.

Note: Chapter ini menyinggung sedikit soal mental illness—such as depression, PTSD and suicide attempt yang mungkin bisa membuat kurang nyaman atau terpicu. Mohon bijak dalam membaca x)

.

Disclaimer: All of the characters and Naruto itself are Masashi Kishimoto's but this story is purely mine. Saya tidak mengambil keuntungan dalam bentuk apa pun selain kepuasan pribadi x')

Warning: Slight SasuKarin, AU, OOC, typo(s), dan jauh dari kata sempurna ;)

Rate T semi M untuk bahasa dan beberapa pembahasan—such as mental illness (which leads to suicide attempt and such) yang mungkin bisa membuat kurang nyaman atau terpicu.


.

.

Responsible

8. Sharing Our Burden and Responsibility

.

.

.

.


"Soal insiden dan nyawa yang hilang delapan belas tahun lalu ... bukankah ibumu yang paling tahu?"

Sederet kalimat barusan secara repetitif menggema dalam kepala Uchiha Sasuke. Sebetulnya, apa yang berusaha ibu mertuanya sampaikan? Delapan belas tahun yang lalu ... ada apa dengan insiden itu? Tanggal kematian ayah Sakura dan Karin di hari yang sama ... lalu, Haruno Mebuki yang menyuruhnya untuk menanyakan soal masa lalu Sakura pada ibunya. Sesungguhnya, plothole macam apa yang ia lewatkan selama ini?

Mengambil kesempatan pada saat Uchiha Sasuke tengah mengarungi pikirannya, Mebuki kembali meracau, "Sudah saatnya kau mengetahui semuanya, Bocah. Kebenaran memang pahit tapi hidup dalam kebohongan justru lebih menyiksa."

Mebuki melempar tatapannya, dari Uchiha Sasuke menuju foto keluarga berukuran besar yang terpampang pada frame. Foto keluarga lengkap mereka yang terakhir, terhenti pada Sakura di usia lima.

Ibu tunggal itu menghembuskan napas berat, seperti partikel oksigen yang ia hirup tak berarti. "Sakura, anak itu ... sejujurnya mengembalikannya kondisinya sampai pada titik ini sangat sulit. Perjuanganku waktu itu, seolah berperang siang malam tanpa akhir. Seperti membawa anak itu berjalan pada lapisan kaca yang tipis. Kalau aku tidak berhati-hati, kami berdua akan jatuh ke dalam lubang tak berdasar bersama-sama."

Uchiha Sasuke menyimak tiap untai kata yang ibu mertuanya keluarkan. Pandangannya turut menatap foto keluarga yang dipajang di ruang tamu itu. Foto itu menampilkan Sakura yang berada di tengah-tengah pelukan ibu dan ayahnya. Senyuman yang mereka pamerkan nampak sangat bahagia, seolah hari itu adalah hari terakhir mereka bisa tersenyum.

Kalau ditanya apakah ia mengerti soal yang ibu mertuanya bicarakan, tentu saja tidak. Karena terlalu banyak missing piece dari puzzle yang diberikan ibu mertuanya itu. Namun, dengan sabar lelaki itu terus mendengarkan cerita ibu mertuanya. Biar bagaimanapun, Sasuke ingin mengetahui segala hal tentang istrinya. Siapa yang menyangka bahwa di balik pembawaannya yang cerah menyembunyikan sejuta luka kelam?

"Sakura, anak itu sejak usia lima—"

"—Ehem! Kalian sedang bergosip tentangku, ya?"

Tanpa aba-aba, Sakura datang menginterupsi ucapan ibunya dengan kedua mata yang memicing—bergantian memindahkan pandangannya pada Sasuke dan ibunya.

Mebuki berdecak kesal, "Tentu saja! Aku hanya tak habis pikir, kasihan sekali Sasuke. Kau lihat, di sini suamimu tampan dan mapan—eh, malah mendapat anakku yang tak berguna. Sudah gemuk, penggangguran lagi!" Wanita itu menggeleng-gelengkan kepalanya terus menerus.

Seketika, Uchiha Sakura menyesal turut bergabung dalam pembicaraan suami dan ibunya. Sial. Momennya salah. Perempuan itu hanya cemberut. "Makanan sudah siap. Ayo makan."

