armin bisa berkata-kata manis begini?

Lupakan. Karena setelah berkata begitu, Armin melepas Annie dan berlalu dari sana. Dia beranjak sambil membawa barang bawaannya, masuk ke dalam konter check in. Dia terus berjalan meninggalkan Annie yang masih mematung di tempat. Yah, walau sebenarnya ada perang batin dalam diri Armin yang mengutuk perbuatan tak tahu malunya barusan.

"BODOOOOOHH! MATI SAJA KAU, ARMIN! MATI SAJA SANA! AKU PASTI AKAN DIBUNUH BEGITU KEMBALI! BAGAIMANA INI!? KENAPA AKU TAK BISA MENAHAN DIRI!? KKKHHHHHH!" beginilah batinnya yang nyalinya malah jadi ciut. Ck ck ck ck.

Hhhh...

Kalau ada yang mengatakan cinta lebih cocok tumbuh di musim semi, itu salah besar. Cinta di musim gugur itu juga punya kenangan tersendiri. Cinta yang diiringi langit merah dan daun yang berguguran jauh lebih menarik.

.

.

Pipinya masih menghangat. Masih tersisa sensasi ketika bibir Armin menyentuh pipi putih pucatnya. Annie memegangi pipi kanannya, perlahan mengelusnya. Rasa sedihnya pun bercampur dengan perasaaan senang tak terkira. Seperti orang gila, gadis ini jadi tersenyum sendiri. Reka ulang kejadian manis barusan membuat jantungnya berdetak tak karuan.

Namun dia tak menyadari tatapan aneh Eren padanya ketika dia berjalan menjauhi konter check in. Dia tak menyadari walau Eren memberi ruang untuk mereka, dia tetap melihat dari jauh. Dari balik mesin penjual minuman kaleng, dia memperhatikan segalanya. Dari pembicaraan, pelukan sampai adegan cium. Dia yang tadi hendak meminum kopi kaleng langsung terkena serangan jantung. Kopi kalengnya saja sampai jatuh menggelinding hingga harus terkena nasihat panjang lebar dari petugas.

Tapi—sungguh! Siapa peduli soal itu!? Yang benar saja dia kalah taruhan dari Mikasa! Apalagi seharusnya Annie menabok wajah Armin bolak-balik, 'kan? Tapi kenapa sekarang gadis pendek berambut pirang itu berjalan mendekatinya dengan ekspresi seolah baru pertama kali jatuh cinta?

"Apa itu barusan?" tanyanya masih tegang. Raut wajahnya layaknya telah melihat petunjuk kiamat sudah dekat saja.

Annie seketika buyar dari khayalannya sendiri. Dia tak berani menatap wajah Eren. Sang Kolonel tersipu malu sambil menoleh ke arah lain, "A-apa maksudmu?"

"Dia menciummu!" balas Eren berlebihan. Nada bicaranya sampai naik segala.

"Lalu?"

"Bukannya kalian masih bermusuhan!?" balasan cerdas, Eren. Ah, masa bodoh dengan pandangan orang-orang pada mereka sekarang. Eren jauh lebih tertarik pada perubahan dalam hubungan dua sejoli yang harusnya saling bunuh, bukan saling bermesraan, "Aaakh! Ja-jangan katakan kalau selama tinggal serumah, kalian sudah sejauh itu!?" pikiran mesum Eren naik satu level.

Annie spontan melotot. Mulutnya menganga dan wajahnya memerah hebat. Tak percaya bisa-bisanya Eren punya pikiran yang tak jauh beda dari duo setan betina. Maka Annie pun buru-buru mengenyahkan pikiran kotor tersebut, "Kami tidak semesum pikiranmu, bodoh! Ayo, pulang!" ajaknya yang merasa semakin berbahaya jika terlalu lama di tempat itu.

"Bohong! Buktinya wajahmu memerah! Annie Leonhart yang kukenal takkan mungkin seperti ini!" Eren menunjuk wajah Annie dengan tuduhan yang tak bisa dielakkan.

Annie gelagapan. Ya ampun, dia benar-benar sangat malu sekarang. Tertangkap basah dicium dan salah tingkah begini. Dia jadi gugup terus dipojokkan, "Ha-hah? A-apa yang kau bicarakan, bo-bodoh?!"

