Ia pria yang begitu penyayang. Walaupun hanya sebaris kata, namun bagi Otome maknanya amat dalam. Begitu pun perasaan Otome pada pria tersebut, apapun akan ia berikan untuknya, namun si pria itu tak pernah mengharapkan apapun darinya.
'Sudah cukup bagiku memiliki seseorang yang secantik dirimu berada di sisiku. Jadi jangan pernah berpikir, kamu ingin membalas budi untukku...' Begitulah ucap pria itu jika ia selalu bertanya, 'Apa yang harus kulakukan untuk membayar semua ini?'
"Hei? Apa yang kamu pikirkan, sayang?" Tanya Naruto membuyarkan lamunan Otome.
—Saat ini mereka sedang asik mandi berdua, tentu Naruto jadi kesal jika istrinya tidak fokus pada dirinya saat ini.
"Ah? Tidak ada suamiku, cuman aku berpikir betapa beruntungnya diriku bertemu pria sebaik dirimu!" Jawab Otome sembari tersenyum. Meskipun matanya terpejam, ia tetap menoleh ke arah Naruto, yang saat ini menggosok punggung halusnya. Ia berharap senyum manis darinya dapat menjauhkan pikiran buruk suaminya.
"Begitupun aku sayang, yang beruntung memiliki seorang bidadari di sisiku." Sejenak Naruto mencium tengkuk jenjang Otome.
Otome hanya terus tersenyum, ia meraih kepala pirang Naruto, yang tengah asik menggigit kecil leher tak bernoda miliknya. "Berikan aku ciuman, suami!"
Diantara kegiatan seksual mereka, ia lebih ketagihan dengan ciuman Naruto. Benar saja, kepalanya mulai tenang ketika bibir Naruto berpindah pada bibirnya, mengemutnya lembut.
Sesekali memang lidah Naruto akan bergerak liar melilit lidahnya, tapi tetap ia merasa ciuman ini memiliki banyak rasa kasih terhadapnya. Kepalanya sejenak kosong, beban yang tersisa di dalam hidupnya mulai terlupakan.
—Bahkan jika ia mulai gelisah, ia akan meminta Naruto mencium bibirnya.
Tangan Naruto mulai meremas payudara berdaging lembut Otome, telapak tangan lebar itu terbenam dalam kelembutan bagai sutra. Pentil pink milik Otome mulai menyembul, sesekali Naruto akan memilin dan memutarnya lembut, menghasilkan rintihan lembut dengan suara menggoda.
"Nghh... sstt! Cuap. Suamiku, kau selalu nakal!" Otome meremas penis Naruto, sedari tadi penis itu menempel pada kulitnya, memberikan rasa panas hingga ke otak. Otome bukanlah tipe wanita hypersex, jadi kocokan pada penis Naruto tidak begitu cepat, namun berkat tangan halus dan lembutnya Naruto selalu melayang dibuatnya.
Naruto merasa birahi nya kian memuncak, jemari lentik istrinya bergerak naik turun semakin cepat, deru napasnya mulai terengah. Ketika dua menit berselang, akhirnya Naruto menyerah, dia menerjang tubuh istrinya lalu merebahkan istrinya di lantai.
Otome hanya pasrah, membuka semua pertahanan tubuhnya dan membiarkan Naruto menikmati sepuas hatinya. Naruto meneguk ludah kasar saat menatap tubuh Otome, meskipun telah lima tahun semenjak mereka berhubungan badan, ia tak pernah bisa menahan nafsu ketika menatap tubuh semok wanitanya.
"Tubuhmu begitu seksi istriku!" Naruto merangkak di atas tubuh Otome, mengecup kembali bibir merah istrinya lalu menusukkan jari tengah ke dalam senggama Otome. Istrinya merintih di bibir Naruto saat jemarinya mulai mengobrak-abrik vagina licin tersebut, bersamaan telunjuk dan jempol yang bergesek di bibir vagina dan klitoris Otome.
Perlahan puting kemerahan Otome mulai mencuat, menandai ia telah birahi. Saat melirik puting keras istrinya, Naruto merasa gemas. Bibirnya berpindah cepat menghisap payudara Otome, kemudian menukar si jemari telunjuknya dengan penis.