Dan cerita soal masa lalu Sakura yang berusaha Mebuki utarakan, terpaksa ditunda terlebih dahulu. Malam itu, Sakura hanya memasak hidangan simpel anti repot milik sejuta umat; aglio e olio, makanan kesukaan ibunya.

Ibunya mengangguk-angguk puas saat melihat hidangan di atas meja. "Tidak menyesal kusuruh pembantuku masuk ke dalam."

Sakura hanya menatap ibunya datar. Ia menarik kursi, memberikan sinyal pada Sasuke untuk duduk. Sedangkan Mebuki duduk di seberang mereka, nampak lahap menyantap masakan Sakura.

"Hei, Bocah. Kau tahu tidak, anakku ini sangat payah. Pertama kali dia belajar masak saat duduk di sekolah menengah, dia menangis karena tidak bisa mengaduk pasta saat dicampur dengan saus." Mebuki memulai dengan acara pengumbaran aib Sakura nomor satu.

Sakura melotot galak. Astaga, kenapa harus cerita lama yang itu? "Waktu itu 'kan pasta yang dimasak banyak—tanganku kesakitan karena terlalu lelah mencampur!" dalihnya kemudian.

"Cih. Akui saja kalau kau memang payah, cengeng pula!"

Selanjutnya, acara makan malam di meja makan berubah menjadi acara pengumbaran aib Sakura yang tentu saja selalu dibantah oleh perempuan itu dengan berbagai macam alasan. Uchiha Sasuke? Tentu saja dia menikmati momen ini. Bahkan sesekali ia menggigit bibir bawahnya dan berusaha terlihat biasa saja agar tidak terkena amukan Sakura nantinya.

Setelah membantu Sakura merapihkan bekas makan mereka sampai mencuci piring, Mebuki pamit duluan untuk tidur. Sementara, Sakura membawa Sasuke untuk tur singkat di kediaman mewah Haruno sebelum akhirnya sampai ke kamar tidur perempuan itu.

Sasuke mengedarkan iris onyx-nya ke seluruh ruang pribadi milik istrinya.

Sakura tersenyum awkward. "Maaf, kamarku warna pink—kalau kau keberatan untuk tidur di sini kita bisa pindah ke kamar tamu."

"Tidak perlu," balasnya singkat. Ia memandang istrinya dari ujung rambut sampai kaki. Toh, dia sudah mulai terbiasa dengan warna merah muda.

Mata Sasuke segera menangkap letak foto keluarga yang dipajang di nakas samping kasur Sakura. Lagi-lagi, foto Sakura yang masih kecil bersama dengan ayah dan ibunya. Foto yang sama dengan di ruang tamu. Lalu di sebelah foto itu, terdapat foto hari pertama Sakura masuk ke sekolah dasar sampai wisuda. Satu hal perbedaan yang paling mencolok yaitu ekspresi Sakura. Sampai sekolah menengah, perempuan yang sekarang menjadi istrinya itu tidak tersenyum sama sekali di samping ibunya yang tersenyum sangat lebar.

Lucunya, justru foto-foto di mana senyuman Sakura mulai lebar—ekspresi Mebuki seperti semakin merajuk. Tapi menilai sikap ibunya selama ini, Sasuke paham betul bahwa ini hanya cara Mebuki dalam membangun hubungannya dengan Sakura.

Masih merasa kurang puas, bungsu Uchiha itu bertanya, "Mana fotomu yang lain? Foto-foto saat liburan, mungkin?"

Sakura terdiam sebentar, berusaha mengingat apakah mungkin ia punya album yang diletakkan di suatu tempat? "Maaf, Sasuke-kun. Aku hanya memiliki sedikit foto karena lain dan berbagai hal. Tapi Kaasan suka iseng memotretku candid sih, mungkin besok kalau kau memang ingin melihatnya akan kutanyakan pada Ibu."

"Lain dan berbagai hal?" Sasuke mengutarakan salah satu rasa penasarannya.

Sakura terlihat ragu. "Hmm..."

Melihatnya, laki-laki itu mendekati Sakura lalu mencengkram kedua lengannya. Iris onyx-nya menantang lurus emerald di hadapannya. "Soal beban ... maukah kau membaginya denganku?"

