Naruto/Harvest Moon/Story of Season bukan milik saya.
...
..
.
Chapter 9:
Popuri berada di pantai, dia sedang bersantai untuk menikmati deburan air laut, bersama dengan itu ada Kai yang membuka sebuah kedai di pantai kota Mineral.
"Kelihatannya kau akrab dengan pirang itu ya?" Kai membuka pembicaraan antara dirinya dan Popuri. Dia duduk di kursi panta berhadapan dengan Popuri, kedua matanya melihat Popuri yang sedang memakan Es serut buatannya.
"Memangnya kenapa Kai? Naruto itu orangnya baik sekali. Dia kadang membantu kami di peternakan untuk memanen jagung buat pakan ayam, terlebih Naruto juga orangnya sangat rajin." Popuri sangat antusias saat menceritakan tentang Naruto.
Kai memutar bola matanya bosan, tiap dia bertemu Popuri di pantai, selalu saja gadis itu bercerita tentang sosok pirang jabrik yang merawat perkebunan terbengkalai itu. Ada perasaan cemburu yang menyelimuti Kai, dia tahu jika Popuri menyukainya setelah dia datang ke Kota Mineral ini.
Dia juga ingin membawa Popuri ke kota untuk mencari ayahnya, sekalian menikahi gadis berambut merah jambu itu. Menurutnya, Popuri gadis yang sangat cantik dan tentu saja polos.
Tapi sekarang, Popuri malah mengalihkan pandangannya pada seorang pemuda yang merawat perkebunan. Berarti Kai memiliki saingan kuat saat ini. "Kau menyukainya?"
Popuri terdiam, wajahnya mulai menampakkan rona merah yang sangat jelas di kedua mata Kai, pemuda itu mendecih tak suka melihatnya.
"Jadi benar ya?"
"Itu sudah menjadi rahasia umum warga desa sih, jadi ya..."
"Kukira kau menyukaiku Popuri, kau dulu sangat dekat denganku, dan sekarang kau dekat dengan dia. Aku sebenarnya ingin menikahimu dan membawamu pergi ke kota."
"..." Popuri terdiam sejenak, dia mulai mencerna perkataan dari Kai. Menikahinya dan membawa dirinya ke kota? Dulu memang dia pernah berkeinginan untuk pergi ke kota, mencari sosok ayahnya yang pergi jauh untuk mencari obat bagi Ibunya. Tapi sekarang, keinginan itu seolah lenyap dan digantikan dengan sebuah keinginan untuk merawat petanian yang terbengkalai itu.
Pilihan Popuri telah berubah, Kai memang keren dan tampan, tapi dia sudah menjatuhkan hatinya pada seorang pemuda pirang yang baru beberapa minggu dia kenal. Terlebih, dia sudah mulai mengekuarkan perasaannya melalui kode yang diberikannya, dan Naruto juga seolah menerima kode-kode tersebut.
"Aku tak tahu, pergi ke kota memang keinginanku yang paling kuharapkan. Tapi disini ada keluargaku yang akan mengkhawatirkan diriku jika pergi ke kota hanya untuk mencari Ayah." Popuri meletakkan sendok yang dibuatnya untuk memakan es serut itu. "Tapi semua keinginanku berubah, aku ingin berada disini, keluargaku ada disini dan..."
"Dan?"
"Dan Naruto."
"Jadi semua gara-gara dia?"
Popuri mengangguk mantap, dia tersenyum tipis saat memikirkan bagaimana Naruto bekerja keras untuk mengembalikan perkebunan itu seperti semula, dan saat ini dia sudah mulai mengembalikan kebun itu. "Naruto segalanya untukku."
"..."
Kai menghela napas pasrah saat Popuri bilang Naruto adalah segalanya bagi dia. Dia sudah angkat tangan, dan menyerah untuk merebut hati Popuri, gadis itu sudah jatuh cinta pada Naruto.
"Kai, terimakasih untuk Esnya, aku harus pulang terlebih dahulu dan pergi ke perkebunan Naruto."
"Ah ya, sampai jumpa." Popuri melambaikan tangannya pada Kai, dia pergi meninggalkan pemuda itu sendirian di kedainya. "Tak ada kesempatan. Biarlah." Dia pun membereskan gelas mangkuk yang menjadi wadah es serut itu.
...
..
...
"Kak Rick? Sedang apa?"
Rick yang berada di tempat penggilingan pun menoleh, dia melihat adiknya baru datang. "Popuri, kebetulan. Naruto memberikan sekantung penuh Jagung. Katanya, dia kelebihan jagung untuk pakan, alasannya agak kurang masuk akal, tapi kita beruntung bisa membuat pakan untuk ayam, karena jagun kita belum berbuah lagi."
Dari kejauhan, Popuri melihat Naruto memasukkan dua ekor sapi, dia di sana melihat sosok Kakek Barley yang mengantarkan sapi itu ke peternakan Naruto.
"Dia punya sapi?"
"Oh ya, Naruto memintaku untuk menemaninya ke Kakek Barley untuk membeli tiga ekor sapi." Popuri mengerjapkan kedua matanya mendengar penjelasan kakaknya. "Dan ini hadiahnya tadi, dasar dia itu."
"Jadi jagung itu seperti reward padamu setelah mengantarnya ke Kakek Barley?" Rick mengangguk. "Aku akan kesana!"
"Eh! Kau tak mau membantu kakakmu?"
"Tidak, kakak kan laki-laki, jadi bisa melakukannya sendiri."
Rick cemberut mendengar ejekan Popuri. "Ya sudah, pergilah!"
Popuri tersenyum, dan pergi untuk menemui Naruto. Di peternakan itu, Naruto baru saja keluar dari kandang sapinya, dia juga berterima kasih pada Kakek Barley karena audah mengantarkan Sapi yang dibelinya.
"Naruto!"
Kakek Barley dan Naruto menoleh, keduanya melihat Popuri yang baru saja datang. "Popuri rupanya, mau mendatangi calon suaminya? Ah, sepertinya aku mengganggu, nak Naruto semoga kau bisa merawat sapi-sapi itu hingga menjadi banyak. Dan kalian, semoga langgeng."
"Kek!"
Naruto memijit pangkal hidungnya, wajah pemuda itu merona saat kakek Barley menggoda mereka. "Ba-baiklah kek, terima kasih sebelumnya."
"Tentu, aku pamit dulu, sampai jumpa."
Kakek Barley pergi meninggalkan keduanya, sementara itu Naruto berjalan mendekati Popuri. "Ada apa?"
"Kau baru saja membeli sapi?" Naruto mengangguk kecil, dia mengiyakan pertanyaan Popuri. "Hebat, lalu pakannya?" Naruto menunjuk ke sebuah pada rumput yang telah jadi. Popuri mengerjapkan kedua matanya melihat padang rumput yang begitu indah di sana.
"Aku tak perlu membeli pakan ke Kakek Barley, lalu besok mungkin aku akan meminta Gotz untuk membuatkanku sebuah rumah kaca untuk menanam Jagung di sana."
"Kau sangat perhitungan sekali."
"Itu kan idemu waktu itu, kau lupa?"
Popuri tertawa kecil. "Aku lupa kalau itu." Dia berjalan mendekati pemuda itu, gadis itu tersenyum menatap wajah Naruto. "Sudah memberi pakan pada hewan?" Naruto mengangguk kecil. "Sudah beli sikat dan alat pemerah susu?" Naruto mengerutkan dahinya.
"Ayo ke Saibara."
Popuri tersenyum, lalu menarik tangan Naruto untuk pergi bersamanya. "Kalau begitu, ayo!"
...
..
.
TBC