"Ngghh," Otome mendesah saat Naruto mulai mendorong penisnya pelan, menusukkan ujung tumpul itu hanya sebatas kepala. Meskipun mereka hampir setiap hari berhubungan badan dari usia 20 tahun, Naruto selalu memperlakukan Otome selembut mungkin, dan istrinya juga terus merawat tubuh, hingga sampai saat ini lubang vagina Otome masih ketat.
—Untuk ukuran penis Naruto, ia selalu berusaha keras mendorongnya hingga ke ujung.
"Aku mulai, sayang!" Sudah menjadi kebiasaan hidup seks sehat mereka untuk meminta izin, agar Otome bisa menyiapkan diri dan melemaskan otot tubuhnya.
Perlahan Naruto mendorong penisnya, terus masuk hingga menyentuh spot terdalam. Otome menggigit bibirnya agar tak mengeluarkan desahan, namun saat Naruto memulai penetrasi nya lenguhan halus meluncur tak tertahan dari bibirnya.
Di saat bersamaan Naruto juga mulai menghisap lembut puting susu Otome, sedangkan payudara satunya diremas kuat, hingga telapak tangan itu tenggelam.
Tubuh Otome yang berada di bawah tindihan Naruto menegang, sensasi panas yang diberikan penis Naruto di dalam sana juga perlahan menusuk otaknya, pikiran Otome kosong untuk sesaat.
Gelombang cairan panas mengalir dari dalam vagina Otome, bersamaan erangan yang kuat dan pelukan di leher Naruto, ia menikmati sensasi orgasme pertamanya.
Penis Naruto terus mengocok bagian bawah Otome, meskipun mengetahui istrinya saat ini sangat sensitif, tapi apa daya puncaknya pun juga berada di ujung tanduk.
"Terima ini, sayang!"
Naruto mendesah sebelum membenamkan wajah di leher sang istri, tusukan terakhir itu serasa menembus titik paling dalam sebelum mengisi penuh vagina Otome dengan cairan panas.
Perut Otome menggeliat saat cairan panas itu masuk ke dalam rahim, untuk pertama kalinya ia menerima sperma Naruto dengan sepenuh hati. Setidaknya Otome telah mempersiapkan mental, dan menanamkan sebuah tekad di dalam hatinya, ia ingin melahirkan anak untuk Naruto.
Napas dua sejoli itu tersenggal untuk sesaat, mereka saling melempar senyum, meskipun hanya Naruto yang mampu menikmati senyum bahagia dari istrinya. "Sayangku, malam ini bisakah kau menemaniku lebih lama?"
Biasanya Naruto akan menyudahi persetubuhan mereka jika telah keluar sekali, namun ia malam ini sangat ingin terhubung lebih lama dengan istrinya. Otome mengangguk pelan, suasana hatinya kebetulan lebih baik setelah ronde pertama mereka.
"Bolehkah aku meminta sesuatu padamu, suamiku?"
"Apa itu?" Naruto tentu penasaran, biasanya sang istri tidak pernah bertanya seperti itu padanya.
"Bisakah kau mengajariku cara memuaskanmu dengan payudara?"
Alis Naruto terangkat, merasa heran dengan pernyataan dari istrinya. "Dari siapa kau mengetahui hal-hal seperti itu, sayang?"
"Sebenarnya aku telah lama bertanya pada bibi Tsunade," Nama yang disebut Otome merupakan dokter pribadi yang bekerja untuk Naruto, ia mengenal Tsunade sebagai dokter binal, karena tak akan segan mencari kepuasan nafsu dengan para bawahannya.
"Ia bilang, semua pria sangat menyukai dada, dan bahkan saat berhubungan para pria tak jarang menggosokkan penisnya pada payudara wanita." Ucap Otome polos.
"Setelah ini aku akan melarang wanita itu dekat denganmu, sayang."
Otome tertawa pelan mendengar komentar Naruto. "Tapi tetap saja, aku ingin sekali mencoba hal begituan dengan suamiku."
"Baiklah," Naruto mengalah setelah mendengar kalimat menuntut dari istrinya.
"Yeay, terimakasih, pangeranku!"