Tawa Sakura hampir saja meledak. Tak ia sangka bahwa ucapannya yang memiliki motif lain itu berhasil sampai maknanya pada sang suami. Perempuan itu mengulum senyum, "Pasti Ibu habis cerita yang aneh-aneh, ya?"

Sasuke mengangguk tegas.

Lalu Sakura kembali menyahut, "Oke, asal kau juga membagi tanggung jawabmu denganku. Bagaimana?"

"Hn."

Kemudian, mereka berdua duduk di sofa pink depan kasur. Sakura kembali berkicau, "Jangan hn saja. Ingat, karena sekarang kau dan aku adalah keluarga dan kau menganggapku sebagai tanggung jawabmu maka kau pun adalah tanggung jawabku. Jadi, tidak ada yang boleh memikul beban sendirian."

Sasuke menopang dagunya. "Katanya tidak mau dianggap sebagai tanggung jawab?"

Yang tentu saja dibalas dengan tatapan galak Sakura. Tentu saja Sakura tidak mau kalau dianggap sebagai tanggung jawab yang membebani suaminya!

Sakura menarik napas, mengumpulkan kekuatan sebelum membuka pintu zona terlarangnya. "Siap-siap, ya, Sasuke-kun. Aku pasti akan menangis." Tentu saja, karena Sakura adalah manusia dengan duktus lakrimalis bocor.

"Hn."

Sakura memejamkan mata, mulai menceritakan kisahnya.


.

Delapan belas tahun yang lalu...

.

"Tousan! Kata Kaasan Tousan lagi membeli kado untukku, ya? Sacchan tunggu di depan pintu rumah. Jangan lama-lama, Tousan!"

Haruno Sakura di usia lima nampak sangat excited apalagi saat ibunya, Haruno Mebuki tidak sengaja membeberkan keberadaan ayahnya yang tadi diam-diam pamit untuk mengambil kado yang sudah dipesan sejak berbulan-bulan lalu. Langsung saja anak itu menghampiri telepon rumah mereka dan menekan speed dial nomor satu untuk menghubungi sang ayah.

Suara yang menyambut indera pendengaran Sakura adalah kekehan tawa milik ayahnya, 'Aduh? Tousan ketahuan, ya?'

"Tadi Kaasan bilang, Sacchan jadi tidak sabar mau lihat hadiah dari Ayah! Ayo cepat pulang, Tousan. Ya? Ya? Ya?"

'Tunggu Tousan, ya. Tousan akan pulang ke rumah naik cheetah supaya Sacchan tidak menunggu lama!' Ayahnya membalas dari seberang sana.

Setelah panggilan berakhir, putri tunggal Haruno itu langsung memasang posisi untuk stand by di teras. Sakura benar-benar tidak sabar menanti ayahnya dan hadiah ulang tahunnya, tentu saja!

Lima menit ... sepuluh menit ... satu jam ... sampai hampir dua jam, belum ada tanda-tanda ayahnya akan datang. Sakura mulai cemberut kesal. Seolah memiliki gelombang frekuensi dengannya, langit pun turut menjadi kelabu.

"Sakura? Ayo, masuk. Sudah mau hujan!" Mebuki memanggil anaknya dari dalam rumah.

Tentu saja Sakura menolaknya dengan keras. "Sakura 'kan sedang menunggu Tousan. Jangan ganggu aku!"

Mebuki sudah berulang kali membujuk anaknya masuk tapi Sakura pun menolak ibunya penuh tekad. Pokoknya Sakura harus menyambut ayahnya dan menerima hadiah dari sang ayah. Titik.

Ibunya akhirnya mengalah, wanita itu ikut duduk di sebelah Sakura yang ekspresi wajahnya sudah sebal karena ayahnya tak kunjung datang. Mebuki menyampirkan kain hangat untuk membalut tubuh anaknya. Sudah sejak siang hujan turun dengan deras, tak nampak adanya tanda mereka berhenti dalam waktu dekat.

Mebuki sendiri heran, ke mana perginya sang suami? Kenapa membeli hadiah untuk Sakura memakan waktu selama ini? Ia menghela napas. Jantungnya bergemuruh tak nyaman.

Ia pun akhirnya mengambil inisiatif untuk menghubungi suaminya lewat ponsel. Tapi masalahnya, ini sudah kali ketiganya menelepon sang suami dan sampai saat ini belum juga diangkat.