"Apa kalian sudah melakukan 'itu', Annie? Kalian 'kan serumah, jadi pasti sekamar juga, 'kan?" mesum level dua.

Oke, sudah cukup.

PUKK!

Tangan kanan Annie segera menutup mulut Eren karena si manajer perusahaan keamanan tersebut terlalu banyak bicara. Dan bicara soal keamanan, seharusnya pria itu sadar bahwa posisi Annie sangat tidak aman sekarang. Bagaimana jika orang-orang menyadari bahwa itu Annie, si Kolonel termuda sepanjang sejarah militer Eldia? Harga dirinya bisa jatuh!

"Tutup mulutmu sebelum aku benar-benar memastikan mulut sial ini takkan bisa bicara lagi selamanya..." ancaman ala Ibu tiri akhirnya keluar juga. Beserta keluarnya aura-aura membunuh, Eren berhasil dijinakkan. Memilih mundur teratur.

Ya, Eren itu tidak bodoh. Mood Annie yang sedang baik saja terkadang menyeramkan. Apalagi ketika buruk? Makanya dia heran Armin mau mendaratkan ciuman di pipi setan betina ini.

"Hm hm!" Eren mengangguk cepat sebelum dia benar-benar tak bisa bicara lagi selamanya.

...

~invisiblestringchapternine~

...

.

.

Suasana dalam mobil Eren benar-benar hening. Suara deru kendaraan yang berlalu-lalang di jalan rayalah yang menjadi musik di perjalanan pulang. Meskipun Annie duduk disampingnya, gadis itu justru termenung. Memangku dagu sambil melihat keluar jendela mobil. Raut wajahnya datar sekali, sampai Eren sempat berpikir bahwa sahabatnya telah dijodohkan dengan psikopat.

Eren pun juga sama. Tak tertarik memulai pembicaraan. Annie itu sama sangarnya dengan Mikasa. Di bandara saja, dia nyaris dihajar Annie kalau tidak mengerem mulut embernya. Eren masih sayang nyawa, sehingga dia tak berani menantang maut. Lebih baik dia mengalah sebelum terbakar akan lahar panas penuh kemurkaan dari si tentara wanita barbar tersebut. Maka singkatnya, situasi benar-benar canggung.

Butuh lebih dari setengah jam bagi mereka berdua dapat kembali ke rumah Armin. Eren mengemudikan mobilnya untuk berhenti di halaman dan dapat melihat sosok keberadaan tiga gadis sedang berdiri di depan pintu rumah. Ya, tentu saja salah satu dari mereka adalah sang kekasih. Dia pun menghentikan mobilnya, lalu turun kemudian berjalan mendekati mereka. Diikuti Annie tentunya.

Mikasa berlari kecil mendekati Eren, menyapanya dengan hangat. Eren hanya tersenyum kecil sebelum memberi pelukan sebentar pada Mikasa. Tapi, mari hiraukan ini. Kenapa? Pertanyaan bagus. Itu karena raut wajah Annie yang biasanya datar berubah jadi cemberut sekaligus suram begitu melihat Ymir dan Hitch sedang melambai padanya.

"YUHUUUUUUU, ANNIIIIIIIIEEE!" beginilah ujar Ymir dan Hitch bersamaan.

Ya ampun. Penderitaan macam apa ini? Setelah Armin pergi, benarkah dia harus ditemani dua makhluk gaib ini? Dewi keberuntungan tampaknya tak berpihak padanya.

"Apa-apaan ekspresimu itu? Kau tak senang tinggal bersama dua sahabatmu ini?" tanya Hitch menyadari raut wajah tak suka Annie pada mereka.

Annie pun menjawab ketus, "Hanya orang bodoh yang mau tinggal bersama perusuh seperti kalian,"

"Ya ya yaaa, kami tahu kalau kau lebih senang tinggal bersama Armin daripada kami~~" ledek Hitch sambil memberikan gerakan alis naik-turun yang genit. Spontan rona merah menjalar ke seluruh pipi Annie.

"Si-siapa bilang begitu, hah!?"

"Hm hmmmmm~, ada yang sedang gugup tampaknya~~"

"Kau—"

"Tenang, Annie. Meski selama tiga bulan ke depan kau akan kekurangan belaian cinta dari suamimu, setidaknya kami bisa memberikan belaian persahabatan," celetuk Ymir ikut-ikutan menggoda Annie yang pertahanan sikap dinginnya hampir runtuh.

