Semalaman itu akhirnya Taehyung memutuskan untuk menjaga Jungkook dan tidak beranjak sedikitpun darinya. Pertemuan mereka mungkin masih baru karena baru 1 tahun mereka saling mengenal satu sama lain, tetapi Taehyung merasa sangat dekat dan menyayangi Jungkook. Seakan Jungkook adalah orang yang amat familiar dan dekat dengannya sekian lama. Setiap keceriaan, kesedihan, dan kesepian yang di alami lelaki manis itu menusuk sanubarinya. Taehyung mengarahkan pandangannya ke jendela rumah sakit, melihat pemandangan kota Seoul yang masih terlihat hidup walaupun jam sudah menunjukkan tengah malam, terkadang ia berpikir bagaimana kehidupan orang lain? Apakah mereka lebih bahagia darinya atau sama sepertinya?. Taehyung terkadang merasa iri jika melihat orang yang bisa tersenyum bahagia dengan bebas bersama keluarga yang di kasihnya, karena jika menengok dirinya semua itu hanya mimpi sementara sebelum dirinya menginjak usia 10 tahun. Jika di beri kesempatan Taehyung ingin 1 kali saja bertukar tubuh dan merasakan kebahagiaan yang sama, tetapi kembali lagi hal itu amat mustahil untuk di penuhi. Kembali menatap kepada Jungkook yang saat ini sudah terlelap karena terlalu kelelahan menangis, Taehyung semula sempat berpikir kalau lelaki manis itu pasti memiliki kehidupan yang cukup bahagia, di balik keterbatasan fisiknya karena sifat keceriaannya dan mudah di sukai oleh orang lain, tetapi seiring waktu ia belajar kalau Jungkook sama dengannya bahkan mungkin lebih parah karena Jungkook hidup sebatang kara tanpa keluarga sama sekali. Mungkin hal itulah yang membuat Taehyung merasa cocok dan dekat dengan Jungkook karena mereka sama-sama memiliki jiwa kesepian yang mengharapkan kasih sayang dari keluarga tetapi tidak pernah mendapatkannya. Taehyung mengusap bekas air matanya lelaki manis itu, batinnya kembali mengutuk bagaimana bisa ia melimpahkan perasaan frustasinya kepada Jungkook padahal ia tahu sekali kalau lelaki manis itu amat rapuh.
"Maafkan aku..aku benar-benar tidak bermaksud untuk kasar kepadamu, hanya saja akhir-akhir ini hariku sangat buruk.. tekanan dari keluarga Kim dan kondisi Jimin yang kembali depresi, aku hampir gila di buatnya" curhat Taehyung sambil mengusap kening Jungkook pelan dan menyenderkan kepalanya di samping bantal Jungkook. Ia tahu Jungkook tidak bisa merespon apapun namun ia butuh seseorang untuk mendengarkan keluh kesahnya karena selain Jimin dan Jungkook tidak ada yang benar-benar tahu dan mengerti dirinya. Lama Taehyung berada di posisi itu sambil terus memandangi wajah Jungkook yang terlihat damai saat terlelap. Sampai suara dering handphone miliknya berdering terus-menerus. Taehyung agak heran begitu melihat nama dari asisten ayah tirinya melakukan panggilan telepon di tengah malam begini. Taehyung akhirnya menjauh sedikit dan beranjak ke balik tirai untuk menerima panggilan, ia tidak ingin tidur Jungkook terganggu apalagi baru saja lelaki manis itu beristirahat dari tangisannya.
"Halo..ada apa asisten Shin?" tanya Taehyung to the point, khas dirinya jika berbicara dengan orang-orang di sekitar tuan Kim yang tidak suka bertele-tele.
"Malam tuan Taehyung, saat ini saya sebagai perwakilan dari tuan besar Kim ingin mengabarkan kondisi dari ibu anda" jelas asisten Shin, hening sesaat sebelum melanjutkan "Ibu anda, nyonya Kim baru saja meninggal dunia karena pendarahan saat operasi". Langit di kepala Taehyung seakan runtuh begitu mendengar kabar yang di sampaikan, kakinya bahkan melemas dan membuat dirinya jatuh terduduk. Jantung dan nafasnya terasa berhenti, matanya berpedar ke segala arah berharap hal yang di dengarnya hanya mimpi atau delusi semata.