Pandangan Mebuki terjatuh pada Sakura yang tertidur di pangkuannya. Mebuki mengelus helaian rambut merah muda Sakura. Sejujurnya, perasaannya sangat gelisah karena Kizashi terlalu lama dan—apa-apaan ini? Kenapa Kizashi tidak menerima panggilannya?

Sebuah vibrasi panjang serta ringtone ponsel Mebuki tiba-tiba berkumandang, membuat Sakura terbangun. Mebuki melotot galak melihat nama suaminya tertera pada ponsel miliknya. Rangkaian sumpah serapah sudah siap Mebuki layangkan begitu ia menekan tombol terima pada ponselnya tapi begitu menyadari bahwa bukan suaminya yang menghubunginya, Mebuki langsung menahannya.

"Ibu? Apa itu Ayah? Sacchan mau bicara!"

Mebuki memberikan isyarat pada Sakura agar tidak berisik. Sementara, wanita itu memasang telinga baik-baik saat mendengarkan penjelasan dari seorang perawat rumah sakit yang menjelaskan kondisi suaminya dengan hati-hati.

'Saat ini, suami Anda sedang berada dalam kondisi kritis. Dokter sedang melakukan pertolongan padanya yang meliputi—'

Indera pendengaran Mebuki mendadak tidak berfungsi. Perputaran pada dunianya baru saja berhenti. Tenggorokannya luar biasa tercekat. Air mata lolos dengan deras dari pelupuk matanya. Isakan wanita sangat kencang dan menyayat hati. Mebuki hanya mampu memeluk Sakura, memendamkan wajahnya di atas bahu kecil milik anaknya.

"Ibu sakit? Siapa yang nakal?" Sakura membalas pelukan kencang ibunya.

Sementara Mebuki melolong dalam kesedihan dengan nilai ngilu melebihi batas maksimal. Apalagi saat ia menghampiri suaminya di rumah sakit dan kenyataan bahwa suaminya tak akan lagi pernah membuka matanya...

Saat itulah momentum di mana dunia milik Mebuki dan Sakura berhenti berputar pada porosnya.

Sakura mengguncang tubuh ayahnya beberapa kali, "Tousan? Kok tidak mau bangun? Maafkan Sakura sudah memaksa Tousan untuk cepat pulang..."

Sakura mengguncang tubuh ayahnya yang mulai dingin dengan gerakan repetitif. Berharap tangan mungilnya dapat memberikan magis yang membuat ayahnya terbangun lalu menyambutnya dengan senyuman lebar sambil berkata bahwa ayahnya hanya bercanda.

Nyatanya tidak.

"Sakura..." Mebuki memanggil anaknya dengan suara yang pelan, serak nyaris berbisik. "Yuk kita antar Tousan. Tousan harus pergi ke tempat yang sangat jauh."

Sakura hanya bisa menangis, "Kenapa? Apa karena Sakura nakal?"

Mebuki mengelus-elus kepala anak semata wayangnya. Meski kedua matanya bengkak dan memerah, ia memaksakan seulas senyum. "Sakura tidak nakal. Kau lihat di atas sana?" Mebuki menunjuk sang langit.

Anak kecil itu mengikuti arah yang ibunya tunjuk. "Di sana ada yang namanya Tuhan. Tuhan memanggil Ayah karena terlalu menyayangi Ayah..."

"Lalu Sacchan?"

"Ayah juga menyayangimu tapi harus pergi. Nanti jika sudah saatnya, kita pasti akan bertemu lagi dengan Tousan..."

Setelah berbagai macam bujukan, akhirnya Sakura setuju untuk mengantar Kizashi bersama dengan Mebuki sampai ke peristirahatan terakhir. Sempat Sakura tidak mau pulang karena masih berharap ayahnya akan kembali.

Hari itu, mereka menghabiskan sisa waktu ulang tahun Sakura dengan mengantar Haruno Kizashi ke tempat peristirahatan terakhirnya. Siapa yang menyangka bahwa hari itu adalah hari terakhir Sakura mampu merayakan hari ulang tahunnya?