Kepala Annie akhirnya meledak juga. Ah, bukan dalam arti harfiah tentunya.

"Simpan saja untuk kalian sendiri!" bentaknya emosi meski reaksi teman-temannya hanya tertawa tanpa rasa bersalah. Namun dia memilih menghiraukan mereka sebelum benar-benar terjadi pembantaian berdarah di rumah Armin. Annie kemudian menoleh pada Mikasa dan berkata, "Ah, Mikasa. Terima kasih mau membantu mengangkat barang mereka kemari,"

"Bukan apa-apa. Lagipula aku diminta Kakek suamimu," jawab Mikasa apa adanya dan tak sengaja juga melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan kedua teman dekat Annie. Mengatakan Armin adalah suaminya padahal belum menikah. Karena itulah gadis polisi ini shock berat melihat Annie malah tersipu, bahkan menoleh ke arah lain. Mikasa jelas membeku. Alisnya berkedut beberapa kali seolah menolak kenyataan, "Hah? Ini memang aku yang gila atau pipi Annie merona?"

"Baiklah. Berarti urusan kami selesai disini, 'kan? Annie, aku dan Mikasa mau pulang dulu. Kalau terjadi sesuatu atau butuh bantuan, hubungi saja kami," beruntung Eren yang notabene laki-laki tak peka berhasil meloloskan Annie dari lubang jarum. Pria ini memohon undur diri untuk segera pergi dari lokasi.

Buru-buru Annie mendongak, kemudian menoleh pada Eren, "Ya, aku mengerti. Terima kasih."

"Ayo, Mikasa!" Eren berlalu dari sana, berjalan mendekati mobilnya.

Mikasa mengangguk paham, "Hn," lalu dia melirik Annie dan melambai sebentar padanya, "Jaa ne, Annie!"

Annie, Hitch dan Ymir melihat mobil tersebut lambat laun menghilang dari pandangan. Meninggalkan mereka untuk menyelesaikan apa yang belum diselesaikan. Setelah Eren dan Mikasa benar-benar pergi, Hitch dan Ymir meregangkan lengan mereka ke atas. Merilekskan otot karena terlalu banyak mengangkat barang.

"Nah, sekarang hanya tinggal kita bertiga, 'kan? Oke, waktunya bersih-bersih!" ujar Ymir langsung masuk ke dalam rumah Armin tanpa permisi pada pasangan si pemilik rumah.

Hitch juga sama. Dia mengikuti langkah Ymir sambil mengangkat tinju ke atas, "OOUU!"

Lalu Annie? Sang Kolonel hanya menghela napas pasrah. Terpaksa dia juga ikut masuk untuk membantu.

.

.

.

Bersih-bersih akhirnya selesai. Mereka sudah selesai meletakkan barang-barang di dua kamar kosong yang memang dibuat Armin khusus untuk tamu. Well, setidaknya Annie bisa bersyukur tidak menghabiskan tidur nyenyaknya di samping dua wanita tersebut. Dan bicara soal bersyukur, Annie cukup senang ketika mengetahui Hitch membawa berbagai macam teh. Mengingat gadis itu memang menyukai pesta teh sampai mengoleksi berbagai rasa. Karena itulah setelah selesai bersih-bersih, mereka bertiga bisa menikmati seduhan teh di ruang tengah sambil membaca majalah.

Tidak, tidak bisa dikatakan begitu. Hanya Annie satu-satunya yang cocok dikatakan sedang membaca majalah. Sedangkan Hitch dan Ymir melakukan itu sebagai formalitas karena pandangan mereka tertuju pada Annie. Begitu banyak pertanyaan di kepala mereka yang harus diketahui jawabannya.

Dan pertanyaan pertama adalah...

"Omong-omong, Annie, apa kau masih menyimpan bantal-bantal spektakuler itu?" sang Kolonel muda tampaknya harus berhenti dari aktivitas membaca majalahnya karena pertanyaan konyol dari Hitch.