"A-apa..ti..tidak.. mungkin?!" geram Taehyung dengan nada tinggi, ia amat marah, kecewa dan sedih saat ini.
"Mohon maaf tuan Taehyung, nyonya Kim sudah meninggal dan rencananya akan di makamkan lusa, saat ini kami sedang bernegosiasi untuk memulangkan jasadnya ke Korea" ucap sekertaris tuan Kim, ia juga sebenarnya merasa tidak enak mengabarkan hal ini kepada Taehyung, tetapi atasannya itu terus memaksa dan menolak untuk berbicara langsung dengan anak tirinya itu.
"KAU BOHONG!!! INI SEMUA TIDAK MUNGKIN!!! BIARKAN AKU BICARA DENGAN TUAN KIM!!" teriak Taehyung frustasi, ia tidak bisa mengendalikan dirinya saat ini. Air matanya terus menetes deras dengan muka memerah.
"Maafkan aku tuan..tetapi tuan Kim belum bisa di hubungi saat ini-" perkataan asisten ayahnya itu terputus seiring dengan handphone yang hancur berkeping-keping akibat Taehyung lempar ke dinding dengan keras. Isakan frustasi dirinya makin keras dan terdengar amat menyedihkan, tubuhnya berlutut lemas dan serasa mati untuk berdiri kembali. Semua memori dirinya dan ibunya kembali berputar bagai kaset rusak di kepalanya, bagaimana ia sangat menyayangi ibunya sampai merelakan hampir seluruh hidupnya hanya demi kebahagiaan ibunya sebagai satu-satunya penopang dan keluarganya. Tanpa di sadari sepasang tangan terulur dan memeluk dirinya dengan erat, Jungkook yang sedari tadi terbangun saat Taehyung mengangkat teleponnya. Tadinya Jungkook hanya berusaha cuek tetapi begitu mendengar teriakkan dan tangisan frustasi Taehyung semakin mengeras, pertahanan hatinya runtuh seketika. Hati Jungkook terasa amat pedih dan sakit mendengar Taehyung yang tidak henti-hentinya menangis dan memanggil-manggil nama ibunya, karena itu dengan cepat menjatuhkan dirinya dari tempat tidur dan merangkak untuk menggapai Taehyung yang amat rapuh saat ini. Di tengah kesunyian malam, mereka saling berbagi rasa sedih dan sakit bersama, menangis dengan kencang karena tidak ada lagi seberkas cahaya yang menjadi penuntun jalan mereka semenjak hari ini.
*
Taehyung hanya menatap dingin ayah tirinya itu yang baru saja kembali dari London, seluruh tubuhnya sudah mati rasa saat melihat pria tua itu. Taehyung merasa amat bodoh dan mengutuk dirinya sendiri karena begitu percaya dengan pria tua itu bisa membahagiakan dan menjadi penopang ibunya, nyatanya ibunya itu meninggal karena keputusan gegabah dari ayah tirinya. Rasanya ia amat malu masih memiliki hubungan dengan pria itu, mungkin setelah ini akan lebih baik jika Taehyung memutuskan hubungan dengan keluarga Kim dan mulai menjalani hidupnya sendiri.
"Ikut aku! Kita harus segera melakukan pemakaman untuk ibumu" datar tuan Kim seolah memerintah Taehyung tanpa ada rasa sedih atau prihatin akan mantan istrinya dan anak tirinya itu. Taehyung mengepalkan tangannya kuat dan mengeraskan rahangnya, perkataan ayah tirinya itu sukses memancing amarahnya.
"Apa pedulimu?! Kita sudah jadi orang asing setelah ibuku meninggal dan kau tak perlu repot-repot dengan pemakamannya tuan Kim!aku yang akan mengurus semuanya sendiri" balas Taehyung dingin tanpa memandang kepada wajah ayah tirinya itu, ia merasa sudah muak dan mungkin akan hilang kendali memukul pria tua itu jika Taehyung melihat wajah angkuh tuan Kim.
"Ha! Benar-benar anak tak tahu diri! dirimu dan ibumu sudah banyak berhutang kepadaku! jika bukan karena diriku kalian mungkin akan tetap tinggal di daerah kumuh tanpa masa depan!" perkataan tuan Kim sukses membuat Taehyung amat marah dan mencekik kerah pria tua itu.