Awalnya Mebuki pikir, Sakura sudah mampu untuk menerima segalanya saat anak itu bersedia mengikuti segala prosesi upacara pemakaman ayahnya. Saat Sakura sama sekali tidak menanyakan soal kematian ayahnya. Tapi ternyata tidak. Anaknya memasuki fase sangat ingin bertemu dengan ayahnya. Sakura semakin hari semakin murung dan sama sekali tidak mau mengisi perutnya.

Sampai ia menginjak sekolah menengah pertama, rumah sakit adalah rumah kedua Haruno Sakura. Dimulai dari kurang gizi, dehidrasi berat bahkan sampai depresi sudah pernah anak itu lalui. Tentu saja ini adalah waktu yang berat bagi Mebuki. Sudah ditinggal suami, kondisi anaknya pun sangat mengkhawatirkan.

Seolah Tuhan punya dendam pribadi pada ibu tunggal itu, hari demi hari dilewati dengan penuh penyiksaan dan rasa sakit. Mebuki kira, neraka yang ia rasakan sudah masuk ke dasar. Nyatanya, ia baru menyentuh ujung apinya.

Sakura di usia empat belas ternyata jauh lebih mengkhawatirkan. Dokter jiwanya sudah melakukan yang terbaik tapi belum ada tanda-tanda bahwa kondisi Sakura akan mengalami perbaikan.

Adalah momen di mana Mebuki hampir merasakan bahwa dunianya akan runtuh satu kali lagi. Yaitu beberapa hari sebelum hari kelulusan sekolah menengah Sakura. Jantung Mebuki nyaris berhenti saat melihat apa yang anaknya lakukan dengan kedua mata kepalanya.

Sakura yang melilit lehernya dengan dasi seragamnya dan menariknya kuat-kuat untuk meregang nyawanya sendiri.

Dengan satu gerakan kilat, Mebuki menghampiri anaknya dan menahan pergerakan anak semata wayangnya itu.

Plak!

Ia melayangkan sebuah tamparan keras di pipi, berusaha mengembalikan akal sehat Sakura. "Apa yang baru saja kau lakukan?!"

Tatapan anak semata wayangnya sangat kosong, emerald gadis itu menatap datar ibunya tapi memamerkan senyum. "Menyusul Ayah."

Seketika, Mebuki memuntahkan seluruh isi hatinya. Ia tidak lagi menggunakan topeng sebagai ibu yang baik. Mebuki meninggikan intonasi suaranya. "Kalau kau menyusul Ayah, lalu bagaimana dengan Ibu?! Apa kau tega meninggalkanku sendirian?"

Tangisan ibunya pecah, sembilu itu meledak."Kalau aku mau, aku pun bisa menyusul ayahmu sejak lama. Tapi kau tahu, kenapa tidak kulakukan? Tentu saja karenamu, Sakura! Bebanmu jangan kau tanggung sendirian karena aku pun menanggung beban yang sama denganmu!"

"Kenapa kau tidak meninggalkanku? Dengan begitu kita bertiga bisa berkumpul bersama lebih cepat 'kan?"

"Mati tidak akan menyelesaikan segalanya. Kau pikir ayahmu akan bahagia? Jangan berharap, Sakura! Yang harus kita lakukan adalah saling menopang. Aku ibumu, keluargamu dan kau adalah tanggung jawabku. Kita saling terikat, kalau kau pergi dan melepaskan ikatanmu denganku ... Ibu akan hancur, Nak."

Isak tangis Sakura sangat kencang, menyaingi milik ibunya. Selama ini dia terlalu egois. Bahkan tidak memikirkan bagaimana kondisi ibunya.

Sedangkan sang ibu langsung memeluk anak semata wayangnya dengan erat, menransfer jutaan spektrum perasaan tak terdefinisi.

Mebuki mengeratkan pelukannya. Ia berbisik dengan suara tipis, rapuh siap hancur. "Pelan-pelan, bagilah bebanmu pada Ibu."

Sejak saat itu, mereka mulai terbuka satu sama lain, meskipun Sakura masih menyembunyikan beberapa hal.

Seperti fakta bahwa hari itu bukanlah percobaan bunuh dirinya yang pertama.

.


Sakura mengakhiri kisahnya dengan kedua bahu yang bergetar hebat. Ia menangis sampai sesunggukan. Menjabarkan perih yang ditanggungnya sejak lama, membuatnya seolah kembali pada masa itu.