Helaan napas berat terdengar darinya. Bodoh sekali dirinya jika berpikir akan mendapat ketenangan selama hidup serumah dengan duo penggosip. Buktinya sekarang Annie merasa sebentar lagi dia akan dicecar pertanyaan-pertanyaan interogasi ala kepolisian. Well, dia tak bisa berharap tinggi seperti menikmati harinya tanpa Armin di ruang tengah, ditemani secangkir teh hangat, dan majalah-majalah fashion yang dibawa kedua temannya. Ingin tanya kenapa Annie tertarik dengan majalah seperti itu? Oke, fashion sense Annie itu buruk. Jadi setidaknya dengan membaca itu, mungkin dia bisa tampil menarik. Demi—ehem—seseorang di kejauhan sana.

Tanpa melirik sedikit pun pada si penanya, Annie membalas datar, "Spektakuler?"

Beruntung dia tidak melihat cengiran mesum Hitch ini. Kalau tidak, mungkin sudah dia tabok atau membuatnya tidur di halaman, "Seni super seksi hasil pemikiran liarku dan Ymir. Kau tidak membakarnya, 'kan?" oke, seketika Annie menutup majalahnya dan dengan cepat menoleh pada Hitch.

Ooh, jadi begitu rupanya? Meski bantal itu pesanan Ibunya, idenya berasal dari mereka?

Sekedar informasi, Ibu Annie memang ingin bantal-bantal terkutuk itu bergambar Annie dan Armin. Tapi Ymir dan Hitch melakukan sedikit 'dekorasi' supaya lebih hot. Parahnya, Ibu Annie alias Nyonya Leonhart malah setuju tanpa mengomentari unsur kemesuman dan ketidakjelasan dalam seni di bantal-bantal tersebut.

"Daripada membakar bantal itu, kurasa jauh lebih baik jika kalian yang kubakar," tidak heran Annie berkata begini. Jangan salahkan dia. Jangan salahkan emosinya yang nyaris meledak untuk menghajar dua gadis di dekatnya ini.

Ymir memutar bola matanya kemudian mendengus, "Kata-kata yang tak sepantasnya diucapkan oleh seorang Kolonel."

"Jadi pada dasarnya kau masih menyimpannya, 'kan?" masih belum menyerah. Hitch menghiraukan ancaman pembunuhan itu dan terus menekan.

Annie mendecak kesal. Sepertinya tak ada jalan lain selain menjawab demi menutup mulut ember si Letnan Dua, "Begitulah. Karena Armin,"

Hitch berkedip beberapa kali. Memproses data.

"Armin?" ah, muncul juga. Muncul juga senyum iblis itu diiringi alis naik-turun dengan genit, "Ooh, dia ingin kau memeluk bantal bergambar dirinya yang telanjang dada itu?"

"Jelas bukan, dasar bodoh! Dia memintaku menyimpannya sebagai alibi jika keluarga kami datang kemari!" balas Annie sewot. Hampir saja dia berniat melempar majalah itu ke wajah Hitch. Namun tak terjadi. Masih hampir.

Ymir yang hanya mendengar percakapan mereka memberi tanggapan paling sederhana, "Ooooohhh..."

Ya, maksudnya—dia memang sudah menebak itu, 'kan? Di perempatan lampu merah. Di dalam mobil bersama Hitch. Jadi sejujurnya Ymir tak terlalu kaget.

Namun berbeda darinya, Hitch terus menggoda sang atasan, "Annie, tak usah berbohong. Kau pasti sudah memeluk bantal itu, 'kaaaaaan~~?"

"Tidak."

"Iya, 'kaaaaaannn~?"

"Kau ingin aku mematahkan lehermu sekarang juga?"

Oke. Interogasi soal bantal berakhir disini karena mulut Hitch mendadak bungkam.

Satu penggosip mundur. Kali ini penggosip lainnya yang maju.

"Jadi?" tanya Ymir tiba-tiba dengan maksud tak jelas.

Segera Annie mengirim tatapan tajam padanya, "Jadi?"

"Jadi... bagaimana menurutmu? Soal Armin. Ya, selama kau tinggal disini," tanyanya penasaran. Yah, setidaknya karena hubungan mereka yang semakin membaik. Selain itu, Ymir ingin tahu pendapat sang sahabat pada calon suaminya, "Tidak ada percobaan pembunuhan sebelumnya, 'kan?" lanjutnya lagi was-was. Meski dia merasa itu berlebihan sejak tak pernah melihat Armin babak belur selama tinggal bersama Annie.