Siang itu markas kelompok mafia terbesar negeri ini kedatangan seorang tamu. Terlihat seorang kakek tua duduk di sebuah sofa empuk, ditemani oleh beberapa pengawal berjas hitam.
Pria itu duduk tenang dengan secangkir teh menemaninya, menunggu tuan rumah yang belum menunjukan batang hidung. Di sisinya, seorang gadis muda cantik, dengan pakaian mewah duduk dengan gelisah, sesekali ia melirik pintu dan mendesah pelan ketika belum ada tanda-tanda kedatangan orang yang ia tunggu.
Gadis muda itu merupakan seorang Aktris muda terkenal, yang telah banyak memainkan peran di berbagai film internasional. Kecantikan yang ia miliki tentu tiada bandingan dengan Aktris lainnya, bahkan beberapa mafia yang bertugas menjaga ruangan tak pernah melepas gadis dari pandangan mereka.
Sesaat kemudian, pintu terbuka dan seorang pria tampan melenggang masuk. Tatapan gadis berbinar saat melihat wajah tampan dari pria itu, aura yang terpancar dari sang pria seolah mendominasi semua orang yang berada di dalam ruangan.
—Semua mafia dan pengawal menunduk saat pria itu berjalan menuju sofa.
"Lama tak bertemu bocah, dan kau semakin terlihat seperti seorang raja." Mungkin hanya pria tua itu yang berani menyebut pria tampan itu dengan sebutan bocah.
Naruto yang telah mendudukan pantatnya di sofa langsung menatap pria tua itu. Pria tua itu dikenal sebagai legenda mafia, sebelum Naruto menjabat menjadi ketua, pria itulah yang memimpin kelompok mafia yang saat ini ia pimpin.
—Sekaligus sosok didepannya ini merupakan guru yang telah membesarkannya hingga menjadi dirinya yang saat ini.
Hagoromo Otsutsuki. Sayangnya setelah pensiun, Hagoromo menarik semua anggota keluarganya dari bisnis mafia, namun keluarga Otsutsuki tak bisa dipandang sebelah mata oleh kekuatan gelap seperti Naruto dan anak buahnya.
"Apa yang kau butuhkan dariku, kakek? Kau tak akan mau meluangkan waktu damaimu untuk hanya sebatas menjenguk diriku, bukan?"
"Seperti biasa, kau selalu ceplas-ceplos. Bisakah kau meluangkan sedikit waktumu lebih lama menemani orang tua ini menikmati teh herbal ini?" Naruto hanya diam, tatapannya tak pernah lepas dari mata Hagoromo.
"Baiklah-baiklah!" Hagoromo menyerah saat tatapan pria itu masih dingin ke arahnya. "Tujuanku kemari ialah untuk menemani sekaligus membantu cucuku!"
Naruto menaikan alis sebelum menoleh ke arah gadis yang duduk di samping Hagoromo, gadis itu langsung menunduk saat tatapan mereka bertemu, wajahnya tampak memerah karena malu.
Naruto hanya menatapnya sesaat sebelum tatapannya kembali fokus pada Hagoromo. Seolah menuntut kelanjutan kalimat yang kurang lengkap dari kakek tua tersebut.
"Kau telah mengetahuinya bukan? Kaguya sedari dulu sangat mengagumimu, ku dengar kau ingin mencari istri baru agar mendapatkan seorang penerus. Dan cucuku Kaguya bersedia menikah denganmu." Ucap Hagoromo tenang.
Naruto tentu telah lama mengenal Kaguya. Ia dulu hanyalah seorang gadis pemalu yang sangat manja, keinginan Kaguya seperti keinginan seorang ratu. Singkatnya ia harus mendapatkan semua yang ia inginkan.
—Bahkan merebut pacar dari gadis yang tak ia sukai pernah ia lakukan, meskipun hanya berpacaran satu hari.
Namun Kaguya bertemu sosok seperti Naruto. Seorang pria dingin dan kejam, dan Kaguya ingin menaklukan hati pemuda seperti itu. Biasanya para lelaki akan tunduk dengan semua kekayaannya, namun hal tersebut sama sekali tak menggoyang Naruto.