Dan Uchiha Sasuke merasa seperti seorang pecundang nomor satu saat ini. Ia tertegun. Ternyata yang dilalui Sakura waktu itu ... jauh lebih berat dari yang ia lalui. Fakta bahwa Sakura masih berdiri dengan kuat sampai saat ini adalah kenyataan yang paling menakjubkan. Fakta bahwa perempuan itu, dengan kedua kaki rapuhnya menumpu lukanya adalah kenyataan yang sangat mengagumkan.

Sasuke mendekatkan dirinya, memeluk Sakura untuk menenangkannya. Laki-laki itu membiarkan istrinya membenamkan wajahnya di atas dadanya. Begitu Sakura sudah cukup tenang, Sasuke mulai mendekatkan mulutnya pada telinga perempuan itu. "Sekarang bagaimana perasaanmu?"

Istrinya menarik napas, berusaha menstabilkannya. "Kurasa aku sudah jauh lebih baik." Ia membalas, dengan suara bindengnya.

Ya. Kalau dipikir-pikir ia memang sudah merasa jauh lebih baik—setidaknya menurut asumsinya. Karena masa-masa krisis tersebut sudah berhasil ia lewati bersama dengan ibunya.

Sakura balas bertanya, "Lalu bagaimana denganmu, Sasuke-kun?"

Di waktu ini, Uchiha Sasuke sempat terdiam sejenak.

"Traumaku terjadi pada usia delapan. Sampai saat ini aku tidak mengingat dengan jelas apa yang terjadi, tapi..."

Uchiha Sasuke mulai memaparkan kepingan fragmen besar pada saat usia delapan tahun. "Waktu itu, aku baru saja pulang dari rumah teman. Untuk sampai ke rumah, aku harus melewati sebuah persimpangan besar di dekat Toko Mainan Z."

Sasuke mengedarkan pandangannya, berusaha menerawang masa lalu buramnya. "Sudah kupastikan berulang kali bahwa lampu tanda untuk menyeberang berwarna hijau. Tapi tiba-tiba saja, sebuah mobil menerobos dengan kencang saat aku menyeberang."

Nihil. Usahanya untuk menemukan fragmen kecil dalam ingatannya sia-sia. Pada akhirnya, Sasuke hanya mampu mengulang cerita yang sama. "Ketika kupikir aku akan mati, seorang Paman menyelamatkan hidupku."

Jeda sesaat, membuat Sakura yang masih mengatur napasnya dalam pelukan Sasuke jadi berkicau dengan suara parau. "Lalu?"

Pada momen ini, Uchiha Sasuke menarik napas. "Aku tidak begitu ingat tapi Paman itu terluka parah. Sebelum nyawanya hilang, ia menitipkan anak perempuannya yang masih kecil padaku."

Sasuke dengan iseng memainkan helaian rambut milik Sakura. "Katanya, anak perempuannya sangat cengeng dan jika merajuk cukup sediakan es krim stroberi. Dan yang harus sangat digarisbawahi adalah susu cokelat karena anaknya tidak akan bisa tidur tanpanya."

Sakura mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sangat bisa memahami anak perempuan paman itu, hei, bahkan selera mereka sama! Dan kini ia pun jadi mengerti alasan kenapa suaminya sampai melepaskan emosinya pada saat Sakura menyelamatkan anak kecil di basement tadi sore. Ia juga jadi paham kenapa Uchiha Sasuke bisa sampai sepucat itu. Kemungkinan besar, suaminya memiliki trauma yang membekas. Mereka bilang, PTSD—Post Traumatic Stress Disorder—'kan? Semua titik mulai tersambung sekarang.

"Tidak lama setelah mendengarkan pesan terakhir paman itu, aku ikut tidak sadarkan diri. Lalu, pada saat aku terbangun. Aku mendengar kabar bahwa ayahnya Karin, tetanggaku yang tinggal di gang sebelah meninggal karena kecelakaan mobil di persimpangan jalan dekat Toko Mainan Z."

Uchiha Sasuke melepaskan rengkuhannya dari tubuh Sakura. Kedua tangannya berpindah, menangkupkan wajah istrinya. Onyx miliknya menatap lekat-lekat wajah Sakura. "Dan begitulah Karin menjadi tanggung jawabku."