"Sudah kubatalkan," ternyata memang ada sebelumnya, eh? Sifat barbar wanita ini ternyata belum hilang sepenuhnya.

"Kenapa?"

"Kami baik-baik saja disini. Tak ada pertengkaran hebat," sebuah fakta tanpa disandung opini.

Memang benar. Mari kecualikan sindiran-sindiran sinis di awal-awal hidup bersama dulu, namun akhir-akhir ini tak ada satupun sindirian terdengar. Justru asyik memperhatikan satu sama lain sampai lupa pada diri sendiri. Ah, jangan lupakan obrolan-obrolan yang sedikit...'mesra'. Singkatnya, hubungan mereka memang baik-baik saja.

Ymir ber-hmm sebentar. Kemudian kedua alisnya bertaut, menatap intens Annie, serta tersenyum licik, "Yang ada justru kemesraan hebat, ya?" begini celetuknya yang hampir sukses membuat Annie tersedak.

Lagi-lagi rona merah menjalar ke pipinya. Annie berdeham. Pura-pura batuk kikuk sambil menoleh ke arah lain, "Apapun selain itu."

Bingo! Ymir serta Hitch menangkap sinyal malu-malu tersebut! Mereka berdua kompak melirik satu sama lain, lalu melirik Annie kembali. Senyum licik itu semakin licik karena tahu telah memiliki sesuatu yang bisa dijadikan 'mainan' mereka. Arah pembicaraan semakin menarik juga tentunya. Kedua gadis itu tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Dengan sedikit menekan Annie, mungkin mereka bisa menemukan jawaban dari pertanyaan; 'Sudah sejauh mana mereka?'.

Hitch menjadi orang pertama yang bertanya setelah keheningan canggung menyapa, "Lalu, menurutmu dia itu laki-laki atau perempuan?"

What?

Armin laki-laki atau perempuan? Serius, Hitch bertanya begitu? Perlukah Armin menunjukkan 'sesuatu' yang hanya dimiliki kaumnya?

Tentu saja pertanyaan di atas mampir di pikiran Annie. Dahinya berkerut tanda tak mengerti, "Hah? Pertanyaan bodoh macam apa itu? Tentu saja Armin laki-laki,"

"Bukankah dulu kau juga menganggapnya perempuan seperti kami? Rambut bobnya, tingkahnya yang tak macho, kemudian cengeng..." celetuk Ymir ikut menambahkan.

"Itu dulu," jawaban Annie ini membuat Ymir menyipitkan mata.

"Kalau sekarang?"

"Ya, dia laki-laki."

Kali ini Hitch ikut tertarik dengan perubahan kesan Armin bagi Annie, "Dari sisi mana?"

"Semuanya."

"Hhhhmmmmmmmm..." sebuah tanggapan sederhana (lagi) dari duo penggosip. Hanya ber-hmm panjang dengan melodi.

"Wajahnya... senyumnya..." Annie masih melanjutkan opininya, saudara-saudara.

"Hhhmmmmm..."

"Matanya... bibirnya..."

"Hhmmm..."

"Tangannya..."

"Hm."

"Sentuhannya..."

"H-hm."

"Bentuk tubuhnya..."

"..."

Tubuh Hitch dan Ymir spontan membeku.

Kedua mata mereka melotot, nyaris keluar dari tempatnya.

Dan hal ini tidak disadari Annie karena gadis ini asyik membayangkan Armin sekarang.

"Memang dia tidak begitu berotot seperti teman-teman di Batalion, tapi itu jelas bentuk tubuh laki-laki. Padahal dulu saat masih SMP, di jam pelajaran olahraga, tubuhnya kurus dan ramping seperti perempuan. Tapi seka—hei, apa kalian mendengarku?" Annie berhenti melanjutkan impresi soal Armin ketika melihat Hitch dan Ymir secepat kilat melompat menjauh darinya. Berbisik-bisik dengan aura-aura gelap dalam pose jongkok.

Hiraukan Annie yang kebingungan sekarang. Karena topik pembicaraan bisik-bisik ala Hitch dan Ymir jauh lebih menarik.