"Tidak tahu diri kau bilang?!! KAU PARASIT YANG TIDAK TAHU DIRI!!MENGAMBIL WARISAN IBUKU SAAT USAHAMU HAMPIR BANGKRUT DAN MEMANFAATKAN DIRIKU UNTUK MENJADI BONEKA KELUARGA KIM!!" teriak Taehyung tepat di depan wajah tuan Kim, membuat pria tua itu pucat dan berusaha melepaskan cengkraman Taehyung. Memang benar ia dan ibunya sempat tinggal di lingkungan kumuh setelah bercerai bukan karena mereka tidak punya uang tetapi ibunya menyembunyikan aset-aset berkas wasiat dan pembagian saat bercerai, dengan rencana untuk masa depan Taehyung. Semua berubah ketika pria tua dari keluarga Kim merayu ibunya dan memberikan aset serta uang tersebut dengan dalih pernikahan yang ternyata hanya kedok untuk memanfaatkan ibu dan anak tersebut sampai sekarang. Bahkan memakai alasan kesehatan ibunya untuk meyakinkan ia untuk menjadi dokter di rumah sakit miliknya dan memperkerjakan Taehyung tanpa bayaran yang pasti, setelah itu menjauhkannya dari ibu hingga meninggal tanpa bisa melihat putranya untuk terakhir kali. Taehyung menghempaskan tubuh pria tua itu ke tanah dan melemparkan uang di koper yang ia bawa, "Ambil semua ini sebagai biaya perawatan ibuku dan jangan sekali-kali kau menampakkan wajah memuakkanmu di hadapanku dan mendiang ibu!!" teriak Taehyung meninggalkan tuan Kim yang masih shock.
*
Hujan rintik-rintik terus menuruni bumi yang saat ini penuh dengan suasana suram, begitu juga Jungkook yang sedang merias wajahnya ringan sedang pelayan yang di kirimkan keluarga Min membantu mengikat tali sepatunya. Lelaki manis itu terus memandangi wajahnya sendu, sudah sekian lama ia terakhir menaruh make up di muka pusatnya untuk menutupi kesedihannya, pertama saat pemakaman ayahnya dan sekarang ia juga bersiap-siap untuk pergi ke tempat wanita itu yang hari ini di semayamkan. Mungkin wanita itu tidak pernah mengharap dirinya sejak dulu tetapi tetap saja tidak akan ada yang bisa menyangkal, kalau beberapa jengkal dari wajahnya menggambarkan fitur wanita itu. Jungkook menaruh kuas riasnya pelan dan mengisyaratkan kalau ia sudah selesai dengan persiapannya.
"Aku sudah menyiapkan bungket lily putih seperti yang anda minta tuan, mobil juga sudah siap di luar..mohon hati-hati karena hujan masih cukup deras dan jalan agak licin" pelayan tersebut membungkuk sopan sambil memberikan bunga tersebut di pangkuan Jungkook dan ia mulai mendorong kursi roda menuju mobil yang sudah di siapkan untuk menuju pemakaman wanita itu segera.
"Aku minta kau untuk undur setelah aku sampai di area rumah duka, aku tidak mau terlihat begitu mencolok atau terlihat olehnya, cukup tunggu aku di pintu keluar" perintah Jungkook datar yang di angguki oleh pelayan tersebut. Mata Jungkook kosong melihat pemandangan dari kaca jendela mobil, sebelumnya ia sudah di peringatkan dan di larang untuk pergi menemui wanita itu, walaupun beliau sudah meninggal karena bagi keluarga Min, wanita itulah yang menjadi kutuk atas terpecahnya keluarga Jeon namun Jungkook berusaha meyakinkan mereka dan berjanji ini hanya untuk terakhir kalinya karena setelah ini kemungkinan ia tidak akan kembali lagi ke Seoul. Jungkook masih belum membayangkan atau merencanakan bagaimana masa depan atau nasipnya nanti saat kembali ke Busan, terutama menyangkut Taehyung juga. Ia berandai-andai jika saja mereka bisa hidup bahagia walaupun hanya berdua dan bergantung satu sama lain tetapi saat melihat betapa hancur berkeping-keping lelaki yang biasanya tegar di hadapan itu membuat hatinya meragu dan kehilangan harapan secara tiba-tiba. Jungkook baru mengerti jika sepanjang hidupnya Taehyung hanya menjalaninya seperti boneka yang di kontrol orang lain tanpa keputusannya sendiri, karena itulah kali ini biar lelaki itu melangkah karena keinginannya sendiri.
tbc