Sakura memegang kedua pergelangan tangan Sasuke yang berada di wajahnya. Ia menggulirkan iris gioknya, turut menyelami jelaga itu. "Yang sekarang menjadi tanggung jawabku juga," sahutnya sembari mengulaskan senyum manis.

Selama sepersekian menit, mereka hanya saling menatap. Sebelum akhirnya tindakan impulsif Sakura mengambil alih. Dengan satu gerakan cepat, perempuan itu mendaratkan bibirnya di atas bibir suaminya, memberikan kecupan singkat dengan jutaan impact.

"Terima kasih dan selamat tidur," ucapnya cepat.

Lalu, Sakura segera membungkus tubuhnya di balik selimut untuk menyembunyikan debaran jantung yang menggila serta merahnya wajah. Bagaimana bisa ia membiarkan perasaan mengambil alih tubuhnya untuk melakukan hal tersebut, shannaro?!

Sementara Uchiha Sasuke masih terdiam di tempat. Ia hanya mampu mengerjapkan kedua matanya beberapa kali.

Apa yang baru saja terjadi?

.

.

.

.

.

tbc

.

a/n: Setiap kali menulis, harapanku selalu sama. Semoga feel-nya kena dan tidak membosankan. Oh iya dan maaf klise btw—/rim x"D

Asiiik~ Lagi-lagi mereka hug dan aku pribadi suka banget hug kek koala dan pukpuk kepala wkwk—and there'll be more hug juga head patting di chapter-chapter mendatang—yeayy! ✨ /lah.

Oh, iya. Aku mau nanya deh. Karena kurasa fiksi ini makin berat, kira-kira soal tema yang kuangkat (mental illness, etc) masih bisa aman di T nggak, yaa? Awalnya aku semi M sebenernya buat ini sih. Apa baiknya dipindah aja, yaa? Mohon pendapatnya yaa aku galau soalnyaa x"))

Terima kasih banyak, yang udah meluangkan waktunya untuk mampir dan meninggalkan jejak. Semoga kalian semua sehat-sehat selalu, yaa! x)

.

Balesan Review Chapter 7:

reevrsh: Halooo! Aduh yang mampir di dua lapak wkwk *gelar karpet merah* makasih banyak udah dimampirin jugaa hehehe. Terobati nggak penasarannya? Hahaha kayaknya nggak, ya? x"D

ft-fairytail: Terima kasih! Seneng banget ternyata feel-nya kena x)

ai selai strawberry: Haloo! Terima kasih banyak, yaa. Seneng banget karena feel-nya kena x"D wuvyutuuuuu~~

Nurvieee96: Haiiii! AMIIIN *amin paling serius* Bener bangettt astagaa. Btw kamu cenayang kaah? Kok tau siih. ;-; aku sejujurnya lagi ada di fase itu. Kata-katamu bener-bener bikin aku tenang, sumpah. Abis baca review-mu, bener-bener tertanam di otak, asli. As long aku enjoy. Bener banget. Kenapa aku melupakan hal sepenting itu, ya? Ya ampun, makasih banyak, banyak, banyak, yaa! Review-mu pas nyampe sangat made my day banget :")) makasih pokoknyaaa.

Nemurehana: Haiii! Wahahaha sini aku angkut hehehe xD makasih masih mau ikutan xixiix. Untuk masalah tamat berapa chapter-nya ... sejujurnya aku pengen cepet kelar. Saat ini kerangka kasarnya nyentuh angka 20an astaga /menangis. Semoga nggak kerasa ya ;-;

NyonyaKim: Siappp! Terima kasih banyakk x))

Sir locked: Thank you! HAH HALO SAUDARA INFJ-KUUU! Aku tau, kita para kaum overthinking-semoga malem ini kamu bisa tidur nyenyak yaa T_T (aku juga wkwk). Salam kenall! Glad to know another INFJ hehehe x)

.

Special Thanks to reviewers chapter 6 dan 7: reevrsh, Aoyama Yuki, Nurvieee96 , eternal sasuke sakura , keyfava , IndahDwiNR , Guest (06/09/2020), Kumada Chiyu , ayato ruki, ft-fairytail, ai selai strawberry, Nurvieee96, Nemurehana, NyonyaKim (guest), Sir Locked (Guest).

.