Perlahan Kaguya yang awalnya ingin menakluki, menjadi takluk. Ia berusaha berubah agar menjadi lebih dekat dengan Naruto, sosoknya yang pemalu mulai bersinar saat kedekatannya dengan pria tersebut, disanalah karirnya sebagai aktris papan atas melejit.
—Dan kesuksesan Kaguya hari ini tak lepas dari pengaruh Naruto. Namun sungguh disayangkan ia tak berhasil menaklukan hati beku Naruto.
Kaguya yang saat itu nekat mengungkapkan rasanya pada Naruto berubah menjadi saat sang pria menjauhinya, dan tak lama Kaguya pun mendengar Naruto menikahi seorang wanita.
—Hal itu membuat ia sangat marah. Namun tetap saja, perasaan suka pada Naruto tidak pernah hilang walaupun telah tiga tahun lebih terlewati.
"Dari siapa kau mendengarnya, kakek?" Naruto tetap cuek, meskipun ia sadar Kaguya menatapnya dengan ekspresi malu-malu.
"Tsunade yang bilang kepadaku." Mendengar nama wanita itu, Naruto mengumpat dalam hati, ia sadar di dunia gelap yang ia tempuh tak ada yang bisa dipercaya seutuhnya.
—Mungkin suatu saat nanti akulah yang akan membunuh kakek tua ini.
Pikiran tersebut melintas dibenaknya. Alasan kenapa ia tak memperkenalkan istrinya kepada orang-orangnya ialah, ia tak ingin Otome terlibat dalam dunia yang ia jalani. Bagi Naruto keselamatan Otome lebih penting dari apapun, bahkan ia bersedia mencabut nyawa Hagoromo jika pria tua itu mengancam keselamatan istrinya.
Dunia mafia dipenuhi tipu muslihat, tak selamanya Hagoromo akan berpihak padanya. Jika pria tua itu menginginkan, Otome yang berstatus istrinya akan sengsara bahkan tewas.
"Aku tak terburu-buru untuk mendapatkan keturunan," Jawab Naruto tegas, setalah hening cukup lama.
"Oh, apakah kau tak memberi wajah pada pria tua ini." Nada Hagoromo menjadi dingin setelah mendapat penolakan halus dari Naruto. "Kau tidak berpikir akan mudah berurusan denganku, bukan?"
Mungkin hanya Naruto yang mengerti maksud dari kalimat tersebut, "Kau tak berpikir bisa melindungi wanita itu, bukan?" Kira-kira begitulah maksud tersirat dari Ucapan Hagoromo. Untuk pertama kalinya Naruto merasa ragu, ia tak ingin membuat taruhan jika itu menyangkut keselamatan Otome.
"Baiklah!" Suara Naruto serak, hawa mengancam yang bahkan mampu membuat kulit semua orang merinding di dalam ruangan itu menyebar, bahkan Hagoromo merasa terancam oleh perasaan tak mengenakan tersebut. "Dengan satu syarat, jangan libatkan 'dia'!" Naruto langsung berdiri setelah mengucapkan sebaris peringatan tersebut.
—Meninggalkan ruangan dalam keheningan, bahkan tubuh para mafia bergetar saat Naruto berjalan melewati mereka.
Hanya sekali mereka merasakan hawa mengancam jiwa tersebut, sebuah keluarga besar di negeri ini lenyap setelah Naruto mengeluarkan hawa pembunuh itu.
—Ingatan itu masih membekas di semua orang, termasuk Hagoromo.
"Tampaknya aku telah menyentuh garis bawahnya."
Plot Twist yang telah kembang sejauh ini menandakan satu hal, bagian ini mungkin memuat beberapa chapter, tak seperti yang sebelumnya cuman butuh tiga chapter.
Saya tak yakin soal ini, tapi kedepannya jika lemon terasa hambar jangan salahkan penulis kecil ini, bisa jadi fokus kalian teralihkan pada alur yang mengalir.
Untuk hal ini, mohon dong berikan sedikit pengarahan di kolom review, itu juga berlaku untuk kalian para silent reader!
[Apa perlu Otome mati dicerita ini? Soalnya saya berniat mengakhiri bagian ini dengan sad ending.]
Oke sekian update hari ini!
Thanks for read!