"Kau dengar itu, Hitch? Apa telingaku tak salah dengar?" tanya Ymir masih melotot. Berkali-kali memastikan telinganya tidak menumpuk kotoran terlalu banyak sampai mengorek telinga segala, namun nihil. Telinganya masih bersih sebersih niat sucinya membantu perjodohan ini.

Hitch menggeleng cepat. Raut wajahnya masih tegang, "Tidak, tidak. Loud and clear. Dia benar-benar mengatakannya. Tapi itu tidak aneh. Apa kau menyadari jika akhir-akhir ini setiap kali kita menyebut Armin suaminya, dia tak pernah marah?"

"Benar juga. Tadi pun begitu. Padahal biasanya dia akan masuk mode godzilla jika kita meledeknya,"

"Sepertinya kita punya pikiran yang sama. Bukankah begitu?"

"Yup, tepat sekali. Annie pasti sudah melihat semuanya. Aku tak menyangka si barbar bermata sinis itu telah melompati dinding yang bahkan belum kulompati,"

"Ada apa dengan kalian berdua? Kenapa berbisik-bisik?" celetuk Annie penuh heran melihat aura gelap dari arah mereka belum hilang juga. Sayangnya, celetukannya digubris layaknya mendengar alasan sang kekasih sampai selingkuh tiga kali.

Hitch pun terus membalas perkataan Ymir sambil menganggap Annie angin lalu, "Bukan melihat lagi, Ymir. Mereka berdua pasti sudah melakukannya. Oh, tidak. Aku tidak bisa membayangkan berapa kali karena ini sudah hampir dua bulan,"

"Cerdas. Apalagi mengingat mereka tipikal gersang akan cinta, setidaknya mereka melakukannya setiap malam," oke, pembicaraan ini semakin mesum, para pembaca.

Karena Ymir menaikkan sedikit nadanya di kalimat terakhir, Annie pun bisa mendengarnya, "Hah? Apanya yang setiap malam?" tanyanya curiga, namun lagi-lagi dia dihiraukan.

"Tidak, kau salah. Bukan hanya malam. Pasti pagi dan malam. Dua kali sehari," pikiran Hitch yang sudah kotor tambah kotor.

"Tapi Armin berangkat kerja setiap pagi, 'kan? Apa sempat?"

"Mungkin tidak selama saat malam, jadi pasti hanya sebentar ketika di pagi hari," resmi sudah fanfic ini banting setir dari rate T menuju M.

"Hei!" akhirnya Annie ikut menaikkan nadanya, mencoba menghentikan topik bisik-bisik yang semakin absurd. Namun berat hati mengatakannya, panggilannya ini berujung gagal.

Bisik-bisik terus berlanjut.

"Kau sebut apa ini, Ymir? Untuk seorang Annie dan Armin, bukankah ini terlalu banyak kemajuan?"

"Ini bukan kemajuan lagi, sobat. Ini namanya evolusi!"

"Tapi ini wajar, bukan? Orang dewasa,"

"Yup, orang dewasa. Setuju."

"Hoi..."

Genderang kematian terdengar menggema di telinga kedua penggosip yang terus menghiraukan yang sedang digosipkan. Cukup mendengar 'hoi' barusan berhasil membuat mereka takut-takut menoleh ke belakang. Keringat dingin bercucuran. Jiwa nyaris meninggalkan raga. Rasa takut akan aura membunuh itu pun semakin menjadi-jadi begitu mendapati Annie sedang membunyikan kepalan tinjunya sehingga suasana semakin mencekam.

Kedua penggosip meneguk ludah bersamaan tanpa komando. Dalam hati, mereka sudah menyiapkan permintaan terakhir jika kepalan tinju sakti itu mampir ke wajah mereka. Sial sekali. Pelindung kepala ada di kamar, sementara situasinya darurat. Oh, Kami-sama.

Bunyi kretek-kretek masih menjadi suara latar meski Annie sedang memberi tatapan membunuh terbaiknya. Berdiri di belakang kedua gadis yang masih berjongkok benar-benar menjadi sebuah intimidasi, "Ini memang hanya aku atau kalian sedang membicarakan sesuatu yang mesum disini?"

Hitch dan Ymir gelagapan. Mereka tahu akan ada pembantaian disini! Cepat-cepat mereka berdua menoleh satu sama lain seolah memberi sinyal untuk saling merajut alasan.

"Ha-hah? A-apa yang kau bicarakan, Annie? Te-tentu saja tidak! I-iya 'kan, Ymir?" ucap Hitch gemetar, kemudian meminta persetujuan Ymir yang dalam kondisi sama.

"Hah? Ki-kita? Membicarakan hal mesum? Hahaha, konyol sekali! Itu tak mungkin!" sebuah tawa hambar nan kikuk. Tak berhasil sama sekali meyakinkan sang algojo.

"Benarkah?" Annie bertanya sekali lagi. Aura membunuhnya makin membara. Seperti Shenzi, Banzai dan Ed yang terpojok dalam The Lion King, mereka berdua menganggukkan kepala cepat-cepat.

Beberapa detik kemudian, Annie menurunkan kepalannya. Seketika itu menjadi sinyal untuk bisa menghembus napas lega. Namun Annie masih menebar ancaman, "Awas saja jika ada pikiran kotor mampir di kepala kalian tentang aku dan Armin. Aku akan benar-benar membunuh kalian berdua."

"Siap, Kolonel!" begini jawab duo tikus sambil berdiri tegak serta memberi hormat. Tapi jangan salah. Mereka berdua sudah yakin pada pernyataan yang mereka garis bawahi.

"Ternyata memang sudah dilakukan!" beginilah suara hati yang semakin salah paham saja.

Annie mengacak pinggang, menghela napasnya. Lalu dia melirik ke arah jam dinding. Jam dua belas siang lewat dua puluh adalah waktu yang ditunjukkan jarum jam. Ini sudah waktunya mengisi perut, "Tunggu disini sebentar. Aku mau memanasi sarapan kami tadi. Masih tersisa banyak, jadi itu saja makan siang kita," ucapnya sambil berlalu meninggalkan kedua sahabat menuju dapur.

Hitch dan Ymir kembali memberi hormat, "Oossh!"

Sudah berapa banyak Annie melangkah jauh? 10 langkah? 20 langkah?

Entahlah. Tapi yang pasti, ketika sosoknya menghilang, dua iblis betina ini kembali ke aktivitas sebelumnya alias bisik-bisik. Mereka kembali berjongkok dan mendiskusikan rencana selanjutnya. Tentu saja, rencana konyol.

"Oke, Ymir. Pasti setidaknya tersisa bukti bahwa mereka sudah melakukannya,"

Salah paham.

"Perlukah kita memeriksa kamar Armin nanti? Mungkin tersisa banyak pengaman disana,"

Tambah salah paham.

"Jenius sekali, kawan. Kau periksa kamar Armin. Sekaligus di tempat sampah atau apapun itu. Nanti aku akan periksa kamar Annie dan ruang kerja mereka,"

Annie bisa mengamuk jika tahu hal ini.

"Oke! Dan jika benar apa yang kita pikirkan, kita akan laporkan ini pada Bibi Leonhart. Melaporkan bahwa dia akan segera melihat Armin atau Annie junior,"

Berpikir terlalu jauh!

"Baiklah. Sepertinya kita sudah menemukan kesepakatan. Deal?" percuma. Hitch sudah mengulurkan tangan tanda disahkannya kerja sama demi membuktikan fakta kontroversi mereka.

Tanpa banyak omong, Ymir pun mengulurkan tangan pula. Menjabat tangan Hitch dan berujar mantap, "Deal!"

Kapan kesalahpahaman dari sebuah evolusi ini berakhir?

Well, who knows?

.

.

TO BE CONTINUED

.

.


Author's note: Fanfic ini masih rate T, ya. Bukan M, hahaha! Itu murni pemikiran konyol Ymir dan Hitch yang kejauhan. Well, sebenarnya mereka tidak bisa disalahkan juga. Semua orang pasti akan salah paham kalau jawaban Annie begitu.

Oke. Bisa dikatakan, chapter ini adalah break. Cerita ringan sebelum klimaksnya. Penulis masih belum menemukan ide yang jitu, makanya chapter ini lebih ke arah lelucon. Ya, itu pun jika para pembaca menganggapnya begitu.

Akhir kata, terima kasih dan sampai jumpa!

THANKS A LOT, MINNA-SAN!